TUKANG SOL ITU TERNYATA….


TUKANG SOL ITU TERNYATA….

Ahad, 20 Agustus 2006
Kembali saya diajak menuntaskan rasa rindu Qaulan Sadiida kepada ibunya. Dan daripada saya bete seharian di rumah sang Ibu, saya benar-benar berniat untuk hunting foto kota lama sepuas-puasnya. Ditemani dengan kakaknya saya kemudian kembali menuju lokasi tersebut.
Kini saya mengawalinya dengan mengambil gambar gedung bank mandiri, lalu gedung sebelahnya. Berlanjut dengan gedung GKBI lalu menuju Pabrik Rokok Praoe Lajar. Bangunan pabrik rokok ini, mungkin satu-satunya gedung yang masih menampakkan kekunoannya dengan sentuhan yang lebih terawat dan moderen dengan cat merah menyala yang amat artistik menurut saya.
Lalu kembali lagi menuju folder stasiun Tawang. Saya tidak ambil gambar bangunan stasiun Tawang, karena sudah pernah diambil setahun lalu. Setelah puas, lalu saya beranjak ke gedung yang dulunya merupakan rumah sakit jiwa untuk perempuan. Bangunannya sudah rusak berat tapi masih bisa dihuni oleh beberapa pedagang warung remang-remang. Sudah terkenal sekarang ini lokasi tersebut merupakan sarana pemuasan syahwat kelas bawah. Makanya jangan heran di sana setiap sorenya, sudah banyak wanita bergincu tebal menjajakan dirinya di depan pintu gedung itu yang kira-kira ada delapan buah .
Pantasan saja di saat saya mencoba mengambil gambar di sana, ada dua orang yang langsung masuk ke dalam bangunan tersebut. Mungkin mereka mengira saya wartawan dan takut diekspos di media. Ah, ada-ada saja. Masak tampang saya seperti ini dikira wartawan sih… 
Perburuan terus berlanjut sampai di gedung Telkom dan gereja Blenduk serta bangunan di sekitar jalanan menuju Pasar Johar. Di tengah perburuan itu, saya berjumpa dengan tukang sol sepatu yang ternyata dia adalah penyuka fotografi dulunya. Kamera Canon ber-lensa tele sudah ia jual dulu sekali.
Padanyalah saya pun berkonsultasi masalah perawatan kamera dan bagaimana agar gambar yang diambil bisa bercerita banyak, tidak sekadar gambar belaka. Saya pun menegaskan kepadanya, saya itu cuma penyuka biasa saja. Dan belum mengerti sama sekali tentang fotografi.
Tuh kan… jangan pernah melihat siapa orangnya, tapi lihat apa yang ia katakan. Sambil meminum air es degan itulah saya mengambil banyak pengetahuan dari tukang sol itu. Setelah lama berdiskusi dan berbincang-bincang saya memutuskan untuk mengakhiri perburuan ini. Bukan masalah saya sudah bosan dengan sekitar tapi saya sudah tidak kuat sekali dengan terik matahari di siang bolong ini, apalagi kami belum mengisi perut. So, sekali lagi saya benar-benar tidak tahan dengan panasnya Semarang.
It is over.
Malamnya kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta besok pagi.

Senin, 21 Agustus 2006
Saya merasa liburan lima hari di sana terlalu singkat. Apalagi terpotong dua hari untuk perjalanan pulang pergi. Namun esok harus kembali bekerja. Haqi dan Ayyasy pun harus bersekolah. Jadinya kami kembali dengan Kereta Bisnis Fajar Utama yang tiketnya sudah saya beli pada waktu membeli tiket ke Semarang.
Lagi-lagi kereta pun padat dengan penumpang. Tapi masih mending karena puncaknya nanti malam. Perjalanan ini diawali dengan kejar-kejaran petugas Provost TNI yang didampingi petugas PTKA dengan sekelompok laki-laki berbadan tegap, berambut cepak yang tidak mau membayar tiket untuk naik kereta ini.
Memang perjalanan Semarang Jakarta dengan harga tiket sebesar 70 ribu rupiah bisa dihemat dengan harga 10 ribu rupiah dengan membayarnya langsung kepada kondektur di atas kereta saat sedang jalan. Soalnya saya melihat salah satu anggota grup itu memberikan ”sesuatu” kepada kondektur saat melewati Setasiun Cirebon.
Saking padatnya dengan penumpang, sepanjang lorong kereta pun susah untuk dilewati. Makanya ada anak kecil yang memang tidak tahan untuk buang air kecil dan takut mengganggu anggota TNI yang sedang tertidur di lorong itu, terpaksa pipis di wadah bekas pop mi. Dan tidak lupa untuk membuangnya melalui jendela. Untungnya tidak tumpah. 
Tujuh jam lamanya perjalanan ini. Tepat pukul setengah empat sore kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Lalu dengan bajaj kami melanjutkan kembali perjalanan menuju stasiun Tebet untuk naik KRL. Kali ini kami tidak perlu berdesak-desakan di KRL, cukup lowong dan dapat tempat duduk.
Cukup kurang lebih satu jam saja perjalanan ini menuju Stasiun Citayam Dari sana kami naik ojek untuk sampai di rumah yang kami rindukan.

