DENDAM AMANGKURAT


DENDAM AMANGKURAT

Beberapa pemimpin Bani Abbasiyyah yang tidak berhasil membunuh lawannya dari Bani Umayyah melakukan sebuah tindakan
di luar akal manusia yang beradab hanya dengan alasan kelompok Bani Umayyah tersebut mati sebelum mereka berkuasa.
Karena masih penasaran, seorang dari mereka, Abdullah bin Ali, mengeluarkan mayat-mayat musuhnya dari kuburan, lalu
mencambuki, dan menyalibnya sebelum akhirnya dibakar. Tidak hanya itu ia membantai keturunan Bani Umayyah dan
orang-orang yang bukan berasal dari Bani Umayyah sebanyak 92.000 orang pada hari Ahad di tepi salah satu sungai di
Ramlah.

Beberapa abad kemudian, contoh lain dari begitu banyak obsesi sebuah dendam adalah saat Trunojoyo yang memberontak
kepada kakak iparnya Amangkurat II-raja Mataram yang lalim dan mau menggadaikan harga dirinya di telapak kaki VOC,
padahal kakeknya sendiri tak mau untuk tunduk pada kumpeni hingga menyerang Batavia dua kali walaupun tanpa hasil-tak
sanggup lagi untuk meneruskan perlawanan. Maka yang tampak adalah sebuah tragedi di balai agung pertemuan raja.

Di sana, penyerahan baik-baik itu tak dibalas dengan sebuah penghormatan akan nilai kehidupan. Beberapa pengawal
bergerak, menyeret Trunojoyo untuk didekatkan sampai ke depan raja. Raja berdiri dari kursi, menyambut tubuh yang
telah pucat pasi itu dengan tusukan keris Kyai Balabar. Tusukan tepat di dada hingga menembus punggung. Darah muncrat
membasahi raja.

Tak puas sampai di situ, ia memerintahkan para adipatinya untuk ikut serta terjun ke dalam lautan kebengisannya.
Mereka langsung maju menyarangkan keris masing-masing ke tubuh yang sudah tak bernyawa itu, lalu memakan jantungnya.
Dua orang tumenggung dari Pasuruhan karena tidak mendapat tempat lagi untuk di mana keris hendak ditusukkan, mereka
cuma kebagian upacara melumuri tubuh dan wajah dengan darah. Selesai?

Tidak!

Sebelum Amangkurat meninggalkan balai pertemuan itu, ia memerintahkan agar leher suami dari adik tirinya itu
dipenggal, dan kepalanya dia tenteng menuju balai peristirahatan. Semua selir wanita simpanan ia suruh menginjakkan
kakinya di atas kepala Trunojoyo sebelum masuk ke peraduan. Lalu dini hari nantinya, ia perintahkan kepala tersebut
dimasukkan ke lesung untuk dihancurkan.

Aduhai manusia, sungguh ini adalah secuil dari prahara bahkan badai dendam yang menggelayuti sukma dan hati para
pengusung sifat alami Iblis. Ia yang diusir dan dilaknat Allah ini karena kesombongannya tak mau sujud kepada Adam
tak akan pernah puas untuk senantiasa menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam neraka yang sedalam-dalamnya. Dendamnya
tak berkesudahan.

Puaskah Abdullah bin Ali dan Amangkurat II untuk menuntaskan dendamnya? Tidak! Sungguh membunuh musuh tidak akan
cukup untuk memuaskan nafsu balas dendam. Ia pada galibnya tidak akan pernah menemukan kedamaian atau kebahagiaan
karena api dendam itu akan semakin berkobar ketika satu dendamnya saja terlampiaskan. Ia bagaikan api disiram dengan
bensin, hingga dendam itu akan menguasai seluruh sisi kemanusiaannya.

Maka Syaikh 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni pun meminta kepada para manusia untuk memahami kata-kata ini:
"Pendendam akan selalu merasa lebih menderita dan sengsara dibandingkan dengan musuhnya, karena dia telah
kehilangan kedamaian dan kebahagiaan."

