Kamu Bisa, Qi…


26.12.2005 – Kamu Bisa, Qi…

Sebulan lamanya sepeda hasil menabung di sekolahnya menjadi mainan baru Haqi. Dengan tambahan dua roda kecil pada roda belakang ia cukup bisa menjaga keseimbangan. Walaupun demikian jatuh dari sepeda sering ia rasakan. Pernah bagian sisi kanan perutnya lecet-lecet akibat terbentur setang sepeda.
Saya pernah berpikir untuk melepas dua roda itu agar ia bisa cepat mahir menaiki sepeda. Tapi sebelum niat itu terlaksana salah satu roda kecil yang terbuat dari plastik itu pecah. Maka mau tak mau benda itu harus dicopot dari roda belakangnya.
Sejak saat itu Haqi jarang menaiki sepeda. ”Takut jatuh lagi,” katanya.
”Dulu juga sering jatuh, kenapa sekarang tidak mau?” pikir saya. Memang dengan hanya satu roda kecil di sisi kiri roda belakang, keseimbangannya harus benar-benar dijaga.
Tapi tiga hari yang lalu, setelah baru saja pulang dari kantor, Haqi serta merta berteriak saat melihat kedatangan saya. ”Bi, Abi…rodanya pecah lagi, tapi sudah dicopot sama Om. Sekarang Haqi sudah bisa naik sepeda tanpa roda kecil,” runtun Haqi.
”Ah…yang benar,” sangsi saya.
”Benar Bi, entar deh lihat kalau Abi libur. Tapi Bi, Haqi menabrak motor. Leher Haqi kena setang motor, nih lihat,” Haqi memperlihatkan lehernya yang lecet-lecet dan kemerah-merahan. Ini pasti sakit sekali.
”Haqi menangis nggak?” tanya saya.
”Iya lah Bi, pasti nangis, sakit sih.”
Malamnya, saat ia tertidur lelap, lukanya saya bersihkan dengan kapas dan membalurnya dengan obat merah. Maklum, bagi Haqi lebih baik memilih menahan sakit daripada lukanya dioleskan dengan obat merah. ”Perih sekali,” katanya. Malam semakin larut, saya merapihkan posisi tidurnya . Sholawat terluncur dari mulut untuk keselamatan dirinya. ”Engkau pasti bisa, Nak” batin saya.
Keesokan harinya, saat saya bisa pulang cepat dari kantor dan sampai di rumah jelang sore, saya benar-benar melihat Haqi sudah bisa menaiki sepedanya itu dengan lincah. Dengan kecepatan yang tinggi bagi anak seumuran dia, Haqi mondar-mandir menyusuri jalanan komplek yang lengang di depan rumah.
Coba tebak apa yang saya rasakan saat itu. Saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa melihat Haqi telah menempuh salah satu episode perjalanan hidupnya dengan sukses. Saya bertanya-tanya dalam hati, inikah yang sering dirasakan oleh semua bapak di seluruh dunia, saat melihat kesuksesan anaknya? Oh…inikah rasanya bahagia?
Dan ini baru kebahagiaan di dunia. Bagaimana pula dengan kebahagiaan akhirat, saat saya sukses menyelamatkan diri dan keluarga saya dari api neraka? Allah Mahabesar. Kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang senantiasa diharapkan, tidak hanya oleh saya, tetapi jutaan muslim lainnya di seluruh dunia.
Cukup sudah luka kemarin menjadi penanda awal keberhasilan Qi, dan Abi yakin Kamu memang bisa, Qi.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
delay karena baday
bandara 21 Desember 2005

Legalisasi Lokalisasi Judi


Kita Tak Bisa Berdiam Diri!!!
(Legalisasi Lokalisasi Judi)

