Hichki, Tourette Syndrome, dan Tempelengan Itu


Di sebuah penerbangan yang hanya satu jam itu, mata saya teralihkan dari buku kepada layar sentuh di kursi depan saya. Salah satu film Bollywood—barangkali karena pemerannya adalah Rani Mukerji—membetot perhatian: Hichki.

Dengan durasi tayang selama dua jam lebih dua puluh menit, tentu Hichki ini tak bisa ditonton habis dalam satu kali duduk. Tetapi ini sudah cukup membuat saya berkesimpulan kalau film ini setara 3 Idiots. Tidak jauh dari dunia pendidikan. Yang saya suka dari berbagai film Bollywood adalah eksplorasi tidak henti dari berbagai karakter dan fisik manusia-manusia lemah untuk menembus ketidakberdayaan, menggapai cita dan cintanya.

Kalau engkau melihat Zero yang dibintangi Shah Rukh Khan pada akhir 2018 tentu tahu kalau perannya sebagai orang cebol. Kali ini, tokoh utama film ini Rani Mukerji berperan sebagai Naina Mathur yang mengidap Tourette Syndrome.

Buku berjudul Ilmu Kesehatan Anak Vol.15 yang ditulis oleh Behrman, Kliegman, dan Arvin (1996) menjelaskan sindrom ini.  Sindrom yang ditandai dengan tic (denyutan tidak terkendali) berulang-ulang, hardikan dan dengkuran kompulsif atau meneriakkan kata-kata jorok.

Gampangnya begini. Sindrom yang dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan ini merupakan gangguan kebiasaan yang termasuk fenomena pelepasan ketegangan, seperti menggeleng-gelengkan kepala, menggoyang-goyangkan badan, mengisap ibu jari, menggigit kuku, menarik rambut terus menerus dan berulang-ulang. Dan tic termasuk di dalamnya yaitu gerakan berbagai kelompok otot tubuh yang tidak disengaja.

Saya pernah mengalami gangguan seperti ini sewaktu kecil. Gangguan ini berupa mengedip-ngedipkan mata terus menerus. Terapinya satu: ditempeleng Pak De saya. “Diam! Jangan diulang-ulang!” teriaknya sehabis menempeleng pipi saya dengan keras. Alhamdulillah sembuh.

Naina tidak. Sindrom Neuropsikiatrik ini terbawa sampai dewasa. Naina selalu mengeluarkan suara Ca! Ca! atau Wa! Wa! sambil kepalanya menoleh ke kiri berulang kali lalu tangan kanan atau kirinya menyentuh-nyentuh dagu sampai mengeluarkan bunyi-bunyian tak jelas.

Sejak kecil Naina diolok-olok. Naina dikeluarkan dari 12 sekolah karena dianggap mengganggu kelas. Ayahnya sendiri malu dengan keadaan Naina, tetapi ibunya berbeda. Hanya ibu Naina yang memperlakukan Naina seperti orang normal.

Di sekolahnya yang ke-13, St. Notker’s High School—setara SMP—Naina diterima. Itu pun karena Mr. Khan, salah satu guru di sana turun tangan langsung dan meminta kepada guru dan semua muridnya untuk menerima Naina apa adanya. Adegan Mr. Khan memanggil Naina ke atas panggung seusai pertunjukan teater adalah salah satu adegan terbaik di film ini.

Menurut Naina, “Guru biasa hanya memberi ilmu, guru hebat membuatmu mengerti, guru yang sangat hebat menunjukkan cara mengamalkannya.”

Setelah kuliah dan mendapatkan gelar M.Sc., Naina menjadi animator. Terinspirasi dari Mr.Khan, Naina ingin menjadi guru. Ia berusaha melamar di banyak sekolah yang kebanyakan menolaknya karena sindrom yang diderita Naina.

Suatu ketika ia disarankan oleh pewawancaranya untuk tidak lagi mencari pekerjaan sebagai guru.

“Bolehkah bertanya kepada Anda semua?” tanya Naina kepada majelis pewawancaranya. “Apakah salah satu dari Anda tahu tentang Sindrom Tourette sebelum ini?”

Mereka menggeleng.

“Sekarang?” tanya Naina.

“Sekarang kami tahu,” jawab mereka.

“Nah, jika aku bisa mengajar hal baru kepada Kepala Sekolah dan Pengawas, maka aku yakin anak-anak bisa kutangani,” kata Naina.

Lima tahun mencari pekerjaan sebagai seorang guru dengan 18 kali menerima penolakan tidak membuatnya menyerah, sampai kemudian sekolahnya yang dulu, St. Notker’s High School, yang telah menolaknya sebanyak 5 kali mengundangnya untuk wawancara.

Berdasarkan aturan pendidikan yang berlaku, St. Notker’s High School sebagai lembaga pendidikan harus membuka kelas khusus untuk penduduk miskin di sekitar sekolah.

