SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU


SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU

 

Islamedia Jum’at, pada sebuah khutbah yang membuat air mata jatuh. Paradok dengan sengatan matahari yang menggigit karena saya kebagian tempat di bagian luar masjid. Terkisahkan kembali cerita yang menjadi abadi dan teramat sangat bagus untuk dibagi kepada semua. Cerita itu sudah saya dengar sejak dari kecil tapi seperti baru ketika disampaikan sang khothib.

Ada seorang manusia yang kaya raya, hidupnya bahagia dan tenteram, dengan anak-anak dan istrinya yang taat kepada Tuhannya. Sudah tajir sholeh lagi. Dan Allah mengujinya satu persatu dengan berbagai musibah, akankah ia tetap taat dalam keimanannya?

Bagaimana Allah uji manusia baik dan selalu bersyukur itu? Pertama, Allah cabut kekayaannya. Kalau zaman sekarang mah mulai harta berupa hp, mobil, emas, rumah mewah, kebun sawit, peternakan kuda, dan saham-sahamnya ludes enggak karuan. Bangkrut semua bisnisnya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kedua, Allah uji iman manusia itu dengan mengambil jiwa semua anak yang dicintainya. Coba bayangkan satu anak kita yang sedang lucu-lucunya, yang sedang tumbuh-tumbuhnya diambil kembali oleh Allah. Kita sudah sedih bukan main rasanya. Tapi manusia ini diuji imannya dengan diambil seluruh anak-anaknya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Ketiga, tidak berhenti sampai di situ Allah uji kembali manusia itu dengan mengambil kesehatannya. Tiada yang sehat seluruh anggota tubuhnya melainkan hati dan lisannya. Sampai-sampai semua keluarganya menjauh karena takut tertulari. Bahkan istrinya yang sehat pun dikucilkan pula. Lengkap sudah penderitaan manusia ini. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Jiwanya tidak terguncang. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kekayaannya dicabut, dimiskinkan permanen. Anak-anaknya dimatikan. Dan tubuhnya disakitkan selama 18 tahun. Kalau saja manusia itu adalah saya, tak tahulah apa yang terjadi. Tapi sungguh cerita ini menjadi keteladanan bagi umat manusia yang beriman. Dan manusia itu adalah Ayub As.

Sabtu, pada suatu dhuha yang hangat, dengan mengendarai mobil menyusuri jalanan lengang komplek Pemda Cibinong, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya saya mencoba menghitung kembali nikmat yang saya rasakan. Alhamdulillah sehat, alhamdulillah dengan istri dan anak-anak yang masih lengkap, alhamdulillah juga masih bisa ibadah walau sedikit, alhamdulillah masih diberikan ketenangan. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Ahad, pada suatu petang, handphone itu tak ada di saku. Saya panik dan segera mencarinya. Jantung berdegup kencang tak seperti genderang perang. Saya segera mengingat-ingat tempat yang baru dilewati. Di tempat parkir barusan? Di musholla? Di sepanjang koridor menuju ruang utama? Di tempat makan? Atau di mana?

Alamaak!! Hp yang satunya ketiadaan pulsa. Niatnya untuk ngebel hp yang hilang itu dan ini berarti saya harus pinjam hp teman. Sedangkan teman-teman pada jam menjelang isya ini kebanyakan sudah kumpul di ruangan utama. Bergegas saya ke sana. Menemui teman dan meminjam hpnya. Belum juga dering kedua berbunyi mata saya tertumbuk pada sebuah meja makan. Dan benda warna hitam itu masih anteng di sana. Pfffhtt…

Hp saya itu hp China. Jadul. Masih pakai tombol untuk pencet nomornya. Tidak touchscreen. Sudah bulukan. Itu pun dikasih sama teman. Enggak tahu apa masih laku kalau dijual. Nomornya pun bukan nomor cantik atau yang sudah diketahui banyak teman. Tapi itu saja sudah membuat saya seperti kehilangan sesuatu yang paling berarti, seperti kehilangan seluruh harta benda. Seperti enggak ikhlas. Ck…ck…ck… Ini tanda-tanda apa yah? Cinta dunia? Bisa jadi. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Dua tahun yang lalu di awal Juni, api membakar dan menghancurkan bagian atas rumah saya. Mengingat itu saya teringat perkataan Ishaq yang dikutip Aidh Al Qarni, “Barangkali Allah akan menguji seorang hamba dengan suatu malapetaka, tetapi kemudian menyelamatkannya dari kehancuran. Oleh sebab itu, sebenarnya malapetaka bisa menjadi karunia.” Insya Allah waktu itu saya mampu untuk tegar.

Saya memang bukan Ayub tapi berusaha untuk menjadi Ayub yang mampu menghadapi semua perusak kenikmatan dunia itu. Petaka lalu setidaknya memberikan banyak pelajaran kalau harta yang hampir hilang sebatas hp itu seharusnya tak membuat perhatian teralihkan dari mengingat Allah. Cukuplah Allah sebagai penolong untuk segala urusan. Kali ini saya tak setegar waktu itu, Yaa Rabb…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Twitter: @rizaalmanfaluth

dedaunan di ranting cemara

03 Juni 2012

Sumber gambar: diambil dari Islamedia

Tags: ayub, pemda cibinong

Yth. Bro and Sist…


 

Yth. Bro and sist semua

di manapun berada.

 

Bro and Sist…apa kabar pagi ini? Saya harap bro and sist semua baik-baik saja. Sehat semuanya. Jasmani dan ruhaninya. Bangun tidur tadi pagi dengan penuh semangat dan keceriaan. Walaupun pahitnya hidup masih dirasa di pelupuk mata, tapi anggaplah itu sebagai pelangi agar hidup kita terasa lebih berwarna. Yang tak punya problema hidup berat, bersyukurlah ternyata Tuhan masih banyak memberikan kepada kita nikmat yang lebih daripada yang masih tidur di kolong-kolong jembatan itu.

Bro and sist…saya mau cerita nih. Saya harap cerita ini bermanfaat buat kita semua. Cerita ini teramat menggugah saya. Dikisahkan dari teman baru saya yang berasal dari Sidoarjo sana. Kurang lebihnya begini ceritanya bro and sist.

Ada tiga orang terpidana mati. Mereka akan dihukum mati malam ini. Caranya? Mereka akan dimasukkan ke dalam kotak sempit dan gelap. Dari celah sempit yang sengaja dibuat di kotak itu terjulur ke luar selang seukuran jempol manusia.

