Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya


Alex Honnold berhasil menaklukkan gedung pencakar langit Taipei 101 setinggi 508 meter dengan mendakinya tanpa tali pengaman pada Ahad, 25 Januari 2026. Pendaki asal Amerika Serikat itu menuntaskannya selama 90 menit dan Netflix menyiarkan peristiwa tersebut secara langsung.

Honnold berdiri di puncak dan berswafoto di sana tanpa rasa takut. Potongan video pendakiannya berseliweran di media sosial. Honnold yang mendaki, warganet yang merasa kakinya gemetar. Saya yang turut melihat video tersebut juga merasakan hal yang sama, seolah saya berada di ketinggian tersebut.

Continue reading Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya

Ada Hal-Hal yang Tak Perlu Disebut, Tetapi Terus Hidup


Ketika kembang api meledak di langit malam, mata saya masih belum terpejam. Masih menulis, masih membaca buku di dalam kamar. Selamat datang 2026.

Saya meninggalkan 2025 dengan penuh rasa syukur karena begitu banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada saya. Ada rezeki yang mengalir, pekerjaan yang lancar, target yang tercapai, tubuh yang sehat, dan penghargaan yang diterima. Sedih dan duka mesti saja ada, tetapi kadarnya tak bisa mengalahkan sukacita itu. Tentunya tak perlu diceritakan di sini. Biar yang senang dan bahagia saja.

Continue reading Ada Hal-Hal yang Tak Perlu Disebut, Tetapi Terus Hidup

Mengapa Orang Indonesia Sulit Mengatakan Tidak?


Saya baru sadar, kata yang paling jarang diajarkan ke orang Indonesia adalah: tidak.

Kita punya tokoh dalam suatu cerita kehidupan. Si tokoh ini selalu berkata iya untuk diminta mengerjakan sesuatu, diutangi, diminta hadir, ataupun diminta diam. Ia tidak pernah diajari berkata “tidak”. Yang diajari dan dipahami olehnya adalah “tidak enakan”. Sampai suatu hari, tubuhnya jatuh sakit dan tak ada yang datang menjenguk.

Di tempat lain, di sebuah kantor kecil di sudut Jakarta, seorang staf junior tahu keputusan atasannya keliru. Ada angka yang tidak masuk dan risiko besar. Namun, rapat tetap berjalan mulus. Tidak ada satu pun yang berkata “tidak”. Setelah rapat aksi dijalankan, barulah kesalahan itu meledak.  Continue reading Mengapa Orang Indonesia Sulit Mengatakan Tidak?

Respons Cepat dalam 1 Nanodetik



Sore itu, saya membuka koran digital langganan di laptop.  Saya tertarik pada sebuah berita yang berjudul “Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS”. Nvidia merupakan perusahaan teknologi Amerika Serikat yang terkenal sebagai produsen Graphics Processing Unit (GPU) terbesar dan paling maju di dunia. Bos Nvidia yang dimaksud dalam berita itu adalah pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang.

Di dalam persaingan pembuatan cip, China dianggap tertinggal. Pada saat perang dagang antara Amerika Serikat dan China, China kelimpungan karena ada penerapan boikot Amerika Serikat pada pasokan cip ke China. Sebenarnya China dari beberapa tahun lampau sudah membaca ketergantungan ini. Supaya mandiri, mereka berjuang keras untuk bisa memproduksi mesin litografi—mesin pembuat cip. Di sini dunia masih menganggap China masih tertinggal jauh.

Continue reading Respons Cepat dalam 1 Nanodetik

Di Bawah Bayang-Bayang Witte Huis


Dua hari sebelumnya saya sudah bangun pada pukul tiga pagi untuk berkumpul di Gedung Juanda I, Kementerian Keuangan. Kami akan menghadiri Pidato Kenegaraan Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung MPR DPR RI pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Kali ini, pada 17 Agustus 2025, saya juga harus bangun lebih dini karena saya diundang untuk mengikuti upacara 17 Agustus di Kementerian Keuangan. Upacara itu akan dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati.

Continue reading Di Bawah Bayang-Bayang Witte Huis

Internet Do Magic: Kali Ini Bukan Tipu-Tipu


Suatu ketika ada pesan masuk di DM Instagram saya.

“Maaf, Pak. Saya mau bertanya apakah Bapak tahu dengan Ibu Ayu Endah Damastuti? Beliau tertinggal dompetnya, Pak. Saya lihat biodatanya yang muncul berfoto dengan Bapak,” tulis laki-laki itu dalam pesan tersebut.

Baca Lebih Lanjut

Satu Langkah Awal Sembuh dari Overthinking, Pelajaran dari Buku Tua


Overthinking ini bisa menimpa siapa saja: orang tua, gen-Z, pejabat, pensiunan, rakyat jelata, pemuka agama, bahkan mereka yang pura-pura baik-baik saja.

*

Beberapa hari ini saya sedang membaca ulang buku Dale Carnegie yang berjudul Bagaimana Menghilangkan Cemas dan Memulai Hidup baru. Ini buku lama.

Baca Lebih Lanjut

Mengapa Ada Orang Membaca Buku yang Sama Lebih dari Sekali?


Pagi ini, sebelum memulai aktivitas rutin, saya membaca ulang buku Atomic Habits karya James Clear untuk kedua kalinya. Satu bab sudah saya baca. Saya akan melanjutkan membaca lagi ketika ada waktu senggang di sela-sela  pekerjaan utama saya.

Satu pertanyaan muncul, “Mengapa ada orang membaca buku yang sama lebih dari sekali?” Saya langsung ingat pada masa kecil saya. Bapak–penjual majalah bekas di kampung kami–memiliki buku Dale Carnegie yang berjudul Bagaimana Menghilangkan Cemas & Memulai Hidup Baru? Kondisi buku itu lumayan tua. Kertasnya sudah menguning dan sampulnya telah menua. Buku itu selalu ada di meja utama sambil menunggui pembeli majalah datang. Saya tidak tahu sudah berapa kali Bapak membaca buku itu. Bahkan ketika ia pindah ke Jakarta, tak ketinggalan, buku itu dibawanya pula.

Baca Lebih Lanjut

Obituari Arif Budiono: Hari Terakhir Pertemuan Kita


Setelah seharian rapat, mestinya Pak Arif Budiono ini menginap satu kamar dengan saya malam itu. Namun, ia meminta izin kepada Ibu Kepala Kantor untuk tidak mengikuti rapat besok. Ia harus ke Rumah Sakit Harapan Kita petang itu juga untuk mempersiapkan tindakan operasi jantung pada keesokan harinya. Ini menjadi pertemuan terakhir kami dengannya.

Jumat itu, Pak Arif dioperasi dan langsung tidak sadarkan diri pascaoperasi. Kami—pegawai KPP Badan dan Orang Asing—tidak diperkenankan melihat langsung kondisinya karena Pak Arif Budiono masih berada di ruang ICU.

Baca Lebih Banyak

Peanut Butter Manifesto


Majalah internal baru sebatas terbit, belum menjadi media yang dinanti-nanti oleh pembacanya.

Kecanggihan teknologi membuat semakin banyak kantor pelayanan pajak (KPP) memproduksi majalah internal. Kecanggihan itu tecermin pada mudahnya penyebaran majalah kepada 45 ribu pegawai DJP melalui aplikasi surat Nadine. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan pada lima tahun sebelumnya.

Dulu, majalah harus dicetak dan dipublikasikan secara fisik yang memunculkan biaya tinggi. Pencetakan bisa memakan biaya 20—30% dari keseluruhan ongkos produksi. Menurut Will Lubaroff dari walsworth.com, biaya pendistribusian bisa menghabiskan setengah dari total biaya produksi majalah.

Baca Lebih Lanjut