Naina diminta Kepala Sekolah untuk mengajar kelas 9F yang hanya diisi 14 anak miskin dan bengal. Guru sebelumnya cuti permanen karena tidak tahan dengan kenakalan siswa kelas 9F ini. Di sinilah titik 0 elevasi menuju klimaks film itu dimulai.

Bagaimana Naina berusaha dengan keras agar ia bisa diterima oleh 14 anak yang menertawakan dirinya. Di hari pertamanya mengajar, Naina bahkan mendapatkan “hadiah”. Naina jatuh terjengkang dari kursi bobrok yang sengaja ditaruh di depan kelas.

Naina tak menyerah. Naina tetap berusaha mendekati mereka, membangkitkan semangat murid, menguburkan rasa minder dan semua ketakutan-ketakutan mereka, dan melawan kesinisan Wadia, wali kelas 9A—tempat murid-murid terpandai di sekolah itu berkumpul.

Wadia memang tidak setuju dengan pilihan buruk Kepala Sekolah yang menerima Naina di sekolah itu. Wadia beranggapan, bunyi-bunyian Naina itu akan mengganggu kelas. Menanggapi itu Naina tertawa. Kepada Kepala Sekolah ia berkata, “Sindrom Tourette mengganggu bicaraku, tetapi tidak mengganggu ilmuku.”

Metode mengajar Naina berbeda dengan guru yang lainnya. Ia mengajar dengan sungguh-sungguh agar murid-muridnya bisa belajar sambil bermain dan bahagia. Menurutnya, tidak ada murid yang buruk, hanya ada guru yang buruk.

Naina punya waktu empat bulan agar anak-anak itu dapat lulus ujian. Semua berjalan dengan baik sampai suatu ketika dua di antara 14 anak itu menghancurkan proyek untuk Pekan Sains Nasional yang dikerjakan tim dari kelas 9A. Penyebabnya klasik, yakni perseteruan antara murid 9A dan 9F. Sekolah memutuskan untuk menskors siswa kelas 9F, namun dengan pembelaan Naina mereka masih diizinkan untuk mengikuti ujian akhir.

Bahkan ketika ujian itu berlangsung, mereka masih mendapatkan cobaan. Mereka dituduh memperoleh bocoran soal. Di sinilah film itu memiliki ending yang berbeda dan tak disangka. Jangan khawatir, pakem happy ending tentu masih dipakai.

Film Hichki menarik dan banyak membawa pesan moral. Bahkan oleh seorang Wadia sekalipun. Hichki bertabur penerimaan dan cinta ibu yang luar biasa, kepercayaan diri yang tinggi, kegigihan seorang guru dengan semangat tiada padam, murid-murid dengan kecerdasannya masing-masing, tidak sekadar matematika dan ilmu sains lainnya. Dan satu hal, murid itu mestinya belajar dengan bahagia, bukan karena tekanan. Ini semacam kritikan buat dunia pendidikan di belahan dunia mana pun.

Pada akhirnya Naina tidak sekadar menjadi guru sementara, ia diangkat menjadi guru tetap, menjadi kepala sekolah, dan mengajar selama 25 tahun di sekolah itu sampai pensiun.

Kekurangan itu bukan untuk dikeluhkan, namun untuk diberdayakan dan menjadi batu pijakan menuju kesuksesan. Dan sukses bukan dinilai dari banyaknya materi, melainkan mampu mencintai dan dicintai.

Di hari terakhir Naina di sekolah itu, siswa-siswa Naina mengantar sampai ke gerbang sekolah. Di sana, Naina bersua dengan 14 siswanya yang dulu.

Ca! Ca! Wa! Wa!

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
28 April 2019

One thought on “Hichki, Tourette Syndrome, dan Tempelengan Itu

  1. Artikel yang bagus.

    Penyakit Gejala Tic sekarang dapat disembuhkan dengan 1-2x sesi durasi 3 jam hipnoterapi di https://klinikhipnoterapi.org/sindrom-tourette, setelah melalui penelitian dan terapi anak sendiri yang dilakukan oleh Ahli Hipnoterapi kami, Bpk Adhi Susilo CI, CH, CHt.

    Putra Bpk Adhi Susilo ini dulunya terkena Sindrom Tourette yang cukup berat yang belum ada obatnya. Dalam interval 6 detik, tangan, kaki, mulut, bahu bergerak (Motoric Tic) dan suara-suara teriakan sering terdengar (Vocal Tic).
    Sekarang (tahun 2019) anaknya tersebut sembuh 100%, Penyakit Tic tidak pernah kambuh lagi. Sekarang putranya seorang PENERBANG. From MNUS to HERO. Amazing bukan?

    Segera klik web kami diatas untuk KONSULTASI GRATIS via HP, Telepon atau WhatsApp.

    Banyak kesaksian kesembuhan Tourette Sindrom sejak klinik dibuka pada tahun 2008 yang lalu.

    Semoga informasi ini anda.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.