ISTANBUL: TAHTA ISLAM


ISTANBUL: TAHTA ISLAM

Istanbul [Konstatinopel], 1922
Jabatan sultan pada Kekhalifahan Utsmani dihapus oleh Majelis Agung dibawah kepemimpinan Mustafa Kamal.

Istanbul [Konstantinopel], 29 Oktober 1923
Mustafa Kamal memproklamasikan Republik Turki dan menetapkan jabatan khalifah hanya sebagai pimpinan keagamaan.

Istanbul [Konstantinopel], 03 Maret 1924
Jabatan khalifah dihapus. Abdul Majid II, khalifah terakhir dinasti Utsmani diusir dari istananya dan diperintahkan untuk meninggalkan Turki.

***
Sudah 82 tahun lamanya umat Islam tidak merasakan manis dan pahitnya kekhalifahan. Semua telunjuk diarahkan pada khalifah yang ke-37 (dari dinasti Utsmani ini yakni: Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Kekhalifahan Turki sejak 1876 sampai 1909.
Para sejarawan sepakat bahwa dialah Sultan Turki yang terkenal, paling lama berkuasa, dan masa pemerintahannya berada dipersimpangan jalan. (Syalabi.:1988) Dialah yang berusaha untuk mengadakan perbaikan Turki yang sudah dijuluki sebagai The Sick Man of Europe (orang sakit dari Eropa) namun usahanya ituberakhir sia-sia.
Telunjuk yang diarahkan kepadanya adalah pada masalah kediktatorannya, pemerintahannya yang bersifat absolut dan penuh kekerasan. Sehingga dengan tipe kepemimpinannya yang demikian membuat banyak rakyat sipil dan militer yang tidak suka padanya dan menimbulkan gerakan oposisi yang menggoyahkan sendi-sendi kekuasaannya.
Namun keberimbangan pandangan kepada seseorang juga perlu dikemukakan di sini agar tidak ada pula sikap berlebihan hingga membuang kebaikan-kebaikan yang dipunyainya dan tidak bisa untuk dilupakan begitu saja.
Satu jasa dari Sultan Abdul Hamid II ini yang dicatat oleh sejarah adalah penolakan Sultan Abdul Hamid II terhadap permintaan Zionist Yahudi untuk menetap di Palestina.
Dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmad Syatibi diceritakan kisah penolakan ini: Dikisahkan bahwa sesudah dilaksanakan konferensi Belfore (1897) yang memutuskan bangsa Yahudi kembali ke Palestina, salah seorang pemimpin Zionist yang bernama Kurah So datang menghadap Sultan Abdul Hamid II menyampaikan permohonan kepada Sultan agar beliau mengizinkan bangsa Yahudi menetap di Palestina dan sebagai imbalannya gerakan Zionis bersedia meminjamkan uang sebesar 50 juta Junaih kepada pemerintah Turki Utsmani dan bersedia memberi hadiah sebesar itu kepada Sultan.
Mendengar pernyataan pemimpin Zionis tersebut bukan main tersinggungnya baliau, lantas dengan suara keras kepada pendampingnya beliau bertanya: ”Siapa yang telah mengizinkan babi tengik ini masuk menghadap kepadaku?”
Melihat Sultan begitu Murka kemudian pertugas mengusir dia dari wilayah Turki dan segera dikeluarkan undang-undang larangan bangsa Yahudi memasuki wilayah Palestina. (Hal. 98)
Kemudian jasa lainnya adalah upayanya untuk mendirikan Pan Islamisme (kebersatuan Islam) untuk mengimbangi gerakan kristenisasi dan zionis. Walaupun usahanya tersebut gagal karena tipu daya musuh-musuh Sultan yang mengampanyekan bahwa usaha tersebut adalah upayanya untuk menutupi kebobrokan dan niat yang sebenarnya, yakni untuk melanggengkan kekuasaannya.
Dua jasa Sultan Abdul Hamid II yang dapat dicatat tersebut adalah jasa yang kesekian kalinya dari jasa-jasa yang diberikan Kekhalifahan Utsmani terhadap peradaban Islam.
Jasa yang sangat menonjol dari Kekhalifahan Utsmani ini adalah direbutnya Konstatinopel oleh Muhammad II yang berjuluk al Fatih. Dan menjadikannya sebagai ibukota baru serta menggantikan nama kota kuno tersebut menjadi Istanbul (Tahta Islam).
Kejatuhan ini telah melengkapi ramalan Rasulullah terhadap hancurnya dua tahta imperium besar yakni Persia dan Romawi. Dan tidak bisa disangkal lagi bahwa kejatuhan kota ini pula menjadi pelipur lara dan obat bagi umat Islam saat itu karena luka akibat keruntuhan dan jatuhnya kekuasaan Islam di Andalusia.
Jasa lainnya—seperti yang diungkap lagi oleh Syatib—berhasilnya Turki Utsmani menghambat kolonial barat atas dunia Arab untuk beberapa lamanya hingga menjelang akhir kekuasaannya. Karena sejak kejatuhan Andalusia, bangsa-bangsa Eropa selalu mengincar wilayah Afrika Utara dan jazirah Arab.
Demikianlah jasa-jasa kekhalifahan Bani Utsmani bagi umat, sebagaimana banyak dicatat pula jasa-jasa kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah bagi tegaknya pondasi peradaban umat. Juga dengan demikian kita tidak bisa hanya ambil peduli terhadap salah satu kekhalifahan dan menafikan kebaikan-kebaikan yang muncul dari yang lainnya hanya karena misalnya Bani Umayyah fanatik dengan orang-orang Arab, atau Bani ’Abbasiyyah yang banyak didukung oleh orang-orang Syi’ah, ataupun Bani Utsmani yang selalu menoleh ke barat dan mengerdilkan peran bangsa Arab.
Keberimbangan ini diperlukan agar kita bisa mengambil pelajaran tentang bangkit dan jatuhnya suatu peradaban umat. Sikap pertengahan ini diperlukan agar kita bisa memberikan proporsi yang adil terhadap suatu peradaban sehingga kita tidak akan ditertawakan karena kejumudan dan pendapat kita yang tanpa dasar dan ilmu atau karena kita dianggap tidak pernah membaca buku-buku sejarah.
Allohua’lam.

Maraji’:
1. Prof. Dr. Ahmad Syalabi, [Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Utsmani], 1988
2. Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil, [Wajah Dunia Islam: Dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern] 1998;
3. Ensiklopedi Islam Jilid 4

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:21 05 Maret 2006

Antara Umar dan Khalid


20.02.2006 – Antara Umar dan Khalid

Saya tertarik dengan apa yang diungkapkan Saudari saya ini pada tulisannya yang berjudul ”Ketika Saya Berkuasa”. Tepatnya pada paragraf sebagai berikut:

Khalid ketika menjadi gubernur Armenia terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya. Yang akhirnya membuat Umar bin Khattab gregetan sehingga menarik kembali Khalid ke Madinah.

Tapi..itu bukan berarti Umar menghinakan Khalid..tapi beliau menyelamatkan Khalid dari ketergelinciran godaan dunia. Buktinya ketika Khalid meninggal..Umar menangis dan mengatakan penyesalannya tidak sempat mengembalikan kedudukan Khalid di tempat yang semestinya.

Kalimat ”terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya” mengguncang kotak memori saya. Dan betulkah pada saat itu beliau sudah menjadi gubernur Armenia? Dari buku yang pernah saya baca sahabat yang berjuluk Pedang Allah ini tidak demikian kiranya. Sehingga dengan kepenasaran ini kembali saya bongkar-bongkar buku sejarah lama.

Dari beberapa referensi tersebut, hanya satu yang benar-benar detil menceritakan tentang pemecatan panglima Khalid bin Walid oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra yakni di buku yang ditulis oleh Muhammad Husin Haekal yang berjudul Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu (penerbit Litera AntarNusa, 2002).

Sebelumnya saya tidak akan menceritakan siapa sahabat Khalid bin Walid ini karena sudah banyak kitab dan tulisan yang menulis biografi beliau. Dan saya pun tidak akan menyalin tulisan pada buku di atas karena akan membutuhkan banyak halaman untuk hanya menginformasikan tentang peristiwa pemecatan ini.

Setelah saya membacanya perlahan-perlahan, saya sedikit banyak kembali mendapatkan gambarannya yang sempat terlupa. Berikut gambarannya secara ringkas:

Pada saat Baitulmukaddas atau Yerusalem telah ditakhlukkan, para panglima perang kembali menuju tugasnya masing-masing untuk mengatur adminsitrasi pemerintahan wilayahnya masing-masing. Abu Ubaidah menuju Hims, Yazid bin Abi Sufyan tinggal di Damsyik, dan Khalid bin Walid menuju Kinnasrin (Bukan Armenia).

