PAGAR GAIB ANTISIREP


PAGAR GAIB ANTISIREP

Pencuri itu cuma menyisakan uang seratus ribu di dompet teman saya, Taufik.  Sekitar satu juta lebih simpanannya digondol maling yang menyantroni rumahnya di tengah malam. Masuk dari pintu samping yang cuma digerendel dengan selot kayu lalu sempat-sempatnya maling itu di tengah aksinya makan tape yang tersedia di meja makan. Kemudian masuk kamar pribadinya dan mengacak-acak isi lemarinya.

Selain uang, dua telepon genggamnya raib disabet maling. Semua aksinya tanpa sedikitpun diketahui oleh penghuni rumah yang  terlelap begitu rupa. Keesokan pagi, Taufik  baru mengetahui rumahnya kecolongan dan ada sandal yang ditengarai milik si maling tertinggal di rumahnya.

Malamnya lagi, sekitar pukul setengah tiga pagi, si maling menyantroni rumah tetangga Taufik yang berada persis di depan rumahnya. Benar-benar berani si maling ini. Tapi aksinya sudah diketahui warga saat ia berusaha merusak jendela rumah itu. Diteriaki dan dikejar oleh warga, si maling tetap bisa lolos.

Gagal di malam itu, malam selanjutnya, ia kembali melakukan aksinya. Masih di sekitar dekat rumah Taufik. Kini ia berhasil dengan gemilang, tanpa diketahui oleh pemilik rumah bahkan warga sekitar.  Tiga malam berturut-turut maling beraksi di sekitar  kampung Taufik. Semuanya mengulang apa yang terjadi di komplek tetangga beberapa bulan sebelumnya. Yang diambil “cuma” uang dan barang-barang yang bisa langsung dijual, telepon genggam misalnya, dan tidak sampai kendaraan seperti motor atau mobil.

“Disirep!” kata Pak Ronggo (bukan nama sebenarnya) salah seorang jama’ah Masjid Al-Ikhwan dengan yakin. “Dan mengatasi sirep itu gampang, asal tahu triknya,” lanjutnya.

“Bagaimana Pak?” tanya jama’ah lain yang ikut dalam perbincangan santai selepas sholat isya itu.

“Kalau tidur kepalanya jangan sama-sama menghadap satu arah.  Harus ada yang berlawanan arah. Misalnya suami tidur kepalanya menghadap ke selatan, berarti si istri kepalanya harus menghadap ke utara. Dijamin sirepnya tidak mempan. Soalnya sebelum taubat saya dulu kejawen. Saya tahu banyak yang kayak begituan. Dulu saya bisa menerbangkan pisau beberapa meter. Kalau diseriuskan lagi  bahkan saya bisa memerintahkan pisau itu terbang untuk pergi ke mana.”

Salah seorang jama’ah lain melirik kepada saya dan bertanya, “Bagaimana Pak?”

“Kita ambil saja pelajaran dari apa yang diterangkan dalam Alqur’an dan assunnah menghadapi hal semacam itu,” kata saya. Dan kemudian saya menerangkan dengan detil bagaimana Islam mengajarkan pemeluknya dalam menghadapi sihir-sihir termasuk sirep didalamnya.

Pembaca yang dirahmati Allah, saya berusaha membaginya kepada Anda semua apa yang saya tahu tentang hal ini. Minimal sebagai bekal buat saya dan Anda semua. Kiranya Anda tak perlu untuk memanggil para dukun—atau mereka yang sering dipanggil dengan sebutan ustadz tapi pada praktiknya sama—yang sekarang gemar dan gencar beriklan di media massa dan elektronik untuk membuat pagar gaib dan perlindungan ampuh di rumah Anda agar Anda tidak terganggu dengan segala macam sihir. Karena semuanya itu adalah sebuah kesia-siaan. Semuanya itu perlindungan bikinan manusia dan teramat rapuh.  Tidak ada kekuatannya sama sekali. Kalaupun berhasil itu adalah tipuan setan semata untuk menjerumuskan kita semua dalam jurang kesyirikan besar.

