BIAR AIR MINUMNYA AKU AMBIL SENDIRI


Biar Air Minumnya Aku Ambil Sendiri

I.
Karena kau mencumbu beribu kertas yang berserakan di otakmu, aku tergugah dari tidur, membuyarkan jenak, dan membuatnya menjadi kepingan kecil serupa serutan es campur. Satunya tercabik di sudut ruangan ini, digigit semut, dan dibawa ke sarang, buat Sang ratu dan anak cucunya. Satunya lagi terjun dari lantai 19 bersama jutaan ekor gerimis yang tak sempat kau hitung. Satunya lagi menyamar bersama debu-debu di layar komputer bertanduk hingga membentuk mural akrilik. Dari sebuah pintu gerbang negeri dongeng kau hanya satu-satunya yang menyambut jenak itu. Lalu pikiranku terkilir. Perutku terpelintir bersama kecoa-kecoa busuk. Aku ingat waktu itu kau tersenyum mengejek bersama si Tua Ernest Hemingway. “Aku tak jadi pergi,” katamu. Sejak Saat yang mula menggencetku mampu bicara, aku seperti terjun di oase Gurun Gobi. Hausku hilang. Tak berbilang. Hingga ke pulau seberang. Istirahatlah.

II.
Aku bisa tabah. Hanya dengan sepiring senyummu sehari. Biar air minumnya aku ambil sendiri.
***

Riza Almanfaluthi
18:19 Lantai 19 Gedung Utama
dedaunan di ranting cemara
Didedikasikan buat Teman-teman Penelaah Keberatan
di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi yang tadi pagi
bergembira mendengar kabar itu.

SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR


SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR

Baka sira deleng blog e kita sekien, sira pasti mikir baka kita wis suwe belih nulis. Ya wis belih papa baka kedelenge mengkonon mah. Tapi baka sira weruh, kita sebenere nulis bae. Nulis kontinyu mengkonon. Nulis apa bae. Tapi kadang belih ke pablis ning wong-wong. Soale tergantung proyek e. Sekien ana proyek sing kudu mari dina senen mbuh selasa. Tapi sekien kih proyek nulise durung dadi-dadi. Ning pikirane kita lagi pengen nulis kanggo kita dewek dingin. Pengen nulis kanggo blog e kita dewek. Pengen nulis sing ana ning ati dingin.

Makane kita sore kien buka laptop langsung nulis. Eh kelingan karo basa dermayu kah, makane kita nulis nganggo basa wong tua, basa ibu, sing senget cilik kita omong karo wong tua, karo sedulur. Mbuh pada ngerti belih karo sira sing dudu wong Cerbon apa Dermayu. Sing keturunane Nok Ratminah atawa Kang Baridin mah pasti weruh. Tapi kedelenge wong Brebes karo wong Tegal rada-rada ngerti. ya wis syukur baka ngerti sih. Terus pengen nulis apa maning kien? Mbuh. Terjemahe ning esor yaa…

    Seperti sudah saya bilang, kalau saya itu selalu belajar dari orang lain. Kalau baik, saya ingat amal kebaikannya itu dan ingin menjadikan target dari amal kebaikan yang akan saya lakukan. Jika jelek, tentunya sudah cukup itu menjadi pemikiran saya dan tidak menjadi aksi.

    Saya punya teman. Teman ini selalu punya keyakinan, kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tentu Allah Sang Maha Pemberi Rezeki yang mengaturnya. Bukan atasan dan bukan pula negara. Jadi sejak dulu dia selalu punya azzam kalau ada pekerjaan yang mengganggu ibadahnya maka pekerjaan itu akan ditinggalkan senyaman apapun hasil yang diperoleh. Kalau waktunya sholat—apalagi kalau sudah shalat Jum’at—ia selalu meninggalkan pekerjaannya walau sedang sibuk atau sedang rapat ataupun sedang mengantar Direktur dan tamu asingnya. Tapi ia tak peduli.

