Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah


Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah

Saat ini dunia sedang dipertontonkan dengan kebiadaban dan kebengisan dari sebagian bangsa Yahudi di tanah Suci Palestina dan Libanon. Sudah ratusan nyawa melayang sejak penyerbuan Israel ke Libanon tersebut. Bahkan sudah tak bisa terhitung lagi berapa nyawa yang melayang sejak bangsa terkutuk tersebut menginjakkan kakinya di awal abad 20 dan kemudian mendirikan negara Israel di tahun 1948.
Dengan kecanggihan teknologi, tontonan kebengisan itu seperti benar-benar tampak nyata di hadapan kita. Realistis, cepat, dan up to date. Dengan demikian tak sedikitpun yang terlewatkan. Dan dunia pun sadar, terkejut, mengutuk pada apa yang dilakukan Israel—terkecuali para antek-antek dan sekutunya.
Kemarin (01/08), satu halaman penuh, Media Indonesia mempublikasikan foto-foto berukuran besar tentang korban-korban yang timbul atas serangan rudalnya ke bangunan sipil. Begitu banyak korban dari anak-anak dan wanita yang belum sempat mengungsi.
Seorang petugas relawan Libanon sampai menangis melihat keadaan itu di saat melakukan evakuasi. Bagaimana tidak ia melihat seorang anak kecil berumur dua tahun yang pada pakaiannya masih tergantung dotnya. Atau seorang ibu yang meninggal dengan posisi melindungi anak-anaknya. Semuanya tewas tertimpa runtuhan bangunan. Semoga Allah memberikan kesyahidan kepada mereka.
Dunia memang terkejut dengan apa yang menimpa warga sipil Libanon. Dan seharusnya dunia pun lebih terkejut lagi sedari awal dengan apa yang dilakukan Israel di tanah Palestina di mana setiap pekannya berapa nyawa yang harus direnggut dari penduduk Palestina.
Bayi-bayi yang robek perutnya kerana peluru bengis Israel. Ribuan tawanan yang teraniaya di penjara-penjara Israel. Anak-anak yang telah kehilangan keriangan masa kecilnya, kehilangan masa belajarnya, kehilangan ibu dan bapaknya, dan kehilangan masa depannya. Atau mereka yang kehilangan semua anaknya. Mereka yang telah kehilangan suami atau istri dan saudara-sauadaranya yang tercinta. Sungguh dunia harusnya terkejut sejak 1948 atau sejak masa-masa sebelumnya.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk dengan kekejaman Israel tersebut. Dengan nama apa pun ia. Karena dibalik nama yang bagus sekalipun tetap saja ia adalah iblis yang menebarkan bencana dan angkara murka.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk Israel dengan segala kebiadabannya itu. Karena sesungguhnya bagi saya pemaknaan nama menjadi tidaklah penting. Bahkan tidak menyentuh sama sekali substansi dari persoalan dan keharusan umat Islam untuk membantu saudaranya di Palestina dan Libanon. Karena bila kembali kepada salah atau benarnya kutukan terhadap yahudi dengan penyebutan Israel (yang berarti hamba Allah), maka begitu banyak di Indonesia dan di dunia yang memakai nama ’Abdullah berada di penjara karena telah berlaku dzalim dengan melakukan pembunuhan, pencurian, korupsi, menipu, berzina, dan lain sebagainya..
Bahkan ada yang memakai nama terbaik yakni ’Abdurrahman tetapi tingkah lakunya seperti orang yahudi sendiri yang bisanya menusuk dari belakang perjuangan umat di tanah air dengan masalah liberalisme dan sekulerismenya.
Dan sungguh ketika kita mengutuk dan mencela tentang kejahatan dari oknum-oknum pemakai nama-nama terbaik itu, kita sesungguhnya tidaklah sedang mengutuk dan mencela ’Abdullah dan ’Abdurrahman lainnya di Indonesia dan di seluruh permukaan bumi ini sedangkan mereka adalah hamba-hamab Allah yang sebenarnya, yang ta’at, takwa, beriman dan beramal sholeh.
Dan sungguh bukanlah fenomena aneh yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin yaitu menyebut negara Yahudi yang dimurkai Allah dengan nama Israel, karena nama itu adalah nama yang tercantum dalam daftar negara pada adminsitrasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Mengapa bisa ia mengklaim nama itu dan umat Islam berdiam diri saja?
Ya jelas karena umat Islam tidak punya harga diri. Umat Islam pada saat ini berada di titik nadir dari kejayaannya. Tidak mampu berbuat apapun ketika di zalimi. Bahkan perang pun kalah, sehingga pada tahun 1948 itu berdirilah negara yang bernama Israel. Dan PBB (tentu dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya) pun mengakuinya. Dan jika kita tidak menginginkan nama Israel itu dilekatkan pada bangsa Yahudi maka ”Wahai umat Islam, bersatulah…! Rebut kembali kejayaan itu! Kalahkan Yahudi! Kalahkan musuh-musuh Allah! Maka dengan semua itu, niscaya PBB pun tidak akan semena-mena lagi membiarkan segala kezaliman itu. Nama itu akan kita cabut dari daftar. Dan tidak perlu lagi ada tertulis di peta dunia.
Karena Yahudi Israel tidak punya hak mendirikan Negara di jantung negeri-negeri Islam sebagai hak yang syar’i (memiliki dasar hukum dalam syariat) dengan mengatasnamakan warisan Ibrahim dan Israel.
Karena kita pun mengakui bahwa Alqur’an mencela orang-orang yahudi dan mengutuk mereka dan Allah memberitakan kepada kita tentang kemurkaanNya terhadap mereka dengan sebutan “orang-orang yahudi” atau “orang-orang kafir dari kalangan Bani Israel”.
Karena kita mengakui bahwa orang-orang yahudi tidak memiliki hubungan din sedikitpun dengan Nabiyullah Israel (Ya’qub ‘alaihis salm) juga tidak dengan Ibrahim Khalilullah ‘alaihis shalatu wassalam.Dan mereka tidak memiliki hak sedikitpun atas warisan keagamaan keduanya. Karena warisan tersebut adalah khusus merupakan hak orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman(artinya) :”Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad) serta orang yang beriman kepada (Muhammad) dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman” (Qs.Ali Imran:68)
Dan karena kita pun meyakini dengan iman yang dalam bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam rangka melepaskan hubungan kekasihnya Ibrahim dari ikatan hubungan dengan kaum yahudi,nashara dan kaum musyrikin (artinya) :”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (Qs.Ali Imran :67)
Dan karena Kaum muslimin tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi adalah keturunan Ibrahim dan Israel (Ya’qub ‘alaihis salam), tetapi mereka meyakini dengan mantap bahwa orang-orang yahudi itu adalah musuh Allah dan musuh-musuh para utusanNya seperti: Muhammad, Ibrahim, dan Israel. Kaum muslimin memutuskan(berdasarkan hukum syar’i) bahwa tidak bisa saling mewarisi antara para Nabi dan para musuhnya dari kalangan kafirin baik yahudi maupun nashara maupunn musyrikin arab dan yang lainnya, dan bahwa manusia yang paling dekat hubungannya dengan Ibrahim dan semua Nabi adalah kaum muslimin yang beriman kepada mereka,mencintai, dan memuliakan mereka serta mengimani kitab-kitab dan shuhuf yang diturunkan kepada mereka . Kaum muslimin memandang perkara ini sebagai salah satu prinsip dalam agama mereka. Karena itu merekalah pewaris para Nabi dan manusia yang paling dekat hubungannya dengan para Nabi. Dan bumi Alllah hanyalah milik hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya dan kepada para Rasul yang mulia. Maka musuh-musuh para Nabiitu tidak memiliki warsian bumi-terutama yahudi-di dunia ini dan bagi mereka di akhirat siksa neraka yang abadi.
Dan kita sungguh amat yakin bahwa kita tidak pernah menerima—walaupun masih ada sebagian dari kita yang masih mau—menerima klaim yahudi sebagai ahli waris tanah Palestina dan rencana pemugaran kembali Haikal Sulaiman, padahal kaum Yahudi itu kafir kepada Sulaiman dan melemparkan tuduhan keji kepada Beliau.”apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh;maka di antara mereka kamu dustakan dan yang lain kamu bunuh”(Qs.Al Baqarah:87)
Dan kita pun yakin bahwa sungguh demi Allah, niscaya akan datang suatu hari dimana kaum mu’minin yang benar-benar beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan pada para Rasul serta risalah mereka akan menghancurkan kaum yahudi
Sungguh kami yakin. Insya Allah.
Maka dalam pandangan saya dan sekali lagi ini adalah pendapat saya bahwa hal ini bukanlah suatu perkara mungkar dalam perjuangan kaum muslimin melawan kemungkaran Yahudi Harb atau Israel la’natullah. Bahkan menjadi suatu perkara mungkar di saat kaum muslimin berjuang melawan kezaliman Israel ada sebagian dari kita mencela mereka padahal kita sendiri tidak pernah merasakan debu, keringat, dan darah dari peperangan tersebut. Bahkan menjadi suatu perkara munkar di saat anak-anak di sana menahan sakit dan derita berkepanjangan itu kita tidak mencari solusi tepat untuk membantu mereka malah dengan asyiknya mengejek mereka dan para pembela mereka sebagai pelaku kemungkaran yang wajib diperangi. Masya Allah…
Lalu….. Aina Anta…? Di mana saya, Anda dan kalian akan meletakkan diri sebagai batu karang dari sebuah benteng peradaban Islam yang kukuh, kuat, dan jaya sampai akhir nanti?
Hanya Allah yang tahu segalanya.
Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah, dan segala kesalahan dari diri saya pribadi.
Mohon maaf tiada terkira.