Sebelum mereka dimasukkan, algojo membisikkan sesuatu kepada mereka, “kamu akan dijebloskan ke dalam kotak itu dan saya akan alirkan gas beracun itu pelan-pelan ke dalamnya, lalu kamu akan mati perlahan-lahan.”

Apa yang terjadi bro and sist dengan ketiga terpidana mati itu? Keesokan paginya, saat kotak itu dibuka, dua orang mati sedangkan satu lainnya sekarat. Padahal, bro and sist, tidak ada sedikitpun gas beracun yang dialirkan ke dalam kotak itu. Lalu mengapa mereka mati? Pikiran mereka yang menyakiti dan membunuh mereka sendiri.

Begitulah bro and sist, di saat pikiran kita telah tertanam sesuatu yang negatif maka pikiran dalam otak yang ada di batok kepala kita itu mengirimkan sinyal-sinyal negatif dan mematikan kepada seluruh anggota tubuh.

Otak dengan sinyal-sinyal elektriknya akan memerintahkan kaki untuk tidak bergerak, darah untuk berhenti mengalir, jantung untuk stop berdenyut, dan seluruh tubuh untuk menjadi pecundang. Mati. Maka matilah ia.

Bro and sist, yang dibutuhkan seorang karateka, petinju, pesepak bola, pegolf, pesilat, pedayung, petenis meja, atau olahragawan lainnya selain dari keahlian teknis yang harus dikuasai untuk memenangkan pertandingan maka kekuatan mental juara harus dimiliki oleh mereka. Pantang menyerah sebelum bertanding. Pantang ada kata “kalah” dalam pikirannya.

Karena jika “kalah” itu sudah menjadi penguasa dalam pikirannya maka otak akan memerintahkan kaki, tangan, siku, lutut, dan organ tubuh lainnya untuk diam, kalah, takluk, ambau, tumbang, dan tunduk. Ia menjadi pecundang.

Bro and sist, itulah yang namanya kekuatan berpikir. Dan betullah apa yang telah dikatakan teladan kita, Muhammad saw, kalau Tuhan itu tergantung dari prasangka hamba-Nya. Kalau hambanya ketika bangun tidur sudah pesimis duluan dalam menghadapi hidup maka ia seharian itu seakan mempunyai dunia yang seolah neraka. Tak memberinya kebahagian. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan kepedihan.

Kalau hamba-Nya di saat berdoa tak mempunyai keyakinan untuk dikabulkan doanya, ya sudah Tuhan juga tak perlu untuk mengabulkan doa hamba-Nya itu. Begitupula sebaliknya.

Pun, kalimat yang terlontar dari lidahnya pada saat menjenguk orang yang sakit adalah kalimat-kalimat positif yang mengandung kekuatan luar biasa. Laa ba’tsa, thohurun, Insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

Bro and sist…membaca cerita itu saya jadi malu kepada diri sendiri. Terlalu banyak nikmat yang diberikan kepada saya tetapi saya begini-begini bae. Maksudnya kalau dilihat dari grafik naik atau turunnya iman, kayaknya degradasinya terlalu tajam. Bro and sist bagaimana? Saya harap tidak lah yah…

Bro and sist… orang yang terbaik di antara kita bukanlah orang yang selalu benar, tetapi yang terbaik adalah orang yang ketika ia salah ia lalu menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Itulah yang terbaik di antara kita. Dan tentunya ada sebuah asa dari saya kalau bro and sist lebih baik daripada saya.

Bro and sist…kembali kepada masalah kekuatan berpikir itu, maka kita hendaknya selalu bertekad untuk memenuhi hidup kita dengan sebuah keyakinan yang positif, positif, dan positif. Yah…minimal ketika bangun dari tidur kita berpikir seperti ini:

Kalau ada hutang yang menumpuk, ah…yakin suatu saat pasti terbayar. Insya Allah.

Jika ada sakit yang menyeri tak tertahankan, ah…yakin hari ini juga akan sembuh. Insya Allah.

Andaikata ada beban pekerjaan yang teramat sulit, ah…yakin hari ini dimudahkan. Insya Allah.

Jikalau ada cinta yang tertolak, ah…yakin hari ini cinta itu baru, datang, dan kembali. Insya Allah.

Andaikan ada hati yang tersakiti, ah…yakin pintu maaf itu akan terbuka lebar darinya. Insya Allah.

Kalau-kalau ada rezeki yang tak kunjung datang, seperti IPK (imbalan prestasi kerja) misalnya, ah…yakin rezeki itu tak akan lari ke mana. Insya Allah.

Semampang ada penyejuk mata yang tak kunjung hadir untuk menghibur kita, ah…yakin purnama depan ada bulan yang terlambat datang menjemput kita atau pasangan kita. Insya Allah.

Semisal jabatan tak kunjung naik, ah…yakin ada yang lebih baik daripada sekadar itu. Insya Allah.

Senyampang kita tak kunjung berkumpul dengan keluarga karena bertugas nun jauh di sana, ah…yakin kita bisa berhimpun dengan mereka besok. Insya Allah.

Seumpama ada hasil ujian yang mengecewakan, ah…yakinlah tahun depan kita lulus dan masuk menjadi peserta yang terbaik. Insya Allah.

Sekiranya ada begitu banyak cita yang belum terwujud sedemikian rupa, ah yakinlah semua itu akan terjadi untuk kita semua besok. Insya Allah.

Ihwalnya adalah sudahkah kita meminta semua itu kepada Tuhan? Sudahkah dengan sebuah keyakinan yang teramat positif?

Bila dua pertanyaan itu terjawab dengan satu kata lima huruf “sudah”, yakinlah semua itu tinggal menunggu waktu.

Dengan izin Allah, Bro and Sist…

***

Artikel ini khusus saya persembahkan buat teman-teman milis dedaunan (pajak.go.id). Tidak saya unggah di manapun sebelum bro and sist menikmatinya terlebih dahulu.