Bangsa ini sepertinya tidak sadar-sadar juga dengan banyaknya ujian yang menimpa. Tsunami yang meluluhlantakkan negeri Serambi Mekkah—salah satu contohnya—sebagai suatu peringatan yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh anak cucu, hanya menggugah hati sesaat. Setelah itu dilupakan begitu saja tanpa mengambil ibroh dari peristiwa itu.
Ketidaksadaran itu diwakili oleh adanya para wakil rakyat yang pergi secara diam-diam melakukan studi banding tentang pemberlakuan judi yang berlaku di Negeri Pharaoh, Mesir. Memang sampai saat ini, Malaysia dan Mesir—mayoritas penduduknya Islam—terbilang cukup sukses mengelola perjudian di suatu wilayah khusus.
Ditilik pada masalah perjalanannya saja sudah menuai kontroversi. Di saat jutaan rakyat miskin masih bersusah payah memikirkan bagaimana bisa hidup atau tidak di keesokan harinya, di saat yang sama dengan ongkos yang dibiayai oleh pajak rakyat, rombongan anggota DPR sejumlah kurang lebih dua puluh orang—ikut pula di dalamnya anggota keluarga—pergi ke luar negeri tanpa memikirkan psikologis dari rakyat.
Dengan biaya akomodasi masing-masing sebesar empat puluh juta rupiah, belum termasuk tiket pesawat, perjalanan ini terasa seperti sia-sia, karena dilihat dari jadwal kunjungan yang dibuat hanya setengah hari saja benar-benar dilakukan untuk mengunjungi parlemen Mesir. Selebihnya hanya untuk pergi berwisata dan berbelanja.
Lagi pula kalau ditinjau dari agenda studi banding yakni mencari tahu tentang kesuksesan dalam pengelolaan judi, ini benar-benar keterlaluan sekali. Bagaimana tidak, karena sangat kontras dengan kebijakan dan komitmen yang dibuat oleh Kapolri Baru, Jenderal Sutanto dalam pemberantasan judi di tanah air ini. Pula hal ini— setelah isu terorisme kemarin—kembali menyakitkan hati umat Islam, karena ditinjau dari syariat yang dipeluk oleh mayoritas negeri ini tentu masalah judi ini sudah jelas keharamannya.
Pertanyaannya adalah mengapa perjalanan ini seperti dipaksakan? Dari apa yang diungkap oleh salah satu wakil dari Fraksi Partai Amanat Rakyat yang ikut serta dalam studi banding itu, bahwa perjalanan ini bermula dari adanya proposal yang diajukan oleh Lippo dan Djarum untuk bersedia mengelola perjudian di wilayah khusus. Proposal tersebut juga memberikan banyak jaminan yang menggiurkan, antara lain keuntungan judi itu untuk membangun gedung Sekolah Dasar di seluruh Indonesia dan menjamin kestabilan perekonomian nasional.
Namun semuanya ditepis oleh Jusuf Kalla saat di tanya oleh wartawan tentang hal ini. Ia membantah adanya proposal yang masuk dari Lippo dan Sampoerna (bukan Djarum). Hal senada diaminkan pula oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang langsung menyatakan ketidaksetujuannya.
Memang, di saat pemerintah belum mampu menganggarkan 20% dari APBN untuk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional yang baru, maka tawaran rehabilitasi gedung SD itu menggiurkan sekali. Bahkan sangat membantu program pemerintah. Apalagi ditambah jaminan dapat menstabilkan perekonomian nasional.
Namun hendaknya pemerintah perlu memahami akibat buruk yang akan terjadi bila memaksakan diri membebek ”kesuksesan” dari Malaysia dan Mesir itu. Walaupun dua negara tersebut mayoritas beragama Islam—seringkali ini dijadikan argumen para pendukung judi—hal ini tidak bisa dijadikan alasan kehalalan dalam mengelola perjudian. Siapapun ia, entah pejabat atau kyai, tidak bisa mengubah status hukum dalam agama yang sudah jelas dan terang ini seterang matahari di siang bolong.
Mengapa bangsa ini tidak mencari kesuksesan-kesuksesan yang ada di negara lain tanpa melanggar ketentuan yang Allah gariskan? Terkecuali kalau memang sebagian besar bangsa ini mau menjadi teman Ali Sadikin yang rela untuk masuk neraka. Na’udzubillah.
Betul sekali di dalam judi ada manfaatnya, mungkin salah satunya di atas tadi. Tapi sungguh Allah telah menyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada manfaatnya itu. Para ulama, ustadz, kyai, bapak guru sudah berbusa mulutnya menyitir ayat ini:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan Judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
Atau dengan ayat ini:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al-maa’idah:90)
Dan ini pula:
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al-maa’idah:91)
Tidak ada yang didapat dari para penjudi kecuali 5 perkara yakni gelar sebagai pendosa, pengikut perbuatan syaitan, orang yang sial (tidak beruntung), penyebar permusuhan dan kebencian, dan orang yang lalai dari mengingat Allah dan Sholat.
Satu lagi adalah timbulnya kerusakan di muka bumi yang tidak hanya dirasakan oleh para penjudi atau pendosa itu tapi dirasakan pula oleh orang-orang yang berbuat kebaikan. Tidakkah mereka sadar dengan firman Allah ini:
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.(Arrum:41)
Ibnu Qoyyim al-Jauza’i dalam kitab ad-Da’u wad-Dawa’ (Indonesia: Therapi Penyakit Hati) menulis:
”Suatu ketika Rasulullah saw bersama para sahabat melewati perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang mereka memasuki perkampungan tersebut, sehingga mereka meminta diizinkan sambil menangis. Rasulullah juga melarang meminum air mereka. Sehingga beliau memerintahkan agar roti (adonan) yang diadon dengan air mereka diberikan kepada onta-onta kandang, yang tidak digembala. Karena air pada kaum Tsamud terdapat bekas maksiat, dan juga pengaruh keburukan dosa-dosa yang nampak dalam berkurangnya buah dan segala sesuatu yang dapat dilihat dengan berbagai kejelekan dan kerusakan.” (p:120).
Akahkah kita belum sadar atas semua akibat yang akan ditanggung?
Kemudian apa jadinya dengan generasi penerus bangsa ini yang pendidikannya dibiayai dari uang judi? Kecuali yang akan muncul adalah kerusakan yang semakin parah melanda bangsa ini. Tiada ’nyala api’ keberkahan karena ia sudah dipadamkan dengan banyaknya ’air’ dosa yang disiramkan.
Pula mengapa para wakil rakyat kita menuruti keinginan dari segelintir orang yang hanya berkeinginan mengeruk keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan perasaaan mayoritas bangsa ini. Bila hal ini dipaksakan maka senyatanya adalah tirani minoritas. Dan kita tentu sudah tahu siapa di balik dua konsorsium besar itu.
Jikalau benar salah satu konsorsium itu adalah kelompok yang menjual saham perusahaan rokoknya kepada asing dan mendapat dana triyunan rupiah, maka sudah pasti banyak yang akan tergoda dengan iming-iming besarnya rupiah itu sebagai upaya menggolkan investasi barunya.
Di zaman dan di dalam negeri dimana duit sudah berbicara banyak maka ini benar-benar suatu perjuangan berat bagi para anak bangsa yang masih menginginkan negeri ini menjadi ’baldatun toyyibatun warobbun ghoffur’, untuk melakukan penentangan keras terhadap ide setan ini.
Pembentukan opini, demonstrasi, lobi-lobi, memperkuat jaringan antarindividu, ormas, dan partai Islam menjadi suatu hal yang niscaya untuk dilakukan sebagai wujud penentangan keras itu. Pula dengan pemantauan terhadap gerak-gerik para selebritis senayan perlu dilakukan agar tidak ada yang disembunyikan, disamarkan, dan supaya tidak kecolongan.
Jika semua berdiam diri, maka jangan pernah salahkan FPI dan sebagian dari komponen bangsa ini untuk turun tangan memberantas perjudian ini hatta berhadapan dengan laras panjang dan stigma teroris yang akan melekat padanya. Karena sesungguhnya mereka adalah yang membuat gentar, yang membuat takut, yang membuat gemetar para pecinta kebatilan dan kemaksyiatan.
Kita tidak bisa berdiam diri!!!
Tidak…!!!
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’: – Berita pagi dan siang SCTV, 17 Desember 2005
– Therapi Penyakit Hati; Pustaka Mantiq, 1996

dedaunan di ranting cemara
sedang menantikan tobatnya anggota DPR RI.
12:24 17Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Tumpukan Arsip Berdebu


16.12. 2005 – Tumpukan Arsip Berdebu

Halaman ini memudahkan saya untuk mencari arsip di blog saya sendiri. Karena melihat arsip pada menu yang disediakan oleh template blog kurang mendukung. Saya harus terlebih dahulu mengetahui di bulan mana arsip yang hendak saya buka itu berada. Padahal saya sudah lupa arsip itu di posting di bulan apa.
Oleh karena itu saya membuatnya dalam satu halaman penuh tanpa dibatasi pilihan bulan. Tentu dengan adanya ini saya perlu bersusah payah untuk membuat kategori tersendiri, sehingga memudahkan saya dan pembaca lainnya untuk mengakses arsip ini. Yang paling penting adalah saya harus selalu mengupdatenya secara rutin, minimal setiap akhir bulan, agar kebaruan arsip selalu terjaga.
Itu saja dari saya, dan Anda tinggal menikmati saja halaman ini.
Arsip Desember 2005
Friday, December 16, 2005: Prajurit-prajurit Peradaban
Thursday, December 15, 2005: scramblezone@halaqoh
Wednesday, December 14, 2005: Cuma Kisah Sederhana 3: Sang Syekh
Tuesday, December 13, 2005: Cuma Kisah Sederhana (2)
Monday, December 12, 2005: Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat (Norak Banget sih elo)
Monday, December 12, 2005: Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users (Fenomena User Bodong)
Monday, December 12, 2005: Sedia Payung Sebelum Hujan (Pujian)
Monday, December 12, 2005: Cara Jitu Menjadi Top1 Active Blogs
Friday, December 9, 2005: Ma’rifatul Maydan (Journey to Palangkaraya)
Friday, December 9, 2005: The Real Bloggers
Friday, December 9, 2005: POEM: Abang Jampang, di antara Batavia dan Jakarta
Wednesday, December 7, 2005: POEM: Peluru Penghias Jantung
Wednesday, December 7, 2005: Kutunggu Jandamu
Tuesday, December 6, 2005: POEM: detik berlalu
Tuesday, December 6, 2005: Saya akan Menikah! Segera!
Tuesday, December 6, 2005: Poem: Hidup itu Masalah
Tuesday, December 6, 2005: Unlimited Inspiration: Looking Themes For
Tuesday, December 6, 2005: akhir dari penantian panjang?
Arsip November 2005
Wednesday, November 30, 2005: rinduku jatuh ke bulan
Wednesday, November 30, 2005: RALAT: Ada Pajak di antara Penulis dan Penerbit
Monday, November 28, 2005: pajak di antara penulis dan penerbit
Monday, November 28, 2005: Kisah Sederhana
Thursday, November 24, 2005: Bersegeralah Menikah… (Berita Baik)
Thursday, November 24, 2005: jig…
Monday, November 14, 2005: Hari ini, Saatnya Mencicipi Panganan Khas