Maraji: http://10.254.4.4/dshforum/forum_posts.asp?TID=7835&PN=1&TPN=1

Hamba Allah yang dhoif dan miskin ilmu
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:39 02 Agustus 2006

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL


Monday, July 31, 2006 – PORNOGRAFI ITU MASALAH KECIL

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL

“Saat ini ideologi Pancasila menjadi semakin jauh dari Bangsa Indonesia. Banyak tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan nilai Pancasila. Bahkan sering kali, hal-hal kecil diributkan dan melupakan hal besar yang justru hilang dari kita. Misalnya saja sumber daya alam yang menipis karena dijual ke perusahaan asing.” (Kompas, 28/7)

Hal ini terungkap—seperti diberitakan Kompas—pada dialog publik yang diadakan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan pada hari Kamis yang lalu (27/7) bertema: ”Penegasan Sikap Kebangsaan Kita”. Sebagai pembicara pada acara ini adalah mantan Ketua MPR Amin Rais, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, serta pengamat ekonomi Hartojo Wignyowijoto. Hadir dalam acara itu pula adalah Gubernur Sutiyoso dan tokoh-tokoh partai politik lainnya.

Tidak ada yang mengganjal di hati saya saat membaca berita tersebut sebelum dua paragraf terakhir yang berisi penegasan dari Amin Rais bahwa yang dimaksud hal-hal kecil yang diributkan itu adalah masalah RUU Pornografi.

Kita simak apa yang dikutip oleh Kompas:

Sebenarnya, menurut Amin, di situlah persoalan bangsa, yaitu dijualnya sumber daya alam kepada asing, bukan lalu banyak hal-hal kecil yang diributkan.

”Saya sudah lama mencari sebab mengapa bangsa ini mundur, ditinggal negara lain, bahkan oleh negara yang lebih muda. Kemudian banyak perdebatan, misalnya tentang RUU Antipornografi dan Pornoaksi, padahal bukan di situ masalahnya,” ujar dia.

Saya memang pernah mendengar sebelumnya bahwa Amin Rais pernah mengatakan hal yang demikian. Tapi saya anggap perkataannya adalah perkataan dari seseorang yang mengalami Post Power Syndrom. Jadi saya menganggapnya biasa-biasa saja dan cuma angin lalu. Nanti juga hilang dengan sendirinya.

Tapi dengan statement-nya pada acara itu, membuat saya berpikir lagi, bahwa Amin Rais memang konsisten dan serius dengan masalah keremehan dari pornografi dan pornoaksi tersebut. Dan ini jelas sungguh mengecewakan sebagian umat yang bekerja keras menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran.

Bagaimana tidak, hal itu dikatakan oleh seorang mantan ketua organisasi masyarakat Islam terbesar kedua di Indonesia dan pula yang pernah menjadi ikon perlawanan umat terhadap orde baru.

Dengan pernyataannya itu ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:

Ia jelas menegasikan bahwa pornografi dan pornoaksi sebagai penyebab kehancuran bangsa ini. Dan ia konsisten sejak tahun 1997 bahwa semuanya karena perampasan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tidak ada yang salah jika ia tetap berkomitmen dengan perlawanannya itu namun seharusnya jika ia lebih bijak dan bisa menahan diri, tak perlu untuk membuat perbandingan atau peremehan terhadap tema besar perlawanan dari sebagian umat lainnya pada saat ini.

Pun dengan demikian ini jelas menimbulkan friksi dan prasangka berkepanjangan terhadap komponen umat lainnya yang seharusnya tidak ada. Bagi umat apa yang ia lakukan adalah seperti menggunting dalam lipatan.

Bahkan menurut saya dengan pernyataannya yang menganggap bahwa masalah bangsa ini bukan pada masalah pornografi dan pornoaksi, sebagai suatu penantangan terhadap ayat-ayat Allah yang begitu banyaknya membahas masalah kemunkaran ini. Dan seperti menafikan berbagai musibah yang datang ini karena ulah manusia akibat dari nafsu syahwat yang diumbar begitu saja.

Umat memang perlu disadari bahwa betapa kekayaan alam bangsa Indonesia ini dikuras habis dan hanya menguntungkan asing saja, sehingga dengan demikian timbul kesadaran bahwa umat perlu menjaga kekayaan ini dan menjaganya, mengelolanya untuk kepentingan umat juga.

Namun demikian umat pun tidak ketinggalan pula harus disadarkan bahwa pronografi dan pornoaksi sudah terang-terangan di depan mata dan akan menjadi bom waktu bagi generasi muda. Dan umat tidak menginginkan bahwa generasi ini menjadi generasi tanpa moral yang tidak menghormati nilai-nilai agama.

Sebenarnya dengan data statistik yang dikeluarkan oleh para pendukung RUU APP, menunjukkan bahwa betapa korban-korban dari ketidaktegasan pemerintah dalam memerangi kemaksyiatan itu senyatanya ada dan mengkhawatirkan bagi para aktivis dan pemerhati masalah moral. Karena korbannya kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sendi-sendi kemajuan suatu peradaban yang kuat yaitu keluarga akan menjadi lemah dan rusak karena pornografi. Kita tidak menginginkan peradaban materialis ala Amerika Serikat yang ditopang oleh masyarakat yang sakit dan tanpa ikatan keluarga—karena ini pula banyak para ahli memprediksikan bahwa kehancuran Amerika Serikat tidak akan lama lagi.

Hamil di luar nikah, kawin cerai, single parent, anak tanpa ibu dan bapak, anak-anak jalanan, gank-gank hitam, lesbian, homoseks, narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, phedophilia menjadi penyakit masyarakat akut dalam keseharian di negara adidaya itu. Dan ini jelas semuanya adalah hal-hal yang sangat dihindari oleh umat Islam yang menginginkan kejayaannya kembali kepangkuannya.

