Rehat Sejenak


16.09.2005 – Rehat Sejenak…

Sudah saatnya saya rehat, setelah hampir enam bulan lamanya tidak cuti. Sudah saatnya saya berhenti sejenak *) untuk melepas lelah, walaupun selama seminggu ini pekerjaan sudah tidak ada lagi di meja saya. Sudah saatnya saya menghirup nafas kelegaan setelah selama berminggu-minggu lamanya dihujani putusan pengadilan pajak yang kesemuanya itu dimenangkan oleh Wajib Pajak.
Maka tiada yang dapat saya ucapkan kepada kawan selain permohonan maaf jika selama ini ada kata dan perbuatan yang sengaja atau tidak sengaja telah menggores hati dengan rasa sakit. Telah membuat hari-hari kawan semakin bertambah ‘manyun’ dan menggelap laksana awan mendung di puncak sana. Dan telah membuat banyak mata tidak segera terpejam saat malam telah larut kerana–sekali lagi–ada hati yang tergores. Itu pun jika…
Maka, sudilah saya untuk menjura seribu kali untuk permintaan maaf tiada terkira. Kiranya saya berharap dengan rehat itu, saya mendapatkan kembali semangat untuk bekerja (beramal), bekerja (beramal), dan bekerja (beramal). Mendapatkan kembali semangat untuk menulis, menulis, dan menulis lagi serta berbagi, berbagi, dan berbagi apa saja kepada kawan. Bukan kesedihan dan lara (karena itu cukup buat saya saja) yang terbagi, tapi kegembiraan, kebahagiaan, dan suka ria.
Seperti apa yang disunnahkah oleh Rasulullah, untuk selalu berwasiat jika seorang muslim melakukan perjalanan, maka saya pun berwasiat untuk diri saya sendiri khususnya dan kepada kawan semua: “Yuk, kita sama-sama melakukan kebaikan, sedikit apa pun kebaikan itu. Karena kebaikan selalu membersihkan, mencerahkan, dan membuat bening di hati.” Terpenting pula, semuanya karena Allah Ta’ala.
Terakhir, izinkan saya berkata-kata:

Jikalau kebahagiaan itu bisa dibeli
maka aku akan membelinya dengan gunungan harta,
tapi banyaknya harta
tak mampu aku membeli kebahagiaan itu,
kerana kebahagiaan bukanlah kebahagiaan jasmani semata
tapi kebahagiaan batin pun menjadi suatu kemestian.
maka keseimbangan arruh, al’aql, aljasad menjadi sebuah kunci
tuk meraih kebahagiaan hakiki.

Wassalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

dedaunan di ranting cemara
untuk rehat sejenak di antara 19 hingga 26 September 2005
15:47 16 September 2005

*) mengutip judul buku terbaru Bayu Gawtama

Sesaat dengan Pesona Jepang


sesaat dengan pesona Jepang

Setelah selama dua pekan dibombardir dengan Azumi, Azumi 2: Death or Love, Zaitoichi, Zaitoichi 2, maka pengelanaan saya tiba di media cetak berupa buku. Dari Tales of the Otori, Perang Pasifik, hingga Musashi. Entahlah, tiba-tiba saya tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang budaya Jepang, tentang kekaisaran Jepang, dan tentang para shogunnya.
Saya terpesona dengan efisiennya gerakan pedang mereka yang hanya satu dua kali gerakan sudah dapat menjatuhkan lawan. Saya terpesona dengan kegigihan mereka di setiap medan peperangan di Perang Dunia II. Saya terpesona dengan adat istiadat yang amat melekat dalam diri setiap orang Jepang. Dan saya terpesona dengan kepatuhan istri seorang ronin yang selalu mengikuti dari belakang kemana suaminya pergi.
Keterpesonaan saya ini seperti keterpesonaan saya terhadap budaya cina saat saya membaca banyak cerita silat Kho Ping Ho. Dulu, dulu sekali. Saat umur saya baru belasan tahun. Saat saya masih duduk di bangku SMP. Dengan keterpesonaan itu saya membayangkan dapat pergi ke Cina hanya untuk mendapatkan ilmu kanuragan (sinkang) dan ilmu meringankan tubuh (ginkang) yang hebat. Atau berkelana dari gua-gua di seantero Cina hanya untuk mendapatkan seorang guru yang mengajarkan semua ilmu itu kepada saya. Dulu, dulu sekali.
Keterpesonaan yang sama pun terjadi ketika saya mempelajari puncak kejayaan para khilafah Islam. Keterpesonaan yang mengakibatkan saya membayangkan jika bisa kembali ke masa lampau untuk bisa ikut dalam ekspedisi Klalid bin Walid ke Yarmuk, atau ekspedisi Sa’ad bin Abi Waqqash ke Persia. Atau ekspedisi penaklukan Yerussalem oleh Salahuddin Al-Ayyubi, atau penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih. Pun keterpesonaan pada indahnya istana-istana Damaskus, Baghdad, Cordova, dan Granada.
Kembali kepada keterpesonaan saya terhadap budaya Jepang, saya sampai berpikir dengan efisiennya gerakan pedang mereka. Bahwa untuk menjatuhkan lawan tak perlu banyak gerakan dan jurus seperti apa yang diperlihatkan film-film Cina. Apakah ini merupakan inkarnasi budaya Jepang masa lalu yang tercermin dalam kehidupan masyarakat Jepang kini? Sehingga dengan keefisienan itu, kita melihat betapa maju dan moderennya Jepang saat ini setelah Perang Dunia yang menghancurluluhkan Jepang.
Namun dari empat film yang saya tonton itu, semuanya mempertontonkan kekerasan, warna merah darah, yang muncrat, yang mengalir deras dari leher, jiwa-jiwa dengan harga murah, dan sadistis. Pertanyaannya adalah inikah pula cerminan dari jiwa-jiwa masyakarat Jepang saat ini? Sakit dan sekali lagi sadis?
Pada masalah sadistis, sebenarnya bukan hal yang baru. Dan dapat dicari fakta-faktanya pada masa penjajahan Jepang di bumi Indonesia. Tak usah jauh-jauh, Kakek saya di Jatibarang, Indramayu disiksa dengan kaki yang terikat pada tali timba sumur lalu diceburkan dan ditarik kembali, demikian dilakukan berulang kali hingga beliau meninggal. Lalu hartanya pun dirampas. Fakta lainnya adalah wanita-wanita jajahan yang dijadikan sebagai geisha pemuas nafsu para prajuritnya. Dan masih banyak sadisme yang dipertontonkan Jepang tidak hanya di Indonesia tapi pada semua daerah jajahannya. Seperti di Philipina, Cina, Korea, Burma, dan lain-lainnya.
Lalu keterpesonaan apa pula hingga saya membandingkan kekaguman dengan rasa jijik atas sadisme itu? Ya, keterpesonaan yang sesaat. Sesaat karena pekan-pekan ini saya dihujani dengan budaya itu. Maka saya akan melupakannya jika saya membombardir otak saya dengan bacaan dan tontonan yang lain. Akan selalu terpesona kembali dengan yang baru.