Ya, sihir itu memang ada, dan sirep itu adalah sihir. Dan sekali-kali mereka tidak memberikan mudharat dengan sihirnya, kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah [2:102]. Sufyan Ats–Tsaury mengatakan, “kecuali dengan qadha Allah.” Hasan Al Bashri berkata, “Benar barangsiapa yang dikehendaki-Nya, maka ia dikuasai setan. Dan siapa yang tidak dikehendaki-nya, maka tidak dikuasai setan.”

Dan Anda tidak perlu mengeluarkan duit sama sekali untuk membuat perlindungan yang paling ampuh itu. Anda cuma butuh modal menghapalkannya saja. Dan saya yakin Anda sebenarnya sudah hapal karena apa yang dihapal itu sudah biasa dihapal sejak kecil. Percayalah perlindungan ini adalah perlindungan terkuat yang sirep dan sihir sehebat apapun tak akan sanggup menembusnya. Pagar gaib antisihir paling syar’i. Insya Allah.

Inilah pagar atau perlindungan terkuat ala Rasulullah saw:

1.       Baca ta’awudz:  A’uudzubillaahi minassysyaithoonirrojiim”Aku berlindung dengan Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan Syaithan yang terkutuk.” [1] 

2.       Baca: A’uudzu bikalimaatillaahittaammaati  min syarri maa kholaq

Aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan apa-apa yang diciptakan.”[2] 

3.       Membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan Annaas tiga kali di waktu pagi dan sore. [3]

 

4.       Baca Al-Baqarah ayat 1-5 [4]

 

(Petunjuk pemakaian lebih lanjut bisa dilihat di bagian bawah tulisan ini.)

 

Anda bisa memilih satu atau dua dari apa yang saya ungkap di atas yang menurut Anda paling mudah untuk dilakukan. Lebih banyak lebih bagus karena tidak ada ruginya kita senantiasa berdzikir. Bahkan banyak berdzikir membuat hati kita tenang bukan? Sebenarnya masih banyak lagi macam-macam perlindungan syar’i yang diajarkan rasulullah kepada kita semua namun tidak saya ungkap semuanya di sini mengingat keterbatasan saya. Baca saja dzikir al-ma’tsurat wadzifah shugra atau qubra yang di dalamnya terdapat kumpulan dzikir-dzikir ma’tsur dari Rasulullah SAW..

Selamat mengamalkan. Semoga nanti malam Anda semua bisa tidur nyenyak karena dilindungi suatu pagar perlindungan yang teramat kuat dari-Nya. Semoga.

***

  

  

