Bukan Pesan Kenabian yang Dibawa Dennis Adhiswara


Ilustrasi dari nature.desktopnexus.com

“Lebih manfaat kalau si Dennis yang dibuang ke Cina. Buang Dennis kembali ke daerah keturunannya. Buang Dennis ke alam asalnya.” Bahkan ada yang lebih kasar lagi seperti ini: “Zamannya Soekarno, Cina dipulangin tuh ke asalnya.” Atau seperti ini, “Cina Makin ngelunjak.”

Baca Lebih lanjut

PATRIOTISME TIFATUL SEMBIRING DI BALIK SATELIT BRI


PATRIOTISME TIFATUL SEMBIRING DI BALIK SATELIT BRI


“Dari Tual terbang ke Bali. Dulu jual sekarang beli.” Itulah pantun yang tiba-tiba diucapkan seorang tokoh saat berada di dalam lift kantor pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Penandatanganan kontrak Program Satelit BRI antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Space System/Loral. LLC, dan Arianespace di Jakarta (28/4) akan membuat micro banking terbesar di dunia ini sebagai satu-satunya bank yang memiliki satelit sendiri. Rencananya satelit itu akan diluncurkan di Guyana Perancis pada tahun 2016.
Sejak Indosat dijual kepada asing di tahun 2002, maka kavling orbit satelitnya yang milik Indonesia juga ikut terjual. Dengan penandatanganan itu maka kavling orbit di slot 150.5 Bujur Timur tempat dulu Satelit Palapa C2 pernah mengorbit dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN dalam Manufacturing Hope-nya mengakui untuk merebut kavling tersebut tidaklah mudah, sulit, dan sangat sulit. “BRI (dan kita semua) sangat berterima kasih kepada Menkominfo Tifatul Sembiring. Beliaulah yang berada di depan untuk berjuang mendapatkan kembali kavling satelit itu. Tentu juga mendapat dukungan penuh Bapak Presiden SBY. Perjuangan satelit ini tidak kalah heroiknya dibanding perjuangan mendapatkan Inalum tahun lalu.”

Perlu diketahui bahwa lokasi BRIsat adalah orbit terbaik. Menurut Dahlan Iskan orbit ini mestinya hanya bisa diisi 360 satelit. Karena mereka harus dideretkan di tiap derajat dari 360 derajat keliling bumi. Orbit ini jadi rebutan semua negara. Saking banyaknya negara yang mengincarnya, sampai-sampai kompromi harus dilakukan. Lokasi yang mestinya diisi 360 satelit itu kini sudah diisi lebih dari 900 satelit! Alangkah padatnya. Alangkah berjejalnya. Betapa penuhnya orbit itu. Satelit dari seluruh dunia. Itulah sebabnya apa yang dilakukan BRI ini sungguh heroik! Terlambat sedikit, lokasi tersebut bisa jatuh ke negara lain.

Sebagaimana diberitakan Merdeka.com (28/2) Tifatul Sembiring sebelum penandatanganan tersebut pernah mengisyaratkan akan mencabut pengelolaan slot satelit 150,5 BT dari Indosat ke BRI. “Kita optimalkan jatah satelit untuk kepentingan ‘Merah Putih’. Indosat kan saat ini kepemilikannya mayoritas asing,” kata Tifatul.
Tifatul merealisasikan janjinya dengan menerbitkan surat dengan nomor B-297/M.KOMINFO/SP.02.01/03/2014 tertanggal 26 Maret 2014 yang menyatakan hak pemanfaatan filling satelit di slot orbit 150,5 BT untuk Indosat tak diperpanjang. Dengan demikian BRI telah mengantongi izin khusus pengelolaan satelit per tanggal 1 September 2015, lansir IndoTelko.

Menteri yang terpilih sebagai Anggota DPR RI di Pemilu 2014 dari Dapil Sumatera I ini pernah menyarankan kerjasama antara BRI dan Indosat nantinya adalah Indosat cukup menyewa transponder satelit ke BRI.

Ini kerja besar kali kesekian menteri berdarah batak itu dalam mengedepankan kepentingan bangsa. Sebelumnya di tahun 2011 Tifatul pernah dikritik dan diprotes habis ketika mengultimatum Research In Motion (RIM), perusahaan Kanada yang mengeluarkan layanan Blackberry, untuk menutup akses situs porno. Tifatul bergeming. Dalam akun twitternya Tifatul berujar, “Kalau ada nasionalisme di dada kita & ingin jd bangsa berwibawa, pasti sebagian kita akan setuju poin2 yg saya sampaikan tentang #RIM.”

Saat ini, negeri ini, sejatinya butuh pejabat dengan nasionalisme dan patriotisme yang tinggi agar tidak ada lagi aset-aset yang dijual kepada asing dengan harga murah dan tidak mengedepankan kepentingan rakyat banyak.

@rizaalmanfaluth
10 Mei 2014
Diunggah pertama kali di http://www.pkspiyungan.org/2014/05/patriotisme-tifatul-sembiring-dibalik.html

JABAT TANGAN YANG DIPERSOALKAN


JABAT TANGAN YANG DIPERSOALKAN

Pemberitaan media saat ini terhadap jabat tangan Tiffatul Sembiring dengan Michelle Obama, Selasa (9/10/2010), menurut saya sudah lebay. Memang sangat menarik untuk menteri kita yang satu ini. Apapun yang dilakukan dan dikatakannya sering menjadi perhatian publik. Apalagi beliau sangat intens dalam pergaulan di dunia maya melalui twitternya. Resikonya memang dipuji dan dihujat orang.

Salah satunya hari-hari ini. Hujatan dan celaan mampir kepada dirinya. Bagi orang yang beriman tentunya tidak ada masalah karena setiap hujatan dan makian—kalau tidak betul—maka akan membuahkan pahala buat orang yang dihujat dan dimaki itu.

Kasus salamannya dia, bagi saya wajar-wajar saja. Saya—Insya Allah—yang tetap belajar untuk berkomitmen tidak berjabat tangan dengan yang bukan mahram. Dikhususkan untuk nenek-nenek tua, saya sering bersalaman dengan mereka dan mencium tangan mereka sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Dalam kondisi tertentu saya terkadang tidak bisa menolak jabat tangan itu, ketika saya sudah menangkupkan kedua tangan di depan dada namun tetap “dikejar” dan disentuh oleh tangan tamu yang bukan mahram tersebut. It’s oke, bagi saya tidak masalah. Itu diluar kekuasaan saya. Dan bagi saya tentunya tidak bersalamannya saya dengan yang bukan mahram tersebut adalah bentuk penghormatan saya kepada mereka.

Berkenaan dengan agresifitas menyambut salaman—ini yang dijadikan senjata menghujat Tifatul Sembiring oleh sebagian orang—saya juga sering melakukannya. Contoh, bila ada wanita tamu wajib pajak datang, saya bangkit berdiri dari kursi, langsung menyodorkan kedua tangan lalu menurunkannya kembali dengan cepat. Tidak bersentuhan tangan. Selesai.

Banyak persepsi yang berkembang dengan masalah Tifatul, entah dengan melihat foto dan videonya. Silakan pada pendapatnya. Bagi saya cukup dengan apa yang diungkapkan atau dikatakannya. Bisa dilihat di twitternya langsung. Masalah niat beda itukan urusan dengan Yang Di Atas Sana. Lalu kenapa kita ikut-ikutan menghujat. Nyape-nyapein. Memangnya tidak ada kerjaan lain?

Ada perspektif saya yang mengemuka, yaitu bisa saja Michelle Obama menyodorkan tangan dan memaksa untuk diterima, nah kalau begitu itu namanya pemaksaan terhadap suatu keyakinan. Bertentangan dengan demokrasi dan HAM yang didewa-dewakan oleh Amerika, negaranya sendiri.

Media Indonesia hari ini, Kamis (11/11/2010), mengutip harian Chicago Tribune, sebagai berikut: ” Chicago Tribune yang mengutip pernyataan penulis How to Be a Perfect Stranger, Stuart Matlins, memberikan tips kepada Tifatul cara menolak bersalaman dengan orang yang tidak diinginkan. Jika memang tidak ingin menyambut uluran tangan Michelle, seharusnya kedua tangan Tifatul tetap berada di kedua sisi tubuh.”

Bagi saya tips Stuart Matlins adalah orang yang tidak memahami kearifan dan budaya lokal. Dengan tidak mengangkat tangan dan tetap berada di kedua sisi tubuh itu malah tidak sopan dan tidak menghargai orangnya. Ini bermakna kita ingin bersalaman dengan orang tersebut tapi ada aturan lain yang tidak membolehkannya. Itu saja.

Yang lebay lagi Metro TV, ini ditulis oleh teman saya: ” tendensiusnya Metro TV semalam semakin telanjang waktu Suara Anda menayangkan “Dusta Tifatul” yang semestinya hanya satu penelepon, kemarin ada dua penelpon, padahal untuk berita yg lain hanya satu penelepon. Penelepon yang pertama tidak berhasil digiring untuk menghujat Pak Tif, malah mengapresiasi Pak Tif dengan mengatakan beliau berjiwa besar. Kalau tidak salah peneleponnya dari Pontianak. Eh belum tuntas diputus ada penelepon kedua yang namanya William—kalo tidak salah—mencaci Pak Tif sekaligus mencaci PKS….ketahuan deh belangnya Metro TV, hanya mau menggiring opini….”

Kalau saya perhatikan, entah itu Metro TV atau Media Indonesia, memang seringnya berpandangan negatif terhadap tokoh-tokoh dari partai itu.

Ada beberapa kemungkinan untuk mereka yang berlebay-lebay seperti ini. Jika hati sudah hasad dan benci, penjelasan dengan mulut berbusa-busa pun tidak akan diterima. Pun bangsa ini lagi sakit, ada anak bangsanya mau menegakkan aturan agamanya dicemooh sedemikian rupa. Ini seperti orang yang ingin berbuat baik dilarang dan agar orang yang berniat baik itu tingkah lakunya sama dengan mereka yang tidak berbuat baik itu. Atau dengan kata lain mereka mencela apa yang sebenarnya mereka lakukan sehari-hari.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa orang yang punya prinsip dituntut integritasnya untuk membuktikan seberapa teguh ia memegang prinsipnya. Ya betul sangat tepat sekali. Dan perlu satu tambahan lagi. Jika ia melanggar, jika ia tersalah, dengarkan kenapa ia melakukannya, karena sesungguhnya setiap manusia bisa lalai dan lupa. Jika ia memang mengakui kesalahannya maka ia adalah orang yang memiliki jiwa besar yang tidak ada pada jiwa-jiwa pecundang.

Semoga kita bisa menghargai sesama dan pemilik sejati jiwa-jiwa besar.

Allohua’lam bishshowab.

Berikut kultwit Tifatul Sembiring:

Soal insiden salaman dg bu Michele obama sy tegaskan sbb:1. Sy tetap pada pendirian/sikap utk tidak bersalaman dg wanita yg bukan muhrim.

tifsembiring

2. Ini pandangan fikih Islam yg sy fahami. Sy juga tahu ada tokoh2 besar muslim yg tetap bersalaman dg wanita bukan muhrim, itu urusan ybs.

tifsembiring

3. Namun kadang2 ada situasi terdadak (tiba2) atau bertemu dg org2 yg tidak tahu sikap saya ini.

tifsembiring

4. Biasanya dalam situasi acr kenegaraan atau kadang2 selepas mengisi pengajian di majelis taklim, ada bbrp ibu2 yg berebut mau bersalaman.

tifsembiring

5. Dalam keadaan begitu, sentuhan dan bersalaman tdk bisa saya hindari. Saya memaklumi situasinya, hal ini tdk merubah pendapat sy semula.

tifsembiring

6. Inilah yg terjadi ketika bertemu bu Michele Obama, beliau tamu negara, sy agk menahan tangan Obama saat bersalaman, lalu sampaikan pesan.

tifsembiring

7. Menyusul dg Bu Michele, ini yg saya sebut dg situasi terdadak. Saya majukan 2 tangan, spt cara org Sunda bersalaman.

tifsembiring

8.Dan terjadilah insiden salaman itu. Setelah kembali ke kantor, sy baca di twitter ada mention dari

tifsembiring

9. Kok Tifatul bersalaman dg bu Michele, tapi kalau dg kita2 perempuan tidak mau bersalaman.

tifsembiring

10. Saya jawab di TL sy: Sdh ditahan 2 tangan, eh bu michele nya nyodorin tangannya maju banget…kena deh.

tifsembiring

11. Saya merasa heran juga hal ini kemudian dikembangkan dan menjadi berita internasional.

tifsembiring

12. Fadjroel menuduh sy bohong, ini orang tdk pernah saya layani lagi, sy block, sebab selalu berpandangan negatif thd apapun yg sy lakukan.

tifsembiring

13. Lalu Metro TV mengulasnya, menurut saya agak berlebihan dg membuat judul “Dusta Tifatul”. TIDAK ada dusta disitu, itu prinsip saya.

tifsembiring

14. Dlm situasi tertentu ada hal2 yg saya tolerir dan hal tsb dalam Islam tdk termasuk Kabair (dosa2 besar). Mudah2an teman2 memakluminya.

Tag: muhashofah, jabat tangan, tifatul sembiring, michelle obama, barrack Hussein obama, chicago tribune, How to Be a Perfect Stranger, Stuart Matlins, Metro TV, Media Indonesia, suara anda, dusta tifatul, fadjroel rahman, salaman, bukan mahram, mahram, pks, partai keadilan sejahtera

 

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

06:50 11 November 2010