Hal yang dilupakan oleh Amin Rais bahwa sesungguhnya peradaban suatu bangsa tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja dengan melupakan aspek yang lainnya. Sayyid Sabiq tidak melupakan kekuatan akhlak dan maal (harta) dalam enam prasyarat membangun suatu peradaban. Sehingga tidak bisa satu dengan yang lainnya saling menafikan. Tidak bisa untuk saling dikecilkan. Semuanya harus ada.

Akidah yang bersih, ilmu yang mumpuni, akhlak yang tinggi, ukhuwah yang erat, jama’ah yang kuat, dan maal yang banyak menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun peradaban, untuk membangun Indonesia. Dengan sinergi dari berbagai komponen umat tentunya.

Sinergi dari Amin Rais yang berkomitmen tinggi untuk pengembalian harta umat kepada umat. Muhammadiyah dan Nahdhatul ’Ulama dengan pengembangan ilmunya. Ma’had-ma’had Ahlussunah Waljama’ah yang mengajarkan akidah yang bersih dari kemusyrikan. Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam masing-masing sebagai penjaga ukhuwah dan moral. AA Gym dengan pesantren Darut Tauhid-nya dalam penggemblengan pejuang Islam ber-akhlakul karimah. Dan masih banyak lagi peran-peran dari ormas atau komponen umat Islam lainnya yang saling mengisi dan bersinergi.

Maka bila ini terwujud, bangsa ini tidak mundur, dan persoalan yang dikhawatirkan Amin Rais akan cepat terselesaikan. Dan tidak akan ada lagi kegundahan seorang Amin Rais yang mengatakan pornografi dan pornoaksi itu cuma masalah kecil. Kegundahan yang malah melukai perjuangan umat.

Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

cuma resah belaka

22.11 30 Juli 2006

ARAGONES, YOU ARE A LOOSER


ARAGONES, YOU ARE A LOOSER

Pelatih Spanyol ini sudah selayaknya mendapatkan julukan itu setelah timnya dikalahkan oleh Perancis tadi malam dengan skor 1-3 di stadion Niedersachsen, Hannover. Gol kedua Les Blues yang dibuat oleh Playmaker-nya Patrick Vieira di menit ke-83 memupuskan harapan Spanyol untuk mempertahankan kedudukan 1-1 sampai terdengar peluit panjang. Apalagi setelah Zidane membuat gol ketiga di babak additional time. Menambah kepastian bahwa Spanyol harus menyetop ambisinya melangkah ke babak berikutnya.
Bisa jadi inilah tuah yang harus didapat dari Luis Aragones yang telah mengucapkan kata-kata rasis beberapa tahun lalu. Saat sesi latihan yang diliput oleh media itu, Aragones berkata pada salah seorang pemainnya, “seharusnya kamu lebih baik daripada si hitam sialan itu”. Di sini “si hitam sialan” itu adalah Thierry Henry, pemain asal Perancis yang merumput di Arsenal.
Walaupun Aragones tidak pernah meminta maaf atas ucapannya itu Thierry Henry memaafkan Aragones dan tidak ambil pusing dengan sikap rasisnya. Namun ini masih belum bisa dimaafkan oleh teman-teman satu tim Henry, apalagi di saat pertemuan di Piala Dunia 2006 ini kesempatan membalaskan sakit hati itu terbentang.
Tentunya dengan mengalahkan Spanyol merupakan pembalasan yang cukup buat Aragones. Bahkan dari sikap rasis itu menambah semangat bagi tim ayam jantan untuk dapat menjadi pemenang.
Kini terbukti sudah, rasisme membawa petaka buat Aragones. Terbukti bahwa orang yang mengejek orang lain belum tentu lebih baik daripada yang diejek. Kesombongan akan selalu hancur di muka bumi. Dalam pertandingan yang diwasiti Roberto Rosetti itu timnya yang menduduki peringkat ke-5 FIFA ini bertekuk lutut dikalahkan Perancis yang hanya menduduki peringkat ke-8. Walaupun memang dari sejarah tujuh kali pertemuan sebelumnya dapat dilihat bahwa Perancis selalu unggul dengan memperoleh kemenangan 5 kali menang, 1 seri, 2 kali kalah.
Kemenangan ini semakin memperpanjang daftar kemenangan Perancis melawan Spanyol. Juga membuat lemahnya cercaan kepada mereka yang dianggap sebagai tim yang memuja masa lalu dan tim yang diisi dari generasi tua itu. Kemenangan ini pun membuat mereka harus lebih bekerja keras lagi karena yang akan mereka hadapi Ahad nanti di perempat final adalah juara bertahan 2002 dan lima kali piala dunia, Brasil. Tapi moral yang semakin meningkat sudah menjadi modal kuat untuk dapat melangkah menuju semi final.
Kini, Perancis telah melewati salah satu ujiannya untuk mengulangi keemasan 1998. Walaupun banyak yang pesimis mereka dapat menekuk Brasil, tapi bola tetaplah bundar. Sehingga belumlah diketahui secara pasti siapa yang akan memenangkan pertarungan nanti sampai wasit benar-benar meniup panjang peluitnya. Tapi yang pasti, kini, Aragones sudah bermimik sedih dan layak mendapatkan julukan a looser.

Fakta Lain:
Perancis Juara Dunia 1998, Spanyol belum pernah.

***
Syukran, atas missed call dari seseorang yang telah membangunkan saya tepat pukul 03.15 (Sebenarnya karena banyak nyamuk juga sih). Dini hari tadi saya banyak berbuat apa saja. Perancis menerapkan strategi 4-2-3-1, saya cuma 4-4-1 tepatnya 2-2-2-2-1. Terkantuk-kantuk lagi. He…he…he…

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:02 28 Juni 2006

ISRAGHANI


ISRAGHANI
by: dedaunan
(Sekadar lara yang tak kunjung sembuh untuk Ibunda Sami Al-Sharif kerana anaknya meregang nyawa dihantam rudal Israel, kemarin)