Musuh tidak akan menyakiti orang
lain lebih hebat daripada dia menyakiti diri sendiri.

Tak sekadar di forum diskusi, di dunia nyata syahwat dendam yang membesar hingga sampai menjadi obsesi adalah sebuah
tanda dari hati yang sakit. Ia senantiasa mencari setitik kesalahan yang tampak dari saudaranya sendiri. Menunggu
dengan sabar kelengahan saudaranya bagaikan elang Afrika yang sedang mencari mangsa. Di saat kelinci gurun itu muncul
maka melesatlah sang elang menerkam hingga mencabik-cabik tubuh dan memakannya. Begitu pula di saat kesalahan itu
tampak di depan matanya, ia siapkan mortir pembalasan entah dengan kata-kata atau aksi fisik secara nyata. Ia
bagaikan penjelmaan dari dendam Amangkurat II.

Ah, puaskah? Tidak, sungguh hatinya semakin sakit hingga ia sesungguhnya rapuh dan tidak menyadari bahwa obat yang
sesungguhnya itu bukan sebuah pembalasan dendam tetapi aksi sebuah hati berupa memaafkan. Ya, memaafkan atas sebuah
kesalahan itu akan menyehatkan dan membahagiakan dirinya sendiri. Ia bagaikan air hujan yang memadamkan kobaran api
para pengusung dendam. Ia bagaikan wadi di tengah gurun pasir bagi para kafilah. Ia adalah pulau kecil di tengah
samudera luas bagi orang-orang yang terapung-apung di dalamnya.

Kathleen Lawler, Ph.D-seorang peneliti di University of Tennesse, yang meneliti soal pengaruh memaafkan terhadap
kesehatan-menjelaskan sesungguhnya memaafkan dapat meningkatkan kesehatan karena terjadi pengurangan beban psikologis
yang tertekan karena disakiti dan diserang oleh orang lain. Disadari atau tidak, kemarahan dan rasa sakit hati yang
mendalam memang bisa merusak kesehatan. Memaafkan adalah obatnya. Dengannya tubuh menjadi rileks, aliran darah lebih
lancar karena jantung bekerja normal tanpa gangguan. Dan ketimbang untuk orang lain, memaafkan sebenarnya amat baik
utuk diri sendiri.

Aduhai kawan, menyandingkan sebuah kemaafan untuk menutupi sebuah lubang bernama dendam adalah tugas berat. Di
sanalah butuh sebuah semaian dari ladang keimanan. Keyakinan yang kuat bahwa dengan hanya berlindung pada Sang
Pencipta Segalanya, maka bibit-bibit sifat Iblis itu akan musnah.

Aduhai kawan, sungguh banyak para ulama pendahulu kita berwasiat pada kita semua, dengan dzikir kepadaNya selamanya ,
senantiasa mengambil wudhu, bergaul dengan orang-orang yang shalih, meninggalkan kedurhakaan dan perbuatan-perbuatan
keji, berpaling dari dosa-dosa, banyak beristighfar, tobat, dan kembali padaNya, semuanya itu adalah benteng kokoh
perlindunganNya dari segala bentuk angkara murka.

Selain itu akan kemana lagi kita berlindung? Pada kayu-kayu mati? Pada patung-patung bisu? Pada kedigdayaan diri?
Aduhai, kiranya mati adalah lebih baik daripada hidup.

Semoga kita tidak mendendam layaknya dendam Amangkurat yang tiada berkesudahan.

Allohua'lam bishshowab.

