from the deepest bottom of my soul


30.12. 2005 – from the deepest bottom of my soul
Kalimat ini ada dalam bagian email yang dikirim oleh seorang teman, saat ia me-reply surat elektronik yang dikirim oleh saya. Otak bagian kanan saya langsung meresponnya dengan sinyal-sinyal, menyuruh memori sejuta gigabytenya untuk bekerja mengingat kalimat pendek ini. Dan urat kebahasaan saya langsung ngeh dan nyambung.
Ya, saat saya mendengar atau membaca kata-kata atau kalimat-kalimat indah saya selalu berusaha untuk merekamnya dalam ingatan bahkan mencatatnya dalam lembaran kertas untuk saya koleksi.
Tidak hanya dari teman saya yang satu ini, tapi pada semua orang yang mempunyai cita rasa bahasa yang baik dan enak untuk didengar ataupun dibaca. Seperti dari Kang Asep misalnya—sudah saya kemukakan di tulisan terdahulu—dengan both sides perspective-nya, dari Azimah dengan Purnama di Sudut Jiwa-nya, dari Qoulan Sadiidan dengan Rindu Terlarang-nya, atau dari Ibnul Qoyyim al Jauza’I dengan Setetes Embun-nya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Terkadang saya merasakan keindahan kata itu saat ia dalam bahasa asing dan belum termaknai ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin saat ia diterjemahkan cita rasa itu sedikit berkurang, seperti judul tulisan ini.
Keindahan itu pun akan dirasakan dalam bahasa daerah dengan dua kata ini Bojo Loro, eit… jangan terlalu sensitif dulu yah. Dua kata tadi bisa berarti ganda istri dua atau istri sakit. Tinggal kita mau pilih yang mana. J
Ya sudahlah, sepertinya banyak yang ingin saya uraikan tentang kata-kata indah di sini, namun adzan Isya sudah memanggi-manggil saya. Jadi saya cukupkan dulu sampai di sini. Oh ya, terimakasih pada teman yang telah sudi untuk menyumbangkan kata-kata indahnya pada saya.
From the deepest bottom of my soul: thank you.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam, 19:29 29 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Twin Otter (Sensasi Borneo)


28.12.2005 – Twin Otter (Sensasi Borneo)

Setelah merasakan sensasi yang ternyata biasa-biasa saja saat pertama kali naik pesawat dari Jakarta menuju Palangkaraya, juga dengan Cassa dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu, saya benar-benar merinding–kalau tidak mau dikatakan takut–saat menaiki pesawat kecil bermesin ganda dari Puruk Cahu menuju Balikpapan.
Pesawat carteran jenis Twin Otter yang disewa oleh perusahaan pertambangan emas untuk pengangkutan karyawannya ini hanya dapat memuat 15 penumpang saja. Dengan bobot keseluruhan–termasuk barang-barang yang dibawa–maksimal 1500 kg. Lebih dari itu, maaf saja salah seorang penumpang harus dikorbankan untuk terbang di hari lain.
Makanya untuk memastikan penerbangan ini aman, setiap penumpang harus melalui alat ukur berupa timbangan, sehingga bisa diketahui berapa berat dirinya dan barang bawaannya. Biasanya bule asing yang bawaannya berat-berat, selain juga postur tubuhnya yang di luar ukuran normal penduduk lokal. Seringkali diatur dalam satu pesawat khusus untuk bule saja, ini bukan masalah rasial tapi karena ukuran orang dan barangnya yang berlebih itu.
Suara mesin pesawatnya berisik sekali sehingga setiap penumpang diberikan sepasang gabus kecil untuk menutup telinga saat pertama kali memasuki kabin pesawat. Suaranya akan bertambah keras ketika akan memulai lepas landas. Nah, disinilah kengerian itu berawal.
Saya persis duduk di dekat jendela, sehingga benar-benar merasakan kengerian saat melihat mesin terbang ini semakin melayang tinggi, tinggi, dan tinggi menjauhi permukaan tanah. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya bila pesawat kecil ini jatuh karena gagal saat lepas landas. Sepengetahuan saya saat-saat yang paling kritis dalam penerbangan adalah saat pesawat akan lepas landas dan mendarat.
Namun kengerian itu berangsur-angsur hilang ketika pesawat mulai stabil dan terbang di ketinggian tertentu. Saya menengok ke belakang untuk melihat penumpang yang lain. Persis di belakang saya, John Morgan–seorang manager pertambangan–sedang asyik merem melek mendengarkan musik yang diperdengarkan dari peranti digital melalui earphone-nya.
Penumpang lainnya sudah menikmati mimpinya dengan kepala yang terayun-ayun naik turun. Maklum kursi penumpangnya benar-benar hanya sebatas setengah punggung saja, sehingga tidak memungkinkan untuk menyandarkan kepala, kecuali bagi yang duduk di dekat jendela bisa menaruh kepalanya di dinding pesawat. dan Jarak antara kursi benar-benar sempit, sehingga kebanyakan para penumpang susah untuk meluruskan kaki saat terasa kesemutan. Untung perjalanan ini tidak lama hanya berkisar satu jam lima menit saja.
Hiburan satu-satunya di dalam kabin adalah penumpang dapat melihat apa yang dilakukan oleh pilot dan co-pilotnya ketika mengawaki pesawat ini. Aksi yang amat menarik untuk dilihat saat mereka mengoperasikan panel-panel, alat pengukur ketinggian, layar yang memunculkan peta daerah di bawah, dan begitu banyak tombol-tombol lainnya. Setidaknya ini dapat mengusir kebosanan yang mulai hinggap.
Namun ada yang lebih menarik lagi. Di ketinggian 1000 kaki dari permukaan laut, saya benar-benar mendapatkan sensasi Borneo. Mulai dari hutannya, sungainya yang lebar dan berkelak-kelok bagaikan anakonda, dan jalan daratnya yang panjang dan kecoklatan. Sudah pasti selain sensasi keindahan yang dirasakan, saya rasakan pula miris di hati melihat hutan kalimantan benar-benar hampir habis. Apa yang digembar-gemborkan LSM tentang kerusakan hutan benar-benar nyata, bahwa segala bentuk penebangan entah resmi atau ilegal telah membuat paru-paru dunia ini compang camping. Ditambah lagi segala bentuk penambangan liar yang membuat cekungan besar coklat dan tandus tanpa reboisasi. Duh…
Saat mendekati Balikpapan malah tambah parah, cekungan-cekungan besar itu bercampur baur dengan rumah penduduk lokal ditambah gunungan-gunungan hitam didekatnya. Dan ini semua menambah pekatnya aliran sungai dan laut di sekitarnya. Emas hitam bagi mereka memang betul-betul berharga apalagi di saat harganya begitu tinggi. di pasaran internasional.
Tiba-tiba mata ini sudah mulai lelah melihat ke bawah. Kantuk pun semakin memberatkan kepala. Namun di saat saya memulai bermimpi, terasa sekali pergerakan pesawat ini bermanuver untuk mendarat. Seiring dengan perubahan tekanan udara di kabin yang membuat telinga sebelah kiri saya sakit sekali. Ohoi…Sepinggan sudah mulai menyambut kami dengan landasannya basah oleh air hujan yang baru saja mulai turun.
Twin Otter ini mulai menjejakkan dua rodanya ke tanah dan membuang kemudinya menuju hanggar yang berisi deretan pesawat carteran. Sudah saatnya saya meninggalkannya dan menuju mobil bandara yang menjemput dan mengantar kami ke bangunan utama bandara. Saya bersyukur kepada Allah karena masih bisa menjejakkan kaki ini ke tanah, dan setidaknya ada pula kenangan yang terselip bersama Twin Otter ini, bahwa Borneo memang perlu diselamatkan. Itu saja.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Sepinggan basah
14:34 23 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Kamu Bisa, Qi…


