Berkaca pada Times: Merekam Sejarah dan Menjualnya


Saat Anda menonton film Titanic, Anda tentu ingat dengan sosok nakhodanya: Kapten Edward John Smith, yang tua, berambut dan berjenggot putih lebat, memakai seragam hitam  dan topi putih kebesaran, dengan mata yang memandang lautan luas di hadapannya penuh percaya diri. Foto profil separuh badan Kapten E J Smith ini ada di halaman depan harian The New York Times  (NYT) tanggal 16 April 1912 di bawah foto kapal Titanic nan mewah dan besar tiada tara dengan headline memakai huruf kapital: TITANIC SINKS FOUR HOURS AFTER HITTING ICEBERG; 866 RESCUED BY CARPATHIA. PROBABLY 1250 PERISH; IMAY SAFE, MRS. ASTOR MAYBE, NOTED NAMES MISSING. The New York Times menjadi bagian dari sejarah yang meliput dan menerbitkan berita tragedi tenggelamnya kapal itu hanya dalam waktu tiga jam sejak kapal penyelamat datang.

Kisah bagaimana  NYT mendapatkan berita Titanic itu ada di sebuah buku yang ditulis Ignatius Haryanto berjudul The New York Times: Menulis Berita Tanpa Takut atau Memihak.

Saya mengetahui buku ini saat saya sedang mencari buku di Google Books. Seperti biasa Google Books tidak menampilkan isi buku secara utuh. Ada dari buku ini yang membuat saya terpincut dan berusaha memiliki dan membelinya secara online: kisah para jurnalis  NYT dalam membangun reputasi koran yang hidup berdampingan dengan lebih dari 20 Presiden Amerika sampai saat ini.

Buku  ini sebenarnya buku lama. Haryanto menulisnya di tahun 2006. Awalnya ide menulis tentang koran itu hanya untuk dimuat di majalah Pantau di tahun 2003. Sebanyak 16 halaman sudah dibuat oleh Haryanto. Tapi Pantau gagal terbit. Di tahun 2004 naskah sudah berkembang jadi 40 halaman spasi satu. Karena gagal muncul  di majalah itu akhirnya diputuskan naskahnya menjadi buku kecil saja yang sampai di tangan pembaca ketebalannya sampai 120 halaman lebih. 

Kisah Jayson Blair yang mencoreng NYT di bulan April 2003 membuka buku ini. Sebagai jurnalis NYT berusia 27 tahun, kebetulan ia Afro Amerika, Blair telah membuat berita palsu. Penyelidikan menemukan bahwa sejak Oktober 2002, dari 73 artikel yang dibuat oleh Blair, 10 di antaranya berisi kebohongan. Artinya, Blair tidak pernah benar-benar bertemu dengan narasumber. Blair pun memplagiasi naskah liputan dari koran lokal. Blair mengundurkan diri dari NYT dan NYT meminta maaf atas kejadian ini. 

Kasus Blair ini memicu berbagai perubahan dan perbaikan kode etik NYT. Di tahun 2006, di dalam kode etik itu terdapat 155 pasal. Bukunya sendiri setebal 51 halaman. Bandingkan dengan kode etik untuk para jurnalis yang ada di Indonesia dengan hanya 11 pasal saja saat buku ini terbit. Kode etik NYT ini menyangkut aturan sedemikian rigidnya yang mengatur bagaimana bertemu dengan narasumber, hadiah, tiket liburan, saham, kencan, dan lain sebagainya. Ujung sebenarnya adalah komitmen menjaga integritas dan netralitas. Secara selintas saya pun jadi membandingkan dengan kode etik Kementerian Keuangan yang menjadi pegangan para pegawainya dalam menjalankan tugas. Tentang kedetilannya jelas ini seperti langit dan bumi. 

Reputasi Times–biasa NYT disebut–bukanlah terjadi dalam semalam. Butuh waktu lebih dari seratus tahun untuk meraih kepercayaan publik dan menjadi referensi banyak pihak. Bermula saat Adolph S Ochs, keturunan Yahudi Jerman, mendirikan Chattanooga Daily di tahun 1878 yang kemudian berubah namanya menjadi Chattanoga Times. Koran NYT sudah ada saat Ochs mengelola korannya sendiri. Tapi NYT waktu itu tidak terlalu sukses dan mau dijual. Ochs ambil kesempatan di tahun 1896 mengambil alih Times yang sirkulasinya waktu itu hanya 9000 eksemplar dengan modal dari investor. Dalam tiga tahun saja di bawah kepemimpinan Ochs oplah Times naik menjadi 75 ribu eksemplar per harinya. Taktik yang ia gunakan adalah menurunkan harga koran dengan memperkuat jajaran staf periklanannya.

Juga untuk menarik pembaca dari dua partai di Amerika, Partai Republik dan Demokrat, sejak awal Ochs mendeklarasikan kalimat yang terkenalnya: “To give news impartially, without fear or favor, regardless of party, sect, or interests involved.” Ada satu lagi kalimat sakti Ochs yang menjadi banner Times sampai saat ini: “All the news That’s Fit to Print.”  Ochs meninggal di tahun 1935. Oplah NYT sudah mencapai 465 ribu eksemplar per harinya. Penerusnya adalah menantunya bernama Arthur Hay Sulzberger. Kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Arthur Ochs Sulzberger, Sr.   dan kemudian oleh Arthur Ochs Sulzberger, Jr. 