Maraji':

1. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Don't be Sad: Cara Hidup Positif
Tanpa Pernah sedih dan Frustasi
, Maghfirah Pustaka, 2004

2. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Cambuk Hati, Irsyad Baitus
Salam, 2004

3. Asmawati, Memaafkan itu Menyehatkan & Membahagiakan,
Majalah Ummi Edisi 05/XIX September 2007;

4. Bre Redana, Bulan Kabangan, dalam Derabat, Cerita Pendek Pilihan Kompas 1999.

5. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani
Umayyah hingga Imperialisme Modern
, Pustaka Al-Kautsar, 1998;

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.22 08 01 08

di sana Islam sekadar simbol

FALATEHAN


FALATEHAN

Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Kyai : Kalau sudah tahu ada buku-buku sejarah di sana, mengapa tidak kau baca buku itu sendiri?
Santri : He…he…he…saya lagi malas baca Kyai. Tinggal mendengarkan saja dari Kyai kan enak.
Kyai : Jang…jang…Santri model kayak kamu inilah yang biasanya enggak akan eksis nanti setelah keluar dari pesantren. Dan hanya menjadi korban dari imperialisme dan kolonialisme gaya baru. Inginnya serba instan, cepat, dan ending oriented. Proses terabaikan.
Santri : Iya Kyai, saya kan sudah mengaku. Tapi cobalah Kyai sempatkan berbagi kepada saya tentang itu. Bisa kan Kyai?
Kyai : Tapi untuk kali ini saja. Lain kali kau bisa membacanya langsung. Tak perlu bertanya kepada saya lagi. Kecuali memang ada hal-hal yang tidak kau mengerti atau pertanyaan yang diawali “mengapa”.
Santri : Insya Allah Kyai.
Kyai : Seringkali orang menyamakan Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Padahal keduanya merupakan orang yang berbeda. Namun masih mempunyai kekerabatan dari hasil perkawinan. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah, Penguasa Cirebon dan Banten. Syarif Hidayatullah sendiri adalah cucu Raja Pajajaran yang amat berkuasa pada masanya yaitu Prabu Siliwangi. Awalnya dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahirlah Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara.
Setelah meninggalnya ibu mereka, Raden Walangsungsang dan adik perempuannya belajar agama Islam kepada Syaikh Datu Kahfi di Gunung Ngamparan Jati. Mereka diperintahkan gurunya untuk pergi haji ke Mekkah setelah tiga tahun belajar bersamanya.
Santri : Hebat juga, anak-anak dari Prabu Siliwangi memilih keluar dari keraton dan memilih Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Kyai : Ohya tentu, karena pada saat itu Islam menjadi tamaddun yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Walaupun Andalusia baru jatuh, tetapi muncul kekhalifahan baru yang masih membuat peradaban Islam masih tetap bercahaya cemerlang, yaitu Kekhalifahan Utsmani.
Santri : Ngomong-ngomong tamaddun itu apa?
Kyai : Peradaban. Lanjut. Jadi seperti zaman sekarang, kalau sudah disebut nama Amerika kita langsung membayangkannya sebagai negara paling modern, maju, kaya, dan pusat ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan saat itu, Islam menjadi sesuatu yang diperbincangkan di banyak tempat. Apalagi dengan para pedagang Muslim yang mengembara ke berbagai tempat di belahan dunia lainnya untuk berniaga sekaligus membawa misi Islam.
Juga Mekkah dan Madinah walaupun tidak lagi menjadi sebuah pusat kekuasaan politik Islam sejak Khalifaturrasyidin terakhir, tetapi sebagai pusat kesempurnaan rukun Islam dan napak tilas sirah nabawiyyah maka kedua tempat itu adalah sesuatu tempat yang harus mereka kunjungi sebagai muallaf yang bersemangat dalam berislam. Sebagaimana kota-kota Islam terkenal lainnya seperti Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Istanbul. Wajar kedua anak Prabu Siliwangi ini pun pergi ke tanah Arab.
Santri : Terus bagaimana Kyai?
Kyai : Setelah menunaikan haji Raden Walangsungsang kembali ke tanah Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan, yang masih merupakan kekuasaan Pajajaran. Pasambangan kemudian berkembang menjadi Cirebon, dan Raden Walangsungsang memperoleh gelar Pangeran Cakrabuana.
Sedangkan Nyai Lara Santang dilamar oleh bangsawan Arab dari Bani Hasyim, yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Dan melahirkan anak yang ia beri nama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa Syarif memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Lalu ia pergi ke Cirebon menemui pamannya. Setelah pamannya wafat, Syarif menggantikan kedudukan pamannya dan berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Santri : Wah, Sunan Gunung Jati keturunan Suku Quraisy juga ya Ki?