Arsip Oktober 2005
Tuesday, October 25, 2005: 100th: Keranda di Balik Kabut II
Monday, October 24, 2005: Berbuka Puasa Bersama dengan DIRJEN: ada keabadian yang lebih kekal
Thursday, October 20, 2005: Para Ustadz Pelayan TPT
Thursday, October 20, 2005: Mencoba Hidup Tanpa HP
Friday, October 14, 2005: NEW TEMPLATO EDITION: Keranda di Balik Kabut I
Wednesday, October 12, 2005: ramadhankan hatiku*)
Friday, October 7, 2005: dirimu memang bermakna?
Friday, October 7, 2005: ramadhanku adalah…
Thursday, October 6, 2005: jangan lagi kau genggam diam itu
Arsip September 2005
Thursday, September 29, 2005: Hah, Haqi Ranking Dua?
Tuesday, September 27, 2005: Belanja Buku di Semarang dan Perang Eropa (plus satu foto)
Tuesday, September 27, 2005: Kantor Pos Besar Semarang, Kota Lama, dan Dugderan
Tuesday, September 27, 2005: Sebuah Foto: dua bocah dan dua lilin
Friday, September 16, 2005: Rehat Sejenak…
Friday, September 16, 2005: sesaat dengan pesona Jepang
Wednesday, September 14, 2005: semua yang terindah
Tuesday, September 13, 2005: Belanja Buku Bekas
Tuesday, September 13, 2005: Kisah Klan Otori
Monday, September 12, 2005: Bhre Nurmahmudi: Adipati Depok?
Monday, September 12, 2005: aku merinduimu
Monday, September 12, 2005: Tan Tjuan Tay
Friday, September 9, 2005: kita ini bermoral atau tidak sih…?
Friday, September 9, 2005: Gus, jangan kau katakan “walanaa a’maalunaa walakum a’malukum” kepadaku
Thursday, September 8, 2005: DEMOKRASI BERMUKA DUA vis a vis SYURA
Monday, September 5, 2005: dua perempuan dengan puisi
Monday, September 5, 2005: Kemana Pajak Penerangan Jalan Kami?
Thursday, September 1, 2005: Gempita Allah Akbar
Arsip Agustus 2005
Monday, August 29, 2005: menulislah dengan hati
Monday, August 29, 2005: rangkullah matahari
Monday, August 29, 2005: purnama di sudut jiwa*)
Monday, August 29, 2005: pahlawan pencicil rumah
Monday, August 29, 2005: mengenangmu
Monday, August 29, 2005: sekumpulan bangau
Friday, August 26, 2005: uzurnya raja
Friday, August 26, 2005: hamba dari malam hingga pagi
Tuesday, August 23, 2005: Tutorial Hacking: Short Message Box Kanwil Jakarta Khusus Lemah
Monday, August 22, 2005: Here I am?
Monday, August 22, 2005: ada jauh setelah nun
Friday, August 19, 2005: akhirnya saya pindah ke KPP PMA Empat (fenomenal)
Friday, August 19, 2005: I’m not a bird
Friday, August 19, 2005: Mencari ID untuk Merubah Display Name di FORDIS
Thursday, August 18, 2005: sms ini membuatmu menangis
Tuesday, August 16, 2005: hidup itu bukan sebait lagu
Monday, August 15, 2005: merdeka pun aku tetap mati…
Friday, August 12, 2005: dedaunan itu…
Wednesday, August 10, 2005: ukhuwah islamiyah for moslem brotherhood
Tuesday, August 9, 2005: satu hilang tumbuh seribu
Monday, August 8, 2005: lontar dari Kadipaten Depok
Monday, August 8, 2005: Nurmahmudi…(antara Majapahit dan Pajajaran)
Friday, August 5, 2005: pecinta kata-kata
Thursday, August 4, 2005: semakin menghijau
Thursday, August 4, 2005: sepenggalah suluh untuk kawan
Wednesday, August 3, 2005: aku cinta pelangimu
Wednesday, August 3, 2005: kia tak selalu berakhir dengan mat
Tuesday, August 2, 2005: @–tadi malam–@
Tuesday, August 2, 2005: kepada kawan yang mau selingkuh (tak selamanya bisa something must have left untold)
Monday, August 1, 2005: kau adalah ia
Monday, August 1, 2005: Memotret SBY dan berpose dengan Nurmahmudi Ismail, Anggota DPR RI, dan Menteri Pertanian
Monday, August 1, 2005: Provinsi Bogor Raya (Bogor, Bekasi, Depok, Cianjur, dan Sukabumi)
Monday, August 1, 2005: Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)
Arsip Juli 2005
Friday, July 29, 2005: ~~~~ menulis itu gampang*) ~~~~
Thursday, July 28, 2005: @-HARI INI AKU TERPUKUL TELAK-@ (doakan saya….)
Wednesday, July 27, 2005: hanya sebuah: BUKU TAMU
Wednesday, July 27, 2005: both sides perspective (kasus lupa absen)
Tuesday, July 26, 2005: @-;—-our mosque—-;-@
Tuesday, July 26, 2005: selembar daun mulai menguning
Monday, July 25, 2005: aku takut mati
Monday, July 25, 2005: ceri, monyet, dan tukang ojek
Monday, July 25, 2005: puisi yang muda yang naif
Friday, July 22, 2005: ~~~kamar-kamar hati~~~
Thursday, July 21, 2005: Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)
Wednesday, July 20, 2005: ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Tuesday, July 19, 2005: *~~~~SELAKSA HARAP SEKEPING HARU~~~~*
Monday, July 18, 2005: ~~~mengemis~~~
Monday, July 18, 2005: 5 dasawarsa 12 purnama
Thursday, July 14, 2005: resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem
Tuesday, July 12, 2005: 1000 dan 1 Malam (Alfu Lailah Wa Lailah)
Monday, July 11, 2005: Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?
Friday, July 8, 2005: almari penuh buku: (kuwariskan ini padamu, nak…)
Thursday, July 7, 2005: teruntuk azimah: hari ini aku balas emailmu (memburu buku di kwitang)
Wednesday, July 6, 2005: pelajaran hari ini: ATM saya tertelan
Tuesday, July 5, 2005: biarkan aku menulis hari ini
Monday, July 4, 2005: dua kertas dan satu kamboja
Friday, July 1, 2005: Sakury dan PT Newmont Minahasa Raya, 13th Salary
Arsip Juni 2005
Wednesday, June 29, 2005: senyum sore
Tuesday, June 28, 2005: Guru Kehidupan Dan Sebuah Kenangan
Monday, June 27, 2005: sehelai nasehat dalam sepucuk surat untuk kalian
Monday, June 27, 2005: malam ahad: we are never too old to learn
Friday, June 24, 2005: tercerabut dari akarnya
Monday, June 20, 2005: menoreh di kacanya, die…(2)
Monday, June 20, 2005: trial by the press
Thursday, June 16, 2005: ruqyah kemarin, ghanimah, akhirat itu kekal.
Wednesday, June 15, 2005: seminggu lebih…nb: Ust. Rahmat Abdullah, dan Ruqyah
Arsip Mei 2005
Monday, May 30, 2005: Melatiku di Sabtu Malam
Friday, May 27, 2005: kenapa harus FPI gitcu loh…
Wednesday, May 25, 2005: A Comme Amour
Monday, May 23, 2005: the black heroes
Friday, May 20, 2005: semboerat tempo doeloe:
Friday, May 20, 2005: preambule
Friday, May 20, 2005: KINGDOM OF HEAVEN

