Dua Hari Tanpa Listrik


Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)

Terbukti sudah betapa manusia di zaman moderen ini sangat menggantungkan roda kehidupannya pada teknologi agar tetap bisa berputar. Maka apa yang terjadi ketika listrik “byar pet” dan benar-benar padam selama dua hari di KPP PMA Tiga?
Ruangan gelap dan tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan, sampai-sampai Wajib Pajak terheran-heran dan langsung bertanya kepada saya, “Pak, KPP PMA Tiga pindah yah?”
Bagaimana mau mengerjakan sesuatu sedangkan semuanya ada di dalam komputer yang tidak bisa dihidupkan itu, merekam, menjawab konfirmasi, memasukkan kasus ke dalam case management, melayani Wajib Pajak melalui email dan lain sebagainya. Semua itu tidak dapat dilakukan tanpa ada benda yang di tahun 1967 bentuknya seperti dua lemari besar.
Coba hitung sendiri betapa banyak kerugian yang diderita negara atau kita sendiri, selain membayar gaji pegawai yang tidak produktif, peralatan elektronik yang rusak karena aliran listrik yang tidak stabil, hilangnya kesempatan untuk berkreativitas, hingga berdebarnya jantung karena pekerjaan yang nyaris jatuh tempo.
Maka dapat dikatakan ketergantungan manusia pada teknologi—dalam hal ini komputer—adalah sebesar 98%. Sisanya untuk pekerjaan klerikal yang benar-benar membutuhkan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.
Tapi terus terang saya tidak menikmati hal ini, karena bagi saya listrik mati atau hidup, pekerjaan sudah jelas menumpuk di depan mata. Alhamdulillah, sebelum pulang saya sempatkan diri untuk melihat-lihat kembali semua pekerjaan itu. Saya susun ulang. Saya beri post-it warna kuning. Saya beri catatan penting. Dan saya rapihkan dengan harapan Senin esok, saya dapat mengerjakan semua itu. Itu pun kalau Senin nanti aliran listrik sudah seperti sedia kala.
By the way, semua orang di sini kok pada tahu kalau pekerjaan perbaikan aliran listrik bawah tanah belum selesai sampai hari Senin nanti. Wah…wah…wah… siap-siap saja kembali tiada pekerjaan, tiada postingan ke Cicadas Blog, dan satu terakhir dan yang paling penting, gajian akan tertundakah? Semoga saja tidak. 

dedaunan di ranting cemara
di antara Jum’at yang meluruh kata-kata kerinduan
20:02 29 Juli 2005

Menulis itu Gampang


29.07.2005 – menulis itu gampang*)

Menulis bagi sebagian orang adalah hal yang paling menyulitkan, buktinya banyak mahasiswa yang ingin segera menyelesaikan kuliahnya terbentur dalam tugas akhir berupa penelitian yang dituangkan ke dalam bentuk sebuah skripsi.

Menulis pun bagi sebagian yang lainnya adalah hal yang mudah, kita tinggal menuangkan apa yang ada dalam pikirannya ke dalam sebuah kertas (layar putih kosong, sekarang….) dan untuk memulainya kita tak peduli dengan bagus atau enak tidaknya tulisan itu dibaca. Menurut saya, itu yang penting bagi seorang penulis pemula termasuk saya ini.

Sebagai bentuk pelatihan, kita tidak harus memulai dengan sebuah cerita pendek, essay, apalagi sebuah novel. Tidak, tidak dengan itu, tapi kita menuangkan apa yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari—walaupun sekecil apapun objek tulisan—mungkin sebuah perasaan yang timbul ketika kita sedang mencuci pakaian atau motornya, ketika kita sedang jalan-jalan di mal, atau ketika kita sedang merenung di sebuah halte di waktu hujan mengguyur dengan derasnya. Bahkan kebanyakan penulis besar memulainya dengan menulis sebuah diary. Jangan malu-malu untuk mengungkapkannya. Hhm…Oh ya tradisi menulis diary di barat menjadi gerbang penulisan populer dan biografi.

Ketika kita telah mempunyai gagasan, kita pun segera menuliskannya, dan kita tak peduli juga berapa paragraf yang telah kita susun. Yang penting kita bersegera untuk menuliskannya seperti bersegeranya saya ke masjid karena adzan maghrib telah berkumandang memanggil. Dan itupun sudah menghasilkan empat paragraf .

Lanjut lagi, tapi ternyata semua itu tidak mencukupi. Karena kita mempunyai sedikit gagasan. Berkali-kali kita membulatkan tekad untuk menulis apa yang ada di kepalanya. Tapi apa daya kita tak mampu menulis sebuah huruf pun (karena kita sering tekan tombol delete dan back space). Kalau orang timur bilang: nafsu besar tenaga kurang.

Kurangnya gagasan itu bisa ditimbulkan karena kurangnya kita membaca. Jadi dengan membaca kita sebenarnya sedang menyusun sebuah perpustakaan besar di otak sebagai sebuah sumber berjuta-juta referensi (ingat bukan, bahwa otak kita bermemori satu juta gygabyte), tinggal kita men-defrag-nya supaya bisa tersusun rapih, maklum semakin tua kita semakin mudah lupa di sebelah mana sebagian memori itu kita simpan di otak.

Selain itu, ternyata kita butuh suatu sistematika gagasan, karena terkadang ketika kita sudah mempunyai semuanya dan lalu kita mencoba menuangkannya, sepertinya ada yang kurang. Oh ternyata si Kodok yang main nih, ya karena ternyata tulisan kita melompat-lompat, kadang lompatannya ke kiri dan ke kanan tak beraturan (seperti tulisan saya ini) tapi tak mengapa. Kita butuh suatu sistematika gagasan. Caranya bagaimana? mudah saja: ambil secarik kertas dan tulis poin-poin kecilnya, atau kalau malas melakukannya tulis saja semua lalu baca dan baca lagi, pasti kelihatan mana lompatan yang benar dan mana yang kesandung-sandung.

Dan bersyukurlah bagi anda yang sudah mempunyai komputer di rumahnya, walaupun kata sebagkitan pakar IT, komputer kita hanya sebatas mesin tik belaka, tapi tak mengapa. Mengapa demikkitan, karena kita tak perlu menyobek-nyobek kertas lagi karena saking kesalnya betapa tulisannya jelek banget. Di mesin tik modern ini kita cuma tinggal pencet dua tombol tadi. Tapi ya mbok di ingat, tarif listriknya bang…:-).

Terakhir, tulis sekarang juga.

Oh ya terakhir sekali, publikasikan tulisan anda, itu penting juga lho untuk mendapatkan masukan berharga.

dedaunan di ranting cemara
di antara optimisme hidup
8:47 29 Juli 2005 dengan sedikit revisi
*) judul di atas mengutip judul sebuah buku yang ditulis Arswendo Atmowiloto

Terpukul Telak


28.07.2005 – HARI INI AKU TERPUKUL TELAK (doakan saya….)

Hari ini adalah hari terberat yang pernah saya alami dalam tahun ini. Entah, bisakah saya menempuhi itu semua dengan elegan, kepala masih terdongak ke atas, dan dada membusung? Atau saya akan jatuh, limbung, hancur, dan pecah berantakan tiada berbentuk lagi? Dan semua ini belum selesai setelah beberapa hari ini berdiskusi panjang. Saya kira Ahad kemarin telah berbentuk solusi ternyata tidak. Puncaknya adalah hari ini.
Sebuah telunjuk mengarah dengan penuh kebencian kepada saya yang telah terkulai tiada berkata apa-apa lagi. Karena saya anggap semua itu adalah masa lalu yang tak boleh terungkit oleh siapapun. Bahkan saya telah melupakan semua itu. Lama, dulu sekali. Tapi Allah berkehendak lain. Dia membukanya. Ya, hari ini adalah hari terberat.
Sesungguhnya saya yakin semua ada solusi dan penyelesaian. Saya yakin pula Allah tiada memberikan suatu beban yang tak sanggup dipikul oleh hambanya, karena itu adalah doa yang selalu saya panjatkan dalam setiap pertemuan dengan-Nya. Tinggal bola itu ada di tangan saya, apakah ikhlas, sabar menerimanya dengan lapang dada atau sebaliknya emosi dan kemarahan yang membuat rahmat-Nya bahkan menjauh dari saya.
Maka sore atau malam ini harus ada penyelesaian. Entah–saya tak tahu–apakah penyelesaian yang baik atau buruk. Saya tidak berharap yang terakhir. Hanya kepada Allah-lah saya menaruh nasib ini. Hasbunallahu wani’malwakil. Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara
dengan dada yang berdebar
dengan masalah yang–maaf–tak bisa diutarakan di sini

Hanya Sebuah Buku Tamu


27.07. 2005 – hanya sebuah: BUKU TAMU

Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam
Setelah mengutak-atik dengan frontpage dan memahami filosofi pembuatan web, akhirnya ada dua hasil yang saya dapat pada hari ini. Pertama saya dapat membuat menu kategori, yang selama ini dengan “memanage”nya, tidak muncul-muncul juga di right side.
Dan yang kedua, pada akhirnya saya dapat pula membuat sebuah buku tamu walaupun masih ala kadarnya.
Sungguh suatu kehormatan yang sangat besar dapat berkenalan dengan semua penghuni ciblog ini, juga sebagai ajang untuk mengembangkan kegiatan tulis menulis. Menulis apapun. Menulis diari, paper, essay, cerita pendek, novel, renungan, atau yang hanya sekadar gerutuan, dan gundah gulana.
Walaupun Decrates pernah mengatakan “kita berpikir karena kita ada” maka mengutip seorang bloger: “kita menulis karena kita ada”. Maka ayo kita menulis. Tiada hari tanpa menulis. Satu atau dua kalimatkah. Satu atau dua paragrafkah. Tidak masalah.
Jadi Selamat buat Anda yang masih bisa menulis hari ini.
wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di dhuhur yang menggelayut pundak
12:27 27 Juli 2005
ps.
terimakasih kepada tosers dan goengs yang telah menggugah saya untuk membuat kategori, pula dengan kang asep dengan both sides perspective

Both Sides Perspective


both sides perspective
(kasus lupa absen)

Bagaimana tidak jengkel ketika menyadari bahwa saya yang seharusnya tidak pernah terlambat dan tidak pernah pulang cepat di bulan Juli dinyatakan satu kali tb dan satu kali pc. Dan ini hanya gara-gara saya benar-benar lupa menaruh jari saya di atas scanner absen. What the…
Apalagi belum ada solusi tuntas yang diberikan oleh teman penanggung jawab absen untuk mengatasi permasalahan ini. Berarti siap-siap saja ada pengurangan nilai dari take home pay yang di dapat. Masalahnya bukan pula nilai yang akan kita dapat—tapi sesungguhnya dalam setiap nilai itu berharga karena tidak ada nilai yang besar kalau tidak diawali oleh nilai yang kecil—tapi adalah hak saya yang dirampas oleh sebuah sistem yang tidak mengakomodir sekecil apapun kekhilafan dan kealpaan manusia dan secara sewenang-wenang merebut hak-hak saya sebagai manusia. Ingat saya juga manusia (mengutip lirik seurieus).
Maka apa yang terjadi, perasaan tertindas dan ego saya muncul—alhamdulillah tidak ada makian dan umpatan yang keluar dari mulut ini, karena saya sadari semua itu tidak baik, menyakiti diri sendiri, juga tetap tidak solutif. Dan puluhan rencana segera siap dijadikan meriam untuk ditembakkan dalam perang, seperti protes kepada pemimpin Subbagian juga kepada pimpinan tertinggi, sampai jika saja rencana itu tetap gagal, maka saya pasrah dan akan saya tuntut saja hak tersebut di akhirat, karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pengadilan-Nya adalah pengadilan yang seadil-adilnya. Sekali lagi ini karena masalah hak yang tidak semestinya diberikan kepada saya, sedangkan saya telah melaksanakan semua kewajiban yang dibebankan dan Insya Allah telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Sampai suatu ketika, ada sekelebat titik kesadaran bahwa ini perlu didiskusikan dengan teman, sehingga awalnya diharapkan ada sokongan moral untuk mendukung upaya yang akan saya lakukan.
Akhirnya bukan hanya dukungan namun ada sebuah ide yang membuat saya harus merubah paradigma berpikir saya selama ini. Apa yang teman saya bilang, “cobalah kita berpikir dengan both sides perspective.” Wah, makhluk macam apa pula ini?
Ternyata hal inilah yang dari dulu saya berusaha lakukan, namun jarang sekali saya pakai untuk setiap permasalahan yang melibatkan dua pemikiran manusia. Kadang saya pakai dan kadang tidak. Dan untuk kasus kali ini saya tidak terpikir sekejap pun untuk memakai cara pandang dengan dua sisi itu. Sisi kita dan sisi mereka. Sisi pelaku dan objek penderita.
Saya dan teman, satu persatu mengurai kasus ini dengan menggunakan cara berpikir pada sisi mereka—yakni teman-teman di Bagian Umum. Artinya kita berusaha memahami mengapa hal ini terjadi dengan kita berperan sebagai mereka. Hasilnya sungguh mengejutkan bahwa ternyata ada sisi empati yang harus saya timbulkan dan berikan untuk mereka karena mereka telah banyak melakukan yang terbaik untuk saya, mengurus kepegawaian saya, berusaha membayar gaji saya dengan tepat waktu—walaupun terkadang ada saja kendala yang mengakibatkan keterlambatan tersebut, melayani saya dan seksi dalam masalah penyediaan alat-alat tulis kantor sehingga pekerjaan kantor bisa terselesaikan dengan cepat, dan masih banyak lagi lainnya. Jadi mengapa saya harus merusak kebaikan mereka dan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini dengan ego dan marah saya yang tiada berujung dan sekali lagi tiada solutif.
Pada suatu titik pula, dengan berpikir dua sisi itu, sedikit demi sedikit kerelaan mulai tumbuh di hati, pemikiran saya mulai jernih, dan tidak emosional untuk mengambil langkah yang dapat memuaskan dua pihak. Sehingga muncul pemikiran cemerlang yakni untuk mendiskusikannya dengan pimpinan Subbagian. Kiranya itu yang belum saya lakukan, yakni upaya tabayyun, memperoleh informasi yang benar dan langsung dari pihak yang mempunyai otoritas penuh.
“Fleksibel saja,” kata terakhir yang terucap darinya. Ya, akhirnya ada solusi yang didapat. Dan pembicaraan itu berakhir tidak seseram yang saya bayangkan. Dua pihak terpuaskan.
Kita tak pernah rugi untuk berpikir both sides perspective. Terutama untuk menghindari dzan-dzan atau prasangka-prasangka buruk yang akan mematikan kejernihan akal kita.
Kepada teman-teman di Subbagian Umum, saya seribu kali menjura dengan kata maaf selalu terlontar dari mulut yang masih belum serasi dengan hati. Insya Allah, saya akan belajar untuk memakai both sides perspective itu dalam setiap pemikiran saya.
Sekali lagi, pakailah ia, karena ia akan menjernihkan.

dedaunan di ranting cemara
di shubuh yang menjelang
dengan kantuk yang tiada terkira
04:44 27 Juli 2005

Masjid Kita


26.05.2005 – Masjid Kita

Sekitar pukul 16.30 WIB dalam perjalanan menuju stasiun Gondangdia Ahmad terlebih dahulu singgah di suatu masjid yang terletak di komplek perkantoran untuk menunaikan Sholat Ashar. Masjid Kebon Sirih namanya. Untuk menuju masjid tersebut maka harus melewati pintu gerbang utama gedung. Ahmad meminta izin untuk masuk ke komplek perkantoran tersebut kepada Satpam yang bertugas di gerbang tadi. Dengan pandangan penuh selidik dan tanda tanya, Satpam mempersilahkan Ahmad untuk masuk setelah mendapat penjelasan bahwa dirinya mau menunaikan Sholat.

Dari kejauhan arsitektur masjid itu sungguh indah dan menawan, ruang utama masjid berada di lantai dua. Lantai bawah adalah untuk ruangan pertemuan atau ruangan apapun namanya. Untuk menuju ruangan utama Ahmad harus menaiki anak tangga ke atas. Tapi sebelumnya, persis di depan tangga berjaga pula seorang Satpam dengan membawa HT. Ahmad pun meminta izin pula untuk shalat. Lalu Ahmad menaiki tangga dan mencari tempat wudhu, dan ternyata Satpam pun mengikuti Ahmad ke atas dan duduk menunggu di teras masjid yang berhalaman luas tersebut. Ahmad pun sholat. Setelah sholat sebenarnya Ahmad masih ingin beristirahat sejenak, mengagumi ornamen masjid yang begitu indah, mengamati pemandangan di sekitar gedung masjid, dan membaca mading yang tertempel di papan pengumuman, namun dirinya merasa tidak enak dengan adanya pengawasan dari Satpam tersebut, sehingga ia buru-buru untuk segera meninggalkan masjid. Ahmad ber-khusnudzon saja, soalnya hari itu adalah hari keempat lebaran, yang tentu saja Jakarta masih sepi dari hiruk pikuk kegiatan manusia. Apalagi pada malam natal lalu guncangan bom meledakkan banyak gereja dan memakan banyak korban, tentu Satpam harus dapat meningkatkan kewaspadaannya.
Pengalaman lainnya di alami oleh Hakim yang berniat untuk melaksanakan sholat Dhuha di masjid di bilangan Pondok Aren. Tapi apa lacur, niatnya untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan kandas karena fasilitas untuk berwudhu dan pintu masjid terkunci dengan rapat. Padahal di dalamnya ada sang marbot yang melihatnya sedang berusaha membuka pintu yang terkunci, namun sang marbot bergeming untuk tetap membiarkan Hakim berada di luar. Fenomena apa pula ini?
Itulah masjid kita. Banyak masjid didirikan namun tak banyak pula yang dapat diramaikan oleh beragam aktivitas. Pendirian masjid yang susah payah—sampai-sampai dengan mengumpulkan dana di jalan-jalan, setelah berdiri megah dan indah namun sunyi senyap. Kegiatan baru tampak ketika sholat Magrib dan Isya plus shubuh, itu kalau masjid yang berada di perkampungan, bila yang ada di perkantoran hanya ramai pada saat sholat Dhuhur dan Ashar saja, sedang waktu-waktu lainnya jangan ditanya, padahal disekitar perkantoran tersebut terdapat perkampungan penduduk.
Apa yang dialami oleh Hakim dialami oleh banyak musafir yang ingin memenuhi hajatnya, fasilitas MCK yang tidak memadai dan terkunci. Padahal masjid adalah tempat yang pertama kali dicari oleh musafir yang berniat istirahat. Alasan apa yang paling kita dengar adalah supaya masjid dan segala fasilitas yang ada tidak kotor dan barang-barang aman, jadi silahkan saja sholat di luar masjid. Tapi Masjid adalah milik umat, bukan milik suatu RT, kelompok, atau komunitas masyarakat di sekitarnya, tapi tetap yang berkewajiban menjaga dan merawatnya sudah tentu mereka. Akankah masjid kita akan selamanya begini? Think about it.
dedaunan di ranting cemara
tiga yang lampau, dengan perbaikan kini
10:22 23 Juli 2005

Selembar Daun


selembar daun
hijau mulai menguning
layu
terjepit lembaran kertas
di halaman dua
menyucikan jiwa
said hawwa

masih terasa di ujungnya
anyir getah putih
baru terpetik tadi siang
di pinggiran jalan penuh debu

dan malamnya
lalu kau lihat,

aku sudah berasyik masyuk
me-rodi mataku pada
‘segenggam gumam’
bahkan dengan
‘aceh dalam puisi’

saat itu kau ingat tentang selembar daun

***
kukutip budi arianto untuk :
maaf tak sempat menjamu pada persinggahanmu tadi siang

dedaunan di ranting cemara, 01 Juli 2005
di antara kerumunan orang menyemut
di book fair

Aku Takut Mati


Beberapa menit hanya memandangi layar kosong di depan mata. Tak tahu memulai dari mana untuk mengurai kejadian-kejadian tragis di depan mata selama sepekan ini. Bagaimana tidak, saya melihat dua kecelakaan membawa maut pada sore hari menjelang berbuka. Membuat saya tercenung cukup lama. Bergeming memikirkan sebuah awal mula episode kehidupan lain yakni kematian.
Selasa sore, seperti biasanya jalanan dari arah Pasar Minggu menuju Depok begitu padat, sampai menjelang flyover Tanjung Barat. Selepas itu barulah saya bisa menggeber kendaraan di atas enam puluh kilometer per jam. Tapi ada yang aneh di sore itu, sejak Stasiun Tanjung Barat kendaraan mulai memadat dan semakin lama semakin macet. Tapi dengan motor yang anti kemacetan ini, saya bisa terus melaju bersama motor-motor yang lain. Ini tidak seperti biasanya.
Terbukti, antrian panjang disebabkan para pengguna jalan melambatkan kendaraannya untuk melihat apa yang telah terjadi, ditambah dengan sepeda motor yang diparkir sembarangan dan ditinggal di pinggir jalan oleh pemiliknya untuk melihat peristiwa kecelakaan di pinggir rel. Saya pun ikut-ikutan berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Sosok muda itu terbaring kaku dengan darah segar yang keluar dari lubang hidung dan telinganya, membasahi rambutnya, kental, hampir mengering dan mulai dikerubuti lalat. Sebagian tubuhnya ditutupi beberapa helai koran. Wajahnya yang sudah ditutupi pun seringkali dibuka kembali oleh orang-orang yang ingin melihat siapa yang menjadi korban, untuk memastikan apakah korban adalah orang yang dikenalnya atau bukan. Dari saksi mata diketahui korban dipastikan terjatuh dari KRL Jakarta-Bogor karena terbentur tiang listrik besi yang amat dekat sekali dengan rel.
Dadaku berdegup kencang.
Jum’at sore, kejadian yang hampir sama, di waktu yang sama terjadi lagi. Namun kali ini tempatnya berbeda. Kalau anda termasuk pelaju KRL Bogor-Jakarta atau sebaliknya atau pemakai kendaraan bermotor, pasti tahu pintu lintasan kereta api antara Stasiun Universitas Pancasila dan Universitas Indonesia. Kembali yang menjadi korban adalah anak muda dan kali ini berseragam SMU. Di tasnya ditemukan clurit dan sebotol bensin. Bisa ditebak, pelajar ini termasuk yang doyan tawuran.
Dari keterangan saksi mata diketahui, pelajar itu ditendang dari atas KRL Nambo yang melaju dengan kecepatan tinggi. Bagian kepala yang jatuh terlebih dahulu, membentur bebatuan dan aspal jalanan. Bagian belakang kepala bocor, darah kental mengalir dari lubang telinga dan hidung. Setelah sekarat beberapa detik langsung tewas di tempat. Sangat kebetulan sekali, pelajar itu tewas tidak jauh dari rumahnya.
Setahun yang lalu, persis di bulan ramadhan, di tempat yang sama pernah terjadi kecelakaan. Kepalanya tidak berbentuk lagi karena dihantam KRL. Kata orang sekitar, perlintasan itu sering kali memakan korban, dan sayangnya disikapi oleh sebagian warga dengan mengaitkan hal-hal klenik, makanya setiap tahun ada yang berani momotong kambing di bawah pohon dekat rel hanya untuk dijadikan tumbal. Sayang…
Tidak biasanya, sepanjang sisa perjalanan pulang saya hanya fokus terhadap dua peristiwa itu. Saya pikir, saya banyak disadarkan tentang satu hal yang seringkali manusia lupa dan merasa akan hidup selamanya yakni kematian. Batas antara hidup dan mati sungguh amat tipis. Karena kematian bisa menjemput kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Entah dengan kesakitan yang luar biasa atau tidak. Di atas tempat tidur atau di medan laga. Ketika subuh kan menjelang atau saat mentari tenggelam di ufuk barat. Entah dengan utuh harum mewangi atau tiada berbekas, bahkan busuk.
Setelah melewati pintu kematian, maka terbentanglah di hadapan kita dunia lain. Dunia dengan segala keekstrimannya. Diawali dengan kegelapan kubur yang amat dan sangat pekat ataukah terang benderangnya cahaya. Penjaga dengan kelemahlembutannya atau sebaliknya penjaga berwajah sangar dengan alat pemukul yang luar biasa besarnya.
Lalu padang yang amat luasnya. Tentang mahkamah yang amat adilnya menghitung satu dzarrah setiap perbuatan. Tentang manusia dalam karakter dan perwujudan yang disesuaikan dengan perbuatannya di muka bumi. Tentang wadah pembalasan segala kemungkaran yang amat panasnya dan kejam siksanya. Atau tentang wahana keindahan yang tak bisa terbayangkan oleh manusia.
Saya bergidik. Tiba-tiba saya tersadar, saya jadi takut mati. Saya belum siap untuk mati. Dan saya sadar yang menentukan baik tidaknya pembalasan yang akan diterima adalah amal atau semata-mata karena rahmat Allah Yang Maha Luas. Yaa Rabb, betapa amat sedikitnya amal saya. Jangan-jangan ketakutan saya pada kematian ini adalah karena saya sudah kena penyakit wahn. Cinta dunia dan takut mati. Semuanya berbanding terbalik dengan timbangan keimanan.
Saya teringat perkataan Abu Darda’: “Sesungguhnya aku mencintai kematian karena tidak ada yang mencintainya kecuali orang yang mukmin sedangkan kematian akan dapat melepaskan seorang mukmin dari penjara. Juga aku mencintai harta dan anak yang sedikit karena yang demikian akan dapat menimbulkan satu bencana dan yang dapat menyebabkan condong pada keduniaan. Padahal nantinya satu keharusan untuk berpisah dengan dengan penuh kedukaan. Dan segala sesuatu yang diluar ingatan pada Allah adalah satu keharusan untuk ditinggalkannya nanti ketika telah tiba ajalnya.”
Duh Gusti, ampuni hamba.

dedaunan di ranting cemara
di sekitar LA
dengan sedikit revisi di 25 Juli 2005

Kersem dan Monyet


Satu-satunya pohon yang berhasil saya tanam di depan rumah adalah Pohon Kersem —orang Indramayu atau Cirebon menyebutnya demikian, tapi entah mengapa Orang Citayam atau bahkan Jakarta menyebutnya Pohon Ceri (keren amat). Buahnya kecil-kecil, berwarna merah, dan rasanya manis.
Bibit pohon itu memang asli saya bawa dari Indramayu di tahun 2002, saat berkunjung ke rumah orang tua yang memaksa saya untuk membawanya. Saya enggan membawanya karena selain repot diperjalanan juga tidak sekeren pohon mangga kalau di tanam. Di daerah saya, pohon itu cocok untuk tempat bermain monyet dan sudah tentu buahnya adalah makanan favorit mereka. Akhirnya dengan membawa tiga bibit yang diambil dari selokan sebelah rumah saya kembali ke Jakarta dengan diiringi tatapan menelisik para penumpang kereta Cirebon Express kearah bawaan saya yang memang menonjol dan menarik perhatian banyak orang.
Pohon itu saya tanam di bantaran kali depan rumah. Depan rumah adalah Kali Pesanggrahan—kalau terlihat deras dan tinggi permukaannya, maka Cipulir sudah pasti kebanjiran. Jalan selebar empat meter adalah sebagai pembatas rumah dengan bantaran kali.
Dengan pupuk organik pemberian tetangga sebelah, saya menanamnya. Menemani pohon pisang raja, kelapa, rambutan, jambu, dan mangga. Satu bibit lainnya saya tanam persis di halaman rumah. Sedangkan satu lagi ditanam di belakang rumah. Pagi dan sore menjadi waktu untuk memberikan air sebagai penerus kehidupannya. Tidak sampai enam bulan, pohon yang berada di bantaran kali itu telah menjulang, menganopi, dan berbuah. Meninggalkan yang lainnya, yang masih tidak juga berbuah bahkan mati, entah kenapa.
Sejak saat itu depan rumah menjadi tempat bermain baru bagi anak-anak RT. Mereka berebutan untuk naik sampai puncaknya, tinggal saya yang tak henti-hentinya meneriaki mereka untuk turun. Bukan karena tidak mau buahnya diambil, tapi takut mereka jatuh.
Pula tempat itu kini menjadi persinggahan bagi banyak orang yang setelah berjalan di bawah panas terik matahari, seperti tukang bakso, pemulung, penjual barang kelontongan, bahkan pengendara motor yang kelelahan karena tak bisa menghidupkan mesinnya.
Satu lagi, kini setiap paginya ada yang terasa indah didengar. Senandung merdu burung-burung kecil. Ya, kesegaran pagi semakin bertambah diiringi tingkah polah mereka dalam mencari makan. Apalagi ketika matahari mulai menyinari semesta, hangatnya mulai terasa dan bertambah ramai pulalah fragmen kehidupan di sekitar pohon itu.
Dari semut–semut hitam yang menggantikan kelelawar malam, lebah-lebah yang mencari sari bunga, hingga kupu-kupu, atau kucing jantan yang menandai daerah kekuasaannya dengan air seninya di bawah pohon. Oh…satu kebaikan yang kita tanam ternyata banyak membawa manfaat bagi makhluk lain. Jadi ingat kata-kata bijak itu: tanamlah pohon kebaikan walaupun esok akan kiamat. Karena sesungguhnya kebaikan—seberapapun kecilnya, pasti akan membawa manfaat untuk siapapun. Pertanyaannya adalah akankah kita menjadi pohon-pohon itu? Yang berbuah dan meneduhi. Bahkan kita takkan pernah terlambat untuk menjadi pohon kebaikan itu, selama ruh belum sampai ke tenggorokan, pun andai besok akan kiamat. Pagi ini saya mendapat banyak pelajaran.
“Bang, ke depan bang!” seruan dari seorang ibu tua membawa sarat beban menyadarkan lamunan saya yang sedang duduk di atas motor.
“Eh, iya…iya bu,” tanpa basa-basi saya antar ia ke depan komplek.
“Terima kasih ya bang,” sambil menyodorkan tiga lembar ribuan kumal.
“Maaf bu, saya bukan tukang ojek,” sambil tersenyum dan segera memacu gas meninggalkan dia yang masih terpana.
Sekali lagi pagi ini saya mendapat satu pelajaran di bawah pohon Kersem. Jangan duduk melamun di atas motor di bawah pohon kersem, apalagi kalau Anda belum mandi, karena orang akan menyangka engkau adalah tukang ojek.Hmmm, tak mengapa.

dedaunan di ranting cemara
di pagi yang berselimut tebal kesegaran
citayam,11:17, 23 Juli 2005.

yang Muda Yang Naif


puisi yang muda yang naif
*********

Bisa saja kau bersuara lantang
bertanya
dimana adanya Tuhan
sampai suara habis
dengungkan posmo
sebagai ritual harian layaknya kitab suci

bisa saja kau bersuara lantang
kita sholat man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka satu
dalam satu tuts keyboard sekali saja)
tapi pikiran khusuk penuh wanita-wanita telanjang

bisa saja kau bersuara lantang
aku orang beriman man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka
satu dalam satu tuts keyboard sebanyak 999 kali)
tapi itu perlu diuji dan bukti
namun bagaimana bisa lulus
kalau masih bermimpi seksi
tebarkan seruan pada semua orang:
hei lihat, aku dekat dengan Zina
lihat aku sedang berzina,
nikmati saja kawan

bisa saja kau bersuara lantang
teriakkan kebebasan layaknya elang penguasa langit
tapi silakan kau hidup dimana hukum Tuhan tidak berlaku untukmu (emang
ada?)
naif
(bang naip, preman kampung depan komplek mati lehernya digorok setelah
pulang dari Bongkaran–Poskota)

atau silakan kau nikmati istidraj-Nya
sampai akhir itu tiba
dan hanya penyesalan menjadi kulitmu

dedaunan di ranting cemara
hanya di CITAYAM saja, 01.07 , 23 Juli 2005
menjura dengan pinta maaf yang tiada terkira pada semua
ampuni aku Ya Allah.

ps.
telah datang malaikat Jibril kepada Rosululloh dan berkata:
Ya Muhammad, hiduplah engkau sesukamu tapi ingatlah
sekali waktu engkau akan menjadi mayit;
cintailah orang yang kau cintai tapi ingatlah engkau akan berpisah
dengannya;
berbuatlah sesuka hatimu tapi sekali masa kau akan diminta
pertanggungjawabanmu dihadapan Allah.
(HR Imam Baihaqi)