Kyai : Dari silsilahnya demikian. Lalu setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam dan lepas dari pengaruh Pajajaran, ia meluaskan pengaruhnya kepada kerajaan-kerajaan yang belum mengenal Islam seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dan ini didukung oleh Demak.
Berhubung pada saat itu Demak sedang berkonfrontasi dengan Portugis, dan Pajajaran bersekutu dengan Portugis dalam penguasaan perdagangan rempah-rempah, juga dikarenakan Banten—yang merupakan wilayah Pajajaran—merupakan pelabuhan yang strategis dan ramai yang dikunjungi oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri, maka menarik minat Demak untuk menguasai Banten.
Diutuslah panglima perang Kerajaan Demak sekaligus menantunya sendiri yaitu Fatahillah untuk menyerbu Banten. Sebelum ke Banten, Fatahillah mampir ke Cirebon ke rumah mertuanya.
Pasukan Demak dan Cirebon bergabung di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati , Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang menuju Banten. Di sana, anaknya Sunan Gunung Jati bernama Maulana Hasanuddin yang menjabat sebagai bupati juga melakukan pemberontakan kepada penguasa Pajajaran, sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk merebut Banten.
Di Banten, Sunan Gunung Jati meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. Ketika ia pulang ke Cirebon, Banten diserahkan kepada kembali anaknya Maulana Hasanuddin. Di tahun 1527 itulah atas prakarsa Sunan Gunung Jati penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan. Dipimpin juga oleh Fatahillah.
Santri : Panjang benar nih Kyai menerangkan. Sebenarnya bagi Demak Sunan Gunung Jati itu pengaruhnya seberapa besar sih?
Kyai : Oh tentu pengaruhnya besar sekali. Menurut Babad setempat yaitu Babad Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo. Tentang ini kamu pasti sudah tahu Jang. Ia sangat dihormati oleh raja-raja lain di Jawa karena kepemimpinan dan keilmuannya sehingga sering disebut pula sebagai Raja Pandita. Ia pun adalah salah satu pembuat soko guru Masjid Demak, selain Sunan Ampel, Kalijaga, dan Bonang. Sekarang kamu sudah mengerti belum?
Santri : Alhamdulillah, Ki. Saya jadi paham kaitan antara Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati. Mereka bukan orang yang sama.
Kyai : Tapi jangan salah loh, beberapa tahun yang lalu koran nasional sekaliber Republika pernah menulis bahwa Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. Argumentasinya adalah bahwa Sunan Gunung Jati punya banyak nama di antaranya adalah Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati. Sedang menurut babad-babad (cerita), nama asli Sunan Gunung Jati sangatlah panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah. Jadi bisa jadi bahwa Fatahillah itu adalah Falatehan, dan Falatehan itu adalah Sunan Gunung Jati.
Tapi kalau saya baca dari tulisan itu amatlah lemah. Karena sisi historisnya digambarkan dengan alur yang loncat-loncat dan tidak bisa dimengerti. Jadi saya lebih memilih bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Santri : Kenapa nama Fatahillah juga disebut sebagai Falatehan, Ki?
Kyai : Salah seorang orientalis Barat yang terkenal bernama Dr BJO Schrieke, mengatakan bahwa dari hasil penyelidikannya nama Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab: Fatahillah. Kayaknya sudah cukup saya menerangkan ini kepada kamu. Kamu tinggal baca referensi yang lain.
Santri : Insya Allah tadi sudah cukup. Nanti kalau saya belum puas tentang sejarah Cirebon dan Banten saya akan baca di perpustakaannya Kyai. Boleh ‘kan Kyai?
Kyai : Boleh-boleh saja Jang. Tapi ingat, jangan melirik-lirik si Ai yah…
Santri : Lah dulu Kyai yang menawarkan. Saya boleh dong mengenal lebih dekat?
Kyai : Ah, inget aja kamu ya Jang. Ah pokoknya jangan nyerempet-nyerempet. Luruskan niat mau belajar. Bukan untuk yang lain.
Siang pun masih terik dengan matahari yang membakar. Sawah sudah mulai menyapa mereka agar menuntaskan pekerjaannya hingga senja kan jelang.
***
Maraji’:
1. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=146425&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=185
2. Sejarah Emas Muslim Indonesia, Sabili, No.9 Tahun X 2003;
3. Ensiklopedi Islam, Jilid 1 dan 5, Cetakan Keenam, PT Ictiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 31 Juli 2007