***
Akhirnya selesai sudah liburan kami. Menyenangkan dan cukup melelahkan. Tinggal kami memikirkan apakah di bulan September nanti kami akan mengajak lagi Haqi dan Ayyasy pergi ke Semarang. Tidak dengan hari libur panjang tapi cuma di hari sabtu dan minggu. Yang kami khawatirkan adalah masalah kesehatan saja. Buktinya liburan panjang kemarin sempat membuat Haqi tidak masuk sekolah karena sakit di hari Rabu kemarin. Apalagi ini dengan frekuensi perjalanan tanpa istirahat, Jum’at malam pergi, ahad pagi pulang kembali.
Saya bersikeras untuk meninggalkan mereka berdua, tapi Qaulan Sadiida benar-benar tidak tega. Kami mungkin perlu negosiasi ulang membahas ini. Tapi nanti sajalah, masih tiga minggu lagi bukan…?
Eit, tapi awas, tiket keretanya habis loh…. 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

HUNTING IMAJI DAN KULINER


HUNTING IMAJI DAN KULINER

Jum’at, 18 Agustus 2006
Setelah semalamnya kami beristirahat total untuk merehatkan tubuh, pada hari ini kami sepakat untuk pergi ke rumah ibu yang berada di Poncol. Kami berempat pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor. Selalu saja antara Haqi dan ayyasy selalu bersaing untuk berada di depan. Pada akhirnya mereka selalu bertengkar pada masalah ini. Tapi saya tegaskan kepada mereka untuk gantian. Eh…maklum anak-anak. Padahal saya pikir apa enaknya sih duduk di depan. Tapi mungkin enggak enaknya kalau duduk di belakang pasti tidak bebas melihat pemandangan sekitar karena terjepit badan kedua orangtuanya.
Perjalanan kami tidak jauh, cuma menempuh sepuluh kilometer saja dari rumah kakak. Melewati kota lama yang dipenuhi dengan bangunan kuno saya berniat berhenti sebentar untuk potret-potret dengan kamera digital yang saya bawa: Nikon Coolpix 5700 bekas lungsuran teman yang mau berbaik hati merugi sekitar lima jutaan dari harga barunya untuk dibeli oleh saya.
Qaulan Sadiida tidak setuju untuk hunting foto pada saat ini. Kangen pada sang Ibu membuatnya tidak betah berlama-lama berhenti. “Sore saja nanti saat pulang,”katanya. Akhirnya saya menurut. Seharian kami di rumah sang Ibu.
Sorenya kami pun pulang. Saya menagih janji pada Qaulan Sadiida untuk menemani saya hunting. Karena hari sudah keburu terlalu sore, saya pun cuma ambil beberapa saja foto bangunan kuno di jalan samping gedung bank Mandiri. Lalu setelah cukup puas, saya pun kembali meneruskan perjalanan pulang.
Tapi berhubung ada lokasi bagus yang kami lewati, yaitu folder pengendali rob di depan Stasiun Tawang dengan jejeran lampu hias zaman dulu, semburat sinar matahari senja, air yang tenang, lokasi yang tampak bersih, dan bendungan kecil ala Belanda membuat saya tergoda berhenti. Dengan rayuan kepada Qaulan Sadiida berupa posenya bersama anak-anak, Qaulan Sadiida mau menemani saya kembali hunting foto di sini. “Jangan lama-lama,” tegasnya. Oke, bossss….
Bagus sekali. Banyak gambar sensasional (menurut saya yang pemula ini) yang bisa diambil. Lumayan. Kalau saja bisa lebih lama lagi tapi senja semakin memerah semburatnya.

