Kamar-kamar Hatimu


kamar-kamar hatimu

Suatu malam ba’da tarawih yang hangat, saat aku merasa butuh banyak informasi maka tersambunglah aku segera dengan dunia maya. Ada yang terbersit cepat di benak tentang azimah rahayu, jadi kusapa paman google dan kutanya padanya, hasilnya sungguh mengejutkan, mungkin beratus halaman web tentang dirinya (tak sempat kuhitung, hemat pulsa).
Sampai kutertarik pada sebuah halaman website pribadi Unisah Raniyah. Kuklik saja. Oh… ia membicarakan tentang sebuah kamar hati. Ia teringat tulisan azimah rahayu, begini ceritanya:
…terhadap mereka , saya buatkan kamar-kamar di dalam hati saya. Masing-masing memiliki kamarnya sendiri, masing-masing memiliki kedudukannya sendiri. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang kami lalui bersama, hingga jika suatu saat mereka kembali saya tinggal membuka pintu kamar hati ini dan membiarkan mereka masuk.
Sedang Uni punya pendapat sendiri tentang kamar hatinya:
Bukan kamu yang memutuskan untuk meninggalkan kita yang dulu, bukan pula aku. Ternyata masing-masing kamar di hati kita mempunyai pintu yang cuma kita yang tahu kombinasi angkanya. Dan di dalam ruangan itu ternyata masih tersimpan rapat lukisan-lukisan kenangan berpigura emosi , perasaan hati, dan curahan jiwa yang cuma kita paham tinggi nilainya. Cieee…..
Ada lagi tentang kamar hati dari seorang sahabat yang mengirimku via email tentang renjana hatinya. Kali ini ia menyekat hatinya menjadi sebuah ruang. Mau tahu apa yang ia ungkapkan, ini dia:
Maha Suci Allah yang telah Menciptakan HATI, meskipun hanya sekeping tetapi dia adalah raja. Dalam hati Fahima terdapat ruang-ruang. Salah satu ruang itu adalah ruang yang istimewa. Tapi bukan yang teristimewa. Tapi Fahima senang dengan ruang itu. Ruang itu dipenuhinya dengan bunga-bunga yang diharapkan dapat memperindah dan menyejukkan jika Fahima lagi masuk kesana. Fahima mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak. Ruang itu dibuka awalnya kurang lebih dua tahun yang lalu. Penghuni pertamanya adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Penghuni keduanya adalah seorang laki-laki.
Pada awal tahun ini, ruangan itu ternyata bertambah penghuninya. Seorang laki-laki dan keluarganya. Sebenarnya Fahima sudah menyiapkan ruangan khusus untuk sang laki-laki itu. Meskipun ruangan itu belum dibuka, sekadar dipersiapkan. Tapi ternyata dia telah menjadi penghuni hati-hati yang lain yang tentu juga menyayanginya. Yah ruangan khusus itu gak jadi dibuka deh. Tapi insya Alloh akan terbuka dan Wallohu A’lam siapa nanti yang akan menghuninya.
Subhanalloh, aku terkagum-kagum pada metafora mereka tentang sebuah hati yang mereka miliki dan kenali lebih dalam seluk beluknya, serambinya, atau selasarnya. Ketika aku membaca pertama kali kamar hatinya azimah rahayu, terasa lebih familiar, terasa aku pernah mengenal kamar itu. Akhirnya kuteringat tentang kamar hati Fahima. (sekarang ia sudah memastikan penghuni hatinya, insya Allah untuk yang terakhir katanya).
Dan aku hampir memastikan bahwa kamar-kamar hati mereka penuh dengan bunga-bunga cinta. Betul tidak…..?
Kata Unisah: “cinta bisa menjadi api saat kau kedinginan, menjadi sepoi saat kau kegerahan, menjadi penegak disaat kau kelelahan, menjadi penuntun disaat kau kebutaan.” Sedang Fahima bilang: “Jika kamu mencintai, maka sembunyikan, jaga, dan pelihara cinta itu”.
Kalau azimah sendiri bilang apa? Waduh, sampai saat ini saya belum banyak membaca karyanya, jadi belum kutemukan definisinya. Tapi aku kira apa yang ia tulis semua karena cinta. Itulah definisinya. Dalam kesendirian kadang mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan karya cinta luar biasa.
Satu keyakinan utuh tentang kamar-kamar hati mereka tak semata-mata berisi cinta pure tanpa mengerti hakekatnya itu sendiri. Karena mereka pasti tahu siapa sih yang memberikan mereka cinta. Tentu Sang Maha Pemberi Cinta. Jadi semua cinta mereka itu adalah dalam rangka menaiki tahapan-tahapan cinta menuju puncak ketinggian dari cinta yakni tatayyum. Semata-mata karena-Nya. Semua untuk-Nya. Betul tidak…?(lagi-lagi AA Gym bertanya). Hingga Fahima pun mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak.Coba setinggi itukah harapan kita?
Oh ya dari tadi aku melihat kamar-kamar hati mereka dari perspektif gender. Aku jadi lupa untuk memperkenalkan isi kamar hatiku, yang kutahu hatiku ber-evolusi hanya sampai menjadi sebuah relung pada sebuah rajah cinta yang kutulis untuknya (lady semarang):

masih ada tepi pantai
yang tergores indah di pasirnya
suatu kata tentang cinta
antara nyala hatiku dengannya

namun sapuan ombak sore
selalu bergegas untuk menghapusnya
hingga tak ada sedikitpun tersisa
menjadi serpihan mimpi penghias malam

sungguh tak tahukah engkau?
sedang aku masih terduduk di sini
memandang cakrawala di ufuk barat
dengan percikan air laut yang meratap
di ujung jemari kakiku
dengan tangan yang menggenggam takdir adanya ia

tersadar engkau masih di sana
bersama sekelebat warna yang lain
atau memang kau belum temukan pula
hati penuh rajah cinta yang terlahir
hanya untukmu?

yang pasti
di sini aku masih termangu
dengan angin malam yang menjilati
relung-relung kalbuku
sedang engkau, entahlah…
(13 Mei 2003).

Coba, hanya sampai di situ saja, hanya beberapa bait, sedang Unisah sambil mengutip Sakti Wibowo sampai bilang: Lukislah Cinta.
Ah, cukuplah sampai di sini aku menerawang kamar-kamar hati. Aku bukan Pecinta (ah, masa?), maksudku aku belum bisa menggali kedalaman cinta hingga batas tertentu selayaknya mereka (azimah, unisah, fahima) gali. Tak apalah aku jadi kenek, ajun, asisten, atau apanya mereka. Tapi maaf, aku bukan pengemis cinta (maaf kang Johny, aku kutip lagi nih…).
So, two thumbs for them, for their chambers of heart.
Allohua’lam.

