siapa lagi kalau bukan engkau?


14.02. 2006 – siapa lagi kalau bukan engkau?

jiwaku luruh pada ingatan
bersimbah kenangan menusuk-nusuk
tak sanggup mengurainya dengan pena
yang merintih pada secarik kertas putih kosong
tetap tak terisi dengan berjuta kata merayu

jiwaku luruh pada esok
yang menggenggam hati tiada keindahan
rapuh tanpa harapan
hanya bersandar pada ranting kecil dan dahan cemara
tetap tak peduli dengan halimun yang membekukan

jiwaku luruh pada untaian pemanis lidah
hingga doa perpisahan kudengarkan
“kan kuutuskan salam ingatanku
dalam doa kudusku sepanjang waktu
ya Allah bantulah hambaMu
mencari hidayah daripadaMu” (brothers)

maka siapa lagi kalau
bukan sahabat sejati
yang akan menggenapkan jiwamu
hatimu
bahkan hidupmu

maka siapa lagi kalau
bukan engkau air jernih yang mengalir
dari lembah penuhi danau-danau gelora
hingga memuara pada samudera bahagia
maka siapa lagi kalau bukan engkau?

dedaunan di ranting cemara
20:48 12 Pebruari 2006
malam-malam penuh doa

Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams


06.02.2006 – Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams
Dulu seorang kawan berlama-lama berpisah dengan sang bidadari tercinta hingga tak sanggup memendam kerinduan di antara waktu-waktu sepinya, sunyinya, sendirinya. Hingga ia tak sanggup mendengar hujan yang merintih di atas genting, kabut yang menguap di setiap paginya, embun-embun yang mengelopak di setiap tangkai rumput, air sungai yang menggelorakan hasrat, dan pada lagu-lagu yang khusus dibuat untuk para pecinta.
Tak perlu memintanya padaku untuk membuatkan syair, karena aku pun pasti mau membuatkannya dan memberikannya pada sahabat terbaikku ini. Sempat tersentak sudah dua purnama tak mengukir kata, maka kembali kureliefkan ia pada waktu yang terus berjalan. Dan inilah:
JEJAK LALU
siapa yang tak merindu jejak lalu
terpatri pada hamparan pasir
berbuih ombak dan
berselendang angin
hingga terhapus oleh masa
siapa yang tak merindu jejak lalu
tersusun pada bait-bait
cinta terakhir
dan selamat tinggal kekasih
hingga aku bisa terbang
siapa yang tak merindu jejak lalu
terdenting pada dawai-dawai
sang buluh perindu
berseruling malam
hingga degung penuh magis
bahkan aku merintih perih
pada saat yang tak berhenti menghinaku
pada bulan yang tega menyabitku
pada matahari yang tersenyum sinis malu-malu
jika engkau masih tetap bertanya
di mana hatiku bila masih penuh dengan bunga
jika engkau bersikeras bertanya
di mana otakku berada
hanya kerana aku masih saja mengais-ngais
tanah naifmu
hingga aku nanar
dan terkapar
cuma nafas tertahan satu-satu
meraup sedetik
hingga tak sempat bertanya:
siapa yang tak pernah merindu?
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
(Boulevard of Broken Dream)
21:10 05 Pebruari 2006

Abang Jampang


09.12.2005 – POEM: Abang Jampang, di antara Batavia dan Jakarta

Nih, puisi ane buat untuk menyambut kabar gembira si Jampang nyang mo’ nikah tanggal 17 Desember 2005:
setiap kakek datang
yang ada hanya kegembiraan
bagi Haqi tersayang
bahkan untuk Ayyasy
bersama-sama bernyanyi
dari dua generasi yang berbeda
tak peduli sumbang
tak peduli lirih
tak peduli tak sempurnanya kata
kau mau tahu apa yang mereka nyanyikan?
Abang Jampang lawan centeng
centeng ditenteng
hup hah… hup hah…
lemparin
nyangsang di genteng
husyah…husyah…husyah…
lalu bersama lagi:
cimpompak cimbomber
cimpompak cimbomber
duhai kakek cucu
jika kalian menyanyikan itu
bagaimana aku tidak kembali ke masa lalu
melihat sejarah betawi
dengan golok-golok putih mengilat
kumis panjang melintang
sarung terikat di pinggang
baju dan celana hitam
selampe penutup kepala
dengan ciliwung masih bening
mengundang hasrat mereguknya
atawa passerbaru dengan kerling si mata sipit
bahkan si keling merekejenehe
ah…
sst… itu jadi kuno
itu masa lalu
tapi jangan kau lupakan
karena Jakarta pernah jadi Batavia
maka menarilah bersama dua generasi itu
bernyanyilah lagi:
abang jampang lawan centeng
centeng di tenteng
hup hah… hup hah…
lemparin
nyangsang di genteng
husyah…husyah…husyah…
###
dedaunan di ranting cemara
08.08 09 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Peluru Penghias Jantung


07.12.2005 – POEM: Peluru Penghias Jantung

bidadariku yang cantik
datanglah padaku
tuntun aku
pada taman mewangi mawar
bergemericik syahdu air memancar
membasuh
torehan luka di sekujur tubuh
tanda abadi pedang, tombak, dan panah
dengan debu-debu tanah Palestina,
Afghanistan, bahkan Irak-ku sayang
atau tetesan salju kaukakus dan balkan
bidadariku yang cantik
datanglah padaku
tuntun aku
pada taman firdaus
hapus memori terakhir ini:
ada peluru menembus jantungku
cuma penghias agar aku
dapat menemui Penciptamu segera
sedang mewangi misik masih terasa harumnya.
dedaunan di ranting cemara
kalashnikov berkalang tanah
17:42 07 Desember 2005