    Ia selalu punya keyakinan rezeki akan datang menghampirinya saat ia sedang butuh walau ia tak tahu dari mana datangnya rezeki itu. Tentu ia pun bukan seorang nihilisme—orang yang pasrahnya keterlaluan. Ia tetap berikhtiar dan kerja sekuat tenaga mencari rezeki itu. Dan faktanya memang demikian, rezeki itu selalu ada saat ia membutuhkannya, misal saat anaknya harus mendaftar ulang sekolah yang tentunya membutuhkan biaya banyak. Ada saja tiba-tiba orang menyerahkan uang kepadanya. Entah karena bisnisnya atau ada yang membayar utangnya.

    Satu saja untuk semua itu: ia punya keyakinan mendalam bahwa Allah itu tergantung dari kita sendiri sebagai hambaNya. Dan ia memberikan pelajaran kepada saya bahwa mengarungi hidup itu harus dengan pandangan positif kepada Allah. Kalau kita yakin Allah akan menolong kita, maka Allah pasti akan menolong kita. Kalau kita yakin Allah akan memberikan rezekinya maka Allah pasti akan memberikan perbendaharaan kekayaannya kepada kita. Begitu pula sebaliknya. Maka ia selalu berpikir positif, bukankah Allah tergantung prasangka hambaNya? Malam itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Seorang trainer dari sebuah perusahaan finance kendaraan bermotor. Pekerjaannya memberikan pelatihan kepada semua cabangnya di seluruh Indonesia. Dan pekerjaan sampingannya adalah menuntaskan kredit yang tak kunjung dibayar atau kredit macet. Selalu saja pekerjaannya itu—entah yang pokok atau sampingannya—berbuah kesuksesan.

    Dewan direksi melihat pekerjaannya, apalagi kalau menyangkut bagaimana mengurai kredit macet, selalu ada sisi positif yang didapat: omzet naik, grafik kredit macet turun, target tercapai dalam setiap bulan, urusan dengan pihak eksternal selalu terselesaikan dengan mulus. Satu kemampuan tambahannya adalah dia pelobi dan negosiator handal. Oleh karenanya CEO setuju untuk menaikkan jabatannya menjadi seorang manajer kredit—semula dia hanya bekerja di bagian HRD—dengan mendapatkan fasilitas tambahan berupa kenaikan gaji lumayan gede, tunjangan tambahan, dan mobil dinas.

    Untuk merayakan dan mensyukuri keberhasilannya itu ia mengajak istri dan anak-anaknya makan-makan di sebuah restoran. Saat makan-makan itu salah satu dari tiga anaknya bertanya kepada Sang Ayah detil apa dan bagaimana pekerjaannya. Sang Ayah menjelaskan dengan lantang dan bersemangat. Tapi satu pernyataan dari anak keduanya yang bersekolah di SMPIT itu membuatnya tersedak: “Berarti Ayah bergaul dan makan uang riba secara langsung dong. Ngeri Yah.”

    Sejak saat itu kebimbangan menyertainya. Ini membuat gulana. Karena di bagian kredit itu ia memang secara langsung tahu bagaimana detil dari aktifitas riba yang berlangsung dan dijalankan dalam sistem pembiayaan di perusahaan tersebut. Ia shalat istikharah. Dan pada akhirnya ia berkeyakinan untuk resign walau perusahaannya berkutat menahan sekuat tenaga agar aset berharga dan utamanya ini tidak keluar. Tapi ia bergeming. Ia tetap keluar walau ia tidak tahu akan kemana lagi ia bekerja. Ia cuma punya satu keyakinan kalau Allah tidak akan meninggalkannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih halal.

    Di saat menjalani hari-hari terakhirnya di kantor itu ia mendapat telepon kalau perusahaan temannya membutuhkan seorang trainer. Sang teman itu memintanya kalau ada kenalan yang mau ikut bergabung di sebuah perusahaan kesehatan. Ia langsung menangkap peluang itu, walau sang teman terkejut kalau sebenarnya jabatan itu bukan untuk dirinya karena tidak level. Tapi ia tetap meyakinkan temannya kalau ia mau masuk dan tidak mempermasalahkan tentang grade jabatan dan take home pay-nya yang pasti berkurang.

