pohon yang dipeluk petir


pohon yang dipeluk petir

 

**

 

ingatlah pada suatu pertemuan kita

di padang ilalang

dengan satu pohon yang jumawa

menantang langit

kita di bawahnya

mengurai senyap yang mendekap

sepi yang merepih

dan tahukah kau

kalau aku

menjadi kata-kata yang tak pernah

dihentikan oleh koma,

bahkan sekalipun oleh titik.

pada nyatanya aku adalah labirin

dari nurani dan logikamu

pilih mana?

aku nanap

dengan sebuah jawab

ingatlah pada suatu pertemuan kita

di padang ilalang

dengan satu pohon dipeluk petir

aku pohon itu

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

sda

10.20 pm 13 Mei 2011

kanvas


kanvas

**

 

buat aku merindu pada sebentuk taman

karena keindahannya tak hanya sepucuk bunga

tapi engkau yang sedang memetiknya

–indah

 

buat aku merindu pada sepotong pelangi

karena keindahannya tak hanya segaris warna

tapi engkau yang berbalur ungu

–eksotik

 

buat aku merindu pada segenggam malam

karena eksotisnya tak hanya purnama

tapi engkau yang bertabur bintang

–syahdu

 

buat aku merindu pada hujan

karena kesyahduannya tak hanya derasnya rinai

tapi engkau dan wajahmu yang gerimis

–elok

 

pada selembar kanvas hidupku

kau temukan semua itu ada di sana

terpesonalah…

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

04.15 12 Mei 2011

 

*mohon izin untuk saya unggah…

cabik


Cabik

**

Aku diketuk-ketuk shubuh yang ringkih bau tanah, karena sebentar lagi mati dan menghilang. Tinggalkan pesan tak usah menanti. Katanya, “Halimun saja tak dinanti selalu datang.” Mengapa kau tak merindunya? Aku dicabik-cabik air dingin yang keras menikam karena benci berakhirnya malam. Tinggalkan jejak luka tak bisa tidur lagi. Katanya, “tinggalkan angan, pergi ke luar, berjalanlah.” Mengapa kau tak lakukan segera? Aku dikayuh-kayuh angin pagi yang sebentar lagi akan tertawa hangat. Tinggalkan biru berjubah bunglon. Katanya, “Ganti warna pekatnya, jangan itu saja,” Mengapa kau terdiam? Kali ini tak ada jawab karena aku senyap yang membisu dan sekarat.

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

seharusnya ridho rhoma tak perlu bernyanyi ‘menunggumu’

selesai 04.45 am 11 Mei 2011

To be:


 

to be:

 

aku ingin menjadi hujan yang senantiasa membasahi dirimu

aku ingin menjadi huruf dari setiap kata yang terucap olehmu

aku ingin menjadi sinaran mentari pagi yang menghangatkan wajahmu

aku ingin menjadi muara sungai dari setiap kesahmu

aku ingin menjadi telaga yang meneduhkan setiap amarahmu

aku ingin menjadi mata air yang meredakan dahagamu

dan aku,

malam ini,

ingin menjadi sunyi yang menemanimu

ketika menggigil merindukanku

 

 

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hari-hari kemarin

28 April 2011

galabah


galabah

**

gumpalan sinus, cosinus,

tangen, cotangen,

secan, dan cosecan

yang tak bisa diselesaikan

karena kerumitannya,

malam ini rumit itu

menjadi

limban lara

dan

tongkah galabah

yang tak ada ujung

aku

meniti di atasnya.

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.57 28 April 2011

Kepada yang mencintai hujan malam ini


kepada yang mencintai hujan malam ini

**

aku taruhkan sepucuk rindu pada setiap tetes yang jatuh

dan menahanku untuk berbicara apa adanya padamu

diam sesungguhnya menjadi simfoni megah

kala hati kita saling berbicara

aku taruhkan segenggam cinta pada setiap rinainya yang gemetar

dan menghantam setiap sudut jalanan untuk membasahimu

terpaku menjadi raja pada maghrib ini

kala kau berjalan di istana hidupmu sendiri

sambil memutar slide persahabatan

yang akan kau persembahkan pada dunia

aku menjadi daun yang jatuh sendiri…

aku taruhkan melodi kebersamaan pada gerimis yang mengundang

dan membisikkan padamu: jangan menunggu pagi

untuk melihat jejak-jejaknya

di pucuk-pucuk ilalang, bunga, daun, ranting, dan tanah basah

kau mencium hujan malam ini

sedetik saja

hujan itu menjadi aku.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.10 23 April 2011

Judul puisi terinspirasi dari sini

dermaga


dermaga

**

 

debur ombak seringkali mengalahkan senyapnya

angin yang bertiup di atas bibir-bibir karang,

geliatnya mengalahkan sejuta pesona

matahari yang hendak tidur diam-diam,

aku adalah perahu yang hendak

kembali di keesokan hari,

berkenanlah kau menjadi dermaga

tempat aku persembahkan

segala apa yang ada di dalam samudera,

apa saja…

sudi?

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 April 2011

terlanjur


terlanjur

*

hujan menangis

di bahuku saat ini,

aku basah dengan cinta…

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.33 pm 08 04 2011

menjelma


menjelma

**

 

menjelma menjadi mimpi,

rinai hujan yang datang membisikkan padamu tadi shubuh,

menjelma menjadi sajak,

kabut yang salah paham menyelimutimu tadi malam,

menjelma menjadi burung,

awan yang pergi tanpa pamit berkata culas padamu tadi sore,

menjelma menjadi 3 jam,

rindu yang menggigit jubah kehilanganmu tadi siang,

menjelma menjadi air mata,

bahagia yang menderai di sudut hatimu barusan saja.

akulah yang menjelma …

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11.14 03 April 2011

malam ketujuh


malam ketujuh

 

tak ada yang tertulis untukmu

di sela tubuh yang menggigil

pada jam yang menabuh genderang perang

sudah tengah malam katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

biar kata-kata yang ada memuara ke laut

hanyut bersama sampah-sampah hitam ciliwung

sudah menggila katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

karena langit sudah rata dengan bumi

sudah saatnya katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

sudah malam ketujuh katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

siapa bilang?

karena setiap kata yang terucap

karena setiap huruf yang tertulis

di langit dan di bumi

semua untukmu…

aku semakin menggigil

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12.06 31 Maret 2011