FPI, ULIL, DAN MEREKA


FPI, ULIL, DAN MEREKA

Front Pembela Islam (FPI) teriak-teriak demo menuntut penutupan tempat maksiat tetapi belum tentu tempat maksiat itu segera ditutup. Tapi orang sekelas gubernur DKI Jakarta seperti Sutiyoso dengan hanya bermodal torehan tinta hitam di atas surat keputusannya, tempat maksiat sebesar apapun, sementereng apapun, dengan bekingan siapapun bisa ditutup dalam waktu semalam.

    Tanpa meremehkan apa yang telah dilakukan FPI dalam pemberantasan kemaksiatan di tanah air, fakta bahwa kekuasaan merupakan sarana paling efektif untuk merubah sesuatu adalah hal yang sulit terbantahkan. Maka banyak orang sangat ingin berkuasa, entah untuk merubah sesuatu ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

    Ini yang dilakukan oleh salah satu pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Absar Abdilla, setelah kalah dalam ajang perebutan kepemimpinan di Nahdhatul Ulama (NU) beberapa waktu yang lalu. Ulil sepertinya nyaman diajak bergabung ke partai penguasa, Partai Demokrat pimpinan Anas Urbaningrum. Dan yang pasti Ulil tahu betul kalau dekat-dekat dengan partai penguasa ia akan memperoleh keuntungan. Minimal untuk menyebarkan ide-ide pluralismenya secara lebih luas.

     Terbukti, pada saat ada momen pengusiran anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ribka dan Rieke, dalam sebuah pertemuan di Banyuwangi yang dilakukan oleh ormas Islam salah satunya FPI, maka Ulil langsung berteriak kencang dan melakukan penggalangan opini untuk membubarkan musuh ideologi lamanya itu. Menurut dia, FPI adalah ormas yang sering melakukan kekerasan secara sistematis dalam setiap kegiatannya. Sehingga pewacanaan pembubaran FPI harus terus menerus digaungkan.

    Kini Ulil sudah punya tempat strategis agar suaranya bisa didengar lebih kencang lagi. Dulu mungkin hanya kalangan tertentu saja—baik kawan atau lawan—yang tahu begitu rupa tentang Ulil dan pemikirannya. Dengan bergabungnya dia dengan lingkaran kekuasaan dia dapat bebas dan mudah untuk semakin menggalang kekuatan melalui jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kiri dan liberalnya. Yang berarti pula Ulil semakin dekat dengan media yang akan sering menjadikannya narasumber. Ini semakin tidak mudah buat para pegiat Islam yang sering bertarung pemikiran dengannya.

    Maka bagi para muslim yang biasa bergerak dalam dunia pergerakan Islam, selayaknya untuk merapatkan barisan, konsisten dalam mewujudkan visi dan misinya, tak perlu berselisih dan saling melontarkan kecaman serta menuduh pergerakan Islam lainnya telah keluar dari garis perjuangan.

Tak perlu alergi dengan kekuasaan. Karena bila kekuasaan berada di tangan orang-orang yang sholeh tentunya kekuasaan itu diarahkan kepada perbaikan. Maka memperbanyak orang-orang sholeh dalam dan dekat dengan pusat kekuasaan menjadi sebuah kemestian.

Mereka yang telah berada dalam sistem kekuasaan itu diharapkan semakin bekerja lebih keras lagi dalam membumikan nilai-nilai Islam pada setiap kebijakan yang akan diambil, menunjukkan kebersihan dan kepeduliannya pada mustad’afin (orang-orang lemah). Mereka yang berada di luar sistem tentunya harus lebih dapat memberikan pencerahan kepada umat, membangun jaringan, mengalirkan semangat persatuan para qiyadah (pemimpin) setiap pergerakan kepada akar rumput dan tentunya masih banyak lagi yang lainnya.

Maka jika itu benar terwujud, tak perlu khawatir FPI akan dibubarkan dan terserah Ulil mau ngomong apa.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di tengah Paraguay kesulitan menjebol gawang Jepang

11.07 29 Juni 2010

AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?


AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?

Masjid di komplek perumahan kami ini bernama Al-Ikhwan. Bangunannya sejak tahun tahun 2001 belum pernah utuh menjadi sebuah masjid. Setelah bergonta-ganti panitia dan telah menghabiskan dana swadaya masyarakat lebih dari 100 juta rupiah, masjid ini pun masih belum beratap. Yang ada cuma reng baja.
Untuk melanjutkan pembangunan ke tahap pengatapan memerlukan dana tunai yang tidak sedikit kurang lebih 75 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya pemasangan lantai, pemelesteran dan pengecatan dinding, pengadaan kusen dan kamar mandi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sudah banyak usaha yang dilakukan pengurusnya dalam hal penggalangan dana, mulai dari pengumpulan infak dan zakat penghasilan dari donatur, penitipan kotak infak di tiga SPBU, atau penyebaran banyak proposal. Tapi sampai jelang ramadhan 1427 ini pemasangan atap sebagai target utama selanjutnya tidak kunjung terealisir.
Akhirnya agar sholat tarawih bisa terlaksana di bangunan utama masjid—selama ini memakai bangunan kecil yang sudah ada di bagian bawah meskipun tidak layak untuk menampung banyak orang karena kurangnya ventilasi—maka pengurus pun berinisiatif untuk membeli terpal sebagai pengganti atap metal sambil menunggu terkumpulnya dana tersebut.
Maka terpasanglah sudah atap terpal plastik berwarna biru di masjid kami ini. Dan sudah tiga hari tiga malam ini kami melaksanakan sholat berjamaah di bawah atap itu. Jumlah jamaah pun meningkat—tidak sama saat masih di bawah. Ini dimungkinkan karena luasnya masjid dapat menampung mereka semua. Yang kami tidak bisa bayangkan adalah bagaimana kalau hujan deras benar-benar turun. Kuatkah terpal itu untuk menahan derasnya hujan? Allohua’alam. Kami berharap selama ramadhan ini tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas ibadah kami mengisi ramadhan.
Nah, di Sabtu Sore kemarin jelang 1 ramadhan 1427, di saat takmir masjid sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan shalat tarawih, datanglah tetangga saya—yang diikuti dengan sepasang suami istri bertampang arab. Yang laki-laki berpostur khas timur tengah, hitam, tinggi besar. Berbaju putih lengan panjang tanpa krah dan celana jin warna hitam. Sedangkan yang wanitanya berabaya hitam dengan cadar menutupi sebagian mukanya—walaupun ia tidak menutupi dengan rapat telapak kakinya yang sempat tersembul.
Yang laki-laki tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga saat dia berbicara diterjemahkan oleh istri tetangga kami—sebut saja Ibu Ning—yang sempat bermukim di Riyadh selama beberapa tahun. Yang perempuan sanggup berbicara lokal walaupun dengan logat yang aneh. Mungkin karena sudah kelamaan tinggal di bumi Nejed.
Ibu Ning memperkenalkan dua orang tamu tersebut sebagai keponakannya. Suami keponakannya itu—katanya masih keturunan kerajaan, entah menjabat sebagai apa, yang pasti sebutannya adalah Amir—ingin melihat langsung masjid di sini dan berdialog dengan para pengurusnya.
Memang beberapa tahun lalu kami pernah menyampaikan proposal kepada Ibu Ning untuk disampaikan kepada keponakannya. Tapi sampai detik ini tidak ada dana yang cair dari Arab. Ini mungkin dikarenakan suami keponakannya ini belum sempat untuk berkunjung ke tempat kami. Ia dikenal berhati-hati dengan permintaan proposal pembangunan masjid dari Indonesia, soalnya pernah kejadian ternyata masjid yang dibangun tidak sesuai dengan dana yang diberikan. Dana yang diminta tinggi tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang di proposal atau yang dibangun cuma musholla kecil. Istilahnya ada markup dana masjid bodong.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan kami, sang Amir ini pun langsung saja ambil gambar dengan telepon genggam berkameranya. Atap terpal, dinding yang tidak berplester, lantai semen, dan banyak lagi gambar yang diambil olehnya. Setelah itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan olehnya. Satu yang menggelitik adalah: ”masjid ini masjid ahlul bid’ah bukan?” Yang ia maksud adalah sering diadakan acara-acara bid’ah di sini. Soalnya kalau benar demikian, ia tidak akan menyumbang. Kalau menyumbang ia merasa berdosa. Sang ketua takmir, menjawabnya dengan mantap: ”Insya Allah tidak”. Dalam hati saya berkata: ”Ya…Amir, kalau ente bilang bid’ah, belum tentu bid’ah bagi kami”.
Pertanyaan yang lain adalah ”apakah pengurusnya amanah?. Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Ibu Ning dengan nada penuh percaya diri, ”Insya Allah amanah.”
Namun saat sang Amir ini melihat halaman judul proposal di mana nama Masjid Al-Ikhwan ditulis dengan huruf besar-besar, sang Amir protes dan mengusulkan untuk diganti saja. Maksudnya biarlah nama masjid yang ditulis di proposal yang diubah. Dengan nama apa pun boleh asal jangan Al-Ikhwan.
Ketika ditanya mengapa demikian? ”Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, orang nanti takutnya tidak mau pada menyumbang.
Wow…mantap sekali. Kami berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Bila yang benar adalah yang pertama, maka pertanyaan saya adalah sampai sejauh itukah kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin terjadi? Sampai ke akar rumput. Atau cuma di akar rumput. Soalnya dari apa yang saya lihat terdapat buku-buku hasil dari tesis dan disertasi di sana yang membahas tema Ikhwanul Muslimin ini dan ini tidak menjadi masalah. Atau ini karena kedewasaan berpikir dan keilmiahan yang menjadi tradisi dari kalangan akademis sana. Allohua’lam, karena saya tidak pernah hidup di tanah arab.
Setelah kami mengganti kaver depan proposal pembangunan masjid dengan nama yang lain, Masjid Citayam —istrinya sempat mengusulkan diganti menjadi Jannatul Khuld—kami pun dijanjikan bahwa Insya Allah ramadhan akan menjadi bulan barokah buat masjid kami ini. Maksudnya ia bertekad akan menuntaskan tahap pengatapannya. Karena banyak kawannya yang rajin berinfak dan sangat senang membangun masjid—sebagai bekal rumah di surga—di saat bulan ramadhan. Kami cuma bisa bersyukur saja. Namun tidak harap-harap cemas karena sudah banyak kami diberi janji tapi nihil realisasi.
***
Setelah mereka pergi, sore itu saya mendapatkan pelajaran ’penting’ bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Padahal belum pernah saya menemukan dalilnya bahwa memberikan infak itu harus melihat nama mustahiqnya terlebih dahulu. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? Allohuta’ala a’lamu bishshowab.

Kader Masjid Al Ikhwan 
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:46 26 September 2006