    Ia tak perlu lagi mengikuti tes tertulis yang biasa dilakukan buat pendatang baru karena sang Direktur sudah tahu tentang kredibilitas dirinya dari wawancara yang dilakukan. Aura keyakinan dirinya sudah tertangkap Sang Direktur, juga pada keyakinannya pada rezeki dan takdir. Kalau yang halal itu sudah jelas kehalalannya dan yang haram itu sudah jelas keharamannya. Shubuh itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Yang tertangkap dari dua teman saya itu adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan pada sesuatu yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran dan syariat. Dan saya yakin bahwa itu semua adalah refleksi dari keimanan yang tinggi kepada takdir dan janji-janji Allah. Sebuah keyakinan yang saya perlu belajar banyak dari mereka berdua. Dan saya bukan apa-apanya dari mereka. Saya serupa Musa di hadapan Khidir.

    Wallaahua’lam Bishshowab.

**

Terjemah:

    Kalau Anda melihat blog saya sekarang, Anda pasti berpikir kalau saya sudah lama tidak menulis. Ya Sudah tidak apa-apa kalau terlihatnya demikian. Tapi kalau Anda tahu, saya sebenarnya menulis selalu. Menulis kontinyu seperti itu. Menulis apa saja. Tapi terkadang tidak terpublikasikan kepada siapa-siapa. Soalnya tergantung proyek menulisnya. Sekarang ada proyek menulis yang harus jadi hari Senin atau Selasa besok. Tapi sekarang proyek menulis itu belum selesai-selesai. Yang jadi pikiran, saya ingin menulis untuk saya dulu. Ingin menulis buat blog saya sendiri. Ingin menulis yang dari hati saya dulu.

Makanya saya sore ini buka laptor langsung menulis. Eh, teringat dengan Bahasa Indramayu begitu, makanya saya menulis pakai bahasa ibu ini, yang dari kecil saya pakai ketika berbicara dengan orang tua dan saudara-saudara. Tak tahu apakah Anda yang bukan orang Cirebon atau Indramayu mengerti tulisan ini? Yang keturunannya Nok Ratminah dan Kang Baridin pasti tahu. Tapi kelihatannya orang Brebes dan Tegal mengerti juga. Ya sudah, syukur kalau mengerti. Terus ingin menulis apa lagi sekarang? Tak tahu. Terjemahan di bawah yaa…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Jelang Nisyfu Sya’ban

17:41 23 Juni 2013

Gambar dari sini.

KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA


KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA

Waktu saya masih SMP apa yang selalu dinanti di setiap hari menjelang sore? Berenang di Sungai Cimanuk. Mulai jam 2 siang sampai mau maghrib. Makanya kulit saya jadi item begini. Kalau musim kemarau, sungai terbesar di Jawa Barat ini kering menyisakan hamparan dasarnya yang berpasir. Di sanalah saya dan teman-teman membuat bola-bola pasir yang dikeraskan lalu diadu sama lain dengan cara menjatuhkan bola pasir itu ke bola pasir lawan. Bola yang masih utuh dan tidak pecah itulah pemenangnya.

    Biasanya kami berenang berempat: saya, adik saya, teman saya dan kakaknya. Kami punya tempat khusus berenang di sana. Dekat batu cadas yang sering jadi tempat penyeberangan bagi warga desa sebelah—Desa Bangkaloa—menuju Jatibarang. Awalnya tidak banyak yang berenang di sana, karena kami memulainya di kemudian hari banyak juga yang pada ikutan berenang di tempat itu. Dan lama kelamaan tempat itu jadi semakin dalam. Waktu saya sekolah SMA di Palimanan, kabar terakhir tempat itu telah memakan korban satu orang tenggelam. Kata orang ia dimakan buaya.