Sabtu, 19 Agustus 2006
Tidak ada yang dilakukan pada hari ini. Hanya main game kuno di komputer yang sudah lama saya tinggalkan. SOLITAIRE. Selanjutnya kami cuma berencana untuk pergi ke rumah saudara yang lain nanti malam. Yang pasti di tengah panasnya Semarang, saya habiskan waktu untuk eksplore keunikan kuliner Semarang (halah…).
Ah, cuma soto Pak No dan es teh manis. Plus bakso sapi Pak Min. Lezat Euy…Saya akui, ternyata di setiap sudut kota semarang selalu saja ada kaki lima yang berjualan makanan. Dan laku coy. Apalagi di daerah istri saya ini, Perumnas Tlogosari, Pedurungan. Kalau malam jalanan utamanya penuh sesak dengan orang yang berjalan kaki dan berkendaraan untuk meramaikan warung-warung kaki lima penjual makanan. Saya sampai bilang: “wuih…di sini surganya makanan”.
So, tidak ada yang istimewa di hari ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

SEMARANG MEMANG PANAS


SEMARANG MEMANG PANAS

Kamis. 17 Agustus 2006
Tepat pukul 05.00, ba’da shubuh, kami berempat sudah bersiap-siap menuju Stasiun Jatinegara, karena Kereta Api Bisnis Fajar Utama jurusan Semarang Tawang sudah bersiap di stasiun itu pada pukul 07.30 pagi.
Tukang ojek yang biasanya banyak di pangkalan dekat rumah, ternyata pada saat itu tidak ada batang hidungnya satu pun. Akhirnya kami harus berjalan sekitar tiga ratus meter untuk mencari tukang ojek lain, sampai ketemu juga ojek langganan kami.
Sepuluh menit kemudian, saya, Qaulan Sadiida, Haqi, dan Ayyasy sudah berada di stasiun Citayam untuk naik KRL Jurusan Kota menuju Stasiun Tebet. Tidak lama KRL itu pun datang. Penuh juga ternyata. Kami pun harus berdesak-desakan. Saya sampai heran kenapa hari libur seperti ini masih KRL dijejali oleh banyak penumpang. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak PNS yang berseragam Korpri masuk kantor untuk mengikuti upacara tujuh belas agustusan.
Syukurnya, saya tidak diberi giliran untuk mengikuti upacara itu. Karena kalau tidak, acara liburan pulang kampung ini akan gagal dan tiket yang sudah kami beli sebulan kemudian bisa hangus. Rugi banyak saya kalau kejadiannya demikian.
Ya, Istri saya memang sudah lama tidak pulang kampung ke Semarang. Kangen pada ibunya sudah tidak terbendung lagi. Saya pun tidak bisa menghalanginya untuk bertemu dengan sang ibu, walaupun nanti di bulan September besok kami harus datang ke sana kembali karena keponakan kami mengadakan resepsi pernikahan.
Tidak apa-apa sekalian menikmati liburan panjang. Dan tentunya sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kalau bulan Agustus dan September ini pulang ke Semarang, nanti kalau lebaran tidak usah pulang lagi ke sana tapi cukup untuk pulang ke Jatibarang menemui orang tua saya. Deal.
Perjalanan dengan KRL yang saya khawatirkan terlambat ternyata tidak terjadi. Kami masih punya banyak waktu untuk sampai ke Jatinegara. Walaupun kami harus bersusah payah untuk keluar dari gerbong KRL karena penuh sekali dengan penumpang. Kasihan Haqi dan Ayyasy terjepit-jepit. Apa daya kami berdua sudah membawa barang bawaan yang cukup berat, jadinya tidak bisa menggendong mereka berdua.
Dari Stasiun tebet kami naik Bajaj dengan ongkos cukup Rp8.000,00. Awalnya kami hendak naik ojek tapi saat dipanggil dari kejauhan mereka tidak mau datang, malah yang datang tukang Bajaj. Ya, sudah tidak apa-apa malah menghemat karena kalau naik ojek bisa habis ongkos sebesar Rp14.000,00.
Kurang lebih Pukul 07.00 pagi kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Alhamdulillah kami tidak terlambat. Ada waktu setengah jam untuk bersantai sembari menyuruh kedua anak saya untuk sarapan pagi dulu dengan bekal yang kami bawa.
Di stasiun ini ternyata banyak sekali orang yang akan pergi jauh dengan menggunakan moda angkutan kereta api untuk mengisi liburan panjang. Dan imbasnya ternyata di gerbong yang saya naiki penuh juga dengan orang yang bertiket tanpa nomor duduk. Lagi-lagi saya bersyukur, saya memesan tiket sudah lama sehingga kebagian nomor duduk untuk kami berempat. Haqi dan Ayyasy pun bisa menikmati perjalanan ini. Menikmati pemandangan sawah dan kegiatan panen di sekitar Pantura Jawa Barat. Laut dan sedikit hutan di Batang, dan tanaman tembakau di Kaliwungu.
Walaupun demikian, ternyata perjalanan kereta ini banyak terhambatnya. Di setasiun Bekasi kami diberhentikan cukup lama sekali. Hingga seharusnya kami sudah sampai di Stasiun Tawang sekitar pukul dua atau tiga siang, ternyata sampai di sana pada jam setengah empat sore. Waow…perjalanan ini asyik tapi melelahkan, apalagi kami sudah dibaui dengan bau kereta api, wajah lengket, dan penuh debu. Saya pikir enak juga ya kalau mencicipi perjalanan ke Semarang naik kereta eksekutif Argo. Belum pernah sih….:-)
Di stasiun ada kakak kami yang sampai terkantuk-kantuk menunggu kami. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, dua anak kami yang di kereta itu tidak tidur saking asyiknya bermain sudah terlelap saja. Mereka terbuai dengan AC mobil yang meningkahi hawa panas Semarang. Semarang memang panas di musim panas, pun di musim hujan Semarang juga banjir.
Inilah perjalanan di hari pertama kami.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