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]
[tulisan keempat]

Pada tulisan terdahulu diuraikan tentang benih-benih timbulnya ketidaksukaan para pemimpin Al-Ikhwan kepada Abdul Aziz maka pada bagian terakhir ini diterangkan tentang upaya Al-Ikhwan melancarkan bughot melawan amirnya, Abdul Aziz bin Abdurrahman.

Pertempuran Sabillah
Al-Ikhwan tidak bisa sesabar Abdul Aziz menunggu dua bulan. Mereka tidak bisa berpikiran tenang dan berpertimbangan matang. Justru kefanatikan yang tidak masuk akallah yang membuat mereka bertentangan dengan Abdul Aziz. Beberapa minggu setelah pertemuan Riyadh, mereka melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat perdamaian takkan mungkin dicapai lagi dan menghilangkan simpati yang selama ini mereka peroleh.
Di bulan Desember 1928 mereka menyerang rombongan pedagang unta Nejd di Jumaymah, dekat perbatasan Irak. Semua dibunuh dan hewan dagangan mereka dirampas. Sekelompok orang Badui di sebelah utara dibantai pula oleh sepasukan Al-Ikhwan. Nyata-nyata bahwa Al-Saud dan Nejd tidak lagi menghadapi suatu perselisihan agama melainkan penghancurkan negara baru Abdul Aziz.
Mereka menolak kewajiban suatu masyarakat, peraturan yang ada, tak mau menetap dan membentuk pemukiman Ikhwan yang tetap. Mereka ingin kembali menjadi bangsa Badui yang bisa mengembara kemana saja. Faisal Al-Dawisy menulis surat kepada Saud Bin Abdul Aziz, ”…Kau telah menjauhkan kami dari agama kami, kau telah menjauhkan kami dari kesenangan duniawi kami.”
Pasukan kendaraan bermotor dikirim Abdul Aziz di bulan Maret 1929 dipimpin oleh Abdullah Suleiman al-Hamdan, juru tulis kepercayaan Abdul Aziz yang berhasil mengorganisir pengadaan bahan bakar, suku cadang, dan mesiu. Iringan pasukan itu menuju Anayzah dan Buraydah untuk mengumpulkan bantuan. Abdul Aziz menggunakan uang dan pegnaruhnya pada suku-suku Badui yang ada. Ia memberi 6 pound emas kepada kepala suku yang berhasil membawa sukunya untuk bergabung. Tiga pound untuk orang biasa dan kota yang ikut berperang dan dengan janji tambahan lainnya bila tugas selesai.
Di akhir Maret 1929, pasukan Abdul Aziz berhadapan dengan pasukan Faisal al-Dawisy dan Ibnu Bijad di padang Sabillah dekat Artawiya. Tiga berbanding satu. Pasukan pemberontak kalah jauh diukur dari kuantitas pasukan.
Al-Dawiys dan Ibnu Bijad pemimpin penyerangan yang paling ulung. Mereka tak biasa berhadapan dengan lawan yang begitu besar. Tapi mereka mengira bahwa Abdul Aziz tak bisa bertempur lagi, karena Abdul Aziz secara pribadi terakhir ikut pertempuran 12 tahun yang lalu. Mereka yakin Abdul Aziz hanya pandai bicara saja. Dan mereka yakin kemenangan ada di tangan mereka karena sejak 1919 merekalah yang berperang untuk Abdul Aziz. Ketakberanian Abdul Aziz menghadapi Inggris secara langsung, menurut mereka, menajdi tanda kelemahan yang tampak dari Abdul Aziz.
Tapi Abdul Aziz masih cukup galak. Berulang kali utusan pencari kedamaian antara kedua belah pihak saling berunding, mencoba merumuskan gencatan senjata. Tapi gagal. Abdul Aziz marah besar saat utusan Ibnu Bijad tidak mau menjawab salam sebagaimana kebiasaan mereka yang tidak mau menjawab salam kepada mereka yang dianggap ”Bukan Muslim Sejati”.
Bahkan saat Faisal Al-Dawisy datang sendiri ke Abdul Aziz, Abdul Aziz sudah tak punya selera lagi berdamai dan menyarankan kepada mereka untuk menyerah. Saat Al-Dawisy pulang kembali ke perkemahannya, ia mengabarkan bahwa orang-orang Saud itu cuma sekumpulan orang-orang lemah lemas yang hanya bisa tidur di atas kasur. ”Mereka tak berguna sama sekali, bagaikan pelana unta tanpa pegangan,” kata Faisal kepada Ibnu Bijad.
Keesokan paginya Abdul Aziz berkuda mengepalai pasukannya. Ia turun sesaat untuk mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh. Segera pertempuran dimulai. Al-Ikhwan berada diketinggian dan telah membangun suatu tumpukan batu sebagai tempat perlindungan. Di balik itu mereka bisa menembak dengan aman. Saat mereka melihat pasukan Saudi mundur—yang sebenarnya hanya untuk mengambil kesempatan makan pagi yang sudah begitu terlambat—Al-Ikhwan menganggap ini adalah gerakan mundur besar-besaran.
Dengan gembira pasukan Al-Ikhwan menyerbu meninggalkan kubu mereka, mengejar. Tapi mereka langsung dibabat oleh dua belas senapan mesin yang sengaja disembunyikan dan tempat kedudukannya sangat dirahasiakan. Singkatnya ratusan orang roboh, yang selamat cerai berai melarikan diri. Abdul Aziz menyuruh pasukannya mengejar. Pertempuran Sabillah hanya berlangsung setengah jam saja. Inilah kekalahan Al-Ikhwan yang pertama.
Para perempuan Al-Dawisy memohon untuk menyerah. Faisal Al-Dawisy tertembak di punggungnya tapi masih hidup. Abdul Aziz memberikan mereka ampun, tapi tak membiarkan pemukiman Ibnu Bijad utuh, ia menghancurkannya dan menahan Ibnu Bijad. Lalu Abdul Aziz memberi hadiah pada pasukannya yang setia, memberi ganti rugi kepada yang telah berkorban, menyuruh mereka pulang, dan ia sendiri berangkat hají ke Mekah. Ia pikir, Al-Ikhwan telah tamat.