scramblezone@halaqoh


15.12.2005 – scramblezone@halaqoh

Tidak biasanya saya begitu bersemangat dengan chatting kali ini. Dan sudah lama saya tidak antusias dengan mIRc sejak tahun 2003. Script-script yang saya punyai dan saya kuasai dulu hilang dan tidak saya kuasai lagi. Hingga untuk mengucapkan dan menjawab salam saja harus ketik panjang dan tentu ditambah kesalahan ketik. Namun kali ini setelah jaringan di kantor lebih cepat daripada tiga minggu kemarin, saya mencoba mengikuti dunia perchatingan, tentu disela-sela pekerjaan yang kini semakin menepis persediannya untuk diselesaikan.
Awalnya biasa saja, setelah itu–tepatnya kemarin–saya begitu bersemangat. Ada game baru di #halaqoh, scramblezone namanya. Menjawab pertanyaan yang diajukan si bandar dengan jawaban berupa huruf yang sudah diacak sedemikian rupa. Yang berhasil menjawabnya maka akan mendapatkan nilai 1. Semakin banyak dia berhasil menjawab maka ia akan memperoleh nilai 1 yang lebih banyak.
Saya pernah mengenal permainan ini, dulu, tapi swear, saya tidak tertarik. Namun ada bedanya kali ini di #halaqoh. Pertanyaannya berkisar di dunia Islam, mulai nama-nama kota negara Islam sampai urusan fikih. Jawaban yang terkadang konyol sampai-sampai membuat saya tertawa, lucu banget. Permainan ini terkadang tidak melihat soalnya terlebih dahulu asal ia ingat susunan huruf apa yang diacak, bisa langsung dijawab tapi kalau begini terkadang ngaco.
Contohnya ini:
» Petunjuk : merk
» Huruf : qomcap preorsai
Saya jawab: capgomeh barongsai, ternyata salah. Memang kagak nyambung. Yang benar adalah compaq presario.
Ada juga yang protes, dilayarnya dia yang pertama menjawab tapi ternyata ia tidak mendapat point 1, keduluan sama yang lain. Tapi memang ini semua tergantung siapa yang masuk terlebih dahulu ke komputer si bandar. Berarti kualitas jaringan berpengaruh terhadap kecepatan menajwab. Bisa saja ia duluan menjawab tapi jaringannya sedang jelek, maka-siap-siap saja jawabannya didahului sama yang lain. Yang parah, banyak juga yang sudah dapat nilai banyak tapi jaringannya juga jelek dan tiba-tiba ia terputus dari koneksi atau disconnected, maka disaat ia kembali lagi ia harus mengumpulkan nilai dari nol lagi. Sungguh malang…But, the game is the game. Namanya juga permainan, terima sajalah. (hehehehe, maaf yah).
Terkadang juga koma di atas (tuts sebelah angka 1) yang diinginkan si Bandar tidak sama dengan koma di atas (tuts dekat enter) yang dimaksud oleh para peserta, maka kalaupun ngetik sampai benjut juga ya tetap salah. Juga kalau si bandar kehabisan pertanyaan, maka ia kasih soal yang kayak gini:
» Petunjuk : bandar kentekan soal
» Huruf : temmu
Bagi orang Jawa, soal seperti ini gampang banget. Jawab saja: mumet, selesai. Saya dapat poin satu. Tapi bagi yang bukan orang Jawa, waduh…ini yang susah. Makanya saya sarankan kepada si Bandar supaya beli atau pinjam buku ensklopedia dunia Islam yang ada 6 jilid itu untuk bisa membuat soal yang bermutu gitu (bukan begitu enigma???:-)
Betewe, untuk permulaan permainan ini asyik banget buat mengisi waktu luang. Tapi jangan sampai lupa pekerjaan yah…
Allohua’lam bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
salam buat mas squall, mbak al1f1a, enigma, dll dah…
15:36 15 November 2005

Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat


12.12.2005 – Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat (Norak Banget sih elo)

Hari ini saya mendapatkan tiket pesawat terbang ke Palangkaraya, setelah hari jum’at kemarin booking tiket di salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Semula dengan harga normal tapi dengan trik yang jitu dari bagian marketing maskapai itu saya boleh dapat harga murah dengan syarat saya membayarnya hari itu juga. Selisihnya cuma empat puluh ribuan.
Setelah utang kesana-kemari, maklum SPPD belum juga turun, saya mendapatkan tiket murah yang bisa diambil pada hari Senin ini. Sekarang tiket ini ada di tangan saya. Ceritanya pertama kali nih saya berangkat bepergian dengan pesawat terbang, berarti pertama kali pula saya pegang tiket pesawat. Tidak ada bedanya dengan tiket bus eksekutif, tapi memang beda dengan tiket kereta api. Nggak ada keanehan apapun yang terjadi (emang apaan sampai nanyain yang kayak ginian?).
Saya memperhatikan dengan seksama apa yang ada dalam tiket itu. Tulisannya, gambarnya, pesan-pesannya, jadwal penerbangannya, dan peraturannya yang njlimet itu. Pakai bahasa Inggris lagi, eh nggak ding ada terjemahannya juga. Selain tiket itu ada juga invoice dari maskapainya entah gunanya apa saat di penerbangan nanti. Hehehehe…norak banget sih lo.
“Please, don’t laugh me. It’s my first experience,” gue yang ada di sono ngomong kayak gini.
“Ya, tapi jangan norak kayak gitu dong, malu-maluin gue aja lo sampe diliatin kayak gitu. Sekalian aja elo kekepin,” gue yang lain ngomong juga.
“Nggak kayak gitu-gitu amat lah” jawab gue lagi.
***
Seumur hidup, saya hanya bisa bermimpi untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Tapi kali ini Allah memberikan kesempatan emas kepada saya. Ditambah dengan regulasi penerbangan membuat harga tiket antarmaskapai penerbangan menjadi bersaing dan bisa terjangkau oleh semua kalangan. Sehingga ada salah satu maskapai penerbangan dengan harga tiket murahnya mempunyai motto “we make people fly”. Wow…
Dan walaupun masih ada tanda tanya tentang angkutan menuju bandara apa yang pas buat saya , juga dengan situasi di bandara Soekarno Hatta yang tidak saya ketahui, ditambah dengan suasana bandara di Palangkaraya, saya cuma bisa berdoa saja semoga Allah memberikan keselamatan atas perjalanan saya yang pertama kali begitu jauhnya ini.
Suatu saat saya akan menceritakan kepada Anda semua, betapa noraknya saya menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Soekarno Hatta dan Palangkaraya. Tunggu saja kenorakan saya ini.
dedaunan di ranting cemara
norce
17:25 12 Desember 2005