    Ada yang khas di Sungai Cimanuk yang melintasi Jatibarang ini. Di bagian sisinya ada bangunan beton panjang yang menjorok ke sungai. Tingginya bisa sampai lima meter dari permukaan air Sungai Cimanuk di saat kering. Kami sering menyebutnya “baro” atau “paku alam”. Jarak baro yang satu dengan yang lain kurang lebih 50 Meter.

Fungsi baro ini untuk menahan derasnya air agar tidak menggerus tepian sungai. Nah, biasanya baro ini jadi papan loncat tempat kami terjun bebas ke sungai. Tidak semua baro bisa jadi tempat kami terjun karena kami harus melihat-lihat lokasinya. Yang jelas-jelas dalam dan tak seorang pun mandi di sana tentu bukan jadi pilihan. Ingat, Sungai Cimanuk yang mengalir mulai dari Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu ini memang sering kali makan korban.

060913_1621_KATAORANGIA1.png

Beginilah saya dulu kalau loncat terjun ke sungai. Biasanya gaya batu. Sumber gambar: Sini

Selain berenang saya sering main layangan di sana, adu layangan juga. Pernah suatu saat saya terbangkan layangan tinggi-tinggi. Seng ada lawan. Makanya benang saya ulur terus. Tinggi dan semakin tinggi. Tidak terasa kalau benangnya sudah habis mentok ke kalengnya. Pas ngelamun benang lepas dari tangan, ya sudah akhirnya layang-layang itu terbang membawa kalengnya juga. Saya cuma melongo. Saya kejar tak bisa ketangkep itu benang. Yang paling bahagia adalah anak kampung sebelah yang membawa galah panjang. Dengan penuh suka cita dan kemenangan ia menangkap benang itu dengan gampangnya. Sepertinya ia ikhlas menerima rezeki nomplok itu. Saya meringis.

Kalau banjir Sungai Cimanuk ini mengerikan. Airnya deras. Tingginya sampai benar-benar mencapai permukaan tanggul paling tinggi. Ladang-ladang di pinggirannya sampai tenggelam. Baronya juga. Tak ada orang yang berani menyeberangnya. Bahkan dengan jukung (sampan) sekalipun. Tapi ini jarang terjadi.

060913_1630_KATAORANGIA3.png

Di pertigaan jalan–berwarna kuning di peta–itu rumah saya dulu. Nyebrang jalan langsung dah bisa main ke Sungai Cimanuk

Sampai sekarang saya masih merasakan bau sampah terbakar di pinggir sungai pemasok irigasi bagi kawasan Cirebon dan Indramayu ini. Bau ubi terbakar yang kami cabut dari pinggir-pinggirnya. Dan tentunya teringat dengan cemberutan ibu yang jengkel karena anak-anaknya baru pulang mefet-mefet mepet-mepet maghrib.

Saya tak tahu lagi kondisi Sungai Cimanuk tempat berenang saya dulu sekarang. Sudah lama tidak melihatnya lagi. Cuma lewat doang kalau mudik lebaran. Tapi Cimanuk sudah membuat banyak kenangan buat saya. Tak bisa terlupakan.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tanpa edit sebab ngantuk

23:18 9 Juni 2018.

BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH


BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH

Setiap kali sidang dicukupkan maka berkas sidang seharusnya segera dirapihkan, dibuat checklist-nya, dan dikirim ke subdirektorat tetangga, Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi (PKE). Tapi ini kebanyakan tidak segera dikerjakan oleh Petugas Banding karena tersita waktunya untuk menangani berkas persidangan yang sedang berjalan.

Lama kelamaan berkas itu menggunung dan terabaikan. Terus terang ini membuat saya tidak nyaman. Seperti ada yang selalu membebani. Ini tak bisa dibiarkan. Saya harus segera membereskannya karena mau tidak mau saya akan meninggalkan Subdirektorat Banding dan Gugatan II ini. Saya tak mau menyelesaikannya sampai lembur segala di akhir nanti.