26.12.2005 – Kamu Bisa, Qi…

Sebulan lamanya sepeda hasil menabung di sekolahnya menjadi mainan baru Haqi. Dengan tambahan dua roda kecil pada roda belakang ia cukup bisa menjaga keseimbangan. Walaupun demikian jatuh dari sepeda sering ia rasakan. Pernah bagian sisi kanan perutnya lecet-lecet akibat terbentur setang sepeda.
Saya pernah berpikir untuk melepas dua roda itu agar ia bisa cepat mahir menaiki sepeda. Tapi sebelum niat itu terlaksana salah satu roda kecil yang terbuat dari plastik itu pecah. Maka mau tak mau benda itu harus dicopot dari roda belakangnya.
Sejak saat itu Haqi jarang menaiki sepeda. ”Takut jatuh lagi,” katanya.
”Dulu juga sering jatuh, kenapa sekarang tidak mau?” pikir saya. Memang dengan hanya satu roda kecil di sisi kiri roda belakang, keseimbangannya harus benar-benar dijaga.
Tapi tiga hari yang lalu, setelah baru saja pulang dari kantor, Haqi serta merta berteriak saat melihat kedatangan saya. ”Bi, Abi…rodanya pecah lagi, tapi sudah dicopot sama Om. Sekarang Haqi sudah bisa naik sepeda tanpa roda kecil,” runtun Haqi.
”Ah…yang benar,” sangsi saya.
”Benar Bi, entar deh lihat kalau Abi libur. Tapi Bi, Haqi menabrak motor. Leher Haqi kena setang motor, nih lihat,” Haqi memperlihatkan lehernya yang lecet-lecet dan kemerah-merahan. Ini pasti sakit sekali.
”Haqi menangis nggak?” tanya saya.
”Iya lah Bi, pasti nangis, sakit sih.”
Malamnya, saat ia tertidur lelap, lukanya saya bersihkan dengan kapas dan membalurnya dengan obat merah. Maklum, bagi Haqi lebih baik memilih menahan sakit daripada lukanya dioleskan dengan obat merah. ”Perih sekali,” katanya. Malam semakin larut, saya merapihkan posisi tidurnya . Sholawat terluncur dari mulut untuk keselamatan dirinya. ”Engkau pasti bisa, Nak” batin saya.
Keesokan harinya, saat saya bisa pulang cepat dari kantor dan sampai di rumah jelang sore, saya benar-benar melihat Haqi sudah bisa menaiki sepedanya itu dengan lincah. Dengan kecepatan yang tinggi bagi anak seumuran dia, Haqi mondar-mandir menyusuri jalanan komplek yang lengang di depan rumah.
Coba tebak apa yang saya rasakan saat itu. Saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa melihat Haqi telah menempuh salah satu episode perjalanan hidupnya dengan sukses. Saya bertanya-tanya dalam hati, inikah yang sering dirasakan oleh semua bapak di seluruh dunia, saat melihat kesuksesan anaknya? Oh…inikah rasanya bahagia?
Dan ini baru kebahagiaan di dunia. Bagaimana pula dengan kebahagiaan akhirat, saat saya sukses menyelamatkan diri dan keluarga saya dari api neraka? Allah Mahabesar. Kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang senantiasa diharapkan, tidak hanya oleh saya, tetapi jutaan muslim lainnya di seluruh dunia.
Cukup sudah luka kemarin menjadi penanda awal keberhasilan Qi, dan Abi yakin Kamu memang bisa, Qi.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
delay karena baday
bandara 21 Desember 2005