dedaunan di ranting cemara
di antara ala kadarnya saja
10:35 16 September 2005

Belanja Buku Bekas


13.09.2005 – Belanja Buku Bekas

Kalau Anda menginginkan buku murah dan berkualitas, datang saja ke Kwitang. Di sana banyak dijual buku-buku bekas. Sebenarnya tidak bisa juga dikatakan buku bekas, karena saya lihat banyak sekali buku yang tampilannya cukup menawan. Mungkin saja buku-buku itu adalah sisa buku yang tak terjual di toko-toko buku besar.
Harganya cuma berkisar antara Rp3000,00 sampai Rp10.000,00. Seperti buku yang saya beli tadi siang di sana. Lima Unsur Musashi: Panduan Strategi Klasik karya Miyamoto Musashi dijual hanya tiga ribu perak saja. Satu lagi: Membaca dan Menulis Wacana: Sebuah Petunjuk Praktis bagi mahasiswa dan Penulis Lainnya yang ditulis oleh Josep Hayon dijual lima ribu perak.
Apalagi kalau Anda pecinta buku Islam, di sana–dalam gang sempit–ada lapak yang dapat menjual buku dengan harga 70% dari harga toko. Lapak yang dimiliki oleh seorang nenek dan uda itu adalah langganan saya sejak tahun 1995. Biasanya buku yang dijual di sana adalah buku yang dalam kondisi 99%. Kemungkinan besar buku itu adalah limpahan dari penerbit yang mengalami cacat produk. Seperti kertas yang tak sewarna, ada yang putih dan kecoklat-coklatan, atau ada satu dua halaman yang kosong.
Biasanya saya dapat berjam-berjam untuk hanya sekadar melihat-lihat dan mencari buku-buku yang bermutu. namun untuk siang kali ini, karena saya diantar teman, jadi tidak enak untuk berlam-lama di sana. Tapi yang penting keinginan saya membeli buku kali ini terpuaskan hanya dengan biaya yang sangat murah.Lain kali saya akan kembali lagi.Tunggu saja…
dedaunan di ranting cemara
di antara P.K. Ojong dan Fred R David
14:23 13 September 2005

Rinduku Untukmu


Rinduku Untukmu…
(Episode Tasikmalaya)

Hujan masih saja merintih menghitung genting di luar sana. Tak peduli pada malam yang kian tenggelam dalam selimut halimun. Tak peduli pada diriku yang memandang kegelapan di balik jendela kamar. Tak peduli padaku yang melanglangkan ingatan-ingatan pada masa-masa lalu.
Tak peduli padaku yang tiba-tiba teringat Zatoichi tercenung saat hujan tiba di rumah Bibi Oume. Memandang dan merenungi hujan itu, mengingat pertempuran melawan delapan orang yang dengan mudahnya semuanya ia tebas. Membuat tanah becek semakin becek dengan darah.
Tidak, tidak, saat ini, saat hujan ini, aku lebih merindui Tasikmalaya. Merindui sudut-sudut salah satu desanya. Merindui dinginnya malam. Merindui subuh yang semakin menggigit. Merindui cahaya matahari pagi. Merindui kicau burung. Merindui gemericik air pancuran. Merindui kokohnya saung di lebak. Merindui dua rakaat dhuhanya. Merindui dzikirnya. Merindui perjalanan pulang di pematang sawah. Merindui ikan-ikan di kolam belakang. Merindui kepulan uap nasi. Merindui sambal terasinya. Merindui duh…Gusti, saat ini aku merindui Tasikmalaya. Merindui sudut-sudut salah satu desanya.
Salah satu desa itu adalah Margalaksana di wilayah Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Desa yang menjadi tempat pelarian paman-pamanku waktu tahun 60-an, sewaktu gerakan PKI mendapat tempat di republic ini. Sebagai ketua gerakan dan aktivis kepemudaan Nahdhotul ‘Ulama Ketanggungan, Brebes , beliau bersama adik-adiknya menjadi sasaran empuk untuk diintimidasi bahkan bila perlu dibantai. Maka untuk sementara, menunggu arah angin berubah, mereka hijrah ke sana. Namun hijrah itu tidak sementara, keempat paman itu memperistri gadis, beranak pinak, dan bermata pencaharian di sana hingga kini.
Jadilah di sana tempat aku menghabiskan masa liburan sekolah yang panjang. Dan terakhir adalah sepuluh tahun yang lampau. Saat aku masih menjadi mahasiswa Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan. Liburan panjang itu tiba. Kini saatnya aku pulang kampung—setelah berjuang habis-habisan dengan ujian-ujian sulit—seperti kebiasaan teman-teman kampus yang pada pertengahan tahun berritual untuk mengosongkan kampus, kecuali para mahasiswa yang menjadi panita penyambutan mahasiswa baru.
Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku, kiranya aku sempatkan beberapa hari terlebih dahulu di Tasikmalaya baru setelah itu pulang ke Jatibarang, Indramayu. Maka bersiap-siaplah aku berpetualang.
Dari kampus ba’da sholat Jum’at, aku pun melaju dengan angkutan umum menuju stasiun Senen untuk mengejar Kereta Ekonomi Galuh jurusan Tasikmalaya – Banjar. Ini pengalaman pertama bagiku ke Tasimalaya dengan menggunakan jasa kereta api.
Kereta ekonomi yang seharusnya berangkat jam tiga sore, molor satu jam lebih dari jadwal semula. Kereta berangkat meninggalkan stasiun dengan tidak banyak penumpang yang memenuhi gerbong. Sehingga aku dapat meluruskan kaki ke kursi depanku yang kosong. Sambil membaca buku yang aku bawa, sesekali aku melihat ke luar jendela, melihat senja yang mulai turun dan meninggalkan jejak-jejak jingganya.
Adzan maghrib mulai berkumandang saat memasuki daerah Purwakarta yang berkelok-kelok. Aku sangat menikmati sayup-sayupnya yang keluar dari bukit-bukit nun jauh di sana. Oh Rabb, aku merindui sayup ini.
Tiba-tiba ketika aku sedang berasyik masyuk, ada seruan kepada seluruh penumpang untuk diharapkan menuju ke gerbong depan karena gerbong yang saya naiki dan masih ada lima gerbong lainnya di belakang tidak berpenerangan. Sehingga dikhawatirkan terjadi kerawanan, oleh karena itu kondektur kereta menyarankan demikian. Aku pun menurutinya dan mencari tempat duduk yang masih ada di gerbong yang terang benderang itu.
Bandung pun terlewati begitu saja, tanpa aku sadari karena terlelap oleh kantuk yang menyerangku. Namun ada yang eksotik dengan stasiun di antara bandung dan Tasikmalaya, yang kereta ini sempat untuk berhenti lama di sana, sayangnya aku lupa stasiun itu.
Dengan bangunan peninggalan zaman Belanda, kubah tinggi di atas selasarnya, dan hanya diterangi lampu bohlam yang temaram benar-benar membuatku terasa bukan berada di zaman moderen, namun seperti berada di masa-masa kemerdekaan. Tinggal aku menuliskan merdeka atau mati! di tembok stasiun maka lengkap sudah flashback ini. Benar-benar aku tertegun cukup lama. Rasa melankolisku kembali bangkit mengenang masa-masa perjuangan dulu. Duh Gusti aku merinduinya.
Tasikmalaya sudah di depan mata. Perjalanan memakan waktu kurang lebih tujuh jam. Jarum pendek jam di statiun sudah mengarah ke angka sebelas. Aku mencari mushola untuk menunaikan sholat jamakku, namun pintu mushola sudah terkunci rapat dan gelap. Akhirnya aku putuskan untuk sholat di luar stasiun.
Pada saat keluar dari stasiun itu aku baru tersadar bahwa ternyata angkutan kota sudah tidak beroperasi lagi pada jam-jam seperti ini. Maka dengan berbekal petunjuk dari orang-orang sekitar stasiun aku melangkahkan kaki ke Masjid Raya Tasikmalaya. Sengaja aku tidak naik ojek supaya bisa irit maklum aku masih mahasiswa.
Perjalanan menuju masjid raya terasa jauh, namun aku bertekad untuk ke sana dengan harapan aku bisa istirahat dan tidur di sana, dan dengan semakin semakin mendekati pusat kota aku kiranya mendapatkan angkutan yang mungkin saja masih beroperasi.
Masjid Raya setali tiga uang dengan mushola yang ada di stasiun. Terkunci rapat, tidak ada satu dari banyak pintu yang sudi membuka sedikit untuk aku. Aku pun sholat di teras masjid. Niat aku untuk beristirahat dan tidur hingga pagi terpaksa aku batalkan, karena aku tidak kuat menahan dingin angin malam di teras berlantai marmer itu. Oh ya, waktu itu aku tidak punya jaket lho.
Angkutan kota benar-benar nihil. Setelah bertanya kesana kemari, aku mendapatkan keterangan bahwa angkot baru ada pukul lima pagi. Wah, tidur dimana aku. Dan terminal pun masih sangat jauh dari masjid. Akhirnya ada seorang tukang ojek yang masih berbelas kasihan denganku. Ia bersedia mengantarkanku ke terminal hanya dengan setengah ongkos perjalanan.
Kepada tukang ojek itu aku menghaturkan banyak terimakasih saat aku telah sampai di Terminal. Di sana aku hanya menjumpai mobil angkutan yang cuma beberapa. Lagi-lagi aku mengalami keterkejutan angkutan pedesaan yang menuju Salawu baru akan datang dan berangkat jam dua nanti. Terpaksa aku mencari kenyamanan di sebelah Tukang Ulen Bakar. Aku hanya bisa memandangi saja, tak bisa menikmati makanan yang termasuk favoritku itu. Maka aku terduduk meringkuk, merapatkan tangan ke lututku, menahan dingin dan lapar selama satu jam lebih.
Penderitaanku berakhir saat angkutan pedesaan itu tiba dan langsung terisi penuh oleh banyak penumpang. Kulepaskan lelah dan penatku dengan tidur selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju Margalaksana.
Akhirnya sampai juga di rumah “uwak”ku yang persis di pinggir jalan besar Garut Tasikmalaya. Aku menghirup udara sepertiga malam terakhir dalam-dalam dan kehembuskan sekuat-kuatnya. Lega rasanya.
Tapi dikejauhan tiga orang sepertinya bergegas menuju ke arahku. Aku tidak pedulikan mereka, aku pikir mereka adalah para peronda kampung. Segera saja aku masuk ke halaman rumah, dan mengetuk pintu. Lima menit lamanya aku mengetuk sampai beberapa saat kemudian pintu itu pun terbuka. Di seberang jalan, kulihat tiga orang itu masih memandangi aku.
******
Sarapan yang menggugah selera bersama keluarga uwak. Nikmat sekali, ceria, ramai dengan gurauan. Dari situlah aku mendengar bahwa aku sempat dicurigai sebagai salah satu anggota komplotan maling oleh para peronda kampung. Tapi semuanya bisa dijelaskan oleh uwakku waktu ia sholat shubuh di masjid. Aku tersenyum saja. Ah teganya mereka menuduh aku yang sedang kelaparan pula.
******
Sungguh kawan, aku masih tentang perjalanan itu. Masih aku merindui semuanya itu. Merindui dhuha di lebak itu. Hingga terinspirasi semua itu, aku buat puisi ini:

matahari dhuha merambati waktu
ketika sinarnya menghangatkan
pucuk-pucuk dedaunan
menggiring hati ke kehampaan
yang meradangkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

sungai bening mencumbui tanah
ketika riaknya membasahi
akar-akar pepohonan
melautkan hati ke kehilangan
yang membakarkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

burung kecil menghiasi langit
ketika kicaunya meramaikan
putih-putih awan
menerbangkan hati ke ketinggian
yang menyesakkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

rokaat pendek mengukir sajadah
ketika dzikirnya membisikkan
rongga-rongga dada
mengkhusukkan hati ke kesucian
yang membersihkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

matahari ashar mengguliri sore
ketika lelahnya menguliti
pori-pori tubuh
mencabikkan hati ke kemeranaan
yang menyakiti diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

aku lelah
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari itu
karena senin masih jauh
di ufuk…

****
Aku menikmati liburan itu di sana. Menyusuri pematang sawah, jalan-jalan lengang, memancing ikan, ngaliwet di gunung, berselimut tebal saat malam, hingga rokaat-rokaat di sepertiga malam terakhir. Duh, indah nian rasanya. Duh, gelegaknya rindu ini. Duh….
Kawan, kapan aku bisa kembali ke sana, atau memutar kembali waktu yang telah berjalan?
Kini aku sedang merindui Tasikmalaya dan sudut-sudut desanya.

****

dedaunan di ranting cemara
di antara rindu untukmu
16:47 10 September 2005

Gus Dur, Jangan Kau Katakan Itu!


kepada siapakah ‘walanaa a’maalunaa walakum a’malukum kita katakan?

Tertarik dengan suatu kalimat yang dikemukakan fulan pada polemik tentang jilbab antara saya dengannya yaitu: Walanaa a’maalunaa walakum a’malukum, maka saya berusaha untuk mencari darimana kalimat ini berasal, soalnya sepengetahuan saya yang awam ini, kalimat yang biasa terdengar dalam suatu perbedaan terutama dalam masalah ‘aqidah antara Muslim dan Nonmuslim adalah Lakum diinukum waliyadiin: untukmulah agamaku dan untukkulah agamaku.
Ternyata saya menemukannya di suatu buku kecil yang berjudul Bahaya Pemikiran Gus Dur yang ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz Penerbit Pustaka Al-Kautsar halaman 41, di mana dalam buku itu disebutkan: Gus Dur menulis: Bahkan, dalam hal perbedaan agama, kita diperintahkan berbeda keyakinan, tetapi boleh bersama-sama dalam hal perbuatan. “Bagi kami amal perbuatan kami bagi kamu amal perbuatan kamu.” (walanaa a’maalunaa wa lakum a’malukum).
Sampai di sini saya tercenung ternyata kalimat dalam ayat ini sering juga digunakan oleh Gus Dur. Lalu saya ambil terjemah Al-Qur’an dan membaca selengkapnya ayat tersebut.
Dalam Surat AlBaqoroh ayat 139 berbunyi sebagai:
Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Alloh, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan Kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.
Ayat sebelumnya adalah ayat 138 berbunyi sebagai berikut:
“Shibghah Alloh. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Alloh? Dan hanya kepada-Nya lah kami menyembah.
Ayat sesudahnya yaitu ayat 140 berbunyi sebagai berikut:
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaw, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau NAsranai? Katakanlah : “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Alloh, dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Alloh yang ada padanya?” Dan Alloh sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
Ayat 141 berbunyi sebagai berikut;
“Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang mereka kerjakan.”
Dalam catatan kaki nomor 91 disebutkan arti tentang Shibghah artinya celupan. Shibghah Alloh yang berarti iman kepada Alloh (agama ) yang tidak disertai dengan kemusyrikan.
Sedangkan pada catatan kaki nomor 92 dijelaskan tentang arti dari syahadahat dari Alloh ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim a.s. dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Alloh akan mengutus Muhammad saw.
Saya yang awam ini mencoba memahami, bahwa ternyata penggunaan kalimat Walanaa a’maalunaa walakum a’malukum, digunakan dalam konteks perdebatan tentang Alloh dengan kaum musyrikin (lihat catatan kaki nomor 91) dan kaum Yahudi dan Nasrani (lihat ayat 140), jadi tidak tepat kalau digunakan dalam konteks perdebatan selain ‘aqidah, atau itu memang sudah tepat kalau memang Fulan menganggap lawan debatnya sebagai orang yang di luar Islam, tapi saya tak berani untuk menyimpulkannya demikian sebelum saya membaca kitab tafsir.
Di dalam buku Hartono Ahmad Jaiz (hal 42) pun disebutkan tentang penafsiran kalimat menurut kitab tafsir Ibnu Katsir yang Insya Alloh terpercaya pada halaman 235 jilid I dijelaskan arti dari Walanaa a’maalunaa walakum a’malukum yang berarti kami berlepas diri dari kamu sekalian (borooun minkum) dan dari apa yang kamu sembah, sedang kamu sekalian lepas diri dari kami. Sebagaiman Alloh telah berfirman dalam ayat yang lain:
“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan (Q.S. Yunus:41).”
Dalam menafsiri ayat 41 Surat Yunus, Ibnu Katsir menjelaskan: Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallohu alaihi wa sallam, dan jika mereka orang-orang musyrikin mendustakanmu maka kamu berlepas dirilah dari mereka dan perbuatan mereka maka katakanlah:”Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
“Katakanlah: Hai orang-orang yang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. (QS 109/Al-Kaafiruun):1-6)
Jadi dari beberapa rujukan tadi kiranya kurang tepat kalau Fulan menggunakan sepenggal ayat Walanaa a’maalunaa walakum a’malukum dalam hal perdebatan tentang hukum Alloh itu kepada sesama Saudaranya yang seakidah (?), karena sekali lagi konteks penggunaan ayat itu adalah dalam hal perdebatan tentang keberadaan Alloh (‘aqidah) dengan kaum Musyrikin.
Nah jadi bagaimanakah bila kita berdebat dengan saudara se’aqidah, ada taushyiyah dari teman saya alangkah baiknya jika kita menggunakan kalimat:
Watawaashowbilhaqqi watawaashowbishshobri: nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran.
Dan tentu kebenaran yang sudah ditentukan dalam Al-Quran dan Assunah, tentang halal dan haramnya, wajib dan sunnahnya, dan apa yang telah digariskan oleh generasi para salafushsholeh tidak perlu diperdebatkan lagi. Islam itu benar dan dari 73 golongan yang muncul hanya satu yang selamat: Ahlussunnah waljama’ah. Siapakah mereka tentu mereka yang memegang erat di gerahamnya dua wasiat rosul Al-qur’an dan Assunnah.
Begitulah pendapat saya, semoga kebenaran itu tetap jelas di hati-hati kita semua. Dan kita ditunjukkan yang batil itu batil sehingga kita bisa membuangnya segera. Hanya Allohlah yang MahaBerilmu, dan hanya kepada Alloh lah kami mohon ampunan-Mu atas segala kelancangan lidah dan hati kami. Allohua’lam bishshowwab.

dedaunan di ranting cemara
di antara tulisan lampau
07:54 02 September 2005
telah diedit

Kemana Pajak Penerangan Jalan Kami?


Sabtu pagi, sebagian warga RT 011 RW 017 Komplek Puri Bojong Lestari melakukan kerja bakti. Pada umumnya, kerja bakti adalah sarana warga masyarakat untuk bersilaturahim antarpenghuni komplek, membangun serta memelihara sarana-sarana umum. Namun kerja bakti kali ini termasuk yang tidak biasanya, yakni mencabuti lampu-lampu penerangan yang ada di tiang di sepanjang jalan RT kami. Ada apa gerangan?
Ya, RW kami mendapat surat resmi dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menertibkan sendiri sambungan-sambungan liar termasuk lampu-lampu penerangan di sepanjang jalan komplek kami, karena PLN menganggap bahwa pemasangan lampu-lampu penerangan itu adalah ilegal. Apabila tidak ditertibkan segera maka PLN akan terpaksa menertibkannya sendiri dan membawa semua peralatan-peralatan penerangan jalan itu.
Maka bersegeralah kami membereskannya agar lampu-lampu serta aksesorisnya dapat kami amankan. Karena bila tidak, maka peristiwa dua tahun lalu yang menimpa tetangga komplek kami akan terulang. Lampu-lampu hasil patungan dan swadaya masyarakat sendiri diambil paksa oleh PLN.
Masyarakat pun resah, bahwa lampu-lampu penerangan itu bukan untuk kepentingan pribadi tapi kepentingan masyakarat pada umumnya. Agar jalan-jalan di komplek kami tidak gelap dan terang benderang, pencuri pun akan berpikir ulang untuk bertindak. Juga yang paling tidak dimengerti oleh kami sebagai masyarakat kenapa lampu-lampu penerangan itu perlu ditertibkan sedangkan pada setiap bulannya mereka wajib membayar Pajak Penerangan Jalan sebesar 3% dari total beban yang dibayarkan. Kemana dan untuk apa uang kami sebagai pembayar pajak.
Pajak Penerangan Jalan termasuk pajak daerah. Tentu karena ini namanya pajak maka harus ditentukan oleh undang-undang. Untuk pajak daerah maka daerahlah yang menentukan seberapa besar prosentase tarif pemungutan tersebut dengan peraturan daerah (perda) yang disetujui oleh para wakil rakyat yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Besaran 3% itu dipungut oleh Pemerintah Daerah (Pemda) melalui PLN dalam setiap bulannya dari masyarakat pelanggan PLN. Pemda setelah mendapat pajak tersebut mulai menghitung seberapa besar rupiah yang harus diserahkan kepada PLN berdasarkan jumlah lampu-lampu penerangan yang terdaftar dalam catatan Pemda.
Pada titik inilah terjadi permasalahan, PLN merasa bahwa rupiah yang diterima tidak sebanding dengan jumlah beban yang dikeluarkan untuk lampu-lampu penerangan jalan itu. Sedangkan Pemda ngotot, besaran itu sesuai dengan jumlah penerangan yang ada dalam catatan Pemda. Maka untuk mengurangi kebocoran beban dilakukanlah upaya PLN untuk menertibkan semuanya dengan melakukan aksi pencabutan lampu-lampu penerangan jalan yang tidak terdaftar di Pemda.
Pertanyaannya adalah digunakan untuk apa saja uang hasil pajak itu oleh Pemda. Uang pajak itu seharusnya digunakan untuk pemeliharaan lampu-lampu jalanan serta penambahan titik-titik penerangan. Sehingga di kemudian hari semua jalanan di wilayah itu sudah mempunyai cukup penerangan. Disinilah sering terjadi penyalahgunaan, uang itu kebanyakan digunakan dan dialihkan untuk pengeluaran-pengeluaran Pemda yang tidak berkaitan dengan penerangan jalan. Jadi PPJ digunakan oleh Pemda hanya sebagai alat budjeter, pengumpul uang yang targetnya selalu dinaikkan dari tahun ke tahun. Sedangkan target penambahan titik lampu diabaikan oleh Pemda.
Masyarakat yang menunggu apa yang akan diperbuat oleh Pemda dengan uang PPJ itu hanya termangu begitu saja. Seperti menunggu Godot yang tiada kunjung tiba. Akhirnya daripada akan menimbulkan kerawanan lingkungan akibat tiadanya penerangan jalan, masyarakat pun berswadaya untuk melakukannya secara mandiri. Lampu-lampu dan peralatan pokok penerangan jalan mereka beli sendiri. Mereka melakukan pemasangan sendiri. Dan mengambil dayanya langsung dari tiang-tiang PLN.
Di sini Pemda harusnya merasa berterimakasih bahwa sebagian tugasnya telah dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat. Dan seharusnya pula Pemda membalas kebaikan masyarakat dengan melakukan pendaftaran agar titik-titik itu menjadi legal serta membayar beban itu secara proporsional kepada PLN. Sehingga masing-masing tidak ada yang dirugikan.
Maka apa yang terjadi bila Pemda tidak tanggap, masyarakat akan mulai skeptis terhadap Pemda dan kinerja para anggota dewan yang terhormat. Pula terhadap PLN, akan timbul persepsi dari masyarakat tentang keberadaan PLN yang hanya bisanya merazia masyarakat kelas menengah ke bawah. Sedangkan kepada pelanggan kelas atas terutama pabrik-pabrik berdaya tinggi PLN—yang masyarakat pun mafhum tentang sering terjadinya pencurian listrik oleh mereka, begitu mudahnya tergoda dengan iming-iming uang.
Diperlukan suatu win-win solution di sini. Masyarakat melakukan aduan kepada Kepala Desa/Kelurahan masing-masing tentang hal ini, karena ini pun menyangkut pada system keamanan desa. Aduan juga harusnya diperdengarkan kepada wakil rakyat kita supaya mereka bisa mendengar dan menekan terhadap kinerja Pemda. Sehingga Pemda bersegera melakukan pelegalisasian.
Juga diperlukan sikap bijak dari PLN yakni dengan memberikan kesempatan kepada warga untuk mencabut sendiri sambungan liar itu dengan tetap membiarkan lampu-lampu tetap terpasang di tempatnya walaupun tiada aliran listrik sampai telah dilegalkan. Kebijakan ini dilakukan agar warga pun tidak usah repot-repot mencabuti lampu-lampu itu—dengan tangga konvensional, dan memasangnya kembali jika permasalahan ini selesai. PLN tak perlu menyita lampu-lampu itu agar tidak memberatkan warga serta Pemda, karena jika lampu itu disita, Pemda akan mengeluarkan dana lagi untuk membelinya. Sedangkan alangkah baiknya jika dana itu digunakan untuk penambahan titik-titik baru.
Semuanya perlu waktu, tapi seyogyanya Pemda bersegera karena pada dasarnya mereka adalah pelayan umat.

Akhirnya selesai juga kerja bakti ini pada pukul 11.00 WIB. Semua lampu-lampu penerangan jalan kecuali lampu pos ronda telah dicabuti dan disimpan. Maka bersiaplah kami untuk menyambut nanti malam dengan gulitanya lingkungan kami. Saya berpikir tugas seksi keamanan di lingkungan kami akan bertambah berat. Mereka harus menambah kesiagaan dan kewaspadaannya. Tentu sudah selayaknya warga yang lain turut membantu dengan—lagi-lagi swadaya—memasang lampu lima watt atau lebih di pinggir jalan rumah masing-masing. Jika tidak, siap-siap saja menikmati kegelapan itu, entah sampai kapan.

dedaunan di ranting cemara
di antara peluh 14:08 03 September 2005

Akhirnya Saya Pindah


19.08.2005 – akhirnya saya pindah ke KPP PMA Empat (fenomenal)

Setelah hampir delapan tahun lamanya sejak tahun 1997, maka akhirnya mitos saya sebagai Makhluk Penunggu dan orang kuat KPP PMA Tiga runtuh juga. Dulu malah ada yang bilang, ” Kamu nantinya jangan-jangan jadi Korlak, jadi Kasi, jadi Kakap di sini juga lo.” setelah melihat bahwa saya selalu lolos dari mutasi. “Keenakan amat”, pikir saya.
Waktu tahun 2002, saya termasuk yang kecewa karena tidak diikutkan dalam rombongan mutasi. Teman-teman saya satu angkatan yang ada di KPP PMA Tiga pindah semua terkecuali empat orang yang didalamnya termasuk saya. Kecewa karena saya tidak mendapatkan pengalaman baru.
Sekarang anehnya, saya kok, seperti tidak mau dipindah ya…? Tapi apa boleh buat, pengumuman mutasi ini akan membuat saya mendapatkan pelajaran berharga di kantor baru. Mungkin…
Dan terus terang, pengumuman ini merupakan pengumuman fenomenal, tidak terduga, tanpa isu, hening sesunyi malam pekat. Tidak seperti dulu-dulu. yang ramai dan ditunggu-tunggu. Bagus lah…
Saya hanya berharap ini merupakan suratan terbaik yang diberikan Allah kepada saya. Saya berharap ini pertanda bahwa saya didekatkan dengan masjid Sholahuddin yang kadang tertinggal oleh saya. Saya berharap Allah memberikan kehidupan, suasana, romantika yang lebih baik lagi. Ya Allah, kabulkan doa saya.
Itu saja dulu, oh ya saya belum kabarkan berita ini kepada Qoulan Syadiida, kali ini petuah-petuah indah apa lagi yang akan terpancar darinya. Sungguh darinya saya banyak mendapatkan pencerahan…Apalagi dari dua pasang mata disisinya yang selalu membuatku bahagia.
Indahnya siang ini…
dedaunan di ranting cemara
di antara gemericik suara keterkejutan
13:52 19 Agustus 2005

Hidup Itu Bukan Sebait Lagu



lelap kulelapkan tidurku
sampai kau datang padaku
aku akan menyanyi sebuah lagu tentang cinta
yang berakhir bahagia seperti pertama
aku cinta kepadamu…(lagu tentang cinta)
Hidup itu bukan sebait lagu, yang mengungkapkan hanya kebahagiaan semata. Namun dibalik itu sudah pasti dan niscaya adanya kepedihan, kekecewaan, nelangsa, dan tangisan. Maka selayaknya tak perlu merindukan bait-bait lagu untuk diperdengarkan dalam setiap waktu kita.
Hidup itu bukan sebait lagu, yang mengungkapkan hanya kebahagiaan semata. Namun dibalik itu ada dorongan agar kita selalu merasa sempit terasa dunia ini, bahkan putus asa menjadi teman setia. Maka sudah selayaknya tak perlu merindukan bait-bait lagu sebagai pemuas nelangsa karena ia hanya semu.
Maka sore ini, tak perlu kita dengarkan lagu tentang cinta dari Bebi Romeo dan Rita Effendi, karena ayat-ayat-Nya sudah menunggu kita untuk dibaca, yang tentu dan sudah pasti ada di dalamnya pula tentang ayat-ayat cinta.
Maka bacalah ia. Aku merindukannya.
dedaunan di ranting cemara
di antara kalendar yang menuju tanggal merah
16:55 16 Agustus 2005

Ukhuwah Islamiyah


Ahmad—sebut saja demikian—terlihat meneteskan air matanya ketika ia membaca sebuah artikel tentang penderitaan kaum muslimin Bosnia, dalam sebuah majalah Islam pada pertengahan tahun 1994. Ketika ditanya kenapa ia sampai menangis, ia hanya menjawab, hatinya terasa perih dan seperti ikut merasakan penderitaan mereka.

Sekarang ia sudah menjadi seorang pegawai negeri di sebuah departemen ternama di republik ini. Dan hatinya tetap selalu merasakan penderitaan umat Islam di manapun mereka berada, bahkan penderitaan itu sempat ia rasakan kembali tidak hanya untuk saudara-saudara seakidahnya nun jauh disana, namun di dua tempat di negara ini yang dijadikan tempat pembantaian dan penghinaan umat Islam.

Refleksi dari keprihatinannya ia wujudkan dalam bentuk selalu ikut serta meramaikan aksi demonstrasi menekan pemerintah untuk bertindak ditengah waktunya yang sangat padat. Ia katakan, mungkin hanya itu pengorbanan secara fisik yang ia lakukan selain infaq dan do’a untuk membantu saudara-saudaranya.

Ahmad mungkin salah satu dari sedikit orang dari 220 juta penduduk di Nusantara ini yang mengamalkan suatu konsep yang dalam Islam disebut Ukhuwah Islamiyah
Dalam salah satu tulisannya, Sayid Sabiq—seorang ulama Mesir penulis kitab Fiqhussunnah—menyatakan bahwa salah satu dari enam pilar kebangkitan umat Islam saat ini adalah quwwatuljama’ah (kekuatan jama’ah). Dan unsur utama pembentuk dari kekuatan tersebut adalah Ukhuwah Islamiyah—Persaudaraan dalam Islam.

Dalam konsep Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu konsep persaudaraan yang dilandasi oleh landasan yang amat kokoh yakni ‘aqidah. Abu Ahmad Marwan pun mengatakan dalam salah satu bukunya (1994:120) bahwa persamaan aqidah inilah yang akan membawa kepada persamaan pandangan hidup dan orientasi perjuangan.

Dengan konsep ini Islam tidak membatasi dirinya dalam suatu etnis bahkan batas geografis sekalipun, sehingga siapapun orangnya yang telah mengikrarkan kalimat tauhid dan persaksian Muhammad sebagai rosul-Nya, di mana pun ia berada, apapun warna kulitnya, maka ia adalah sesama saudara.

Konsep persaudaraan ini melandaskan dirinya pada Q.S Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat.

Dan salah satu hadits Muttafaq ‘alaih dari Ibnu Umar yang berbunyi:
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Barang siapa membantu keperluan saudaranya maka Alloh alan membantu keperluannya.

Dengan ukhuwah inilah Rosululloh dapat menyatukan hati dari dua suku di Madinah yakni suku ‘Aus dan Khajraj yang sebelum mereka mengenal aqidah Islam mereka selamanya selalu berperang dengan menimbulkan kerugian yang amat besar dan dendam yang tak kunjung padam.

Kehancuran kekhalifahan Umayyah di Andalusia, Utsmaniyyah di Turki menjadi fakta sejarah yang tak bisa dilupakan oleh umat Islam ketika simpul aqidah tercabik-cabik dengan semangat kesukuan yang begitu besar. Perseteruan internal antar qabilah di Andalusia itu memuncak dengan adanya permintaan kepada musuh-musuh Islam untuk membantu menakhlukkan qabilah yang lain. Atau superioritas nasionalisme yang dihembus-hembuskan antara Turki dan Arab membuat Kekhalifahan Utsmaniyah yang dulu begitu luas dan kuatnya, runtuh dan mendapat julukan yang amat menghinakan pada saat itu yakni “orang sakit di Eropa”.

Bila melihat kondisi umat Islam sekarang ini maka tampak sekali betapa ukhuwah Islamiyah menjadi suatu hal yang hanya ada pada tataran abstrak dan belum—untuk tidak mengatakan tidak—dapat diimplementasikan pada tataran empiris, tidak sekedar hanya sebuah isi khutbah dari masjid ke masjid atau tulisan di berbagai media belaka.
Dengan kekuatan ini pula umat Islam mengibarkan panji-panji peradabannya yang gemilang ke seluruh dunia. Namun ketika umat mulai meninggalkan tali ukhuwah, hal yang berlawanan pun terjadi.

Bukti nyata dari semua ini adalah ketika darah mengalir dari tubuh-tubuh kaum muslimin yang teraniaya di pelbagai penjuru dunia seperti Chechnya, Bosnia, Palestina, Rohingya, Philipina, Ambon, dan Poso, umat Islam terdiam, hanya segelintir orang dan sedikit sekali media yang memberikan keprihatinan atas semua itu. Bahkan ketika ada dari sedikit orang itu memberikan pengorbanan secara fisik untuk membantu saudara-saudaranya itu terlepas dari kekejaman-kekejaman, publik langsung mengecam mereka sebagai fundamentalis Islam, Ekstrimis Islam, Radikalis Islam bahkan julukan terkenal saat ini yakni Teroris Islam.

Akankah mereka ingat akan sabda Baginda Rosululloh SAW yang mengatakan bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh yang bila salah satu bagian tubuh itu sakit maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasa sakit pula.

Alhamdulillah, di tengah kegersangan itu, seorang menteri pada kabinet lalu ini yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Dr Rokhimin Dahuri dalam suatu acara di Jambi mengutip hadits tersebut sembari menambahkan bahwa ketika ada saudaranya di bagian daerah lain yang terkena musibah, maka sudah sepantasnya saudaranya yang lain ikut merasakan musibah yang dialami umat Islam tersebut. (Republika, 15/11). Ukhuwah ini menurutnya adalah satu dari empat hal yang dibutuhkan oleh umat Islam sekarang ini, tiga hal lainnya adalah ‘aqidah, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ekonomi perdagangan.

Yang jadi pertanyaan saat ini akankah ukhuwah Islamiyah ini dapat melekat di setiap hati umat? Untuk menjawabnya mungkin perlu mengambil 3M-nya Aa Gym, yakni yang pertama adalah mulai dari diri kita sendiri. Kita tanamkan konsep tersebut dalam bentuk usaha keras untuk mempererat kasih sayang dan silaturahim pada lingkup keluarga terlebih dahulu, dan berusaha untuk selalu sholat berjamaah.

M yang kedua adalah mulai dari hal yang kecil contohnya adalah selalu merapatkan shof pada waktu sholat berjama’ah dengan mempertemukan kaki dan bahu kita, karena salah satu contoh kecil yang nyata dari belum bersatunya tali ukhuwah umat pada saat ini adalah ketika mereka tidak bisa merapatkan shof-shof mereka pada waktu sholat.

M yang ketiga adalah mulai dari saat ini, ketika selesai membaca tulisan ini langsung kita bertekad untuk mengerjakan 2M yang pertama dan niatkan dengan ikhlas bahwa yang kita lakukan ini adalah untuk membangun kembali peradaban Islam yang gemilang di atas pilar kekuatan jama’ah dan yang akan menjadi bukti keimanan bahwa kita mencintai saudara kita melebihi kecintaan kepada diri kita sendiri, nanti kelak di hari ketika semua manusia dimintakan pertanggungjawabannya oleh Alloh SWT.

Sesungguhnya berhasil atau tidak upaya itu ataupun lama atau tidaknya perjuangan itu adalah urusan Alloh SWT, yang terpenting bagi kita adalah ‘amal yang yang terus menerus, dan do’a yang kita sampaikan setiap saat.

Sebuah perumpaan tentang hasil dari suatu usaha, yaitu ketika si tukang batu berhasil memecahkan batu pada pukulan yang keseratus, namun si tukang batu menyadari bahwa bukan pukulan yang ke seratus itulah yang berhasil memecahkan batu itu namun hasil dari pukulan-pukulan sebelumnya mulai dari pukulan yang kesatu sampai kesembilan puluh sembilan.

Sehingga perjuangan menanamkan konsep ukhuwah Islamiyah ini disadari perlu suatu kerja terus menerus, yang entah apakah kita akan dapat merasakan hasilnya ataukah anak cucu kita kelak.
Wallohuta’ala a’lamu bishshowab. (ac)

Satu Hilang Tumbuh Seribu


09.08.2005 – satu hilang tumbuh seribu

Ya, sepatutnya ungkapan bermakna itu ditujukan kepada saya. Tapi bukan tentang para pahlawan yang gugur di medan juang, tapi tentang satu pekerjaan yang telah terselesaikan lalu muncullah seribu pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Sampai hanya berpikir kapan saya bisa menyelesaikannya itu pun menjadi pekerjaan rutin di saat istirahat.
Kata Qoulan Syadiida, “jangan sampai stres, karena stres akan menguras energi yang seharusnya dikerahkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan itu.” Tapi Gugur Bunga sepertinya layak untuk didendangkan kepada saya. Gugurlah waktu yang tiada berluang. Sebagai tanda berkabung saya dari menyia-menyiakan waktu.
Itu saja sih, sekadar mengingatkan bahwa kita ternyata harus mensyukuri atas nikmat waktu luang yang diberikan-Nya kepada kita. Jangan pernah kita sampai menyesal karena kita lupa dan tidak pernah berbuat kebajikan saat semua amal kita ditimbang oleh-Nya. Saat ini juga, mari kita berbuat kebajikan.
Allohua’lam.
saat gundukan yang tersusun itu
tersapu angin sore yang berdebu
mengunci mulut yang kelu
kerana maksyiat selalu
bersiaplah untuk bertemu
munkar dan nakir sebagai tamu
dengan gurat wajah yang membeku
tak mungkin senyum terkulum menyapu
maka kuberitahu
perbanyak amal yang manis bermadu
bukan sepahit empedu
…..
dedaunan di ranting cemara
di antara minahasa raya
12:36 09 Agustus 2005