[1] Anas RA. dari Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang membaca “A’udzubillahi…….” waktu pagi maka ia dilindungi dari syaithan hingga petang. (HR Ibn Sunni) [2] Dari Abu Hurairah RA bahawa Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang baca di waktu petang tiga kali “A’udzu bikalimaati……” nescaya tidak akan memudharatkannya oleh sesuatu yang berbisa. (HR Muslim)[3] Dari Abdullah bin Khubaib RA berkata: Pada suatu malam yang sangat gelap dan hujan, kami keluar mencari Rasullulah SAW agar berdoa untuk kami. Maka kamipun bertemu dengannya. Lalu baginda bersabda: “Katakanlah !”, tapi aku tidak berkata apa-apa. Kemudian baginda bersabda, “Katakanlahl”, tapi aku tidak berkata. Kemudian baginda bersabda, “Katakanlahl”, maka aku bertanya, “Kata apa wahai Rasulullah ?” Baginda menjawab, “Qul Huwallahu Ahad  dan dua mu’awizatain waktu pagi dan petang 3 kali, nescaya mendindingmu dari segala sesuatu.”(HR Abu Daud, Tirmizi dan Nasai)[4] Hadits riwayat Darani dan Baihaqi dari Ibn Mas’ud RA dari Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah di pagi hari nescaya ia tidak didekati Syaithan hingga petang. Jika dibacanya di waktu petang, nescaya ia tidak didekati Syaitan hingga pagi.Dari Ibn Mas’ud dari Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat dari awal surah Al Baqarah  dan Ayatul Kursi dan dua ayat selepasnya dan penutup surah Al Baqarah nescaya Syaithan tidak akan masuk dalam rumahnya hingga pagi.Allohua’lam bishshowab.Salam takzim buat 223 User Aktif online, 108 Guest(s) and 115 Member(s) pukul 14:20
Member(s) online: 
Orang_Kampung, afifah, d.day, smiling_sheva, ruud, nailal_husna, buih, Azmi, happy2, suff, A-HA, Dzakirah, kang Ase, dee_lova, abu 3an, koorma, alwafi, ALIFkecil, @yoe, nur fajar, alwaysIZUL, Skywalker, OK!!!, mr X al-klateny, must_yayam, Abu Rofiq, candle, sepi, nabilla, arelu, nasywa, mahiya, wong_ndeso, Ummi!, DisTio, efen, van mboden, Yukiji, Ahmadinejad, AdMarJun, watakushi, AbuFath, fit2, zidan, banjar_oey, the interpreter, shalehah, Hifa, yayak, za&ki, fidza, pegasus, Ibnu_Affanie, ibnu ‘umar, Lampu, seti, mas_pria, Ayah Yasmin, sajadah biru, durra, Najma, ben1maru_2000, izzydiharo, Duwet, julianti, kugelfang, kaito kid, UCUK2, lilah_abie, hamdi, inas, sarah, salman_alfarisi, Abu Hafizh, halman, must_NSP, bumblebee, Al ayyubi, pelangi senja, as-tsauri, ano she, white_rose, Tulip, delphy boreLan, NISRINA, chubby, aneuk_nanggroe, ditya, Aliya, Yurist, Corsa, ekaoke, irfan, farin, Salsabila_d7, ”B”, Ibnu Chaeruddin, DiDan, at taufik, dpk-bgr, street_learner, Look-M, BAWOR, camat, prabu, siantar, abu miqdad, MaieV, A-tebe,   Riza Almanfaluthidedaunan di ranting cemara14:18 14 Pebruari 2008  

Telan Obat Itu, Maka Anda Bahagia


Anda stres hari ini? Atau Anda bangun dengan kemarahan masih menggumpal di dada? Masih ada semangat kesumat yang menggelora dan butuh pelampiasan sebagai obatnya? Anda masih bertengkar dengan istri dan anak Anda? Ada kesedihan dan beban hidup yang amat berat yang kiranya sulit untuk dihapuskan segera? Sepertinya semua kesulitan hidup ada pada diri Anda hari ini? Dan Anda tidak bahagia?

Saya ingin berbagi pada Anda obatnya yang Insya Allah akan menghapus semua itu dengan segera, minimal menjadi awal dari runtuhnya bukit ketidakbahagiaan Anda itu. Anda mau tahu? Ya, saya yakin Anda ingin tahu sekali tentang itu.

Saya beritahu Anda sekarang: Berbuat baiklah. Anda mestinya bertanya: “Kapan saya harus melakukan perbuatan baik itu?” Sekarang juga, jangan ditunda-tunda. Anda ketika sakit tentunya ingin menghilangkan rasa sakit itu dengan segera entah dengan meminum obat penghilang rasa sakit, atau antibiotiknya. Kini semua ketidakhbahagian Anda itu adalah rasa sakit yang diderita oleh jiwa Anda. Maka kalau Anda ingin sembuh dari ketidakbahagiaan Anda sekarang, minum obat itu, berbuat baik.

