tasik mata


tasik mata

 

menakar tawar air waduk

di senja yang jatuh tersungkur di belakang

berkilau dengan kelap-kelip keramba

di deret tiga raksasa bisu bukit gelap

dan kau duduk di tepian

bercerita apa saja

dengan sebuah tatap lekat

ketika aku hidangkan padamu

kisah tentang awal sebuah pertemuan

saat itu binatang malam tak mau menjadi pecundang

berlomba-lomba menyeruakkan tala

kau mewujud menjadi halimun

melipur lara memilin rasa

senandungkan apa saja

di depanku

katamu: tak pernah kuduga

lantas kau tarik aku ke taman kota

di bayang gelap pohon-pohon tua

di antara lalu lalang para penjaja suara

diderai pendar lampu yang melukis wajahmu

kau tak bosan-bosannya

dendangkan apa saja

katamu: semuanya berubah

saat itu aku hanyalah angin

yang menelisik tasik matamu

dalam-dalam

kau temukan apa? tanyamu

indah semarak kataku

lalu sangkala menjadi musuh kita

karena terjaga

kita menjadi mula

sebelum menjadi halimun dan angin

karena kita bukanlah dev dan maya

kemudian sesaat

hujan membakar malam

di stasiun itu

aku sempatkan diri untuk berkata:

saatnya pergi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dikejutkan

20.16 28 Mei 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rindu


Rindu

*

ada dua kata yang malu bersembunyi

di antara semak-semak huruf,

sebelumnya dan ini,

tapi pasti kau tahu

karena kita adalah kelindan

di antara februari yang pendek

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*masih terkejut dengan sepi dering

06.15 19 Mei 2011

SATU


Satu

*

pagi ini,

ada detik yang berhenti sengaja di 06.01

di atas onggokan besi yang terpacu cepat

dihela mesin buatan dai nippon

terbangun dari koma

hari ini adalah bukan kemarin

di depanku

matahari meleleh

menjadi tetes-tetes air hujan

 

 

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

*menuju stasiun Sudirman

06.02 19 Mei 2011

pohon yang dipeluk petir


pohon yang dipeluk petir

 

**

 

ingatlah pada suatu pertemuan kita

di padang ilalang

dengan satu pohon yang jumawa

menantang langit

kita di bawahnya

mengurai senyap yang mendekap

sepi yang merepih

dan tahukah kau

kalau aku

menjadi kata-kata yang tak pernah

dihentikan oleh koma,

bahkan sekalipun oleh titik.

pada nyatanya aku adalah labirin

dari nurani dan logikamu

pilih mana?

aku nanap

dengan sebuah jawab

ingatlah pada suatu pertemuan kita

di padang ilalang

dengan satu pohon dipeluk petir

aku pohon itu

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

sda

10.20 pm 13 Mei 2011

kanvas


kanvas

**

 

buat aku merindu pada sebentuk taman

karena keindahannya tak hanya sepucuk bunga

tapi engkau yang sedang memetiknya

–indah

 

buat aku merindu pada sepotong pelangi

karena keindahannya tak hanya segaris warna

tapi engkau yang berbalur ungu

–eksotik

 

buat aku merindu pada segenggam malam

karena eksotisnya tak hanya purnama

tapi engkau yang bertabur bintang

–syahdu

 

buat aku merindu pada hujan

karena kesyahduannya tak hanya derasnya rinai

tapi engkau dan wajahmu yang gerimis

–elok

 

pada selembar kanvas hidupku

kau temukan semua itu ada di sana

terpesonalah…

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

04.15 12 Mei 2011

 

*mohon izin untuk saya unggah…

cabik


Cabik

**

Aku diketuk-ketuk shubuh yang ringkih bau tanah, karena sebentar lagi mati dan menghilang. Tinggalkan pesan tak usah menanti. Katanya, “Halimun saja tak dinanti selalu datang.” Mengapa kau tak merindunya? Aku dicabik-cabik air dingin yang keras menikam karena benci berakhirnya malam. Tinggalkan jejak luka tak bisa tidur lagi. Katanya, “tinggalkan angan, pergi ke luar, berjalanlah.” Mengapa kau tak lakukan segera? Aku dikayuh-kayuh angin pagi yang sebentar lagi akan tertawa hangat. Tinggalkan biru berjubah bunglon. Katanya, “Ganti warna pekatnya, jangan itu saja,” Mengapa kau terdiam? Kali ini tak ada jawab karena aku senyap yang membisu dan sekarat.

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

seharusnya ridho rhoma tak perlu bernyanyi ‘menunggumu’

selesai 04.45 am 11 Mei 2011

To be:


 

to be:

 

aku ingin menjadi hujan yang senantiasa membasahi dirimu

aku ingin menjadi huruf dari setiap kata yang terucap olehmu

aku ingin menjadi sinaran mentari pagi yang menghangatkan wajahmu

aku ingin menjadi muara sungai dari setiap kesahmu

aku ingin menjadi telaga yang meneduhkan setiap amarahmu

aku ingin menjadi mata air yang meredakan dahagamu

dan aku,

malam ini,

ingin menjadi sunyi yang menemanimu

ketika menggigil merindukanku

 

 

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hari-hari kemarin

28 April 2011

galabah


galabah

**

gumpalan sinus, cosinus,

tangen, cotangen,

secan, dan cosecan

yang tak bisa diselesaikan

karena kerumitannya,

malam ini rumit itu

menjadi

limban lara

dan

tongkah galabah

yang tak ada ujung

aku

meniti di atasnya.

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.57 28 April 2011

Kepada yang mencintai hujan malam ini


kepada yang mencintai hujan malam ini

**

aku taruhkan sepucuk rindu pada setiap tetes yang jatuh

dan menahanku untuk berbicara apa adanya padamu

diam sesungguhnya menjadi simfoni megah

kala hati kita saling berbicara

aku taruhkan segenggam cinta pada setiap rinainya yang gemetar

dan menghantam setiap sudut jalanan untuk membasahimu

terpaku menjadi raja pada maghrib ini

kala kau berjalan di istana hidupmu sendiri

sambil memutar slide persahabatan

yang akan kau persembahkan pada dunia

aku menjadi daun yang jatuh sendiri…

aku taruhkan melodi kebersamaan pada gerimis yang mengundang

dan membisikkan padamu: jangan menunggu pagi

untuk melihat jejak-jejaknya

di pucuk-pucuk ilalang, bunga, daun, ranting, dan tanah basah

kau mencium hujan malam ini

sedetik saja

hujan itu menjadi aku.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.10 23 April 2011

Judul puisi terinspirasi dari sini

dermaga


dermaga

**

 

debur ombak seringkali mengalahkan senyapnya

angin yang bertiup di atas bibir-bibir karang,

geliatnya mengalahkan sejuta pesona

matahari yang hendak tidur diam-diam,

aku adalah perahu yang hendak

kembali di keesokan hari,

berkenanlah kau menjadi dermaga

tempat aku persembahkan

segala apa yang ada di dalam samudera,

apa saja…

sudi?

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 April 2011