CATATAN AWAL TAHUN: IZRAILISME


CATATAN AWAL TAHUN:

IZRAILISME

 

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

***

01 Januari 2011

    Tadi malam saya bersyukur sekali bisa tidur nyenyak. Tanpa terganggu sedikit pun suara berisik nyanyian kodok dari orang-orang yang membuang-buang duitnya untuk terompet, petasan, dan kembang api.

    Shubuh berjama’ah di masjid hanya dihadiri oleh 5 orang ditambah Ayyasy yang dari jam tiga pagi tidak bisa tidur. Kebanyakan yang bermalamtahunbaruan tidak shalat shubuh di masjid. Kalaupun tidak tahun baruan juga masjid tetap sama kosongnya.

    Pagi ini, ingin sekali saya berangkat ke Salawu, Tasikmalaya. Berkumpul dengan keluarga besar di sana yang lagi hajatan kawinan. Tapi sayangnya kondisi Bapak lagi tidak fit—pagi ini saat saya tengok di kamarnya, asam uratnya kambuh lagi, kakinya bengkak.

Kinan tadi malam panas banget. Setelah dikasih obat penurun panas dan dipeluk dalam ketelanjangan dada Alhamdulillah sebelum adzan shubuh berkumandang, suhu badannya sudah mulai turun. Tapi kembali ini menyurutkan tekad untuk bisa berbondong-bondong pergi ke Salawu dengan semangat 45.

Saya berharap, keluarga di sana bisa memaklumi atas ketidakdatangan saya. Karena saya pun sebenarnya amat rindu dengan Salawu dan kebersamaannya.

Kemarin saya ditanya oleh teman tentang revolusi resolusi diri. Saya diam saja. Tak tahu akan menjawab apa. Tetapi pagi ini saya jadi tertarik untuk mengungkapkan ini. Yang pasti saya berharap dengan harapan yang sama dengan orang-orang lain: tahun depan adalah lebih baik daripada tahun kemarin.

Lebih khusus lagi saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain dengan lebih baik. Bisa tetap semangat menulis. Setiap hari. Menjadi petugas banding yang profesional dan punya integritas. Dari semuanya: keluarga adalah tetap nomor satu. Lebih cinta lagi pada Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, dan Kinan. Terbukti saya tidak bisa berpisah dengan mereka sehari pun dengan riang gembira.

Masih banyak lagi yang lain untuk diungkapkan. Tetapi biarlah itu menjadi sesuatu yang privat buat saya. Orang lain biarlah dengan urusannya masing-masing.

Tentang Indonesia? Berharap negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang hanya takut kepada Allah. Bukan yang takut kepada Amerika, Rusia, China, Eropa, Australia, Israel, beserta antek-anteknya. Dengan segala isme-isme yang menjadi jargon dan sesembahannya seperti imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, dan ….…… (titik-titik ini buat isme-isme yang berperikebinatangan lain yang tak sempat terpikirkan di pagi ini).

Kalau pemimpin hanya takut pada Yang Diatas, ia tak peduli dengan pencitraan, ia tak peduli dengan topeng, ia tak peduli dengan kroni-kroninya, ia tak peduli mau dipilih lagi atau tidak. Yang dipedulikannya adalah bagaimana negeri ini bisa jadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghoffur. Rakyatnya bisa makan semua. Bisa sehat semua. Bisa sekolah semua. Taqwa semua.

Tentang Indonesia lagi? ya, korupsi enggak ada lagi di muka buminya. Sayangnya para pembenci korupsi selalu berteriak-teriak kepada aparat pemerintah untuk tidak korupsi sedangkan nilai-nilai kejujuran sendiri tidak menjadi sesuatu yang inheren pada diri mereka. Ini sama saja seperti menggarami air lautan. Benahi diri dulu. Introspeksi diri dulu. Sudah jujurkah saya? Kalau sudah dan berkomitmen untuk selalu jujur, bolehlah berteriak. Hancurkan korupsi! Ganyang koruptor!

Pula bagi pengelola negeri ini—pemimpin dan aparaturnya, seberapa keras teriakan para mahasiswa dan rakyat untuk mengingatkan jangan korupsi, ya mbok didengar. Pasang telinga baik-baik. Kalau perlu cek ke dokter THT, untuk memastikan gendang telinganya masih utuh atau sudah bolong. Karena keutuhan gendang telinga menjadi ukuran budek atau tidaknya. Kalau sudah budek, memang dimaklumi untuk tidak mendengar suara-suara itu. Tapi memang enak jadi budek? Apa?! Apa?!

Yang lebih parah lagi adalah kalau nuraninya sudah budek walaupun telinganya tidak budek. Kalau bahasa langitnya adalah buta, tuli, dan bisu. Seberapapun kerasnya peringatan dan teguran untuk tidak korupsi, tetap saja dijabanin untuk hanya dapat memuaskan hawa nafsunya.

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Hanya sedikit harapan, yang kata orang sih resolusi diri. Yang pasti saya berkeinginan kepada Allah agar Izrailisme tak menyapa saya pada hari ini.

Semoga terkabul. Amin.

***

 

Riza Almanfaluthi

abdi negara yang lagi belajar jujur

dedaunan di ranting cemara

06.43 01 Januari 2011

 

 

TAGS: imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, izrailisme, Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, Kinan, salawu, tasikmalaya.

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/catatan-awal-tahun-izrailisme/

 

FILANTROPI SANG MUKA MONYET


[CATATAN SENIN KAMIS]:  FILANTROPI

Toyotomi Hideyoshi—yang berwajah seperti monyet – adalah tokoh besar Jepang abad XVI yang mampu menyatukan negeri yang tercabik-cabik dalam perang antarklan selama lebih dari 100 tahun, dan mempunyai konsep diri seperti ini: fokus pada memberi.

…hanya sedikit orang yang menangkap kebenaran ini. Kebanyakan lebih memilih untuk menyimpan sebanyak mungkin untuk diri mereka sendiri dan memberi sedikit mungkin. Itulah sebabnya dompet mereka tidak pernah bertambah tebal.

Maka dalam sebuah kesempatan, ia duduk di tumpukan kepingan emas yang hendak dibagikan senilai 1,17 trilyun rupiah—nilai saat ini, di tengah lapang, di luar gerbang selatan Istana Jurakutei, Kyoto. Orang-orang memalingkan muka saat timbunan itu memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Ia royal kepada pengikutnya.