Ma’rifatul Maydan


Ceritanya begini, di kantor saya ini sedang heboh-hebohnya melakukan persiapan perjalanan dinas. Saya pun ternyata ditugaskan oleh Kepala Kantor untuk melakukan perjalanan itu. Akhirnya ditetapkan bahwa saya harus pergi ke salah satu Wajib Pajak yang mempunyai lokasi pertambangan di daerah. Tepatnya di Desa Mangkahui, Kelurahan Beriwit, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Waow, ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang sangat baru bagi saya. Maklum saja, selama delapan tahun di KPP PMA Tiga saya tidak pernah melakukan perjalanan dinas. Sebagai Jurusita dulu, paling jauh ke barat Jakarta saya pernah pergi ke Karawaci. Ke timur Jakarta, saya hanya sampai di Cikarang. Ke selatan Jakarta, saya hanya sampai di Gunung Putri. Ataupun secara pribadi, bukan sebagai siapa-siapa, saya paling jauh ke luar Jawa hanya sampai di Lampung. Sedangkan kota yang pernah saya kunjungi di daerah timur adalah Madiun, itu pun di tahun 1999. Sudah lama sekali.
Jadi perjalanan ini adalah perjalanan pertama bagi saya, begitu jauh, dan asing. Saya tidak begitu kenal dengan daerah Kalimantan. Nol besar. Apalagi ini merupakan penerbangan pertama bagi saya. (Hare gini, belum pernah naik pesawat? ck…ck…ck…). Dan bayangan saya tentang Kalimantan adalah pulau di Indonesia yang sepi dan masih banyak hutannya. Saya kesana sendirian lagi, tanpa ditemani oleh siapapun. Sehingga saya benar-benar mengalami rasa takut, ngeri, atau apalah namanya.
Tapi saya sadar, saya takut karena saya asing dan tidak mengenal daerah itu. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, agar saya dapat mengatasi rasa takut itu, agar saya lebih mengenal daerah Kalimantan Tengah, saya pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin yang saya dapat. Istilah kata para da’i kita kudu ma’rifatulmaydan atau mengenal medan terlebih dahulu sebelum melakukan da’wah di suatu tempat.
Pertama saya buka internet, dan langsung mencari daerah Kalimantan Tengah melalui Paman Google. Akhirnya saya mendapat situs Pemprov Kalteng. dari situlah saya mengetahui bahwa Kalteng beribukota Palangkaraya. Maklum saya tak begitu hapal Kalimantan itu terbagi berapa provinsi dan apa saja ibukota provinsi di Kalimantan. Dari sana saya tidak mendapatkan keterangan tentang kabupaten Murung Raya.
Saya kemudian search lagi, dan mendapatkan hasilnya yakni situs Pemkab Murung Raya. Ternyata Murung Raya adalah kabupaten baru, sehingga belum tercantum dalam situs Pemprov. Atau situs Pemprovnya yang belum di update. Ibukota Kabupaten Murung Raya adalah Puruk Cahu. Perjalanan menuju kesana melalui jalan udara hanya dapat ditempuh oleh dua penerbangan saja yang dilakukan oleh DAS (Dirgantara Air Service) dari Palangkaraya, atau dari Banjarmasin (kalau tidak salah).
Untuk menuju ke sana dari Jakarta berarti saya harus naik pesawat ke Palangkaraya terlebih dahulu. Dan ini hanya bisa dilayani oleh dua maskapai penerbangan saja yakni Batavia air dan Sriwijaya Air. Batavia Air terbang dari Jakarta Pukul 12.15, sedangkan Sriwijaya air penerbangan pertama ada pada pukul 09.40.
Dari Palangkaraya saya harus memilih hari yang tepat, karena DAS dalam seminggu hanya melayani tiga hari perjalanan saja. Yakni hari selasa dengan satu kali penerbangan, hari kamis dengan dua kali penerbangan, dan hari sabtu satu kali penerbangan saja.
Dari informasi yang diperoleh dari Wajib Pajak, diketahui bahwa sebenarnya landasan di Puruk Cahu adalah landasan yang dipunyai oleh Wajib Pajak namun juga disewakan kepada DAS. Dan Wajib Pajak sebenarnya sudah menyediakan pesawat dari bandara Sepinggan, Balikpapan ke site. Namun saya bersikeras saya harus datang terlebih dahulu ke Palangkaraya karena ini menyangkut pencairan SPPD. Syarat SPPD cair adalah saya harus mendapatkan stempel dari KPP tempat lokasi kunjungan berada, sedangkan lokasi Wajib Pajak benar-benar berada di wilayah kerja KPP. Walaupun kalau dilihat efisiensi, lebih enak lewat Balikpapan, tapi apa mau dikata, kalau tidak ada legalisasi dari KPP setempat saya tidak akan mendapatkan pengganti atas pembiayaan perjalanan ini. Tapi saya sudah bilang kepada Wajib Pajak kalau pulangnya bisa deh saya ikutan pesawatnya.
Kemudian setelah saya mengetahui jadwal penerbangan ke lokasi, saya pun berusaha mencari tahu tentang suasana di kota Palangkaraya. Oleh karena itu saya bertanya kepada salah satu Kepala Seksi di KPP PMA Tiga yang pernah bertugas lama di daerah Kalimantan. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak informasi tambahan yang baru yakni kalau melakukan perjalanan dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu melalui jalan darat akan memakan waktu kurang lebih lima jam dan itu pun kalau tidak ditambah dengan banjir. Wah…lama juga.
Yang terpenting juga, beliau menawarkan bantuan untuk menghubungi temannya di KPP Palangkaraya agar setidaknya membantu saya di sana. Mulai dari fasilitas penginapan sampai pesan tiket DAS menuju Puruk Cahu. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada beliau, bahwa saya cuma bisa menginap di penginapan yang murahan saja agar saya dapat menghemat biaya perjalanan itu. Karena saya tidak tahu seberapa besar ongkos perjalanan pulang pergi Jakarta-Puruk Cahu termasuk akomodasinya. Atas hal ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas bantuannya.
Pada akhirnya semua ketakutan itu setidaknya berkurang apalagi nantinya saya akan ditemani oleh wakil dari Wajib pajak yang saya kenal akrab dengannya. Sehingga tidak begitu clingak-clingukan di lokasi yang masih asing bagi saya.
Poinnya adalah kita memang perlu melakukan upaya ma’rifatulmaydan dalam melakukan sesuatu perjalanan atau kegiatan apapun. Atau mungkin bahasa kerennya saat ini adalah to plan atau planning, merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Agar kita dapat mempersiapkan apa yang harus kita lakukan supaya tujuan yang diinginkan di awal dapat tercapai.
Oleh karena itu ketika kita akan menikah pun kita perlu ta’aruf terlebih dahulu.
“Lho apa hubungannya Palangkaraya dengan menikah. Jaka Sembung dong,” tanya sisi lain.
“Hehehe….nggak ini cuma intermezo saja Lho anda juga kenapa tanya-tanya segala masalah korelasi dan tidaknya? ” sisi lain balik bertanya.
“Tidak, soalnya masalah ini sensitive lho,” jawab sisi lain.
“Oh ya sudah, kalau gitu saya minta maaf, hehehehe…”pinta sisi lain.
So…ber-ma’rifatulmasydan-lah Anda agar semua rasa takut itu hilang. Setelahnya, biar Allah yang akan melindungi Anda. Insya Allah.
dedaunan di ranting cemara
di antara mimpi-mimpi bumi Kalimantan
18:55 09 Desember 2005

