Hamba Dari Malam Hingga Pagi


hamba dari malam hingga pagi

terpekur
di titian malam
di sepertiga akhirnya
di panjangnya rukuk dan sujud
menjumput sejuta angan
yang kian samar
menjadi titik-titik debu kerinduan
sampai saat
sejuta harap terluncur
dari bibir hamba
menuju ‘Arsy
sejuta tanya
kenapa hamba belum mencintai-Mu
layaknya mencintai dia
yang ada di ujung timur tanah ini
kenapa hamba belum merindui-Mu
layaknya merindui dia
yang ada di ujung timur tanah ini
sedang hamba, dia
adalah makhluk
wahai Sang Pemilik Segala Cinta dan Kerinduan
deraskan cinta dan kerinduan itu
pada sungainya hati
yang berbatu dan berlumut
melautkan semuanya
ke samudera kesucian
sampai saat
haribaan pagi datang
memeluk shubuhnya.

deDAUNan di ranting cemara,
dimalamnya Pabuaran,
January 22th, 2003

Here I am?


kenapa aku disini…?

batu itu masih tertoreh kata
walau satu dekade berlalu
tak lapuk oleh derasnya air sungai cimanuk
kenapa aku disini…?
gelap kan datang
ketika aku tetap berdiri di batu itu
merenungkan semua
pada pahatan
pada yang telah kuukir
kenapa aku disini…?
dingin malam mulai menari-menari
ketika aku tetap berdiri dibatu itu
dengan terangnya lampu badai
tetap menerawang
kenapa aku disini…?
kutemukan jawabannya
kebingungan masih ada

apresiasi Pak Mubari-Surabaya:

guratan retak kata
tertoreh di batu tak lekang
dekade tertelan kala
retak tak lapuk
tererosi derasnya cimanuk
tercenung aku
tertanya
kenapa aku disini…?
gelap merunduk
perlahan memangsa siang
masih jua aku tercenung
berlabuh di retak pahatan batu
yang kuukir dengan lidah kelu
aku masih tercenung
kenapa aku disini…?

dedaunan di ranting cemara
di ranting patah
new edited: 17 Agustus 2005

Ada Jauh Setelah Nun


22.08.2005 – ada jauh setelah nun

sendiri
menuruni jalanan sepi
menyulam sore
tanpa semburat senjanya
kuhirup segar
bau tanah yang tersiram gerimis
memenuhi rongga dada
sedangkan
nun jauh di atas sana
ada banyak kata mengisi bait-bait
gunung, lembah, kabut, cemara, mendung,
gemericik air, hijaunya dedaunan, pinus, burung …
dan jalanan itu masih tetap sepi
di sorenya Baturraden
dedaunan di ranting cemara
di antara turunan menikung
Sunday Morning, January 26th, 2003

I’m not a Bird


kukepakkan sayap ini
melesat ke gumpalan awan putih,
bercengkerama dengan alam,
aku bukan burung
tapi ruh yang adanya adalah tiada

SMS Ini Membuatmu Menangis


sms ini membuatmu menangis

[Semalam aku tanya pada malam tentang engkau:
Apakah kau tak punya hati
untuk mencintai diriku yang selalu mencintaimu
walau aku selalu melukaimu?
biarlah airmata ini menjadi saksi,
keberadaan benteng cintaku
yang kian kokoh terbangun hanya untukmu]

dedaunan di ranting cemara
di antara Brown, Hitti, dan Haikal
10:07 17 Agustus 2005

Merdeka pun Kau Tetap Mati


pada tanah rantau yang tercium amisnya darah
kutancapkan satu bambu runcing kuning mengilat
agar aku berdiri tegak kibarkan merah putih
menantang cambuk angin yang menggelepar-gelepar
memandang Bandung berkubang lidah api yang menjulur-julur
menunggu matahari yang masih saja tak mau terbenam
menghitung tapak demi tapak gerilya
tapi!!!
aku tak mampu menelan kala agar berhenti memilin detiknya
aku tak mampu menyapa tahun keseribu
aku tak mampu menghentikan tujuh setengah windu
yang membuatku mengeriput, ciut, kecut
aku tak mampu menjadikan bambu ini kayu Sulaiman
dan akhirnya aku takut menidurkan jiwa ini
karena harga liang kubur yang melangit
tak mampu kubayar seringgit demi ringgit
dengan kaleng tua di tangan yang menjepit
menanti sesen dua sen dari lalu lalang yang tersenyum sengit
tapi!!!
saksikanlah aku menjadi busuk di Asia Afrika
yang tak mau menerimaku di sudutnya
saksikanlah aku beralas merah putih
hingga tahu-tahu semut-semut masuk
melalui semua lubangku
aku mati

dedaunan di ranting cemara
di antara menit-menit jelang kemerdekaan
18:40 15 Agustus 2005

Satu Hilang Tumbuh Seribu


09.08.2005 – satu hilang tumbuh seribu

Ya, sepatutnya ungkapan bermakna itu ditujukan kepada saya. Tapi bukan tentang para pahlawan yang gugur di medan juang, tapi tentang satu pekerjaan yang telah terselesaikan lalu muncullah seribu pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Sampai hanya berpikir kapan saya bisa menyelesaikannya itu pun menjadi pekerjaan rutin di saat istirahat.
Kata Qoulan Syadiida, “jangan sampai stres, karena stres akan menguras energi yang seharusnya dikerahkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan itu.” Tapi Gugur Bunga sepertinya layak untuk didendangkan kepada saya. Gugurlah waktu yang tiada berluang. Sebagai tanda berkabung saya dari menyia-menyiakan waktu.
Itu saja sih, sekadar mengingatkan bahwa kita ternyata harus mensyukuri atas nikmat waktu luang yang diberikan-Nya kepada kita. Jangan pernah kita sampai menyesal karena kita lupa dan tidak pernah berbuat kebajikan saat semua amal kita ditimbang oleh-Nya. Saat ini juga, mari kita berbuat kebajikan.
Allohua’lam.
saat gundukan yang tersusun itu
tersapu angin sore yang berdebu
mengunci mulut yang kelu
kerana maksyiat selalu
bersiaplah untuk bertemu
munkar dan nakir sebagai tamu
dengan gurat wajah yang membeku
tak mungkin senyum terkulum menyapu
maka kuberitahu
perbanyak amal yang manis bermadu
bukan sepahit empedu
…..
dedaunan di ranting cemara
di antara minahasa raya
12:36 09 Agustus 2005

Lontar dari Kadipaten Depok


lontar dari Kadipaten Depok

:buat Mapatih Gajahmada

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan
kalaulah belum tahlukkan negeri Sunda
satu negeri yang akan membuat tuan
akhiri sumpah palapamu
memulai nikmatnya dunia tidak sebatas mutih

Mapatih, haturkan hamba berkidung
tentang sebuah kidung Sundayana
melarut dalam berlonta-lontar Negarakertagama
yang belum sempat terbaca olehTuan
kerana Prapanca membuat titiknya
saat tuan telah tiada kekal

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang Diah Pitaloka Citaresmi puteri Sri Maharaja
yang datang membawa bangga ke hadapanmu tuan
tanpa ribuan pedang, tombak, perisai,
bahkan genderang tambur

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan kalaulah tuan
bersikeras cantiknya adalah hadiah
dan tetaplah hadiah
jikalau ia bukan hadiah
maka pastilah pinangan buat Tuannya Tuan

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang jikalau ia bukan hadiah
maka tak ada Bubat yang memerah darah
maka tak ada Maharaja yang berkalang tanah
maka tak ada Diah yang berkeris di dada

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang kepedihan hati
Tuannya Tuan Sri Rajasanagara
merenggut selendang cantik tak bertuan lagi
hingga akhir hayat memendamnya di Tayung, Brebek,
tempat hamba memungut nafas pertama hamba

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang dendam yang turun temurun
hingga hamba tak sanggup menegakkan muka
di tatar sunda yang telah tuan curangi
yang telah tuan kangkangi

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang membawa bala dari tuan
tentang hamba adalah putera
para piningit Sitinggil Binaturata
bahkan sebelumnya:Singhasari dan Kadiri

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang menjadi tumbal keserakahan tuan
hingga hamba terbalut kain jijik
dari mata-mata penerus tatar Sunda
hingga hamba tak layak untuk menjadi Adipati mereka

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
seberapa menyakitkan perbuatan tuan
hingga sampai merasuk dalam
pada alam bawah sadar mereka
hingga menggendam pada banyak anak pinak
bahwa hamba adalah bagian Tuan
bagian pusaka jaya masa lalu

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
dapatkah hamba menyalahkan tuan
karena hamba mengalami ketidakadilan
yang pernah menimpa mereka 648 tahun lampau

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang kini tak layak dan tak sepatutnya
menyilih angkaramu kerana hamba
adalah milik Sang Maha Pemilik jiwa Tuan
maka hamba pun sudah sepatutnya berjuang
dengan sepenuh tenaga hamba
layaknya mereka menghadapi Tuan

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang memastikan kisah
tak ada maharaja berkalang tanah
tak ada diah berkeris di dada
tak ada selendang beramis cempaka
kerana tahta sebenarnya bukanlah begitu rupa
hakikinya adalah ia berdiri tegak
di atas keadilan yang nyata

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang bahwa ini adalah sekadar kepedihan hati hamba
bahwa hamba menulis di lontar terakhir ini
semoga Tuan sempat membaca
di sela-sela kesibukan tuan
di sana

dari hamba:
Bhre Noermahmudi
Depok, Minggu Legi 03 Rejeb 1938

dedaunan di ranting cemara
di antara istighosah Kubro—bukan Qubro
22:08 Ahad, 07 Agustus 2005

Kia Tak Selalu Berakhir Dengan Mat


I. semuanya pasti akan begitu

kuketuk pintu
tok…tok…tok…
sekali, dua, tiga
pelan dan meritmis
sepi
tak terjawab
dari sebuah pintu
bertulis:
kamar mayat

II. Kia tak…

Bila Tuhan menyuruhmu, Israfil
pastikan sangkakalamu telah mengkilap
dan nyaring bunyinya
karena ia cuma dua kali meraung
saat manusia selalu berkata:
kia tak selalu berakhir dengan mat
saat manusia akan selalu berkata:
dimana aku berada sekarang ini

Aku Cinta Pelangimu


….adalah pelangi yang membuat dunia semakin indah
….adalah matahari yang membuat dunia semakin nyata
….adalah malam yang membuat dunia semakin sunyi
….adalah manusia yang membuat dunia menjadi realita
:dan
….adalah kata yang membuat manusia menjadi bernas

dan masih kutemukan sejumput keindahan di balik panasnya gurun kata,
menyejukkan bagai oase
bagai wadi al-Ghuraib di barat.

masih, masih, dan masih kutemukan di sini…

: dedaunan di ranting cemara
di puncak tertinggi