Namun kembali ada pemberontakan di utara Syams, pasukan muslimin pun kembali dikirim dan berhasil meredakannya. Tidak berhenti di situ mereka kembali bergerak terus ke arah utara menuju Armenia. Dan Khalid bin Walid dikirim ke Armenia untuk menanamkan rasa gentar dalam hati musuh. Dalam ekspedisi itulah Khalid bin Walid membebaskan banyak tempat dan memperoleh rampasan perang yang sangat banyak.

Sesudah itu ia kembali ke Kinnasrin dengan membawa ghanimah. Dan mendengar kedatangannya yang membawa harta benda itu banyak sekali orang dari sana- sini meminta bantuan berupa hadiah dan Khalid pun cukup bermurah hati kepada mereka. Salah satunya kepada Al-Asy’as bin Qais sebesar sepuluh ribu dirham. Inilah pokok permasalahannya.

Berita itu didengarnya oleh Umar Ra, dan ia marah besar karena sebelumnya ia mendengar sebelumnya tentang kabar Khalid yang menggosok badannya dengan khamar saat di Armenia. Khalid menjawab bahwa pada saat itu tidak ada bahan pembersih selain khamar.

Dalam masalah harta yang diberikan kepada Ibnu Qais ini, Umar ra menulis surat kepada Abu Ubdaidah supaya memanggil Khalid dan mengikatkannya dengan serban serta melepaskan topi kebesarannya sampai terungkap pemberiannya kepada Ibnu Qais: dari hartanya sendiri atau dari harta rampasan perang yang seharusnya disimpan untuk kaum dhuafa Muhajirin.

Sebenarnya kekhawatiran umar selain itu adalah pesona Khalid yang terlalu kuat di hampir sebagian besar prajurit sehingga dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam puncak kesombongan dan kezaliman serta timbulnya pengkultusan diri Khalid.

Khalid pun datang, kemudian kurir yang diutus Khalifah bertanya kepadanya sampai tiga kali yang tidak dijawab oleh Khalid. Bilal pun mengambil topi dan merangkul kedua tangan Khalid ke belakang punggungnya dan mengikat dengan serbannya sambil bertanya: “Bagaimana? Dari harta Anda atau dari harta perolehan perang?”

Khalid terdiam dan Bilal pun mendesaknya, pada akhirnya Khalid berbicara bahwa harta yang diberikan kepada Ibnu Qais itu adalah harta pribadinya. Khalid bertanya-tanya kenapa Umar memperlakukannya seperti ini. Sehingga Khalid memutuskan untuk pergi menemui Umar di Madinah. Padahal tanpa sepengetahuan Khalid bahwa dirinya telah dipecat oleh Umar namun belum diberitahukan Abu Ubaidah karena kehalusan budi pekertinya yang tidak mau menyakiti hati sang Pedang Allah ini.

Sebelum maksudnya pergi ke madinah terlaksana, telah tiba terlebih dahulu surat dari Khalifah tentang pemanggilannya, baru saat itulah ia tahu bahwa dirinya dipecat oleh Khalifah. Ia kemudian memberitahukan kepada pasukannya tentang hal ini dan berpidato tanpa menjelek-jelekkan sedikitpun tentang Umar.

Setelah tiba di Madinah, di depan Umar ia menjelaskan darimana kekayaan itu. “Dari barang rampasan perang dan dari saham-saham. Yang selebihnya dari enam puluh ribu itu untuk Anda.” Umar menaksir barang-barang Khalid senilai delapan puluh ribu dirham, disisakan buat dia enam puluh ribu dan yang dua puluh selebihnya diambilnya dan dimasukkan ke dalam baitulmal.

Setelah itu Khalifah mengumumkan ke seluruh kota tentang pemecatan Khalid: “Saya tidak memecat Khalid karena benci atau karena pengkhiatan. Tetapi karena orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya akan percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuk dia. Maka saya ingin mereka tahu bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah.”

Demikianlah kisah Khalid yang digambarkan melalui tiga puluh halaman di buku tersebut, alangkah lebih fahamnya jikalau pembaca membacanya langsung daripada membaca ringkasan saya ini yang bisa saja menjadi bias terhadap sikap Umar dan Khalid, karena pada senyatanya banyak juga yang berbeda penyikapan terhadap peristiwa itu berdasarkan kefanatikan mereka terhadap Umar atau Khalid.

Namun seperti yang diungkap oleh Haekal semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid dan Umar, karena keduanya merupakan dua kekuatan yang paling tangguh. Semenanjung Arab terbuka luas bagi kedua kekuatan yang tadinya terpencil.

Dapat ditarik kesimpulan di sini bahwa Khalid pada saat itu bukanlah dalam keadaan menjabat sebagai Gubernur di Armenia melainkan Administrator di Kinnasrin (sebuah distrik di Damsyik—sekarang Damaskus). Namun benar Khalid mempunyai kaitan dengan Armenia karena pernah melakukan ekspedisi ke sana.

Terhadap masalah penggunaan hartanya Khalid telah menjelaskan terhadap Umar seperti telah disebutkan di atas yakni dengan menggunakan uang dari bagian rampasan perangnya (ghanimah) dan memberikannya kepada Asy’as bin Qais adalah dalam rangka memberikan penghargaan kepada seorang amir—pemimpin Kindah dan orang yang telah menghadapi cobaan berat dalam hal membebaskan Irak dan Syam. Berapa seringnya orang seperti Asy’as dan orang semacam dia terjun dalam beberapa peristiwa dan berjuang mati-matian menghadapi bahaya (h338).

Demikian sedikit apa yang saya temukan di buku tersebut. Mungkin ada referensi lain yang lebih baik lagi dan dapat dipertanggungjawabkan. Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah semata. Dan Allahlah Mahatahu segalanya.

Maraji’ cuma satu (terjemahan lagi):

Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu; Muhammad Husin Haekal, Litera AntarNusa, 2002

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20:21 17 Pebruari 2006

10 Negara Terbesar Penduduknya


01.02.2006 – Tanya pada Peta Dunia: 10 Negara Terbesar Penduduknya
Sempat berlangganan majalah National Geographic hanya beberapa edisi, saya mendapatkan banyak sekali manfaatnya, terutama dalam penambahan wawasan tentang kajian-kajian penelitian kepurbakalaan, petualangan, dan masih banyak lagi lainnya. Tapi sayang dengan harga majalah yang cukup tinggi dibandingkan dengan yang lain, membuat saya berpikir dua kali untuk melanjutkan berlangganan lagi.
Namun setidaknya ada hadiah kecil yang diberikan pada edisi perdananya membuat saya mendapatkan banyak sekali manfaat. Yaitu berupa lembaran poster berukuran panjang lebar kurang lebih 100 cm x 80 cm. Masing-masing sisi berupa peta dunia dan citra planet bumi di waktu malam hari dilihat atau dipotret dari angkasa.
Poster itu saya tempel di dinding samping kiri dekat meja komputer rumah dengan peta dunia menghadap ke arah pembaca. Sedangkan citra bumi di malam hari, walaupun gambarnya indah tapi tidak terlalu penting untuk diperhatikan, sehingga saya korbankan untuk menghadap ke arah tembok.
Dalam peta itu terkandung banyak informasi tentang rumpun bahasa utama yang digunakan manusia di muka bumi, kepadatan penduduk dan negara-negara terbesar berdasarkan jumlah penduduk.
Berikut rumpun bahasa utama yang ada di dunia:
– Afro-Asiatik;
– Altaik;
– Austro-Asiatik;
– Austronesia;
– Dravidia;
– Indo-Eropa;
– Jepang/Korea;
– Kam-Tai;
– Nigeria-Kongo;
– Nilo-Sahara;
– Sino-Tibet;
– Uralik;
– Lainnya
Sedangkan di bawah ini adalah negara-negara terbesar berdasarkan jumlah penduduknya (2004):
– Cina : 1.306.314.000
– India : 1.080.264.000
– Amerika Serikat : 295.734.000
– Indonesia : 241.974.000
– Brazil : 186.113.000
– Pakistan : 162.420.000
– Bangladesh : 144.320.000
– Rusia : 143.155.000
– Nigeria : 140.602.000
– Jepang : 127.417.000
Dengan adanya peta dunia ini, saya benar-benar memahami letak geografis suatu negara atau wilayah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Saya jadi tahu negara-negara apa saja yang mendiami bumi Afrika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika.
Saya juga tahu dengan cepat dan mudahnya kota-kota kecil di sudut-sudut terpencil dari bumi, seperti di ujung Kanada atau di ujung Selandia Baru. Bahkan pada saat acara televisi menayangkan suatu daerah yang tidak saya kenal saya segera mencari tahu di negara mana lokasi itu berada.
Peta dunia itu pun membantu saya untuk mengenal lebih jauh tentang samudera, selat, teluk, danau, laut, kepulauan, tanjung, semenanjung, gunung, pegunungan, punggungan yang ada di planet bumi ini.
Bahkan di saat saya suntuk menghadapi komputer, saya meingistirahatkan mata dengan memandang peta dunia. Dan kadangkala ia menjadi sumber inspirasi dan menjadikannya setting cerita pendek yang pernah saya buat dulu.
Peta dunia ini mengingatkan saya pada saat di kelas dua SMP. Saya begitu menyukai pelajaran geografi. Sang guru selalu mengajukan pertanyaan di tengah-tengah ia mengajar. Dan saya selalu yang pertama kali mengangkat tangan untuk menjawabnya. Kalau Anda mengenal karakter Hermione—sosok cerdas di novel Harry Potter itu yang selalu mengangkat tangan dan tetap diacuhkan oleh Profesor Snape—maka itulah saya. Tidak mirip-mirip amatlah, dia perempuan saya laki-laki, cuma itu bedanya, narsis.
Sang guru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat saya. Beliau pun bertanya apakah ada selain saya yang bisa menjawabnya. Ruangan kelas sunyi tiada menjawab, akhirnya tetap saja beliau menunjuk saya.
Asal tahu saja saya tahu banyak tentang geografi karena di rumah Sang Bapak berjualan majalah bekas yang di dapat dari Pasar Senen Jakarta. Dari sanalah saya banyak membaca dan banyak mendapatkan ilmu yang belum didapat oleh kebanyakan teman-teman seumuran saya.
Dari pengalaman itulah, saya juga mengharapkan bahwa peta dunia ini menjadi wadah pembelajaran geografi sejak dini bagi Haqi dan Ayyasy. Sehingga mereka sudah tahu lebih dahulu daripada kawan-kawannya yang lain. Mereka akan lebih dahulu tahu di mana letak Tolanaro, Tocopilla, Sokhumi, dan Pulau Mafia berada. Bahkan bisa jadi mereka akan tahu dimana letaknya Kepulauan Cayman yang sampai saat ini pun saya masih belum juga dapat menemukannya. Mungkin bukan?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00:14 30 Januari 2006

AINA LAHUM ‘INDAAMAA aL-HARBU ‘ALAA aL-‘IRAAQI


16.01.2006 – AINA LAHUM ‘INDAAMAA aL-HARBU ‘ALAA aL-‘IRAAQI

Dimana Mereka Saat terjadi Perang Irak…?

Invasi yang sudah memasuki minggu ketiga itu kini telah memakan korban sipil begitu banyak, ratusan orang telah tewas, ribuan lainnya luka-luka dan kehilangan tempat tinggalnya yang telah rata dengan tanah. Perang telah memisahkan orang tua dengan anak-anaknya, suami dengan istrinya, dan telah menghilangkan kebebasan manusia untuk hidup damai.

Siapa yang tidak menangis melihat bayi yang tak berdosa menjadi korban perang dengan tubuh yang telah terbakar dan tidak utuh. Siapa yang tidak terketuk nuraninya melihat seorang ibu histeris dengan memukul-mukulkan tangan ke kepalanya karena enam orang anaknya telah menjadi mayat.
Dan siapa yang tidak panas hatinya melihat warga setempat diperlakukan semena-mena. Menyuruhnya supaya bersujud dan diam sembari memukulkan popor senjata ke kepala saat digeledah di tanah air mereka sendiri oleh pasukan penjajah karena mereka dianggap termasuk bagian dari Fida’in Irak. Tak ada tempat bagi mereka yang berusia muda untuk hidup bebas karena agresor telah menganggap mereka bagian dari suatu rezim otoriter.

Semuanya itu bisa kita saksikan dan kita dengar di layar kaca, media cetak, dan radio-radio dalam maupun luar negeri. Dunia mengecam kesombongan Amerika, demonstrasi marak di seantero dunia. PBB yang diharapkan menjadi penengah dalam konflik ini tidak bisa berbuat apa-apa. Sidang darurat Dewan Keamanan kemarin bukannya mengeluarkan resolusi mengecam invasi tersebut malah mengeluarkan resolusi yang dapat diartikan malah menjustifikasikan invasi tersebut yakni tentang dilanjutkannya program pangan Oil for Food yang sempat terhenti untuk Irak.

Dan saya melihat semuanya, saya merasa bukan orang Arab, dan saya pun dibatasi oleh jarak dengan daerah konflik tersebut.Yang saya rasakan, saya hanya orang Islam yang gemas melihat ketidakadilan yang menimpa umat Islam sekarang ini, setelah Bosnia, Chechnya, India, Palestina, Philiphina, Ambon, Afghanistan dan sekarang saatnya Irak. Kita semua melihatnya.

Saya sampai bertanya-tanya tentang kemampuan orang Arab dalam menyelesaikan konflik yang sudah berpuluh-puluh tahun melanda kawasan tersebut. Yang paling lawas adalah konflik Palestina sejak Israel yang dibantu Inggris dan PBB berdiri pada tahun 1948, sampai sekarang Palestina tetap menjadi ladang pembantaian bagi orang-orang Arab. Atau konflik teranyar di akhir abad ini yaitu invasi Saddam ke Kuwait, dengan alasan Kuwait telah merampok minyak Irak melalui pengeboran di sepanjang perbatasannya.

Secara ekstrim saya sampai bertanya-tanya manakah jiwa kepahlawanan orang-orang Arab pendahulu atau khususnya Ikhwanul Muslimin dalam setiap pertempuran. Sedangkan yang saya dengar dan lihat di media sekarang ini adalah kekalahan-kekalahan dan korban-korban yang berjatuhan di pihak Arab. Jangan-jangan semua semangat kepahlawanan itu bualan belaka dan hanya ada di buku-buku saja—yang kemudian saya sadari tidak demikian, karena tanpa jiwa dan ruhul jihad dan kepahlawanan itu tak mungkin ada Alhambra di Cordova, Samarra di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, Taj-Mahal di India, Maqam Sa’id bin Abi Waqqash di Cina, Masjid Agung di Demak, bahkan Masjid Raya di Roma.

Secara ekstrim lagi adalah saya tidak perlu lagi peduli dengan Irak dan masalah kaum muslimin lainnya di kawasan Timur Tengah sana, karena saya selalu merasa sakit hati saja melihat tayangan-tayangan dan berita saat ini. Yang menggambarkan betapa kekuatan sekutu telah hampir mendekati Baghdad dan lagi-lagi korban yang ditampilkan menjadi mayat ataupun tawanan perang adalah orang-orang Arab.
Daripada saya sakit hati dan membuat pikiran tidak bisa menanggung beban berlebihan serta daripada saya selalu mengucapkan kata-kata ARAB BAHLUL ketika menyaksikan tayangan-tayangan itu, lebih baik cari channel lain dan nonton film holywood yang bagus-bagus, menonton tayangan kriminal, atau channel gosip-gosip murahan. Tapi pada akhirnya tetap juga tidak bisa, selain saya tidak suka tayangan-tayangan murahan tersebut, saya tidak bisa membiarkan hati ini beralih dari kecintaan terhadap saudara-saudara saya di sana yang sedang menderita. Tapi sejujurnya saya ikut merasakan penderitaan mereka.

Yang saya sesalkan adalah mana tindakan dari saudara sebangsanya sendiri melihat semuanya itu. Tidakkah mereka tergugah? Tidakkah orang-orang Kuwait itu sadar bahwa Yusuf al-Qorodhawi telah berfatwa bahwa haram hukumnya menyediakan fasilitas apapun kepada siapapun juga yang akan memerangi kaum muslimin?
Tidakkah mereka sadari bahwa orang-orang Kuwait itu telah mempergunakan uang zakat yang merupakan hak kaum muslimim di dunia sebesar 20% dari hasil pertambangan minyaknya, untuk menyewa anjing-anjing penjaga dan satpam-satpam Amerika untuk menjaga wilayahnya dan menyerbu Irak? Tidakkah mereka lupakan sejenak peristiwa 1991? jangan pikirkan tentang perbuatan tiran dan diktator Saddam Hussain dulu, pikirkan sajalah rakyatnya yang notabene adalah satu rumpun dan bangsa dengan mereka.