Saya berusaha mengerjakannya sedikit demi sedikit walau untuk memulainya terasa berat. Saya ambil berkas yang isinya tipis atau ringan-ringan dulu. Yang tebal dan berat itu dikerjakan nanti. Beberapa modal “mindset” penting untuk menyelesaikan sesuatu yang membebani adalah:

  1. Man Jadda wa jadaa, orang yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasilnya;
  2. Semua bisa dikerjakan asal dengan ketekunan;
  3. Memulainya dengan yang mudah atau sederhana terlebih dahulu.

Alhamdulillah dengan modal itu berkas yang tadinya bersembunyi di kolong meja dan di atas lemari samping saya bisa terselesaikan semuanya. Kadang dengan kerja lembur. Dan hasilnya meuaskan, lebih dari 250 berkas sidang berhasil saya rapihkan dan kirim. Yang paling membahagiakan adalah teman-teman pun yang tadinya cuek beybeh jadi tergerak ikut membereskan berkasnya masing-masing.

Mulai 3 Juni 2013 lalu, saya tidak lagi ikut persidangan di Pengadilan Pajak. Saya telah dipindahkan ke Subdirektorat PKE karena adanya mutasi internal di Direktorat Keberatan dan Banding. Saya jadi Penelaah Keberatan yang mengurusi pembuatan Memori Peninjauan Kembali dan Kontra Memori Peninjauan Kembali.

Sederhananya begini. Kalau ada putusan Pengadilan Pajak yang mengalahkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan setelah dievaluasi layak untuk dilakukan Peninjauan Kembali maka saya membuatkan Memori Peninjauan Kembali untuk disampaikan ke Mahkamah Agung. Dan kalau ada Wajib Pajak dikalahkan di Pengadilan Pajak lalu tidak terima dengan putusan tersebut kemudian mengajukan Peninjauan Kembali dengan membuat Memori Peninjauan Kembali maka saya membuat Kontra Memori Pengajuan Kembali-nya.

Dan kepindahan saya ini syukurnya tidak dibarengi dengan beban penyelesaian pekerjaan lama seperti pemberkasan di atas. Semua sudah saya selesaikan. Laporan sidang juga semuanya telah dibuat. Tinggal beberapa berkas sidang saja yang belum dibuatkan laporan sidang cukupnya. Insya Allah sambil jalan dan sekarang saya bisa langsung move on di tempat baru tersebut.

Pekerjaan di Subdirektorat PKE ini semuanya adalah hal baru bagi saya. Jatuh temponya juga harian. Saya yakin dengan izin Allah saya bisa menyelesaikan semuanya. Learning by doing-lah jarene wong Inggris. Tiga hari ini pun saya sudah belajar banyak. Jadi pembelajar cepat. Walau memang butuh waktu untuk mengikuti ritme teman-teman di sana.

Salah seorang teman bilang kepada saya, “Di sini nanti Mas Riza tak bisa menulis di Kompasiana lagi saking sibuknya.” Insya Allah kalau menulis mah tetap jalan yah. Kapan pun dan di mana pun. Dan selama di subdirektorat yang lama juga saya selalu menulis di rumah. So, tinggal memenej waktunya saja. Tapi bisa jadi pernyataan itu tantangan buat saya untuk tetap produktif menulis.

Akhirul kalam, siapa bersungguh-sungguh ia dapat tetap jadi pegangan saya dalam bekerja. Saya juga ingat yang ini: ” ada sebuah dosa yang tidak bisa terhapus dengan pahala shalat, sedekah, atau haji, kecuali dengan bersusah payah dalam mencari nafkah.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:32 05 Juni 2013

ngantuk…

gambar diambil dari sini

Dodolan Dawet Sik Yoo


image

image

Karena dawetnya belum mateng ya mikul pikulannya dulu sama Kinan keliling kampung.