Berontak Kembali
Pemuka Al-Ikhwan yang satu lagi, Dhaidhan bin Hithlain, sedang berada di daerah Timur saat pertempuran Sabillah berlangsung. Kekalahan dua sekutunya mendorongnya untuk segera berdamai. Maka di bulan Mei 1929, ia merundingkan perdamaian dengan Fahad bin Abdullah bin Jaluwi.
Ia diundang ke tenda Fahad. Setelah berunding pada malam harinya Ibnu Hithlain pamit untuk pulang kemahnya. Namun Fahad memintanya untuk menginap. Ditolak oleh Ibnu Hithlain karena ia harus memenuhi janjinya kepada sukunya—Ajman—untuk segera kembali setelah perundingan. Bila tidak memenuhi janji itu maka suku Ajman akan meluruk mereka, ke tempat itu.
Fahad merasa bahwa ini merupakan ancaman terselubung, maka ia memerintahkan pengawalnya untuk menahan Ibnu Hithlain dan kesebelas pengiringnya. Dan meminta mereka dibunuh jika orang-orang Ajman itu datang. Dan benar ketika suku Ajman datang, mereka dibunuh. Padahal di saku Ibnu Hithlain ada surat jaminan keselamatan dirinya yang ditandatangani oleh Abdul Aziz, Abdullah bin Jaluwi, dan Fahad sendiri. Orang Ajman membunuh Fahad sebagai balasan, ditembak tepat di antara kedua matanya.
Al-Ikhwan marah besar, bahkan suku-suku Nejd lainnya karena mereka menganggap bahwa undangan Fahad itu tipu daya semata agar ia bisa membunuh Ibnu Hithlain, dan ini sebuah kepengecutan. Faisal al-Dawisy mengobarkan gerakan angkat senjata dan kini dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ini berbahaya bagi Abdul Aziz karena ia masih berada di Mekah, jauh dari Riyadh dan jika ia ingin kembali ke sana maka ia harus bertempur di sepanjang perjalanannya.
Kali ini pergaulannya dengan Inggris—kaum kafir—berbuah besar. Inggris yang menginginkan kestabilan di semenanjung Arab memaksa merubah politik devide et-impera-nya. Di musim panas di tahun 1929, dukungan terhadap Abdul Aziz dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Britania datang bertubi-tubi. Inggris melarang penguasa di Irak dan Kuwait untuk mengambil keuntungan dari kekisruhan di Nejd. Senjata mengalir dari India. Dengan dukungan tersebut Abdul Aziz menyeberangi Arabia dengan iring-iringan kendaraan bermotornya dan dikawal dengan enam senjata mesin.
Abdul Aziz bergerak ke timur laut. Kekuatan Inggris dikerahkan untuk mencegah Al-Ikhwan tidak lari ke arah yang sama. Agen-agen Inggris mengirimkan telegram ke Riyadh tentang pergerakan Al-Ikhwan. Abdul Aziz sendiri mengatur gerak pasukannya dengan jaringan radionya.
Azaiyiz anak Faisal ad-Dawisy memimpin 600 prajuritnya diikuti pula oleh kaum Ajman dan beberapa pejuang tua Mutair melancarkan serangan ke bagian utara Arabia. Di bulan Agustus 1929 pasukan itu merobek-robek Arabia utara, mengumpulkan kawan dan menghancurkan kawan. Serangan mereka sampai jauh di utara Hail dan berhasil merampas ratusan ekor unta dari kaum Syammar dan Amarat, merampas sebuah kafilah yang berisi uang 10.000 real hasil tarikan pajak Saudi yang akan diantarkan kepada Gubernur Hail.
Namun bawaan besar itu membuat perjalanan Azaiyiz semakin berat apalagi mereka sudah kekurangan air. Sumber-sumer air yang berusaha diduduki Faisal telah dikepung rapat oleh pasukan Gubernur Hail. Semangat mereka semakin mengendur. Di oase Umm Urdhumah mereka sekarang berhadapan. Di satu sisi Abdul Aziz bersama pasukannya yang segar-segar karena menguasai sumber air dengan di sisi lain pihak Al-Ikhwan yang kehausan karena kantung air yang sudah kosong. Apalagi onta-onta mereka yang sudah empat hari tidak minum.
”Allah bersama kita, Al-Ikhwan pilihan-Nya,” teriak Azaiyiz menyemangati. ”Kita harus terus maju dan memenangkan sumber air itu. Allah akan memberkati pengikut-Nya.”