Sejarah Times tidak lepas dari banyaknya Pulitzer yang diraih.  Lebih banyak daripada koran atau kantor berita lainnya. Ini tidak lepas dari keuletan para wartawan Times yang ada di tempat ketika sejarah tersebut sedang berlangsung di seluruh dunia. Ini yang diungkap secara detil dalam Bab 4 buku ini: Tentang Prestasi Times dan Hadiah Pulitzer. Saking bosannya karena koran NYT mendapat Pulitzer tiap tahunnya, pernah juri Pulitzer membuat semacam kesepakatan untuk tidak mengikutkan NYT sebagai peserta lomba. Tentu ini ditolak oleh NYT. Sekaligus sebuah pengakuan atas prestasi luar biasa dari NYT. Prestasi yang juga tidak dilepaskan dari peran para pemimpin redaksinya yang hebat dan legendaris seperti beberapa di antaranya adalah Van Anda dan Max Frankel. Haryanto, membuat lampiran tabel hadiah Pulitzer yang diterima Times sejak tahun 1918 hingga tahun 2004 dan menaruhnya di bagian belakang bukunya ini. 

Yang menarik lagi dari buku ini juga ada di bab selanjutnya yaitu tentang krisis-krisis politik yang melibatkan Times mulai dari Perang Dunia I, Perang Dunia II, Krisis Kuba, Perang Vietnam, dan Pentagon Papers. Yang terakhir ini menghebohkan, karena Times memuat laporan keterlibatan Amerika di Vietnam. Laporan ini menurut Kejaksaan Agung Amerika sangat membahayakan keamanan Amerika. Tapi Times di bawah Arthur Ochs Sulzberger, Sr. bergeming dan tetap memuat laporan itu. Times diperkarakan. Tapi menurut hakim, tidak ada keamanan yang  perlu dipersoalkan. Pemerintahan Nixon naik banding. Namun akhirnya Mahkamah Agung tetap memenangkan Times. 

Pertanyaan yang penting diajukan, “Apakah Times masih punya relevansinya hari ini? Apakah Times sebagai perusahaan keluarga masih relevan pula untuk dipertahankan, atau sampai kapan perusahaan keluarga ini masih bisa bertahan? Satu generasi lagi, dua generasi lagi? Atau justru akan punah dalam waktu dekat?” Beberapa pertanyaan yang menutup Bab 6. Karena buku ini ditulis di tahun 2004, tentu belum ada sebuah pertanyaan seperti ini: “Akankah Times mampu bertahan sebagai koran yang dicetak di atas kertas?” 

Waktu yang menjawabnya. Saat era internet dikenal di dunia persuratkabaran, Times membuka situs koran mereka untuk sekadar pelayanan publik saja. Tapi ternyata ini menjadi lahan bisnis  dan memang mengejutkan mereka sendiri karena nilai penghasilannya sampai 75 juta dolar Amerika setahun. Apa yang mereka jual saat itu? Yakni menjual basis data berita selama 100 tahun lebih itu. Ini semata karena NYT telah dianggap sebagai “recorder of history“. 

Kalau Anda tahu, saya menulis artikel ini persis setelah membaca newsletter yang dikirimkan NYT secara gratis kepada saya melalui email berlangganan. Dari email itu saya terhubung ke situsnya dan membaca sebuah opini editorial yang ditulis oleh Thomas L Friedman yang berjudul: “President Trump, Will You Save the Jews?” Ialah yang meraih Pulitzer di tahun 1983 untuk liputan Perang Libanon, tahun 1988 untuk liputannya tentang Israel, dan 2002 tentang komentar terbaiknya mengenai terorisme global. 

Sebuah fakta mengemuka saat ini, ketika NYT telah mengurangi distribusi koran cetak dan menjual liputannya secara online. Era internet telah menjadi rajanya zaman. Hampir-hampir saja ia runtuh. Guna membantu biaya operasional, NYT menyewakan sebagian ruang di gedung kantor pusatnya yang berada di New York. Di zaman jayanya, di dekade 1980-an,  koran cetak harian yang tebalnya bisa 100 halaman ini sudah mencapai titik 900 ribuan eksemplar per harinya. 

Apapun akhirnya Times memberikan warisan bahwa pers sejatinya butuh pengetahuan yang memadai untuk menumbuhkannya terutama aspek profesionalisme, etik, dan moral. Sebuah semangat memberitakan tanpa takut dan keberpihakan serta tidak mengabdi kepada kepentingan bisnis dan pemodal. Ini yang ditutup oleh Haryanto. Sebuah harapan buat pers kita yang sekarang baru sebatas mimpi dan hanya bisa gaduh. Seperti kegaduhan Titanic di detik-detik terakhirnya, lebih dari seratus tahun lalu. 

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tjitajam dinihari, 16 Februari 2016.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s