**

Semakin banyak membaca tidak menjamin seseorang menjadi tahu segalanya. Semakin menulis pun demikian. Kita kembali menjadi bodoh dan bodoh. Betapa banyak ketidaktahuan yang dimiliki yang pada akhirnya memacu kita untuk merenangi samudra ilmu untuk mengikis daki-daki kejahilan.

Begitu pula dengan kata filantropi yang menjadi sesuatu yang baru buat saya beberapa hari belakangan ini. Diawali dengan notes dalam facebook seorang kawan. Pernah mendengar tetapi tak tahu makna dibaliknya. Aih, ternyata filantropi itu adalah sebuah kedermawanan atau cinta kasih kepada sesama.

Kalau demikian, saya bertambah yakin di balik makna kata itu ada sesuatu yang lebih besar lagi bagi para pelakunya. Bukankah ini adalah keadaan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah? Masalahnya sebegitu banyak balasan yang dijanjikan—700 kali lipat ganjaran—tidak menggerakkan hati untuk melakukannya. Mengapa?

Jawabannya adalah karena manusia senantiasa terbelit dengan sikap tamaknya hingga bergunung-gunung emas yang ia dapatkan namun kembali ingin merengkuh gunungan emas yang ada nun jauh di sana. Satu lagi karena ini adalah masalah iman. Dan filantropi adalah pembuktian adanya iman di dalam dada.

Maka berbicara tentang keimanan—karena ia adalah sesuatu yang abstrak, tak kasat mata—ia meyakini bahwa filantropi takkan membuat hartanya berkurang sedikitpun. Bahkan ia menetakkan filantropi adalah solusi atas setiap permasalahannya. Membuat hartanya kian banyak dari hari ke hari.

Ada kisah pembuktian sebuah filantropi seorang kawan. Ia mempunyai anak yang sedang mondok di pesantren. Jauh dari rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar anaknya sakit tipus dan harus dirawat di rumah sakit.

Pada saat yang hampir bersamaan, motornya yang diparkir oleh istrinya di depan rumah untuk ditinggal sebentar sholat Maghrib, hilang. Lenyap dicuri. Dan ia mendengar dari pegawainya kalau STNK (surat tanda nomor kendaraan) mobil yang biasa disewakannya hilang. Sudah jatuh tertimpa tangga tertusuk duri. Tiga cobaan menghentakkannya.

Segeralah ia pergi ke pesantren menjemput anaknya untuk dirawat. Kebetulan uang yang dibawa tidaklah banyak. Sebelumnya ia bertekad untuk menyisihkan sebagian uang yang ada untuk diberikan kepada yang membutuhkannya. Ekspresi kefilantropisannya. Walau dera tak kunjung reda.

Dengan nalar kemanusiawiaannya, sudah barang tentu adalah sesuatu yang wajar jika ekspresi itu ditinggalkan sejenak. Pun ia dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk berbagi. Tapi ia tidak. Bahkan saat yang sempit adalah sebuah bukti keimanan untuk ditunjukkan. Bukan disembunyikan di balik iba. Saat lapang dan mampu adalah saat yang biasa, wajar, dan tak aneh.

Apa yang terjadi setelahnya?

Sepulangnya dari perjalanan yang jauh hingga memakan waktu kerjanya itu, ia mendengar kabar kalau anaknya sudah mulai membaik. Lalu motornya yang hilang akan diganti dengan yang baru oleh dealer, segera. STNK-nya yang lenyap telah ditemukan oleh seseorang. Itu diketahui dari temannya yang kebetulan mendengarkan pengumuman di sebuah radio.

Sebuah kedermawanan menyelesaikan tiga masalahnya sekaligus, tidak pakai lama-lama. Banyak kisah yang mirip seperti ini. Tak bisa dihitung dengan jari. Masih meragukannya?

Hideyoshi tak sereligius Anda, ia tak meragukannya.

 

***

Bahan Bacaan:

The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad VXI, Kitamo Masao, Edited by: Tim Clark

 

Salam filantropi untuk rekan-rekan penulis buku Berkah DJP: Rosafiati Unik Wahyuni,  Kholid, Tang Dewi Sumawati,  Tommy, Marihot Pahala Siahaan, Irwan Aribowo , Dadi Gunadi, Eko Yudha Sulistijono, Tjandra Prihandono, Rini Raudhah Mastika Sari , Agus Suharsono,  Andy Prijanto, Ani Murtini, Raden Huddy Santiadji Musiawan Murharjanto, Rony Hermawan, Martin Purnama Putra , Teguh Budiono, Sri Sulton, Yunita, Windy Ariestanti Hera Supraba,  Yeni Suriany, Ari Saptono, Yusep Rahmat, Joko Susanto, Jeffry Martino, Eli Nafsiah , Desi Sulistiyawati , Atjep Amri Wahyudi , Muhammad Halik Amin, Sandi Syahrul Winata , Afan Nur Denta , Prasetyo Aji , Ari Pardono, Suwandi, Nufransa Wira Sakti, Agus Dwi Putra, Hendro Kusumo , Abdul Hofir, Sarbono, Yacob Yahya, Abdul Gani, Oji Saeroji , Ninoy Estimaria , Tutik Tri Setiyawati, Windhy Puspitadewi , Himawan Sutanto

 

 

Diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/27/filantropi/

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:39 27 Desember 2010

[CATATAN SENIN KAMIS]: TELEPON UMUM


[CATATAN SENIN KAMIS]: TELEPON UMUM

Rasanya aneh setelah sekian lama tidak menggenggam gagang telepon umum. Lima hingga delapan tahunan lebih sepertinya. Dan gayanya seperti itu-itu saja. Ada kotak besar. Ada celah sempit untuk memasukkan uang logaman 500-an. Ada celah besar untuk koin yang tak terpakai. Kumpulan tombol angka. Layar untuk menampilkan jumlah uang dan nomor telepon yang dituju. Gagang telepon dengan kabel ulir berwarna perak. Warna biru mendominasi kotak, kubah atas, dan tiangnya.

