galabah


galabah

**

gumpalan sinus, cosinus,

tangen, cotangen,

secan, dan cosecan

yang tak bisa diselesaikan

karena kerumitannya,

malam ini rumit itu

menjadi

limban lara

dan

tongkah galabah

yang tak ada ujung

aku

meniti di atasnya.

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.57 28 April 2011

Kepada yang mencintai hujan malam ini


kepada yang mencintai hujan malam ini

**

aku taruhkan sepucuk rindu pada setiap tetes yang jatuh

dan menahanku untuk berbicara apa adanya padamu

diam sesungguhnya menjadi simfoni megah

kala hati kita saling berbicara

aku taruhkan segenggam cinta pada setiap rinainya yang gemetar

dan menghantam setiap sudut jalanan untuk membasahimu

terpaku menjadi raja pada maghrib ini

kala kau berjalan di istana hidupmu sendiri

sambil memutar slide persahabatan

yang akan kau persembahkan pada dunia

aku menjadi daun yang jatuh sendiri…

aku taruhkan melodi kebersamaan pada gerimis yang mengundang

dan membisikkan padamu: jangan menunggu pagi

untuk melihat jejak-jejaknya

di pucuk-pucuk ilalang, bunga, daun, ranting, dan tanah basah

kau mencium hujan malam ini

sedetik saja

hujan itu menjadi aku.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.10 23 April 2011

Judul puisi terinspirasi dari sini

dermaga


dermaga

**

 

debur ombak seringkali mengalahkan senyapnya

angin yang bertiup di atas bibir-bibir karang,

geliatnya mengalahkan sejuta pesona

matahari yang hendak tidur diam-diam,

aku adalah perahu yang hendak

kembali di keesokan hari,

berkenanlah kau menjadi dermaga

tempat aku persembahkan

segala apa yang ada di dalam samudera,

apa saja…

sudi?

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 April 2011

terlanjur


terlanjur

*

hujan menangis

di bahuku saat ini,

aku basah dengan cinta…

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.33 pm 08 04 2011

menjelma


menjelma

**

 

menjelma menjadi mimpi,

rinai hujan yang datang membisikkan padamu tadi shubuh,

menjelma menjadi sajak,

kabut yang salah paham menyelimutimu tadi malam,

menjelma menjadi burung,

awan yang pergi tanpa pamit berkata culas padamu tadi sore,

menjelma menjadi 3 jam,

rindu yang menggigit jubah kehilanganmu tadi siang,

menjelma menjadi air mata,

bahagia yang menderai di sudut hatimu barusan saja.

akulah yang menjelma …

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11.14 03 April 2011

malam ketujuh


malam ketujuh

 

tak ada yang tertulis untukmu

di sela tubuh yang menggigil

pada jam yang menabuh genderang perang

sudah tengah malam katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

biar kata-kata yang ada memuara ke laut

hanyut bersama sampah-sampah hitam ciliwung

sudah menggila katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

karena langit sudah rata dengan bumi

sudah saatnya katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

sudah malam ketujuh katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

siapa bilang?

karena setiap kata yang terucap

karena setiap huruf yang tertulis

di langit dan di bumi

semua untukmu…

aku semakin menggigil

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12.06 31 Maret 2011

 

 

pinta sederhana


Cinta Pinta Sederhana

**

 

aku memintamu,

di pagi yang terbangun kesiangan

atau di malam yang cemburu,

ketika aku datang

buatkan secangkir teh yasmin hangat

ambilkan sepiring nasi dan lauk secukupnya

hidangkan semuanya untukku

dan kau duduk di depan

melihat aku menghabiskannya

sambil bercerita apa saja.

cuma pinta sederhana

untuk 12 tahun yang telah lewat

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

anniversary atau ani berseri-seri?

27 Maret 1999 – 27 Maret 2011

08.10 am

Gambar diambil dari sini.

megalomania


megalomania

**

Aku adalah antartika yang menunggu tetes-tetes salju abadi

Aku adalah niagara yang menunggu surutnya

Aku adalah matahari yang menunggu padamnya

Aku adalah…

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

untuk malam yang semakin malam

10.19 am 26 Maret 2011

malam di 1/3 terakhir


Malam di 1/3 Terakhir

**


aku mencintaimu seperti daun-daun jatuh di hutan, sepi tanpa suara

aku merinduimu seperti air jeram di sungai, ramai penuh gelora

aku kehilanganmu seperti nisan tua dan lapuk di tanah pekuburan.

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.20 am 24 Maret 2011

pulang sekolah


pulang sekolah

**

dengan tubuh legam berkarat

lonceng itu merintih berharap-harap

menyerah pada pukulan demi pukulan

untuk sebuah lengking nyaring

menggelumat atmosfer

sepi sujud pada ramai jam 2 siang

kursi yang kau duduki dan

pulpen yang kau pegang

berteriak serentak, “pulanglah segera,

sebiji matamu menunggu,

karena malam ini ia akan pergi,”

bukankah kasih bunda adalah bahasa keabadian?

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai dasar gedung sutikno slamet

13.35 22 Maret 2011

Gambar diambil dari sini