terlanjur
*
hujan menangis
di bahuku saat ini,
aku basah dengan cinta…
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
06.33 pm 08 04 2011
terlanjur
*
hujan menangis
di bahuku saat ini,
aku basah dengan cinta…
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
06.33 pm 08 04 2011
menjelma
**
menjelma menjadi mimpi,
rinai hujan yang datang membisikkan padamu tadi shubuh,
menjelma menjadi sajak,
kabut yang salah paham menyelimutimu tadi malam,
menjelma menjadi burung,
awan yang pergi tanpa pamit berkata culas padamu tadi sore,
menjelma menjadi 3 jam,
rindu yang menggigit jubah kehilanganmu tadi siang,
menjelma menjadi air mata,
bahagia yang menderai di sudut hatimu barusan saja.
akulah yang menjelma …
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11.14 03 April 2011
malam ketujuh
tak ada yang tertulis untukmu
di sela tubuh yang menggigil
pada jam yang menabuh genderang perang
sudah tengah malam katanya
tak ada yang tertulis untukmu
biar kata-kata yang ada memuara ke laut
hanyut bersama sampah-sampah hitam ciliwung
sudah menggila katanya
tak ada yang tertulis untukmu
karena langit sudah rata dengan bumi
sudah saatnya katanya
tak ada yang tertulis untukmu
sudah malam ketujuh katanya
tak ada yang tertulis untukmu
siapa bilang?
karena setiap kata yang terucap
karena setiap huruf yang tertulis
di langit dan di bumi
semua untukmu…
aku semakin menggigil
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12.06 31 Maret 2011
Cinta Pinta Sederhana
**
aku memintamu,
di pagi yang terbangun kesiangan
atau di malam yang cemburu,
ketika aku datang
buatkan secangkir teh yasmin hangat
ambilkan sepiring nasi dan lauk secukupnya
hidangkan semuanya untukku
dan kau duduk di depan
melihat aku menghabiskannya
sambil bercerita apa saja.
cuma pinta sederhana
untuk 12 tahun yang telah lewat
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
anniversary atau ani berseri-seri?
27 Maret 1999 – 27 Maret 2011
08.10 am
Gambar diambil dari sini.
megalomania
**
Aku adalah antartika yang menunggu tetes-tetes salju abadi
Aku adalah niagara yang menunggu surutnya
Aku adalah matahari yang menunggu padamnya
Aku adalah…
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
untuk malam yang semakin malam
10.19 am 26 Maret 2011
Malam di 1/3 Terakhir
**

aku mencintaimu seperti daun-daun jatuh di hutan, sepi tanpa suara
aku merinduimu seperti air jeram di sungai, ramai penuh gelora
aku kehilanganmu seperti nisan tua dan lapuk di tanah pekuburan.
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02.20 am 24 Maret 2011
pulang sekolah
**
dengan tubuh legam berkarat
lonceng itu merintih berharap-harap
menyerah pada pukulan demi pukulan
untuk sebuah lengking nyaring
menggelumat atmosfer
sepi sujud pada ramai jam 2 siang
kursi yang kau duduki dan
pulpen yang kau pegang
berteriak serentak, “pulanglah segera,
sebiji matamu menunggu,
karena malam ini ia akan pergi,”
bukankah kasih bunda adalah bahasa keabadian?
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lantai dasar gedung sutikno slamet
13.35 22 Maret 2011
Gambar diambil dari sini
dahaga
**
di ruang-ruang senja yang terkotak-kotak
kau pergilirkan semaian rindu
pada ladang-ladang yang kerontang
pada ilalang-ilalang yang dendam
dengan pertemuan tak kunjung beranjak
jika wajahmu adalah hujan
untuk ladang dan ilalang itu
biarkan aku berdiri di atas puncak bukit
rentangkan tangan lebar-lebar
menampar angin
tengadahkan seraut rupa
tanpa mata yang membuka
untuk menerima
gerimismu
lebatmu
hingga kuyup
semuanya karena ada dahaga
yang tak kunjung tamat
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di atas krl pakuan ekspress 17.40
17.50 21 Maret 2011
supermoon
**
aku ambil pisau
memotongnya sebagian
dan kuletakkan di atas nampan
kuserahkan padamu
sisanya biarlah untuk kita nikmati bersama
dengan tatapan-tatapan kita:
bulan sepotong
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
mabit di masjid almuhajirin bojonggede
12.57 20 Maret 2011
foto asli diambil pada pukul 04.31 (sepertinya)
malam likat
**
ada huruf yang kutulis
merana di awal cerita:
d
lalu
ada satu yang tertinggal
di ujung cerita:
u
menjelma menjadi riak-riak kata
yang terngiang-ngiang
lalu menjadi bisik-bisik
menemanimu sepanjang perjalanan
malam itu yang likat,
sebagiannya bersembunyi malu
di balik bintang-bintang
kini setelah satu purnama lewat
tanpa permisi
dan bintang-bintang itu pudar
kelelahan
ada yang indah terlihat
ada yang merdu terdengar
aku sampaikan padamu
di siang ini yang pemberang:
di cintamu kutemui arti hidupku*
***
*mengutip satu larik lagu yang diciptakan
Oddie Agam dan dipopulerkan oleh
Mus Mujiono: Arti Kehidupan
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lantai 9 gedung sutikno slamet pengadilan pajak
12.57 18 maret 2011