Bukankah berbuat baik itu adalah paradigma memberi? Ya, dan paradigma Anda tentang Anda sakit maka Anda berhak untuk menerima segala pemberian kiranya perlu diubah. Yakinlah Anda tidak akan pernah “take” ketika Anda tidak pernah “give”. Kini perilaku “give” menjadi motor dalam menggerakkan Anda untuk menelan obat yang bermerek berbuat baik itu. Anda akan “take” berupa energi positif penyembuhan ketidakbahagiaan Anda. Kata seorang penulis buku terkenal, memberi itu sama saja artinya dengan memberikan kehidupan bukan saja kepada orang lain melainkan kepada diri Anda sendiri.

Dan Anda tidak perlu berpikir bahwa Anda harus terlebih dahulu melakukan sesuatu yang besar-besar dalam berbuat baik itu? Memang betul perbuatan baik yang besar setidaknya akan memberikan energi positif yang amat besar pula. Tetapi ketika Anda dalam keadaan darurat, dan belum bisa melakukan perbuatan baik yang amat besar itu, semisal sholat, puasa, zakat, dan haji—entah karena waktunya belum tiba dan hal lainnya—maka apa yang Anda harus lakukan sekarang juga?

Anda harus melakukan perbuatan baik yang kecil-kecil saja dahulu. Ya, kecil-kecil saja dulu. Apa contohnya? Tegakkan kepala Anda yang tertunduk seperti pecundang itu. Lengkungkan bibir Anda yang tertekuk ke bawah itu ke atas. Dan tebarkan kepada siapa saja yang Anda jumpai. Ya, tersenyumlah Anda. Sekarang juga. Dan Anda sudah menelan obat anti ketidakbahagiaan itu. Tidak keluar uang sedikit pun.

Obat yang bernama berbuat baik itu tidak seperti obat-obat yang lain. Ia tidak ada batas dosis maksimal seperti obat-obat materi yang lainnya, yang kudu Anda telan dua kapsul tiga kali sehari misalnya. Tidak, tidak seperti itu. Semakin sering obat bernama berbuat baik itu Anda telan, semakin sembuhlah Anda segera dan semakin sehatlah jiwa Anda. Itu baru obat berbuat baik yang kecil-kecil sahaja apalagi Anda menelan obat berbuat baik yang besar-besar?

Lalu, obat berbuat baik yang kecil-kecil apalagi yang harus Anda telan segera agar Anda mendapatkan kesembuhan supercepat lagi? Sebenarnya sangat banyak, semisal mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang membantu Anda dengan bantuan kecil sekalipun, membayar makan pagi teman Anda, membayar tiket tol mobil yang ada di belakang Anda, membayar semangkuk bakso yang sedang dimakan oleh Bapak Polantas di pinggir jalan, atau sedekah dengan uang recehan kepada pengamen, pemulung, dan anak-anak jalanan.

Juga menyapa SATPAM kantor Anda yang sampai detik ini masih tetap setia duduk dan menjaga di lobby kantor Anda, ucapkan permisi dan maaf ketika ada office boy atau cleaning service yang saat itu sedang mengepel lantai kantor Anda, dan masih banyak lagi lainnya. Tanggalkan segala baju ego dan telanjangkan diri Anda dari jas gengsi yang segitu mahalnya buat orang lain.

Setelah itu, setelah Anda melakukan semua perbuatan baik itu, rasakan obat itu beraksi dengan cepat, mengalir lewat pembuluh darah ke segala arah dan memacu hormon serotonin, hormon kebahagiaan Anda. Alhamdulillah.

Tapi bagi seorang muslim ada lagi yang lebih dari sekadar itu. Agar kebahagiaan itu terasa juga tidak hanya di dunia atau berorientasi akhirat, mau tidak mau Anda harus berniat melakukan karena Allah semata, tidak boleh melenceng sedikitpun, dan luruskan segera bila sudah melenceng bukan karena-Nya. Karena bila tidak di akhirat cuma mendapatkan debu dari obat berbuat baik itu. Tidak ada hasilnya sama sekali. Cuma kebahagiaan di dunia saja yang Anda dapatkan.