Jangan Takut Menulis


Semuanya berkumpul di kepala ini keinginan untuk menuliskan sesuatu. Tapi apa hendak dikata, saat pena telah terpegang di tangan, lembaran kertas kosong terhampar di atas meja, atau saat program pengolah kata terbuka di depan mata, tidak ada satu huruf pun yang muncul di layar atau tertoreh hitam di atas putih. Tetap kosong. Kalaupun ada huruf yang muncul selalu tombol backspace atau delete menjadi penyapu hingga tetap bersih, atau dengan coretan tegas panjang menimpa satu atau dua kata yang sempat tertulis.
”Saya tak bisa menulis,” selalu kesah itu yang muncul. Ada apa ini?
Kalau diibaratkan kepala kita adalah teko yang telah terisi penuh dengan air maka sudah sunnatullah, air itu akan tumpah keluar. Kecuali di ujung mulut teko ada penutup rapat yang menyebabkan air tak bisa keluar. Lalu penutup apa yang menghalangi dan menyumbat isi kepala kita sehingga tak bisa mengeluarkan seluruh ide yang ada padanya dalam bentuk tulisan?
Hanya satu, perasaan TAKUT. Takut salah, takut di nilai orang lain, takut di hina, takut di banding-bandingkan, takut tidak trend, takut tidak runut, takut terlihat bodoh, takut tidak nyastra, takut tidak nyambung, dan seribu satu alasan ketakutan lainnya itu.
Ketakutan itu muncul karena satu sebab saja. Kita tidak mau dilihat jelek oleh orang lain. Maka hasilnya sungguh menakjubkan, ketakutan itu menjadi penghalang besar bagi sebagian orang untuk menulis. Bila kita selalu dihantui ketakutan itu maka yakinilah seumur hidup kita tidak akan pernah menulis satu huruf pun. Bahkan satu karakter pun tidak, entah titik atau koma. Seperti Sundel Bolongkah rasa takut itu hingga kita menjadi paranoid dengan ketakutan itu sendiri? Lalu bagaimana, dong?
Hanya satu obatnya, cuek beybeh, jangan pernah pedulikan apa kata orang, jangan pernah sekalipun berpikir tentang penilaian orang lain, jangan pernah berpikir tentang teori njlimet kepenulisan. Biarkan ia mengalir apa adanya. Jangan pernah dihentikan sampai Anda memutuskan di mana titik terakhir itu Anda tempatkan. Lalu berhentilah sejenak saat Anda telah menemukan titiknya. Istirahatlah.
Setelahnya, Anda akan temukan huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Dan kata-kata itu menjadi sebuah kalimat. Dan kalimat-kalimat itu menjadi sebuah paragraf. Dan paragraf-paragraf itu begitu mudahnya, begitu gampangnya memenuhi lembaran kertas dan layar Anda.
Barulah Anda tidak bisa cuek beybeh disini. Anda harus care it. Anda harus menjadi editor bagi diri Anda sendiri. Minimal Anda harus memperbaiki kesalahan tulis yang ada pada karya Anda itu. Setelahnya pilihan kata yang tepat. Itu saja. Tidak lebih.
Tunggu dulu, ada satu lagi, ulangi terus langkah ini sampai Anda temukan betapa mahirnya Anda menyusun rangkaian kata itu. Sampai Anda temukan ternyata masih ada yang harus diperbaiki dalam tulisan Anda. Sampai Anda temukan betapa ketakutan itu hanya ada di awal langkah Anda. Betapa ketakutan itu hanya pada saat Anda akan memulai suatu langkah besar. Setelah itu ia menghilang bagaikan halimun ditelan pagi yang cerah dengan sinar mentari hangat tersenyum pada dunia.
Anda tidak percaya? Sekarang juga! Ambil pena, ambil kertas, and just do it!
Masih tidak percaya? Sesungguhnya tulisan ini diawali pula dari rasa takut.

***

dedaunan di ranting cemara
disampaikan pada sesi ngeblog (nulis) itu mudah.
22:24 18 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Legalisasi Lokalisasi Judi


Kita Tak Bisa Berdiam Diri!!!
(Legalisasi Lokalisasi Judi)