30 TIDAK HARUS MENJADI TUA


Monday, July 24, 2006 – 30 TIDAK HARUS MENJADI TUA

Hari-hari ini angka yang menghiasi lembaran kehidupan saya adalah adalah angka 30. Angka yang menurut saya sudah menjadi sebuah kepastian pada hari ini. Dan menjadi batas anggapan bahwa orang itu masih muda atau sudah beranjak tua.
Hari ini saya merasakannya kini. Saya sudah tidak lagi muda. Saya sudah tua. Dengan rambut sudah mulai memutih (tidak banyak-banyak amat sih). Tidak bisa lagi ingin disebut pemuda. Tapi boleh juga kan kalau kita menginginkan jiwa kita tetap senantiasa jiwa pemuda. Jiwa yang penuh dengan gelora. Jiwa yang senantiasa enerjik. Penuh semangat dan pantang menyerah. Jiwa yang senantiasa siap memenuhi panggilan kebaikan yang dikumandangkan siapapun dan kapanpun. Inginnya sih begitu. Tapi kok ya tenaga sudah mulai tidak seperti dulu. Lebih mudah cepat lelah gitu loh.
By the way, syukuri saja yah nikmat usia yang kita terima. Saya harusnya lebih banyak bersyukur bahwa Allah masih memberikan nikmat usia ini. Masih memberikan kesempatan untuk dapat memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik lagi. Tapi sayang kesempatan dan anugerah besar itu senantiasa pula sering saya lalaikan dengan urusan remeh temeh duniawi. Urusan yang senantiasa membuat neraca itu selalu berat ke arah timbangan ragawi bukan ukhrawi. Astaghfirullah….
Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan nikmat yang tiada tara pada diri saya.
Cukup di sini dulu ah…, saya benar-benar blank untuk menulis. Saya benar-benar kehabisan tema tiga minggu terakhir ini. Entah kapan saya bisa membanjiri isi kepala ini dengan semangat untuk menulis lagi. Semoga di usia yang tidak muda lagi ini, tetap masih punya semangat berkobar untuk tetap menulis. Sehingga di 30 tidak harus merasa tua bukan….?
Insya Allah.

riza almanfaluthi
14:16 24 Juli 2006
thanks berat untuk kawan-kawan yang masih sempat-sempatnya untuk menyapa saya yang hina dina ini. Seperti:
1. Jasoen;
2. Tukul Raka;
3. The Paar;
4. Sparkling;
5. Hari Santoso Penagihan;
6. Katyuzha;
7. Violet;
8. Tj;
9. Erwan;
10. Wahyu Diana;
11. Ruhama Bainakum;
12. Azzam;
13. Ananda;
14. Agung Priyo Susanto;
15. Zaenal Arifin;
16. Mas Sudewo;
17. Kawan lama saya: Mohammad Suroto.
Dan juga kepada kawan-kawan yang tak bisa saya sebut satu persatu, yang diam-diam tanpa sepengetahuan saya, senantiasa mendoakan saya untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat Anda semua. Amin.