Satu Hilang Tumbuh Seribu


09.08.2005 – satu hilang tumbuh seribu

Ya, sepatutnya ungkapan bermakna itu ditujukan kepada saya. Tapi bukan tentang para pahlawan yang gugur di medan juang, tapi tentang satu pekerjaan yang telah terselesaikan lalu muncullah seribu pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Sampai hanya berpikir kapan saya bisa menyelesaikannya itu pun menjadi pekerjaan rutin di saat istirahat.
Kata Qoulan Syadiida, “jangan sampai stres, karena stres akan menguras energi yang seharusnya dikerahkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan itu.” Tapi Gugur Bunga sepertinya layak untuk didendangkan kepada saya. Gugurlah waktu yang tiada berluang. Sebagai tanda berkabung saya dari menyia-menyiakan waktu.
Itu saja sih, sekadar mengingatkan bahwa kita ternyata harus mensyukuri atas nikmat waktu luang yang diberikan-Nya kepada kita. Jangan pernah kita sampai menyesal karena kita lupa dan tidak pernah berbuat kebajikan saat semua amal kita ditimbang oleh-Nya. Saat ini juga, mari kita berbuat kebajikan.
Allohua’lam.
saat gundukan yang tersusun itu
tersapu angin sore yang berdebu
mengunci mulut yang kelu
kerana maksyiat selalu
bersiaplah untuk bertemu
munkar dan nakir sebagai tamu
dengan gurat wajah yang membeku
tak mungkin senyum terkulum menyapu
maka kuberitahu
perbanyak amal yang manis bermadu
bukan sepahit empedu
…..
dedaunan di ranting cemara
di antara minahasa raya
12:36 09 Agustus 2005

Lontar dari Kadipaten Depok


lontar dari Kadipaten Depok

:buat Mapatih Gajahmada

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan
kalaulah belum tahlukkan negeri Sunda
satu negeri yang akan membuat tuan
akhiri sumpah palapamu
memulai nikmatnya dunia tidak sebatas mutih

Mapatih, haturkan hamba berkidung
tentang sebuah kidung Sundayana
melarut dalam berlonta-lontar Negarakertagama
yang belum sempat terbaca olehTuan
kerana Prapanca membuat titiknya
saat tuan telah tiada kekal

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang Diah Pitaloka Citaresmi puteri Sri Maharaja
yang datang membawa bangga ke hadapanmu tuan
tanpa ribuan pedang, tombak, perisai,
bahkan genderang tambur

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan kalaulah tuan
bersikeras cantiknya adalah hadiah
dan tetaplah hadiah
jikalau ia bukan hadiah
maka pastilah pinangan buat Tuannya Tuan

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang jikalau ia bukan hadiah
maka tak ada Bubat yang memerah darah
maka tak ada Maharaja yang berkalang tanah
maka tak ada Diah yang berkeris di dada

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang kepedihan hati
Tuannya Tuan Sri Rajasanagara
merenggut selendang cantik tak bertuan lagi
hingga akhir hayat memendamnya di Tayung, Brebek,
tempat hamba memungut nafas pertama hamba

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang dendam yang turun temurun
hingga hamba tak sanggup menegakkan muka
di tatar sunda yang telah tuan curangi
yang telah tuan kangkangi

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang membawa bala dari tuan
tentang hamba adalah putera
para piningit Sitinggil Binaturata
bahkan sebelumnya:Singhasari dan Kadiri

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang menjadi tumbal keserakahan tuan
hingga hamba terbalut kain jijik
dari mata-mata penerus tatar Sunda
hingga hamba tak layak untuk menjadi Adipati mereka

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
seberapa menyakitkan perbuatan tuan
hingga sampai merasuk dalam
pada alam bawah sadar mereka
hingga menggendam pada banyak anak pinak
bahwa hamba adalah bagian Tuan
bagian pusaka jaya masa lalu

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
dapatkah hamba menyalahkan tuan
karena hamba mengalami ketidakadilan
yang pernah menimpa mereka 648 tahun lampau

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang kini tak layak dan tak sepatutnya
menyilih angkaramu kerana hamba
adalah milik Sang Maha Pemilik jiwa Tuan
maka hamba pun sudah sepatutnya berjuang
dengan sepenuh tenaga hamba
layaknya mereka menghadapi Tuan

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang memastikan kisah
tak ada maharaja berkalang tanah
tak ada diah berkeris di dada
tak ada selendang beramis cempaka
kerana tahta sebenarnya bukanlah begitu rupa
hakikinya adalah ia berdiri tegak
di atas keadilan yang nyata

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang bahwa ini adalah sekadar kepedihan hati hamba
bahwa hamba menulis di lontar terakhir ini
semoga Tuan sempat membaca
di sela-sela kesibukan tuan
di sana

dari hamba:
Bhre Noermahmudi
Depok, Minggu Legi 03 Rejeb 1938

dedaunan di ranting cemara
di antara istighosah Kubro—bukan Qubro
22:08 Ahad, 07 Agustus 2005

Pecinta Kata-kata


pecinta kata-kata

[Purnama menggantung di langit Jakarta, menemaniku susuri jalan menuju pulang. Tiba-tiba aku rindu pada purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana? Dan gerimispun menjelma]

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka pada sebuah artikel baru yang ditulis oleh seorang penulis muda, seorang kontributor eramuslim.com, seorang teman, seorang sahabat dari terkasih Qaulan Syadiida, yang berjudul Dunia Kata-kata.
Sebelumnya kalimat itu terlebih dahulu mampir di sudut handphone di suatu malam, darinya. Tak sempat terjawab segera. Namun esoknya terbalas dengan:

[Jauh di barat daya. Purnama mengejutkanku saat shubuh. Adanya
tertusuk ranting cemara. Hingga tersadar tak boleh ada gerimis duka
di hati. Karena IA satu-satunya pelipur]

Setelah itu ia mengirim sebuah email tentang kepedulian dan kecintaannya pada kata-kata, hingga ia berkata: aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata. (Tak lebih).
Bagi para pecinta kata-kata, ketika menerima kata-kata indah, tergeraklah hati untuk segera membuat kata-kata berbalas yang lebih indah terasa di hati. Maukah kau tahu indahnya kata-kata di atas?
Siapa yang menyangkal indahnya purnama? Maka teman tadi membuat sebuah metafora purnama sebagai hiasan dan teman pulangnya. Ada sentakan keindahan lagi saat membaca kalimat berikutnya: “…purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana?”. Purnama di sudut jiwa, diksi yang cantik. Siapakah ia? Tanyakan saja padanya. “Gerimispun menjelma”, lagi-lagi pilihan kata yang indah menggantikan awal mula turunnya hujan.
Sedangkan saya benar-benar mengalami keterkejutan saat keluar dari masjid karena terpampang dengan indahnya purnama subuh yang membulat penuh di lihat mata. “Oh…saya tak menyangka, malam lalu adalah malam purnama,” pikir saya. Hingga saya terpesona beberapa saat. Sampai pada kesadaran bahwa saya harus mensyukuri atas kesejukan plus keindahan subuh yang tiada tara. Maka tak boleh ada gerimis duka, air mata yang menganak sungai di pipi, dan gulana yang meresahkan jiwa karena sarat beban. Sudah sepatutnya semuanya kita sandarkan pada-Nya, pemilik segala jiwa, mahapelipur segala lara.
Tak semua orang bisa menikmati kata-kata. Tak semua orang bisa mengerti tentang indahnya kata-kata. Tak semua orang bisa memahami cantiknya kata-kata. Hingga seorang pecinta kata-kata terkadang mencari, mencari, dan mencari seorang pecinta kata-kata untuk berbagi kata, berbagi keindahannya, berbagi cantiknya diksi, berbagi rasa dan imaji.
Namun ada yang harusnya tidak terlewati, pertanyaan tentang kepada siapakah kata-kata itu ditujukan? Karena jikalau ia tahu maka ada hati yang akan tersakiti. Bukan karena kata-katanya tapi karena kata-kata itu diurai kepada yang telah memiliki hati. Khusus untuk yang satu ini, maka tiga hal yang perlu dilakukan: hentikan segera, hentikan segera, dan hentikan segera. Jika tidak, ada sepasang hati yang akan membiru dan berdarah-darah tiada halalnya, atau ada satu hati yang merana karenanya.
Atau kau suarakan pada dunia dengan sekeras-kerasnya, tidak berbisik, tidak pada media yang amat-amat pribadi. Maka berikanlah kata-kata indahmu pada hati yang telah halal untukmu.
Seperti yang Qaulan Syadiida kirimkan kata-kata indahnya pada saya:

[Bunga mawarku mungkin hanya satu dari jutaan mawar di dunia. Tapi mawarku istimewa, unik dan sangat berharga bagiku. Karena aku telah menghabiskan waktu bersamanya, melakukan banyak hal untuknya maka aku mencintainya, meski durinya kadang menyakitiku. Jika cinta dan luka adalah dua sisi yang berkelindan dari keping yang sama mungkin aku harus belajar lapang dada agar duri mawarku tak mengenai permata hatiku, cukup aku. Meski aku tak tahu bila durinya kembali menyakitiku.]

Maka saya pun membalasnya dengan kata-kata:
[Aku merinduimu layaknya api merindui air. Aku merniduimu layaknya layar merindui angin. Aku merinduimu layaknya tanah kering merindui hujan. Maka kemarilah wahai pelipur lara untuk tuntaskan kerinduan].

dan menambahnya dengan:
[Aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata , ujar seorang teman pujangga. Maka deraskanlah kata-katamu hanya untukku bak badai yang tak temukan habisnya].

Tapi ingatlah wahai Qaulan Syadiida, sesungguhnya tiada sebaik-baik kata-kata kecuali kalimat pengesaan-Nya. Tiada sebaik-baik syair kecuali firman-Nya. Maka cintailah dengan utama kata-kataNya. Deraskanlah ia di bibir dua puluh sisi setiap harinya. Sejak itu kau akan rasakan indahnya, nikmatnya. Maka bolehlah aku dan kau disebut sebagai pecinta kata-kata.

dedaunan di ranting cemara
di antara penat yang tiada lelah mencabikku
00:46 05 Agustus 2005

Semakin Menghijau


04.08.2005 – semakin menghijau

Sore semakin membulat dengan cahaya yang semakin pudar terangnya, namun ada yang terpenuhi dahaga padanya.Ya, setelah berkutat lagi dengan html editor amatiran seperti frontpage, akhirnya kembali saya dapat sesuatu berharga yakni filosofi pewarnaan font dan pergantian halaman. Template yang dulunya tiada Last and Next Page, kini sudah tampil dengan manisnya, juga filosofi tentang jumlah halaman.
Kini tempat dedaunan bertengger semakin menghijau. Sila lihat saja bagi Anda semua penikmat gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Mungkin saja Anda menemukan sesuatu yang berharga di sana, atau sekadar melepas lelah dari terik mentari dan gundah gulana yang menyesakkan dada. Tapi saya cuma mengingatkan saja, jikalau Anda merasakan yang terakhir itu maka cukup dengan Sholat dan Sabar yang menjadi penolong Anda, tiada yang lain, karena ia menyejukkan.
Maka akhiri saja hari ini dengan selalu mengingat-Nya. Pastilah segenggam hati akan tenang terasa.
Maaf tiada terkira.
dedaunan di ranting cemara
di antara halaman frontpage
16:31 04 08 2005
ps. bagi kawan yang lagi belajar frontpage, yakini ia sangat mudah

Sepenggalah Suluh Untuk Kawan


04.08.2005 – sepenggalah suluh untuk kawan

Pagi ini masih saja aku menjadi bagian dari kemalangan yang menimpa ruh ruh kebaikan manusia di dunia. Sampai saat kubaca paragraf-paragraf indah tentang sebuah cinta dan kerinduan. Dan sampai detik itu pula aku tersadar waktu akan meninggalkan dhuha. Seperti dhuha-dhuha lama di Lido, Cibatok, Cilember atau di sudut kamar kost sempit kita dulu.

Semuanya penuh cinta, kawan, penuh hamasah, penuh ruhul jadid yang menggelora di dada yang dekat dengan mushaf di saku. Semuanya penuh robithoh, penuh qiyamullail, penuh shaum di setiap senin dan kamis. Semuanya penuh dengan peluh dan telapak kaki yang menebal karena susuri jalan-jalan sempit di antara sela-sela perkampungan padat rumah-rumah kost, atau karena tiada yang rindang di sepanjang jalan menuju masjid tercinta.

Itu semua karena kita masih tersadar betapa jalan dakwah begitu terjal dan sepi jauh dari keramaian yang akan membuat kita lupa dan terserang virus riya. Sering kali kita beristighfar sadari setiap kelalaian, sadari niat yang melenceng dari relnya semula.

Oh ya, ghodhul bashor pun tak lupa menjadi keseharian kita. Karena sesungguhnya mata adalah pintu dari panah-panah syaitan yang akan merobek-robek jaring-jaring iman kita.

***** Dhuha telah meninggalkanku, sedangkan aku masih berusaha mengingat memori yang kian hilang ditelan kesibukan dunia. Tapi yang pasti aku kembali ingat tentang semuanya itu kawan, tentang cinta itu, tentang foto-foto dalam album tua itu yang masih tersimpan di tumpukan paling bawah dalam lemari bukuku. Padahal tadi malam aku masih tidak ingat tentang cinta itu kawan…
dedaunan di ranting cemara
Sepenggalah suluh di antara dedaunan untuk: Faisal Alami, Ujang Sobari, Suprayitno, Ramli, Amran, Anwar, Abas, LBH, Si Kembar Madiun, yang di Sukabumi, dll. dari atoz

Sumber: renungan di medio 1997

Kia Tak Selalu Berakhir Dengan Mat


I. semuanya pasti akan begitu

kuketuk pintu
tok…tok…tok…
sekali, dua, tiga
pelan dan meritmis
sepi
tak terjawab
dari sebuah pintu
bertulis:
kamar mayat

II. Kia tak…

Bila Tuhan menyuruhmu, Israfil
pastikan sangkakalamu telah mengkilap
dan nyaring bunyinya
karena ia cuma dua kali meraung
saat manusia selalu berkata:
kia tak selalu berakhir dengan mat
saat manusia akan selalu berkata:
dimana aku berada sekarang ini

Aku Cinta Pelangimu


….adalah pelangi yang membuat dunia semakin indah
….adalah matahari yang membuat dunia semakin nyata
….adalah malam yang membuat dunia semakin sunyi
….adalah manusia yang membuat dunia menjadi realita
:dan
….adalah kata yang membuat manusia menjadi bernas

dan masih kutemukan sejumput keindahan di balik panasnya gurun kata,
menyejukkan bagai oase
bagai wadi al-Ghuraib di barat.

masih, masih, dan masih kutemukan di sini…

: dedaunan di ranting cemara
di puncak tertinggi

Tadi Malam


tadi malam
senandung hujan sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tertidur
tuk memilih mimpinya sendiri
anggap saja ia adalah calon bidadari surgamu
(itupun kalau kau tak rasakan pedihnya neraka)

tadi malam
ritmis gerimis sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tersungkur dalam sujud panjangnya
tuk memilin untaian do’anya sendiri menjadi selendang pembuka pintu langit
anggap saja ia adalah satu paragraf dalam satu bab di buku kehidupanmu

tadi malam
harum tanah sempat berbisik padaku
: persiapkan saja bekalmu
tuk menuju terminal terakhir itu
raih cita-cita tertinggimu
rengkuh syahid tanpa cintanya
biarkan mewangi misik menjadi tanda persaksian itu

tadi malam
guruh guntur menggemparkan mega mendung
dengan kilat putihnya pula
sadarkan aku bahwa aku masih menjejakkan kaki
di tanah ini
jauh dari detik-detik pertaruhan nyawa
sempatkah aku ke sana?
sedang aku masih di sini
aku berteriak
aku tak mau jadi Ka’ab bin Malik (sang tertinggal)

tadi malam
semua yang berbisik serempak berteriak
: pergi sana…!!!!!
lupakan saja ia……..!!!!!!

………….aku terbangun.

Tanggal 12 Desember 2003
kepada kawan yang memesan untaian kata ‘tuk dibacakan pada sang-nya

Kau adalah Ia


1. suatu saat aku sempat menggombal padamu:

kau adalah ia
yang menggores putihnya kertas
menjadi bait-bait terindah di ujung lidah

kau adalah ia
yang memahat kerasnya karang
menjadi relief-relief magis di setiap rabaan

kau adalah ia
yang melukis birunya langit
menjadi mozaik awan di setiap pandangan

kau adalah ia
yang mengukir liatnya jati
menjadi kepingan-kepingan terhalus di ujung jari

lalu…
di setiap goresan
di setiap pahatan
di setiap lukisan
di setiap ukiran itu,
aku siapanya ia

2. tapi dua tahun enam bulan tujuh hari sudah, baru sempat kau jawab gombalku itu:

kau adalah ia
yang padanya kucoba labuhkan cinta

kau adalah ia
yang dengannya lahir dua pasang mata

tapi kau memang bukan IA
yang memiliki labuhan cinta sejati
yang tak pernah melukai

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kelindan para putera Jayengrana: Subrangti dan Menak Subrangta
5:51 30 Juli 2005

Buat yang mau Selingkuh: Jangan Pernah


jangan pernah

jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu…
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun
jangan pernah
jangan

bahkan sebelumnya

jangan
jangan pernah
jangan pernah sekalipun
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun engkau berbuat
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan…

karena
suatu saat
semuanya akan
mencium kebusukan itu

dedaunan di ranting cemara
di saat kebusukan itu tercium sudah
sesaat setelah membaca puisi penulis novel IMPERIA: Akmal N Basral
20:10 29 Juli 2005