Kemana Pajak Penerangan Jalan Kami?


Sabtu pagi, sebagian warga RT 011 RW 017 Komplek Puri Bojong Lestari melakukan kerja bakti. Pada umumnya, kerja bakti adalah sarana warga masyarakat untuk bersilaturahim antarpenghuni komplek, membangun serta memelihara sarana-sarana umum. Namun kerja bakti kali ini termasuk yang tidak biasanya, yakni mencabuti lampu-lampu penerangan yang ada di tiang di sepanjang jalan RT kami. Ada apa gerangan?
Ya, RW kami mendapat surat resmi dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menertibkan sendiri sambungan-sambungan liar termasuk lampu-lampu penerangan di sepanjang jalan komplek kami, karena PLN menganggap bahwa pemasangan lampu-lampu penerangan itu adalah ilegal. Apabila tidak ditertibkan segera maka PLN akan terpaksa menertibkannya sendiri dan membawa semua peralatan-peralatan penerangan jalan itu.
Maka bersegeralah kami membereskannya agar lampu-lampu serta aksesorisnya dapat kami amankan. Karena bila tidak, maka peristiwa dua tahun lalu yang menimpa tetangga komplek kami akan terulang. Lampu-lampu hasil patungan dan swadaya masyarakat sendiri diambil paksa oleh PLN.
Masyarakat pun resah, bahwa lampu-lampu penerangan itu bukan untuk kepentingan pribadi tapi kepentingan masyakarat pada umumnya. Agar jalan-jalan di komplek kami tidak gelap dan terang benderang, pencuri pun akan berpikir ulang untuk bertindak. Juga yang paling tidak dimengerti oleh kami sebagai masyarakat kenapa lampu-lampu penerangan itu perlu ditertibkan sedangkan pada setiap bulannya mereka wajib membayar Pajak Penerangan Jalan sebesar 3% dari total beban yang dibayarkan. Kemana dan untuk apa uang kami sebagai pembayar pajak.
Pajak Penerangan Jalan termasuk pajak daerah. Tentu karena ini namanya pajak maka harus ditentukan oleh undang-undang. Untuk pajak daerah maka daerahlah yang menentukan seberapa besar prosentase tarif pemungutan tersebut dengan peraturan daerah (perda) yang disetujui oleh para wakil rakyat yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Besaran 3% itu dipungut oleh Pemerintah Daerah (Pemda) melalui PLN dalam setiap bulannya dari masyarakat pelanggan PLN. Pemda setelah mendapat pajak tersebut mulai menghitung seberapa besar rupiah yang harus diserahkan kepada PLN berdasarkan jumlah lampu-lampu penerangan yang terdaftar dalam catatan Pemda.
Pada titik inilah terjadi permasalahan, PLN merasa bahwa rupiah yang diterima tidak sebanding dengan jumlah beban yang dikeluarkan untuk lampu-lampu penerangan jalan itu. Sedangkan Pemda ngotot, besaran itu sesuai dengan jumlah penerangan yang ada dalam catatan Pemda. Maka untuk mengurangi kebocoran beban dilakukanlah upaya PLN untuk menertibkan semuanya dengan melakukan aksi pencabutan lampu-lampu penerangan jalan yang tidak terdaftar di Pemda.