The Real Blogger


Setiap berdiskusi dengan teman saya yang satu ini, seringkali saya mendapat banyak pencerahan. Tentang Both Sides Perspective misalnya, istilah ini saya dapatkan darinya. Hari ini pun dia memberikan sesuatu yang menarik, yang membuat wawasan saya terbuka tentang hal yang menjadi fenomena para Blogger’s pada hari ini. Yaitu untuk menjadikan dunia maya sebagai tempat mencurahkan apa yang dia rasakan dan miliki untuk dibagi dengan yang lain.
Menurutnya, dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi yang cukup pesat ini membuat semua pakem masa lalu menjadi berubah 180 derajat dan hampir-hampir tak berlaku pada saat ini. Contoh gampangnya adalah, dulu setiap orang yang mempunyai kesenangan mengungkapkan perasaannya dalam tulisan selalu menumpahkannya ke dalam buku diarynya. Entah perasaan sebal, senang, bahagia, benci, cinta etc. Semuanya tumplek blek di buku itu. Terkunci rapat, digembok pula, tidak ada yang boleh mengetahuinya. Hanya Allah dan dirinya saja yang tahu. Maka, setiap ada orang yang tanpa sengaja membaca buku diarynya atau bahkan menyentuhnya saja, bisa membuat ia marah luar biasa.
Tapi zaman telah berubah, kini orang dengan mudahnya menuliskan perasaannya sehari-hari, baik benci, sebal, senang, bahagia, derita, cinta semuanya ia ungkapkan dalam sebuah wadah yang bernama Weblog atau disingkat menjadi blog saja. Ia tulis agar semua orang mengetahui apa yang ia alami pada hari itu. Ia ikut membagi kesedihannya, kegembiraannya, dan semua perasaan itu kepada semua orang. Ia mempunyai satu tujuan bahwa apa yang ia tulis diharapkan memberikan sesuatu yang baru, pencerahan, pengalaman baru bagi orang lain.Orang yang membacanya diharapkan memiliki respon peka terhadap apa yang ia tulis, sedikit komentar saja bisa membuat ia bahagia.
Di dalam wadah itu ia pun mendapatkan sesuatu yang baru dari teman-temannya. Ia akan mencari para blogger yang dapat memberikan kepada dirinya sesuatu yang baru, sesuatu yang berguna, sesuatu yang membawa dirinya pada cinta, ketergugahan diri untuk selalu semangat memperbaiki diri sendiri. Dimanapun mereka berada walaupun mereka tidak ada dalam daftar top active blogs, top commented blogs, top commenters, top popular users, ataupun new blogs. Inilah blogger sejati. The real bloggers. Give and Take more new experiences.
And then, float to the surface a big question mark. Sudahkah kita menjadi the real blogger, blogger yang dapat memberikan kepada semua orang banyak inspirasi baru, blogger yang sering mencari sesuatu yang baru dari orang lain pula? Jika belum, yuk kita sama-sama belajar untuk menjadi the real blogger. Tiada waktu lain lagi, kecuali sekarang juga.
Allohua’lam.
###
thanks to my best friend: abi attaya
dedaunan di ranting cemara
endeavor to be the real blogger
16:09 09 September 2005

Kutunggu Jandamu


Kalimat ini seringkali diungkapkan oleh mereka yang menjadi ‘pecundang’ dalam pertarungan memperebutkan sang kekasih tercinta. Karena begitu ngebetnya, akal sehat pun tidak dipergunakan lagi. Logika orang kebanyakan seperti “masih banyak wanita lain yang lebih segalanya daripada dia” terabaikan. Bahkan kalau perlu sampai tua pun tidak akan menikah kecuali dengan si dia.

Yang lebih parah adalah si ‘pecundang’ ini sampai-sampai berkonsultasi dengan paranormal hanya karena untuk memenuhi pakem kedua dari para pecundang; ”cinta ditolak dukun bertindak”. Aduh, secantik Zulaikha-kah si dia? Sekaya Khadijah-kah si dia? Senasab Fatimah-kah si dia? Setaat Aisyah-kah si dia? Sampai-sampai kau jual akhiratmu demi duniamu.

Bukan. Kali ini saya bukan mau membahas tingkah menyebalkanmu itu.

###

Seringkali dalam perjalanan mengendarai kendaraan bermotor, para pengguna jalan menemukan hal-hal yang menarik untuk membunuh rasa bosan dan kantuk. Mulai dari tingkah selap-selip pengendara motor, ugal-ugalan angkutan umum, ego dari para pengguna mobil dengan modifikasi yang luar biasa wah-nya, tawuran, kecelakaan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang tak kalah menariknya adalah tulisan yang berada di bagian belakang kendaraan. Mulai yang ditulis besar-besar dengan warna mencolok sampai yang hanya seukuran stiker yang ditempel di bagian ekor motor. Dengan beragam tema pula, mulai dari tema suci ajakan berjihad di tanah Palestina sampai yang mengandung kata-kata jorok plus gambarnya lagi.

Seperti kalimat kutunggu jandamu, yang ditemukan di bagian belakang sebuah truk pasir dengan lembaran karet penahan air hujan dekat ban belakang bergambar dua wanita berpakaian ala kadarnya sedang melamun.

Ada lagi gambar hati merah yang retak dan terbelah bukan dengan panah seperti biasanya tapi dengan kapak 212 Wiro Sableng. Di bawahnya tertulis cinta di tolak dukun bertindak. Di sampingnya ada tulisan lain penggambaran alat-alat yang dipakai dukun seperti ’pelet, santet, teluh, gendam, semar mesem atau apapun namanya’. Mengerikan, semua penghancur hubungan dua manusia itu bak mainan saja dipertontonkan.

Masih banyak lagi gambar dan tulisan lainnya di pintu belakang penutup truk itu. Kalau menyengaja mencarinya, gampang, misalnya datang saja ke pangkalan pasir di sepanjang pantura. Kelak akan ditemukan kelucuan dan kengerian itu.

Ada lagi yang menulis di moda angkutan umum seperti angkot, metromini, atau bajaj yang jumlahnya ribuan di Jakarta ini. Tentang kerinduan terhadap kampung halaman dengan tulisan berlatar belakang alam pedesaan: takana juo. Atau tentang identitas daerah, walaupun ditulis dengan bahasa Inggris ala kadarnya seperti: Far For Sea Nowly. Maksudnya adalah Par Porsea Nauli. Maklum kebanyakan pengemudi berasal dari seberang. Sedangkan bagi orang betawi rangkaian huruf ini sudah cukup mewakili: AP KT NT AJ.

Yang lebih parah dan dapat membuat pembaca tersenyum dikulum, ada yang menulis ungkapan umum ’tidak ada waktu untuk bercinta’ dengan memakai bahasa Inggris tapi salah menuliskannya menjadi No Tame For Love. Atau jangan-jangan maksudnya memang ingin mengungkapkan bahwa dalam bercinta perlu keliaran (tame=jinak), ih…

Bagi kendaraan pribadi biasanya tulisan tercetak dalam bentuk stiker. Ada stiker dari wahana wisata yang langsung ditempel begitu saja tanpa peduli si pemilik mau atau tidak. Ada yang menempelkan stiker bertuliskan awas jangan nabrak, belum lunas di mobil mulusnya. Ada stiker partai kesayangan peserta pemilu tahun 2004 yang masih saja tertempel. Atau yang lebih ’parno’ adalah stiker barcode penanda mobil masih baru walaupun sudah dibeli setahun yang lalu.

Sedangkan untuk di motor ragam stikernya amat bervariasi. Ada stiker yang dibuat agar orang segan, seperti stiker berlambang Bareskrim, Gegana, Brimob, Marinir, Kopassus, atau Kostrad. Ada pula stiker yang menonjolkan arogansi otot dengan tulisan Nabrak Tonjok!, atau Nyenggol Benjut!.

Banyak juga yang menampilkan kelompok eksklusifnya seperti kampus biru, kampus kuning, atau apapun warnanya lengkap dengan jurusannya. Klub bermotor terkenal tak mau kalah untuk lebih tenar lagi seperti Harley Davidson, HTML, dan pendatang baru Mio Club Depok disingkat McD (maksain?).

Stiker lucu juga banyak: awas anak Kapolsek, yang ngerasa cantik boleh ngebonceng, jangan dicolong masih nyicil, otot kawat balung thok. Sampai berisi ejekan pun ada, seperti stiker bertuliskan ’yang membaca g*****’ (maaf saya tak tega menulisnya), juga stiker kartun yang sedang mengacungkan jari tengahnya (maaf)–di closeup lagi. Dan masih banyak lagi ragam dari stiker-stiker tersebut.

***

Satu hal penting dari apa yang diungkapkan di atas adalah bahwa informasi yang disajikan secara mobil akan dilihat oleh banyak orang, dibaca, dan diendapkan dalam memorinya untuk dijadikan informasi lanjutan kelak. Maka akan terlihat betapa efektifnya penyebaran informasi atau opini melalui media tersebut.

