MARAH


marah

***

siang tadi

ada cahaya mencemburui

mata dan senyummu

kok lalu

angin marah menjadi taufan

laut marah menjadi tsunami

tanah marah menjadi lindu

:

mereka mencemburuimu juga

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.55 21 Februari 2011

JANGAN


 

jangan

 

seringkali kau berbisik

pada tuts-tuts keyboardmu

sampaikan pesan padanya

jangan pergi tinggalkan aku

saat malam diremukkan ekor shubuh

dia terkapar tak bisa pergi

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam

23.40 21 Februari 2011

JALAN SUNYI PARA PENYAIR


Jalan Sunyi Para Penyair

Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.

Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.

Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…

Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.

Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.

Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.

Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.

Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”

Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.

Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.

Untuknya…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.59 18 Februari 2011

Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair

diunggah pertama kali di:

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/

bangun ruang hati


bangun ruang hati

 

 

pagi ini aku kotak,

menyiapkan diri

semedi di sudutnya,

siangnya aku lingkaran,

tanpa sudut,

berputar,

hilang ingatan pada prasasti hati,

sorenya,

kembali aku menjadi kotak,

menghirup sunyi di keramaian,

semedi disudutnya,

malamnya,

aku menjadi segitiga

yang bertumpuk,

yang mengumpulkan kata-kata,

untuk sekadar satu jawaban,

lalu kapan aku menjadi jantungmu?

 

 

***

riza almanfaluthi

di atas kereta yang mencaci maki rel

dedaunan di ranting cemara

06.15 17 Februari 2011

 

menunggu jawab


menunggu jawab

 

 

 

di dalam kereta

yang lari berderit-derit

di pinggir jendela

dengan hitam menganga di kaca

kau kelanakan pikiran

pada pelangi angan

bertopang pada sebelah tangan

meneguhkan keberadaan diri

ada gumpalan tanya

menggelembung di labirin memori

menyumbat jawab hingga

mengering, sekarat, dan mati

adakah?

mengapa?

dan untuk apa?

untuk itu aku mengunci kata

menjadi patung pinggir jalan

tak berdaya

susah untuk bicara

aku tahu engkau tahu

kilatan daun lontar setiap sore

adalah jawab sesungguhnya

jika engkau mengerti
ya jika kau mengerti

 

*****

 

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.46 11 Februari 2011

 

Yang pulang untuk kembali


yang pulang untuk kembali

(((***)))

siapakah dia yang membawa

tiga ikat papirus tebal

di tengah-tengah malam

membukanya

membacanya

diterangi kunang suram

di atas kencana

yang membawanya pulang

siapakah dia berkemul selimut

merepih dingin

berlapikkan bantal kecil hijau

melandaskan mimpi-mimpi sedikit

tak acuh pada titah-titah

yang bertengger

berkicau

mengacaukan malam

di atas kencana

yang membawanya pulang

jika kau tanya itu padaku

aku akan menjawabnya

siapa dia gerangan:

dia yang hari ini memerintahkan bentala

untuk berputar lebih cepat

dia yang hari ini membawa senja di jubahnya

dia yang hari ini membawa gempita di setiap laku

dia yang hari ini dengan bulan setengah di wajahnya

dia yang hari ini dengan mata dan senyum yang tiada pahitnya

dia yang menatah hari ini menjadi adiwarna

dia yang malam ini di atas kencana

yang membawanya pulang

untuk kembali…

itu cuma tanda tanya

***

riza almanfaluthi

tulus

dedaunan di ranting cemara

01.28 15 Februari 2011

bulan yang kita lihat sama


bulan yang kita lihat sama

 

 

di sana ataupun di sini

bulan yang ada

ya itu-itu saja

sama tak beda

tapi ruang batin kita

masing-masing

yang membuatnya berbeda

 

pada detik yang lari

kita pura-pura terpukau

pada indahnya sabit

yang melubangi langit

dengan terangnya

padahal kita sama-sama

ingin berenang pada

telaga hati masing-masing

sedalam mana dasarnya

sesejuk apa rasanya

lalu kita sama-sama terkejut

tak ada tempat untuk kita

tapi kita abai

karena bulan yang kita lihat sama

sama-sama indahnya

 

maka pada detik

yang kembali datang

kita berjarak

kita berruang

 

sampai kapan?

sampai mana?

jawabmu:

di titik yang berhenti

di ujung kalimat

 

besok

ya besok

kita masih melihat bulan yang sama

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada kamar depan dengan dua pewaris

22.43
10 Februari 2011

TANDA-TANDA


tanda-tanda

 

jika langit gelap

sadarilah ia tak selamanya mendung

jika hujan gerimis menetes

sadarilah ia tak selamanya akan menjadi badai

jika ada pohon ringkih

sadarilah tak selamanya tanda tumbang

jika ada bumi yang bergoyang

sadarilah tak selamanya itu gempa yang mengguncang

tapi kalau ada hatiku yang berdebar-debar

percayalah itu tanda cinta dan rindu

untukmu

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

senja di peron 2 stasiun sudirman

17.31 09 Februari 2011

^_^

Trilogi Nestapa: 2. Pacta Sunt Servanda



bagaikan matahari,
aku kering di belahan sahara
menagih cinta yang tercecer
saat aku terpana dulu

dan engkau masih termenung
melihat keluar dari jendela bus
yang terguncang tak tentu arah
oh…
kau masih memikirkan aku rupanya


***
xbata lantai 4

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:21 27 Februari 2009

pukul 01.30 wib


pukul 01.30 WIB

***

masih mencari huruf demi huruf
dalam samudra kata
membingkainya dalam bait-bait
tanpa makna bagi dirimu
bagi diriku ini segalanya
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 01.30