Bangsa ini sepertinya tidak sadar-sadar juga dengan banyaknya ujian yang menimpa. Tsunami yang meluluhlantakkan negeri Serambi Mekkah—salah satu contohnya—sebagai suatu peringatan yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh anak cucu, hanya menggugah hati sesaat. Setelah itu dilupakan begitu saja tanpa mengambil ibroh dari peristiwa itu.
Ketidaksadaran itu diwakili oleh adanya para wakil rakyat yang pergi secara diam-diam melakukan studi banding tentang pemberlakuan judi yang berlaku di Negeri Pharaoh, Mesir. Memang sampai saat ini, Malaysia dan Mesir—mayoritas penduduknya Islam—terbilang cukup sukses mengelola perjudian di suatu wilayah khusus.
Ditilik pada masalah perjalanannya saja sudah menuai kontroversi. Di saat jutaan rakyat miskin masih bersusah payah memikirkan bagaimana bisa hidup atau tidak di keesokan harinya, di saat yang sama dengan ongkos yang dibiayai oleh pajak rakyat, rombongan anggota DPR sejumlah kurang lebih dua puluh orang—ikut pula di dalamnya anggota keluarga—pergi ke luar negeri tanpa memikirkan psikologis dari rakyat.
Dengan biaya akomodasi masing-masing sebesar empat puluh juta rupiah, belum termasuk tiket pesawat, perjalanan ini terasa seperti sia-sia, karena dilihat dari jadwal kunjungan yang dibuat hanya setengah hari saja benar-benar dilakukan untuk mengunjungi parlemen Mesir. Selebihnya hanya untuk pergi berwisata dan berbelanja.
Lagi pula kalau ditinjau dari agenda studi banding yakni mencari tahu tentang kesuksesan dalam pengelolaan judi, ini benar-benar keterlaluan sekali. Bagaimana tidak, karena sangat kontras dengan kebijakan dan komitmen yang dibuat oleh Kapolri Baru, Jenderal Sutanto dalam pemberantasan judi di tanah air ini. Pula hal ini— setelah isu terorisme kemarin—kembali menyakitkan hati umat Islam, karena ditinjau dari syariat yang dipeluk oleh mayoritas negeri ini tentu masalah judi ini sudah jelas keharamannya.
Pertanyaannya adalah mengapa perjalanan ini seperti dipaksakan? Dari apa yang diungkap oleh salah satu wakil dari Fraksi Partai Amanat Rakyat yang ikut serta dalam studi banding itu, bahwa perjalanan ini bermula dari adanya proposal yang diajukan oleh Lippo dan Djarum untuk bersedia mengelola perjudian di wilayah khusus. Proposal tersebut juga memberikan banyak jaminan yang menggiurkan, antara lain keuntungan judi itu untuk membangun gedung Sekolah Dasar di seluruh Indonesia dan menjamin kestabilan perekonomian nasional.
Namun semuanya ditepis oleh Jusuf Kalla saat di tanya oleh wartawan tentang hal ini. Ia membantah adanya proposal yang masuk dari Lippo dan Sampoerna (bukan Djarum). Hal senada diaminkan pula oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang langsung menyatakan ketidaksetujuannya.
Memang, di saat pemerintah belum mampu menganggarkan 20% dari APBN untuk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional yang baru, maka tawaran rehabilitasi gedung SD itu menggiurkan sekali. Bahkan sangat membantu program pemerintah. Apalagi ditambah jaminan dapat menstabilkan perekonomian nasional.
Namun hendaknya pemerintah perlu memahami akibat buruk yang akan terjadi bila memaksakan diri membebek ”kesuksesan” dari Malaysia dan Mesir itu. Walaupun dua negara tersebut mayoritas beragama Islam—seringkali ini dijadikan argumen para pendukung judi—hal ini tidak bisa dijadikan alasan kehalalan dalam mengelola perjudian. Siapapun ia, entah pejabat atau kyai, tidak bisa mengubah status hukum dalam agama yang sudah jelas dan terang ini seterang matahari di siang bolong.
Mengapa bangsa ini tidak mencari kesuksesan-kesuksesan yang ada di negara lain tanpa melanggar ketentuan yang Allah gariskan? Terkecuali kalau memang sebagian besar bangsa ini mau menjadi teman Ali Sadikin yang rela untuk masuk neraka. Na’udzubillah.
Betul sekali di dalam judi ada manfaatnya, mungkin salah satunya di atas tadi. Tapi sungguh Allah telah menyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada manfaatnya itu. Para ulama, ustadz, kyai, bapak guru sudah berbusa mulutnya menyitir ayat ini:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan Judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
Atau dengan ayat ini:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al-maa’idah:90)
Dan ini pula:
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al-maa’idah:91)
Tidak ada yang didapat dari para penjudi kecuali 5 perkara yakni gelar sebagai pendosa, pengikut perbuatan syaitan, orang yang sial (tidak beruntung), penyebar permusuhan dan kebencian, dan orang yang lalai dari mengingat Allah dan Sholat.
Satu lagi adalah timbulnya kerusakan di muka bumi yang tidak hanya dirasakan oleh para penjudi atau pendosa itu tapi dirasakan pula oleh orang-orang yang berbuat kebaikan. Tidakkah mereka sadar dengan firman Allah ini:
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.(Arrum:41)
Ibnu Qoyyim al-Jauza’i dalam kitab ad-Da’u wad-Dawa’ (Indonesia: Therapi Penyakit Hati) menulis:
”Suatu ketika Rasulullah saw bersama para sahabat melewati perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang mereka memasuki perkampungan tersebut, sehingga mereka meminta diizinkan sambil menangis. Rasulullah juga melarang meminum air mereka. Sehingga beliau memerintahkan agar roti (adonan) yang diadon dengan air mereka diberikan kepada onta-onta kandang, yang tidak digembala. Karena air pada kaum Tsamud terdapat bekas maksiat, dan juga pengaruh keburukan dosa-dosa yang nampak dalam berkurangnya buah dan segala sesuatu yang dapat dilihat dengan berbagai kejelekan dan kerusakan.” (p:120).
Akahkah kita belum sadar atas semua akibat yang akan ditanggung?
Kemudian apa jadinya dengan generasi penerus bangsa ini yang pendidikannya dibiayai dari uang judi? Kecuali yang akan muncul adalah kerusakan yang semakin parah melanda bangsa ini. Tiada ’nyala api’ keberkahan karena ia sudah dipadamkan dengan banyaknya ’air’ dosa yang disiramkan.
Pula mengapa para wakil rakyat kita menuruti keinginan dari segelintir orang yang hanya berkeinginan mengeruk keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan perasaaan mayoritas bangsa ini. Bila hal ini dipaksakan maka senyatanya adalah tirani minoritas. Dan kita tentu sudah tahu siapa di balik dua konsorsium besar itu.
Jikalau benar salah satu konsorsium itu adalah kelompok yang menjual saham perusahaan rokoknya kepada asing dan mendapat dana triyunan rupiah, maka sudah pasti banyak yang akan tergoda dengan iming-iming besarnya rupiah itu sebagai upaya menggolkan investasi barunya.
Di zaman dan di dalam negeri dimana duit sudah berbicara banyak maka ini benar-benar suatu perjuangan berat bagi para anak bangsa yang masih menginginkan negeri ini menjadi ’baldatun toyyibatun warobbun ghoffur’, untuk melakukan penentangan keras terhadap ide setan ini.
Pembentukan opini, demonstrasi, lobi-lobi, memperkuat jaringan antarindividu, ormas, dan partai Islam menjadi suatu hal yang niscaya untuk dilakukan sebagai wujud penentangan keras itu. Pula dengan pemantauan terhadap gerak-gerik para selebritis senayan perlu dilakukan agar tidak ada yang disembunyikan, disamarkan, dan supaya tidak kecolongan.
Jika semua berdiam diri, maka jangan pernah salahkan FPI dan sebagian dari komponen bangsa ini untuk turun tangan memberantas perjudian ini hatta berhadapan dengan laras panjang dan stigma teroris yang akan melekat padanya. Karena sesungguhnya mereka adalah yang membuat gentar, yang membuat takut, yang membuat gemetar para pecinta kebatilan dan kemaksyiatan.
Kita tidak bisa berdiam diri!!!
Tidak…!!!
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’: – Berita pagi dan siang SCTV, 17 Desember 2005
– Therapi Penyakit Hati; Pustaka Mantiq, 1996

dedaunan di ranting cemara
sedang menantikan tobatnya anggota DPR RI.
12:24 17Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Tumpukan Arsip Berdebu


