bulan yang kita lihat sama


bulan yang kita lihat sama

 

 

di sana ataupun di sini

bulan yang ada

ya itu-itu saja

sama tak beda

tapi ruang batin kita

masing-masing

yang membuatnya berbeda

 

pada detik yang lari

kita pura-pura terpukau

pada indahnya sabit

yang melubangi langit

dengan terangnya

padahal kita sama-sama

ingin berenang pada

telaga hati masing-masing

sedalam mana dasarnya

sesejuk apa rasanya

lalu kita sama-sama terkejut

tak ada tempat untuk kita

tapi kita abai

karena bulan yang kita lihat sama

sama-sama indahnya

 

maka pada detik

yang kembali datang

kita berjarak

kita berruang

 

sampai kapan?

sampai mana?

jawabmu:

di titik yang berhenti

di ujung kalimat

 

besok

ya besok

kita masih melihat bulan yang sama

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada kamar depan dengan dua pewaris

22.43
10 Februari 2011

TANDA-TANDA


tanda-tanda

 

jika langit gelap

sadarilah ia tak selamanya mendung

jika hujan gerimis menetes

sadarilah ia tak selamanya akan menjadi badai

jika ada pohon ringkih

sadarilah tak selamanya tanda tumbang

jika ada bumi yang bergoyang

sadarilah tak selamanya itu gempa yang mengguncang

tapi kalau ada hatiku yang berdebar-debar

percayalah itu tanda cinta dan rindu

untukmu

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

senja di peron 2 stasiun sudirman

17.31 09 Februari 2011

^_^

SITU CINTA


Situ Cinta

Cinta,
malam ini akan aku peluk engkau
dengan rindu yang telah menguning di hati
tanpa ada dengkul yang mencoba menghujat langit
kerana tak ada pelangi di gulitanya

Cinta,
cukup sekian kata yang berpeluh
dari aku yang mengukir lima hurufmu
di atas air situ
tanpa ada titik,koma, dan tanda seru

*

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
25 Juni 2009

Trilogi Nestapa: 2. Pacta Sunt Servanda



bagaikan matahari,
aku kering di belahan sahara
menagih cinta yang tercecer
saat aku terpana dulu

dan engkau masih termenung
melihat keluar dari jendela bus
yang terguncang tak tentu arah
oh…
kau masih memikirkan aku rupanya


***
xbata lantai 4

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:21 27 Februari 2009

Trilogi Nestapa: 1. Preambule


rajang setetes dua tetes air mata di atas wajan kemarahanmu
biar aku dulang ia dengan merkuri cintaku
hingga terpisahlah
dan berkilaulah
emas kasihmu
lalu aku terpukau
dengan raut muka terkejut berkata:
ternyata engkau masih punya cinta

***

xbata lantai 4

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:45 24 Februari 2009

Menunggu Birunya


di atasku ada langit biru
tebing tinggi datang menyoretnya menjadi kelabu
ada bayang-bayang setelahnya
jika itu terjadi
ingin aku beri engkau
segenggam hati penuh warna
yang sempat engkau campakkan dulu
hati itu hidup untukmu

***
xbata lantai 4

***
riza almanfaluthi
16:04 25 Februari 2009

Hasrat Tertusuk Sembilu


suatu malam pernah aku singgah di hasratmu
dan aku temukan secarik kertas putih mewarna di deraian nafasmu yang terengah-engah
di sana tertulis:
cintai aku apa adanya
lalu kau gambar jantung retak tertusuk sembilu
merah berdarah-darah

***
xbata, lantai 4

perempuan itu menemukan gumpalan kertas tisu bertuliskan rangkaian kalimat di atas.

***
Riza Almanfaluthi
16:02 24 Februari 2009

Soulmate


sobekan kecil tertempel di cermin, bertuliskan:

ada telaga bening di matamu
di sana, ingin kudayung sampan cintaku
berlabuh, merengkuh jatuh
purnama yang membayang rapuh

****
dari suaminya yang sedari shubuh pergi
berjibaku merenangi lautan knalpot di belantara jakarta

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Februari 2009

purnama setengah


 
Aduhai bulan yang menari di batas awan

kapan sudinya engkau menyentuhku

pada buaian yang takkan membuatku terlelap

kerana sepanjang malam engkau selalu menjadi lautan nafasku

jikalau tidak, tentu pagi hanyalah sebuah kepastian.

 

 

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ritmis hati gerimis
16:28 07 April 2008