Kisah Sederhana (2)


Cuma Kisah Sederhana (2)
Lagi, dengan Indra, setelah di kisah sebelumnya ia menceritakan tentang ban motornya yang ditambal oleh orang yang tak dikenal dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka pada ramadhan yang lalu, kita akan mendengarkan kisah tentang kemudahan-kemudahan yang ia dapatkan, tentang pertolongan yang Allah berikan kepadanya.
Kali ini, saat istrinya mengalami kehamilan yang ketiga kalinya, Indra mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam masalah finansial. Sedari awal ditemukannya tanda-tanda kehamilan istrinya itu, ia sudah mulai menabung sedikit demi sedikit. Mulai dari biaya persalinan sampai biaya untuk melestarikan sunnah rasul dengan menyelenggarakan walimatul’aqiqah.
Tiga minggu menjelang hari kelahiran anak ketiganya ini ia didatangi saudara pembantunya, sebut saja Pak Hasan. Karena sedang ditimpa kesulitan, Pak Hasan meminta dengan sangat kepada Indra untuk dapat meminjamkan uangnya. Indra tidak bisa berbohong. Ia mengakui bahwa ia memang mempunyai uang. Tapi sesungguhnya uang itu untuk dipergunakan sebagai persiapan biaya persalinan dan aqiqah.
Pak Hasan mendesak dan memohon kepada Indra untuk dapat membantunya. Ia berkali-kali menegaskan bahwa ia sanggup untuk melunasi utangnya segera. Hati Indra pun luluh. Ia bersedia meminjamkan uang tersebut asal pada saat ia akan melaksanakan aqiqah uang itu sudah ada pada dirinya. Pak Hasan pun menyanggupi.
Kemudian pada hari H, persalinan istrinya tidak begitu berjalan lancar. Setelah beberapa jam dilahirkan kelainan mulai diderita si bayi perempuan ini, kulitnya mulai menguning. Ibu bidan yang membantu proses persalinan sudah angkat tangan dan menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Alhasil bayi perempuannya diinap di sebuah rumah sakit ibu dan anak di kawasan Depok. Dengan tabungan yang sudah berkurang ditambah asuransi dari perusahaannya ia memperkirakan dapat menutupi seluruh biaya pengobatan dan rawat inap. Terkecuali untuk biaya aqiqah.
Selagi dia ditimpa kesusahan itu, ia tetap bertekad untuk menyelenggarakan aqiqah pada hari ketujuh. Dan apa yang dijanjikan oleh Pak Hasan untuk mengembalikan uangnya pada saat itu tidak terlihat tanda-tandanya. Indra pun segera mendatangi rumah Pak Hasan. Hasilnya nihil, Pak Hasan tidak sanggup melunasi utangnya pada saat itu, malah menyarankan kepada Indra untuk mengambil harta bendanya sebagai biaya pelunasan utangnya. Apa mau dikata, Indra tidak tega dan tidak mampu untuk melakukan itu. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Citanya untuk ber-’ittiba kepada rasul tercinta bakal tidak terlaksana. Cuma satu yang ia yakini sampai detik itu dan detik-detik ke depan, bahwa sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
Keesokan harinya, selagi ia bersiap-siap untuk pergi menggantikan istrinya menjaga bayinya. Indra didatangi Pak Hasan. Ia mangaku bahwa semalam tidak bisa tidur karena memikirkan utang yang tidak dibayarnya itu. Pak Hasan menawarkan kepada Indra untuk bersama-sama pergi ke kakaknya di kampung sebelah. Di sana kakaknya Pak Hasan akan membayar semua utangnya itu.
Kakaknya Pak Hasan menyambut dengan hormat sekali kepada Indra—yang menurutnya terlalu berlebihan. Sepertinya kakaknya Pak Hasan ini sangat berterima kasih sekali kepada Indra karena telah sudi membantu adiknya itu. Kakaknya menawarkan kepada Indra untuk mengambil dua ekor kambing paling besar yang ada di kandang belakang rumahnya. Katanya ini adalah sebagai pelunasan utang adiknya.
Kalau dihitung dengan uang yang Indra pinjamkan kepada Pak Hasan, dua ekor kambing itu benar-benar melebihi jumlah utangnya. Akhirnya ia membawa kambing-kambing itu ke rumahnya. Satu kambing ia niatkan untuk aqiqah anak perempuannya, sedangkan satunya lagi ia niatkan untuk memberikannya kepada fakir miskin.
Keesokan harinya, setelah beberapa hari di rawat, bayinya mengalami kemajuan kesehatan dan diperbolehkan untuk pulang. Acara aqiqah itu pun segera dilangsungkan dan berlangsung lancar dengan mengundang sanak saudaranya, tetangga-tetangganya, serta fakir miskin.
***
Subhanallah, kesabarannya membuahkan hasil berupa ketaatannya kepada Rasululloh SAW, kemampuannya berinfaq, kesehatan anaknya, serta satu lagi adalah hatinya yang semakin kaya, karena ia sanggup menolong pada saat dirinya dalam keadaan sulit.
Manusia sudah wajar dapat membantu sesama pada saat lapang, walapun demikian masih banyak juga orang yang pada saat lapang tidak berkemampuan untuk membantu sesama, apalagi pada saat dalam keadaan sempit. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita, untuk selalu bertekad dan bersabar dalam melaksanakan sunnah Rosulullah dalam keadaan sempit ataupun lapang, kecil ataupun besar. Setelah itu nantikan saja pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Allohu’alam.

dedaunan di rantig cemara
berusaha menjadi baik
10:02 13 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan02@telkom.net
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Kisah Sederhana


Ini sebuah kisah nyata, bukan kisah misteri dengan para genderuwo sebagai pemeran utama. Sebuah kisah yang setidaknya memberikan perenungan tentang hikmah apa yang berada dibalik semua itu.
Namanya sebut saja Indra, dalam perjalanan pergi ke tempat kerjanya mengalami kejadian yang aneh di pagi itu. Motor yang selalu menemaninya dalam menempuh 72 km kilometer pulang pergi setiap harinya tiba-tiba oleng dengan memperdengarkan bunyi letusan yang cukup keras. Namun ia masih bisa mengendalikannya.
”Duh…, ada apa pula ini” pikirnya. Ternyata ban belakang motornya pecah. Ia pun segera meminggirkan motornya. Pikirnya lagi, ia akan menuntun lama motor itu untuk mencari tukang tambal ban dan ini berarti bisa terlambat untuk masuk kantor. Ternyata tidak, tidak jauh dari tempatnya yang jaraknya hanya sepemandangan mata terlihat tulisan besar-besar: TAMBAL BAN di atas potongan papan triplek lapuk, dengan kompresor warna jingga terlihat menyolok dan ban-ban luar yang bergelantungan.
Indra segera menuju ke kios kecil tempat tambal ban itu. Beberapa saat, ia sudah diperlihatkan ban dalamnya yang sudah robek lebar yang tidak mungkin untuk ditambal lagi. Akhirnya ia sepakat dengan tukang tambal itu untuk mengganti ban dalamnya dengan yang baru. Tidak sampai enam menit motornya pun telah melaju kembali di jalanan setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada tukang tambal ban itu. Ia akhirnya tidak terlambat masuk kantor.
Keesokan harinya, laki-laki itu menempuh perjalanan seperti biasa menuju kantornya. Melewati tempat saat ban motornya pecah dan di jalanan yang sama, ia mendapati kios kecil tambal ban itu dalam keadaan tertutup.
Esoknya lagi, Indra mendapati keadaan yang sama dengan kemarin. Kios itu masih tutup. Sampai sepekan ia masih melihat hal yang sama. Ia pun bertanya-tanya kenapa kios ini tutup melulu. Akhirnya untuk memupuskan rasa penasarannya, ia sempatkan berhenti sejenak untuk menanyakan hal ini.
Indra pun bertanya kepada orang yang berdiri di dekat tempat itu, yang kelihatannya adalah penduduk asli. Jawaban yang diperoleh cukup mengejutkan. Bahwa kios itu sudah tutup sekitar tiga bulan yang lalu sampai sekarang. Orang itu tetap bersikeras menjawab hal yang sama walaupun Indra telah menceritakan peristiwa yang ia alami sepekan yang lalu, bahwa ia sempat membeli ban di kios itu dan masih ingat betul lokasinya. Tidak, ia tidak lupa tempat tukang tambal itu. Ia pun masih ingat betul warna kusam kiosnya.
Akhirnya, Indra kembali melanjutkan perjalanannya setelah berulangkali berusaha diyakini orang itu bahwa tidak ada tukang tambal ban di daerah ini setelah tiga bulan yang lalu itu. Lalu, ia pun bertanya-tanya siapa yang menolongnya itu?
###
Kisah lainnya pun dituturkan lagi oleh Indra, kali ini menjelang lebaran kemarin. Ia baru saja pindah kerja sebulan sebelum lebaran sebagai trainer dari sebuah perusahaan taksi ternama di ibukota ini. Perusahaan tempat kerjanya yang baru adalah perusahaan Agen Tunggal Pemegang Merek mobil terkemuka yang membuka sebuah divisi baru yakni divisi pelatihan, dan ia di hijack dengan diberikan model kompensasi yang menggiurkan dan jabatan yang baru—kalau tidak bisa dikatakan lebih tinggi dari jabatannya yang lama.
Karena baru saja bekerja, maka pada saat menerima gaji pertama Indra hanya mendapatkan gaji sesuai jumlah hari yang ia masuk pada bulan itu sesuai dengan asas proporsionalitas. Dan yang paling cukup membuat dirinya tidak sebahagia dengan yang lain adalah ia pun belum berhak untuk memperoleh tunjangan hari raya (THR). Ia pun cukup pasrah dengan hal itu, kali ini, di tahun ini, ia mungkin tidak akan sempat untuk berkumpul dengan keluarga besarnya di Bandung. Prihatin.
Sepekan sebelum lebaran, Indra dipanggil oleh atasannya. Dirinya diminta segera menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum disuruh untuk mengantarkan mobil dinas atasannya itu ke bengkel resmi yang berada di kawasan Kelapa Gading. Mobil baru merek Renault ber-cc 1400-an itu pun segera diantar Indra untuk dilakukan general check-up dengan pelayanan paling prima sesuai dengan pesan atasannya kepada bengkel resmi itu.
Dua hari setelahnya. Hari jum’at adalah hari terakhir Indra sebelum ia cuti lebaran. Kembali dipanggil oleh atasannya, kali ini ia disuruh untuk mengambil mobil yang ada di bengkel. Beberapa jam kemudian, dalam perjalanan pulang ke kantor, sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamnya, dari atasannya. Pesannya adalah ia diharapkan tidak usah ke kantor, langsung saja pulang ke rumah sambil membawa mobil untuk berlebaran di kampung. Ini sebagai pengganti THR yang tidak ia dapatkan.
Dan kejutan itu tidak berhenti di situ. Pesan singkat kembali datang. Kali ini ia mendapati pesan bahwa di bagian belakang mobil itu—yang tak sempat dilihat waktu mengambilnya—didapati satu krat susu instan yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan untuk berbuka puasa di jalanan.
Bombardir SMS dari atasannya berlanjut, kejutan kali ini adalah berupa uang yang cukup untuk membeli bahan bakar khusus beroktan tinggi selama perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung. Indra pun sangat bersyukur sekali. Puasa penuh berkah.
Lebaran tahun ini sangat istimewa bagi Indra dan keluarga. Dalam acara silaturahim itu betapa Indra begitu banyak dihargai oleh para saudara-saudara jauhnya, apalagi dalam acara itu ia membawa mobil barunya. Ia pun miris ternyata penghargaan orang masih dilihat dari penampilan luarnya saja.
Namun Allah telah menutupi segala kekurangannya kali ini. Betapa tidak, dalam kehidupan sehari-harinya ia hanya tinggal di rumah tipe 21. Hanya mempunyai satu motor yang dinaiki berlima dengan tiga anaknya itu untuk jalan-jalan. Berdesak-desakan naik kereta api pulang pergi ke kantornya yang baru—katanya lebih hemat naik KRL daripada naik motor. Saudara-saudara jauhnya yang di Bandung tidak percaya semua ini, ketika Indra mengatakan yang sebenarnya tentang mobil itu dan kondisi dirinya. Tidak apa, benar-benar Allah telah menutupi segala kekurangannya.
###
Dua kisah itu dituturkannya kepada kami dalam acara pekanan yang rutin dilakukan. Kisah yang membuat kami terdiam dan melongo dengan begitu banyak kebaikan yang di dapat oleh teman kami ini. Karena menurut Indra selain dua kisah itu, ada lagi kisah lain yang menunjukkan banyaknya pertolongan Allah pada dirinya.
Satu pertanyaan terlontar dari kami, amalan apa saja sehingga Allah begitu murah hati padanya. Indra tidak menjawab. Ia hanya mengutip sebuah ayat:
”… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [Atthalaaq: 64-65]
”Saya sangat meyakini kebenaran ayat ini”, tutur Indra. ”Saya cuma berusaha untuk menjadi salah satu hamba-Nya yang dimudahkan segala urusannya.”
Just it…
Hanya dengan keyakinan dan aksi, iman dan amal, teman saya ini begitu banyak mendapat kemudahan dari Allah. Kisah-kisahnya mendobrak benteng kukuh keangkuhan saya yang hanya mengandalkan kedekatan dengan-Nya—yang entah bermakna atau tidak—untuk sekadar mendapatkan ridha-Nya tanpa ada aksi nyata.
Ia tak perlu kuliah S2 untuk mengerti betul visi dan misi hidupnya. Visi hidupnya cuma sederhana: to be muttaqien. Misinya tak rumit-rumit amat, tidak perlu memenuhi semua komponen misi dari Fred R David yang ada 9 itu: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itu saja.
Sederhana namun perlu pengorbanan dan konsistensi untuk melaksanakan misi itu. Saya kembali ingat tentang penggambaran Umar bin Khaththab ra.saat ditanya sahabatnya tentang hakekat taqwa itu. Umar menjawab dengan menggambarkan betapa hati-hatinya seorang musafir yang berjalan di atas jalan yang penuh onak dan duri agar sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Itulah taqwa, setiap manusia berhati-hati menempuh hidup yang penuh godaan ini untuk menuju terminal terakhir yang abadi, yakni akhirat.
###
Pertemuan itu berakhir membawa kisah dengan sejuta makna. Membawa keyakinan baru, engkau akan mendapatkan begitu banyak kemurahan Allah hanya dengan satu kata taqwa. Cukup dengan kesederhanaan niat, kesederhanaan amal, dan kesederhanaan cinta yang tidak tertutup topeng diplomatis, untuk mencapai ridha-Nya itu.
Temanku, kami tunggu kisahmu yang lain, berikanlah kepada kami nasehatmu bak air wadi ditengah gurun sahara. Menyejukkan, menyegarkan.

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 103
17:57 26 November 2005