Istriku: Aku Minta Izin Berpoligami


21.7.2005 – Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)

Poligami, salah satu perbendaharaan kata yang jauh dari pencapaian pemikiranku. Indah tak tergapai. Suci namun tak ringan. Pahala jika adil. Mengutip perkataanku sendiri di era kampus dulu: “tak terlihat tak tersentuh”.
Diskusi poligami pun selalu mentok dengan “andai itu terjadi, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku”. Lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
Lalu dengan ini: “Walaupun kau tidak rela, jangan sekali pun keluar dari bibirmu yang manis, bahwa kau menentangnya. Karena sesungguhnya ia adalah suatu hukum yang niscaya adanya, qoth’i. Ia pun adalah salah satu fragmen indah kehidupan Teladan Agung Rosululloh SAW.”
Tapi Sayangku…., itu bukan pembenaran untukku. Karena ia butuh syarat berat untuk memenuhinya. Pikirmu aku sudah punya akhlaq sekapasitas para sahabat nabi yang mereka semuanya berpoligami? Ah, tidak…aku tidak pernah membayangkan dapat dibandingkan dengan mereka. Namun aku pun punya cita-cita tertinggi meniru segala akhlaq mereka.
Tiba-tiba aku berpikir, kelak, saat kau mengizinkanku. “Akankah aku siap…? Entahlah…, lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
******
“Hei…pagi ini apa yang sedang kau lamunkan?”sisi lainku berkata. “Kenapa kau memikirkan ini…?”
” Ah tidak, soalnya tadi pagi aku menerima email lucu sebuah puisi dari seorang kawan di milis. Tentang poligami. Jadi merangsang syaraf kecil di sebelah kananku untuk sedikti menulis ini.”
“Bisa kau perdengarkan puisi itu…?” pinta sisi lainku.
“Oh tentu…buatmu tiada yang bisa aku tolak”.
Puisi suami yg minta ijin poligami :

Istriku,
jika engkau bumi, akulah matahari
aku menyinari kamu
kamu mengharapkan aku
ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
lantas aku ingat satu hal
bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…

Balasan Puisi sang istri …

Suamiku,
bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
TAPIIIIIIII..
bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi
menyinari planet lain!!!
karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? Plis deh gitu lho …
——Yuandi Oktarinda——
aku pikir aku bukan lah MENTARI, aku hanya sejengkal lilin 5 watt belaka (bahkan dalam krisis BBM ini aku terasa makin padam)
duh Rabb…
dedaunan di ranting cemara
dengan terburu-buru
di antara waktu yang memburuku untuk menyelesaikan SPMKP
08:08, 21 Juli 2005

Alhambra: Kenangan Sebuah Peradaban


20.7.2005 – ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Merahnya Alhambra, nama yang menggelitik. Tergerak dengan nama itu saya coba membuka berbagai rujukan antara lain Ensiklopedi Islam Jilid I terbitan PT Ichtiar Baru Van Houve (1999:107).
Ternyata diketahui bahwa Alhambra adalah sebuah istana dan benteng yang merupakan bangunan monumental paling indah dari peninggalan arsitektur Islam di kota Granada, Spanyol Selatan, dan salah satu bukti historis dari ketinggian peradaban dan kesenian Islam.
Dalam buku itu disebutkan bahwa nama Alhambra berasal dari kata Arab hamra, bentuk jamak dari ahmar (merah). Menurut suatu pendapat, istana itu disebut Alhambra karena tanah tempat berdirinya berwarna merah. Adapula yang berpendapat, istana itu dinamai demikian karena dindingnya terbuat dari batu merah. Pendapat lain lagi menyatakan, nama itu diambil dari al-Ahmar, nama pendirinya.
Saya buka kembali rujukan lain yakni buku yang berjudul Sejarah Kesenian Islam Jilid I terbitan PT Bulan Bintang (1978:226) yang ditulis oleh C. Israr ternyata isinya hampir sama dengan yang ada di ensiklopedi tersebut. “Jangan-jangan rujukan ensiklopedi tersebut adalah buku ini”, pikir saya.
Saya buka Ensiklopedi Islam jilid V yang ada halaman bibliografinya, ternyata benar rujukan ensiklopedi ini ternyata buku tulisan C Israr dengan tahun terbitan yang sama dengan buku yang saya punyai. Akhirnya saya berpikir lagi, “ensiklopedi yang gagah dan mahal itu ternyata dibangun oleh berpuluh-puluh literature yang mungkin saja kecil, sudah kumal, dan lapuk—saya membeli buku tersebut dalam sebuah perburuan buku-buku bekas di Senen, hanya dengan harga Rp7.500,00 saja di tahun 2001.
Saking luas dan indahnya Alhambra dibangun secara bertahap selama lebih dari 100 tahun pada abad ke-14 dan ke-15. Konstruksi pertama dibangun oleh Sultan Muhammad bin Al Ahmar I (1257-1323), keluarga Bani al-Ahmar atau Bani NAsr yang masih keturunan Sa’id bin Ubadah salah seorang sahabat Rosululloh SAW dari suku Khajraj di Madinah. Kemudian bangunan itu diperluas oleh sultan-sultan sesudahnya. (Ensiklopedi Islam I, 1999:107).
Saya beralih ke ensiklopedi lain yakni Ensiklopedi Keluarga terbitan PT Cipta Mitra Sanadi tahun 1991 di halaman 24 disebutkan tentang pendirian Alhambra yang berbeda dari ensikolepedi pertama tadi. Kalu disini disebutkan Alhambra didirikan penguasa-penguasa Islam Granada pada abad ke-13 dan ke-14.
Alhambra dilukiskan sebagai perbentengan yang megah, tetapi didalamnya seperti istana bidadari yang luas, dengan halaman yang indah, pancuran dan tiang-tiang yang ramping-ramping, hiasan halus pada dinding dan langit-langit, pepeohonan dan bunga-bungaan. Banyak bagian istana asli yang sudah lenyap kini, tetapi beberapa bangunan yang paling terkenal seperti Istana Singa, tidak berubah banyak dari rancangan asli arsitek Islam dahulu.
Di buku lain yang ditulis oleh A. Hasjmy yaitu Sejarah Kebudayaan Islam terbitan PT Bulan BIntang tahun 1995 pada halaman 205 disebutkan Alhambra adalah “kota” yang termasyhur di kota Granada yang sampai sekarang masih ada dan menjadi objeknya kaum turis. Kota ini dibangun oleh Ibnu Ahmad pada pertengahan abad ke-8 Hijriah di atas tanah seluas 35 hektar. Di sini terlihat perbedaan luasnya, kalau dilihat di Ensiklopedi Islam maka istana atau benteng ini hanya dibangun pada tanah yang seluas 14 hektar saja. Allohua’lam.
Sedangkan pada buku yang ditulis oleh Joesoef Sou’yb berjudul Sejarah Daulat Umayyah di Cordova Jilid II terbitan PT Bulan Bintang tahun 1977 di halaman 14 ditulis:
“bahwa Emir Abdurrahman I di Andalusia membangun istana yang megah dan masjid agung yang terkenal di Cordova itu, yaitu Masjid Alhambra. IA mengeluarkan pembiayaan yang sedemikian besarnya bagi pembangunan masjid agung itu, yang belum sempat selesai pada saat dia wafat, tetapi diselesaikan kemudian oleh puteranya Emir Hisyam I (788-796M).
Kesalahan kecil di awal buku ini adalah menjelaskan bahwa Alhambra terletak di Cordova, sedangkan pada halaman 64 buku itu di bawah foto yang melukiskan keindahan salah satu bangunan Alhambra dijelaskan Alhambra adalah bangunan termasyhur di Granada. Jadi memang Alhambra terlerak di Granada bukan di Cordova walaupun sama-sama terletak di selatan Andalusia.
Inilah ruangan-ruangan yang ada di Alhambra:
1. Sala De Los Reyes : Ruangan Al-Hukmy;
2. Rouda : Taman Bunga;
3. Sala De Los Abencerrayes : Ruangan Abi Siraj;
4. Patio De Los Leones : Taman Singa;
5. Sala De Los Dos Hermanas : Ruangan Ukhtain (Ruangan Dua Perempuan Bersaudara);
6. Mirador De Lindaraja : Ruangan Bas-Sufra’;
7. Jardin De Lindaraja : Taman As-Sufra’;
8. Torre : Menara;
9. Sala De Las Camas : Ruangan Istirahat;
10. Patio De Los Cireeses : Taman;
11. Sala De Los Banos : Ruangan Bersinar;
12. Patia De La Alberca : Kolom AlBirkah;
13. Sala De Barca : Ruangan Berkah (ingat tentang kesebelasan Barcelona…?)
14. Sala De Comares : Ruangan Duta;
15. Oratorio : Mesjid;
16. Torre : Menara.
Itulah Alhambra yang indahnya tiada tara, sampai oleh Victor Hugo—pujangga barat yang terbesar itu membayangkan keindahannya dalam sebuah sajak (Israr,1978: 226):
Alhambra oo Alhambra
Hanya mungkin dalam mimpi
Atau istana mambang dan peri
Yang telah menjelma
Bila purnama raya
Memandikanmu dengan cahaya
Gemerlapan berkejaran
Riak air berdesiran
Bisik hati akan bergema
Oo alangkah indahnya
Pangeran India menulis Alhambra dengan hanya sebuah kalimat pendek:
Andaikata firdaus ada di dunia
Maka firdaus itu ialah Alhambra
Sesungguhnya kalau diceritakan satu persatu mengenai keindahan dan kemewahan Alhambra, sudah tentu akan memerlukan halaman yang banyak karena masing-masing bangunan yang ada di sana mempunyai keindahan, kemewahan, dan sejarah yang berlain-lainan.
Itulah Alhambra, yang pada tahun 1492 jatuh ke tangan umat Kristen dan menjadi istana Kristen, pada saat Ferdinan dan Isabella memaksakan kepada setiap pemeluk agama Islam di sana, baik pun Muslim pribumi maupun Muslim non pribumi, supaya memeluk agama Kristen atau angkat kaki dengan pakaian di tubuh saja. Begitupun juga terhadap seluruh orang Yahudi.
Ingat tentang inkuisisi? Peristiwa pembakaran ribuan muslim yang tetap bertahan dengan akidahnya.
Biasanya pada bagian terrakhir tentang Alhambra, tentang Andalusia ini, saya pertama-tama harus menguatkan hati ini karena tidak tega untuk membaca keruntuhan sebuah peradaban. Karena di setiap keruntuhan itu selalu ada darah ribuan muslim terbantai, di aniaya, diperkosa dan lain sebagainya. PAhit dan memilukan bagi seorang muslim Tetapi dari “guru yang bengis tapi baik” itu yakni pengalaman sejarah itu, banyak butir pelajaran bisa dipungut.
Oh…ya saya teringat sebuah artikel yang saya sudah lupa dapatkan darimana. Ketika salah seorang wisatawan di Indonesia datang mengunjungi Alhambra, petugas di sana langsung berterus terang bahwa dirinya masih tetap muslim dan sudah turun temurun. Dia langsung bercerita karena percaya bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Dan ia sampai saat ini, untuk melakukan sholat di Alhambra masih tetap harus sembunyi-sembunyi. Ia pun masih menyembunyikan identitas keislamannya.
Subhanalloh….di setitik debu peninggalan peradaban, ada mutiara yang selalu menyinarkan kilaunya.
Itulah Alhambra, sekelumit….
Jadi apakah Alhambra yang sudah merah haruskah dijelaskan merahnya yang sudah merah. Merahnya Alhambra ….merahnya merah…..(sebuah buku sastra yang pernah saya baca waktu SMP dulu).
Allohuta’ala a’lamu bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
dalam waktu yang mulai menusuk
20 Juli 2005

Selaksa Harap Sekeping haru


19.7.2005 – SELAKSA HARAP SEKEPING HARU
Pagi itu di sebuah pantai di kawasan Anyer, angin masih menyisakan dinginnya malam sedangkan sinar matahari sesekali menghangatkan suasana karena awan hitam masih sering menutupinya. Debur ombak menjadi pelengkap kesegaran pagi itu dengan pasir pantai yang putih dan lembut. Tapi akung tak ada kicau burung camar disini.
Terlihat di ujung utara pantai ini sekelompok wisatawan berkumpul melihat sebuah kerja keras yang dipertontonkan para nelayan dalam menarik jala yang terpasang sore kemarinnya.
Jalan tersebut panjangnya hampir mencapai 300 meter. Dimulai dari ujung selatan dengan sebuah tonggak bambu jala dipasang mengelilingi area sekitar pantai. Sebuah jukung (perahu kecil) nelayan membawa jala dan memasangnya hingga radius 100 meter dari tepian pantai kemudian ke arah utara sekitar 100 meter pula, lalu ditarik kembali kurang lebih 100 meter ke tepi pantai membentuk sebuah bujur jangkar perangkap ikan.
Nah, pagi ini adalah ritual keseharian para nelayan, sekitar 10 orang menarik tali jala yang ada di ujung utara, sedang satu orang nelayan lainnya naik jukung dan mencabuti patok bambu dengan mengitari area tangkapan. Upaya menarik jala sambil berjalan dari ujung utara ke ujung selatan inilah yang ditonton para wisatawan.
Yang paling seru dan menegangkan adalah ketika para penarik jala sudah sampai di ujung selatan, karena di titik inilah akan terlihat seberapa banyak tangkapan yang akan diperoleh. Dengan usaha yang sangat keras, bergotong royong, tarikan kuat, sesekali pula sorakan, mereka tetap bersemangat menarik jala. Para penonton bertambah banyak dengan rasa keingintahuan yang tinggi melihat suatu peristiwa yang jarang mereka lihat. Semua berharap akan melihat tangkapan yang melimpah dan besar-besar, apalagi kalau ikan hiu yang tertangkap.
Ujung jala mulai terlihat, semeter demi semeter jala ditarik. Penonton masih harus menunggu sekitar lima menit lagi untuk dapat melihat ujung jala yang lainnya. Akhirnya sampailah di ujungnya. Penonton segera merubungi. Tapi apa yang terlihat dari hasil tangkapan itu, tidak ada ikan kakap, tuna apalagi ikan hiu, udang pun tak ada. Yang ada hanya ikan teri dan ikan lain yang besarnya hanya sebesar telapak tangan. Hasilnya kalau ditimbang hanya sekitar dua kilogram.
Melihat sedikitnya tangkapan itu, penonton merasa kecewa dan terdengar gumaman tidak jelas dari mereka. Namun para nelayan menanggapinya dengan dingin-dingin saja, tak tergurat di wajah mereka kesedihan atau kekecewaan, sepertinya semua itu adalah hal yang biasa saja, dan mereka pun langsung membubarkan diri.
Ada banyak hikmah yang dapat digenggam dari peristiwa itu. Aku tersadar bahwa setiap usaha yang kita lakukan dalam mencapai sesuatu mungkin saja hasilnya tidak sepadan dengan kerja keras kita, atau tidak seperti yang kita harapkan di awal. Kemudian aku sadari pula sesungguhnya Allah tidak melihat hasil, tetapi Allah selalu melihat usaha yang kita lakukan, apakah usaha itu ditempuh dengan niat yang ikhlas, niat yang benar, dan jalan yang benar?
Hikmah lainnya adalah adanya teguran terhadap kesombongan orang-orang kota, bahwa tak selamanya suatu usaha dapat dihitung berdasarkan materialisme belaka namun juga pada semangat kegotongroyongan yang masih melekat di sebagian lapisan masyarakat Indonesia. Buktinya para nelayan itu langsung membubarkan diri tanpa meminta hasil kerja keras mereka kepada pemilik jala itu.
Ada hikmah lainnya yakni adanya semangat untuk selalu melihat ke bawah tentang kehidupan para nelayan kita, yang notabene mereka adalah saudara-saudara kita juga. Sangat ironis sekali ketika republik ini mengklaim sebagai negara maritim, Negara yang nenek moyang mereka adalah seorang pelaut dengan pedang panjang (eh salah yah…J ), negara yang luas lautnya meliputi hampir 2/3 total wilayahnya, namun kehidupan para nelayannya masih berkutat dengan kemiskinan absolut dan sangat-sangat memprihatinkan.
Di saat nelayan-nelayan negara lain sudah memakai GPS untuk mengetahui posisi ikan, memburu paus, melanglang buana dengan kapal canggihnya, nelayan kita masih berkutat dengan perahu mesin tunggalnya dan masih tradisional (sekitar 80% dari total perahu dan kapal yang dimiliki para nelayan). Dan nelayan kita masih berkutat dengan persoalan bagaimana perahu mereka bisa berlayar di tengah harga BBM yang semakin naik. Itulah nelayan kita.
Sorenya, dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Gambaran para nelayan kita masih berjalan di ingatanku. Kadang memang selaksa harap hanya akan menjadi sekeping haru (atau tangis malah…) kalau kita tidak ingat bahwa yang menentukan segalanya adalah ALLAH KARIIM.
Allohua’lambishshowab.
dedaunan di ranting cemara
di pantai yang adanya membuatku melayang
Medio 2004

Mengemis


18.7.2005 – mengemis

i. mengemis
pada malam yang sudah mengeping
aku lantang berteriak
tanpa suara
menadahkan jiwa
memungut remah-remah
:rahmat-Mu
dedaunan di ranting cemara
02.33 17 Juli 2005

ii. sudikah kau?
bila bintang-bintang masih sudi mengintip
bulan sudi menengokkan wajahnya
awan sudi menyingkirkan tubuh gelapnya
angin sudi berhenti meniup
sudikah kau rasakan indahnya malam?
lalu kau susun puzzle kerinduanmu
di atas rintihan-rintihan
hingga terdengar sampai ke ‘Arsy
dedaunan di ranting cemara
02.45 17 Juli 2005

iii. bila aku merinduimu
hai, kawan…
detik ini aku merinduimu
tapi tak cuma sesaat
sampai kapan?
lalu
apa yang harus aku lakukan?
entah…

dedaunan di ranting cemara
02.51 17 Juli 2005

5 Dasawarsa 12 Purnama


untuk bapak:
(dalam perjalanan menempuh 51 usia)

aku tak peduli
pada waktu yang terus berputar
bahkan aku tak mau tahu
pada waktu yang terus menancapkan seringainya
agar aku ingat masa kanak-kanakku
agar aku ingat masa-masa remajaku
agar aku ingat masa-masa kedewasaanku
tapi aku tetap tak mau tahu

ohhhh….
naifnya aku
karena aku tak mau tahu
sementara banyak kawan dan cerita
punya selaksa cinta bahkan berjuta
sedang aku hanya sebutir adanya
ohhhh….
sementara waktu terus menerus menyeringai padaku
tak mau berbelas kasihan

sampai…..
pada suatu titik kesadaran
bahwa aku adalah
lima dasawarsa dan dua belas purnama

wahai sang waktu…
maka saksikanlah hari ini
aku lima dasawarsa dan dua belas purnama
kuluruhkan semua energiku
atas nama cinta
cinta pada kawan bahkan pada cerita
bukan selaksa dan sejuta
tapi sedepa, sehasta, bahkan seisi mayapada
hari ini,
ada sebuah rasa yang mendesak untuk kuungkap
bahwa..
aku mencintaimu kawan…
atas nama-Nya

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kepingan tahun ke-51

Novel Imperia


14.7.2005 – resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem

Tentang resensinya Bang Ekky terhadap Imperia-nya Bang Akmal, setidaknya saya sedikit banyak dapat memahami betapa ensiklopedisnya bang Akmal. Ini dapat dilihat dalam paragraph:
“Tetapi, semangat eksplorasi ensiklopedis ini ternyata juga menjadi
bumerang. Akibatnya, cerita menjadi tidak intens dan tidak fokus, di
beberapa tempat. Dan ini yang membedakannya dengan gaya Brown.”
Eksplorasi ensiklopedis ini juga pernah ditanggapi oleh Bang Herry Nurdi dalam resensinya:
“Cerita terakhir, tentang kesaktian Akmal Nasery Basral nampak ketika terjadi diskusi diruang maya milis Forum Lingkar Pena tentang film Kingdom of Heaven. Film yang berkisah tentang Sultan Saladin, King of Lepre, Balian of Ibelin, Tiberias dan berbagai tokoh lain dalam sejarah Perang Salib. Beberapa anggota milis berdebat tentang jalan cerita dan pemerannya. Tentang fiksi dan fakta, tentang eksis atau maya. Dan di antara perdebatan itu, Akmal muncul dengan postingan yang panjang menjelaskan sekian fakta tentang beberapa tokoh, lengkap dengan sejarahnya, asal kotanya, bahkan nama-nama kecil mereka dan nasib mereka setelah peristiwa yang digarap Ridley Scott dalam film itu.”
So, Bang Ekky dan Bang Herri Nurdi tahu persis mengenai Bang Akmal. Ini yang diharapkan bagi para pembaca (saya) dalam membaca resensi kedua abang ini, bahwa peresensi menulis dari kedalaman pengetahuannya dan memahami betul terhadap objek (imperia) juga subjeknya (bank Akmal).
Dalam membaca karya dua peresesensi ini setidaknya saya tidak alami sedikit gangguan. Beda ketika saya membaca sebuah ulasan Film Kingdom of Heaven di Majalah Tempo di halaman 151-152 kolom 6 paragraf 2 edisi 16-22 Mei 2005.
Entah ini sudah diulas (di sadari) oleh Bank Akmal (selaku wartawan Tempo) dalam membaca resensi film itu atau saya juga enggak tahu kalau sudah ada yang mengirim sedikit kritik atas ulasan tersebut dari pembaca Majalah Tempo yang lain—saya sudah mengirim email ke redaksi Majalah Tempo untuk sedikit bercerita tentang paragraph tersebut namun email saya balik lagi dengan “alert” yang berbunyi email undeliverable, mungkin email server di kantor kami yang sedang ngadat.
***
Senin itu Majalah Tempo baru milik teman sudah tergeletak dengan manisnya di meja saya. Setelah sedikit membaca berita utama saya tergerak untuk membaca ulasan film itu yang judul tulisannya adalah “Yang ‘Kudus’ ..yang Berdarah”.
Saya terbentur di halaman, kolom dan paragraph tersebut. Memori saya langsung bergerak memutar sedikit ruang ‘ensiklopedi’ kecil di kepala saya. Apa isi dari paragraph itu, setidaknya saya penggal pada bagian intinya:
“….dan seperti Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengijinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai…”.
Nah di sinilah letaknya yakni pada Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637.
Dapat saya ungkapkan di sini adalah bahwa yang menaklukkan Yerusalem pada era awal pemerintahan Islam Pasca kematian Rosululloh Muhammad SAW adalah sahabat Umar bin Khaththab ra bukan sahabat Abu Bakar (Ashshidiq) ra. Itupun terjadi pada tahun 638 M bukan di tahun 637 M.
Yang pertama ingin saya komentari adalah tahun terlebih dahulu, namun dalam masalah tahun hal ini masih bisa diperdebatkan karena menyangkut adanya konversi dari hijriah ke tahun masehi. Karena dalam berbagai referensi yang saya baca menunjukkan tahun-tahun yang berbeda, berkisar 636 dan 638 M.
Perbedaan tahun penaklukkan itu dapat diungkapkan di sinisebagai berikut:
1. Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 (ensiklopedi ini pas ada di samping Majalah Tempo); PT Ichtiar baru Van Hoeve: terjadinya pada tahun 638 M;
2. Ensiklopedi Islam jilid 5; PT Ichtiar baru Van Hoeve: tahun 636 M (penerbit yang sama memberikan tahun yang berbeda dalam amsalah ini);
3. 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah; Michael H Hart: Pustaka Jaya: Penakhlukkan Yerusalem terjadi dua tahun setelah Yarmuk (636 M) berarti terjadi pada tahun 638M;
4. Umar Bin Khattab; Muhammad Husin Haekal: Litera Antar Nusa: Penaklukan terjadi 15 Hijriah berarti tahun 622 M (tahun Rasululloh hijrah ke Madinah) ditambah 15 tahun jadi sekitar tahun 637 M, tapi yang fatal (ini entah kesalahan cetak atau bukan saya tidak tahu) ditulis dalam tanda kurung adalah pada tahun 535 M.
5. History of The Arabs; Philip K Hitti: Serambi Ilmu Semesta; tahun penaklukan berkisar tahun 638M.
Saya berusaha mencari di tiga buku lainnya tentang sejarah Daulat Islamiyah yang menyangkut pula Yerusalem ternyata tidak memuat tahun penaklukannya.Sekali lagi bahwa masalah tahun masih bisa diperdebatkan.
Namun yang paling fatal pula adalah bahwa penaklukan Yerusalem itu dilakukan oleh Abu Bakar—saya anggap nama ini adalah nama pendek dari Abu Bakar Assidiq, khalifaturasyidin pertama. Dari delapan buku yang saya baca semuanya jelas-jelas merujuk pada tokoh Umar bin Khattab bukan sahabat Abu Bakar Assidiq.
Salah satu contohnya bisa dilihat pada buku Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 di halaman 48 kolom 2 paragraf 3:
“Persetujuan ini disampaikan kepada Khalifah di Madinah, yang disertai permohonan agar Umar bersedia datang untuk menerima penyerahan Yerusalem. Pemimpin ini menyetujui perjanjian itu dan segera berangkat ke Palestina. Pada tahun 638 M, penyerahan kota suci itu dilakukan dari Patriach Sophorius kepada Khalifah Umar bin Khaththab.”
Sedangkan pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar belum sampai pada penguasaan Yerusalem, bisa di baca pada halaman 47 buku yang sama pada kolom 2 paragraf 3:
“Pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar berlangsung dari 12-13 H. Pada akhir pemerintahannya, pasukan Islam telah dapat menguasai daerah yang cukup luas. Selain Jazirah Arabia, yang dapat disatukannya kembali setelah munculnya gerakan pembangkang, beberapa daerah di luarnya dapat ditaklukan dan dimasukkan ke dalam kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukannya pada masa khalifah pertama ini antara lain Ubullah (terletak di pantai Teluk Persia), Lembah Mesopotamia, Hirah, Dumat al Jandal (kota benteng yang terletak di perbatasan Suriah), sebagian daerah yang berbatasan dengan Palestina, perbatasan Suriah dan sekitarnya.”
Kesimpulannya adalah Abu Bakar tidak sempat membebaskan Yerusalem pada masa keperintahannya karena beliau keburu wafat. Pada masa Umar bin Khattab itulah dilanjutkan ekspedisi tersebut hingga akhirnya Yerusalem dapat ditaklukkan.
Demikian koreksi ini saya sampaikan, karena bagi mereka yang terbiasa membaca tentang sejarah Islam akan mengalami “keterperanjatan” yang mengganjal.
Saya mohon maaf kalau hal (ulasan Kingdom of Heaven) ini sudah basi, atau sudah dibahas oleh Bang Akmal dalam postingan yang terdahulu, karena saat itu saya belum mengikuti milis ini.
Kurang lebihnya mohon maaf. Billaahittaufiq wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di antara malam yang smakin menggigit
citayam, 02.15, 15 Juli 2005

1000 dan 1 Malam


1000 dan 1 Malam
(Alfu Lailah Wa Lailah)

Ada yang menarik dalam tema perbincangan di milis ini, yakni tentang menulis fantasi dalam Islam, hingga menghubungkannya dengan Kisah Seribu Satu Malam yang dianggap berasal dari sastra Islam, benarkah? Tulisan ini tidak membahas tentang penulisan fantasi dalam Islam namun berpokok pada apa dibalik Kisah Seribu Satu Malam.
Siapa yang tidak kenal dengan cerita Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dengan Empat Puluh Penyamun, dan Sindbad si Pelaut. Apalagi sejak ditayangkan secara visual di layar kaca ataupun layar perak produksi Holywood. Semuanya pasti setuju bahwa kisah itu diambil dari Kisah Seribu Satu Malam. Kisah yang amat terkenal dari abad-abad lampau hingga saat ini. Tapi tahukah Anda bahwa kisah itu adalah cuma terjemahan saja dan bukan buatan sastrawan-sastrawan ternama pada puncak kejayaan Baghdad?
Saat itu Kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak tangga tamadun. Politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan di segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian—ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik pusi maupun prosa. Dari yang ahli sebagai penyair (seperti Abu Nuwas), pembuat novel dan riwayat (asli maupun terjemahan), hingga pemain drama.
A Hasymy dalam bukunya berjudul Sejarah Kebudayaan Islam mengungkapkan perkembangan salah satu seni sastra itu yakni tentang novel terjemahan. Di sana disebutkan bahwa kebanyakan novel diterjemahkan dari bahasa Persia dan Hindi. Ada yang sesuai dengan aslinya atau diterjemahkan dengan ditambahkan perubahan-perubahan bahkan disadur.
Salah satu novel terjemahan yang termasyhur itu adalah Alfu Lailah Wa Lailah. Novel ini berupa hikayat yang disadur dari bahasa Persia sebelum abad IV Hijriyah. Walaupun bentuknya saduran namun menceritakan tentang kehidupan mewah masyarakat Islam pada masa itu.
Dalam Ensiklopedi Islam Jilid I (EI1) disebutkan pula tentang hikayat ini bahwa ia berasal dari kumpulan cerita berbahasa Persia yang berjudul Hazar Afsanak (Seribu Cerita) yang ditulis ulang oleh Abdullah bin Abdus al-Jasyyari (942 M).
Ada yang berpendapat bahwa hikayat ini ditulis oleh lebih dari satu orang pada periode yang berbeda, berikut periode tersebut (EI1 hal.106):
– Bentuk pertama adalah terjemahan harfiah dari Hazar Afsanak, diperkirakan berjudul Alf Khurafat (Seribu Cerita yang Dibuat-buat);
– Bentuk kedua Hazar Afsanak dengan versi Islam berjudul (Seribu Malam), pada abad 8;
– Bentuk ketiga berupa cerita Arab dan Persia dibuat pada abad 9;
– Bentuk keempat adalah susunan al-Jasyyari pada abad ke-10 yang mencakup Alf lailah dan cerita-cerita lain;
– Bentuk Kelima kumpulan yang diperluas dari susunan al-Jasyyari dengan tambahan cerita-cerita Asia dan dan Mesir, abad ke-12, pada periode ini judul itu berubah menjadi Alfu Lailah Wa Lailah
– Bentuk Keenam adalah Alfu Lailah Wa Lailah ditambah dengan cerita-cerita kepahlawanan dinasti Mamluk sampai awal abad ke-16.
****

Kisah atau hikayat yang diceritakan itu ada yang mengenai jin, kisah percintaan, legenda, cerita pendidikan, cerita humor, dan anekdot. Kebanyakan berlatar belakang kehidupan istana di Baghdad, Syam, dan Mesir (EI1 hal. 107).
Secara garis besar kisahnya adalah sebagai berikut:
Kisah ini dituturkan dngan gaya bercerita oleh Syahrizad, istri Raja Syahriyar, yang bercerita atas permintaan adiknya, Dunyazad, dan didengarkan oleh sang raja. Syahrizad bercerita agar sang raja tidak melakukan pembunuhan terhadap istrinya.
Disebutkan bahwa Raja Syahriyar dan adiknya, Raja Syahzaman, pada mulanya adalah raja yang adil selama 20 tahun pemerintahannya, namun kemudian berubah menjadi raja yang kejam yang membunuh setiap wanita yang dikawininya pada malam pertama pernikahan. Perubahan sifat raja berawal dari penyelewengan istrinya dan penyelewengan istri adiknya yang melakukan perzinahan dengan budak berkulit hitam sewaktu raja pergi berburu. Perbuatan itu dilihatnya sendiri karena ia tiba-tiba pulang untuk mengambil sesuatu yang terlupa. Istrinya yang berkhianat dan budak itu dibunuhnya. Ketika ia berada di negeri adiknya, Syahzaman, ia juga melihat perbuatan seorang istri adiknya dengan budak berkulit hitam sewaktu adiknya tidak berada di rumah.
Syahriyar menjadi orang yang tidak percaya pada setiap wanita. Dendamnya pada wanita dilampiaskannya pada gadis-gadis yang dinikahinya. Setelah beberapa lama, di negeri itu sudah tidak didapatkan lagi gadis yang akan dipersembahakan kepada raja, kecuali puteri wazir, yaitu Syahrizad.
Syahrizad bersedia dinikahkan dengan raja untuk menyelamatkan nyawa wanita-wanita yang lain. Syahrizad digambarkan sebagai wanita cerdas yang banyak membaca cerita, hikayat, dan kisah lama. Sejak malam pertama sampai malam ke 1001, ia bercerita berbagai cerita secara bersambung sampai subuh dan bila siang hari ia tidak bercerita. Dengan cerita-cerita ini akhirnya raja sadar dan insaf, dan puteri Syahrizad selamat dari pembunuhan. (EI1 hal. 107)
****
Penyebaran Alfu Lailah Wa Lailah ke Eropa dalam bahasa Perancis dilakukan pertama kali oleh sarjana Perancis, Jean Anthoni Galland. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dikenal dengan judul The Arabian Nights.
Singkatnya baru pada tahun 1896 buku yang diterbitkan oleh percetakan negara Bulaq—dekat Kairo, diberi gambar oleh Husyain Biykar. Edisi Bulaq inilah yang di kemudian hari menjadi patokan dalam penterjemahan ke dalam bahasa-bahasa terkenal dunia. (EI1 hal 106).
Namun sayangnya penggambaran-penggambaran itu membuat 1001 Malam lebih berubah. Dulu sekali, dalam sebuah film barat yang judulnya saya lupa, di salah satu adegannya diceritakan tentang seseorang yang sedang membaca buku 1001 Malam yang dipenuhi dengan gambar-gambar vulgar dari orang bersurban (sultan?) sedang berhubungan intim dengan lawan jenis.
Jadi pada saat ini kisah 1001 malam (versi barat) tidak bedanya dengan kisah-kisah porno. Tapi entahlah, saya belum pernah memegang buku itu sekalipun, baik dalam versi asli maupun terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Saya hanya tahu kisah itu dari dongeng-dongeng yang bertebaran di majalah Ananda dan Bobo, dulu. Namun dari film-film kartun produksi Holywood, setidaknya kita bisa berpikir dan bertanya dalam hati sudah Islamikah? Tentu tidak.
Betul 1001 Malam muncul pada saat kejayaan umat Islam mencapai puncaknya di Baghdad sehingga stereotip yang ada adalah bahwa 1001 Malam adalah sastra Islam, namun dengan melihat kenyataan yang ada, patutkah ini disebut sastra Islam atau sastra bersumberkan Islam?*) Sedangkan sastra bisa dikategorikan sebagai ‘sastra bersumberkan Islam’ bila ianya mengusung nilai-nilai universal yang tak bertentangan (atau malah sesuai) dengan ajaran Islam.(Helvi: 2003).
Allohua’lam.

*)Pada saat masa puncak itulah terjadi pertentangan antara ulama-ulama terpercaya dengan para seniman yang mulai beraninya (dengan dukungan para pejabat istana tentunya) mengembangkan seni yang dilarang pada masa-masa awal atau masa sebelumnya (dinasti Umayyah) yakni bermain musik, bermain drama dengan peran wanita dipertontonkan di hadapan penonton pria, kubah-kubah istana dan kaligrafi-kaligrafi bergambar makhluk hidup, dan patung-patung manusia.

Sumber Rujukan:
1. C Israr; Sejarah Kesenian Islam; Bulan Bintang; 1978;
2. A Hasymy; Sejarah Kebudayaan Islam; Bulan Bintang; 1995;
3. Ensiklopedia Islam Jilid 1; PT Ikhtiar Baru Van Hoeve; 1999;
4. Helvy Tiana Rosa; Segenggam Gumam; PT Syaamil Cipta Media; 2003;
5. Philip K. Hitti; History of The Arabs; PT Serambi Ilmu Semesta; 2005

yahya ayyasy
dedaunan di ranting cemara
citayam, 22.10 WIB, 11 Juli 2005

ps.
Bila terdapat kesalahan mohon dikoreksi.

Akankah Mereka Akan menjadi Pahlawan?


Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?

Tak terasa, liburan akhir telah datang. Saya sebagai “Kepala Sekolah” kudu mempersiapkan acara liburan bagi anak-anak TPA Al-Ikhwan—tempat bagi anak-anak di RT. 011 belajar Islam dan mengaji setiap Senin, Rabu dan Kamis. Tahun kemarin kami berlibur di sebuah kolam renang khusus milik perorangan di Jalan Dahlia I, Depok.
Ternyata setelah diadakan pemungutan suara—ada pembelajaran demokrasi sejak dini—dari berbagai pilihan lainnya seperti di Kebon Raya Bogor, Kebun Binatang Ragunan, mayoritas anak-anak sepakat untuk kembali liburan ke kolam renang. Kata mereka Bogor macet, soalnya ada anak presiden kawinan (loh kok mereka tahu), sedangkan kalau ke Ragunan mereka takut wajahnya disamakan dengan para monkey. “Emang kita saudara mereka…?” cetus salah satu dari mereka. “Nehi….tum mereke jenehe” sahut yang lain. Apaan tuh artinya? Ada-ada saja.
Akhirnya jadi acara tersebut Sabtu 09 Juli 2005. Setiap anak dipungut Rp2.500,00 untuk tiket masuknya. Itu adalah limaperenam harga tiket sebenarnya. Sisanya kami yang subsidi. Kali ini tidak ada subsidi tiket total dari kami. Soalnya acara ini dadakan dan belum mempersiapkan proposal permintaan dana kepada donator utama kami yang ada di KPP PMA Lima. Biaya lainnya kami yang tanggung.
Berangkatlah kami pada pukul 08.00 WIBC (Waktu Inondesia Bagian Citayam) dengan Angkutan Kota (angkot) yang kami carter, dengan membawa 16 anak-anak dan tiga dewasa. Saya dengan megapro keluaran Februari 2005 menjadi penunjuk arah. Pengantar lainnya dipersilahkan untuk membawa kendaraannya masing-masing. Soalnya nggak muat angkotnya boo…
Setelah mengarungi kemacetan di mana-mana, pukul 09.15 WIB kami sampai. “Lama juga,” pikirku, padahal jaraknya tidak lebih dari sepuluh kilo. Akhirnya mereka pun bersenang-senang. Suara tawa dan jerit mereka menambah semarak acara. Apalagi pada saat dilangsungkannya berbagai permainan, tambah seru. Hadiah pun diberikan tidak hanya kepada para pemenang namun semuanya sehingga kebersamaan itu tampak sekali.
*****
Saat anak-anak adalah saat-saat yang indah. Saat dimana mereka belum menemukan dan menyadari eksistensi mereka. Mereka hanya mengenal tiga kata yakni main, main, dan main. Maka yang kami ajarkan di TPA adalah tidak semata-mata Iqra namun juga berbagai macam permainan yang setidaknya menumbuhkan jiwa mandiri, semangat membaca dan menulis (untuk hal ini perlu upaya lama untuk memberikan pengertian kepada mereka bahwa menulis itu penting dan mudah), semangat juang dan pembelaan terhadap Islam. Hingga untuk itu kami bebaskan mereka bermain pada saat mereka ngaji asal tidak mengganggu teman-teman mereka yang sedang kami telaah bacaan Iqra-nya.
Agar mereka tidak jenuh dengan suasana klasikal di rumah maka dari itulah diadakan acara berenang bersama di liburan ini, diharapkan dengan ini mereka menjadi tetap bersemangat untuk selalu belajar dan belajar sampai akhir hayat mereka. Satu yang lain yang diharapkan adalah munculnya salah satu atau lebih dari mereka menjadi “pahlawan-pahlawan Islam”. Semoga Allah mengabulkan do’a ini. Amin.

dedaunan di ranting cemara
di antara sakit sebagai teman yang tak kunjung pergi
kalibata, 11 Juli 2005

Almari Penuh Buku


Seorang pemburu harta karun terperangah, takjub, memandang tumpukan harta benda yang menggunung di dalam sebuah gua bawah tanah. Menyilaukan mata. Pun naluri awal manusia yakni keserakahan muncul seketika. Raup sana dan sini. Tidak puas dengan yang ini maka ia melempar benda yang sudah di tangannya dan mengambil yang lainnya yang lebih indah, lebih berharga, lebih mahal. Akhirnya ia pun tak sanggup mengambil apa pun, karena menganggap semuanya indah di mata.
Begitulah apa yang saya alami saat memasuki ruangan ber-AC di arena Bookfair. Benar-benar saya seperti pemburu harta karun tadi. Yang begitu takjub melihat apa yang ada di dalam. Yang saya takjub bukan pada harta benda seperti yang ditulis di awal, namun begitu banyaknya buku bagus. Yang saya takjub adalah tebaran buku di setiap stand yang memaksa pikiran saya untuk bisa memiliki semuanya.
Ambil sana, ambil sini. Akhirnya yang terbeli adalah tetap yang diskonnya besar dan yang termurah lagi. Soalnya saat itu tanggal 01 Juli 2005. Kita belum gajian coy…Sampai fordis pun ramai membahasnya.
Akhirnya saya mendapatkan buku menyucikan jiwa Said Hawwa terbitan Robbani Press. Buku ini bukan untuk saya miliki, tapi niatnya untuk seseorang teman. Setelah mengambil beberapa buku dan menyelesaikan transaksi, saya pun bergegas untuk pulang, karena saat itu jam kantor, bukan hari libur. Jadi tidak semua stand saya kunjungi.
Sebelum pulang saya mampir terlebih dahulu di stand komunitas—adanya di luar gedung istora—stand Forum Lingkar Pena. Saya titipkan pada penjaga stand itu untuk memberikannya pada teman, pengurus FLP.
“Ini buku dari siapa?” tanyanya.
“Ia pasti tahu, kok…” jawab saya sambil menyelipkan selembar daun mahoni pada halaman dua buku itu.
Ya, selembar daun sebagai tanda dari saya.

********
Pulang kantor, kebingungan melanda. Saya harus taruh dimana tumpukan buku baru ini? Sambil berkacak pinggang di hadapan lemari kaca tempat ratusan buku yang saya miliki.
Lemari itu sudah penuh. Sisi dalam maupun sisi luarnya. Akhirnya banyak buku yang bertebaran di seantero rumah. Di atas kulkas, di atas meja belajar, diatas computer, di atas televisi, di dapur, dan di macam-macam tempat lainnya.
Para tetangga sampai bilang, “harta berharganya Pak Riza cuma buku, buku, dan buku,” sambil melirik ruang tamuku yang kosong melompong dari satu set sofa ataupun yang namanya kursi.
Memang sih, saya benar-benar terkenang dengan luasnya ruang tamu kost-kost-an milik teman-teman masjid di kampus dulu. Tiada meja tiada kursi. Mereka bilang dengan ruang tamu yang luas ini, maka bisa dimanfaatkan untuk pengajian, anak-anak TPA, dan rapat-rapat kampus. So, sampai saat ini, walaupun sang kekasih telah sedikit mendesak untuk memiliki sofa dan kursi tamu, saya tetap bergeming. Alasan saya: “anak-anak tetangga kita yang ngaji di sini mau di taruh dimana?”
Akhirnya malam itu, saya tetap membiarkan buku-buku baru tergeletak di atas ranjang empuk, bukan sebagai bantal, tapi sebagai pengantar tidur saat saya membaca Segenggam Gumam milik Helvy Tiana Rosa.
Sebelum tidur, saya bilang pada Haqi, sambil memeluknya dan menghadapkan dirinya dan diriku di depan almari besar penuh buku itu, “hanya ini yang bisa Abi wariskan padamu, anakku. Baca dan baca.”
Haqi baru saja bisa membaca. Umurnya pun baru 5 tahun.
Ya, kuwariskan ini sejak dini.
Sejak memori itu masih punya daya lekat, kuat, erat, takkan pernah terlepas. Insya Allah.
Wallohua’lam.