Dukungan saya terhadap tim-tim piala dunia sudah jelas dan terang seterang matahari di siang bolong. Pertama saya mendukung kesebelasan yang punya ikatan ideologis yang sama dengan saya. Anda pasti tahu. Ya, Arab Saudi, Tunisia, dan negara-negara Afrika yang masih mempunyai jejak-jejak ekspedisi Islam masa lalu.
Kedua, dukungan saya berikan kepada tim dari Afrika secara umumnya. Ketiga, prioritas dukungan kepada tim dari Amerika Tengah dan Latin minus Argentina dan Brazil. Keempat, baru saya mendukung tim dari negara-negara Asia khususnya Asia Timur. Setelah itu, bila tidak ada dari tim-tim yang saya sebutkan di atas masuk dalam babak-babak final maka saya akan mendukung tim Argentina. Dan dalam urutan terakhir adalah Brazil. Cuma ini.
Jelas sudah tidak ada lagi yang bisa saya dukung kepada tim dari negara-negara yang tidak memenuhi kriteria di atas. Bila terpaksa harus memilih dan memberikan dukungan kepada tim-tim selain di atas maka saya harus memilih tim yang mempunyai pemain kulit berwarna terbanyak dalam squadnya. Tapi tidak sama sekali dengan tim dari Amerika Serikat. Dengan jejak militernya yang berlumuran darah di setiap jengkal bumi saya sama sekali tidak respek dengan tim ini.
Pertanyaannya adalah mengapa dalam event sekaliber Piala Dunia 2006 ini pilihan secara politik dan ideologis selalu mengemuka dalam pikiran saya. Ini cuma kekesalan saya saja melihat ketidakadilan yang menimpa banyak negara miskin, terbelakang, terbanyak berada di bagian selatan dunia yang dilakukan oleh negara kaya, besar, dan dzalim. Apalagi ditambah stereotip bahwa negara itu bependuduk mayoritas muslim.
Alhasil, saya melihat bahwa sepakbola adalah olahraga yang tepat dijadikan ajang pembuktian diri eksistensi sebuah negara yang minus harga diri. Pembuktian bahwa mereka sanggup mengalahkan tim dari negara superpower, maju, penjajah, dan mantan tuan tanahnya. Walaupun cuma dalam kompetisi olahraga, tidak pada kemiliteran dan perekonomian.
Namun, kali ini dukungan saya terkoyak habis melihat tingkah laku pemain salah tim yang masuk prioritas untuk didukung oleh saya. Pemain dari Ghana. Ya, walaupun pertandingan itu tidak saya tonton—katanya seru habis dan benar-benar mengasyikkan—saya mendapatkan berita tidak mengenakkan ini pada hari Senin (19/6) pagi kemarin di kantor.
Teman saya menceritakan tingkah laku salah satu pemain tim Afrika tersebut saat mencetak gol ke gawang Cheska, Sabtu (17/6). Ulah yang dilakukan pemain bernama John Paintsil itu adalah dengan mengeluarkan dari kaos kakinya bendera lalu mengibarkannya. Tidak masalah kalau yang dikibarkan itu adalah bendera negaranya sendiri. Namun ini adalah bendera Israel. Bendera dari negara yang sampai detik ini masih menerapkan taktik pembantaian dan genosida terhadap rakyat Palestina.
Sayangnya berita sebesar dan sesensitif itu tidak nampak di harian Republika Senin—atau karena saya tidak membaca koran tersebut pada hari ahadnya. Saya mendapatkan foto Paintsil yang sedang mengibarkan bendera itu malah dari koran harian khusus olahraga, TOPSKOR.
Namun pada keesokan harinya, Selasa (20/6), Republika pada halaman pertamanya menampilkan berita tersebut dengan judul yang sangat mencolok: Ulah Bodoh John Paintsil.
Dari sanalah saya mendapatkan bahwa masalah ini tidak hanya melukai saya secara pribadi. Tapi juga menginternasional. Masyarakat Mesir dan negara Arab lainnya yang semula mendukung Ghana, marah dan bersuara keras. Bahkan menjuluki John Paintsil—yang bermain di Hapoel Tel Aviv, klub di Liga Israel—ini sebagai orang dungu, bodoh, dibayar Israel, Agen Mossad, dan Israghani (Israel Ghanaian).
Dari berita itu saya mendapatkan alasan masuk akal tentang tingkah laku Paintsil. “Alasan sesungguhnya adalah banyak pemain Ghana dibesarkan di kamp latihan yang dibangun Israel,”tulis analis politik Hassan el-Mestekawi. “Pelatih Israel melihat bakat-bakat sepakbola Afrika sebagai lahan bisnis paling cerah. Mereka membangun tempat-tempat latihan, mendidik anak-anak miskin dan menjualnya ke klub-klub Eropa.”
Setiap pagi , sebelum berlatih, anak-anak Ghana mengikuti upacara di lapangan terbuka. ”Mereka menghormat ke bendera Israel,” ujar Mestekawi. (Republika, 20/6)
Dengan demikian jelas sudah bagaimana keberpihakan Paintsil dan kesuksesan Yahudi Israel dalam mencetak kader-kader untuk mendukung eksistensi negara penjajah tersebut.
Paintsil dan Israel kali ini juga sukses mengampanyekan perlawanannya kepada Iran. Pada piala dunia kali ini—dalam situasi dunia di antara perang kata antara Iran dan Israel—ada rencana bahwa Presiden Iran Ahmadinejad akan pergi ke Jerman untuk melihat tim kebanggaannya bertanding bila masuk ke babak kedua. Tentunya peristiwa ini bermakna luas.
Tindakan Paintsil sepertinya pula untuk mengejek Iran. Karena pada partai sebelumnya pada hari yang sama, Iran dikalahkan oleh Portugal dengan skor 0-2. Partai ini menjadi penentu bahwa Iran harus angkat kopor dari Jerman setelah dikalahkan oleh Meksiko 1-3 di pertandingan pertamanya.
Berhasil sudah kampanye tersebut dengan pesan sangat jelas yang menyuarakan: “Hei, Iran! Anda pergi, Kami (Israel) tetap di sini.” Tapi ejekan ini jelas tidak hanya untuk Iran tapi keseluruhan bangsa Arab yang sangat menentang pendudukan Israel atas Palestina.
Walaupun Asosiasi Sepakbola Ghana (GFA) telah mengajukan permintaan maaf dengan menegaskan bahwa Ghana tidak punya orientasi politik apapun terkait konflik di Timur Tengah dan berjanji tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, tapi ini tidak mencegah mutungnya publik Mesir dan negara Arab lainnya dengan adanya rencana stasiun televisi mereka untuk tidak menayangkan lagi pertandingan sisa negara tersebut.
Tidak hanya mereka di sana, saya sudah pastinya akan merasakan hal yang sama. Sepertinya saya pun harus benar-benar dingin dan membuang ekspresi kegembiraan seandainya mereka dapat mencetak gol ke gawang Amerika Serikat di Stadion Nuremberg hari ini (22/6).
Saat itulah saya dapat melihat apakah Paintsil akan mengulangi perbuatan bodohnya itu dan menganggap remeh komitmen GFA, hanya untuk memenuhi janjinya kepada rakyat Israel untuk mengibarkan Bintang David dengan Garis Biru jika Ghana dapat mencetak gol ke gawang lawan. Jika ya, betul sekali bahwa aksi kemarin adalah kado khusus dan “cantik” buat Iran. Tapi cukup menyakitkan. Tidak hanya bagi saya, tapi bagi mereka yang sudah muak dengan penindasan Israel.
Kita lihat saja nanti malam.

Fakta Angka:
Grup E
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
9 13-Jun-06 Hanover ITA:GHA 2:0 (1:0)
10 13-Jun-06 Gelsenkirchen USA:CZE 0:3 (0:2)
25 18-Jun-06 Kaiserslautern ITA:USA 1:1 (1:1)
26 18-Jun-06 Cologne CZE:GHA 0:2 (0:1)

Yang Belum Menjadi Fakta:
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
41 22-Jun-06 Hamburg CZE:ITA ????
42 22-Jun-06 Nuremberg GHA:USA ????

Fakta Lain:
1. Luas Wilayah Ghana: 238.540 km persegi hampir dua kali luas pulau Jawa.
2. Dulu bernama Pasir Emas; nama Ghana berasal dari ”Kekaisaran Ghana”.
3. Ibukota Accra;
4. Bahasa Resmi: Inggris;
5. Berbatasan di utara dengan Burkina Faso; dan selatan Teluk Guinea;
6. Bertetangga dengan Pantai Gading (di barat) dan Togo (di timur). Bersama dua tetangga tersebut Ghana sama-sama dapat mengikuti ajang Piala Dunia 2006 di Jerman;
7. Penghasil coklat terbesar di dunia dan penghasil alumunium terbesar di Afrika;
8. Pernah dijajah Portugis pada akhir abad ke-15. Pernah di bangun benteng pantai di sana oleh Inggris, Belanda, dan Denmark pada abad ke-17 dan ke-18;
9. Pada tahun 1874 dijajah Inggris dan memperoleh kemerdekaan pada tanggal 06 Maret 1957;
10. Penduduk bagian utara beragama Islam, sedangkan penduduk di bagian selatan memeluk agama Katolik.

Fakta Jejak Israel di Ghana:

In April 1959, Israel, with help from India, supervised the establishment of the Ghanaian Air Force. A small Israeli team also trained aircraft maintenance personnel and radio technicians at the Accra-based Air Force Trade Training School. Although the British persuaded Nkrumah to withdraw Israeli advisers from Ghana in 1960, Ghanaian pilots continued to receive some training at aviation schools in Israel. After Nkrumah’s overthrow, Israeli military activities in Ghana ended. (http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html)

Maraji:
1. TopSkor, Senin 19 Juni 2006;
2. Republika, Selasa 20 Juni 2006;
3. Republika, Kamis 22 Juni 2006;
4. http://www.eramuslim.com/news/int/44974db2.htm;
5. Jadwal dan Hasil Pertandingan Piala Dunia 2006 di http://10.254.28.92/sites/pialadunia/grup/jadwalhasil.aspx;
6. http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html;
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Ghana;
8. Ensiklopedi Keluarga A-Z.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:36 22 Juni 2006
caci maki silakan dialamatkan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

DUEL BEKAS KOLONI SPANYOL


Setelah golnya dianulir oleh wasit di babak kedua karena terperangkap dalam jebakan offside yang dibuat para pemain belakang Kosta Rika, I. Kaviedes melalui umpan matang Mendez akhirnya menciptakan gol indah buat Ekuador. Dan jangan lupa bahwa gol ini dibuat di menit ke-92 di babak perpanjangan waktu yang hanya empat menit lamanya.
Tentu saja stadion sepakbola di kota Hamburg kembali bergemuruh dengan sorak sorai bergembira dari para suporter Ekuador. Skor bertambah menjadi 3-0. Angka yang membuat tim dari Amerika Selatan ini dipastikan lolos ke babak kedua. Bersama Jerman tentunya yang mengalahkan Kosta Rika 4-2 dan Polandia 1-0. Sisa pertandingan terakhir tidak berpengaruh terhadap kedua tim ini.
Dan kali ini Ekuador mempertontonkon pada para penggemar sepakbola di dunia permainan menawan, kerjasama yang baik, dan gol-gol cantiknya. Dua gol indah sebelumnya dibuat dengan tandukan oleh C. Tenorio di menit ke-8 dan tendangan di sisi yang sulit oleh Delgado—sempat menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana melawan Polandia—di menit ke-54.
Tentunya kemenangan ini menghapus julukan yang melekat sebelumnya pada tim Ekuador. Yaitu julukan sebagai jago kandang. Sebagaimana diketahui bahwa Ekuador selalu menang dalam setiap pertandingan yang dilakukan di Ibukotanya, Quito yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Seperti pula Bolivia yang mendapat julukan yang sama karena letak La Paz yang tinggi pula.
Ini membuktikan bahwa para pemain Ekuador pun sanggup untuk bermain di mana saja, atau di ketinggian yang sama dengan permukaan laut seperti di Hamburg misalnya.
Kemenangan ini pun memupuskan kekhawatiran saya setelah melihat pertandingan pertamanya melawan Polandia beberapa hari yang lalu. Pertandingan di dini hari yang saya tonton dengan terkantuk-kantuk ini meninggalkan kesan pada diri saya bahwa Ekuador kalau mempertahankan permainannya seperti itu tidak akan bisa untuk melaju ke babak kedua. Apalagi menjadi juara dunia. Impossible!!!
Tapi harapan nonrealistis saya bahwa Piala Dunia akan dimenangkan oleh tim underdog, tim kuda hitam, tim selain dari Eropa, Argentina, dan Brasil kembali membuncah setelah melihat kemenangan Ekuador pada malam ini.
Ya, malam ini saya temukan tim unggulan saya. Tim yang membuat saya bisa pula larut dalam demam piala dunia. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya nanti, tapi yang pasti piala dunia bagi saya tidak akan membosankan lagi karena melihat tim-tim dari negara bola itu-itu saja. Hal yang sama ketika saya mendukung Nigeria di saat Piala Dunia 2002.
Sebenarnya tidak hanya Ekuador yang menjadi harapan, tapi ada pula Iran, Togo, Tunisia atau Arab Saudi. Namun keempat negara tersebut sampai saat ini belum ada yang membukukan kemenangan. Jikalau memang ditakdirkan bahwa tim favorit saya tidak ada yang melaju ke babak seperempat final misalnya, saya akan dukung Argentina.
Mengapa Argentina? Karena ada kenangan tersendiri buat tim ini di waktu saya masih duduk di bangku SD. Ya, sampai saat ini kemeriahan piala dunia tahun 1986 masih terbayang-bayang di mata. Teringat kelincahan Maradona pada waktu itu. Itu saja sih. Pokoke Argentina!!! 
Kembali kepada pertandingan Ekuador dan Kosta Rika malam tadi, kemenangan ini membuktikan bahwa Ekuador memang kekuatan ketiga sepakbola Amerika Latin setelah Argentina dan Brasil. Perlu pembuktian lebih lanjut di saat memainkan partai ketiga melawan Jerman.
Bisakah Ekuador dengan benteng kuartet pemain belakangnya yang kuat mampu menahan gempuran dari Tim Panser asuhan Jurgen Klinsman itu. Atau bahkan mampu balik menyerang dan mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui aksi lincah dari Mendez, Delgado, C. Tenario, De La Cruz, I. Kaviedes dan kawan-kawan.
Jika menang, Ekuador akan menjadi tim yang ditakuti di depan mistar gawang oleh tim-tim lain. Sebaliknya, maka tetap menjadi perhatian lebih dari yang lain. Kita lihat saja nanti.

Fakta Angka:
Hasil pertandingan Grup A Piala Dunia 2006 di Jerman sampai 23:43 WIB 15 Juni 2007:

Jerman 4-2 Kosta Rika
Polandia 0-2 Ekuador
Jerman 1-0 Polandia
Ekuador 3-0 Kosta Rika

Yang Belum Menjadi Fakta di Grup A:
Ekuador ?-? Jerman
Kosta Rika ?-? Polandia

Fakta-fakta lain di balik pertarungan Ekuador dan Kosta Rika.
Fakta ini di dapat dari ensiklopedi yang saya baca sambil menonton pertandingan semalam. Perlu membacanya agar didapat gambaran yang lebih utuh. Tentunya hal yang sedikit ini adalah profil selain profil sepakbola—karena hal ini banyak didapat dari koran dan majalah. Selamat menikmati.
1. Ekuador dan Kosta Rika sama-sama bekas koloni Spanyol;
2. Ekuador merdeka tahun 1822 dari Spanyol dan Kosta Rica melepaskan diri dari Federasi Amerika Tengah di tahun 1848;
3. Ekuador adalah republik yang berada di Amerika Selatan, berbatasan dengan Peru di sebelah selatan dan Kolumbia di utara. Ibukotanya Quito.
4. Kosta Rica berada di Amerika Tengah bertetanggaan dengan Panama dan Nikaragua. Ibukotanya San Jose.
5. Luas Wilayah Ekuador 270.679 km persegi. Sedangkan Kosta Rika 51 ribu km persegi;
6. Penduduk kedua negara itu lazimnya keturunan Spanyol, Indian, serta Afrika (dari bekas budak).
7. Christophorus Columbus pernah singgah di Kosta Rika di tahun 1502
8. Kota Pontianak di Kalimantan Barat sejajar pada garis khatulistiwa dengan Ibukota Ekuador, Quito.

Sumber:
1. Pertandingan Bola Langsung dengan segala komentarnya di SCTV Pukul 20.00 WIB 15 Juni 2006;
2. Peta Dunia: National Geographic Maret 2005 (Peta ini tidak mencantumkan Negara Palestina. Disana cuma ada ISRAEL, maklum saja National Geographic Society berada di Washington DC, USA);
3. Ensiklopedi Keluarga A-Z, 1991;
4. http://www.bbc.co.uk/indonesian/sports/story/2006/06/060610_hasil.shtml

riza almanfaluthi
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan di ranting cemara
23:52 15 Juni 2006

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS


Thursday, June 15, 2006 – ABB: IKON PERLAWANAN HEGEMONI AS

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS

Kemarin (Rabu, 14/06), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang setelah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan potong remisi 4 bulan dalam tuduhan terkait dengan peledakan Bom Bali I dan Bom Marriot.
Tuduhan yang menjadi dakwaan itu pun masih saja disematkan oleh banyak media nasional kepadanya pada saat ini ketika memberitakan pembebasannya. Padahal kalau mereka tidak lupa—atau memang disengaja dilupakan oleh mereka—bahwa dakwaan yang menjadi dakwaan primer yakni terkait dengan peledakan bom bali itu tidak terbukti di persidangan.
Yang membuatnya ditahan adalah karena dakwaan subsidernya yaitu pembuatan Kartu Tanda Penduduk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar Undang-undang Keimigrasian. Dakwaan yang bisa saja menimpa banyak orang di Indonesia karena bukan rahasia umum lagi kalau penduduk Indonesia masih banyak yang memiliki KTP ganda dan tidak melalui prosedur yang sebenarnya.
Jelas sudah bahwa penahanannya adalah benar-benar pesanan dan di bawah tekanan dari negara-negara yang mengaku paling demokrasi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terutama Australia sebagai kaki tangan setianya. Walaupun hal ini dibantah dengan keras oleh pemimpin pada dua masa pemerintahan terakhir republik ini.
Tekanan yang pada akhirnya berhasil membuat sebuah detasemen kepolisian antiterorisme dengan nama Detasemen 88—Angka 88 ini diambil dari jumlah korban warga Australia pada saat Bom Bali I. Yang juga bisa dituntut oleh semua pihak dengan pertanyaan: “memang yang menjadi korbannya warga Australia saja?”
Pu ini adalah tekanan yang membuat sebagian mata buta dengan kondisi yang diderita oleh ABB pada saat ia akan ditahan. Walaupun ia masih benar-benar sakit dan dalam perawatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo, ia tetap diangkut dengan paksa seperti pesakitan atau hewan buas yang akan membuat kerusakan. Dalam perjalanan ke Jakarta pun ia tidak diperbolehkan untuk buang air kecil. Sungguh ini adalah suatu kezaliman.
Padahal banyak sekali para koruptor di negeri ini hanya bermodalkan secarik surat keterangan dokter atau vonis kesehatan seperti kerusakan otak permanen masih dapat berleha-leha menikmati udara bebas. Dan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh ABB. Lagi-lagi hukum ditegakkan kepada orang-orang yang tidak berduit dan tidak berdaya.
Namun kini pembebasannya disambut dengan gembira, tidak hanya oleh santrinya tapi juga oleh banyak tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Kepulangannya dikawal dan disambut oleh ratusan santri di Ngruki, Solo.
Saat tiba di sana ia memberikan tausyiah pertamanya di pesantren AlMukmin. Ia menegaskan kembali bahwa garis perjuangan yang ditempuh oleh Nurdin M Top adalah salah atau keluar dari jalur yang sebenarnya. Yang benar adalah dengan dakwah yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar kepada masyarakat. Dan ia tegaskan bahwa inilah yang dibenci oleh Amerika dan musuh-musuh Islam.
Pernyataan yang tegas dan membuktikan dirinya masih sebagai ikon perlawanan terhadap hegemoni AS sebagai negara superpower dan superzalim. Di dalam tubuhnya yang ringkih masih ada api perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dunia Islam. Dan masih ada semangat membara dalam upaya penegakan syari’at islam di muka bumi Indonesia ini.
Kini ia akan kembali mengajar di pesantrennya. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan dari para wartawan saat ditanya apa yang akan ia lakukan setelah pulang dari penjara. Ya, mengajar dan mendidik kader-kader yang terus dan selamanya akan memperjuangkan umat Islam terlepas dari setiap kezaliman yang menimpanya. Dan dalam penegakan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin di tanah air ini. Semoga.

*****
Adzan shubuh bergema, saya matikan liputan 6 pagi itu. Ada bening-bening di mata, seperti bening-bening dulu kala saat beliau di tarik dan dibawa paksa dari rumah sakit. Sungguh bencana apa lagi yang akan menimpa negeri ini ketika banyak ulama yang dihina dan dicaci maki. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara
saat ada uneg-uneg yang membuncah
07.30 s.d. 08:28
15 Juni 2006

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA


Monday, May 8, 2006 – SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA

Bismillaahirrohmaanirrohiim

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA…!

Setelah saya cukup mengakui keberanian Kuba menghadapi dan mengejek dominasi Amerika Serikat (AS) dengan menawarkan kekuatan medisnya yang terkenal di jagat raya untuk melakukan operasi mata terhadap rakyat miskin AS. Juga memutuskan ketergantungannya terhadap sektor pariwisata—suatu sektor yang rawan dan sensitif dengan isu keamanan dunia, juga sektor yang antikemandirian.
Pun setelah saya cukup mengangkat jempol terhadap Iran atas kemandiriannya dengan memajukan sektor perindustriannya berupa produksi besar-besaran mobil nasionalnya. Keberaniannya menentang barat dan PBB yang menolak Iran untuk mempunyai program nuklirnya sendiri. Dan juga gebrakan ekonominya yang mampu untuk mengurangi tingkat kemiskinan absolut di negara itu sehingga pemukiman kumuh dan peminta-minta sulitlah dijumpai di jalanan Teheran.
Kini, kembali saya mengakui keberanian untuk mandiri dari salah satu negara di Amerika Selatan ini, BOLIVIA. Negara yang berbatasan dengan Paraguay dan Argentina di sebelah selatan, Brazil di timur dan utara, serta Peru dan Chili di barat ini melalui presidennya mengeluarkan aturan baru untuk menasionalisasi sumber daya minyak dan gas (migas) yang kini banyak dikelola perusahaan asing.
Jelas aturan baru ini sangat-sangat tidak berpihak dan mengancam investor asing yang telah banyak menanamkan modal di negara yang memiliki cadangan gas terbesar kedua di Amerika Latin setelah Venezuela. Tapi Evo Morales—sang presiden terpilih—menyatakan dengan tegas bahwa upaya ini dilakukan demi mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi negaranya, demi kemakmuran agar Bolivia terlepas dari julukan sebagai negara termiskin di Amerika Selatan.
Morales—sebagaimana diberitakan Republika (03/05) mengatakan: ”Kami memulainya dengan nasionalisasi migas. Besok kami akan menambahnya dengan pertambangan, kehutanan dan semua sumber alam yang telah diperjuangkan nenek moyang kami.”
Dan Presiden dari negara yang 70% penduduknya miskin ini memberikan waktu sekitar 180 hari sejak tanggal 01 Mei 2006 kepada para investor asing untuk membuat kontrak bisnis baru dengan pemerintah Bolivia.
Jika tidak, sebagaimana ancamannya yang ia katakan kepada para investor asing—di antaranya Repsol Spanyol, Petrobras Brazil, BP Inggris, British Gas, ExxonMobil, Total Prancis: ”Silakan tinggalkan Bolivia.” (Republika, 05/05).
Untuk suksesnya menasionalisasi itu Morales memerintahkan Tentara Bolivia mengambil alih 56 ladang migas yang ada di negaranya dan meminta kepada rakyatnya bersama-sama membantu pemerintah mewaspadai sabotase yang akan menggagalkan upaya nasionalistik ini.
Morales belajar dari pengalaman dan keberhasilan dua negara latin lainnya yakni Ekuador dan Venezuela yang berani memperbaharui kontrak bisnis dengan negara asing. Bahkan, Venezuela menerapkan pajak yang tinggi untuk para eksportir minyaknya.
Langkah itu diharapkan bagi negara yang berpenduduk 8,8 juta jiwa ini (perkiraan 2005) adalah akan mendorong ekonomi dan menciptakan pekerjaan baru. Otomatis pengurangan keuntungan yang diperoleh negara asing akan meningkatkan pendapatan negara itu. Pendapatan tahun 2007 dari produksi gas diharapkan sebesar 780 juta dolar AS, sangat tinggi dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 460 juta dolar AS.
Luar biasa. Negara yang luasnya hanya sepersepuluh luas Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya cuma 1.098.580 km persegi saja dan dengan sumber kekayaan alam yang masih kalah jauh di bandingkan Indonesia, berani melakukan sesuatu yang anti ”pasar” (baca kapitalisme) atau antitrend menarik investor yang biasa dilakukan dari negara miskin identitas dan harga diri.
Sungguh lain sekali dengan apa yang dilakukan Indonesia yang tak berani merevisi sedikitpun ’kitab suci kapitalis’ berupa kontrak karya. Atau lemahnya Indonesia dalam kasus Freeport, Blok Cepu, BUMN, dan dalam berbagai kasus pertambangan emas, perak, dan batubara yang berada di kawasan hutan lindung.
Yang paling anyar adalah pada kasus rencana revisi undang-undang ketenagakerjaan sebagai salah satu paket ekonomi terbaru untuk menarik investor asing. Lagi-lagi di saat nasionalisme dan harga diri bangsa tidak dijadikan prioritas, masyarakat pun menjadi korban. Hatta dibungkus dengan janji-janji pemberian kepastian hukum dan kesejahteraan buruh.
Mampukah pemerintah melakukan negosiasi ulang dengan Freeport atau buyback saham-saham Indosat yang ternyata diketahui tidak ada pasal yang memudahkan pemerintah untuk melakukan itu dalam perjanjian kontrak?
Atau mampukah pemerintah untuk tidak takut dengan ancaman yang selalu dilontarkan asing dengan arbitrase internasionalnya atau forum WTC-nya. Bahkan dengan ancaman tidak akan diberikan paket pinjaman lanjutan oleh World Bank
Saya jawab: ”pesimis.” Di kala banyak dari kita yang selalu mengatakan ”Makan saja nasionalisme itu?”. Di kala banyak dari kita para alumni sekolah-sekolah barat itu masih saja mengagung-agungkan gelar MBA., MSc., PhD. atau gelar akademis lainnya tanpa kerja nyata, dan masih memikirkan enaknya untuk duduk di kursi empuk jabatan.
Saya masih tetap pesimis di kala masih banyak dari kita memandang dengan sebelah mata kepada sekelompok orang yang menyeru memboikot produk-produk kapitalisme dan imperalisme. Bahkan mencibir mereka sebagai sekelompok orang yang terlalu emosional, pencinta heroisme masa lalu, tak bernalar, kolot, dan anti pasar.
Jika masih banyak sebagian dari kita gemetar ketakutan dengan tindakan balasan negara-negara besar yang akan memboikot Indonesia di segala bidang dan takut untuk berkurang makannya sebanyak tiga kali sehari, padahal masih banyak di antara saudara-saudara mereka yang tetap bersyukur dengan makan dua kali, sekali sehari atau tidak makan apa-apa dalam seharinya.
Saya masih tetap pesimis entah sampai kapan. Jika Bolivia saja bisa, kenapa Indonesia tidak. Jika Iran saja bisa kenapa Indonesia tidak. Jika Kuba saja bisa kenapa Indonesia tidak.
Tapi, sungguh saya masih percaya bahwa Indonesia dengan segudang kekayaannya melebih tiga negara tersebut sebenarnya mampu untuk berbuat seperti mereka yang melepaskan diri dari ketergantungan asing dan tidak menjadikan dirinya budak-budak kapitalisme dan imperialisme moderen.
Kalaulah kita kembali membaca sejarah masa lalu, sungguh Indonesia dengan beraninya sanggup menantang dunia dengan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), International
Bank for Reconstruction and Development (IBRD) di tahun 1966. Yang menurut Soekarno badan-badan itu hanya diperalat oleh manipulasi politik
negara-negara imperialis.
Soekarno meyakini bahwa negara dan bangsa Indonesia dengan
bersenjatakan Panca Sila, Manipol dan Tri Sakti Tavip akan dapat
menjalankan politik Berdikari dengan konsekuen dan dengan itu akan
mencapai dunia baru yang penuh dengan keadilan, kemakmuran dan
kesentausaan. (Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1966).
Tentunya kita lebih yakin daripada Soekarno bahwa Indonesia bersenjatakan iman yang menghunjam di dada, berbeliung amal nyata untuk masyarakat mampu untuk menjalankan politik kemandirian itu.
Apalagi ditambah dengan keyakinan pada ayat Allah:
27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. [AlFathiir 35]
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [AlFathiir 35]
Maka sudah selayaknya bangsa Indonesia ini memiliki pemimpin yang benar-benar takut hanya pada Allah SWT. Tidak takut pada para thaghut besar ataupun thaghut kecil. Tidak takut pada negara asing. Yang berani berdiri gagah penuh izzah (kemuliaan) diri sebagai bangsa sederajat dan tidak seperti kerbau yang dicocok hidungnya menuruti perintah sang majikan pemberi dana.
Bangsa Indonesia perlu pemimpin yang tidak takut akan hinaan dan cercaan. Tidak takut untuk tidak terpilih lagi pada periode pemilihan mendatang, karena memandang jabatan adalah amanah bukan kebanggaan sehingga waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemakmuran bangsa.
Bangsa ini perlu pemimpin yang tidak takut kelaparan dan berani berkata lantang selantang seruan pemimpin Palestina kepada para penjajah dan pemboikotnya:
”Rakyat Palestina tak akan meninggalkan pemerintahnya meskipun ditekan dan diblokade. Kami akan tetap bertahan meskipun hanya dengan memakan garam dan buah zaitun. Keteguhan kami tak akan goyah karena kami setia terhadap prinsip-prinsip rakyat.” (Kompas, 16/04)
Dan saya yakin sebenarnya pemimpin kita adalah para pemberani yang akan berteriak lantang penuh jumawa kepada asing bila ada rakyat yang berdiri berbaris mendukung di belakang para pemimpin kita.
Namun rakyat yang dipimpin pun sudah sepantasnya menuntut keteladanan dari para pemimpin sehingga diharapkan dengan keteladanan itu rakyat akan bersama-sama membantu pemimpinnya dengan ikhlas dan dengan pengorbanan yang tak akan dapat dihargai oleh siapapun, sebagaimana rakyat Iran, Kuba, Venezuela, dan Bolivia mendukung para pemimpinnya.
Subhanallah…sungguh kita merindukan pemimpin bangsa ini selayaknya kita merindukan kepemimpinan dua Umar: Umar bin Khaththab atau Umar bin Abdulaziz. Entah kapan…?

Maraji’:
– Republika 03/05/2006
– Republika 05/05/2006
– Kompas 16/04/2006
– Wikipedia: Bolivia
– Ensiklopedi Keluarga A-Z
– Peta Dunia: National Geographic