Pertanyaannya adalah digunakan untuk apa saja uang hasil pajak itu oleh Pemda. Uang pajak itu seharusnya digunakan untuk pemeliharaan lampu-lampu jalanan serta penambahan titik-titik penerangan. Sehingga di kemudian hari semua jalanan di wilayah itu sudah mempunyai cukup penerangan. Disinilah sering terjadi penyalahgunaan, uang itu kebanyakan digunakan dan dialihkan untuk pengeluaran-pengeluaran Pemda yang tidak berkaitan dengan penerangan jalan. Jadi PPJ digunakan oleh Pemda hanya sebagai alat budjeter, pengumpul uang yang targetnya selalu dinaikkan dari tahun ke tahun. Sedangkan target penambahan titik lampu diabaikan oleh Pemda.
Masyarakat yang menunggu apa yang akan diperbuat oleh Pemda dengan uang PPJ itu hanya termangu begitu saja. Seperti menunggu Godot yang tiada kunjung tiba. Akhirnya daripada akan menimbulkan kerawanan lingkungan akibat tiadanya penerangan jalan, masyarakat pun berswadaya untuk melakukannya secara mandiri. Lampu-lampu dan peralatan pokok penerangan jalan mereka beli sendiri. Mereka melakukan pemasangan sendiri. Dan mengambil dayanya langsung dari tiang-tiang PLN.
Di sini Pemda harusnya merasa berterimakasih bahwa sebagian tugasnya telah dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat. Dan seharusnya pula Pemda membalas kebaikan masyarakat dengan melakukan pendaftaran agar titik-titik itu menjadi legal serta membayar beban itu secara proporsional kepada PLN. Sehingga masing-masing tidak ada yang dirugikan.
Maka apa yang terjadi bila Pemda tidak tanggap, masyarakat akan mulai skeptis terhadap Pemda dan kinerja para anggota dewan yang terhormat. Pula terhadap PLN, akan timbul persepsi dari masyarakat tentang keberadaan PLN yang hanya bisanya merazia masyarakat kelas menengah ke bawah. Sedangkan kepada pelanggan kelas atas terutama pabrik-pabrik berdaya tinggi PLN—yang masyarakat pun mafhum tentang sering terjadinya pencurian listrik oleh mereka, begitu mudahnya tergoda dengan iming-iming uang.
Diperlukan suatu win-win solution di sini. Masyarakat melakukan aduan kepada Kepala Desa/Kelurahan masing-masing tentang hal ini, karena ini pun menyangkut pada system keamanan desa. Aduan juga harusnya diperdengarkan kepada wakil rakyat kita supaya mereka bisa mendengar dan menekan terhadap kinerja Pemda. Sehingga Pemda bersegera melakukan pelegalisasian.
Juga diperlukan sikap bijak dari PLN yakni dengan memberikan kesempatan kepada warga untuk mencabut sendiri sambungan liar itu dengan tetap membiarkan lampu-lampu tetap terpasang di tempatnya walaupun tiada aliran listrik sampai telah dilegalkan. Kebijakan ini dilakukan agar warga pun tidak usah repot-repot mencabuti lampu-lampu itu—dengan tangga konvensional, dan memasangnya kembali jika permasalahan ini selesai. PLN tak perlu menyita lampu-lampu itu agar tidak memberatkan warga serta Pemda, karena jika lampu itu disita, Pemda akan mengeluarkan dana lagi untuk membelinya. Sedangkan alangkah baiknya jika dana itu digunakan untuk penambahan titik-titik baru.
Semuanya perlu waktu, tapi seyogyanya Pemda bersegera karena pada dasarnya mereka adalah pelayan umat.

Akhirnya selesai juga kerja bakti ini pada pukul 11.00 WIB. Semua lampu-lampu penerangan jalan kecuali lampu pos ronda telah dicabuti dan disimpan. Maka bersiaplah kami untuk menyambut nanti malam dengan gulitanya lingkungan kami. Saya berpikir tugas seksi keamanan di lingkungan kami akan bertambah berat. Mereka harus menambah kesiagaan dan kewaspadaannya. Tentu sudah selayaknya warga yang lain turut membantu dengan—lagi-lagi swadaya—memasang lampu lima watt atau lebih di pinggir jalan rumah masing-masing. Jika tidak, siap-siap saja menikmati kegelapan itu, entah sampai kapan.

dedaunan di ranting cemara
di antara peluh 14:08 03 September 2005

Gempita Takbir


Assalaamu’alaikum wr.wb.
Sisi lain berkata padaku:
Hai kawan:
Ingat tidak Allohuakbar selalu menjadi komando
dalam setiap peperangan?
Kau tidak ingat?
Saya sebut satu persatu tapi tidak semua:
Perang Badr
Perang Bani Sulaim
Perang Bani Qainuqa
Perang Sawiq
Perang Dzi Amar
Perang Bahran
Perang Uhud
Perang Bani Nadhir
Perang Nejed
Perang Badr Kedua
Perang Dumatul Jandal
Perang Ahzab
Perang Bani Quraizhah
Perang Bani Lihyan
Perang Bani Mushthaliq
Perang Ghabah
Perang Khaibar
Perang Wadil Qura
Perang Dzatur Riqa’
Perang Mu’tah
Perang Futuh Mekkah
Perang Hunain
Perang Thaif
Perang Tabuk
*****
Di zaman para sahabat:
Perang Membasmi Riddat dan Penolak Bayar Zakat
Perang Yarmuk
Perang Nahawand
Perang Jamal
Perang Shiffin
Perang Karbala
Perang Penakhlukkan Yerusalem
Perang Penaklukkan Konstantinopel
dan lain-lainnya
60 tahun yang lampau jangan lupa
Bung Tomo memekikkan Allohu Akbar di atas Hotel Surabaya
Dan peperangan lainnya selama 14 abad lebih itu.
****
Sisi lain berkata lagi padaku:
Hai kawan:
Allohuakbar pun menjadi urat nadi yang tak bisa dipisahkan dari
tubuh kaum muslim dan tentu bukan sebagian makian.
Allohuakbar pun patut diteriakkan sebagai pengobar semangat kaum muslimin
untuk melawan kebatilan, angkara murka, dan musuh Allah.
Tidak bisa dibayangkan jika saja Allohuakbar diteriakkan di dalam hati saat akan berperang melawan musuh Allah.
Tidak bisa dibayangkan jika saja Allohuakbar tidak diteriakkan dalam masjid sehingga masjid pun riuh dengan tepuk tangan.
Maka Allohuakbar menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa dielakkan lagi dari diri seorang muslim.
Sebagai pengingat manusia itu kecil tiada berarti. Hanya Dia yang Maha Besar. Yang lain kecil. Semuanya kecil.

Sisi lain berkata lagi padaku:
Mau kau teriakkan apa lagi…?
Aku terdiam. Terdiam dengan ‘tenggorokan tersumbat durian’.

Allohua’lam
Wa

dedaunan di ranting cemara
di antara kesungguhan bahwa esok ternyata tanggal satu
di antara eksungguhan bahwa ternyata saya masih menjadi orang gajian
di antara kesungguhan bahwa kematian: ready or not, you will face soon or later
20:17 31 Agustus 2005

Menulislah dengan Hati


“Menulislah dengan hati, maka kau akan dapatkan apa saja.” Kalimat itu meluncur dari mulut Qoulan Syadiida saat saya sudah tidak mempunyai ide apa pun di kepala ini. Saat saya sudah tak mampu menghiasi hari-hari ini dengan tulisan-tulisan. Saat saya hanya memandang halaman kosong putih di layar komputer beberapa lama dan menutupnya dengan masih tetap kosong.
Maka bersegeralah saya menulis ini untuk mengungkapkan kepada Anda semua Bahwa menulis dengan hati membuat saya menulis dengan jujur tanpa polesan dan pulasan yang menipu. Menulis dengan hati membuat saya menghasilkan sesuatu yang bermakna dan bernas. Menulis dengan hati membuat saya mendapatkan suatu kedalaman pada metafora, personifikasi, dan perumpamaan.
Lalu bersegeralah saya untuk memilah-milah semua tulisan saya untuk mengetahui dan menilainya secara jujur apakah ini dari hati atau tidak? Kalau itu pun dari hati, seberapa dalamkah ia? Maka saya pun mendapatkan daftar itu, salah satunya adalah pada artikel tentang nama dedaunan yang berjudul dedaunan itu… atau pada puisi kau adalah ia, lontar dari kadipaten depok, sms ini membuatmu menangis.
Ternyata sebagian besar karya dari hati itu adalah terungkap dalam bentuk puisi. Singkat, sekali duduk, tidak melelahkan, dan terakhir biarkan pembaca menilainya, mengapresiasikannya sendiri. Biarkan penulisnya, pengarangnya mati.
Akhirnya saya sampai bertanya, apakah saya hanya dapat menulis dari hati itu dengan puisi-puisi itu? Juga Anda? Tentu tidak, masing-masing orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Kali ini, saya hanya dapat mengungkapkannya puisi, suatu saat entah itu cerpen, essay, atau bakan novel kelak akan saya buat. Sudah pasti akan kubuat ia dari hati.
Maka menulislah dari hati, kau akan temukan bedanya.

Rangkullah Matahari


rangkullah matahari

membulat di depan mata
di ujung jalan menukik menaik
tanganku mengais-ngais
remah-remah kerinduan
dan puntung-puntung asa

sore esok
ia masih membulat di depan mata
aku tak terkejut

dedaunan di ranting cemara
masih di senja citayam bukan di amsterdam
20:36 28 Agustus 2005

Purnama di Sudut Jiwa


purnama di sudut jiwa*)

tiada kata- kata lagi…

*) sebuah pesan

dedaunan di ranting cemara
di antara dextral; ciprofloxacin; molacort 0,75; mOlapect;
20:26 28 Agustus 2005

Pahlawan Pencicil Rumah


satu wage rudolf supratman
satu ki hadjar dewantara
satu tuanku imam bonjol
:kuserahkan kalian
demi cicilan rumah
sampai 15 tahun lagi!

***dedaunan di ranting cemara
di antara sebuah pesan:
segera buka dompet, cari para pahlawan itu
21:03 28 Agustus 2005

Mengenangmu


mengenangmu adalah
mengurai benang panjang kesedihan
yang senantiasa tersulam
dalam setiap helai nafasku

mengenangmu adalah
mengurai benang panjang kesedihan
yang membuat mata tak mampu terpejam
yang membuat hati tak mampu menghalau resahku

mengenangmu adalah
mengurai benang panjang kesedihan
yang tak sempat aku pintal kembali
tak ada yang tersisa setelah itu
tersapu bayu kesahmu

***dedaunan di ranting cemara setelah rehat
di antara satu bait yang jadi terhapus:

mengenangmu adalah
mengurai benang panjang gombal gambul
yang masih saja kau mau mendengarnya
tak ada yang terlewati satu huruf pun
hingga kau membiru, menge-pink, hingga berdarah-darah
Masya Allah…

Sekumpulan Bangau


sekumpulan bangau

buat sekumpulan bangau yang terbang bermigrasi
dari utara ke selatan
buat semburat cahya matahari pagi yang menyinari
dari pagi ke sore
buat sekelompok paus pembunuh yang berenang
dari pasifik ke atlantik
buat gumpalan mega yang terkadang menziarahi matahari
buat desiran angin yang bertiup di semua celah kehidupan
sampaikan pesanku kepada seluruh penghuni bumi dan langit
“aku masih mengetuk-ngetuk pintu-Nya”

Uzurnya Sang Raja


:terlena gempitanya dunia
syahdunya cinta
:terlupa adanya ikatan darah
:tersiar setitik duka
:keras peringatan-nya
pada dominan raja yang uzur
akhirnya terasa berat
melangkah di persimpangan
keramaian menjadi sepi
terselubung kebingungan
pergi ke sang raja
atau pergi ke keramaian
kesedihan tetap bergelayutan
di pohon-pohon sepanjang perjalanan
tak ada tempat curahan rasa
tapi teringat
pada sebait kata yang pernah kubuat
hidup ini masalah
mau tidak mau
semuanya harus dihadapi
apapun pahit rasanya

tetaplah aku ke keramaian
dan pasti kan kembali
pada sang raja
namun aku berburu dengan waktu
akankah aku sempat menemuinya?
berserah diri pada-Nya menjadi arah dari jalanku?
dan penuh pengharapan semoga sang raja
tetap kembali bersama hidayah

dan aku sempat menemuinya
pada sang raja yang menangis tersedu-sedu
tak bisa berjihad karena uzurnya

dedaunan di ranting cemara
di antara Jaibarang dan Karangampel
Januari 2003

Hamba Dari Malam Hingga Pagi


hamba dari malam hingga pagi

terpekur
di titian malam
di sepertiga akhirnya
di panjangnya rukuk dan sujud
menjumput sejuta angan
yang kian samar
menjadi titik-titik debu kerinduan
sampai saat
sejuta harap terluncur
dari bibir hamba
menuju ‘Arsy
sejuta tanya
kenapa hamba belum mencintai-Mu
layaknya mencintai dia
yang ada di ujung timur tanah ini
kenapa hamba belum merindui-Mu
layaknya merindui dia
yang ada di ujung timur tanah ini
sedang hamba, dia
adalah makhluk
wahai Sang Pemilik Segala Cinta dan Kerinduan
deraskan cinta dan kerinduan itu
pada sungainya hati
yang berbatu dan berlumut
melautkan semuanya
ke samudera kesucian
sampai saat
haribaan pagi datang
memeluk shubuhnya.

deDAUNan di ranting cemara,
dimalamnya Pabuaran,
January 22th, 2003