Jika begitu dan jika kita adalah seorang pecinta nilai-nilai kebenaran maka kenapa kita tidak mencoba cara itu dengan memuat kata-kata atau kalimat yang lebih dari sekadar kelucuan tanpa makna, kekasaran, ejekan, bahkan pornografi. Karena tidak banyak yang menyediakan sedikit ruang untuk menyampaikan nilai-nilai universal itu.

Tiada kerugian sedikit pun yang kita derita, bahkan jika kita ikhlas dan menjadi perantara turunnya hidayah Allah bagi orang-orang yang mendapatkan nilai-nilai itu maka sudah selayaknya pahala seisi langit dan bumi menjadi milik kita.

Jika kesadaran itu muncul, di banyak truk kita akan melihat sebuah gambar wanita berjilbab dengan tulisan dibawahnya: mar’atushsholihah, engkau adalah perhiasan terindah. Kita akan membaca tulisan di kaca belakang bus antar kota antar propinsi: Jihad is my way. Tak dapat dibandingkan dengan tulisan sebelumnya dangdut is my music.

Di angkot, kampung akhirat bahkan lebih dirindukan daripada kampung halaman dengan adanya kalimat ini: syahid, cita-cita kami tertinggi. Sedangkan di motor, kita akan mendapatkan tanda nasionalisme tanpa sekat-sekat geografis: Save Palestine.

Pula jika kesadaran itu muncul, kita mungkin tak akan pernah lagi menemukan kata-kata para pecundang, yang ada hanya harap: doakan aku dapatkan pendamping yang lebih baik darimu.

Lalu, kapan lagi kalau tidak sekarang?

Semoga.

dedaunan di ranting cemara

mushaf di antara kulit

23.30 06 Desember 2005

Saya Akan Menikah! Segera!


06.12.2005 – Saya akan Menikah! Segera!

Malam sepertinya belumlah larut pada saat itu. Jarum pendek jam dinding hanya bergeser sedikit dari angka sembilan sedangkan yang panjangnya tetap berkutat menunjuk ke bawah. Segera saya buka jaket penahan angin dingin setelah berjasa menemani dalam perjalanan rutin setiap Ahad malam.
Tiba-tiba saya teringat hari ini adalah hari paling bersejarah bagi seorang teman. Hari di mana ia mengakhiri masa lajangnya dengan bersedia mendengarkan pasangan hidupnya mengucapkan kalimat yang berat pada walinya dengan disaksikan tatapan haru orang-orang tercinta.
Dengan jarak yang begitu jauh dari tempat tinggal, maka saya pun tidak bisa datang ke tempat walimatul’ursy, untuk turut merasakan dan merayakan kebahagiaan teman saya ini, yang tentunya ia adalah teman dari istri saya juga.
“Sudah di telepon, Mi…?” tanya saya pada istri tercinta.
“Oh iya belum, telepon saja sama Abi?” jawabnya sambil masih asyik bercanda dengan si bungsu.
“Lho, Abi kan sudah dari pagi nyuruhnya. Sebenarnya yang pantas untuk menelepon tuh ya Ummi bukan Abi,” tukas saya. ”Seharusnya ketika kita tidak bisa datang memenuhi undangan itu, minimal teleponlah untuk memberikan dukungan, penghargaan sebagai tanda kepedulian kita,” tambah saya panjang.
“Iya deh, Ummi minta maaf, tapi biar Abi saja deh yang menelepon, mumpung belum terlalu malam,” pintanya.
Tanpa menunggu terlalu lama saya angkat gagang telepon, menekan tutsnya, dan membiarkan dering di seberang sana lama terdengar. “Wah, sepertinya sudah tidur,” pikir saya. Selagi berpikir untuk segera menutup gagang telepon, tiba-tiba suara dari seberang terdengar.
“Halo, Assalaamu’laikum, siapa yah?”
“Wa’alaikumsalam, ini saya Abu Haqi,” jawab saya. “Selamat yah, barokallahulaka wabaroka’alaika wajama’a bainakuma fii khoir,” sambung saya dengan doa pendek.
Terdengar ucapan terimakasih yang bertubi-tubi. Terasa ada kegembiraan dari nada suaranya. Setelah berbincang sebentar menanyakan keadaannya, saya segera pamit undur diri agar tidak mengganggu malam pertamanya itu, dengan tak lupa menitipkan salam kami kepada suami tercinta.
***
Perempuan ini sesungguhnya adalah teman istri saya. Ialah yang turut membantu kelancaran jalannya perjodohan kami, sampai pesta walimahan kami terselenggara, walaupun karena kesibukannya dan jauhnya jarak akhirnya ia tetap tak bisa datang.
Walaupun satu angkatan di kampus, saya tidak begitu mengenalnya bahkan saya baru mengenalnya saat ia bersama-sama dengan Ummu Ayyasy menempuh diklat penyesuaian ijazah di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, di pertengahan 2005.
Ia pula yang menjadikan kami sebagai salah satu topik tulisan pada buku pertama yang ditulisnya. Ia adalah seorang penulis. Berbagai penghargaan atas prestasi dalam dunia kepenulisan telah diraihnya. Saat ini telah lima buku ia tulis dan beredar di pasaran.
Dengan segala kesibukannya sebagai PNS, penulis, relawan, dan pengurus pada sebuah jaringan kader penulis ia tak segan-segan untuk berbagi ilmu dan menyemangati saya untuk lebih concern pada dunia kepenulisan. Memang ia layak menjadi mentor bagi saya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah akhir dari sebuah penantian yang panjang. Ini adalah kado ulang tahunnya yang jatuh Agustus lalu bahkan menurut saya ini adalah kado besar ramadhan mubarak. Who knows?
Pernikahannya adalah ajang untuk membuktikan dirinya sanggup menjalankan seperti apa yang sudah lama ia tulis dulu yaitu “tugas mulia dan jihad utama seorang wanita muslimah adalah di rumah, menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Di sana pula saya memahami bahwa mendidik anak adalah satu kewajiban ibu muslimah yang tidak mungkin dilimpahkan pada pihak lain.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Lanjutnya lagi ia menulis “Menikah akan membuat saya matang. Menikah akan membuat saya lebih banyak belajar. Belajar lebih tegar dan dewasa. Belajar berbagi dan tidak egois lagi. Belajar menenggang perasaan orang lain. Belajar memahami orang lain. Belajar bekerja sama dan menyelesaikan masalah. Belajar menanggung permasalahan yang lebih besar. Belajar bertanggung jawab atas semua tindakan. Saya tahu, di balik kerasnya kehidupan yang harus saya jalani, Alloh akan memberi sarana untuk memudahkan, karena Alloh tidak membebani hambaNya melebihi kemampuannya. Seperti kata Miranda Risang Ayu dalam bukunya Cahaya Rumah Kita: Cakrawala selalu mengingatkan bahwa di atas bumi selalu ada ruang tak terbatas. Di atas prasangka-prasangka subjektif yang cengeng tentang ketidakmampuan seorang manusia, ada ketidakterbatasan yang menjanjikan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan lebih mampu. Syaratnya, hanya berusaha bersandar kepadaNya.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Setelah itu dalam kalimat penutupnya ia pun bertekad: “Kalau begitu, saya akan menikah! Segera!”. Walaupun tekad itu baru dapat terlaksana empat tahun setelahnya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah ajang pembuktiannya untuk menjadi apa yang dicita-citakannya dalam tulisannya yang lain: menjadi ibu. ”Duh, Ibu. Betapa kesederhanaanmu ternyata menyimpan samudera makna kehidupan yang dalam. Kini, jika saya mengisi lembar biodata lagi yang ada isian cita-cita, saya kembali mengisinya dengan mantap: Menjadi Ibu.” (AMR:Menjadi Ibu, 2002).
Dalam episode perjalanannya menuju titik akhir di Ahad indah itu, tahun lalu ia sempatkan membuat sebuah tulisan yang menyentuh sanubari saya, tidak hanya saya yang berbeda gender, tapi bagi begitu banyak perempuan lainnya. Tentang diamnya ia mendengarkan kesah seorang perempuan dalam penantian panjang mencari pendamping hidup. Diamnya ia bagi saya bahkan menjadi kekuatan menghentak qalbu pada tulisannya yang berjudul ”Semua adalah Pilihan”.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah akhir dari pupus dalam sebuah metáfora kaset. Sehingga tak akan pernah lagi untuk me-rewind-nya, setiap kali ia muncul dalam sebuah puisi. Tentu ini pula adalah sebuah pilihan baginya.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah mula bertukarnya kata-kata indah untuk satu orang saja, yang lebih berhak, dan lebih berkah. Tiada untuk yang lain. Tiada hanya pada malam-malam sepi sembari memandang purnama sedangkan ia sudah punya di sudut jiwanya.
Pernikahannya di Ahad kemarin tidak perlu membuat Anda bertanya-tanya. Anda. tentunya tahu siapa dia bukan?
Pernikahannya di Ahad kemarin, ah…sudahlah, sudah cukup, tidak banyak lagi kata-kata yang bisa ditulis, karena tercekat di ujung pena yang kian menipis bila terus menerus menggores kertas. Sarinya adalah selesai sudah penantian itu. Dan sungguh pertolongan Allah akan datang pada orang-orang yang menikah sebagaimana disabdakan al-musthofa dan diriwayatkan oleh Turmudzi, An-Nasa’I, Al-Hakim dan Daruquthni: “Tiga golongan orang yang pasti akan mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang berjihad di jalan Allah.” (Adhim:1998)
Cairan hangat tiba-tiba terasa di pangkuanku. Bukan, ini bukan airmata. Ini….

