jangan
seringkali kau berbisik
pada tuts-tuts keyboardmu
sampaikan pesan padanya
jangan pergi tinggalkan aku
saat malam diremukkan ekor shubuh
dia terkapar tak bisa pergi
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam
23.40 21 Februari 2011
jangan
seringkali kau berbisik
pada tuts-tuts keyboardmu
sampaikan pesan padanya
jangan pergi tinggalkan aku
saat malam diremukkan ekor shubuh
dia terkapar tak bisa pergi
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam
23.40 21 Februari 2011
Jalan Sunyi Para Penyair
Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.
Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.
Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…
Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.
Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.
Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.
Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.
Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”
Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”


Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.
Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.
Untuknya…
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
03.59 18 Februari 2011
Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair
diunggah pertama kali di:
http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/
bangun ruang hati
pagi ini aku kotak,
menyiapkan diri
semedi di sudutnya,
siangnya aku lingkaran,
tanpa sudut,
berputar,
hilang ingatan pada prasasti hati,
sorenya,
kembali aku menjadi kotak,
menghirup sunyi di keramaian,
semedi disudutnya,
malamnya,
aku menjadi segitiga
yang bertumpuk,
yang mengumpulkan kata-kata,
untuk sekadar satu jawaban,
lalu kapan aku menjadi jantungmu?
***
riza almanfaluthi
di atas kereta yang mencaci maki rel
dedaunan di ranting cemara
06.15 17 Februari 2011
menunggu jawab
di dalam kereta
yang lari berderit-derit
di pinggir jendela
dengan hitam menganga di kaca
kau kelanakan pikiran
pada pelangi angan
bertopang pada sebelah tangan
meneguhkan keberadaan diri
ada gumpalan tanya
menggelembung di labirin memori
menyumbat jawab hingga
mengering, sekarat, dan mati
adakah?
mengapa?
dan untuk apa?
untuk itu aku mengunci kata
menjadi patung pinggir jalan
tak berdaya
susah untuk bicara
aku tahu engkau tahu
kilatan daun lontar setiap sore
adalah jawab sesungguhnya
jika engkau mengerti
ya jika kau mengerti
*****
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21.46 11 Februari 2011
yang pulang untuk kembali
(((***)))
siapakah dia yang membawa
tiga ikat papirus tebal
di tengah-tengah malam
membukanya
membacanya
diterangi kunang suram
di atas kencana
yang membawanya pulang
siapakah dia berkemul selimut
merepih dingin
berlapikkan bantal kecil hijau
melandaskan mimpi-mimpi sedikit
tak acuh pada titah-titah
yang bertengger
berkicau
mengacaukan malam
di atas kencana
yang membawanya pulang
jika kau tanya itu padaku
aku akan menjawabnya
siapa dia gerangan:
dia yang hari ini memerintahkan bentala
untuk berputar lebih cepat
dia yang hari ini membawa senja di jubahnya
dia yang hari ini membawa gempita di setiap laku
dia yang hari ini dengan bulan setengah di wajahnya
dia yang hari ini dengan mata dan senyum yang tiada pahitnya
dia yang menatah hari ini menjadi adiwarna
dia yang malam ini di atas kencana
yang membawanya pulang
untuk kembali…
itu cuma tanda tanya
***
riza almanfaluthi
tulus
dedaunan di ranting cemara
01.28 15 Februari 2011
bulan yang kita lihat sama
di sana ataupun di sini
bulan yang ada
ya itu-itu saja
sama tak beda
tapi ruang batin kita
masing-masing
yang membuatnya berbeda
pada detik yang lari
kita pura-pura terpukau
pada indahnya sabit
yang melubangi langit
dengan terangnya
padahal kita sama-sama
ingin berenang pada
telaga hati masing-masing
sedalam mana dasarnya
sesejuk apa rasanya
lalu kita sama-sama terkejut
tak ada tempat untuk kita
tapi kita abai
karena bulan yang kita lihat sama
sama-sama indahnya
maka pada detik
yang kembali datang
kita berjarak
kita berruang
sampai kapan?
sampai mana?
jawabmu:
di titik yang berhenti
di ujung kalimat
besok
ya besok
kita masih melihat bulan yang sama
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
pada kamar depan dengan dua pewaris
22.43
10 Februari 2011
tanda-tanda
jika langit gelap
sadarilah ia tak selamanya mendung
jika hujan gerimis menetes
sadarilah ia tak selamanya akan menjadi badai
jika ada pohon ringkih
sadarilah tak selamanya tanda tumbang
jika ada bumi yang bergoyang
sadarilah tak selamanya itu gempa yang mengguncang
tapi kalau ada hatiku yang berdebar-debar
percayalah itu tanda cinta dan rindu
untukmu
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
senja di peron 2 stasiun sudirman
17.31 09 Februari 2011
^_^
…..titik tanpa jeda
adanya adalah desahan nafas
tiadanya adalah perhentian
jika ada koma di antaranya
maka ia adalah rehat sejenak
tuk kelana perjalanan
ke tujuan
di sini, aku hapus satu persatu
titik titik
itu
agar tak ada kata sakit
di benak kita
sebelumnya
sesudahnya
maka saat kita memintal waktu
bersama di jembatan Adelaide
dalam malam-malam penuh jeritan
binatang gelap
aku terlelap
tersentak…
aku berdiri tertegun
engkau adalah ketiadaan
ketiadaan tanpa titik
besok
biarkan aku menjadi titik-titik itu
buatmu
tanpa jeda
***
riza almanfaluthi
indah dengan a comme amour
dedaunan di ranting cemara
Citayam , 17.13 05 Februari 2011
jingga
sore ini tak ada jingga
yang ingin kau peluk
sampai bintang bertemu hujan
lalu kau menulis langit
dengan pena lidahmu:
jingga itu adalah aku
bintang itu adalah kau
hujan itu adalah kita
usailah sudah deretan pesan yang dibawa burung
dan kau bawa pulang nanti
sembari mengharap detik arloji berhenti
sampai kau puas menikmati sunyi
kita bersama melihat langit
di atas bukit
masing-masing memeluk lutut
lalu kita temukan kembali dia
aku berbisik padamu: peluk erat jingga itu.
setelahnya kubungkus jingga
dan kutaruh di langit-langit rumah
tak perlu kau ke atas bukit lagi
aku cukup melihatmu bahagia
dari jauh…
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam sore tanpa jingga, 18.08
30 Januari 2011
…
bagaikan matahari,
aku kering di belahan sahara
menagih cinta yang tercecer
saat aku terpana dulu
dan engkau masih termenung
melihat keluar dari jendela bus
yang terguncang tak tentu arah
oh…
kau masih memikirkan aku rupanya
***
xbata lantai 4
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:21 27 Februari 2009