Herlin Sulismiyarti ; HARTYASTUTI ; Harsoyo ; GANUNG HARNAWA ; Fee ; Euis Purnama Sari ; Erwinsyah ; Erwan ; Ervan.Budianto ; Erni Nurdiana ; ERIN FADILASARI ; Erfan ; ENI SUSILOWATI ; EMMA KATANINGRUM ; ELDES GINA KENCANAWATI MARBUN SS ; Dina LestariDian Rahmawati ; DEWI DAMAYANTI ; DEWI ANDRIANI ; DESIANA WITIANINGTYAS ; DESI PURBI MULYANI ; CUCU SRI RAHAYU BOTUTIHE ; Binanto Suryono ; Ayu Diah Rahmayati ; Awik Setyaningsih ; Ardiana ; ANTON RUKMANA ; ANIK NOERDIANINGSIH ; ANANG ANGGARJITO ; AMRAN ; ALIYAH ; AL MUKMIN ; Agus Budihardjo ; Agung.Susanto ; Ade Hasan Pahru Roji ; Abdul Manan L. L. M. ; 060089104-MOHAMMAD SUROTO ; BUDI UTOMO

ZAKKI ASYHARI ; UJANG SOBARI ; UHA INDIBA DRS ; TUJANAWATI ; TRI SATYA HADI ; Tosirin ; Tjandra Risnandar ; Titik Minarti ; Tintan Dewiyana ; SULISTIYOWATI ; SITI NURAINI ; Setyo.Harini ; RULI KUSHENDRAYU ; ROOS.YULINAPATRIANINGSIH; RINA FEBRIANA SITEPU ; RIMON DOMIYAN ; Ratna Marlina ; Nugroho Putu Warsito ; NANA DIANA ; NADY SAPUTRA ; LISTYA RINDRAWARDHANI ; LIA YULIANI ; LAYLI SULISTIORINI ; Larisman Gaja ; KHURIAH NUR AZIZAH ; Khadijah ; Ita Dyah Nursanti ; IRMA HANDAYANI ; INDRIA SARI ; IMAMUDDIN HAKIM ; Ikaring Tyas Aseaningrum ; Ibu Leli Listianawati ; Ibu Mona Junita Nasution; HERRI RAKHMAT SE.AK ; HERPRANOTO ; ROSVITA WARDHANI

 

 

Tags: muhammad, ipk, imbalan prestasi kerja, hukuman mati, terpidana mati

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

07.59 16 Desember 2010

 

 

 

DOA MUTASI


 

Ini kisah nyata yang dituturkannya kepada saya. Pada bulan Ramadan beberapa tahun lampau, saat itu ia masih menjadi mahasiswa Al-Azhar di Kairo. Sore menjelang berbuka puasa, flatnya kedatangan tamu besar. Seorang pimpinan tertinggi atau Mursyid ‘Am dari organisasi oposisi terbesar di Mesir, Ikhwanul Muslimin.

Tentu dengan senang hati ia menyambut tamu tersebut. Yang membuat ia bertambah terkejut adalah kehendak Mursyid ‘Am itu agar ia memberikan kultum kepada para seluruh jemaah ifthor jama’i (berbuka puasa bersama-sama). Ah, bagaimana bisa seorang mahasiswa memberikan nasehat kepada seorang ulama besar? Namun, mau tidak mau ia harus melakukannya.

Akhirnya ia memberikan sedikit ceramah agama kepada para tamunya. Saat diperhatikan, Mursyid Am tersebut mendengarkan dengan saksama dan penuh perhatian sampai kultum itu selesai. Dan apa yang dikatakannya kepada mahasiswa yang barusan memberikan kultum tersebut? “Saya benar-benar seperti mendapatkan sesuatu yang baru dari antum.”

Sesuatu yang baru itulah yang beberapa minggu lalu saya dapatkan. Saya sering mendengarkan ceramah atau nasehat dari banyak orang ataupun membaca dari banyak referensi, tetapi apa yang dikatakan teman saya yang satu lagi ini pun seperti baru saja terdengar di telinga saya. Belum pernah diucapkan oleh para ustaz ataupun seperti belum tertulis di buku mana pun.

Ya, saat itu lagi musim mutasi dan promosi. Mulai dari eselon dua, tiga, hingga empat. Hingga gejolaknya terasa oleh saya dan teman saya ini. Saat kami berbincang-bincang mengenai masalah ini, tercetuslah keinginan yang paling dalam dari dirinya yang pernah ada, kalau bisa sih penempatan di Bandung saja. Sebuah kota besar dan tentu dekat dengan keluarga.

Namun, katanya lagi, lama kelamaan ia berpikir dan mulai tak pedulikan semua itu. Entah ia akan ditempatkan di mana saja ia cuma berharap Allah memberikan keberkahan buat dirinya. Oleh karenanya ia mengamalkan doa yang pernah terucap oleh Nabi Nuh dalam Surat Al-Mu’minuun (surat ke-23) ayat 29: robbi anzilnii munzalan mubarokan wa anta khairul munziliin. Ya Rabb, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Katanya lagi, apa yang menurut kita adalah tempat terbaik dan paling disukai oleh dirinya dan orang lain belum tentu terbaik dalam pandangan Allah. Belum tentu baik buat keluarganya dan dirinya. Nah, dengan doa ini ia berharap segala penempatan yang terjadi akan membawa keberkahan buat dirinya, keluarganya, rezekinya, agamanya, karirnya, dan semuanya.

Sungguh teman, doa itu benar-benar seperti baru saya dengar, seperti baru saya tahu. Dan saya memang belum tahu. Saya langsung dawamkan doa itu. “Lebih baik begitu daripada ngedumel menunggu SK mutasi enggak keluar-keluar,” kata teman saya yang lain.

Thanks Bro, atas nasehatnya. Ini berkesan buat saya. Dan saya berharap ini baik buat Anda para pembaca ….

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis di lantai 4 sepulang dari rakorda

19:54 WIB 04 Agustus 2010

Foto dari Chatgpt

Pemesanan Buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang silakan klik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

CARA AJAIB AGAR PERKATAAN ANDA DIDENGAR DAN DITAATI


CARA AJAIB AGAR PERKATAAN ANDA DIDENGAR DAN DITAATI

Saya pernah membaca kisah di bawah ini. Entah kapan. Tetapi sepertinya sudah puluhan tahun lampau. Entah pada saat saya di sekolah dasar atau pada saat saya sedang kuliah. Namun itu tak penting. Yang penting adalah pati kisah itu melekat kuat di benak saya. Kuat sekali. Kisah sebuah keteladanan.

    Sabtu sore, saya sedang menulis sesuatu. Kebetulan terkait masalah kemunafikan. Lalu saya ingat kembali kisah itu. Tetapi karena khawatir jalan ceritanya menyimpang, saya tunda untuk menuliskannya.

    Saat jelang maghrib, saya melihat sebuah majalah wanita. Saya iseng mengambil dan membolak-balikkan halamannya. Kali saja saya dapat materi yang bagus untuk saya transfer dan bagi kepada jama’ah masjid. Kemudian mata saya terantuk pada sebuah rubrik yang diasuh oleh Ustadz Musyafa Ahmad Rahim yang membahas hadits Ar’bain nomor 28.

Subhanallah, kebetulan luar biasa, di sana ditulis juga tentang kisah yang saya ingin tulis, kisah yang sudah lampau sekali terekam dalam memori saya dan saya temukan kembali. Saya langsung ingin menceritakannya pada Anda semua Pembaca, semoga bermanfaat.

Diceritakan bahwa Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang ulama tabi’in, dikenal seorang ulama yang mau’izhahnya sangat berkesan. Saat dilakukan penelusuran dan penelitian, ternyata rahasianya adalah kesesuaian antara ucapan dengan perbuatannya.

Pada suatu hari sekumpulan hamba sahaya mendatangi Al-Hasan Al-Bashri, mereka meminta kepadanya agar dalam forum mau’izhah mendatang beliau berbicara tentang keutamaan memerdekakan budak. Harapan mereka, para pendengar mau’izhahnya yang banyak dari kalangan para tuan mereka, akan langsung memerdekakan para hamba sahayanya. Mendengar permintaan tersebut, Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Insya Allah.”

Ternyata saat majelis mau’izhah dibuka, dia tidak menyampaikan keutamaan memerdekakan budak. Maka para hamba sahaya itu mendatanginya lagi dan mengulangi permintaan yang lalu. Al-Hasan Al-Bashri menjawab permintaan mereka dengan mengatakan, “insya Allah.” Dan saat forum mau’izhahnya dibuka, dia pun tidak menyampaikan tema keutamaan memerdekakan budak. Dan para hamba sahaya itu mendatanginya lagi dan mengulangi permintaan mereka sebagaimana yang lalu.

Pada saat waktu mau’izhahnya tiba, Al-Hasan Al-Bashri menyampaikan tema keutamaan memerdekakan budak. Benar saja para tuan yang hadir dalam forum itu langsung memerdekakan hamba sahaya mereka. Dan jadilah mereka manusia-manusia merdeka.

Para hamba sahaya yang telah menjadi manusia merdeka itu pun mendatangi Al-Hasan Al-Bashri lagi. Mereka mengucapkan terima kasih sekaligus celaan, kenapa tidak dari awal Al-Hasan Al-Bashri menyampaikan mau’izhah tentang keutamaan memerdekakan budak. Kalau demikian, niscaya mereka telah menjadi manusia merdeka sejak kemarin-kemarin.

Maka Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan, bahwa waktu mau’izhah pertama tiba, dia belum mempunyai uang untuk membeli budak. Begitu juga saat mau’izhah kedua. Baru menjelang majelis mau’izhah yang ketiga, dia mempunyai cukup uang untuk membeli budak. Lalu di depan khalayak, ia langsung memerdekakan semua budak yang dibelinya. Setelah itulah dia baru bisa berbicara tentang keutamaan memerdekakan budak. Subhanallah. (Majalah Ummi No1/XXII/Mei 2010/1431 H)

**

Saya mengambil sari yang mudah dicerna buat para sahabat-sahabat saya di lingkungan rumah saya dan tentunya buat saya pribadi juga, karena ini merupakan nasehat besar. Bahwa kalau ingin perkataan kita didengar dan ditangkap dengan baik oleh istri dan anak-anak—sebagai kumpulan individu yang paling dekat–kita, maka selaraskanlah antara perkataan dan perbuatan.

Ya, bagaimana menginginkan anak kita ketika adzan maghrib terdengar, mereka langsung mematikan televisi, play station, komputernya untuk segera berbondong-bondong ke masjid sedangkan diri kita cuma bisa menyuruh dan masih saja menikmati acara televisi?

Atau bagaimana menginginkan anak kita tidak merokok, sedangkan diri kita masih mempertontonkan nikmatnya klepas-klepus di depan mereka? Dan bagaimana mungkin menginginkan istri-istri kita menjadi sholihah, sedangkan kita malas untuk mendatangi halaqah, majelis dzikir, dan majelis ilmu lainnya?

Ohya, ibarat motor selain diisi dengan pertamax maka perlu ditambah pula dengan cairan suplemen agar larinya bisa sekencang mungkin. Begitu pula agar perkataan kita bisa didengar lebih berbobot dan mantap lagi oleh pasangan hidup dan anak-anak kita, selain menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan, maka ada satu suplemen pelengkapnya: Shalat Malam.

Ya betul, pada saat shalat malam itu Allah menurunkan kepada para pelakunya perkataan yang berat. Insya Allah semua akan mendengar perkataan kita dan meresapinya dalam hati. Saya berharap Anda dan saya bisa menerapkannya.

Kiranya para pemimpin di republik ini perlu juga menerapkan cara ini agar perkataannya bisa didengar, diikuti, dan tidak dilecehkan oleh masyarakatnya sendiri. Tak perlu buang uang untuk membeli suara rakyat saat pemilihan umum tiba. Tak perlu bayar mahar atau pergi ke dukun untuk buka-bukaan aura segala. Inilah sebuah cara ajaib untuk menundukkan hati.

Demikian. Semoga bermanfaat.

*** )I(***

 

Mau’izhah atau al-wa’zhu adalah nasehat dan pengingatan tentang suatu akibat atau akhir dari kejadian atau kesudahan dari sebuah perjalanan.

    Maraji’: Al-Muzzammil ayat 5, Majalah Ummi No1/XXII/Mei 2010/1431 H

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.49 11 Mei 2010

SA’ATUSH SHADR: BERSYUKUR ATAS MUSIBAH


SA’ATUSH SHADR

Sahabat saya bercerita lagi kali ini. Sekarang ia menceritakan pengalamannya saat naik Kereta Rel Listrik (KRL) Jakarta Bogor. Seperti sudah kita ketahui bersama kalau sore hari KRL jurusan itu tentu penuh sesak. Bahkan lantai duanya—sebutan untuk atap kereta—penuh juga dengan orang walaupun berresiko terkena sengatan listrik tegangan tinggi.

Sahabat saya itu ditegur oleh seorang laki-laki separuh baya, “Pak, handphone-nya hilang ya Pak… ” Langsung dengan reflek sahabat saya merogoh saku celananya. Dan betul, telepon genggamnya sudah tidak ada lagi.

“Sewaktu di stasiun tadi saya melihat ada yang merogoh saku Bapak. Kayaknya gerombolan tuh yang nyopet, soalnya cepat sekali lenyapnya,” imbuh lelaki itu.

“Alhamdulillaah…” sahut teman saya.

“Loh kok malah ngomong begitu?” lelaki itu terheran-heran dengan ucapan teman saya.

“Iya…mungkin handphone itu saya dapatkan dengan cara yang tidak baik. Mungkin saya juga pelit sehingga harus dipaksa infak dengan cara itu.”

Lelaki itu terdiam. Kemudian ia mengambil dompetnya yang ia taruh di suatu tempat yang aman di tubuhnya. Lalu mengambil uang sebesar Rp300.000,00 dan menyerahkannya kepada teman saya.

“Ini tambahan buat beli handphone baru lagi. Terima saja. Soalnya saya baru pertama kali bertemu dengan orang seperti Bapak.”

Tentu teman saya yang sedang tertimpa musibah itu menerimanya dengan senang hati.

***

Saya terus terang saja terperangah dengan cerita teman saya itu. Belum tentu saya bisa melakukan apa yang dilakukannya apabila saya berada dalam posisi yang sama dengan dirinya. Dan inilah tingkatan sabar yang tertinggi.

Ada yang menguraikan tingkat kesabaran dalam beberapa hal. Yang pertama dan paling bawah adalah ketika seseorang diberi ujian musibah ia marah-marah kepada Allah swt. Yang kedua ia dapat menjaga lisannya dari mengeluarkan perkataan yang tidak baik walaupun hatinya masih mengomel. Yang ketiga ia ridha dan menerima dengan lapang dada terhadap ketentuan Allah tersebut. Dan yang tertinggi ia mengucapkan syukur atas musibah yang menimpanya.

Ada perbedaan dari dua tingkatan pertama dengan dua tingkatan terakhir. Yang kedua sudah tentu tidak melakukan kegiatan yang pertama. Namun tingkatan yang keempat sudah pasti ia melakukan tingkatan yang ketiga, yakni berlapang dada.

Rasa syukur adalah tingkatan sabar dan lapang dada yang tertinggi. Karena sejatinya sabar dalam menghadapi salah satu bencana yang mengguncangkan disebut lapang dada (sa’atush shadr).

Allahu’alam saya mampu tidak untuk dapat sa’atush shadr seperti teman saya itu. Sabar saya mungkin cuma berada di level kedua. Tapi saya selalu berharap untuk bisa naik level kesabaran itu. Tentu salah satunya dengan belajar dari pengalaman teman-teman saya. Teman saya dan Anda Pembaca adalah guru kehidupan saya.

Semoga saya bisa menjadi murid yang baik bagi Anda.

***

Maraji’: Tazkiatun Nafs, Said Hawa hal: 372

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.15 29 April 2010

ditulis untuk taujih forum tarbiyah

CARA ALAMIAH DJP LEBIH BERSIH LAGI


CARA ALAMIAH DJP UNTUK BERSIH-BERSIH

Sabtu, pukul 10.34 WIB, saya bersama istri sudah berada di Puskesmas Bojonggede. Niatnya kami ingin meminta surat rujukan Askes untuk periksa di rumah sakit di Jakarta. Ternyata ketika sampai di loket kami ditolak dengan alasan Kartu Askes kami yang baru belum bisa diaplikasikan di sistem administrasi Puskesmas. Jadi kami harus pakai kartu Askes kami yang lama. Padahal kami tidak membawanya.

Terpaksa saya harus pulang kembali ke rumah dalam jangka waktu 20 menit, karena pendaftaran Puskesmas ditutup pada pukul sebelas siang. Istri bersama Kinan saya tinggal di Puskesmas. Saya langsung ngebut. Alhamdulillah, ketika sampai di Puskesmas, masih ada waktu dua menit lagi menurut jam HP saya. Tapi loket pendaftaran sudah ditutup dengan tirai. Petugas langsung mengerti bahwa saya adalah warga yang tadi sudah datang sebelum jam sebelas. Akhirnya kami dapat diterima.

Ketika mulai pemeriksaan, kami di panggil masuk oleh dua orang dokter yang ada di dalam suatu ruangan. Lalu kami ditanyai tentang problem kesehatan kami. Sampai suatu saat, wanita dokter yang memeriksa istri saya bertanya, “Ibu dari instansi mana?”

“Kementrian Keuangan,” jawab istri saya.

“Dari pajak, Bu?”

“Bukan, noh…dia yang dari pajak,” kata istri sambil menunjuk saya.

Dua wanita dokter itu langsung tertawa, sambil menyindir-nyindir saya.

“Bapak dapat berapa milyar dari Bahasyim?” tanya salah satu dari mereka.

“Rumahnya mewah dong Pak.”

Istri saya langsung jawab, “Bu, tergantung orangnya. Kalau benar ada uang milyaran sih, kami enggak mungkin tinggal di CItayam.”

“Kan bisa tinggal disini. Untuk kamuflase gitu…”

“Bu, kalau benar dugaan itu, tentu kami tidak akan datang ke sini untuk meminta surat rujukan Askes. Ngapain kami datang capek-capek kemari,” kata saya menambahkan.

Tapi memang semua itu saya anggap sebagai guyonan belaka. Saya tanggapi dengan senyuman. Karena mau apalagi, sudah jelas-jelas Bahasyim Asyifii itu adalah orang pajak yang punya banyak harta. Walaupun dia tidak bekerja lagi di pajak sejak tahun 2007.

Saya enggak kenal dengan Bahasyim. Saya tidak dapat apa-apa dari Bahasyim. Tapi getahnya kami-kami ini juga yang merasakan. Sabar saja deh saya menanggapinya. Percuma saya tanggapi karena mereka lebih percaya kepada media. Mungkin ini juga pengaruh dari suasana saat itu. Coba kalau tidak dalam suasana dikejar-kejar oleh waktu, saya mungkin akan memberikan penjelasan panjang lebar.

Seperti pada saat hari Ahad pekan yang lalu (4/4), dalam sebuah seminar yang saya ikuti, saya berteriak lantang ketika pembicaranya menyerempet-nyerempet masalah Gayus Tambunan. Katanya Gayus itu ketahuan karena apes, tertangkap cuma satu padahal masih banyak yang lainnya.

Sungguh saya tersinggung kali ini. Saya bilang di hadapan ratusan peserta seminar itu, “Perkataan Anda membuat saya tersinggung. Tidak betul apa yang Anda katakan itu. Berikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya agar tidak terjadi generalisasi yang semena-mena.”

Pada sesi tanya jawab itulah saya menerangkan dengan panjang lebar tentang permasalahan Gayus. Bahkan saya menantang kepada siapapun peserta seminar ini kalau memang ada dari instansi Bea dan Cukai, lebih bersih mana antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) atau Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)? Saya meyakinkan kepada para peserta seminar bahwa DJP setidaknya lebih bersih daripada DJBC pada saat ini. Saya minta maaf kepada teman-teman dari BC, ini fakta loh. Tapi saya juga tidak menggeneralisir semua orang dari Instansi Anda. Saya yakin ini juga oknum.

Ya, saya berani mengungkapkan itu karena saya yakin DJP itu tidak sebejat yang mereka pikirkan. Permainan Gayus bukan permainan sebuah sistem tetapi permainan yang dilakukan oleh orang per orang untuk mengumpulkan harta tidak halal sebanyak-banyaknya.

Tetapi entah kenapa Allah kemudian menunjukkan kepada saya tentang masih banyaknya permainan yang dilakukan oleh oknum pegawai DJP selain Gayus. Oh… memang ternyata masih ada juga pegawai yang seperti itu. Tetapi tetap dengan sebuah keyakinan bahwa itu hanyalah sebagian kecil saja. Bukan kebanyakan dari pegawai pajak. Tetapi tetap saja kelakuan mereka seperti tusukan dari belakang. Sakit sekali. Kita berusaha menciptakan citra DJP yang bersih ternyata saudara-saudara kita yang ada di DJP masih melakukan itu. Sungguh mengecewakan. Tapi itu harus diakui, karena mereka eksis.

Lalu dengan pemikiran itu saya pun bersikap defensif saja. Hujatan dan makian saya terima walaupun dengan hati yang gondok. Manusiawi bukan?

Saya berharap bahwa ini adalah upaya Allah untuk membersihkan DJP dari oknum-oknum seperti itu. Saya terima saja. Ibarat kata ketika seorang pendulang emas ingin menemukan bongkahan emas, maka apa yang ia lakukan coba? Ia mengayak tanah yang mengandung emas itu dengan keras. Lalu menyortir dan menelitinya, lagi dan lagi. Ketika tidak diketemukan, segera ia kemudian mencelupkan tanah itu dengan air dan mengayaknya lagi. Apatah lagi ditambah dengan campuran zat kimia air raksa yang menyakitkan itu. Keras dan keras.

Lalu apa yang ditemukan oleh pendulang emas itu pada akhirnya? Mendapatkan emas yang ia cari lama-lama dengan sekuat tenaga itu, menyisihkannya dari tanah yang tidak punya arti itu. Lalu mengumpulkan emas itu dengan emas-emas yang lainnya. Dan apa yang terjadi dengan sisa tanah yang ada? Dibuang jauh-jauh. Karena ia tidak berguna, tak berarti apa-apa.

Ibarat itulah. Saya selalu berbaik sangka, bahwa semua hujatan, kecaman, dan kritikan yang masyarakat berikan kepada kami adalah dalam rangka memilih emas yang berharga dan mengubur dalam-dalam tanah yang tak bernilai itu. Mengumpulkan yang bersih-bersih agar yang kotor-kotor itu tidak ikut dalam sistem lagi. Sekali lagi walaupun pahit untuk dirasa oleh kita. Selama kita sendiri yakin kalau kita idealis, silahkan diobok-obok.

Biarlah yang kotor itu tersingkir dengan proses yang alamiah. Mungkin beginilah seleksi alam yang harus dialami oleh DJP, cara halus tidak bisa sehingga harus diobok-obok dulu agar senantiasa bersih sebagaimana harapan masyarakat.

Ya, saya senantiasa berharap bahwa prahara yang dialami oleh DJP ini segera cepat berakhir. DJP lebih bisa berbenah lagi. Mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi. Lalu saya pun tak perlu disindir-sindir lagi oleh yang lain.

Saya berdoa pada Allah semoga dijauhkan dari segala fitnah. Allahumma inni a’udzubika minal fitani. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.15 11 April 2010

Kepada semua kawan di DJP,

tunjukkan kepada masyarakat

bahwa kita masih punya

integritas yang tinggi.


PEJABAT SOK KUASA


PEJABAT SOK KUASA

Seperti biasa, saat menunggu kereta rel listrik (KRL) tiba adalah waktu yang asyik untuk mengobrol apa saja. Nah kali ini teman seperjalanan pulang kantor saya ini bercerita tentang pertemuannya dengan seorang mantan pejabat. Mulanya karena sama-sama menunggu antrian di sebuah rumah sakit. Lalu kemudian saling menegur dan berlanjut kepada perkenalan.

“Kerja di mana Mas?” tanya mantan pejabat yang sudah terlihat banyak rambut putih di kepalanya itu.

“Di kantor pajak Pak,” jawab teman saya itu.

“Loh saya juga dulu kerja di kantor pajak,” sahut orang tua itu. Ternyata ia mantan kepala kantor. Obrolan pun tambah seru dengan pernak-pernik pengalaman kerja dan ingatan dengan teman-teman yang mungkin dikenal.

Sampai suatu ketika orang tua itu berpesan pada teman saya itu, “kalau sudah jadi pejabat jangan sering-sering marah, ojo dumeh, jangan sok kuasa, jangan mentang-mentang. ”

Emang kenapa Pak?”

“Yang sering seperti itu baru akan merasakan akibatnya setelah pensiun nanti. Saya yang tidak seperti itu saja merasa diasingkan apalagi yang sering sewenang-wenang di kantor. Coba Mas rasakan sendiri saja nanti saat pensiun. Enggak ada lagi yang akan berkunjung ke rumah. Enggak ada lagi yang akan menjenguk kita saat sakit. Sekadar menelepon pun tidak akan ada lagi,” tutur bapak itu panjang. Teman saya terdiam dengan seksama, mendengarkan penuh perhatian.

“Bahkan ternyata yang menengok saya di rumah sakit dan memberikan perhatian lebih kepada saya adalah tetangga-tetangga satu RT saya. Bukan orang-orang pajak itu. Makanya baik-baiklah dengan tetangga kita di rumah . Artinya begini Mas bukannya saya menyalahkan teman-teman satu korps kita itu, tetapi selayaknya memang persaudaraan itu janganlah persaudaraan semu yang hanya dibatasi dengan strata atasan dan bawahan.”

“Jadilah juga atasan yang baik dan ramah kepada bawahan kalau di kantor. Ada yang bilang, kelakuan kita di kantor juga berbanding lurus dengan pergaulan kita di masyarakat. Khawatirnya adalah kalau di kantor saja sudah sewenang-wenang dan kemudian diasingkan oleh teman sejawat saat pensiun bagaimana pula dengan pergaulannya di tengah masyarakat. Jangan-jangan tetangga pun akan mengasingkan kita. Maka jangan jadi atasan yang dibenci sama bawahan, yang kehadirannya hanya ada untuk ditakuti bukan disegani. Yang kabar kematiannya hanya layak untuk disyukuri dan tidak untuk dilayat.”

***

Kata orang saya adalah tipe pendengar yang baik. Mendengar teman saya bercerita itu saya meresapinya dalam-dalam sampai kepala mengangguk-angguk dan mulut saya mengeluarkan bunyi, “iya…iya…iya”. Sambil merenung. Sambil memikirkan bagaimana nanti keadaan saya pada saat pensiun?

Kalau menyandarkan sesuatu pada jabatan dan kekuasaan hingga menyebabkannya menjadi sok kuasa, sewenang-wenang, bertindak tidak adil, sering marah-marah, maka ketika jabatan dan kekuasaan itu hilang kepada siapa lagi ia akan menyandarkan dirinya itu. Yang ada adalah ia akan menuai hasil dari benih yang ia tanam.

Kalau menyandarkannya hanya pada Sang Pemilik Sejati Kekuasaan di Muka Bumi dan Langit, ia tak takut untuk kehilangan apapun. Ia akan menyadari hakikat dirinya untuk menjadi manusia yang baik di mata manusia dan mata-Nya. Tidak berada pada kutub ekstrim di antara itu. Menjadi manusia paling baik di mata manusia hingga menomorduakan penghambaan dirinya pada Sang Kuasa. Atau menjadi pribadi sholih yang teramat luar biasa tetapi minus tak terhingga pada kesholihan sosialnya.

Betul, Pak Ustadz di masjid saya sering bilang kalau kita kudu betul-betul menghormati tetangga kita. Saudara dekat itu sebenarnya tetangga kita itu. Yang sering direpotkan dengan bisingnya suara dari rumah kita. Yang sering dibuat repot saat mobilnya dipinjam tengah-tengah malam untuk mengantarkan anak kita yang sedang sakit. Yang sering diutangin.

Yang halamannya sering dibuat kotor karena ayam yang tak tahu adat itu buang kotoran sembarangan tanpa minta izin terlebih dahulu boleh enggak eek di sana. Yang rumahnya jadi dapur umum saat rumah kita hajatan. Bahkan yang garasinya
jadi tempat
buat mandiin jenazah kerabat kita karena rumah kita sempit tak memungkinkan untuk itu.

Saya jadi bertanya-tanya tentang penilaian tetangga terhadap saya. Saya sudah memberikan rasa hormat buat mereka tidak yah? Memberi rasa aman dari lidah dan tangan saya tidak yah? Banyak lagi pertanyaan lainnya.

Tapi saya sekarang cuma berpikir, ingin jadi tetangga yang baik buat tetangga saya. Dan baik pada semuanya kalaulah ada kekuasaan di genggaman. Supaya enggak kualat saat pensiun. Itu saja.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:10 18 Maret 2010

 

 

TENGGELAM ATAU MENYELAM


TENGGELAM ATAU MENYELAM

Ada lagi nasehat dari ustadz lain.

“Apa nasehatnya, Dek Riza?”

“Nih ceritanya Pak…”

Apa yang harus dipersiapkan oleh Anda untuk bisa tenggelam? Tidak perlu persiapan adalah jawabannya. Bisa jadi karena kecelakaan atau karena Anda menyengaja dengan menceburkan diri ke dalam kolam berkedalaman lebih dari tiga meter misalnya kemudian tinggal menunggu sentuhan dari malaikat maut. Itu pun jika tidak ada orang lain yang menolong Anda.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dipersiapkan oleh Anda untuk bisa menyelam? Banyak tentunya. Misalnya adalah mencari tempat untuk menyelam, teknik menyelam yang harus Anda kuasai, memakai peralatan khusus menyelam seperti tabung oksigen, regulator, sarung tangan, pakaian selam, masker, snorkel, fin (sepatu katak), speargun jika Anda ingin berburu, dan lain-lainnya. Setelah itu Anda akan bisa menikmati keindahan alam bawah laut dengan segala sensasinya.

Tenggelam dan menyelam. Dua-duanya berada dalam media yang sama yaitu air. Tapi yang pertama tak perlu persiapan dan yang kedua sebaliknya butuh persiapan yang matang betul. Begitu pula dengan keberadaan kita di dunia ini untuk bisa eksis di kehidupan selanjutnya yaitu akhirat.

Bagi yang menginginkan sebuah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan yaitu surga dan bertemu dengan Allah, maka perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Bagi yang tidak mau—maunya cuma tenggelam—ya sudah nikmati kehidupan dunia ini tanpa ada batas tentang halal dan haram. Resikonya adalah bagaimana mau menikmati keindahan alam sedangkan memikirkan bagaimana ia agar tetap selamat saja susah. Hanya itu saja.

Saya mengangguk-angguk lagi.

Terimakasih atas nasehatnya, Tadz. Semoga terkantuk-kantuknya saya dan ngilernya saya mendengar nasehat ustadz di majelis ‘ilmu menjadi bekal kebaikan saya di sana. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

banyak nasehat yang saya dapatkan ketika bergaul dengan orang-orang masjid

dedaunan di ranting cemara

17:40 10 Januari 2010

PENJARA BUAT TIGA MENTERI


PENJARA BUAT TIGA MENTERI

Seorang ustadz pernah bercerita. Begini ceritanya:

Ada seorang raja memerintahkan kepada tiga menteri utamanya untuk mencari buah-buahan. Dengan syarat mereka harus mencari sendiri tanpa menyuruh lagi bawahan mereka. Maka mendengar titah raja, tiga menteri utama itu segera pergi mencari buah-buahan tersebut.

Menteri pertama dengan senang dan gembira mencari buah-buahan yang terbaik, segar-segar, merah-merah, dan manis-manis untuk dipersembahkan kepada rajanya yang ia cintai betul. Sedangkan menteri kedua dengan setengah bersungut mencari buah-buahan itu. Ia pikir tugas mencari buah itu bukanlah tugas buat dirinya yang memiliki jabatan terhormat di seantero negeri itu. Maka menteri itu mendapatkan buah dengan asal-asalan. Yang kuning ataupun merah, yang segar ataupun sudah setengah busuk, yang matang ataupun belum, yang manis ataupun asam bahkan pahit ia kumpulkan jadi satu.

Sedangkan menteri ketiga sebelum mencari saja sudah marah-marah. Ia pikir pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang masuk akal. Bukan level dirinya. Seorang menteri harus berjalan panas-panas dan keluar masuk pasar sendiri hanya untuk mencari buah-buahan. Mengganggu kenikmatannya saja yang selama ini ia dapatkan dari jabatannya itu. Maka dengan penuh kejengkelan bukannya buah-buahan yang akan ia serahkan kepada rajanya itu tapi rumput-rumputan yang ia masukkan ke dalam keranjang.

Singkat cerita ketiganya menghadap raja. Sang raja memperhatikan persembahan ketiga menteri utamanya itu. Tanpa basa-basi sang raja memerintahkan kepada pengawalnya untuk memenjarakan ketiga menteri utama itu dalam penjara yang terpisah selama satu bulan tanpa diberi makanan kecuali dengan apa yang ada dalam keranjang mereka masing-masing.

Walhasil, selama satu bulan menteri pertama itu makan dengan menikmati buah-buahan manis dan matang yang ia peroleh. Sedangkan menteri kedua setengah sengsara memakan buah-buahan yang terkadang manis dan terkadang pahit. Lebih sengsara lagi menteri ketiga selama satu bulan makannya rumput doang. Mbeeekk….

Cerita ini mengajarkan kepada kita untuk menaati perintah—yang enak ataupun buruk—dari Allah sebagai Raja Alam Semesta dengan mencari bekal yang sebaik-baiknya sebagai persiapan untuk akhirat kita. Amal kebaikan yang kita lakukan dan kumpulkan di dunia adalah ibarat buah-buahan yang akan kita nikmati di akhirat. Tentu kita tidak ingin mencontoh perbuatan menteri kedua yang setengah-setengah dalam beramal atau seperti menteri ketiga itu yang telah banyak diberikan kenikmatan di dunia namun menjadi kufur nikmat.

Saya mengangguk-angguk.

Jazaakallah atas nasehat besarnya, Tadz…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17:45 10 Januari 2010

SEBELUM PERTEMPURAN SELESAI


SEBELUM PERTEMPURAN SELESAI

Ahad pagi yang lalu teman saya yang sedang mencalonkan diri jadi Ketua RW di komplek kami menelepon saya untuk menyiapkan dokumen yang hendak disampaikan dalam pidato kekalahannya. Padahal penghitungan suaranya saja belum dilakukan. Rencananya jam sepuluh siang nanti akan dibuka kartu suara yang terkumpul.

Saya mencoba memaklumi suasana kebatinan yang ada pada dirinya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menjadi Ketua RW. Karena saya dorong untuk maju membawa misi menyelamatkan kepentingan masjid,  barulah ia mau.  Formulir pendaftarannya itu pun baru ia serahkan beberapa jam sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Dia hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan diri melawan satu calon lain yang sudah dikenal oleh warga.

Yang menjadi beban berat baginya adalah fitnah ataupun kampanye hitam yang bersileweran tentang dirinya.   Seperti isu tentang dirinya yang menjadi anggota ataupun pengurus sebuah partai politik. Padahal ia adalah seorang Pegawai Negeri Sipil Departemen Keuangan yang dalam kode etiknya disebutkan tentang pelarangan untuk menjadi anggota ataupun simpatisan aktif partai politik.

Kemudian saya mencoba mengirim pesan singkat untuknya. “Sebelum pertempuran benar-benar selesai pantang untuk berbicara kekalahan. Insya Allah Anda yang menang.”

Jam setengah dua belas siang sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak surat telepon genggam saya. “Alhamdulillah, dengan kekuasaan Allah ikhwan kita terpilih menjadi ketua RW. Wassalamu’alaikum.” Selisih suaranya  lima puluh suara. Cukup signifikan  dan cukup untuk sebuah legitimasi kepemimpinan selama tiga tahun ke depan.

Saya mengirim nasihat untuk teman saya itu. “Pak Haji Sholeh, amanah berat sudah menghadang Anda. Saya berpesan kepada Anda jadilah pemimpin yang adil dan amanah. Pemimpin yang menjauhi forum ghibah dan fitnah. Senantiasa menyayangi rakyat,  mustadh’afin, dan anak yatim. Selalu memudahkan urusan orang lain hingga Allah pun akan memudahkan urusan Anda. Ketika pemimpinnya bertaqwa maka RW.17 pun akan diberikan keberkahan Allah. Semoga anda masuk surga. Amin. Wassalam. Riza.

**

Ya, saya ulang. Sebelum pertempuran benar-benar selesai pantang bicara tentang kekalahan. Karena ketika kita berbicara kekalahan maka pikiran akan mengondisikan seluruh tubuh untuk menerima aura kekalahan, kekalahan, dan kekalahan. Maka kita pun akan kalah. Dan Allah pun hanya berdasarkan prasangka hamba-Nya.

Apa yang saya dapatkan dari komik  Naruto mulai Chapter 1 hingga 477 hanya sebuah pesan besar tentang SEMANGAT PANTANG MENYERAH. Semangat untuk tidak berputus asa ketika nyawa masih ada di badan. Semangat untuk tidak menyerah pada keadaan, semangat untuk senantiasa berbuat baik, semangat untuk merubah keadaan, semangat untuk senantiasa menjadi pemenang.

Yaa Ayyuhal ikhwah, semangat itulah yang seharusnya menjadi milik kita! Bukan mereka! Karena kita punya Allah. Dan tidaklah sebuah kemenangan melainkan di sisi Allah. Pun janji-janji-Nya tak pernah diingkari: sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

Kepada Anda yang hari ini sedang berputus asa. Kepada Anda yang hari ini menyerah pada suatu kondisi. Kepada Anda yang hari ini cuma menjadi pecundang saya berkata:

“Karena Anda masih punya nyawa pada saat ini, karena Anda bukanlah bangkai, karena pertempuran belum selesai! maka BANGKITLAH! HIDUPLAH! SEMANGATLAH! Raih harapan Anda. Allah menyertai kita semua. Yakinilah.”

***

Allahua’lam bishshowab

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:24 08 Januari 2010