“Ya Dedek, kalau mau pipis bilang dong, kan Abi sudah bilang, pipis itu di kamar mandi,” sambil mengangkat si bungsu ini yang dari tadi memaksa untuk ikut duduk di depan komputer melihat saya mengetik tulisan ini.
Pernikahan di Ahad kemarin, alaaah…
dedaunan di ranting cemara
mushaf di antara dua AK-47
22.30 – 05 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Akhir dari Penantian Panjang


Penantian panjang berakhir sudah

Saya ingat betul, pertengahan Oktober tahun lalu, dua minggu menjelang Ramadhan 1425 H, saya dihadapkan pada situasi di mana saya tak bisa mengakses DSH Net. Seperti yang pernah saya ungkapkan pada tulisan saya sebelumnya dengan judul “tercerabut dari akarnya”, saya mengungkapkan kegalauan perasaaan saya dengan kalimat di bawah ini:
“Aku masih menyempatkan diri untuk menulis di sini. Walaupun timbunan pekerjaan menumpuk di meja dan membauiku. Sudah hampir sembilan bulan lamanya, aku tak pernah lagi melihat dan mengeksplor ditrikpa dan DSH Net. Waktu itu dua minggu menjelang ramadhan, seluruh komputer di kantor ini tak bisa mengakses dua situs itu. Aku yang biasanya mendownload banyak file dari rikpa files, saling berkirim email dengan rikpa mail, dan berdiskusi di DSH Net, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi itu langsung down dan hilfil.” (blog:24 Juni 2005)
Down dan hilang filing, ya begitulah perasaan saya. Betapa saya benar-benar tercerabut dari akarnya. Hingga beberapa lamanya dalam setiap kesempatan, saya berusaha untuk mengakses DSH, namun halaman yang selalu muncul, halaman itu-itu juga: The Page Cannot be Displayed.
Di situlah kerinduan itu muncul begitu saja. Kerinduan akan berita-berita Islamnya yang up to date dan menarik—walaupun sejak itu tergantikan dengan berita-berita dari Suara Islami Online . Diskusinya yang hangat walaupun juga kadang berakhir dengan kata-kata panas dan tidak mengenakkan untuk dibaca, namun semuanya membawa saya pada lompatan ilmu pengetahuan yang lebih dari semula. Ditambah dengan kerinduan menulis artikel di Menu Partisipasi, kerinduan akan menulis pesan di Menu Ucapan, dan lain sebagainya. Sekali lagi kehilangan semuanya yang ada di DSHNet membuat adrenalin kerinduan saya begitu memuncak. Hingga suatu hari…
Hari ini tepat tanggal 01 Desember 2005—hari gajian pula—saya dapat menuntaskan rasa rindu ini setelah mencoba untuk mengetik http://10.254.60.60/ di address Internet Explorer PC saya. Saya enter, dan tiba-tiba, jrengg…, bayangan hitam –ciri khas DSHNet—muncul!! Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bergabung kembali.
Upaya saya mencoba mengklik DSHNet hari ini diawali adanya berita kemarin tentang pengakhiran kontrak pemakaian radiolink—yang selama ini dipakai sebagai jaringan utama pendukung SIDJP KPP PMA Tiga—dan tentang pengalihan jaringannya ke Kabel Vision, yang kata teman-teman di Seksi PDI , jaringannya menggunakan serat optik sehingga kecepatan transfer datanya bisa 1 gigabyte per detik. Wow…Sehingga kelemahan yang selama ini terjadi pada pada radiolink diharapkan tidak akan muncul lagi, misalnya situs-situs intranet yang tak bisa diakses, kelambatan pengiriman data dari KPP ke Kantor pusat atau sebaliknya, dan lainnya. Entahlah terbukti atau tidak, waktu yang akan menentukan.
Dari berita tersebut, akhirnya saya berkesimpulan, ketidakmampuan jaringan di KPP PMA Tiga untuk mengakses DSHNet, juga Ditrikpa, memang bertepatan dengan mulai diterapkannya SIDJP di kantor saya. Sehingga bisa dikatakan penyebabnya adalah ketidakmampuan radiolink yang ringkih dengan situasi perubahan cuaca di Kalibata.
Dan dengan berakhirnya pemakaian radiolink serta dimulainya jaringan baru yang menggunakan Kabel Vision, saya berkesimpulan pula bahwa ketidakmampuan jaringan mengakses DSHNet tidak akan terjadi lagi.
Tapi anehnya, saat saya sedang menulis ini, saya mencoba untuk merefresh DSHNet, dan tidak bisa!! Saya coba buka situs yang lain, dan ternyata tidak bisa semua. Lho, katanya….
Ah, entahlah. Saya harap semua ini karena dalam masa transisi pergantian jaringan. Harapan ini muncul supaya saya bisa bergabung kembali dengan para ikhwah di DSHNet. Harapan yang mini dan tidak absurd, saya pikir. Kalau pun kembali lagi seperti setahun yang lalu. Tapi paling tidak, hari ini saya telah memunculkan pesan pertama itu di DSHNet:
Alhamdulillah, saya kembali bergabung dengan antum semua, setelah hampir satu tahun lamanya berpisah dengan DSHNet dikarenakan jaringan yang tak sanggup untuk mengakses DSH, semoga Allah mempererat tali silaturahim di antara kita. (1-12-2005)
Dikirim oleh dedaunan (10.7.3.192 ) untuk ikhwah fillah

Saya tidak tahu, akankah pesan itu akan menjadi pesan pertama saya atau yang, lagi-lagi, akan menjadi pesan terakhir sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Saya harap tidak untuk yang terakhir ini.
Oh, iya…judul tulisan ini sepertinya tidak tepat.Memang penantian saya sudah berakhir?

dedaunan di ranting cemara
hingga cahaya itu datang kembali
12:49 01 Desember 2005