Kelak Mereka adalah Siborg, Bahkan Sekadar Hologram


Saat ini para pengguna jalan tol sering melihat banyak gerbang tol yang dulunya berdiri megah sudah tidak terpakai dan hanya menyisakan kekosongan saja.

Dulu banyak petugas yang melayani pemberian dan pembayaran tiket tol, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Semua telah tergantikan dengan mesin. Seluruh pengguna jalan tol dipaksa untuk memakai uang elektronik.

Operator jalan tol pada dasarnya sedang melakukan proses “pengrusakan”pada dirinya sendiri, sebelum ia “dirusak” oleh pihak di luar mereka. Proses yang disebut disrupsi inilah yang saya temukan penamaannya dalam sebuah buku yang menarik dan baru saja selesai saya baca.

Akhirnya di sore Ahad itu, saya bisa menuntaskan membaca buku Disruption: Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi Motivasi Saja Tidak Cukup yang ditulis oleh Rhenald Kasali.

Buku berketebalan lebih dari 500 halaman ini dengan susah payah saya baca. Maksudnya bukan karena ia tak menarik, melainkan saya dan waktu yang tak bisa berdamai.

Buku Rhenald Kasali ini bercerita banyak tentang proses disrupsi yang menghancurkan banyak perusahaan hebat. Bukan karena mereka tidak inovatif, miskin aset, salah manajemen, melainkan karena mereka lupa dan sombong bahwa ada ceruk pasar yang tidak terlayani mereka.

Ceruk pasar konsumen kelas bawah yang pendapatannya mulai meningkat dan menjadi konsumen berpotensial. Mereka ingin juga menikmati barang konsumsi yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh segmen kelas atas.

Ini ditangkap oleh pendatang baru yang dibantu dengan kehebatan teknologi digital mampu membaca peluang, berusaha, dan mengambil semuanya dari petahana.

CEO Nokia sampai bilang: “Kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tiba-tiba kami kalah dan punah.”

 

Apa itu Disrupsi?

Disrupsi adalah membuat banyak hal yang baru, lebih sederhana, lebih terjangkau, lebih efisien, lebih mudah diakses, dan lebih bermanfaat sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman, kuno, dan tak terpakai.

Disrupsi ini melebihi daripada iterasi (membuat hal yang sama lebih baik) dan inovasi (membuat hal-hal baru).

Maka saat ini kita sedang memasuki zaman ketika sebuah perusahaan bisa menjadi besar tanpa memiliki aset. Kita bisa melihatnya pada Uber dan Go-Jek sekarang.

Bagaimana tidak, dua perusahaan dengan aplikasinya itu menjadi lawan tidak terlihat buat operator taksi konvensional. Proses disrupsi ini juga mengarah kepada dunia perkapalan.

Raksasa perkapalan Hanjin Shipping bangkrut dan meminta perlindungan dari ancaman pailit. Dari 12 perusahaan besar perkapalan, Hanjin Shipping termasuk dari 11 perusahaan yang mengalami kerugian besar. Kenapa?

Karena mereka pada dasarnya masih berkutat di dunia lama, bahwa mereka harus memiliki kapal sendiri untuk menjadi perusahaan besar yang tentunya memakan biaya kepemilikan dan pemeliharaan yang tinggi.

Padahal pada saat ini, mereka sebenarnya cukup menjadi operator saja. Pemilik kapal tidak perlu mereka, melainkan pemilik kapal yang berada di sekitar pasar dan tempat bahan baku berada. Ini tentu lebih efisien. PT Djakarta Llyod, perusahaan Badan Usaha Milik Negara, dengan aplikasinya sudah mulai mereposisi diri sebagai perusahaan operator perkapalan.

Sebagaimana kasir di pintu tol yang sudah tergusur, sekarang teller bank tidaklah sebanyak dulu, menyusul telah berpindahnya nasabah ke depan layar gawai cerdas mereka. Inilah yang disebut disrupsi.

 

Apa yang Membedakan?

Peradaban baru ini berpijak pada serba real time dan eksponensial dibandingkan dunia lama yang berpijak pada time series dan serba linear.

Data pada hari ini, di detik itu juga, langsung terolah dalam big data, dan secepat itu pula bisa disimpulkan dan ditindaklanjuti. Saya teringat dengan Google Maps yang bisa menjadi contohnya.

Yang lebih hebat lagi, saat ini, bila mau berbisnis kita tak perlu memiliki asetnya. Inilah dunia saat aset-aset konsumtif terbuka untuk digunakan bersama, saling berbagi, dan tak harus dimiliki sendiri.

Aplikasi jejaring sosial untuk pinjam meminjam buku bisa menjadi umpama. Penerbit dan toko buku, selain persoalan buku elektronik, kalau tak segera mendisrupsi dirinya, kelak akan bernasib sama dengan penerbit koran saat ini.

Dan hampir semua usaha di Indonesia adalah usaha yang padat peraturan.  Ini menjadi mahal buat konsumen. Berdasarkan teori yang ada, kalau sudah begini akan terjadi proses disrupsi besar-besaran.

Karena kita tahu aturan yang dibuat pemerintah seringkali lebih lambat daripada tuntutan zaman, sedangkan petahana yang gagal membaca tanda-tanda zaman seringkali meminta perlindungan kepada pemerintah atas ketidakmampuannya dalam merespon.

Di bukunya, Rhenald Kasali memberikan jawaban atas pertanyaan: “Siapkah kita atas proses disrupsi itu?” Yaitu dibutuhkannya proses disrupsi pada pola pikir, pemimpin, pemerintah, birokrat, pemasaran, dan aksi.

 

Banyak Cerita

Dengan lampu baca, beberapa halaman dari buku Rhenald Kasali ini saya baca di atas pesawat yang akan mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah, akhir Februari 2018 lalu.

Setengah jam telah lewat, pesawat ini belum juga mendarat dan terus berputar-putar di langit Bekasi dan Jakarta. Sesekali tubuh pesawat terguncang saat menabrak awan. Pesawat yang terbang dari Yogyakarta ini masih menunggu antrean mendarat. Membosankan memang.

Tapi itu terobati dengan cerita yang sedang saya baca di buku itu. Keunggulan buku ini memang banyak menceritakan tentang proses disrupsi yang dialami perusahaan lama dan baru. Kisah-kisah di balik proses itu sangat menarik untuk diketahui.

Dan dunia penerbangan merupakan dunia yang mengalami proses disrupsi. Ini membuat harga tiket pesawat terbang menjadi murah karena beberapa hal: penyederhanaan bentuk tiket, no frill (no food), no baggage, pembukaan kembali bandara-bandara lama, jenis pesawat yang seragam, dan lain sebagainya. Sebagaimana maskapai dari pesawat yang saya naiki ini.

Pilotnya sudah meluruskan posisi pesawat searah landasan dan menginstruksikan kepada kami untuk bersiap-siap mendarat. Sudah tiba giliran rupanya. Tidak lama kemudian, setelah roda pesawat sempurna menjejak di apron, pintu pesawat segera terbuka.

Di dekatnya, dua orang pramugari mengucapkan terima kasih kepada setiap penumpang yang akan menuruni tangga. Dengan senyuman yang paling sempurna yang bisa mereka berikan.

Senyuman yang tak lagi bisa ditemui di setiap pintu tol, apalagi senyuman duniawi ala bintang iklan multivitamin Elma Theana sebagai kasir tol di era 90-an.

Saya menikmati senyuman dua pramugari itu. Barangkali ini akan menjadi senyuman yang terakhir dari seorang manusia hakiki. Karena kita akan tercengang, kelak, yang menjadi mereka pada saat itu adalah para siborg atau sekadar hologram.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
5 Maret 2018

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s