RIHLAH RIZA #48: Kita Sama-Sama Gigit Jari


Entah sampai kapan rihlah ini menemukan tempat perhentiannya. Mungkin sampai ia menemukan tempat yang pas untuk berkalang tanah? Wallahua’lam bishawab. Hanya kepada-Nyalah kembali semua urusan. Bukan manusia. Bukan juga kamu.

~~~R. Almanfaluthi

Setelah acara forum itu usai, kami berempat—para fiskus yang ditempatkan di Aceh—menyempatkan diri pergi ke Senggigi. Pantai yang konon indah dan menawan. Belumlah dikatakan pergi ke Lombok kalau tidak pergi ke pantai itu. Begitulah kata para pujangga pelancong.

Suatu malam dahulu kala, saya sempat menonton sebuah film televisi. Lokasi sutingnya di pantai Senggigi itu. Ada adegan dua tokoh pemeran utama film itu menyusuri tebing dan pantai. Saya terpukau. Pemandangannya luar biasa indah. Sejak saat itu saya setidaknya berkeinginan pergi ke sana. Tapi itu jauh sebelum penempatan saya di Tapaktuan.

Baca Lebih Lanjut.

Rihlah Riza #44: Bukan Rahasia, Perhatikan Iluminasi Dalam Mushaf Ini



Mushaf Gumi Patut Patuh Patju.

Sejak kecil saya memang belajar Alquran dengan mushaf standar Indonesia. Baru masuk STAN–tahun 1994—saja saya mengenal mushaf timur tengah. Perbedaan di antara keduanya terbatas pada penggunaan harakat, tanda baca, dan tanda waqaf.


Mushaf Standar Indonesia.

Awalnya saya kesulitan. Pernah didaulat untuk tilawatilquran dalam sebuah acara. Dan itu pertama kalinya membaca mushaf timur tengah Akhirnya saya terbata-bata membacanya di hadapan khalayak ramai.

Mushaf timur tengah itu juga sering disebut mushaf pojok yakni mushaf Alquran yang pada pojok halaman bawah kiri merupakan akhir ayat. Mushaf ini sering dipakai oleh para penghafal Alquran karena memudahkan dan membantu ingatan mereka.

Baca Lebih Lanjut.