dedaunan di ranting cemara
Ba’da Kedubes Panas Menyengat
20:32 07 Mei 2006

Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…


16.01.2006 – Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…
Belum juga surut gaung studi banding legalisasi judi, kini masyarakat Indonesia kembali digegerkan upaya segelintir orang untuk menerbitkan majalah Playboy Indonesia. Dengan sistem franchise, izin penerbitannya pun sudah diperoleh pada akhir November 2005 yang lalu.
Kini mereka sudah mengadakan audisi playmate—model yang akan ditampilkan di halaman utama—walaupun secara tertutup. Dan rencananya majalah itu akan beredar Maret 2006 nanti. Pengusung majalah pengeksploitasi aurat perempuan ini tentu saja bersikukuh bahwa penerbitannya akan disesuaikan dengan apa yang bisa diterima oleh masyarakat. Tetapi tak menampik bahwa foto-foto syur pun tetap akan ada. (Detikhot).
Mereka pun tak takut dengan kontroversial yang akan terjadi dengan peluncuran majalah itu di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim ini. Dengan melihat betapa sekarang pun telah banyak beredar dan di jual di lapak-lapak majalah pria yang juga menampilkan aurat wanita. Apalagi dengan harga seribu rupiah sudah mendapatkan tabloid serupa yang lebih hot di sepanjang pintu tol Tomang, Jakarta.
Lagi-lagi alasan klise dengan berlindung di balik keindahan, cita rasa seni yang tinggi dan tidak murahan, ekspresi rasa syukur kepada Tuhan, menjadi justifikasi. Apalagi dengan jaminan bahwa majalah itu tidak akan sembarangan beredar, hanya dijual di toko-toko buku terkemuka, serta menitikberatkan distribusi pada sistem berlangganan untuk meraih pembacanya.
Kembali di sini terjadi pertarungan wacana antara sekulerisasi dan integralisasi ideologi dalam berkesenian. Di mana bertahun-tahun sebelumnya pertarungan ini sudah didahului pada ranah kesusastraan dengan adanya pembagian sastra Islam di satu sisi dengan sastra tanpa embel-embel di belakangnya di sisi yang lain.
Perlu dicermati pula bahwa rencana penerbitan ini yang sengaja diekspos lebih dini dan akan menjadi kontroversial, ditinjau dari aspek pemasaran maka apa yang diinginkan pengusungnya tercapai sudah. Selain publikasi gratis juga akan dapat dilihat kecenderungan ke mana arah angin keinginan masyarakat bertiup.
Menolak atau menerima. Bila iya, maka Rencana A: penerbitan dengan lebih berani akan segera terlaksana. Bila tidak, rencana B harus dilakukan berupa penundaan peluncuran sampai waktu yang tidak dapat ditentukan atau menunggu lengahnya imun dari masyarakat.
Namun tentunya, kelengahan itu jangan sampai terjadi di tengah keinginan mayoritas bangsa ini keluar dari keterpurukan, kemiskinan, degradasi moral, dan rentetan musibah sepanjang tahun lalu bahkan di awal memulai tahun barunya.
Akankah tidak terpikir tentang musibah apa lagi yang akan menimpa bangsa ini dengan adanya niatan semu itu? Akankah tidak terpikir kerusakan moral apalagi yang akan dialami oleh para generasi penerus bangsa ini, yang sudah dibombardir dengan tayangan porno melalui siaran televisi, piranti-piranti cakram bajakan, telepon genggam, dan internet?
Akankah tidak terpikir naiknya angka kejahatan berupa kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan, trafficking, pedophilia atau semuanya itu sekadar onggokan angka statistik tiada berguna?
Atau akankah pemerintah pun kembali mengulang langkah paradoksal dengan membiarkannya begitu saja beriring dengan program peningkatan sumberdaya manusia Indonesia?
Mengutip pendapat seseorang di sebuah milis: “ketika di dalam kerja keras membenahi pendidikan bagi anak bangsa, pengupayaan peningkatan pengalokasian dana yang cukup, pembenahan sistem pendidikan, perbaikan gedung-gedung sekolah dan disertai peningkatan kesejahteraan guru, ditengarai ada upaya-upaya yang kontra produktif, yang mengikis dan menggerogoti output yang ingin dihasilkan, maka berapa besarkah dana yang akan terhambur sia-sia?” (Arnoldison, 13/1/06). Ya, sia-sia.
Tapi di saat mata hati menjadi bebal kesia-siaan pun hanya dianggap masalah kecil dan resiko yang harus diterima sebagai negara yang akan maju dalam pergaulan global. Tentu dengan sejuta argumen yang telah dikokang. Semisal tidak ada relevansi yang signifikan antara kemajuan dan kedigdayaan suatu bangsa dengan penerbitan-penerbitan tidak bermoral tersebut.
Namun tidakkah kita bisa mengambil pelajaran penting tentang keruntuhan peradaban umat Islam dengan kota-kota gilang gemilangnya di Baghdad, Cordova, Granada, Sevilla, ataupun Istanbul? Ya, keruntuhan terjadi di saat aspek moral sebagai PONDASI suatu peradaban berada pada titik nadir.
Bahkan Prancis yang tergolong negara besar, memiliki militer terlatih dan dipersenjatai dengan senjata-senjata canggih, serta diprediksikan oleh sebagian pengamat sanggup memberikan perlawanan kepada Jerman di saat perang kedua, pada kenyataannya mereka menyerah dengan mudah, tanpa syarat, bertekuk lutut di bawah kaki Hitler. Satu analisis penting dari kekalahan tersebut adalah Perancis dilanda dekadensi moral parah yang dibungkus dengan nama kebebasan (Alwakkil: 1998).
Ataukah kita akan bercermin pada polisi dunia Amerika Serikat (AS) di mana keluarga sebagai PILAR PENEGAK suatu peradaban dengan berjalannya waktu semakin ringkih dan tidak mempunyai ketahanan mental yang kuat. Single parent akibat perceraian ataupun kumpul kebo, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan psikotropika, hingga gank-gank kejam yang tidak mengenal hukum dan perikemanusiaan.
Tinggal menunggu waktu saja dari keruntuhannya, yakni di saat hukum dan penegakkannya sebagai ATAP PELINDUNG suatu peradaban hanya sanggup mengaum di atas kertas.
Lalu bagaimana dengan tanah air tercinta ini? Di saat penegakan hukum tidak berjalan, akankah dua hal lain paling esensi suatu peradaban yakni moral dan keluarga pun menjadi tidak kokoh, lemah, ringkih bagaikan sarang laba-laba?
Tentu kita akan sama-sama berseru: Tidak! sambil menata langkah-langkah perbaikan ke depan. Maka, langkah pertama adalah sudah sepatutnya pemerintah sebagai pemegang otoritas sah bersikap tegas. Pelegalisasian rencana undang-undang antipornografi dan pornoaksi menjadi suatu hal yang niscaya. Ketegasan ini perlu agar kebingungan para pakar terhadap pendefinisian pornografi dan pornoaksi berhenti. Dan tentu berhenti dengan keperpihakan pada nilai-nilai moral dan etika yang termaktub pada agama yang dianut mayoritas bangsa ini, yang tentunya juga ada pada agama lainnya.
Langkah Kedua tidak bisa dilepaskan dari peran para perwakilan rakyat di DPR RI dalam mempercepat pembahasan rencana undang-undang tersebut yakni dengan memetakan kekuatan kawan dan lawan. Sehingga dengan demikian diketahui seberapa besar kekuatan riil dari para pengusung moral dan pendukung materialisme. Setelahnya jika perlu pengerahan massa berupa parlemen jalanan dapat dibentuk sebagai kekuatan penyeimbang. Selain sebagai bentuk pengawasan atas kinerja anggota DPR yang seringkali lambat dalam menelurkan legislasi dan tidak sebanding dengan gaji/tunjangannya yang diterima.
Langkah ketiga adalah dengan tetap mempererat silaturrahim dan menyinergikan gerak dari para partai Islam, ormas Islam, LSM dan tentunya pula dengan media Islam serta pemuka-pemuka agama-agama lain yang seide agar tetap menjadi kekuatan penekan yang selalu diperhitungkan. Dengan tidak bosan-bosannya membuat pernyataan sikap, pembentukan opini melalui media massa, dan penyebaran ide perlawanan pada setiap khutbah sholat jumat.
Ketiga langkah di atas akan percuma bila tidak ada dukungan dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Berupa langkah tidak membeli, tidak membaca, tidak menonton produk-produk erotisme dengan alasan apapun. Yang terpenting lagi adalah azzam atau tekad dari setiap muslim untuk selalu terpanggil melakukan amar makruf nahi munkar. Sebagaimana himbauan Ikatan Da’i Indonesia agar setiap muslim harus proaktif dan terdepan dalam menebar nilai-nilai kebaikan dan memusnahkan nilai-nilai kejahatan.
Bila tidak, maka dengarkanlah firman Allah dalam surat AlJaatsiyah ayat 23 ini: ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.
Bila tidak, maka bersiaplah-siaplah melihat seorang bapak sembunyi-sembunyi, ragu-ragu membeli Playboy, sambil bergumam: ”oh Yes, oh No.” Ya, karena dia penasaran. Tidak, karena risih, malu, dan takut ketahuan anak-anaknya. Na’udzubillah.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:02 15 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan