Hari Ini Aku Berburu Buku


Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ba’da takbir, tahmid, dan salam.

Wahai ukhti fillah….
(istilah ini saya pakai lagi setelah 8 tahun sudah tertinggal di kampus)
Semoga Allah memberikan kita yang terbaik.
Dua minggu tidak menulis “sesuatu”?
Ah masak….
Bukankah setiap perbuatan-perbuatan kebaikan itu adalah upaya menulis juga, menulis hati kita, agar senantiasa ter-relief indahnya sinaran kebaikan. Bukan selalu kelamnya keburukan-keburukan saja yang ada pada segumpal darah itu.
So, bukankah setiap email yang engkau kirim kepada sahabat-sahabat tercinta adalah suatu upaya menulis juga, upaya menuangkan gagasan dari pikiran kita? Bagi kami hal-hal kecil semacam ini adalah upaya melatih kepekaan kita dalam mengolah gagasan-gagasan tersebut ke dalam kata-kata yang tertulis.
Atau bagi Antiitu bukan suatu maha karya? Sesungguhnya adikarya berawal dari satu huruf, satu karya kecil, atau satu langkah ke depan. Ingat bukan, tentang seorang tukang batu yang berhasil memecahkan batunya di pukulan yang keseratus, tetapi ia sadar semuanya terjadi karena ia memulai pukulannya di pukulan yang pertama.
Ayo, tetap semangat, sesungguhnya ketika Anti tidak menulis secara lahir tapi Antitetap sedang menulis perjalanan hidup di benak anti. Suatu saat semua yang Antilihat, dengar, dan rasakan akan muncul dengan mudahnya, dengan begitu saja, tanpa ada aral yang melintang. Maka Anti tinggal menunggu pemantiknya, kunci pembukanya, yang akan mengeluarkan semuanya itu dengan indahnya seindah purnama di lima belas.
Pun dengan tiga hari Anti membaca begitu banyak buku, itu bukan suatu “cuma”, tapi itupun adalah dalam rangka memperkaya dan mengisi khazanah ke dalam jutaan ruang rasa dan makna. Tidak banyak orang yang dapat menyelesaikan banyak buku untuk dibaca. Tidak banyak orang yang dapat mengambil sari pati dari banyak buku yang ia baca. Dan tidak banyak pula orang yang dapat menjadikan banyak buku yang ia baca sebagai pemicu supaya ia dapat mencintai sahabatnya dengan cinta karena Allah yang lebih tulus lagi. Sebagai pemicu supaya ia berbuat sejuta kebaikan di setiap harinya. Sebagai pemicu supaya ia menjadi penerang bagi orang lain. Antipasti ingat tentang “hanya dengan shalat dan sabar, Allah akan membuka semua itu”.
So, saya yakin Antiadalah orang yang mampu untuk menjadi ketiganya itu. Semoga.
Allahua’lam.
 Tetap dengan senyum terindah.
****
Wahai ukhti fillah,
tentang banyak hal yang aku lakukan?
Baru saja hari ini saya membeli banyak buku di tempat sekelas kaki lima, di kramat sana, bukan tempat ber-ac laiknya di bookfair. Namun harganya itu loh…murah banget booo. Di tempat yang saya biasa beli sejak 10 tahun yang lampau.

(bajakan bukan yah…?, maaf kalau ini sangat menyinggung, soalnya biasanya penulis sering Antipati pada yang namanya kramat, semoga tidak)
Mau tahu buku-buku itu:
1. Mushaf terbitan Syamil;
2. History of The Arabs, Philip K Hitti (ini yang saya “ngebet banget” waktu di Bookfair, tunggu saja akan saya lahap dikau di akhir pekan ini);
3. Mensucikan Jiwa, Said Hawwa, terbitan Robbani Press;
4. Agenda Tarbiyah: Mencetak Generasi Rabbani;
5. Biarkan Bidadari Cemburu Padamu;
6. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Suad Husnan (orang Bapepam harusnya punya buku ini, punyakan…?;
7. Ada satu lagi namun segera dibawa sang kekasih, sebuah novel: judulnya lupa (kok bisa, yah inilah manusia).
Yang jadi pikiran saya saat ini, mau ditaruh di mana buku-buku itu, sedang almari pun sudah tak muat. Makanya tebaran buku dimana-mana sudah menjadi penghias rumah saat ini.
Itu saja sih…semoga engkau menjadi yang lebih cepat lagi, semoga engkau selalu menjadi manusia yang senantiasa “iri” dengan kebaikan-kebaikan orang hingga memicu engkau untuk selalu berbuat kebaikan, dan semoga engkau selalu menjadi orang yang mampu menggebrak ketika menyajikan soto (loh kok Jaka Sembung sih, emang soto gebrak…..?). 
Maaf tak sempat mampir di persinggahanmu….lagi kukutip ia.
Maafkan saya.
Allohua’lam.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

dedaunan di ranting cemara
di antara tumpukan buku
kalibata, 14 Juli 2005

ps.
Sudah sebagian besar tulisan Anti saya baca. Karena harus bergantian dengan sang kekasih. Komentar awal: bagi siapa saja yang mau mengenal sosok azimah rahayu lebih mendalam, lebih detil, ruang berpikirnya, sejuta makna yang ia miliki, maka baca buku pagi ini aku cantik sekali dan hari ini aku makin cantik. Itu lebih dari cukup dibanding dua lembar berisi biodata untuk ta’aruf. 
Komentar kedua: Saya membacanya sambil terduduk, terpekur di pojok ruangan yang paling sudut, khusyu’….

ATM Tertelan


6.7.2005 – pelajaran hari ini: ATM saya tertelan

Hari ini banyak pelajaran penting yang saya dapat. Di tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung, di tengah tekanan tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan, di tengah ancaman sanksi denda 50% bila tidak membayar tuition fee hingga tanggal 10 Juli 2005 ini, ternyata tetap dibutuhkan akal sehat agar saya bisa lolos dari tekanan-tekanan itu.
Maka apa yang terjadi pada saya saat akal sehat tidak digunakan maka timbul aksi terburu-buru yang pada akhirnya membawa saya kepada kesulitan lainnya. Contohnya adalah saya yang biasanya hapal nomor pin ATM Bank Muamalat tiba-tiba kehilangan memori untuk mengingat empat digit yang harus saya masukkan ke layar. Dan bodohnya saya memaksakan diri. Sutttt…..bunyi suara ATM menelan kartu begitu menyesakkan dada.
Telepon ke sana-kemari untuk memastikan simpanan saya aman-aman saja adalah jalan akhir yang harus saya lakukan. Besoknya pula saya harus mengurus ke kantor bank di mana saya membuka rekening. Jauh lagi. Pekerjaan kantor pun terbengkalai jadinya.
Duh Gusti….Maka biasanya setelah itu saya sering merenung: kesalahan apa yang telah saya perbuat pada-Nya. Dan ketika kuhitung Masya Allah….tiada berkesudahan diri ini membuat hati semakin gelap tiada bening lagi, sebening air gletser di kutub utara sana.
Karena saya meyakini bahwa musibah atau kesulitan yang saya alami adalah salah satu bentuk dari dua, yakni ujian atau memang hukuman. Jikalau ujian maka bersyukurlah bila saya dapat melewatinya dengan berhasil dan naiklah derajat keimanan kita–tapi ingat nanti akan berbanding lurus dengan ujian yang lebih berat lagi. Jikalau musibah maka bersabarlah karena sesungguhnya Allah tak akan memberikan beban yang sungguh tak sanggup untuk kita memikulnya.
Entahlah, hari ini saya menerima ujian atau musibah. Tapi setidaknya saya dapat pelajaran penting hari ini, yakni ketahuilah: jangan terburu-buru, karena terburu-buru adalah perbuatan syaitan.
Allahua’lam.
******Ya Allah ampuni aku
dedaunan di ranting cemara
di antara angka-angka
kalibata, 06 Juli 2005

Biarkan Aku Menulis Hari Ini


biarkan aku menulis hari ini

Banyak sekali yang ingn saya tulis pada hari ini. Sampai suatu titik dimana gejolak hati tak mampu menahannya dan mendesakku untuk segera meraih secarik kertas dan menggoreskan pena biru padanya. Menulis tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kenangan, keluarga, cinta, dan senyuman terindah milik seseorang.
Apalagi pagi ini saya mendapat hadiah istimewa dari ukhti kita: azimah rahayu, sebuah sequel dari buku pagi ini aku cantik sekali. Buku yang ditandatangani langsung olehnya dengan catatan kecil: sekadar pengikat tali persaudaraan. Judul buku itu adalah hari ini aku makin cantik. Membacanya membuatku bersegera menulis di halaman ini. Tentang obsesi saya padanya. Tentang tema-tema cantik dan indah pada buku itu, dan lain-lain. Tapi itu pun kalau aku sempat menulis di tengah kesibukanku ini.
Maka biarkanlah aku menulis hari ini, tentang apa saja. Agar ringan terasa hati ini. Agar tiada beban hidup ini. Namun ada pertanyaan yang menggelitiki sisi–sisi kepalaku, wahai kawan….? Bagaimana aku bisa menulis sedangkan tak ada yang akan aku tulis….? Pertanyaan itu menjatuhkanku dan menghalangiku mencapai suatu titik pencapaian dari menulis.
Maka aku berontak…Sisi lain dariku berkata: “Tulislah apa yang kau bisa. Jangan pedulikan apapun yang bisa membatasi gelora menulismu. Entah ejaan, pikiran orang lain, atau anggapan buruk orang ketika membaca tulisanmu. Menulislah sekarang.”
Maka biarkanlah aku menulis hari ini, tentang apa saja. Agar ringan terasa hati ini. Agar tiada beban hidup ini. Sisi lain dariku berkata kembali, “Jadilah dirimu sendiri, dan jangan pernah meniru orang lain. Agar engkau tahu sampai sebatas mana kau mampu menulis dunia ini. Agar kau tahu hal-hal kecil di sekitarmu. Agar kau tahu segalanya di sekitarmu.”
Maka biarkanlah aku menulis hari ini, tentang apa saja. Agar ringan terasa hati ini. Agar tiada beban hidup ini. Itu saja…

dedaunan di ranting cemara
di antara tebaran kertas
05 Juli 2005

Dua Kertas dan Satu Kamboja


4.7.2005 – dua kertas dan satu kamboja

cerpen buat kalian seorang ummi dan abi yang berkarier
ditulis di atas tumpukan buku:
dua kertas dan satu kamboja

“Qi, ummi titip ini untukmu…” suara berat menyadarkanku dari lamunan. Memaksaku memalingkan wajah pada sosok tua yang tengah menyodorkan amplop putih.
Aku terdiam
“Buka saja,” sambil membereskan letak duduknya di samping gundukan bermawar merah masih basah. Dengan papan tertera nama Sabrina Hanifa. Ummiku.
Ada dua lembar kertas usang di dalamnya. Dengan sisi-sisinya tampak bekas terbakar.
“Hanya dua itu yang bisa ummimu selamatkan waktu rumah kita terbakar,” suara berat itu kembali mengguncang kesunyian.
Aku pun memeras memori mengenang dengan jelas peristiwa 20 tahun lampau. Rumah kami setengah hancur saat terjadi kebakaran besar menimpa komplek perumahan kami. Namun kami sempat menyelamatkan diri dengan membawa barang sebisanya. Ummi kulihat masih sempat membawa buku diarinya yang setengah terbakar.
“Jangan kau baca, Qi!” seru ummi menegurku, saat aku intip isinya. “Kelak ini akan ummi berikan padamu,”tambahnya. Aku masih mengokang tanda tanya yang siap kuberondongkan padanya.
“Cukup sayang…, ayo bereskan lagi rumah kita ini,” sambil ada jari lembut menempel di bibirku.
Hari ini ia meninggalkan dua lembar itu padaku. Tapi tanpa ia yang siap menerima serangan pertanyaanku. Sudah terpejam abadi adanya. Tulisannya indah sekali. Ya, Ummiku selalu dapat nilai paling bagus untuk pelajaran menulis halus di sekolah dasar dulu.
14 Mei 2005
Mengingat tatapanmu, Haqi, ada yang membuat perasaan ummi tidak enak pagi ini. Entah karena apa. Mungkin karena ummi melihatmu duduk sendiri saat kami meninggalkanmu.
Qi, maafkan ummi yang telah membiarkan hampir sepanjang usiamu tanpa kehadiran ummi. Membiarkanmu menikmati sepanjang hari-harimu, sendiri, selama dua tahun ini.
Qi, mata polosmu tadi pagi mungkin mengandung sejuta tanya. Kenapa ummi selalu pergi dan hanya mampu menemanimu saat hari mulai gelap. Itu pun dengan kondisi ummi yang tidak lagi segar dan ceria.
Sekali lagi, maafkan ummi, nak. Jauh di lubuk hati ummi pun tidak menginginkan ini. Sungguh ummi ingin berperan penuh sebagai ummi-mu sebagaimana ibu layaknya.
Menyambutmu dengan senyum saat matamu terbuka, memandikanmu, mengajakmu jalan-jalan sambil makan, menemanimu bermain, hingga mengantarmu menjelang mimpi.
Sedih Qi, hati ummi. Saat melihatmu susah makan, saat orang-orang yang mengasuhmu kurang telaten menghadapimu. Tapi ummi tak akan dan tak boleh marah. Karena sesungguhnya kamu memang bukan anak mereka. Kamu anak ummi. Jadi sudah semestinya ummilah yang harus bertanggung jawab atasmu. Atas segala perkembanganmu.
Qi, ummi rindu menjadi ibu seutuhnya, Bagimu dan bagi calon adekmu yang baru lima bulan ini. Doakan ummi ya, Qi. Agar Allah segera menunjukkan dan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Sehingga ummi dapat mewujudkan cita-cita ummi tanpa beban rasa bersalah. Baik terhadapmu maupun terhadap janji saat ummi hendak bekerja.
Satu bulir air disusul lainnya menurun deras dari pipiku yang sudah menganak sungai. Yang mata airnya sebenarnya sudah kering sejak meninggalkan Vyborg, dekat St. Petersburg, kota nelayan di Teluk Finlandia.
“Ummi…, Haqi sayang ummi,” desisku berusaha mengalahkan gelegak tak tertahankan lagi.
Kalau saja aku tak menerima tawaran itu, aku masih menemani ummi dalam kesendiriannya melawan kanker hati. Tawaran yang menggodaku. Melakukan ekspedisi Kelautan di Laut Baltik, dengan menyusuri tepi pantai Arhus, Denmark, terus ke pantai barat St. Petersburg, hingga berakhir di Malmo, Swedia.
Kompensasi yang didapat bila aku ikut selama tiga bulan perjalanan itu adalah beasiswa program doktoral di Universitas Rhode Island.
“Siapa yang akan menemani ummi di sini, Qi…”tanyanya getir, “Baru saja setahun yang lalu kau temani Ummi, kau mau pergi lagi.”
“Mr. Jan Brinkhuis mendesakku,” membayangkan mantan profesorku di Universitas Stockholm. “Ini kesempatan langka buat mahasiswa Asia seperti saya, Mi…”
“Sudah kau beritahukan hal ini pada abimu….”
“Tak perlu!” sahutku cepat. Buat apa memberitahukan pada orang yang telah menyia-nyiakan kasih sayang ummi selama 10 tahun ini. Tapi mengapa Qinan ikut dengannya, saat perpisahan itu terjadi. Walaupun dapat ditebak Qinan pasti ikut abi, mereka dekat sekali.
“Mi, nanti Bulik Indah yang menemani Ummi,” rajukku sambil bersimpuh, meraih tangannya, dan kucium. Kuletakkan kepalaku di pangkuannya.
“Ridhoi aku Mi, sesungguhnya ridho Allah ada pada ridho Ummi”. Biarkan aku berlama-lama di pangkuan ini, Mi. Biarkan aku menjadi penadah airmatamu.
Kukuatkan untuk membaca lembar kedua ini. Lembaran yang ditulis dengan sepenuh hatinya.
04 Juni 2005
Hari ini hati ummi kembali tidak enak, Qi. Entahlah rasanya badan ummi lelah sekali. Mungkin karena pengaruh adekmu, ya Qi.
Haqi sayang, lagi-lagi ummi diliputi rasa bersalah saat mengingat kejadian tadi pagi, saat ummi mau berangkat ke kantor. Maafkan ummi ya Qi, yang sering menghadapi ulahmu dengan kesabaran yang terbatas.
Entah kenapa tiba-tiba kamu menjadi anak yang susah di atur di mata ummi. Padahal jika mengingat usiamu yang baru menapak dua tahun, bukanlah kamu yang susah di atur, melainkan ummi saja yang kurang bekal kesabaran sebagai seorang ibu menghadapimu.
Iya Qi, Anak seusiamu memang sedang giat-giatnya bereksplorasi dengan lingkunganmu. Dan seharusnya ummi menyadari itu, sehingga ummi tidak perlu marah menghadapi ulahmu. Sekali lagi maafkan ummi, Nak. Janji, ummi akan berusaha memperbaiki semuanya. Walau dengan kelelahan, ummi akan menghadapimu dengan senyum kesabaran, Karena itu memang hakmu. Insya Allah.
(Air mata menjadi saksi ummi).
Sedanku masih lirih terdengar.
Kalau saja ekspedisi itu bisa tepat waktu, aku mungkin dapat pulang cepat. Ekspedisi ini terlalu lama berkutat di daerah sekitar Turku, Finlandia, yang seharusnya kalau menurut jadwal kami sudah berada di Malmo. Apalagi kami kehilangan sampel berharga berupa fosil purba plankton itu. Terpaksa kami kembali ke pos di Vyborg, untuk memulai penyelaman lagi.
Baru sehari di sana, aku mendapat email dari Bulik Endah, mengabarkan ummi kembali masuk rumah sakit karena kanker itu. Katanya, ummi selalu memanggil-manggil namaku ketika mengigau.
Kondisi penyelaman akan mengalami masa kritis tanpa aku supervisi kegiatan itu. Sebagai bentuk tanggung jawabku, aku percepat pekerjaan yang menjadi bagianku. Tapi dengan kecemasan yang luar biasa, dan kadang air mata ini turun begitu saja.
“It’s done,” hari ini aku selesaikan semuanya dengan sempurna untuk mendapatkan sampel itu.
Aku pamit barang satu dua minggu pada timku. Malam ini perjalanan darat menuju St. Petersburg terasa lama. Paginya perjalanan udara dimulai menuju Moskow, ganti pesawat di Abu Dhabi. Esok sorenya aku tiba di Cengkareng.
Saat di dalam taksi, hpku tiada henti-hentinya menerima sms dari Bulik. Memang selama di dalam pesawat kumatikan hpnya. Menanyakan keberadaanku, sampai dimana, dan memberitahukan perkembangan ummi setiap setengah jamnya.
Ringtone Brother kembali menyalak mengusik kesibukanku membaca sms.
“Assalaamu’alaikum, Bulik, gimana kabar ummi sekarang” tanyaku cepat.
“Nggak usah ke rumah sakit, langsung aja pulang ke Cibinong,” jawabnya dibalik sedu sedannya itu.
Lemas sudah badan ini. Lemas sudah batin ini. Angin yang menerobos kencang dari jendela taksi menusuk-nusuk wajahku tak peduli dengan lipatan kesedihanku. Bahkan mentari senja yang sinarannya jatuh di pelipisku lewat sela gedung-gedung pencakar langit, tak mampu mengetuk-ngetuk nurani buat menikmati keindahannya.
Dering ringtone kuabaikan untuk kembali memeras kantong air mata ini dengan segunduk penyesalan yang mulai menggunung. Hingga kutinggalkan maghrib dibelakangku.
Sepucuk kamboja jatuh di pundakku, dan langsung turun di atas kertas yang masih kupegang. Harum mewangi saat kucium ia. Kulipat lembaran itu dan kumasukkan kembali ke tempatnya. Kamboja putih kutaruh pada papan nisan yang hanya dapat diam membisu.
“Pff..sudah saatnya aku kembali,” pikirku. Sudah cukup aku berada di sini, melantunkan doa-doa pembuka pintu langit, melantunkan sejuta harap pada-Nya agar Munkar dan Nakiir yang wajahnya sejuk membawa suluh penerang. Penerang tempat abadinya.
“Assalaamu’alaikum,” hanya itu yang kuucapkan sambil bergegas menjauh pada sosok tua yang masih duduk bersimpuh.
“Mau meninggalkan kami lagi ,Qi ….” suara itu menghentikan langkahku yang sudah ke tujuh. Aku terdiam tanpa membalikkan badan.
“Percayalah…, abi mencintai ummimu,” tambah suara itu. Aku masih diam saja. Sesaat tanpa suara, kuputuskan untuk beranjak lagi.
“Satu lagi Qi, Ummu Qinan nanti adalah bulikmu,” sesaat pula langkah ini terhenti. Tapi hanya sesaat. Cuma sesaat. Seperti bunga kamboja yang cuma sesaat menemani papan nisan, terbang ditiup angin siang yang tiba-tiba bertiup kencang.
Pintu gerbang telah kutinggalkan untuk mencari taksi yang membawaku ke bandara.
“Ang Haqi….,” suara lembut yang menyebut panggilan masa kecil memaksaku untuk menoleh.
“Qinan…!” Jilbabnya masih seperti dulu, lebar dan rapih.
“Aang mau pergi lagi Kapan kembali…” berondongnya.
“Entahlah, biarkan Aang pergi dulu, untuk melupakan kesedihan ini.” Jawabku lirih.
“Aang belum mau memaafkan Abi”
Aku terdiam. Kurengkuh ia dalam pelukanku.
“Bilang padanya, Aang mencintai Abi, seperti Aang mencintaimu,” bisikku ditelinganya.
“Qinan mau melihat Aang menjadi orang yang dimurkai Allah Sudah cukup ego ini menguasai Aang. Aang tak mau lagi kehilangan kalian. Tapi beri kesempatan pada Aang untuk bisa menghilangkan sakit hati ini,” ujarku lancar.
Isak tangisnya menyadarkanku untuk melepas peluk erat ini.
“Jangan lupakan ini, Ang…” katanya sambil menyodorkan mushaf kecil.
Aku meninggalkan siang yang semakin kuning.
Sebulan kemudian.
Bandara Kopenhagen masih sepi pagi ini. Mushaf ini masih menjadi teman setia. Satu juz terlampaui. Kini aku sedang menunggu penerbangan ke New York. Dari sana aku menuju Providence, Rhode Island.
Tim kami sukses dengan ekspedisi yang memuaskan dan menggegerkan dunia. Fosil spora Azola berusia 40 juta tahun yang lampau ditemukan. Aku berhak mendapatkan beasiswa itu.
Namun seminggu setelah pengumuman itu, Mr. Henk Ovelgonne ahli paleontologi Universitas Utrecht, mengajakku melakukan ekspedisi dengan timnya mencari bukti fosil ganggang yang lebih tua lagi di samudra purba Kutub Utara. Tawaran yang menantang . Tapi ajakan itu aku tolak. Aku ingin istirahat.
Apalagi dengan adanya sesuatu dalam kotak kecil disampingku. Bunga kamboja putih. Masih mewangi. Kotak itu bertulis nama pengirimnya: Abiku.
Bandara mulai menggeliat, diramaikan langkah-langkah sibuk. Sedangkan pagi sudah beranjak ke kuning yang semakin kuning.
dedaunan & rda, 03 Juli 2005, di antara tebaran buku.

Sakury


1.7.2005 – Sakury dan PT Newmont Minahasa Raya, 13th Salary

Aktivitas pagi selalu di awali dengan sarapan, cek inbox dan milis Keadilan4all serta FLP (Forum Lingkar Pena). Tak lupa pula untuk cek tulisan-tulisan indah, penuh makna di ciblog ini.
Seperti pagi ini, rutinitas itu terlaksana dengan mantapnya. Sampai aku melihat blognya Sakury. That’s Great….sederhana dan menghijau. Tampaknya kata-kata itu yang pantas untuk disandingkan pada blognya. Apalagi tampilan fotonya itu loh. Beda dari yang lain. Sehati dengan teks disampingnya. Apalagi Ayat-ayat pengingat: Arrahman, menghantam ingatan kita supaya jangan melalaikan nikmat yang Ia berikan pada kita.
Hijau banget gitu loh…tanda tanya kemudian menghiasi ruang di kepala ini…sebegitu religiuskah anda … Aku tak tahu jawabannya, karena belum lama mengenalnya, bukan begitu Sakury…
The Point is …..cuek, dingin, menghamba, friendly, so what gitu loh…:-)
Nama Anda pun kembali mengingatkanku pada nama hikari.
Two thumbs up buat Anda. Jaga dan tetap istiqomah…
Dari situlah timbul keinginan untuk meng-update blogku yang telah lama menjemukan dan tak sempat kuutak-atik (karena ujian akhir mandiri, sibuk merekam SPT PPN yang belum e-SPT, dan masih banyak lainnya). Apalagi foto Jakcy Chan-nya itu loh, kayaknya dia sudah bosan terpampang di situ. Tenang Jacky, saya akan ganti segera.
Aku buka Frontpage, dan sedikit sedikit mulai menyusun amagram script. Namun di tengah asyiknya, tiba-tiba Ibu Kepala Seksi yang sangat saya hormati memanggilku. Dan menyodorkanku sembilan Putusan Pengadilan Pajak atas Banding Newmont Minahasa Raya, yang jatuh temponya tiga minggu sejak hari ini. Alamak…makhluk yang namanya PT NMR ini selalu tak bisa memberikan kesempatan kepadaku bernafas sedetik pun. Yah sudahlah, runtuh segera azam untuk memperbagus tampilan ‘aku punya blog’.
Ya, tak apa-apa sih, namun aku harus me-reschedul kegiatanku siang ini: rekaman; pergi ke Book Fair (azimah menjanjikan untuk memberiku buku terbarunya: Hari ini Aku Makin Cantik, sekuel Pagi Ini Aku Makin Cantik–apabila aku bertemu dengannya di sana), de el el.
Sudah saatnya aku bekerja kembali.
So, tak ada kaitannya Sakury dengan PT Newmont Minahasa Raya. Mungkin satu saja kesamaannya: mereka sama-sama memiliki emas. Sakury dengan emas yang ada di jiwanya (bener nih…:-) dan yang lainnya emasnya sudah ada di Bank Central of America, buat cadangan devisa katanya. Buat yang di sini, cukuplah merkury gantinya :-(.
Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara, setelah melihat bangkai kereta semalam di Pasar Minggu, 01 Juli 2005.
NB: gaji ke tiga belas katanya sudah masuk, tuh.

Senyum Sore


29.6.2005 – senyum sore

Semua bersiap untuk melaksanakan satu ritual wajib. Yakni menggosokkan salah satu jemarinya di atas scanner, pertanda sebuah tradisi terlaksana. Pada akhirnya terjawab dengan tiada potongan apapun pada take home pay.
Setelah itu semua sibuk dengan urusan masing-masing, langsung pulang ke rumah, ke kampus, atau tempat tongkrongan lainnya. Atau bagi mereka yang masih mencintai kantor ini, maka ia pun akan pulang saat malam mulai menyalak sengit pada setiap orang. Ingat…tanpa ada bayaran tambahan.
Oke…, selamat tinggal hari ini. Sudah cukuplah saya mengisi hidup ini. Sudah saatnya aku segera melakukan ritual itu. Sudah saatnya aku memeluk suasana lain. Dan mengharap ada sesuatu yang membuatku berbeda, dengan nilai tambah di hadapan-Nya.
Selamat tinggal, kawan….
Selamat tinggal, sore……
Semoga kita bertemu di esok hari, dengan senyummu yang menawan mengombak dihadapanku.
………………………………………..

Guru Kehidupan


28.6.2005 – Guru Kehidupan Dan Sebuah Kenangan

Kepada sahabat istriku:
azimah rahayu
Tadi malam saya sempat membaca emailmu, tentang seorang guru ‘kehidupan’. Saya sempat tanyakan pada Istriku, sebagai salah satu mantan muridnya, “apa istimewanya seseorang sepertinya…” Dia menjawab, “ia adalah orang yang bisa menjaga hatinya.” Deg….jawaban itu menohok jantung pemikiranku. Sampai aku terdiam sesaat.
Hingga aku berpikir, hati adalah kemudi dari sebuah kapal besar bernama kehidupan kita masing-masing. Bila kita salah membelokkannya maka yang kita dapat adalah orientasi yang hilang arah. Maka terpujilah orang yang bisa menjaganya. Yang bisa menjaga hati dari segala apa yang akan membuatnya kelabu bahkan hitam mengelam, layaklah ia adalah orang yang berusaha untuk meraih cinta pada Sang Maha Pemilik Cinta.
Wuih…ironi sekali dengan apa yang kumiliki di hati ini. Bahkan aku tak sanggup menengok dan mengira seberapa kelamkah hati ini terkotori bayang-bayang semu duniawi. HIngga bait-bait doa di lima waktunya pun malu-malu aku haturkan:
Ya muqollibal qulub, tsabit qolbi ‘ala tho’aatik, tsabit qolbi ‘ala syari’atik, tsabit qolbi ‘ala da’watik.
Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada ketaatan kepadamu, tetapkanlah hatiku pada syari’atmu, tetapkanlah hatiku pada dakwahmu.
Sungguh, ceritamu membawaku kembali kepada penyadaran.
Emailmu lagi, tentang sebuah ‘kenangan’, pun merayuku untuk merajut ulang memori. Bahkan apa yang aku akan ceritakan untukmu selama sepekan dalam pengelanaan ke Jurangmangu, sudah semuanya kau tulis. Dari hamparan dhuha, melihat sosok-sosok mengalunkan ayat-Nya, sampai pada kata deja vu itu, sudah kau tulis di sana. Ya sudah, itu cukup untuk mengobati rasa rinduku.
Namun ternyata pagi ini rindu itu belum tuntas sampai aku angkat telepon menanyakan kabar pada ‘guru kehidupanku’ di Makasar sana. Empat tahun sudah ia keluar dari BPKP, dan bergabung di sebuah grup perusahaan besar milik putera daerah.
“Guru dan Kenangan”-mu cukup indah kubaca dan menjadi file yang akan disimpan di rak-rak memoriku. Tenang saja kapasitas sejuta gigabyte-ku masih dapat menampung file-file itu. Insya Allah, takkan terlupa.
‘abdurrahman (sebaik-baik nama)
dedaunan di ranting cemara, 28 Juni 2005, 11.05 WIB

Sehelai Nasehat Untuk Kalian


27.6.2005 – sehelai nasehat dalam sepucuk surat untuk kalian

Kepada dua saudaraku,
di
selatan dan di ujung timur jauh kota ini.
Rentangan waktu tak cukup mampu untuk kita membalas apa yang telah Allah berikan kepada kita sejak lahir hingga helaan nafas terakhir sekarang ini. Maka pujilah Ia Yang Maha Pemurah atas segalanya.
Berjuta lembaran pun tak cukup mampu menampung kemurahan dan keagungan akhlak Sang Terkasih Muhammad Rasulullah SAW, nabi akhir zaman. Maka bershalawatlah, Sesungguhnya Allah dan para malaikat pun bershalawat padanya.
Saudaraku, pada suatu saat, tiba-tiba aku ingat tentang kalian. Sudah lama saya tidak mendengar kabar kalian. Dan kebetulan pula ingatan itu tiba saat kalian sudah menyelami bahtera rumah tangga setahun lamanya.
Saudaraku, setahun bukanlah waktu yang pendek untuk dapat saling mencintai karena-Nya. Namun setahun pun bukanlah waktu yang lama untuk dapat saling memahami.
Saudaraku, masihkah terekam kuat dalam ingatan peristiwa yang mengguncang ‘arsy setahun yang lalu. Tentang perasaan yang membuncah dan kebahagiaan yang meledak-ledak. Hidup terasa menjadi mawar harum semerbak.
Izzatul Jannah dalam bulan setengah (2004) sampai mengatakan: tidak ada yang seindah pernikahan sebab ia memberi kelegaan, ruang yang luas untuk memanjakan jiwa, rasa keindahan, dan rasa kasih. Sungguh ia adalah tempat menyejajarkan kaki yang lelah sebab benturan antara manusia, tempat meluruhkan jerih sebab ujian dan masalah. Maka Sang Nabi menyebutnya sebagai setengah diin. Tetapi, tahukah engkau bahwa pernikahan tidak selamanya mawar
Saudaraku, kututup buku itu sambil merenung, mengambil kaca metafora untuk menghitung diri seberapa salah tangan ini mengayuh biduk itu. Seberapa salah tangan ini menunjuk arah yang benar, agar tak lewati riak–riak kecil hingga gelombang tinggi menggulung. Enam tahun kami kayuh dan ternyata menyadari bahwa kami harus banyak saling belajar untuk menjadikan bahtera itu tenang. Sungguh pertolongan Allah-lah yang membuatnya tetap tenang, dan itu yang kami harapkan hingga akhirnya nanti di suatu saat aku dapat selamatkan diriku dan mereka dari panasnya api neraka. Ya Allah jauhkanlah panasnya api neraka-Mu dari kami.
Saudaraku, sari dari kita menaiki biduk itu adalah sudahkah setengah diin yang lain itu kita peroleh Mampukah kita menyelamatkan diri kita dan mereka dari kengerian abadi itu Maka yang terpenting dari semua itu adalah kita berusaha untuk tetap mengayuh biduk ini dalam ketenangan syariat-Nya.
Saudaraku, adakah biduk itu telah dapat menjadi ruang untuk memanjakan jiwa dan meluruhkan jerih Sedangkan jarak dan waktu menjadi sekat pekat yang tak gampang dilewati dengan mudah. Perlu pengorbanan.
Saudaraku, ternyata aku tak bisa membayangkan hidup seperti kalian. Aku bertanya pada diriku sendiri, bisakah aku hidup seperti kalian Suatu saat aku menyadari ternyata aku adalah orang rumahan. Aku tak bisa bepergian sebentar tanpa mengingat orang-orang yang aku cinta, melupakannya begitu saja dan menjadi sosok angkuh berstatus freeman susuri kota-kota indah di sepanjang selatan Jawa. Maka dapatkah aku menjadi sosok-sosok kuat seperti kalian yang dengan sabarnya menempuh semua itu.
Saudaraku, yang hanya dapat aku berikan kepada kalian adalah dua ayat indah bagi jiwa-jiwa yang lelah tempuhi kesabaran:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah:4-5).
Saudaraku, ternyata Alam Nasyrah adalah pelipur bagi jiwa-jiwa sarat beban.
Saudaraku, saling panggillah kalian dengan panggilan yang terindah, selayaknya Sang Nabi memanggil belahannya: Khumaira.
Saudaraku, janganlah pernah bilang ‘seandainya’ karena Rasulullah SAW melarang mengatakan itu sebab ia adalah pintu syaitan—itu yang kembali aku temukan dari Izzatul Jannah.
Saudaraku, pupuklah cinta hingga sarat dan memenuhi kamar-kamar hati kalian. Di saat pertemuannya kalian akan temukan dahsyat keindahannya.
Saudaraku, ingatlah tentang hari akhir yang sungguh abadi. Yang indahnya tak bisa terbayangkan dan terlintas dalam pikiran manusia. Yang kengeriannya pun begitu pula.
Saudaraku, jadikan momentum ini awal untuk menasehatiku pula. Untuk saling berbagi. Aku butuh itu. Aku butuh itu untuk tidak menjadi jiwa-jiwa dengan ruhani yang ringkih. Pun dengan kalian.
Saudaraku, jangan biarkan biduk itu kosong dari mawar-mawar indah semerbak mewangi. Tentang tak selamanya mawar, itu takkan pernah terjadi jika kalian menyadari cinta kalian adalah cinta karena-Nya.
Saudaraku, semoga sehelai nasehat ini—tidak hanya buat kalian juga terpenting adalah buatku juga—adalah menjadi pelipur. Pelipur dari segala keresahan, karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Penyembuh. Bukan dariku, manusia dhoif dan faqir ini.
Saudaraku, dalam setiap tangan yang menengadah ke atas di setiap malamnya, aku berharap tak melupakan kalian. Dan sudikah kiranya kalian melesatkan panah-panah harap itu kepada-Nya dengan menyelipkan namaku di setiap tangkainya. Bisa jadi dari kalian, semua harapku didengar-Nya.
Saudaraku, siang Ahad ini semakin terasa pijar-pijar panasnya. Sudah saatnya aku akhiri ini. Aku akan menekuni yang lain:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Alam Nasyrah:7-8).
NB:
Seperti apa yang diminta oleh dedek-mu,
Kutulis ini untukmu, dan ku-cc-kan untuknya.
Alfaqir ilallah
dedaunan di ranting cemara

Never Too Old Too Learn


Malam Ahad, 25 Juni 2005

Citizen-ku masih menunjukkan kurang dari jam dua belas malam. Hasratku untuk terlelap di kasur empuk masih menggantang di atap. Belum dapat menelanku menuju mimpi-mimpi indah atau bahkan sebaliknya?
Hari ini cukup melelahkan. Masih sempat kuikuti seminar tentang debt, foreign exchange, and international financial stability oleh Peter Dirou—Lead Advisor to DG Treasury, Ministry of Finance—dengan terkantuk-kantuk. Menarik namun segera terhapus dengan kecemasan bahwa aku perlu belajar untuk ujian metodologi penelitian, senin besok.
Malam ini, setelah beberapa lembaran catatan kuliah kubuka, aku coba untuk surfing di internet. Secara tak sengaja (atau sengaja?) aku kembali temukan catatannya. Catatan seorang Azimah Rahayu tentang we are never too old to learn, tentang we are never too late to start. Sempat terpana dengan apa yang ia tulis. Lancar, mengalir, dan tentu enak dibaca.
Semuanya diawali tentang keterpanaannya pada sosok-sosok yang ia kenal sejak di Jurangmangu. Yang kini—menurutnya—telah membuatnya iri. Mereka pada usia matang-matangnya menuju kedewasaan, telah menjadi visioner dan mempunyai orientasi hidup terang sekali seterang matahari. Mereka merajut hidup dengan meniti karir dan mengayuh biduk rumah tangga, sejak dini. Sedangkan dirinya stagnan di suatu titik. Masih mencari identitas diri. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkecamuk di benaknya.
Hai, ke mana saja kamu selama ini? Apa saja yang telah kamu lakukan dalam hidupmu? Bisa apa kamu saat seusia mereka? Apa saja yang kamu mengerti dan telah kamu jalani saat berusia belasan dan dua puluhan? Prinsip apa yang telah kamu pegang dengan kokoh saat usia awal dua puluhan?
Sampai suatu ketika, di saat ia nyaris putus asa di awal dua puluh limanya, seorang teman memberikan kalimat yang menghunjam dan dalam padanya: we are never too old to learn, we are never too late to start.
Sejak saat itu, ia terpacu untuk berubah. Tidak ada kata tua untuk belajar, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Ia ikuti kursus-kursus yang akan membuatnya berubah. Ia melatih dirinya untuk dapat berpindah kuadran kehidupan. Dari sosok yang masih mencari jati diri hingga sampai suatu titik keniscayaan bahwa ia telah berubah.
Lima tahun sudah dari pergolakan batin itu adalah kini ia sudah menjadi sosok terkenal di dunia sastra Indonesia. Ia kini tergabung di komunitas penulis muda Islam: Forum Lingkar Pena.
Jelang usianya yang ketigapuluh, masih dalam kesendiriannya, yang kukenal darinya adalah tidak ada lagi cerpennya yang tidak mengalir seperti di kampus dulu. Funky tapi masih syar’i coy…Supervisor di berbagai kegiatan kerelawanan. Dan masih menjadi salah satu masinis untuk menarik gerbong besar panjang bernama dakwah.
Ia berubah. Kita pun bisa berubah. Perubahan terkadang perlu cara revolusioner tetapi measurable. Kedisiplinan adalah salah satu kuncinya pula. Itu yang pernah aku rasakan dulu, lama sekali. Satu-satunya pengalaman berharga yang membuatku memahami bahwa tiada yang sulit di dunia ini jika kita berpikir positif dan mempunyai azzam (tekad) kuat.
Bagaimana tidak, ketika aku baru memasuki SMU, aku adalah termasuk orang yang anti dengan matematika. Namun apa yang terjadi, ketika memasuki kelas dua, aku tertinggal dengan teman-teman yang lain.
Akhirnya timbul suatu niat untuk memulai perubahan. Siang-malam kuhabiskan dengan matematika, matematika, dan matematika. Disiplin dan latihan terus menerus. Apa yang bisa kupetik adalah saat pembagian nilai matematikadi ujian akhir: aku mendapat nilai excellent.
So, kita semua bisa berubah. Sekali lagi dengan revolusioner dan measurable. Napoleon saat mendaki sebuah tebing yang sulit di Pegunungan Alpen bersama pasukannya, pernah berkata: tidak mungkin adalah kata-kata yang hanya ada dalam kamus orang-orang bodoh.
Tapi mungkin anda punya cara lain untuk berubah. Berubah apa saja. Tentu ke arah yang membuat diri kita bernilai di hadapan manusia, utamanya adalah di hadapan-Nya. Sekali lagi ke arah yang lebih baik.
Saat kita tak punya rasa cinta pada sesama maka berubahlah.
Saat kita tak punya rasa takut dengan dunia maka berubahlah.
Saat kita tak punya rasa percaya diri maka berubahlah.
Saat kita merasa sendiri maka berubahlah.
Dan masih jutaan saat-saat lainnya yang membuat kita mandeg dalam menghitung sisa-sisa hari kita. Maka berubahlah, pindahlah saya dan Anda ke kuadran kehidupan yang lebih baik. Insya Allah kita bisa.
Ups…tiba-tiba hasrat memeluk mimpi-mimpi itu menekanku pada titik yang aku tak sanggup untuk menahannya beberapa menit lagi. Tak dapat memberikan kesempatan pada jemariku menari di atas tuts sesaat saja. Untuk akhiri fragmen kehidupan pada hari ini.
Terimakasih Azimah, malam ini Anda adalah sosok yang kesekian, selain mereka—Ayyasy, Haqi, Ria (adek kelasmu)—yang membantuku untuk berubah. Aku tak sabar menunggu esok, untuk mengirimmu SMS. Sekadar ucapkan: terimakasih. Itu saja.

**********************************************************************01.15, 26 Juli 2005

Tercerabut dari Akarnya


24.6.2005 – tercerabut dari akarnya

Aku masih menyempatkan diri untuk menulis di sini. Walaupun timbunan pekerjaan menumpuk di meja dan membauiku. Sudah hampir sembilan bulan lamanya, aku tak pernah lagi melihat dan mengeksplor ditrikpa dan DSH Net.
Waktu itu dua minggu menjelang ramadhan, seluruh komputer di kantor ini tak bisa mengakses dua situs itu.
Aku yang biasanya mendownload banyak file dari rikpa files, saling berkirim email dengan rikpa mail, dan berdiskusi di DSH Net, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi itu langsung down dan hilfil.
Berhari-hari saya mencari solusinya mengapa ini terjadi dan akhirnya aku memahami bahwa semua ini yah memang harus terjadi. Pada saat itu aku seperti pepohonan yang tinggi menjulang dengan akar yang menghunjam jauh ke dalam tanah, dan tiba-tiba tercerabut dari akar-akarnya.
Baru kemudian di bulan Desember tahun lalu, semua pegawai di kantorku mendapat fasilitas email dari pajak.go.id. Dan aku ikuti beberapa milis yang sangat informatif. Sehingga aku dapat melupakan rikpa dan dsh net. Aku pun ber asyik masyuk dengannya.
Namun tiba-tiba, setelah dunia mendapat serangan virus mematikan di bulan April kemarin, kembali aku dapat musibah sejak bulan Mei 2005, aku tidak dapat mengikuti milis, walaupun aku masih dapat ber-imel ria di sana.
Kembali aku merasa tercerabut dari akarnya. Aku merasa terputus dari dunia luar. Aku merasa eksistensiku hilang begitu saja di tiup angin di setiap waktunya.Tiada lagi dunia interaktif bagiku.
Tapi Mungkin di sini aku kembali menemukannya. Aku harap demikian. Semoga.
Wah, bau pekerjaan yang menumpuk kembali menyengatku. Saatnya aku kembali ke duniaku, supaya jangan jadi orang-orang yang tertinggal.
Allohua’lam.