Yang saya pertanyakan pula adalah mana fatwa ulama-ulama Arab Saudi? sedangkan ulama Syi’ah saja yang merupakan “musuh ‘aqidah” orang sunni memfatwakan kepada kaum muslimin dunia wajib berjihad melawan agresor yang akan menindas dan mengusir mereka. Mana peran ulama-ulama sholih yang menyesaki Mekkah dan Madinah dengan keilmuan dan kezuhudan mereka, yang menggemuruhkan Masjidilharam dengan kewara’an mereka dalam khutbah hajinya, yang menggaungkan dunia dengan suara-suara indah mereka dalam kaset dan CD murottal 30 juznya? Mana suara mereka?

Dan akhirnya saya kembali harus mengutip perkataannya Soekarno—yang sempat saya idolakan namun kemudian saya samakan dia dengan diktator Gamal Abdul Nasser bahkan Saddam Hussain sendiri, yang mengorbankan dan memenjarakan para ulama sholih demi kepentingannya. Soekarno pernah bilang: JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya pun merunut ulang sejarah.

Jazirah Arab pernah menjadi pusat peradaban dan pemerintahan, serta kekhalifahan Islam tepatnya di Medinah pada masa Rosululloh SAW hingga khalifaturrasyidin terakhir yakni Ali bin Abi Thalib. Setelah itu pusat Islam dipindahkan ke Damaskus sebagai Ibukota dari Dinasti Umayyah. Kemudian Baghdad menjadi Ibukota selama Kekhalifahan Bani Abbasiyyah. Cordova menjadi kota peradaban cemerlang di barat dari keturunan Dinasti Umayyah.
Peradaban Islam diwarnai pula dengan sejarah Istanbul yang menjadi Ibukota Kekhalifahan Ustmani. Dengan segala potensi keilmuan dan sejarah yang dimilikinya, kota Madinah tidak dapat kembali menjadi pusat pemerintahan Islam sejak wafatnya Ali di tahun 661 M sampai sekarang.

Bahkan kota Mekkah yang suci sekalipun sejak zaman Rosululloh tidak pernah menjadi pusat kekuasaan Islam, walaupun pernah diusahakan oleh Abdullah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid—ibunya bernama Asma’ binti Abu Bakar. Bibi dari ibunya yaitu Aisyah ummul mukminin. Dan bibi dari ayahnya yaitu Khadijah istri pertama Rasulullah SAW. Semoga Alloh meridhai mereka.
Ibnu Zubair tidak dapat melanjutkan perlawanannya melawan Bani Umayyah setelah Mekkah dikepung oleh Hajjaj bin Yusuf (semoga Alloh melaknatnya) selama lima bulan dan sepuluh malam. Ibnu Zubair wafat setelah bertempur dan dikepung rapat oleh pasukan lawan. Hajjaj bin yusuf langsung sujud syukur atas terbunuhnya Ibnu Zubair lalu mengirimkan kepalanya ke Damascus. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa 17 Jumadil Ula 73 Hijriah / 692 Masehi.

Setidaknya kalau melihat potensi Arab Saudi sekarang ini, dengan cadangan minyaknya yang melimpah, adanya dua kota suci Ummat Islam, potensi hampir tiga juta jama’ah haji, maka sudah selayaknya penguasa Arab Saudi dapat memanfaatkannya sebagai pusat peradaban Islam yang kuat, namun itu tak terjadi.
Malah yang terjadi kemudian adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai wali mereka untuk menjaga negaranya dari ancaman musuh. Khamar yang semula diharamkan untuk masuk ke Arab Saudi, sejak perang teluk pertama menjadi barang yang mudah dijumpai dan dikonsumsi oleh pasukan-pasukan sewaan.
Hal inilah yang dianggap oleh Usamah bin Ladin bahwa pemerintahan Arab Saudi telah mengingkari Islam. Padahal sebelumnya Usamah dengan segala kekayaan yang dimilikinya dan jalur Afghanistannya pernah menawarkan diri untuk menjaga tanah Arab itu dari kemungkinan invasi Saddam sehingga tidak perlu mendatangkan pasukan asing. Namun hendak dikata apalagi, pemerintah Arab Saudi menolaknya dan malah mengusir serta mencabut kewarganegaraannya.

Yang aneh adalah sikap dari ulama-ulama di Mekkah dan Madinah yang notabene sampai sekarang menjadi rujukan ilmu fiqih dari seluruh dunia, bahkan menjadi pusat dari Dakwah Salafiyah dunia—sampai-sampai untuk mengeluarkan Laskar Jihad dari Ambon saja Ustadz Ja’far Umar Thalib meminta fatwa dari ulama Salafi yang ada disana. Dan kebanyakan dari mereka hampir tidak menyentuh dunia politik sama sekali—terkecuali di Indonesia ini dengan keterlibatan Laskar Jihad di Ambon—bahkan dalam hal menyikapi Palestina ataupun Irak saat ini. Mengapa demikian?

Dan kalau kita kembali melihat sejarahnya, maka yang menjadi pilar dari berdirinya Dinasti Su’ud sekarang ini adalah pemuka bangsawannya sendiri, para ulama, serta para pemimpin suku di daerah-daerah. Yang paling menonjol dari pilar tersebut adalah pilar ulama ini setelah bergabungnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pelopor gerakan Ishlah dunia muslim.
Salah satu dari dua syarat yang diminta oleh Pangeran Muhammad bin Su’ud kepada Syeikh adalah “hendaknya Syeikh tidak meninggalkan mereka, dan merekapun TIDAK DIGANTI oleh orang lain”. Mengenai syarat itu, Syeikh berkata kepada Pangeran: “rentangkan tanganmu, aku berba’iat padamu. Darah harus dibayar dengan darah, dan perang dengan perang.” Syeikh meyakini bahwa kebenaran itu harus mempunyai kekuatan yang mendukungnya. Karena Alloh akan melenyapkan dengan kekuasaan, apa-apa yang tidak dilenyapkan dengan Al-Qur’an.

Bertemunya dua kepentingan itu ternyata mendatangkan manfaat ganda. Pada satu sisi, tahun 1773-1818, gabungan kekuatan itu mempersatukan masyarakat Islam untuk pertama kalinya sejak masa-masa awal. Pada sisi lain, bagi seluruh dunia Islam, gerakan pemurnian ini bergema dengan timbulnya gerakan perang terhadap bid’ah di berbagai negeri muslim.

Namun yang terjadi kemudian setelah wafatnya Syeikh adalah peran dominan dari ulama dalam kehidupan politik tidak ada sama sekali, yang menonjol adalah peran dari kaum bangsawan ini, terutama pada saat pemerintahan Raja Faisal. Pergerakan Islam dunia selain dakwah salafiyah tak ada geliatnya sama sekali. Peran ulama di sana saat ini adalah membentengi mainstream salafiyah dari pemikiran dan pergerakan Islam lainnya untuk tetap eksis dan tetap menjadi penopang dari monarki Arab Saudi.

Maka tidaklah aneh hingga saat ini belum ada satupun keterlibatan ulama salafi untuk memberikan fatwa bagaimana menyikapi serbuan Amerika dan Inggris ke Irak. Karena hal ini merupakan hal yang sensitif yang setidaknya akan membuat perpecahan di antara ketiga pilar itu. Kerajaan akan kehilangan mukanya di hadapan tuan besar Amerika ketika dianggap tidak bisa mengendalikan ulamanya yang selama ini diberikan tunjangan sangat besar.
Dan bagi para ulama ini akan menyebabkan hilangnya privillege yang selama ini dinikmatinya. Pada akhirnya entah sampai kapan kita—terutama saya—akan mendengar fatwa dari ulama-ulama sholeh itu yang akan menyejukkan ummat, yang akan menghentikan kesombongan Amerika, yang akan membangkitkan ruhul jihad muslimin di seluruh penjuru dunia, atau mungkin kita takkan pernah mendengarnya hingga Irak dan tanah air Islam lainnya benar-benar akan jatuh ke tangan Amerika dan kaum kuffar lainnya.

Sekarang saya dan Anda hanya menunggu datangnya pertolongan Alloh melalui ababil-Nya dengan perantaraan do’a-do’a yang kita panjatkan di setiap akhir shalat. Dan kita tetap akan menyaksikan pembantaian itu sembari minum teh manis hangat di pagi hari dan merutuki para emir Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, pengkhianat Kurdi Sekuler, dan para antek Amerika yang membiarkan semua itu terjadi, karena kebodohan dan ketidakmampuan kita pula untuk membantu mereka.

Allohu ‘alam bishshowab. Semoga Alloh memaafkanku karena kelancanganku ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(Q.S. 5:51)

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang”. (Al-Mumtahanah:1)

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. (HR Muttafqun ‘Alaih).

Daftar Bacaan:
1. Al-Qur’anul Karim;
2. Buku Sunnah yang mulia;
3. Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (Akar Idologis, dan Penyebarannya), Al-Ishlahy Press, 1995;
4. Fajrul Islam, Dr. Ahmad Amin, 1965;
5. Al-Firaq Bainal Firaq, Isfirani;
6. Ensiklopedi Islam; 1997
7. Qadatu-Fathi’l-Iraqi
8. Wajah Dunia Islam, Pustaka al-Kautsar, 1998;
9. Zionis Israel atas Hak Palestina, Luqman Hakim gayo, Penerbit Arikha Media
Cipta, 1993;
10. Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Joesoef Sou’yb.

Ps.:
Artikel di atas ditulis saat dimulainya penyerbuan Agresor Amerika ke Iraq. Sekarang banyak beredar VCD tentang kekalahan-kekalahan yang diderita prajurit pengecut Amerika oleh para mujahidin Iraq.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Diedit, 12.00 14 Januari 2006

Belanja Buku dan Perang Eropa


Dengan berbekal dua buku untuk dibaca ternyata tidak cukup untuk menghabiskan cuti. Buku pertama yang berjudul Perang Pasifik habis dibaca saat perjalanan dengan Kereta Api Bisnis Senja Utama jurusan Jakarta Semarang. Buku kedua berupa kumpulan cerpen terjemahan yang berjudul Peluru Ini Untuk Siapa habis dibaca pada hari ketiga tiba di Semarang.
Esok malamnya bersama Qoulan Syadiida, Haqi dan Ayyasy, saya pergi belanja buku di Mal Ciputra, Simpang Lima. Awalnya saya bersikeras bahwa di Mal Ciputra itu ada toko buku Gramedia, karena di akhir Maret lalu saya pernah membeli buku di sana. Qoulan Syadiida mengatakan bahwa Gramedia itu bukan ada di sana, tapi ada di Jalan Pandanaran. Tapi saya tetap ngotot untuk ke sana. Akhirnya saya akui, saya salah besar. Di sana tidak ada toko buku Gramedia yang ada toko buku Gunung Agung. Karena beranggapan pula bahwa Gramedia letaknya jauh dari Simpang Lima maka niat belanja buku tetap diteruskan di Gunung Agung.
Buku yang saya cari yakni Perang Eropa Jilid I tidak diketemukan. Saya tidak jadi membeli buku. Koleksi buku di Gunung Agung tidak selengkap di Gramedia. Hanya Haqi dan Ayyasy sajalah yang menikmati belanja buku di sana. Masing-masing mendapatkan sebuah puzzle, dua buku mewarnai, dan dua buku bacaan serta satu vcd produksi NCR.
Esok siangnya setelah sholat Jum’at, kami kembali mencari buku. Tidak lagi dengan Qoulan Syadiida, tapi tetap berempat, saya, Haqi, Ayyasy, dan Hendri, adik Qoulan Syadiida. Sekarang kami langsung menuju ke Gramedia yang berada di Jalan Pandanaran. Dan saya baru tahu ternyata Gramedia dekat juga dengan Simpang Lima dan bersebelahan dengan Masjid Baiturrahman. Kalau tahu begitu, kenapa tadi malam tidak langsung saja ke sana.
Di Gramedia banyak sekali buku-buku bagus, yang sayangnya saya harus dapat menahan diri karena budget untuk belanja buku bulan ini telah terlampaui. Buku-buku tentang fotografi hanya saya lirik sebentar tapi bertekad dalam hati suatu saat saya dapat membelinya. Buku kedua dari trilogy Kisah Klan Otori belum juga muncul. Sedangkan buku-buku bagus tentang perang dunia kedua banyak juga. Selain yang ditulis oleh P.K. Ojong—Perang Pasifik, Perang Eropa Jilid 1 dan 2—ada juga buku terjemahan yang lebih tebal dan lebih murah daripadanya. Namun saya berkeputusan untuk melanjutkan serial perang yang ditulis oleh P.K. Ojong terlebih dahulu setelah itu baru yang lain. Kali ini Perang Eropa Jilid 1 telah ada di tangan, mungkin yang jilid 2-nya saya beli di bulan depan.
Haqi dan Ayyasy hanya dapat bermain dan berlari-larian di lorong-lorong buku saja. Saya sudah mewanti-wanti pada mereka untuk tidak minta buku kali ini, karena semalamnya mereka sudah membeli banyak buku. Mereka menurut, walaupun pada akhirnya Haqi tetap saja merajuk dan sedikit memaksa untuk membeli satu buku bacaan lagi. Tapi saya bergeming.
***
Berbicara tentang ketiga buku pengisi perjalanan cuti kali ini, saya merasa enjoy banget saat membaca buku Perang Pasifik walaupun terkadang dengan hati gemas dan berhenti sejenak untuk membaca kemenangan-kemenangan sekutu dan kekalahan-kekalahan Jepang di pertengahan 1945. Kali ini, saat ini saya memang membenci sekutu yang dengan perang melawan terorisnya telah memakan puluhan ribu nyawa di Afghanistan, Irak, dan belahan dunia lainnya. Mungkin perasaan saya akan berlainan saat saya benar-benar hidup di zaman itu, karena dengan kemenangan sekutu tersebut akhirnya membawa akibat tidak langsung pada kemerdekaan bangsa Indonesia.
Membaca buku Peluru Ini untuk Siapa yang ditulis oleh Jihad Rajbi, membuat dahi saya berkerut. Ini bukan bacaan ringan seperti cerpen-cerpen Annida dan Forum Lingkar Pena. Banyak sekali metafora yang tidak bisa dimengerti dengan sekali membaca. Bahkan saat buku ini habis dibaca, saya merasa aneh dan tidak membawa saya pada kesan yang mendalam. Apakah karena cerpen ini adalah cerpen terjemahan—penerjemahnya Ustadz Anis Matta, Lc., atau memang karena keterbatasan saya? Saya salah bawa buku.
Pada saat saya menulis ini, buku Perang Eropa Jilid 1 sudah habis terbaca setengahnya. Mungkin pada saat perjalanan pulang kembali ke Jakarta nanti malam saya dapat menyelesaikan setengahnya lagi. Buku ini memang bagus dan enak dibaca seperti buku Perang Pasifik yang terdahulu. Wajar saja mengingat buku ini adalah merupakan kumpulan tulisan P.K. Ojong—seorang keturunan asal Bukit Tinggi dan meninggal pada Mei 1980—di majalah mingguan Star Weekly yang sangat popular saat itu.
Tidak seperti di Perang Pasifik, hampir di sebagian halamannya dijelaskan secara rinci tentang awal dimulainya Perang Dunia II di belahan barat yakni di Eropa. Tentang penyerbuan Blitzkrieg Jerman ke Polandia pada 1 September 1939 hingga kemenangan-kemenangan Jerman yang fantastic baik di medan Eropa maupun Afrika. Itu diungkapkan lebih detil dibandingkan penyerangan-penyerangan pada Perang Dunia II di belahan Timur yakni di Pasifik yang dilakukan oleh Jepang ke Pearl Harbor. Entah karena referensi buku-buku yang ditulis tentang perang pasifik ini lebih sedikit atau karena masalah ideologi.
Tapi pada intinya buku ini bagus walaupun lagi-lagi saya gemas saat sekutu sudah meraih kemenangan dimana-mana. Dan lagi-lagi saya membaca dengan ideologi saya. Sekali lagi buku ini bagus pula untuk dibaca sebagai pengantar tidur di perjalanan.

dedaunan di ranting cemara
l’histoire se repete
9:44 25 September 2005

Kantor Pos Lama


Kota Lama

Kantor Pos Besar Semarang di Saat Senja


Biasanya bangunan-bangunan tua berada di daerah Pecinan seperti banyak terlihat di daerah Jamblang, Cirebon dan kota Indramayu, seperti yang pernah saya lihat sekitar lima belas tahun yang lampau. Tapi entah, masihkah keasilan dan keasriannya terjaga hingga saat ini. Sedangkan kota lama yang di Jakarta seperti di daerah Beos terlihat masih terawat.
Agar masyarakat bisa memahami sejarah itu penting maka hendaknya bangunan-bangunan dan jalan-jalan itu perlu dilestarikan. Darinya bisa saja ada nilai historis yang tak ternilai. Tapi sayangnya selain diperlukan kepedulian dari masyarakat juga perlu adanya goodwill dari pemerintah kota (pemkot) sendiri. Bagaimana pemkot juga dapat mengalokasikan anggarannya untuk memelihara semua itu, tanpa tergoda oleh kepentingan bisnis yang tampaknya lebih menggiurkan.
Agar pemkot juga tidak percuma untuk mengeluarkan dana maka perlu adanya program terencana dan terukur agar masyakarat dapat mengambil manfaat besar darinya, seperti adanya agenda pariwisata di daerah tersebut. Seperti apa yang diperlihatkan oleh Pemkot Jakarta dengan adanya museum Fatahillah, atau Pemkot Semarang yang mengadakan Festival Dugderan, festival yang diadakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Festival itu diadakan di bundaran air di depan stasiun Semarang Tawang. Selain adanya pasar malam juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang-barang gerabah seperti celengan, tempat makan, dan lainnya mulai dari yang kecil sampai yang besar. Festival ini akan berakhir bila esoknya adalah hari pertama berpuasa.
Selain itu, program peduli bangunan kuno perlu juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemkot dengan menyelenggarakan tur tahunan bagi anak-anak sekolah di daerah kota lama. Atau menyelenggarakan lomba penulisan dengan garis besar tema adalah penyelamatan dan pemeliharaan bangunan kuno, atau tema historisnya. Yang diharapkan dari semua itu timbul kecintaan terhadap kota lama yang dimulai dari diri kita sendiri hingga ke anak cucu.

dedaunan di ranting cemara
di antara—sekali lagi—ala kadarnya
10:41 19 September 2005

Sesaat dengan Pesona Jepang


sesaat dengan pesona Jepang

Setelah selama dua pekan dibombardir dengan Azumi, Azumi 2: Death or Love, Zaitoichi, Zaitoichi 2, maka pengelanaan saya tiba di media cetak berupa buku. Dari Tales of the Otori, Perang Pasifik, hingga Musashi. Entahlah, tiba-tiba saya tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang budaya Jepang, tentang kekaisaran Jepang, dan tentang para shogunnya.
Saya terpesona dengan efisiennya gerakan pedang mereka yang hanya satu dua kali gerakan sudah dapat menjatuhkan lawan. Saya terpesona dengan kegigihan mereka di setiap medan peperangan di Perang Dunia II. Saya terpesona dengan adat istiadat yang amat melekat dalam diri setiap orang Jepang. Dan saya terpesona dengan kepatuhan istri seorang ronin yang selalu mengikuti dari belakang kemana suaminya pergi.
Keterpesonaan saya ini seperti keterpesonaan saya terhadap budaya cina saat saya membaca banyak cerita silat Kho Ping Ho. Dulu, dulu sekali. Saat umur saya baru belasan tahun. Saat saya masih duduk di bangku SMP. Dengan keterpesonaan itu saya membayangkan dapat pergi ke Cina hanya untuk mendapatkan ilmu kanuragan (sinkang) dan ilmu meringankan tubuh (ginkang) yang hebat. Atau berkelana dari gua-gua di seantero Cina hanya untuk mendapatkan seorang guru yang mengajarkan semua ilmu itu kepada saya. Dulu, dulu sekali.
Keterpesonaan yang sama pun terjadi ketika saya mempelajari puncak kejayaan para khilafah Islam. Keterpesonaan yang mengakibatkan saya membayangkan jika bisa kembali ke masa lampau untuk bisa ikut dalam ekspedisi Klalid bin Walid ke Yarmuk, atau ekspedisi Sa’ad bin Abi Waqqash ke Persia. Atau ekspedisi penaklukan Yerussalem oleh Salahuddin Al-Ayyubi, atau penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih. Pun keterpesonaan pada indahnya istana-istana Damaskus, Baghdad, Cordova, dan Granada.
Kembali kepada keterpesonaan saya terhadap budaya Jepang, saya sampai berpikir dengan efisiennya gerakan pedang mereka. Bahwa untuk menjatuhkan lawan tak perlu banyak gerakan dan jurus seperti apa yang diperlihatkan film-film Cina. Apakah ini merupakan inkarnasi budaya Jepang masa lalu yang tercermin dalam kehidupan masyarakat Jepang kini? Sehingga dengan keefisienan itu, kita melihat betapa maju dan moderennya Jepang saat ini setelah Perang Dunia yang menghancurluluhkan Jepang.
Namun dari empat film yang saya tonton itu, semuanya mempertontonkan kekerasan, warna merah darah, yang muncrat, yang mengalir deras dari leher, jiwa-jiwa dengan harga murah, dan sadistis. Pertanyaannya adalah inikah pula cerminan dari jiwa-jiwa masyakarat Jepang saat ini? Sakit dan sekali lagi sadis?
Pada masalah sadistis, sebenarnya bukan hal yang baru. Dan dapat dicari fakta-faktanya pada masa penjajahan Jepang di bumi Indonesia. Tak usah jauh-jauh, Kakek saya di Jatibarang, Indramayu disiksa dengan kaki yang terikat pada tali timba sumur lalu diceburkan dan ditarik kembali, demikian dilakukan berulang kali hingga beliau meninggal. Lalu hartanya pun dirampas. Fakta lainnya adalah wanita-wanita jajahan yang dijadikan sebagai geisha pemuas nafsu para prajuritnya. Dan masih banyak sadisme yang dipertontonkan Jepang tidak hanya di Indonesia tapi pada semua daerah jajahannya. Seperti di Philipina, Cina, Korea, Burma, dan lain-lainnya.
Lalu keterpesonaan apa pula hingga saya membandingkan kekaguman dengan rasa jijik atas sadisme itu? Ya, keterpesonaan yang sesaat. Sesaat karena pekan-pekan ini saya dihujani dengan budaya itu. Maka saya akan melupakannya jika saya membombardir otak saya dengan bacaan dan tontonan yang lain. Akan selalu terpesona kembali dengan yang baru.

dedaunan di ranting cemara
di antara ala kadarnya saja
10:35 16 September 2005

Lontar dari Kadipaten Depok


lontar dari Kadipaten Depok

:buat Mapatih Gajahmada

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan
kalaulah belum tahlukkan negeri Sunda
satu negeri yang akan membuat tuan
akhiri sumpah palapamu
memulai nikmatnya dunia tidak sebatas mutih

Mapatih, haturkan hamba berkidung
tentang sebuah kidung Sundayana
melarut dalam berlonta-lontar Negarakertagama
yang belum sempat terbaca olehTuan
kerana Prapanca membuat titiknya
saat tuan telah tiada kekal

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang Diah Pitaloka Citaresmi puteri Sri Maharaja
yang datang membawa bangga ke hadapanmu tuan
tanpa ribuan pedang, tombak, perisai,
bahkan genderang tambur

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan kalaulah tuan
bersikeras cantiknya adalah hadiah
dan tetaplah hadiah
jikalau ia bukan hadiah
maka pastilah pinangan buat Tuannya Tuan

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang jikalau ia bukan hadiah
maka tak ada Bubat yang memerah darah
maka tak ada Maharaja yang berkalang tanah
maka tak ada Diah yang berkeris di dada

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang kepedihan hati
Tuannya Tuan Sri Rajasanagara
merenggut selendang cantik tak bertuan lagi
hingga akhir hayat memendamnya di Tayung, Brebek,
tempat hamba memungut nafas pertama hamba

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang dendam yang turun temurun
hingga hamba tak sanggup menegakkan muka
di tatar sunda yang telah tuan curangi
yang telah tuan kangkangi

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang membawa bala dari tuan
tentang hamba adalah putera
para piningit Sitinggil Binaturata
bahkan sebelumnya:Singhasari dan Kadiri

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang menjadi tumbal keserakahan tuan
hingga hamba terbalut kain jijik
dari mata-mata penerus tatar Sunda
hingga hamba tak layak untuk menjadi Adipati mereka

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
seberapa menyakitkan perbuatan tuan
hingga sampai merasuk dalam
pada alam bawah sadar mereka
hingga menggendam pada banyak anak pinak
bahwa hamba adalah bagian Tuan
bagian pusaka jaya masa lalu

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
dapatkah hamba menyalahkan tuan
karena hamba mengalami ketidakadilan
yang pernah menimpa mereka 648 tahun lampau

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang kini tak layak dan tak sepatutnya
menyilih angkaramu kerana hamba
adalah milik Sang Maha Pemilik jiwa Tuan
maka hamba pun sudah sepatutnya berjuang
dengan sepenuh tenaga hamba
layaknya mereka menghadapi Tuan

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang memastikan kisah
tak ada maharaja berkalang tanah
tak ada diah berkeris di dada
tak ada selendang beramis cempaka
kerana tahta sebenarnya bukanlah begitu rupa
hakikinya adalah ia berdiri tegak
di atas keadilan yang nyata

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang bahwa ini adalah sekadar kepedihan hati hamba
bahwa hamba menulis di lontar terakhir ini
semoga Tuan sempat membaca
di sela-sela kesibukan tuan
di sana

dari hamba:
Bhre Noermahmudi
Depok, Minggu Legi 03 Rejeb 1938

dedaunan di ranting cemara
di antara istighosah Kubro—bukan Qubro
22:08 Ahad, 07 Agustus 2005

Alhambra: Kenangan Sebuah Peradaban


20.7.2005 – ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Merahnya Alhambra, nama yang menggelitik. Tergerak dengan nama itu saya coba membuka berbagai rujukan antara lain Ensiklopedi Islam Jilid I terbitan PT Ichtiar Baru Van Houve (1999:107).
Ternyata diketahui bahwa Alhambra adalah sebuah istana dan benteng yang merupakan bangunan monumental paling indah dari peninggalan arsitektur Islam di kota Granada, Spanyol Selatan, dan salah satu bukti historis dari ketinggian peradaban dan kesenian Islam.
Dalam buku itu disebutkan bahwa nama Alhambra berasal dari kata Arab hamra, bentuk jamak dari ahmar (merah). Menurut suatu pendapat, istana itu disebut Alhambra karena tanah tempat berdirinya berwarna merah. Adapula yang berpendapat, istana itu dinamai demikian karena dindingnya terbuat dari batu merah. Pendapat lain lagi menyatakan, nama itu diambil dari al-Ahmar, nama pendirinya.
Saya buka kembali rujukan lain yakni buku yang berjudul Sejarah Kesenian Islam Jilid I terbitan PT Bulan Bintang (1978:226) yang ditulis oleh C. Israr ternyata isinya hampir sama dengan yang ada di ensiklopedi tersebut. “Jangan-jangan rujukan ensiklopedi tersebut adalah buku ini”, pikir saya.
Saya buka Ensiklopedi Islam jilid V yang ada halaman bibliografinya, ternyata benar rujukan ensiklopedi ini ternyata buku tulisan C Israr dengan tahun terbitan yang sama dengan buku yang saya punyai. Akhirnya saya berpikir lagi, “ensiklopedi yang gagah dan mahal itu ternyata dibangun oleh berpuluh-puluh literature yang mungkin saja kecil, sudah kumal, dan lapuk—saya membeli buku tersebut dalam sebuah perburuan buku-buku bekas di Senen, hanya dengan harga Rp7.500,00 saja di tahun 2001.
Saking luas dan indahnya Alhambra dibangun secara bertahap selama lebih dari 100 tahun pada abad ke-14 dan ke-15. Konstruksi pertama dibangun oleh Sultan Muhammad bin Al Ahmar I (1257-1323), keluarga Bani al-Ahmar atau Bani NAsr yang masih keturunan Sa’id bin Ubadah salah seorang sahabat Rosululloh SAW dari suku Khajraj di Madinah. Kemudian bangunan itu diperluas oleh sultan-sultan sesudahnya. (Ensiklopedi Islam I, 1999:107).
Saya beralih ke ensiklopedi lain yakni Ensiklopedi Keluarga terbitan PT Cipta Mitra Sanadi tahun 1991 di halaman 24 disebutkan tentang pendirian Alhambra yang berbeda dari ensikolepedi pertama tadi. Kalu disini disebutkan Alhambra didirikan penguasa-penguasa Islam Granada pada abad ke-13 dan ke-14.
Alhambra dilukiskan sebagai perbentengan yang megah, tetapi didalamnya seperti istana bidadari yang luas, dengan halaman yang indah, pancuran dan tiang-tiang yang ramping-ramping, hiasan halus pada dinding dan langit-langit, pepeohonan dan bunga-bungaan. Banyak bagian istana asli yang sudah lenyap kini, tetapi beberapa bangunan yang paling terkenal seperti Istana Singa, tidak berubah banyak dari rancangan asli arsitek Islam dahulu.
Di buku lain yang ditulis oleh A. Hasjmy yaitu Sejarah Kebudayaan Islam terbitan PT Bulan BIntang tahun 1995 pada halaman 205 disebutkan Alhambra adalah “kota” yang termasyhur di kota Granada yang sampai sekarang masih ada dan menjadi objeknya kaum turis. Kota ini dibangun oleh Ibnu Ahmad pada pertengahan abad ke-8 Hijriah di atas tanah seluas 35 hektar. Di sini terlihat perbedaan luasnya, kalau dilihat di Ensiklopedi Islam maka istana atau benteng ini hanya dibangun pada tanah yang seluas 14 hektar saja. Allohua’lam.
Sedangkan pada buku yang ditulis oleh Joesoef Sou’yb berjudul Sejarah Daulat Umayyah di Cordova Jilid II terbitan PT Bulan Bintang tahun 1977 di halaman 14 ditulis:
“bahwa Emir Abdurrahman I di Andalusia membangun istana yang megah dan masjid agung yang terkenal di Cordova itu, yaitu Masjid Alhambra. IA mengeluarkan pembiayaan yang sedemikian besarnya bagi pembangunan masjid agung itu, yang belum sempat selesai pada saat dia wafat, tetapi diselesaikan kemudian oleh puteranya Emir Hisyam I (788-796M).
Kesalahan kecil di awal buku ini adalah menjelaskan bahwa Alhambra terletak di Cordova, sedangkan pada halaman 64 buku itu di bawah foto yang melukiskan keindahan salah satu bangunan Alhambra dijelaskan Alhambra adalah bangunan termasyhur di Granada. Jadi memang Alhambra terlerak di Granada bukan di Cordova walaupun sama-sama terletak di selatan Andalusia.
Inilah ruangan-ruangan yang ada di Alhambra:
1. Sala De Los Reyes : Ruangan Al-Hukmy;
2. Rouda : Taman Bunga;
3. Sala De Los Abencerrayes : Ruangan Abi Siraj;
4. Patio De Los Leones : Taman Singa;
5. Sala De Los Dos Hermanas : Ruangan Ukhtain (Ruangan Dua Perempuan Bersaudara);
6. Mirador De Lindaraja : Ruangan Bas-Sufra’;
7. Jardin De Lindaraja : Taman As-Sufra’;
8. Torre : Menara;
9. Sala De Las Camas : Ruangan Istirahat;
10. Patio De Los Cireeses : Taman;
11. Sala De Los Banos : Ruangan Bersinar;
12. Patia De La Alberca : Kolom AlBirkah;
13. Sala De Barca : Ruangan Berkah (ingat tentang kesebelasan Barcelona…?)
14. Sala De Comares : Ruangan Duta;
15. Oratorio : Mesjid;
16. Torre : Menara.
Itulah Alhambra yang indahnya tiada tara, sampai oleh Victor Hugo—pujangga barat yang terbesar itu membayangkan keindahannya dalam sebuah sajak (Israr,1978: 226):
Alhambra oo Alhambra
Hanya mungkin dalam mimpi
Atau istana mambang dan peri
Yang telah menjelma
Bila purnama raya
Memandikanmu dengan cahaya
Gemerlapan berkejaran
Riak air berdesiran
Bisik hati akan bergema
Oo alangkah indahnya
Pangeran India menulis Alhambra dengan hanya sebuah kalimat pendek:
Andaikata firdaus ada di dunia
Maka firdaus itu ialah Alhambra
Sesungguhnya kalau diceritakan satu persatu mengenai keindahan dan kemewahan Alhambra, sudah tentu akan memerlukan halaman yang banyak karena masing-masing bangunan yang ada di sana mempunyai keindahan, kemewahan, dan sejarah yang berlain-lainan.
Itulah Alhambra, yang pada tahun 1492 jatuh ke tangan umat Kristen dan menjadi istana Kristen, pada saat Ferdinan dan Isabella memaksakan kepada setiap pemeluk agama Islam di sana, baik pun Muslim pribumi maupun Muslim non pribumi, supaya memeluk agama Kristen atau angkat kaki dengan pakaian di tubuh saja. Begitupun juga terhadap seluruh orang Yahudi.
Ingat tentang inkuisisi? Peristiwa pembakaran ribuan muslim yang tetap bertahan dengan akidahnya.
Biasanya pada bagian terrakhir tentang Alhambra, tentang Andalusia ini, saya pertama-tama harus menguatkan hati ini karena tidak tega untuk membaca keruntuhan sebuah peradaban. Karena di setiap keruntuhan itu selalu ada darah ribuan muslim terbantai, di aniaya, diperkosa dan lain sebagainya. PAhit dan memilukan bagi seorang muslim Tetapi dari “guru yang bengis tapi baik” itu yakni pengalaman sejarah itu, banyak butir pelajaran bisa dipungut.
Oh…ya saya teringat sebuah artikel yang saya sudah lupa dapatkan darimana. Ketika salah seorang wisatawan di Indonesia datang mengunjungi Alhambra, petugas di sana langsung berterus terang bahwa dirinya masih tetap muslim dan sudah turun temurun. Dia langsung bercerita karena percaya bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Dan ia sampai saat ini, untuk melakukan sholat di Alhambra masih tetap harus sembunyi-sembunyi. Ia pun masih menyembunyikan identitas keislamannya.
Subhanalloh….di setitik debu peninggalan peradaban, ada mutiara yang selalu menyinarkan kilaunya.
Itulah Alhambra, sekelumit….
Jadi apakah Alhambra yang sudah merah haruskah dijelaskan merahnya yang sudah merah. Merahnya Alhambra ….merahnya merah…..(sebuah buku sastra yang pernah saya baca waktu SMP dulu).
Allohuta’ala a’lamu bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
dalam waktu yang mulai menusuk
20 Juli 2005

Novel Imperia


14.7.2005 – resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem

Tentang resensinya Bang Ekky terhadap Imperia-nya Bang Akmal, setidaknya saya sedikit banyak dapat memahami betapa ensiklopedisnya bang Akmal. Ini dapat dilihat dalam paragraph:
“Tetapi, semangat eksplorasi ensiklopedis ini ternyata juga menjadi
bumerang. Akibatnya, cerita menjadi tidak intens dan tidak fokus, di
beberapa tempat. Dan ini yang membedakannya dengan gaya Brown.”
Eksplorasi ensiklopedis ini juga pernah ditanggapi oleh Bang Herry Nurdi dalam resensinya:
“Cerita terakhir, tentang kesaktian Akmal Nasery Basral nampak ketika terjadi diskusi diruang maya milis Forum Lingkar Pena tentang film Kingdom of Heaven. Film yang berkisah tentang Sultan Saladin, King of Lepre, Balian of Ibelin, Tiberias dan berbagai tokoh lain dalam sejarah Perang Salib. Beberapa anggota milis berdebat tentang jalan cerita dan pemerannya. Tentang fiksi dan fakta, tentang eksis atau maya. Dan di antara perdebatan itu, Akmal muncul dengan postingan yang panjang menjelaskan sekian fakta tentang beberapa tokoh, lengkap dengan sejarahnya, asal kotanya, bahkan nama-nama kecil mereka dan nasib mereka setelah peristiwa yang digarap Ridley Scott dalam film itu.”
So, Bang Ekky dan Bang Herri Nurdi tahu persis mengenai Bang Akmal. Ini yang diharapkan bagi para pembaca (saya) dalam membaca resensi kedua abang ini, bahwa peresensi menulis dari kedalaman pengetahuannya dan memahami betul terhadap objek (imperia) juga subjeknya (bank Akmal).
Dalam membaca karya dua peresesensi ini setidaknya saya tidak alami sedikit gangguan. Beda ketika saya membaca sebuah ulasan Film Kingdom of Heaven di Majalah Tempo di halaman 151-152 kolom 6 paragraf 2 edisi 16-22 Mei 2005.
Entah ini sudah diulas (di sadari) oleh Bank Akmal (selaku wartawan Tempo) dalam membaca resensi film itu atau saya juga enggak tahu kalau sudah ada yang mengirim sedikit kritik atas ulasan tersebut dari pembaca Majalah Tempo yang lain—saya sudah mengirim email ke redaksi Majalah Tempo untuk sedikit bercerita tentang paragraph tersebut namun email saya balik lagi dengan “alert” yang berbunyi email undeliverable, mungkin email server di kantor kami yang sedang ngadat.
***
Senin itu Majalah Tempo baru milik teman sudah tergeletak dengan manisnya di meja saya. Setelah sedikit membaca berita utama saya tergerak untuk membaca ulasan film itu yang judul tulisannya adalah “Yang ‘Kudus’ ..yang Berdarah”.
Saya terbentur di halaman, kolom dan paragraph tersebut. Memori saya langsung bergerak memutar sedikit ruang ‘ensiklopedi’ kecil di kepala saya. Apa isi dari paragraph itu, setidaknya saya penggal pada bagian intinya:
“….dan seperti Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengijinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai…”.
Nah di sinilah letaknya yakni pada Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637.
Dapat saya ungkapkan di sini adalah bahwa yang menaklukkan Yerusalem pada era awal pemerintahan Islam Pasca kematian Rosululloh Muhammad SAW adalah sahabat Umar bin Khaththab ra bukan sahabat Abu Bakar (Ashshidiq) ra. Itupun terjadi pada tahun 638 M bukan di tahun 637 M.
Yang pertama ingin saya komentari adalah tahun terlebih dahulu, namun dalam masalah tahun hal ini masih bisa diperdebatkan karena menyangkut adanya konversi dari hijriah ke tahun masehi. Karena dalam berbagai referensi yang saya baca menunjukkan tahun-tahun yang berbeda, berkisar 636 dan 638 M.
Perbedaan tahun penaklukkan itu dapat diungkapkan di sinisebagai berikut:
1. Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 (ensiklopedi ini pas ada di samping Majalah Tempo); PT Ichtiar baru Van Hoeve: terjadinya pada tahun 638 M;
2. Ensiklopedi Islam jilid 5; PT Ichtiar baru Van Hoeve: tahun 636 M (penerbit yang sama memberikan tahun yang berbeda dalam amsalah ini);
3. 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah; Michael H Hart: Pustaka Jaya: Penakhlukkan Yerusalem terjadi dua tahun setelah Yarmuk (636 M) berarti terjadi pada tahun 638M;
4. Umar Bin Khattab; Muhammad Husin Haekal: Litera Antar Nusa: Penaklukan terjadi 15 Hijriah berarti tahun 622 M (tahun Rasululloh hijrah ke Madinah) ditambah 15 tahun jadi sekitar tahun 637 M, tapi yang fatal (ini entah kesalahan cetak atau bukan saya tidak tahu) ditulis dalam tanda kurung adalah pada tahun 535 M.
5. History of The Arabs; Philip K Hitti: Serambi Ilmu Semesta; tahun penaklukan berkisar tahun 638M.
Saya berusaha mencari di tiga buku lainnya tentang sejarah Daulat Islamiyah yang menyangkut pula Yerusalem ternyata tidak memuat tahun penaklukannya.Sekali lagi bahwa masalah tahun masih bisa diperdebatkan.
Namun yang paling fatal pula adalah bahwa penaklukan Yerusalem itu dilakukan oleh Abu Bakar—saya anggap nama ini adalah nama pendek dari Abu Bakar Assidiq, khalifaturasyidin pertama. Dari delapan buku yang saya baca semuanya jelas-jelas merujuk pada tokoh Umar bin Khattab bukan sahabat Abu Bakar Assidiq.
Salah satu contohnya bisa dilihat pada buku Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 di halaman 48 kolom 2 paragraf 3:
“Persetujuan ini disampaikan kepada Khalifah di Madinah, yang disertai permohonan agar Umar bersedia datang untuk menerima penyerahan Yerusalem. Pemimpin ini menyetujui perjanjian itu dan segera berangkat ke Palestina. Pada tahun 638 M, penyerahan kota suci itu dilakukan dari Patriach Sophorius kepada Khalifah Umar bin Khaththab.”
Sedangkan pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar belum sampai pada penguasaan Yerusalem, bisa di baca pada halaman 47 buku yang sama pada kolom 2 paragraf 3:
“Pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar berlangsung dari 12-13 H. Pada akhir pemerintahannya, pasukan Islam telah dapat menguasai daerah yang cukup luas. Selain Jazirah Arabia, yang dapat disatukannya kembali setelah munculnya gerakan pembangkang, beberapa daerah di luarnya dapat ditaklukan dan dimasukkan ke dalam kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukannya pada masa khalifah pertama ini antara lain Ubullah (terletak di pantai Teluk Persia), Lembah Mesopotamia, Hirah, Dumat al Jandal (kota benteng yang terletak di perbatasan Suriah), sebagian daerah yang berbatasan dengan Palestina, perbatasan Suriah dan sekitarnya.”
Kesimpulannya adalah Abu Bakar tidak sempat membebaskan Yerusalem pada masa keperintahannya karena beliau keburu wafat. Pada masa Umar bin Khattab itulah dilanjutkan ekspedisi tersebut hingga akhirnya Yerusalem dapat ditaklukkan.
Demikian koreksi ini saya sampaikan, karena bagi mereka yang terbiasa membaca tentang sejarah Islam akan mengalami “keterperanjatan” yang mengganjal.
Saya mohon maaf kalau hal (ulasan Kingdom of Heaven) ini sudah basi, atau sudah dibahas oleh Bang Akmal dalam postingan yang terdahulu, karena saat itu saya belum mengikuti milis ini.
Kurang lebihnya mohon maaf. Billaahittaufiq wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di antara malam yang smakin menggigit
citayam, 02.15, 15 Juli 2005