    Dua uang recehan saya masukkan. Terlihat angka 1000 di layar. Saya mencoba untuk menekan tombol nomor handphone (hp) tujuan. Tapi cuma tiga angka yang muncul. Selanjutnya di layar tidak ada gerakan apa-apa. Saya mencoba bertanya kepada dua anak SMU yang sedang berdiri di kotak sebelah.

    “Teh, telepon umum ini tidak bisa ke handphone yah?”

    “Enggak bisa Bang, kalau warnanya biru tidak bisa,” jawab salah satunya.

    “Maksudnya?”

    “Iya, kalau warna kotaknya oranye baru bisa menelepon ke hp, kalau yang biru enggak bisa.”

    Dan saya melihat tidak ada yang berwarna oranye di jejeran telepon umum Stasiun Citayam ini. Saya baru “ngeh” kalau ada perbedaan-perbedaan seperti itu. Perkiraan saya yang semula bahwa telepon umum sekarang sudah canggih sehingga bisa menelepon kemana saja ternyata salah.

    Tapi ya itu tadi. Sudah lama sekali saya tidak menggenggam gagang telepon umum, karena sejak lama telah tergantikan perannya dengan hp. Saya jadi teringat pada waktu era kejayaan telepon umum di tahun 90-an. Orang antri saat menelepon. Panjang berderet-deret. Apalagi kalau malam minggu, tambah panjang lagi antriannya. Sampai-sampai ada tulisan di atas kotak telepon itu,” Bicara Secukupnya.” Yang tak peduli, biasanya akan mendapat deheman sampai gerutuan dari orang yang dibelakangnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, aksi vandalisme pun menghiasi tempat-tempat di mana telepon umum berada. Mulai coretan nomor telepon “panggil aku”, iklan pijat, cacian jorok, perusakan, sampai mancing pulsa dengan uang logam yang diikat benang. Banyak pula telepon umum yang tak berfungsi.

    Bagi yang tidak mau antri dan pembicaraannya didengar orang lain serta bisa berlama-lama menelepon, Warung Telekomunikasi (Wartel) bisa menjadi solusi. Walaupun masih juga terjadi antrian jika wartel di daerah itu terbatas dan ramai banget. Pada saat itu wartel menjadi alternatif berinvestasi bagi pengusaha kecil. Maka wartel pun tumbuh berkembang bak cendawan di musim hujan.

    Antrian di telepon umum, ramainya wartel, dan kebutuhan untuk selalu berkomunikasi pada masa itu menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi di saat Telkom tidak mampu memenuhi permintaan masyarakat untuk memberikan sambungan tetap. Apalagi regulasi pertelekomunikasian masih memperkenankan Telkom buat memonopoli bisnis menggiurkan itu.

    Masih diingat, bagaimana perlu waktu yang lama untuk bisa mendapatkan nomor sambungan tetap. Dan sepertinya masyarakat rela untuk antri berjam-jam demi mendapatkan nomor itu. Nomor telepon rumah sepertinya menjadi sebuah alat untuk eksistensi diri bagi masyarakat pedesaan yang agraris dan perkotaan yang baru tumbuh. Atau hanya untuk mendapatkan fasilitas kredit.

    Yang mau cepat untuk mendapatkan nomor telepon rumah, ada juga masyarakat yang beralih ke penyedia layanan telekomunikasi lainnya—perusahaan ini pun harus menjadi partner bagi Telkom—tapi sayang kualitasnya buruk. Karena sinyal telekomunikasi tidak melalui jaringan kabel melainkan melalui jaringan wireless dengan antena khusus sebagai penerima sinyal radionya.

    Zaman berubah. Regulasi berubah. Monopoli Telkom pun dicabut. Berbondong-bondong perusahaan telekomunikasi tanpa kabel melalui jaringan GSM (Global System for Mobile Communications) dan CDMA (Code Division Multiple Access) datang ke Indonesia. Produsen hp dunia pun menjadikan Indonesia sebagai salah satu pangsa pasar yang menggiurkan.

    Kemunculan pertama kalinya ditandai dengan masih mahalnya hp dan nomornya. Bagaimana SIM Card masih menjadi barang yang tak terjangkau. Di sekitar tahun 2000 nomor biasa saja dijual dengan harga 500-ribuan apalagi dengan nomor cantiknya.

Di tahun-tahun sebelumnya hp hanya menjadi tontonan yang ada di sinetron-sinetron Indonesia atau film-film hongkong. Itupun bentuknya seperti balok kayu seukuran setengah lengan orang dewasa. Cukup untuk menimpuk anjing sampai terkaing-kaing.

Yang masih hanya bisa bermimpi mendapatkan hp, pelipur laranya adalah pager. Semacam alat untuk menerima pesan tertulis (SMS). Untuk mengirim pesan ke nomor pager yang lain perlu menelepon operatornya terlebih dahulu. Tidak praktis. Terbukti kemunculan penyedia jasa layanan ini tidak bertahan lama.

Sekarang hp murahnya minta ampun. Nomornya apalagi. Noceng (Rp2000,00) juga sudah dapat. Gratis malah kalau kita beli sekalian hp-nya. Dan bagaimana dengan telepon umum, wartel, wireless phone, pager? Ada yang masih bertahan dan juga lenyap sama sekali digilas perkembangan teknologi dan ketatnya persaingan dari para operator telekomunikasi.

Pager hilang ditelan bumi. Telepon umum masih di beberapa tempat. Kebanyakan sudah menjadi rongsokan. Wireless phone mati perkembangannya. Wartel rontok satu demi satu terkecuali di pedesaan yang menara BTS (Base Transceiver Station) operator seluler-nya belum berdiri. Telepon rumah? Sudah jadi onggokan yang jarang dipakai di rumah. Telkom sekarang sudah tak acap menawarkan sambungan tetapnya, yang ada hanya tawaran kepada para pelanggan tetap untuk ikut dalam program sambungan internet dan jaringan CDMA-nya.

Memang sesuatu yang stagnan tidak akan abadi. Ia akan kalah. Itu takdirnya. Untuk memenangkannya adalah pada inovasi yang mendarah daging di setiap karya. Telkom masih tetap eksis hingga kini karena inovasi pada produk layanannya. Sahamnya tetap menjadi blue chip. Ratelindo tak mau untuk mengulangi kegagalannya di masa lalu dengan bertiwikrama menjadi Esia.

Inovasi berpijak pada kemauan dan kemampuan untuk berkembang diri. Dengan kerja keras tentunya. Ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Inovasi dan ilmu pengetahuan adalah kepingan yang berkelindan. Tak bisa dipisahkan.

Seharusnya demikianlah pula saya, hingga tak ketinggalan zaman untuk mengikuti perkembangan dari tidak berkembangnya telepon umum. Maka tak perlu untuk menanyakan itu kepada dua anak SMU kiranya saya mengetahui.

“Bang…nih koinnya ketinggalan,” tegur anak SMU itu dari kejauhan.

“Ambil saja…!”

***

Thanks banget buat teman-teman Banding dan Gugatan 2, Direktorat Keberatan dan Banding: AA Yoga, Arya, Rifun, Ipung, Indra Gunawan, Mas Dibjo, Unesa-ja, Kang Awe, Nona Avrida Rombe, Leyjun, Mbak Ana, Mas Bayu, Uda Zai, 3S (Mas Suroto, Sapto, Safar), Chris, TP (Teguh Pambudi), Mbak Dian Angraeni, Elvina, Bro Ton, mas Adiprasetyo, Daeng Idham Ismail, Mas Faisal, AA Widi, AA Iman, AA Heru.

 

 

CATATAN SENIN KAMIS untuk Forum Diskusi Portal DJP

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:05 20 Desember 2010

    
 

 

 

 

 

    
 

    

Yth. Bro and Sist…


 

Yth. Bro and sist semua

di manapun berada.

 

Bro and Sist…apa kabar pagi ini? Saya harap bro and sist semua baik-baik saja. Sehat semuanya. Jasmani dan ruhaninya. Bangun tidur tadi pagi dengan penuh semangat dan keceriaan. Walaupun pahitnya hidup masih dirasa di pelupuk mata, tapi anggaplah itu sebagai pelangi agar hidup kita terasa lebih berwarna. Yang tak punya problema hidup berat, bersyukurlah ternyata Tuhan masih banyak memberikan kepada kita nikmat yang lebih daripada yang masih tidur di kolong-kolong jembatan itu.

Bro and sist…saya mau cerita nih. Saya harap cerita ini bermanfaat buat kita semua. Cerita ini teramat menggugah saya. Dikisahkan dari teman baru saya yang berasal dari Sidoarjo sana. Kurang lebihnya begini ceritanya bro and sist.

Ada tiga orang terpidana mati. Mereka akan dihukum mati malam ini. Caranya? Mereka akan dimasukkan ke dalam kotak sempit dan gelap. Dari celah sempit yang sengaja dibuat di kotak itu terjulur ke luar selang seukuran jempol manusia.

Sebelum mereka dimasukkan, algojo membisikkan sesuatu kepada mereka, “kamu akan dijebloskan ke dalam kotak itu dan saya akan alirkan gas beracun itu pelan-pelan ke dalamnya, lalu kamu akan mati perlahan-lahan.”

Apa yang terjadi bro and sist dengan ketiga terpidana mati itu? Keesokan paginya, saat kotak itu dibuka, dua orang mati sedangkan satu lainnya sekarat. Padahal, bro and sist, tidak ada sedikitpun gas beracun yang dialirkan ke dalam kotak itu. Lalu mengapa mereka mati? Pikiran mereka yang menyakiti dan membunuh mereka sendiri.

Begitulah bro and sist, di saat pikiran kita telah tertanam sesuatu yang negatif maka pikiran dalam otak yang ada di batok kepala kita itu mengirimkan sinyal-sinyal negatif dan mematikan kepada seluruh anggota tubuh.

Otak dengan sinyal-sinyal elektriknya akan memerintahkan kaki untuk tidak bergerak, darah untuk berhenti mengalir, jantung untuk stop berdenyut, dan seluruh tubuh untuk menjadi pecundang. Mati. Maka matilah ia.

Bro and sist, yang dibutuhkan seorang karateka, petinju, pesepak bola, pegolf, pesilat, pedayung, petenis meja, atau olahragawan lainnya selain dari keahlian teknis yang harus dikuasai untuk memenangkan pertandingan maka kekuatan mental juara harus dimiliki oleh mereka. Pantang menyerah sebelum bertanding. Pantang ada kata “kalah” dalam pikirannya.

Karena jika “kalah” itu sudah menjadi penguasa dalam pikirannya maka otak akan memerintahkan kaki, tangan, siku, lutut, dan organ tubuh lainnya untuk diam, kalah, takluk, ambau, tumbang, dan tunduk. Ia menjadi pecundang.

Bro and sist, itulah yang namanya kekuatan berpikir. Dan betullah apa yang telah dikatakan teladan kita, Muhammad saw, kalau Tuhan itu tergantung dari prasangka hamba-Nya. Kalau hambanya ketika bangun tidur sudah pesimis duluan dalam menghadapi hidup maka ia seharian itu seakan mempunyai dunia yang seolah neraka. Tak memberinya kebahagian. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan kepedihan.

Kalau hamba-Nya di saat berdoa tak mempunyai keyakinan untuk dikabulkan doanya, ya sudah Tuhan juga tak perlu untuk mengabulkan doa hamba-Nya itu. Begitupula sebaliknya.

Pun, kalimat yang terlontar dari lidahnya pada saat menjenguk orang yang sakit adalah kalimat-kalimat positif yang mengandung kekuatan luar biasa. Laa ba’tsa, thohurun, Insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

Bro and sist…membaca cerita itu saya jadi malu kepada diri sendiri. Terlalu banyak nikmat yang diberikan kepada saya tetapi saya begini-begini bae. Maksudnya kalau dilihat dari grafik naik atau turunnya iman, kayaknya degradasinya terlalu tajam. Bro and sist bagaimana? Saya harap tidak lah yah…

Bro and sist… orang yang terbaik di antara kita bukanlah orang yang selalu benar, tetapi yang terbaik adalah orang yang ketika ia salah ia lalu menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Itulah yang terbaik di antara kita. Dan tentunya ada sebuah asa dari saya kalau bro and sist lebih baik daripada saya.

Bro and sist…kembali kepada masalah kekuatan berpikir itu, maka kita hendaknya selalu bertekad untuk memenuhi hidup kita dengan sebuah keyakinan yang positif, positif, dan positif. Yah…minimal ketika bangun dari tidur kita berpikir seperti ini:

Kalau ada hutang yang menumpuk, ah…yakin suatu saat pasti terbayar. Insya Allah.

Jika ada sakit yang menyeri tak tertahankan, ah…yakin hari ini juga akan sembuh. Insya Allah.

Andaikata ada beban pekerjaan yang teramat sulit, ah…yakin hari ini dimudahkan. Insya Allah.

Jikalau ada cinta yang tertolak, ah…yakin hari ini cinta itu baru, datang, dan kembali. Insya Allah.

Andaikan ada hati yang tersakiti, ah…yakin pintu maaf itu akan terbuka lebar darinya. Insya Allah.

Kalau-kalau ada rezeki yang tak kunjung datang, seperti IPK (imbalan prestasi kerja) misalnya, ah…yakin rezeki itu tak akan lari ke mana. Insya Allah.

Semampang ada penyejuk mata yang tak kunjung hadir untuk menghibur kita, ah…yakin purnama depan ada bulan yang terlambat datang menjemput kita atau pasangan kita. Insya Allah.

Semisal jabatan tak kunjung naik, ah…yakin ada yang lebih baik daripada sekadar itu. Insya Allah.

Senyampang kita tak kunjung berkumpul dengan keluarga karena bertugas nun jauh di sana, ah…yakin kita bisa berhimpun dengan mereka besok. Insya Allah.

Seumpama ada hasil ujian yang mengecewakan, ah…yakinlah tahun depan kita lulus dan masuk menjadi peserta yang terbaik. Insya Allah.

Sekiranya ada begitu banyak cita yang belum terwujud sedemikian rupa, ah yakinlah semua itu akan terjadi untuk kita semua besok. Insya Allah.

Ihwalnya adalah sudahkah kita meminta semua itu kepada Tuhan? Sudahkah dengan sebuah keyakinan yang teramat positif?

Bila dua pertanyaan itu terjawab dengan satu kata lima huruf “sudah”, yakinlah semua itu tinggal menunggu waktu.

Dengan izin Allah, Bro and Sist…

***

Artikel ini khusus saya persembahkan buat teman-teman milis dedaunan (pajak.go.id). Tidak saya unggah di manapun sebelum bro and sist menikmatinya terlebih dahulu.

Herlin Sulismiyarti ; HARTYASTUTI ; Harsoyo ; GANUNG HARNAWA ; Fee ; Euis Purnama Sari ; Erwinsyah ; Erwan ; Ervan.Budianto ; Erni Nurdiana ; ERIN FADILASARI ; Erfan ; ENI SUSILOWATI ; EMMA KATANINGRUM ; ELDES GINA KENCANAWATI MARBUN SS ; Dina LestariDian Rahmawati ; DEWI DAMAYANTI ; DEWI ANDRIANI ; DESIANA WITIANINGTYAS ; DESI PURBI MULYANI ; CUCU SRI RAHAYU BOTUTIHE ; Binanto Suryono ; Ayu Diah Rahmayati ; Awik Setyaningsih ; Ardiana ; ANTON RUKMANA ; ANIK NOERDIANINGSIH ; ANANG ANGGARJITO ; AMRAN ; ALIYAH ; AL MUKMIN ; Agus Budihardjo ; Agung.Susanto ; Ade Hasan Pahru Roji ; Abdul Manan L. L. M. ; 060089104-MOHAMMAD SUROTO ; BUDI UTOMO

ZAKKI ASYHARI ; UJANG SOBARI ; UHA INDIBA DRS ; TUJANAWATI ; TRI SATYA HADI ; Tosirin ; Tjandra Risnandar ; Titik Minarti ; Tintan Dewiyana ; SULISTIYOWATI ; SITI NURAINI ; Setyo.Harini ; RULI KUSHENDRAYU ; ROOS.YULINAPATRIANINGSIH; RINA FEBRIANA SITEPU ; RIMON DOMIYAN ; Ratna Marlina ; Nugroho Putu Warsito ; NANA DIANA ; NADY SAPUTRA ; LISTYA RINDRAWARDHANI ; LIA YULIANI ; LAYLI SULISTIORINI ; Larisman Gaja ; KHURIAH NUR AZIZAH ; Khadijah ; Ita Dyah Nursanti ; IRMA HANDAYANI ; INDRIA SARI ; IMAMUDDIN HAKIM ; Ikaring Tyas Aseaningrum ; Ibu Leli Listianawati ; Ibu Mona Junita Nasution; HERRI RAKHMAT SE.AK ; HERPRANOTO ; ROSVITA WARDHANI

 

 

Tags: muhammad, ipk, imbalan prestasi kerja, hukuman mati, terpidana mati

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

07.59 16 Desember 2010

 

 

 

MANUSIA LENGKAP


MANUSIA LENGKAP

Sore ini saya terperangah dengan banyaknya buku yang teramat menarik di rak-rak itu. Judul-judul yang terpampang di sampulnya menggoda saya untuk membelinya. Sungguh, kalau saja saya tak mengingat betapa banyak yang harus dibeli untuk si Bungsu, saya akan borong itu buku.

    Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di toko buku terkenal ini. Dan sekali datang sungguh langsung menyesakkan dada kalau saya tak sanggup untuk membeli semua buku yang diincar. Saya pikir saya harus punya target untuk dapat memilikinya. Dengan mencicil satu dua buku di setiap bulan misalnya.

    Ah, kalau saja saya tak mengingat waktu yang ada, tentu saja saya akan berlama-lama di sana hingga toko itu tutup. Membaca dan banyak membaca. Hingga dahaga akan ilmu itu terpuaskan. Bukannya sok pintar atau dianggap berilmu, tapi itu memang sudah menjadi kebutuhan. Minimal saat buku itu termiliki, keberadaannya dapat mengusir bosan ketika naik kereta rek listrik. Lebih berguna daripada sekadar menebak-nebak tak karuan berapa lama lagi kereta ini sampai di stasiun terdekat.

    Banyak buku yang ingin saya miliki. Temanya juga banyak. Tentang dunia perwayangan beserta tokoh-tokohnya. Ini gara-gara “racun” Gunawan Mohammad dalam catatan pinggirnya yang banyak mengisahkan jagat para dewa dan ksatria itu.

Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun menarik minat saya. Terutama berkaitan dengan Mataram Islam dan format mutakhirnya yang terpecah menjadi empat, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Ada lagi buku bagus lagi, tapi harganya tak kira-kira. Atlas Perang Salib, Fikih Jihad Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, Antara Mekkah & Madinah harganya di atas rongatus ewuan (dua ratus ribuan). Hanya Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab yang harganya di bawah itu.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang tidak saya bidik. Tapi membeli buku yang kebetulan sempat tertangkap oleh mata. Bukunya Jonru—pegiat Forum Lingkar Pena pastinya sudah tahu tentang orang yang satu ini. Buku berjudul Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat itu menarik perhatian saya. Kayaknya renyah untuk disantap otak saya. Ringan dan gurih. Enggak perlu mikir banyak. Itu konklusi sementara saya.

Tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan toko buku itu, saya sempatkan diri ke bagian buku murah. Yang kisaran harganya mulai dari goceng (lima ribu rupiah) sampai ceban-go (15 ribu rupiah). Ternyata…wow. Bagus-bagus banget. Tebal-tebal lagi. Terutama novel-novel terbitan Penerbit Hikmah.

Suer…kalau enggak ingat Kinan, saya ambil semua. Saking bingungnya saya sempat lama mikir. Buku mana yang harus dipilih. Tentu ada kriterianya. Buku yang benar-benar bisa habis dibaca. Selain itu. No way…nanti saja!

Pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Laskar Pelangi The Phenomenon, buku yang sempat saya idam-idamkan tapi tidak jadi dibeli karena relatif mahal pada waktu itu. Yang kedua adalah Evo Morales:
Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika. Terus terang saja, buku murah itu kondisinya bagus sekali. Masih dalam plastik. Bukunya Jonru saja masih kalah—tidak dibungkus plastik.

Tiga buku murah lainnya yang bercerita tentang Blackberry, Facebook, dan Google saya abaikan. “Lain kali saya akan beli kalian,” pikir saya dengan tekad membaja dan semangat 45. Maklum duit di dompet cuma tinggal 14 ribu rupiah. Mepet banget untuk sampai ke rumah.

Di sepanjang perjalanan saya gelisah, karena tak sabar untuk segera membaca ketiga buku yang saya beli itu. Lebih gelisah lagi karena saya ingin membagi perasaan saya ini kepada Anda semua Pembaca. Oleh karenanya saya tulis ini untuk Anda.

Teringat dengan ucapan Francois Bacon—membaca menciptakan manusia lengkap—saya menginginkan Anda untuk banyak membaca. Saya juga. Membaca adalah langkah awal untuk menulis. Pun, dengan itu kita akan merasa betapa ilmu yang kita miliki teramatlah sedikit. Sedikit sekali…

Ayo…membaca.

***

 

Tags: facebook, google, blackberry, penerbit hikmah, francois bacon, goenawan mohamad, catatan pinggir, evo morales, jonru, jonriah ukur, laskar pelangi, laskar pelangi the phenomenon, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunegaran, forum lingkar pena, flp, yusuf al qaradhawy

diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/11/manusia-lengkap/

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad bukan malam panjang

21.17 11 Desember 2010

ENEMY OF THE STATE


ENEMY OF THE STATE

 

Kehidupan Robert Dean (diperankan Will Smith) hilang setelah sekelompok agen NSA (National Security Agency) di bawah pimpinan politik korup, Thomas Brian Reynolds (Jon Voight), memburunya. Keluarga dan karirnya lenyap. Asetnya dibekukan. Bahkan tuduhan membunuh pun telah dipersiapkan untuknya.

Ini gara-gara temannya sebelum mati menitipkan rekaman pembunuhan senator yang dilakukan Reynolds. Dikejar ke sana ke mari oleh banyak Agen NSA yang didukung dengan teknologi mata-mata dan pencitraan satelit canggih, Dean telah menjadi enemy of the state.

Dean tak mau menyerah, ia berusaha untuk dapat mengembalikan hidupnya. Untuk itu ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh mantan agen rahasia yang bernama “Brill”. Mereka berdua mampu membalikkan keadaan dan menjadi pemenang perseteruan itu.

Itulah sedikit kisah Enemy of the State, film yang dibesut oleh sutradara Tony Scott dan dirilis di tahun 1998. Tetapi bukan untuk mengupas film itu artikel ini dibuat. Apa yang dimunculkan oleh Hollywood bisa dijadikan cerminan yang terjadi di dunia nyata.

Betapa tidak, pembunuhan karakter dan penghilangan kehidupan seorang target dapat dilakukan dengan mudah oleh para pemilik kekuasaan. Untuk dapat menangkap seseorang yang menjadi musuh politik atau membahayakan karirnya, mereka mampu untuk membuat cerita bohong, rekayasa, dan konspirasi rumit.

Contoh gampangnya demikian: saldo rekening banknya tiba-tiba bertambah padahal ia tidak tahu dari mana duit itu bisa mampir ke rekeningnya. Dan tiba-tiba ia mendapatkan tuduhan yang disebar melalui media bahwa ia korupsi. Atau tahu-tahu ayah dan ibunya ditangkap oleh polisi dengan berita yang muncul keesokan harinya: mereka dianggap sebagai pengedar narkoba. Banyak lagi lainnya. Tujuannya cuma satu. Orang yang dijadikan target diharap untuk menyerah dan tidak melakukan apa-apa.

Ini pula yang diterima oleh Julian Assange, pendiri Wikileaks. Situs yang pada bulan April 2010 memposting video serangan helikopter Apache Amerika Serikat (AS) pada 2007 di Afghanistan dan menewaskan fotografer dan supir Reuters. Situs yang pada Juli 2010 menerbitkan sebanyak lebih dari 77 ribu dokumen serangan AS di Afghanistan. Kini 250 ribuan lebih dokumen kawat kedutaan besar AS di berbagai negara siap untuk diunggah di situs itu—sebagiannya sudah.

Julian Assange adalah orang yang paling dicari dan diburu oleh interpol (polisi internasional) atas permintaan pengadilan Swedia. Kalau sudah berkaitan dengan interpol, maka Assange harus berurusan dengan 188 negara anggota di dalamnya. Dugaannya ia telah melakukan kejahatan seksual, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebelumnya Assange juga telah ditolak untuk tetap tinggal di Swedia, alasannya persyaratannya tidak terpenuhi.

Akan ada otoritas yang menolak untuk mengaitkan apa yang dialami oleh Assange dengan bocornya sejumlah dokumen rahasia AS ke sejumlah pihak. Seperti otoritas Kejaksaan Swedia yang mengatakan bahwa ada laporan dari pihak yang dilecehkan ke kepolisian atau karena Assange dianggap tidak kooperatif dalam penyidikan yang dilakukan oleh otoritas AS.

Australia pun—tempat Assange lahir dan dibesarkan—melakukan hal serupa dengan memerintahkan otoritas kejaksaan untuk menyelidiki adanya kemungkinan Assange telah melakukan pelanggaran undang-undang.

Assange telah menjadi enemy of the state.

Itulah resiko peniup peluit (whistle blower). Nasib Khairiansyah Salman
dan Susno Duaji hampir-hampir mirip. Tentu dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Khairiansyah Salman membongkar kasus korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2005 lalu. Sedangkan Susno Duaji membongkar korupsi besar yang melibatkan banyak profesi.

Setelahnya, dua-duanya mendapatkan penghargaan. Khairiansyah memperoleh Integrity Award 2005 dari Transparency International. Susno dianugerahi Top Newsmaker oleh PWI Jaya. Dan dua-duanya lalu dijadikan tersangka dalam kasus lain. Yang tampak dari ini adalah tiadanya perlindungan hukum buat para peniup peluit itu.

Akankah itu akan menakutkan bagi para peniup peluit yang ada di Direktorat Jenderal Pajak ini? Pun setelah seluruh pegawai dirangsang dengan pariwara untuk menjadi peniup peluit. Alih-alih diberikan penghargaan sebagai orang yang telah menyelamatkan bangsa ini dari penyakit akut yang dideritanya, malah sebaliknya. Masa lalu dibongkar, dijauhi teman sejawat, karir hancur, dan bahkan fitnah yang sebegitu banyaknya.

Diyakini, bahwa ada sistem di instansi ini yang akan memberikan perlidungan—hukum, kenyamanan dalam bekerja—kepada para peniup peluit ini. Masalahnya adalah sudahkah diberikan keyakinan yang 100% kepada para mereka? Jika tidak jangan harap mereka mau menjadi peniup peluit. Karena bagi mereka menjadi peniup peluit sama saja dengan menjadi enemy of the state.

Semoga tidak.

 

Dimuat di situs internal DJP: http://kitsda

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

katak-katak malam itu sekarang telah bernyanyi riang

11.20 06 Desember 2010

DKNY


DKNY

 

Wanita berkerudung di depan saya menyerahkan sebuah kantong plastik berisikan bungkusan besar yang tertutup koran. “Ini buat bapak?”

“Apa isinya, Bu?”

“Tas wanita buat Istri Bapak.”

“Tak perlu, Bu. Bawa saja lagi.” Saya bisa memperkirakan bahwa tas itu selevel dengan tas-tas yang dijual di gerai-gerai seluruh dunia dengan label “DKNY”. Maklum perusahaan tempat wanita itu bekerja adalah subkontraktor dari eksportir yang menyuplai tas buat butik terkenal itu.

“Benar loh Pak ini tidak ada kaitannya dengan tugas Bapak. Kami tulus memberikannya. Dan ini perintah atasan saya. Karena dia menilai Bapak banyak membantu kami.”

“Enggak Bu, saya tidak bisa menerimanya. Saya hargai semua ini. Tapi saya minta maaf, sekali lagi, saya tidak bisa menerimanya. Dan saya tetap beranggapan bahwa Ibu ngasih itu karena saya orang pajak. Coba kalau saya cuma orang yang ada di pinggir jalan itu apa Ibu mau memberi sesuatu kepada saya?”

“Enggak kok Pak, kita-kita yang karyawan juga dikasih oleh bos saya. Tidak hanya Bapak. Dan bos saya malahan enggak ngasih kepada orang yang sengaja minta-minta. Contohnya saat ada petugas pemda yang datang dan minta tas ini, bos saya bilang tidak bisa.”

Dengan sedikit ngotot dan berulang kali saya harus meminta maaf agar tidak menyinggung dia disertai penjelasan beberapa poin dari kode etik akhirnya wanita itu memahami komitmen saya ini. Lebih baik ditolak dari awal.

Ada cerita lain. Teman saya menitipkan dokumen kepada saya untuk diserahkan kepada Wajib Pajak yang akan datang hari ini—kebetulan dia pergi ke luar kantor karena ada keperluan yang mendesak. Dokumen itu berupa surat keputusan bebas pajak yang bernilai besar.

Karena ini amanah, maka ketika Wajib Pajak itu datang dan duduk di ruang tamu saya serahkan saja surat keputusan itu tanpa basa-basi. Sebagai penghormatan tentunya saya tidak berdiri sebelum tamu tersebut pamit pulang terlebih dahulu. Namun tiba-tiba ada jeda waktu tanpa pembicaraan di antara kami. Dan ini ditanggapi lain oleh Wajib Pajak.

“Tidak ada apa-apa lagi nih Pak?” kata Wajib Pajak.

“Maksudnya?” tanya saya karena saya benar-benar tidak mengerti.

“Berapa yang harus kami bayar?” tanyanya lagi dan ini mengagetkan saya.

“Ooo…enggak ada pak. Ini gratis.” Suasana kaku dan posisi saya yang tidak segera beranjak dari kursi tamu mungkin membuat Wajib Pajak merasa tidak enak dan ada sesuatu yang ditunggu oleh saya. Oleh karenanya setelah saya berkata itu saya jabat tangannya dan segera mengucapkan terima kasih atas kedatangannya.

***

Cerita ini saya ceritakan bukan karena saya adalah makhluk suci tanpa dosa dan cela. Kalau demikian namanya malaikat, sang makhluk ghaib. Bukan pula sebangsa makhluk halus, lelembut, dedemit, memegik, ataupun jin merakayangan. Saya cuma makhluk kasar bertubuh kasar terbuat dari tanah.

Tapi cerita ini membuat saya mengerti (mengerti bukan berarti memahami dan menerima resiko apa yang ada di dalamnya yah…) tentang perlunya sebuah mutasi dalam sebuah organisasi kami. Mutasi diperlukan salah satunya selain untuk mengatasi kejenuhan juga untuk menghindari adanya kedekatan-kedekatan antara petugas pajak dengan Wajib Pajak. Yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya ketidakprofesionalan. Baik dari petugas pajak itu sendiri atau Wajib Pajak.

Tapi bagi saya selain karena berusaha menegakkan sikap profesionalisme—walaupun dengan tertatih-tatih dan terengah-engah—ada sebuah nasehat dan pemahaman yang luar biasa dari orang rumah kepada saya: “Itu tidak seberapa. Allah akan kasih yang lebih besar, lebih banyak, dan lebih berkah sebagai penggantinya.” Ini yang memotivasi saya sehingga mampu untuk melakukan itu.

Dan saya yakin betul tidak hanya saya yang melakukan ini. Banyak kawan-kawan sejawat saya yang telah berbuat lebih dari ini dan mempunyai cerita-cerita sejenis di atas yang lebih dahsyat, lebih dramatis lagi. Yang karena saking tawadhunya mereka, cukup pengalaman itu buat mereka sendiri dan tidak mau menceritakannya kepada yang lain.

***

Cerita kedua membuat saya bertambah mengerti lagi, kalau nilai-nilai modernisasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak (DJP)—setelah sekian lama—juga belum semuanya dimengerti oleh Wajib Pajak. Buktinya masih ada juga Wajib Pajak yang menawar-nawarkan sesuatu kepada petugas pajak.

Saya memaklumi kalau Wajib Pajak bersikap demikian. Karena faktanya kalau kita pun berurusan dengan birokrasi di instansi pemerintahan dan urusan kita telah selesai, kita merasa enggak enak kalau enggak memberikan sesuatu. Padahal kita sudah tahu kalau semua urusan itu tidak dipungut biaya ataupun kalau ada biaya tentu dengan tarif resmi yang telah ditetapkan.

Masalahnya adalah mau atau tidak birokrasi tersebut untuk mengembangkan budaya menolak pemberian itu kepada seluruh penggawanya. Saya yakin mereka bisa asal ada niat baik dari para pucuk tertinggi birokrasi tersebut. Kalau DJP saja bisa, tentu yang lainnya bisa. Apalagi setelah rencana pemberian remunerasi akan direalisasikan kepada seluruh instansi pemerintahan—walaupun masih secara bertahap mengingat keuangan negara yang belum memungkinkan untuk melakukannya secara serentak.

Nah, ternyata kawan-kawan di DJP punya tugas mulia mengumpulkan penerimaan negara sebanyak-banyaknya sebagai sarana untuk menjadikan aparat birokrasi lebih mulia, terhormat, bermartabat dan Indonesia lebih baik lagi. Berharap banget…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.19 26 september 2010

dimuat di situs kitsda.

DOA MUTASI


 

Ini kisah nyata yang dituturkannya kepada saya. Pada bulan Ramadan beberapa tahun lampau, saat itu ia masih menjadi mahasiswa Al-Azhar di Kairo. Sore menjelang berbuka puasa, flatnya kedatangan tamu besar. Seorang pimpinan tertinggi atau Mursyid ‘Am dari organisasi oposisi terbesar di Mesir, Ikhwanul Muslimin.

Tentu dengan senang hati ia menyambut tamu tersebut. Yang membuat ia bertambah terkejut adalah kehendak Mursyid ‘Am itu agar ia memberikan kultum kepada para seluruh jemaah ifthor jama’i (berbuka puasa bersama-sama). Ah, bagaimana bisa seorang mahasiswa memberikan nasehat kepada seorang ulama besar? Namun, mau tidak mau ia harus melakukannya.

Akhirnya ia memberikan sedikit ceramah agama kepada para tamunya. Saat diperhatikan, Mursyid Am tersebut mendengarkan dengan saksama dan penuh perhatian sampai kultum itu selesai. Dan apa yang dikatakannya kepada mahasiswa yang barusan memberikan kultum tersebut? “Saya benar-benar seperti mendapatkan sesuatu yang baru dari antum.”

Sesuatu yang baru itulah yang beberapa minggu lalu saya dapatkan. Saya sering mendengarkan ceramah atau nasehat dari banyak orang ataupun membaca dari banyak referensi, tetapi apa yang dikatakan teman saya yang satu lagi ini pun seperti baru saja terdengar di telinga saya. Belum pernah diucapkan oleh para ustaz ataupun seperti belum tertulis di buku mana pun.

Ya, saat itu lagi musim mutasi dan promosi. Mulai dari eselon dua, tiga, hingga empat. Hingga gejolaknya terasa oleh saya dan teman saya ini. Saat kami berbincang-bincang mengenai masalah ini, tercetuslah keinginan yang paling dalam dari dirinya yang pernah ada, kalau bisa sih penempatan di Bandung saja. Sebuah kota besar dan tentu dekat dengan keluarga.

Namun, katanya lagi, lama kelamaan ia berpikir dan mulai tak pedulikan semua itu. Entah ia akan ditempatkan di mana saja ia cuma berharap Allah memberikan keberkahan buat dirinya. Oleh karenanya ia mengamalkan doa yang pernah terucap oleh Nabi Nuh dalam Surat Al-Mu’minuun (surat ke-23) ayat 29: robbi anzilnii munzalan mubarokan wa anta khairul munziliin. Ya Rabb, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Katanya lagi, apa yang menurut kita adalah tempat terbaik dan paling disukai oleh dirinya dan orang lain belum tentu terbaik dalam pandangan Allah. Belum tentu baik buat keluarganya dan dirinya. Nah, dengan doa ini ia berharap segala penempatan yang terjadi akan membawa keberkahan buat dirinya, keluarganya, rezekinya, agamanya, karirnya, dan semuanya.

Sungguh teman, doa itu benar-benar seperti baru saya dengar, seperti baru saya tahu. Dan saya memang belum tahu. Saya langsung dawamkan doa itu. “Lebih baik begitu daripada ngedumel menunggu SK mutasi enggak keluar-keluar,” kata teman saya yang lain.

Thanks Bro, atas nasehatnya. Ini berkesan buat saya. Dan saya berharap ini baik buat Anda para pembaca ….

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis di lantai 4 sepulang dari rakorda

19:54 WIB 04 Agustus 2010

Foto dari Chatgpt

Pemesanan Buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang silakan klik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi