Rinduku Untukmu


Rinduku Untukmu…
(Episode Tasikmalaya)

Hujan masih saja merintih menghitung genting di luar sana. Tak peduli pada malam yang kian tenggelam dalam selimut halimun. Tak peduli pada diriku yang memandang kegelapan di balik jendela kamar. Tak peduli padaku yang melanglangkan ingatan-ingatan pada masa-masa lalu.
Tak peduli padaku yang tiba-tiba teringat Zatoichi tercenung saat hujan tiba di rumah Bibi Oume. Memandang dan merenungi hujan itu, mengingat pertempuran melawan delapan orang yang dengan mudahnya semuanya ia tebas. Membuat tanah becek semakin becek dengan darah.
Tidak, tidak, saat ini, saat hujan ini, aku lebih merindui Tasikmalaya. Merindui sudut-sudut salah satu desanya. Merindui dinginnya malam. Merindui subuh yang semakin menggigit. Merindui cahaya matahari pagi. Merindui kicau burung. Merindui gemericik air pancuran. Merindui kokohnya saung di lebak. Merindui dua rakaat dhuhanya. Merindui dzikirnya. Merindui perjalanan pulang di pematang sawah. Merindui ikan-ikan di kolam belakang. Merindui kepulan uap nasi. Merindui sambal terasinya. Merindui duh…Gusti, saat ini aku merindui Tasikmalaya. Merindui sudut-sudut salah satu desanya.
Salah satu desa itu adalah Margalaksana di wilayah Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Desa yang menjadi tempat pelarian paman-pamanku waktu tahun 60-an, sewaktu gerakan PKI mendapat tempat di republic ini. Sebagai ketua gerakan dan aktivis kepemudaan Nahdhotul ‘Ulama Ketanggungan, Brebes , beliau bersama adik-adiknya menjadi sasaran empuk untuk diintimidasi bahkan bila perlu dibantai. Maka untuk sementara, menunggu arah angin berubah, mereka hijrah ke sana. Namun hijrah itu tidak sementara, keempat paman itu memperistri gadis, beranak pinak, dan bermata pencaharian di sana hingga kini.
Jadilah di sana tempat aku menghabiskan masa liburan sekolah yang panjang. Dan terakhir adalah sepuluh tahun yang lampau. Saat aku masih menjadi mahasiswa Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan. Liburan panjang itu tiba. Kini saatnya aku pulang kampung—setelah berjuang habis-habisan dengan ujian-ujian sulit—seperti kebiasaan teman-teman kampus yang pada pertengahan tahun berritual untuk mengosongkan kampus, kecuali para mahasiswa yang menjadi panita penyambutan mahasiswa baru.
Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku, kiranya aku sempatkan beberapa hari terlebih dahulu di Tasikmalaya baru setelah itu pulang ke Jatibarang, Indramayu. Maka bersiap-siaplah aku berpetualang.
Dari kampus ba’da sholat Jum’at, aku pun melaju dengan angkutan umum menuju stasiun Senen untuk mengejar Kereta Ekonomi Galuh jurusan Tasikmalaya – Banjar. Ini pengalaman pertama bagiku ke Tasimalaya dengan menggunakan jasa kereta api.
Kereta ekonomi yang seharusnya berangkat jam tiga sore, molor satu jam lebih dari jadwal semula. Kereta berangkat meninggalkan stasiun dengan tidak banyak penumpang yang memenuhi gerbong. Sehingga aku dapat meluruskan kaki ke kursi depanku yang kosong. Sambil membaca buku yang aku bawa, sesekali aku melihat ke luar jendela, melihat senja yang mulai turun dan meninggalkan jejak-jejak jingganya.
Adzan maghrib mulai berkumandang saat memasuki daerah Purwakarta yang berkelok-kelok. Aku sangat menikmati sayup-sayupnya yang keluar dari bukit-bukit nun jauh di sana. Oh Rabb, aku merindui sayup ini.
Tiba-tiba ketika aku sedang berasyik masyuk, ada seruan kepada seluruh penumpang untuk diharapkan menuju ke gerbong depan karena gerbong yang saya naiki dan masih ada lima gerbong lainnya di belakang tidak berpenerangan. Sehingga dikhawatirkan terjadi kerawanan, oleh karena itu kondektur kereta menyarankan demikian. Aku pun menurutinya dan mencari tempat duduk yang masih ada di gerbong yang terang benderang itu.
Bandung pun terlewati begitu saja, tanpa aku sadari karena terlelap oleh kantuk yang menyerangku. Namun ada yang eksotik dengan stasiun di antara bandung dan Tasikmalaya, yang kereta ini sempat untuk berhenti lama di sana, sayangnya aku lupa stasiun itu.
Dengan bangunan peninggalan zaman Belanda, kubah tinggi di atas selasarnya, dan hanya diterangi lampu bohlam yang temaram benar-benar membuatku terasa bukan berada di zaman moderen, namun seperti berada di masa-masa kemerdekaan. Tinggal aku menuliskan merdeka atau mati! di tembok stasiun maka lengkap sudah flashback ini. Benar-benar aku tertegun cukup lama. Rasa melankolisku kembali bangkit mengenang masa-masa perjuangan dulu. Duh Gusti aku merinduinya.
Tasikmalaya sudah di depan mata. Perjalanan memakan waktu kurang lebih tujuh jam. Jarum pendek jam di statiun sudah mengarah ke angka sebelas. Aku mencari mushola untuk menunaikan sholat jamakku, namun pintu mushola sudah terkunci rapat dan gelap. Akhirnya aku putuskan untuk sholat di luar stasiun.
Pada saat keluar dari stasiun itu aku baru tersadar bahwa ternyata angkutan kota sudah tidak beroperasi lagi pada jam-jam seperti ini. Maka dengan berbekal petunjuk dari orang-orang sekitar stasiun aku melangkahkan kaki ke Masjid Raya Tasikmalaya. Sengaja aku tidak naik ojek supaya bisa irit maklum aku masih mahasiswa.
Perjalanan menuju masjid raya terasa jauh, namun aku bertekad untuk ke sana dengan harapan aku bisa istirahat dan tidur di sana, dan dengan semakin semakin mendekati pusat kota aku kiranya mendapatkan angkutan yang mungkin saja masih beroperasi.
Masjid Raya setali tiga uang dengan mushola yang ada di stasiun. Terkunci rapat, tidak ada satu dari banyak pintu yang sudi membuka sedikit untuk aku. Aku pun sholat di teras masjid. Niat aku untuk beristirahat dan tidur hingga pagi terpaksa aku batalkan, karena aku tidak kuat menahan dingin angin malam di teras berlantai marmer itu. Oh ya, waktu itu aku tidak punya jaket lho.
Angkutan kota benar-benar nihil. Setelah bertanya kesana kemari, aku mendapatkan keterangan bahwa angkot baru ada pukul lima pagi. Wah, tidur dimana aku. Dan terminal pun masih sangat jauh dari masjid. Akhirnya ada seorang tukang ojek yang masih berbelas kasihan denganku. Ia bersedia mengantarkanku ke terminal hanya dengan setengah ongkos perjalanan.
Kepada tukang ojek itu aku menghaturkan banyak terimakasih saat aku telah sampai di Terminal. Di sana aku hanya menjumpai mobil angkutan yang cuma beberapa. Lagi-lagi aku mengalami keterkejutan angkutan pedesaan yang menuju Salawu baru akan datang dan berangkat jam dua nanti. Terpaksa aku mencari kenyamanan di sebelah Tukang Ulen Bakar. Aku hanya bisa memandangi saja, tak bisa menikmati makanan yang termasuk favoritku itu. Maka aku terduduk meringkuk, merapatkan tangan ke lututku, menahan dingin dan lapar selama satu jam lebih.
Penderitaanku berakhir saat angkutan pedesaan itu tiba dan langsung terisi penuh oleh banyak penumpang. Kulepaskan lelah dan penatku dengan tidur selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju Margalaksana.
Akhirnya sampai juga di rumah “uwak”ku yang persis di pinggir jalan besar Garut Tasikmalaya. Aku menghirup udara sepertiga malam terakhir dalam-dalam dan kehembuskan sekuat-kuatnya. Lega rasanya.
Tapi dikejauhan tiga orang sepertinya bergegas menuju ke arahku. Aku tidak pedulikan mereka, aku pikir mereka adalah para peronda kampung. Segera saja aku masuk ke halaman rumah, dan mengetuk pintu. Lima menit lamanya aku mengetuk sampai beberapa saat kemudian pintu itu pun terbuka. Di seberang jalan, kulihat tiga orang itu masih memandangi aku.
******
Sarapan yang menggugah selera bersama keluarga uwak. Nikmat sekali, ceria, ramai dengan gurauan. Dari situlah aku mendengar bahwa aku sempat dicurigai sebagai salah satu anggota komplotan maling oleh para peronda kampung. Tapi semuanya bisa dijelaskan oleh uwakku waktu ia sholat shubuh di masjid. Aku tersenyum saja. Ah teganya mereka menuduh aku yang sedang kelaparan pula.
******
Sungguh kawan, aku masih tentang perjalanan itu. Masih aku merindui semuanya itu. Merindui dhuha di lebak itu. Hingga terinspirasi semua itu, aku buat puisi ini:

matahari dhuha merambati waktu
ketika sinarnya menghangatkan
pucuk-pucuk dedaunan
menggiring hati ke kehampaan
yang meradangkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

sungai bening mencumbui tanah
ketika riaknya membasahi
akar-akar pepohonan
melautkan hati ke kehilangan
yang membakarkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

burung kecil menghiasi langit
ketika kicaunya meramaikan
putih-putih awan
menerbangkan hati ke ketinggian
yang menyesakkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

rokaat pendek mengukir sajadah
ketika dzikirnya membisikkan
rongga-rongga dada
mengkhusukkan hati ke kesucian
yang membersihkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

matahari ashar mengguliri sore
ketika lelahnya menguliti
pori-pori tubuh
mencabikkan hati ke kemeranaan
yang menyakiti diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

aku lelah
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari itu
karena senin masih jauh
di ufuk…

****
Aku menikmati liburan itu di sana. Menyusuri pematang sawah, jalan-jalan lengang, memancing ikan, ngaliwet di gunung, berselimut tebal saat malam, hingga rokaat-rokaat di sepertiga malam terakhir. Duh, indah nian rasanya. Duh, gelegaknya rindu ini. Duh….
Kawan, kapan aku bisa kembali ke sana, atau memutar kembali waktu yang telah berjalan?
Kini aku sedang merindui Tasikmalaya dan sudut-sudut desanya.

****

dedaunan di ranting cemara
di antara rindu untukmu
16:47 10 September 2005

Tan Tjuan Tay


langkah ini terseok di pertigaan jalan menuju demarkasi
A Mei…!
A Hun…!
A Ling…!
jangan biarkan kelelahan mengalahkan kalian, kota sudah di depan mata
A Gan masih saja terlelap di gendongan Ratna
pribumi yang menatapku dengan mata yang telah kering
istriku, jangan kau ingat adikmu yang telah mati dibantai itu
kita memang berbeda dengan mereka
sudah saatnya kau terima
Belanda memang teman kita
aku:
Tan Tjuan Tay
pecinta repoeblik
Jamblang, Cirebon
15 Oktober 1946

dedaunan di ranting cemara
di antara Cirebon yang menyala
10:11 10 september 2005

*****
Tanggal 14 Oktober 1946 terjadi penetapan garis demarkasi antara Belanda dengan Republik. Orang Tionghoa yang seringnya dimusuhi oleh penduduk asli mengungsi ke wilayah yang diduduki Belanda, sedangkan orang Indonesia pergi ke wilayah Republik.
Di sepanjang perjalanan pengungsian, bukanlah hal yang aneh pengungsi Tionghoa itu diganggu bahkan dibunuh jika mereka tidak menyerahkan harta yang dibawanya. Padahal mereka pun sama-sama dilahirkan di republik ini. Sama-sama mencicipi sepat dan tawarnya tanah air mereka.

Dua Perempuan dengan Puisi


dua perempuan dengan puisi

Suatu saat Azimah Rahayu dan Qoulan Syadiida menyempatkan diri untuk memberikan kesempatan kepada saya menikmati puisi-puisi mereka.
Azimah Rahayu yang genap berusia tiga puluh tahun senin kemarin, mengirim Pupus:

PUPUS

Rindu ini ternyata masih jua belum menemukan muara,
Cinta ini ternyata masih harus meneruskan kembara,
Sampai kapan dan kemana?
:Siapa yang tahu jawabnya?

Senyum sahaja mewujud dalam hati
Sebagai bukti ia mengerti,
Memahami dan pasrah pada Ilahi
Jikalah tetap ada airmata,
Maka ia hanya sekedar pengobat jiwa
Yang kembali kehilangan rasa
Seperti ketika Muhammad melepas Ibrahim ke
haribaan-Nya.

(@Azi, 4 Maret 2005: pupus yang kesekian kali)
direwind ahad, 26 Juni 2005, saat sebuah berita tiba:
seseorang akan melangsungkan pernikahannya 10 Juli
besok.

Komentar saya:
Puisi ini bagus terutama pada kalimat terakhir:
“Seperti ketika Muhammad melepas Ibrahim ke haribaan-Nya.”
Saya tak bisa membayangkan kesedihan Azi layaknya kesedihan Rosululloh ditinggalkan putra kesayangannya. Sedemikiankah?
Saya hanya berharap tak akan ada lagi Pupus yang direwind di kemudian hari.

Sedang Qoulan Syadiida dengan dua puisinya:

I. Rindu Terlarang
Apa yang lebih memeranakan
selain rindu terlarang
yang adanya terhalang
ketiadaan kehalalan
Apa yang lebih memeranakan
selain rindu terlarang
yang adanya menyelinap diam-diam
dari hati yang terbang ke langit angan
Tuhan
jika rindu ini
jika cinta ini
telah menoreh luka di kedalaman
mengapa hamba masih saja
bergeming membiarkannya mengembara
di setiap sudut jiwa
yang tak terlacak olehnya
II. Nasib Dermaga
Mungkin memang sudah menjadi nasib dermaga
harus terima kembali kapal cinta
yang sekian lama dalam kembara
mencari tambatan yang menenangkannya
Mungkin memang sudah menjadi nasib dermaga
membuka ruang seluas-luasnya
bagi setiap kapal cinta
yang kelelahan dan hendak
kembali berlabuh padanya..

****

Azi berkomentar terhadap dua puisi ini:
“hmmm, puisimu asyik meski pedih banget hehehe, tapi kok rasanya gue banget.”

Sedang saya hanya berkomentar untuk dua puisi ini:
“Saya suka dua paragraph pembuka di rindu terlarang.
Di paragraph ketiga akan tambah asyik lagi ditambah satu “jika” lagi untuk penekan.”

By the way, saya sangat menikmati dua puisi ini. Kalau Anda mau menyelami pemikiran dua perempuan ini sila untuk berapresiasi dan mendalaminya sampai Anda berkomentar: gue banget gitu loh.

dedaunan di ranting cemara
di antara dua puisi
20:42 04 September 2005

Gempita Takbir


Assalaamu’alaikum wr.wb.
Sisi lain berkata padaku:
Hai kawan:
Ingat tidak Allohuakbar selalu menjadi komando
dalam setiap peperangan?
Kau tidak ingat?
Saya sebut satu persatu tapi tidak semua:
Perang Badr
Perang Bani Sulaim
Perang Bani Qainuqa
Perang Sawiq
Perang Dzi Amar
Perang Bahran
Perang Uhud
Perang Bani Nadhir
Perang Nejed
Perang Badr Kedua
Perang Dumatul Jandal
Perang Ahzab
Perang Bani Quraizhah
Perang Bani Lihyan
Perang Bani Mushthaliq
Perang Ghabah
Perang Khaibar
Perang Wadil Qura
Perang Dzatur Riqa’
Perang Mu’tah
Perang Futuh Mekkah
Perang Hunain
Perang Thaif
Perang Tabuk
*****
Di zaman para sahabat:
Perang Membasmi Riddat dan Penolak Bayar Zakat
Perang Yarmuk
Perang Nahawand
Perang Jamal
Perang Shiffin
Perang Karbala
Perang Penakhlukkan Yerusalem
Perang Penaklukkan Konstantinopel
dan lain-lainnya
60 tahun yang lampau jangan lupa
Bung Tomo memekikkan Allohu Akbar di atas Hotel Surabaya
Dan peperangan lainnya selama 14 abad lebih itu.
****
Sisi lain berkata lagi padaku:
Hai kawan:
Allohuakbar pun menjadi urat nadi yang tak bisa dipisahkan dari
tubuh kaum muslim dan tentu bukan sebagian makian.
Allohuakbar pun patut diteriakkan sebagai pengobar semangat kaum muslimin
untuk melawan kebatilan, angkara murka, dan musuh Allah.
Tidak bisa dibayangkan jika saja Allohuakbar diteriakkan di dalam hati saat akan berperang melawan musuh Allah.
Tidak bisa dibayangkan jika saja Allohuakbar tidak diteriakkan dalam masjid sehingga masjid pun riuh dengan tepuk tangan.
Maka Allohuakbar menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa dielakkan lagi dari diri seorang muslim.
Sebagai pengingat manusia itu kecil tiada berarti. Hanya Dia yang Maha Besar. Yang lain kecil. Semuanya kecil.

Sisi lain berkata lagi padaku:
Mau kau teriakkan apa lagi…?
Aku terdiam. Terdiam dengan ‘tenggorokan tersumbat durian’.

Allohua’lam
Wa

dedaunan di ranting cemara
di antara kesungguhan bahwa esok ternyata tanggal satu
di antara eksungguhan bahwa ternyata saya masih menjadi orang gajian
di antara kesungguhan bahwa kematian: ready or not, you will face soon or later
20:17 31 Agustus 2005

Rangkullah Matahari


rangkullah matahari

membulat di depan mata
di ujung jalan menukik menaik
tanganku mengais-ngais
remah-remah kerinduan
dan puntung-puntung asa

sore esok
ia masih membulat di depan mata
aku tak terkejut

dedaunan di ranting cemara
masih di senja citayam bukan di amsterdam
20:36 28 Agustus 2005

Purnama di Sudut Jiwa


purnama di sudut jiwa*)

tiada kata- kata lagi…

*) sebuah pesan

dedaunan di ranting cemara
di antara dextral; ciprofloxacin; molacort 0,75; mOlapect;
20:26 28 Agustus 2005

Pahlawan Pencicil Rumah


satu wage rudolf supratman
satu ki hadjar dewantara
satu tuanku imam bonjol
:kuserahkan kalian
demi cicilan rumah
sampai 15 tahun lagi!

***dedaunan di ranting cemara
di antara sebuah pesan:
segera buka dompet, cari para pahlawan itu
21:03 28 Agustus 2005

Mengenangmu


mengenangmu adalah
mengurai benang panjang kesedihan
yang senantiasa tersulam
dalam setiap helai nafasku

mengenangmu adalah
mengurai benang panjang kesedihan
yang membuat mata tak mampu terpejam
yang membuat hati tak mampu menghalau resahku

mengenangmu adalah
mengurai benang panjang kesedihan
yang tak sempat aku pintal kembali
tak ada yang tersisa setelah itu
tersapu bayu kesahmu

***dedaunan di ranting cemara setelah rehat
di antara satu bait yang jadi terhapus:

mengenangmu adalah
mengurai benang panjang gombal gambul
yang masih saja kau mau mendengarnya
tak ada yang terlewati satu huruf pun
hingga kau membiru, menge-pink, hingga berdarah-darah
Masya Allah…

Sekumpulan Bangau


sekumpulan bangau

buat sekumpulan bangau yang terbang bermigrasi
dari utara ke selatan
buat semburat cahya matahari pagi yang menyinari
dari pagi ke sore
buat sekelompok paus pembunuh yang berenang
dari pasifik ke atlantik
buat gumpalan mega yang terkadang menziarahi matahari
buat desiran angin yang bertiup di semua celah kehidupan
sampaikan pesanku kepada seluruh penghuni bumi dan langit
“aku masih mengetuk-ngetuk pintu-Nya”

Uzurnya Sang Raja


:terlena gempitanya dunia
syahdunya cinta
:terlupa adanya ikatan darah
:tersiar setitik duka
:keras peringatan-nya
pada dominan raja yang uzur
akhirnya terasa berat
melangkah di persimpangan
keramaian menjadi sepi
terselubung kebingungan
pergi ke sang raja
atau pergi ke keramaian
kesedihan tetap bergelayutan
di pohon-pohon sepanjang perjalanan
tak ada tempat curahan rasa
tapi teringat
pada sebait kata yang pernah kubuat
hidup ini masalah
mau tidak mau
semuanya harus dihadapi
apapun pahit rasanya

tetaplah aku ke keramaian
dan pasti kan kembali
pada sang raja
namun aku berburu dengan waktu
akankah aku sempat menemuinya?
berserah diri pada-Nya menjadi arah dari jalanku?
dan penuh pengharapan semoga sang raja
tetap kembali bersama hidayah

dan aku sempat menemuinya
pada sang raja yang menangis tersedu-sedu
tak bisa berjihad karena uzurnya

dedaunan di ranting cemara
di antara Jaibarang dan Karangampel
Januari 2003