Detik Berlalu


06.12.2005 – POEM: detik berlalu

III.
ketika detik berlalu
mengurai masa ke penghujungnya
mengurai benang ke penghabisannya
mengurai cahaya ke kegelapannya
mengurai suara ke keheningannya
mengurai relief ke perabaannya
mengurai hati ke penunggunya
maka sejak itu
harapan ada untukmu
dedaunan di ranting cemara
sepanjang ahad January 12th, 2003

Hidup Itu Masalah


keterlenaan diri
melesat ke ujung langit
menghunjam ke dasar bumi
dan melupakan semuanya

setitik masalah datang
mengendap-endap
ke sekelumit kehidupan
sampai ke jantungnya
terasa dahsyatnya beliung
dan terpaan badai itu

tersadar
telah melupakan Sang Pemberi Kehidupan
pulanglah diri dalam kekhusuan
agar hilang penestapa diri

sampai saat itu
akankah tetes-tetes
kesyukuran terucap dan
termaktub dalam kehidupan
jika tidak…
tunggulah yang lebih perih sakitnya
karena
hidup itu penuh masalah
dan hanya Dialah pemilik segala kehidupan
mengapa tak kembali….?
dedaunan di ranting cemara
cuma begini saja
awal 2003

Rinduku Jatuh ke Bulan


rinduku jatuh ke bulan

lembayung senja bergulat
tepikan gulungan hitam
lembaran-lembaran awan
menyurut
memakan dirinya sendiri
hingga jepitan malam
kian menelannya sampai tuntas

bulan jadi hiasan sabit
tak kalah sinarnya dengan purnama
menyentuhku
sampaikan salam kerinduan
utuh tiada terpisah
bahkan tanpa goresan sedikitpun

saatnya kini
jika engkau sudi, bulanku…
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa membiru
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa luka menganga
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa akhir masa
rinduku biarkan apa adanya
untukmu, bulanku

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 106
11:26 30 September 2005

jig


jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan dekati selimut ilalangku
ia ‘kan terbakar dengan amarahmu

jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan pernah lagi singgah di terminal hatiku
ia ’kan kerontang dengan mulutmu

jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan dekati sajadah maluku
ia’kan kotor hanya dengan sentuhanmu

jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan pernah lagi singgah di gubuk jiwaku
ia ’kan roboh hanya dengan helaan nafasmu

tapi tunggu
ambil ini
jangan pernah kau tinggalkan jejak sayatanmu
pada kepingan cakram benakku
ia cuma sejarah, masa lalu,
yang akan berlalu dan terlupa


kau menjauh
aku…
masih saja dengan daun jatuh satu-satu
masih saja dengan angin menyemilir silir-silir
masih saja membaca koran ini:
seorang pemerkosa nenek-nenek didor petugas
karena melawan saat akan ditangkap

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 101
11:38 24 November 2005

Here I am?


kenapa aku disini…?

batu itu masih tertoreh kata
walau satu dekade berlalu
tak lapuk oleh derasnya air sungai cimanuk
kenapa aku disini…?
gelap kan datang
ketika aku tetap berdiri di batu itu
merenungkan semua
pada pahatan
pada yang telah kuukir
kenapa aku disini…?
dingin malam mulai menari-menari
ketika aku tetap berdiri dibatu itu
dengan terangnya lampu badai
tetap menerawang
kenapa aku disini…?
kutemukan jawabannya
kebingungan masih ada

apresiasi Pak Mubari-Surabaya:

guratan retak kata
tertoreh di batu tak lekang
dekade tertelan kala
retak tak lapuk
tererosi derasnya cimanuk
tercenung aku
tertanya
kenapa aku disini…?
gelap merunduk
perlahan memangsa siang
masih jua aku tercenung
berlabuh di retak pahatan batu
yang kuukir dengan lidah kelu
aku masih tercenung
kenapa aku disini…?

dedaunan di ranting cemara
di ranting patah
new edited: 17 Agustus 2005

Satu Hilang Tumbuh Seribu


09.08.2005 – satu hilang tumbuh seribu

Ya, sepatutnya ungkapan bermakna itu ditujukan kepada saya. Tapi bukan tentang para pahlawan yang gugur di medan juang, tapi tentang satu pekerjaan yang telah terselesaikan lalu muncullah seribu pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Sampai hanya berpikir kapan saya bisa menyelesaikannya itu pun menjadi pekerjaan rutin di saat istirahat.
Kata Qoulan Syadiida, “jangan sampai stres, karena stres akan menguras energi yang seharusnya dikerahkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan itu.” Tapi Gugur Bunga sepertinya layak untuk didendangkan kepada saya. Gugurlah waktu yang tiada berluang. Sebagai tanda berkabung saya dari menyia-menyiakan waktu.
Itu saja sih, sekadar mengingatkan bahwa kita ternyata harus mensyukuri atas nikmat waktu luang yang diberikan-Nya kepada kita. Jangan pernah kita sampai menyesal karena kita lupa dan tidak pernah berbuat kebajikan saat semua amal kita ditimbang oleh-Nya. Saat ini juga, mari kita berbuat kebajikan.
Allohua’lam.
saat gundukan yang tersusun itu
tersapu angin sore yang berdebu
mengunci mulut yang kelu
kerana maksyiat selalu
bersiaplah untuk bertemu
munkar dan nakir sebagai tamu
dengan gurat wajah yang membeku
tak mungkin senyum terkulum menyapu
maka kuberitahu
perbanyak amal yang manis bermadu
bukan sepahit empedu
…..
dedaunan di ranting cemara
di antara minahasa raya
12:36 09 Agustus 2005