Percayalah, keikhlasan Anda ibarat air yang melancarkan jalannya obat untuk masuk ke dalam pencernaan Anda. Bahkan obat berbuat baik yang Anda masukkan ke dalam jiwa Anda dengan sebuah keikhlasan itu selain menimbulkan kebahagiaan, serta merta ia akan menjadi cadangan bantuan darurat untuk Anda. Tidak percaya? Dengarkanlah cerita berikut ini.

Andi, sebut saja namanya demikian, berangkat ke kantor dengan perasaan gundah gulana. Tadi pagi sebelum berangkat ia harus bertengkar dulu dengan istrinya. Ketidaksalingmengertian memahami persoalan membuat mereka tidak bisa menuntaskannya segera. Akibatnya Andi pergi dengan segumpal marah masih teronggok di dadanya.

Di sepanjang perjalanan ia masih memikirkan hal itu. Ia sadar ia harus keluar dari kemarahannya ini. Kemarahannya hanya membuatnya semakin tidak bahagia. Solusi yang sering ia lakukan saat mengalami hal ini adalah dengan melakukan sedekah. Ia percaya betul bahwa sedekah akan membuatnya terlepas dari segala persoalan dunia. Dan ia bertekad untuk sedekah pagi itu.

Lalu di tempat ia biasa membeli nasi bungkus sebagai bekal sarapannya, ia berhenti. Di sana sudah ada kawan lamanya yang sudah tidak sekantor lagi dengannya sedang membeli nasi bungkus itu. Dan binggo, sebuah kesempatan untuk bersedekah terbuka dihadapannya. Ia mengambil uang temannya yang sudah digeletakkan di meja penjual nasi itu dan menyerahkannya kembali kepada temannya.

“Tidak perlu, biar saya yang bayar saja,” ucapnya. Temannya menerima uang goceng itu dengan ucapan terima kasih lalu pergi meninggalkan si Andi yang masih menunggu nasinya dibungkus. Andi merasa bahagia dan sedikit demi sedikit kemarahan yang ia rasakan tadi pagi berangsur-angsur hilang. Energi positif itu mengalir ke seluruh tubuhnya. Selesai? Fragmen kehidupan Andi tidak berhenti di situ.

Beberapa saat meninggalkan warung itu, motor yang ia naiki tersendat-sendat jalannya. Ia tidak tahu mesin, ia mengira bahwa motornya itu cuma karena kehabisan bensin. Sedangkan tidak ada penjual bensin di sekitar tempat itu. SPBU pun masih jauh letaknya. Dan ia harus mengejar absen paginya agar nanti di awal bulan gajinya tidak terpotong. Ia sudah berpikir akan terlambat. Beberapa puluh meter dengan keadaan motor yang buruk itu, ia bertawasul dengan perbuatan baik yang ia baru saja lakukan. “Ya Allah jikalau saja perbuatan menolong teman saya itu ikhlas karenaMu maka tolonglah saya Ya Allah dan berilah aku jalan keluar atas semua masalah ini.”

Apa yang terjadi? Allah mengabulkan doanya lagi setelah permintaannya tentang kesempatan untuk bersedekah dikabulkan. Usai ia bertawasul ia mencoba untuk melihat ke bawah, ke bagian pengapian yang benar-benar belum ia lihat sedari tadi. Dan betul sekali, selang pengapian ke businya ternyata lepas! Ia pasang, dan motor itu bisa berjalan normal kembali. Andi bahagia, Andi ditolong, dan keluar dari masalahnya.

Sahabat, telan obat berbuat baik itu, Anda bisa lakukan sekarang juga, ikhlaskan ia, rasakan energi postif itu mengalir dalam jiwa Anda, Anda bahagia, dan jadikanlah ia cadangan Anda di dunia dan akhirat. Semoga.

Karena Andi dan saya telah merasakannya. Anda kapan kalau tidak melakukannya sekarang?

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:20 06 Pebruari 2008