16.12. 2005 – Tumpukan Arsip Berdebu

Halaman ini memudahkan saya untuk mencari arsip di blog saya sendiri. Karena melihat arsip pada menu yang disediakan oleh template blog kurang mendukung. Saya harus terlebih dahulu mengetahui di bulan mana arsip yang hendak saya buka itu berada. Padahal saya sudah lupa arsip itu di posting di bulan apa.
Oleh karena itu saya membuatnya dalam satu halaman penuh tanpa dibatasi pilihan bulan. Tentu dengan adanya ini saya perlu bersusah payah untuk membuat kategori tersendiri, sehingga memudahkan saya dan pembaca lainnya untuk mengakses arsip ini. Yang paling penting adalah saya harus selalu mengupdatenya secara rutin, minimal setiap akhir bulan, agar kebaruan arsip selalu terjaga.
Itu saja dari saya, dan Anda tinggal menikmati saja halaman ini.
Arsip Desember 2005
Friday, December 16, 2005: Prajurit-prajurit Peradaban
Thursday, December 15, 2005: scramblezone@halaqoh
Wednesday, December 14, 2005: Cuma Kisah Sederhana 3: Sang Syekh
Tuesday, December 13, 2005: Cuma Kisah Sederhana (2)
Monday, December 12, 2005: Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat (Norak Banget sih elo)
Monday, December 12, 2005: Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users (Fenomena User Bodong)
Monday, December 12, 2005: Sedia Payung Sebelum Hujan (Pujian)
Monday, December 12, 2005: Cara Jitu Menjadi Top1 Active Blogs
Friday, December 9, 2005: Ma’rifatul Maydan (Journey to Palangkaraya)
Friday, December 9, 2005: The Real Bloggers
Friday, December 9, 2005: POEM: Abang Jampang, di antara Batavia dan Jakarta
Wednesday, December 7, 2005: POEM: Peluru Penghias Jantung
Wednesday, December 7, 2005: Kutunggu Jandamu
Tuesday, December 6, 2005: POEM: detik berlalu
Tuesday, December 6, 2005: Saya akan Menikah! Segera!
Tuesday, December 6, 2005: Poem: Hidup itu Masalah
Tuesday, December 6, 2005: Unlimited Inspiration: Looking Themes For
Tuesday, December 6, 2005: akhir dari penantian panjang?
Arsip November 2005
Wednesday, November 30, 2005: rinduku jatuh ke bulan
Wednesday, November 30, 2005: RALAT: Ada Pajak di antara Penulis dan Penerbit
Monday, November 28, 2005: pajak di antara penulis dan penerbit
Monday, November 28, 2005: Kisah Sederhana
Thursday, November 24, 2005: Bersegeralah Menikah… (Berita Baik)
Thursday, November 24, 2005: jig…
Monday, November 14, 2005: Hari ini, Saatnya Mencicipi Panganan Khas

Arsip Oktober 2005
Tuesday, October 25, 2005: 100th: Keranda di Balik Kabut II
Monday, October 24, 2005: Berbuka Puasa Bersama dengan DIRJEN: ada keabadian yang lebih kekal
Thursday, October 20, 2005: Para Ustadz Pelayan TPT
Thursday, October 20, 2005: Mencoba Hidup Tanpa HP
Friday, October 14, 2005: NEW TEMPLATO EDITION: Keranda di Balik Kabut I
Wednesday, October 12, 2005: ramadhankan hatiku*)
Friday, October 7, 2005: dirimu memang bermakna?
Friday, October 7, 2005: ramadhanku adalah…
Thursday, October 6, 2005: jangan lagi kau genggam diam itu
Arsip September 2005
Thursday, September 29, 2005: Hah, Haqi Ranking Dua?
Tuesday, September 27, 2005: Belanja Buku di Semarang dan Perang Eropa (plus satu foto)
Tuesday, September 27, 2005: Kantor Pos Besar Semarang, Kota Lama, dan Dugderan
Tuesday, September 27, 2005: Sebuah Foto: dua bocah dan dua lilin
Friday, September 16, 2005: Rehat Sejenak…
Friday, September 16, 2005: sesaat dengan pesona Jepang
Wednesday, September 14, 2005: semua yang terindah
Tuesday, September 13, 2005: Belanja Buku Bekas
Tuesday, September 13, 2005: Kisah Klan Otori
Monday, September 12, 2005: Bhre Nurmahmudi: Adipati Depok?
Monday, September 12, 2005: aku merinduimu
Monday, September 12, 2005: Tan Tjuan Tay
Friday, September 9, 2005: kita ini bermoral atau tidak sih…?
Friday, September 9, 2005: Gus, jangan kau katakan “walanaa a’maalunaa walakum a’malukum” kepadaku
Thursday, September 8, 2005: DEMOKRASI BERMUKA DUA vis a vis SYURA
Monday, September 5, 2005: dua perempuan dengan puisi
Monday, September 5, 2005: Kemana Pajak Penerangan Jalan Kami?
Thursday, September 1, 2005: Gempita Allah Akbar
Arsip Agustus 2005
Monday, August 29, 2005: menulislah dengan hati
Monday, August 29, 2005: rangkullah matahari
Monday, August 29, 2005: purnama di sudut jiwa*)
Monday, August 29, 2005: pahlawan pencicil rumah
Monday, August 29, 2005: mengenangmu
Monday, August 29, 2005: sekumpulan bangau
Friday, August 26, 2005: uzurnya raja
Friday, August 26, 2005: hamba dari malam hingga pagi
Tuesday, August 23, 2005: Tutorial Hacking: Short Message Box Kanwil Jakarta Khusus Lemah
Monday, August 22, 2005: Here I am?
Monday, August 22, 2005: ada jauh setelah nun
Friday, August 19, 2005: akhirnya saya pindah ke KPP PMA Empat (fenomenal)
Friday, August 19, 2005: I’m not a bird
Friday, August 19, 2005: Mencari ID untuk Merubah Display Name di FORDIS
Thursday, August 18, 2005: sms ini membuatmu menangis
Tuesday, August 16, 2005: hidup itu bukan sebait lagu
Monday, August 15, 2005: merdeka pun aku tetap mati…
Friday, August 12, 2005: dedaunan itu…
Wednesday, August 10, 2005: ukhuwah islamiyah for moslem brotherhood
Tuesday, August 9, 2005: satu hilang tumbuh seribu
Monday, August 8, 2005: lontar dari Kadipaten Depok
Monday, August 8, 2005: Nurmahmudi…(antara Majapahit dan Pajajaran)
Friday, August 5, 2005: pecinta kata-kata
Thursday, August 4, 2005: semakin menghijau
Thursday, August 4, 2005: sepenggalah suluh untuk kawan
Wednesday, August 3, 2005: aku cinta pelangimu
Wednesday, August 3, 2005: kia tak selalu berakhir dengan mat
Tuesday, August 2, 2005: @–tadi malam–@
Tuesday, August 2, 2005: kepada kawan yang mau selingkuh (tak selamanya bisa something must have left untold)
Monday, August 1, 2005: kau adalah ia
Monday, August 1, 2005: Memotret SBY dan berpose dengan Nurmahmudi Ismail, Anggota DPR RI, dan Menteri Pertanian
Monday, August 1, 2005: Provinsi Bogor Raya (Bogor, Bekasi, Depok, Cianjur, dan Sukabumi)
Monday, August 1, 2005: Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)
Arsip Juli 2005
Friday, July 29, 2005: ~~~~ menulis itu gampang*) ~~~~
Thursday, July 28, 2005: @-HARI INI AKU TERPUKUL TELAK-@ (doakan saya….)
Wednesday, July 27, 2005: hanya sebuah: BUKU TAMU
Wednesday, July 27, 2005: both sides perspective (kasus lupa absen)
Tuesday, July 26, 2005: @-;—-our mosque—-;-@
Tuesday, July 26, 2005: selembar daun mulai menguning
Monday, July 25, 2005: aku takut mati
Monday, July 25, 2005: ceri, monyet, dan tukang ojek
Monday, July 25, 2005: puisi yang muda yang naif
Friday, July 22, 2005: ~~~kamar-kamar hati~~~
Thursday, July 21, 2005: Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)
Wednesday, July 20, 2005: ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Tuesday, July 19, 2005: *~~~~SELAKSA HARAP SEKEPING HARU~~~~*
Monday, July 18, 2005: ~~~mengemis~~~
Monday, July 18, 2005: 5 dasawarsa 12 purnama
Thursday, July 14, 2005: resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem
Tuesday, July 12, 2005: 1000 dan 1 Malam (Alfu Lailah Wa Lailah)
Monday, July 11, 2005: Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?
Friday, July 8, 2005: almari penuh buku: (kuwariskan ini padamu, nak…)
Thursday, July 7, 2005: teruntuk azimah: hari ini aku balas emailmu (memburu buku di kwitang)
Wednesday, July 6, 2005: pelajaran hari ini: ATM saya tertelan
Tuesday, July 5, 2005: biarkan aku menulis hari ini
Monday, July 4, 2005: dua kertas dan satu kamboja
Friday, July 1, 2005: Sakury dan PT Newmont Minahasa Raya, 13th Salary
Arsip Juni 2005
Wednesday, June 29, 2005: senyum sore
Tuesday, June 28, 2005: Guru Kehidupan Dan Sebuah Kenangan
Monday, June 27, 2005: sehelai nasehat dalam sepucuk surat untuk kalian
Monday, June 27, 2005: malam ahad: we are never too old to learn
Friday, June 24, 2005: tercerabut dari akarnya
Monday, June 20, 2005: menoreh di kacanya, die…(2)
Monday, June 20, 2005: trial by the press
Thursday, June 16, 2005: ruqyah kemarin, ghanimah, akhirat itu kekal.
Wednesday, June 15, 2005: seminggu lebih…nb: Ust. Rahmat Abdullah, dan Ruqyah
Arsip Mei 2005
Monday, May 30, 2005: Melatiku di Sabtu Malam
Friday, May 27, 2005: kenapa harus FPI gitcu loh…
Wednesday, May 25, 2005: A Comme Amour
Monday, May 23, 2005: the black heroes
Friday, May 20, 2005: semboerat tempo doeloe:
Friday, May 20, 2005: preambule
Friday, May 20, 2005: KINGDOM OF HEAVEN

scramblezone@halaqoh


15.12.2005 – scramblezone@halaqoh

Tidak biasanya saya begitu bersemangat dengan chatting kali ini. Dan sudah lama saya tidak antusias dengan mIRc sejak tahun 2003. Script-script yang saya punyai dan saya kuasai dulu hilang dan tidak saya kuasai lagi. Hingga untuk mengucapkan dan menjawab salam saja harus ketik panjang dan tentu ditambah kesalahan ketik. Namun kali ini setelah jaringan di kantor lebih cepat daripada tiga minggu kemarin, saya mencoba mengikuti dunia perchatingan, tentu disela-sela pekerjaan yang kini semakin menepis persediannya untuk diselesaikan.
Awalnya biasa saja, setelah itu–tepatnya kemarin–saya begitu bersemangat. Ada game baru di #halaqoh, scramblezone namanya. Menjawab pertanyaan yang diajukan si bandar dengan jawaban berupa huruf yang sudah diacak sedemikian rupa. Yang berhasil menjawabnya maka akan mendapatkan nilai 1. Semakin banyak dia berhasil menjawab maka ia akan memperoleh nilai 1 yang lebih banyak.
Saya pernah mengenal permainan ini, dulu, tapi swear, saya tidak tertarik. Namun ada bedanya kali ini di #halaqoh. Pertanyaannya berkisar di dunia Islam, mulai nama-nama kota negara Islam sampai urusan fikih. Jawaban yang terkadang konyol sampai-sampai membuat saya tertawa, lucu banget. Permainan ini terkadang tidak melihat soalnya terlebih dahulu asal ia ingat susunan huruf apa yang diacak, bisa langsung dijawab tapi kalau begini terkadang ngaco.
Contohnya ini:
» Petunjuk : merk
» Huruf : qomcap preorsai
Saya jawab: capgomeh barongsai, ternyata salah. Memang kagak nyambung. Yang benar adalah compaq presario.
Ada juga yang protes, dilayarnya dia yang pertama menjawab tapi ternyata ia tidak mendapat point 1, keduluan sama yang lain. Tapi memang ini semua tergantung siapa yang masuk terlebih dahulu ke komputer si bandar. Berarti kualitas jaringan berpengaruh terhadap kecepatan menajwab. Bisa saja ia duluan menjawab tapi jaringannya sedang jelek, maka-siap-siap saja jawabannya didahului sama yang lain. Yang parah, banyak juga yang sudah dapat nilai banyak tapi jaringannya juga jelek dan tiba-tiba ia terputus dari koneksi atau disconnected, maka disaat ia kembali lagi ia harus mengumpulkan nilai dari nol lagi. Sungguh malang…But, the game is the game. Namanya juga permainan, terima sajalah. (hehehehe, maaf yah).
Terkadang juga koma di atas (tuts sebelah angka 1) yang diinginkan si Bandar tidak sama dengan koma di atas (tuts dekat enter) yang dimaksud oleh para peserta, maka kalaupun ngetik sampai benjut juga ya tetap salah. Juga kalau si bandar kehabisan pertanyaan, maka ia kasih soal yang kayak gini:
» Petunjuk : bandar kentekan soal
» Huruf : temmu
Bagi orang Jawa, soal seperti ini gampang banget. Jawab saja: mumet, selesai. Saya dapat poin satu. Tapi bagi yang bukan orang Jawa, waduh…ini yang susah. Makanya saya sarankan kepada si Bandar supaya beli atau pinjam buku ensklopedia dunia Islam yang ada 6 jilid itu untuk bisa membuat soal yang bermutu gitu (bukan begitu enigma???:-)
Betewe, untuk permulaan permainan ini asyik banget buat mengisi waktu luang. Tapi jangan sampai lupa pekerjaan yah…
Allohua’lam bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
salam buat mas squall, mbak al1f1a, enigma, dll dah…
15:36 15 November 2005

Cuma Kisah Sederhana (3)


Cuma Kisah Sederhana (3)

Dalam sebuah halaqoh (pertemuan) di sebuah masjid di bilangan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang Syekh berasal dari Timur Tengah yang juga veteran perang Afghanistan sedang memberikan taushiyah kepada sekelompok anak muda yang dengan tekun menyimak semua perkataannya dengan bantuan seorang penerjemah.
Pada saat mereka asyik mendengarkan, tiba-tiba Sang Syekh terdiam saat melihat kedatangan seorang tua yang memasuki masjid tersebut. Ini membuat yang lainnya terheran-heran. Ditambah pula Sang Syekh tidak lagi melanjutkan taushiyahnya. Bahkan beliau meminta semua hadirin yang ada dalam halaqoh tersebut untuk diam sejenak.
Sang Syekh tampaknya tertegun dan terus memandangi orang tua yang saat itu sedang melakukan shalat. Beberapa saat, orang tua itu sudah menyelesaikan shalatnya. Setelah berdzikir dan berdoa, ia pun melangkahkan kakinya keluar masjid sambil tak lupa mengucapkan salam kepada peserta halaqoh.
”Subhanallah,” seru Sang Syekh.
”Ada apa Ustadz?” seorang hadirin bertanya keheranan.
”Masya Allah,” ucap Sang Syekh tidak menjawab.
”Memang ada apa Ustadz?” tanya hadirin yang lain.
Terlihat Sang Syekh masih melantunkan dzikirnya lagi nyaris tanpa terdengar. Hening sejenak.
”Tahukah kalian apa yang sedang aku rasakan,” tanya Sang Syekh dibantu oleh penerjemah.
”Tidak Ustadz!,” jawab hadirin hampir serentak.
”Saat aku melihat orang tua yang memasuki masjid tadi, hatiku langsung tergetar. Aku merasakan keteduhan yang sungguh luar biasa saat melihatnya. Aku merasakan seperti ada cahaya yang memancar darinya. Cahaya ketenangan. Cahaya yang hanya dimiliki oleh para orang sholih. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bangun di sepertiga malam terakhir. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Mahasuci Allah dan Segala Puji hanya untuk Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang tua sepertinya,” tutur Sang Syekh panjang.
”Oleh karena itu aku meminta kalian untuk diam sejenak sampai orang tua itu selesai melaksanakan hajatnya. Sambil aku menikmati apa yang Allah berikan kepadaku. Nikmat merasakan ketenangan, kekhusyu’an, dan keteduhan dari orang tua itu. Sungguh, sungguh, sungguh luar biasa orang tua itu,” lanjutnya lagi. “Aku harus belajar banyak kepada dirinya, kepada kalian aku sarankan pula untuk menggali ilmu padanya.”
”Tahukah kalian siapakah dia?” tanya Sang Syekh kepada para hadirin.
”Ia adalah pemilik yayasan pendidikan Islam di sebelah Masjid ini Ustadz, ”jawab salah satu hadirin. ”Masjid ini pun dikelola oleh yayasan tersebut.”
”Ustadz Hasib namanya.”
***
Natijah (buah) dari keimanan seseorang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya, yang tentunya pula memiliki kadar keimanan yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan dalam tataran orang biasa pun natijah itu dapat dirasakan. Dengan tutur katanya yang halus, keteduhan yang terpancar dari wajahnya, sikapnya yang lemah lembut, pancaran mata yang menyejukkan, tiada yang keluar dari mulutnya kecuali kebaikan dan hujjah yang kuat.
Dengan keteguhan, kesabaran, dan kesalihan yang ia miliki maka siapa yang tidak mengenal Ustadz Hasib, seorang yang menjadi ’awwalun’ dalam pergerakan dakwah kontemporer di bumi Indonesia ini. Yang kemudian pergerakan tersebut memasuki dan menempuh salah satu dari sekian banyak wasilah (sarana) dalam berdakwah, menjadi sebuah partai Islam berlambang dua bulan sabit yang mengapit padi menguning.
Saatnya semua itu tidak hanya dirasakan oleh Sang Syekh, tapi seluruh umat di penjuru tanah air ini, bahkan kepada semua golongan. Karena sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil’alamiin.
Allohua’lam bishshowab.

dedaunan di ranting cemara
masih mencari kisah-kisah pencerahan lainnya
22:42 12 Desember 2005

Kisah Sederhana (2)


Cuma Kisah Sederhana (2)
Lagi, dengan Indra, setelah di kisah sebelumnya ia menceritakan tentang ban motornya yang ditambal oleh orang yang tak dikenal dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka pada ramadhan yang lalu, kita akan mendengarkan kisah tentang kemudahan-kemudahan yang ia dapatkan, tentang pertolongan yang Allah berikan kepadanya.
Kali ini, saat istrinya mengalami kehamilan yang ketiga kalinya, Indra mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam masalah finansial. Sedari awal ditemukannya tanda-tanda kehamilan istrinya itu, ia sudah mulai menabung sedikit demi sedikit. Mulai dari biaya persalinan sampai biaya untuk melestarikan sunnah rasul dengan menyelenggarakan walimatul’aqiqah.
Tiga minggu menjelang hari kelahiran anak ketiganya ini ia didatangi saudara pembantunya, sebut saja Pak Hasan. Karena sedang ditimpa kesulitan, Pak Hasan meminta dengan sangat kepada Indra untuk dapat meminjamkan uangnya. Indra tidak bisa berbohong. Ia mengakui bahwa ia memang mempunyai uang. Tapi sesungguhnya uang itu untuk dipergunakan sebagai persiapan biaya persalinan dan aqiqah.
Pak Hasan mendesak dan memohon kepada Indra untuk dapat membantunya. Ia berkali-kali menegaskan bahwa ia sanggup untuk melunasi utangnya segera. Hati Indra pun luluh. Ia bersedia meminjamkan uang tersebut asal pada saat ia akan melaksanakan aqiqah uang itu sudah ada pada dirinya. Pak Hasan pun menyanggupi.
Kemudian pada hari H, persalinan istrinya tidak begitu berjalan lancar. Setelah beberapa jam dilahirkan kelainan mulai diderita si bayi perempuan ini, kulitnya mulai menguning. Ibu bidan yang membantu proses persalinan sudah angkat tangan dan menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Alhasil bayi perempuannya diinap di sebuah rumah sakit ibu dan anak di kawasan Depok. Dengan tabungan yang sudah berkurang ditambah asuransi dari perusahaannya ia memperkirakan dapat menutupi seluruh biaya pengobatan dan rawat inap. Terkecuali untuk biaya aqiqah.
Selagi dia ditimpa kesusahan itu, ia tetap bertekad untuk menyelenggarakan aqiqah pada hari ketujuh. Dan apa yang dijanjikan oleh Pak Hasan untuk mengembalikan uangnya pada saat itu tidak terlihat tanda-tandanya. Indra pun segera mendatangi rumah Pak Hasan. Hasilnya nihil, Pak Hasan tidak sanggup melunasi utangnya pada saat itu, malah menyarankan kepada Indra untuk mengambil harta bendanya sebagai biaya pelunasan utangnya. Apa mau dikata, Indra tidak tega dan tidak mampu untuk melakukan itu. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Citanya untuk ber-’ittiba kepada rasul tercinta bakal tidak terlaksana. Cuma satu yang ia yakini sampai detik itu dan detik-detik ke depan, bahwa sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
Keesokan harinya, selagi ia bersiap-siap untuk pergi menggantikan istrinya menjaga bayinya. Indra didatangi Pak Hasan. Ia mangaku bahwa semalam tidak bisa tidur karena memikirkan utang yang tidak dibayarnya itu. Pak Hasan menawarkan kepada Indra untuk bersama-sama pergi ke kakaknya di kampung sebelah. Di sana kakaknya Pak Hasan akan membayar semua utangnya itu.
Kakaknya Pak Hasan menyambut dengan hormat sekali kepada Indra—yang menurutnya terlalu berlebihan. Sepertinya kakaknya Pak Hasan ini sangat berterima kasih sekali kepada Indra karena telah sudi membantu adiknya itu. Kakaknya menawarkan kepada Indra untuk mengambil dua ekor kambing paling besar yang ada di kandang belakang rumahnya. Katanya ini adalah sebagai pelunasan utang adiknya.
Kalau dihitung dengan uang yang Indra pinjamkan kepada Pak Hasan, dua ekor kambing itu benar-benar melebihi jumlah utangnya. Akhirnya ia membawa kambing-kambing itu ke rumahnya. Satu kambing ia niatkan untuk aqiqah anak perempuannya, sedangkan satunya lagi ia niatkan untuk memberikannya kepada fakir miskin.
Keesokan harinya, setelah beberapa hari di rawat, bayinya mengalami kemajuan kesehatan dan diperbolehkan untuk pulang. Acara aqiqah itu pun segera dilangsungkan dan berlangsung lancar dengan mengundang sanak saudaranya, tetangga-tetangganya, serta fakir miskin.
***
Subhanallah, kesabarannya membuahkan hasil berupa ketaatannya kepada Rasululloh SAW, kemampuannya berinfaq, kesehatan anaknya, serta satu lagi adalah hatinya yang semakin kaya, karena ia sanggup menolong pada saat dirinya dalam keadaan sulit.
Manusia sudah wajar dapat membantu sesama pada saat lapang, walapun demikian masih banyak juga orang yang pada saat lapang tidak berkemampuan untuk membantu sesama, apalagi pada saat dalam keadaan sempit. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita, untuk selalu bertekad dan bersabar dalam melaksanakan sunnah Rosulullah dalam keadaan sempit ataupun lapang, kecil ataupun besar. Setelah itu nantikan saja pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Allohu’alam.

dedaunan di rantig cemara
berusaha menjadi baik
10:02 13 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan02@telkom.net
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat


12.12.2005 – Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat (Norak Banget sih elo)

Hari ini saya mendapatkan tiket pesawat terbang ke Palangkaraya, setelah hari jum’at kemarin booking tiket di salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Semula dengan harga normal tapi dengan trik yang jitu dari bagian marketing maskapai itu saya boleh dapat harga murah dengan syarat saya membayarnya hari itu juga. Selisihnya cuma empat puluh ribuan.
Setelah utang kesana-kemari, maklum SPPD belum juga turun, saya mendapatkan tiket murah yang bisa diambil pada hari Senin ini. Sekarang tiket ini ada di tangan saya. Ceritanya pertama kali nih saya berangkat bepergian dengan pesawat terbang, berarti pertama kali pula saya pegang tiket pesawat. Tidak ada bedanya dengan tiket bus eksekutif, tapi memang beda dengan tiket kereta api. Nggak ada keanehan apapun yang terjadi (emang apaan sampai nanyain yang kayak ginian?).
Saya memperhatikan dengan seksama apa yang ada dalam tiket itu. Tulisannya, gambarnya, pesan-pesannya, jadwal penerbangannya, dan peraturannya yang njlimet itu. Pakai bahasa Inggris lagi, eh nggak ding ada terjemahannya juga. Selain tiket itu ada juga invoice dari maskapainya entah gunanya apa saat di penerbangan nanti. Hehehehe…norak banget sih lo.
“Please, don’t laugh me. It’s my first experience,” gue yang ada di sono ngomong kayak gini.
“Ya, tapi jangan norak kayak gitu dong, malu-maluin gue aja lo sampe diliatin kayak gitu. Sekalian aja elo kekepin,” gue yang lain ngomong juga.
“Nggak kayak gitu-gitu amat lah” jawab gue lagi.
***
Seumur hidup, saya hanya bisa bermimpi untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Tapi kali ini Allah memberikan kesempatan emas kepada saya. Ditambah dengan regulasi penerbangan membuat harga tiket antarmaskapai penerbangan menjadi bersaing dan bisa terjangkau oleh semua kalangan. Sehingga ada salah satu maskapai penerbangan dengan harga tiket murahnya mempunyai motto “we make people fly”. Wow…
Dan walaupun masih ada tanda tanya tentang angkutan menuju bandara apa yang pas buat saya , juga dengan situasi di bandara Soekarno Hatta yang tidak saya ketahui, ditambah dengan suasana bandara di Palangkaraya, saya cuma bisa berdoa saja semoga Allah memberikan keselamatan atas perjalanan saya yang pertama kali begitu jauhnya ini.
Suatu saat saya akan menceritakan kepada Anda semua, betapa noraknya saya menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Soekarno Hatta dan Palangkaraya. Tunggu saja kenorakan saya ini.
dedaunan di ranting cemara
norce
17:25 12 Desember 2005