Pertempuran terjadi di siang hari yang panas, tak karuan, dan kejam, tak berampun, satu lawan satu, di mana tak ada yang memberi dan meminta ampun. Kaum Al-Ikhwan sia-sia memekikkan teriakan kemenangan karena Abdul Aziz terus menambah bala bantuannya. Sore harinya walaupun Al-Ikhwan sudah membabat ratusan lawan, tapi tak sanggup menguasai oase. Azaiyiz tak bertenaga lagi karena lelah, lapar, dan haus diseret oleh lima orang budaknya dan bersembunyi di perbukitan pasir. Dua bulan kemudian mayat mereka ditemukan di tengah padang pasir, kering kerontang, agaknya sedang berjalan pulang.
Sebanyak 250 prajurit Al-Ikhwan tertawan dan dipenggal semuanya. Dan Ibnu Musa’id yang memimpin pertempuran tersebut saat mendengar bahwa di balik bukit masih terdapat 40 orang yang bersembunyi, memerintahkan pasukannya untuk menembaki orang-orang itu tanpa ampun. Kekalahan yang memilukan.

Mati di Penjara
Sisa-sisa Al-Ikhwan masih menjarah rayah sampai musim dingin tahun 1929. Tapi Faisal al-Dawisy yang sudah kehilangan anaknya telah kehilangan pula semangatnya. Ia mulai menasehati yang lain agar menyerahkan diri saja, mungkin Abdul Aziz mau mengampuni mereka. Sedangkan Faisal sudah memastikan bahwa dirinya tak akan mendapat ampun.
Pemberantasan terhadap sisa-sisa Al-Ikhwan dilakukan. Faisal—dalam rangka melindungi wanita, anak-anak, dan ternaknya—meminta perlindungan kepada Inggris melalui Kapten Dickson untuk bisa masuk Kuwait. Pemerintah Inggris menolak. Pasukan Abdul Aziz semakin menjepitnya. Di akhir Desember 1929 sekelompok orang Mutair berusaha meloloskan diri dari kepungan tapi ketahuan dan tak dibiarkan satupun hidup.
Beberapa puluh kilometer dari tempat itu Faisal Al-Dawisy ditemukan dengan kelompok kecilnya oleh pasukan Inggris. Padahal ia baru saja diserang oleh suku Badui lainnya yang masih setia pada Abdul Aziz. Kini ia cuma punya tiga pilihan: menyerah pada Abdul Aziz, pada Inggris di Irak, atau pada Inggris di Kuwait.
Ia memilih yang terakhir. Ia meminta Inggris berjanji bahwa ia tidak akan diserahkan kepada Abdul Aziz jika Abdul Aziz tidak berjanji untuk tidak membunuhnya.
Pada tanggal 28 Januari 1930, Angkatan Udara Inggris membawa Faisal Al-Dawisy dan dua orang bawahannya ke pangkalan Abdul Aziz dekat perbatasan Kuwait. Abdul Aziz telah menyiapkan suatu majelis berlebih-lebihan untuk menyambutnya. Abdul Aziz menangis tersedu-sedu saat memeluk Faisal Al-Dawisy dan mengajaknya berciuman di hidung sebagai kebiasaan orang Badui.
Abdul Aziz memegang janjinya kepada Inggris. Faisal tak dihukum mati. Ia memenjarakannya seumur hidup. Lalu 18 bulan kemudian Faisal Al-Dawisy meninggal di penjara karena daging tumbuh di tenggorokannya yang terus menerus mengucurkan darah. Al-Ikhwan musnah sudah.
Dua tahun kemudian, September 1932, Abdul Aziz menyatakan seluruh daerah Arabia, Nejd dan Hijaz adalah milik Al-Saud dan menyatakan daulah barunya sebagai Kerajaan Arab Saudi. Dengan lambang berupa dua pedang yang bersilang dan menyempurnakan lambangnya dengan gambar pohon kurma di atasnya sebagai lambang para penghuni daerah oase, para penghuni kota yang telah mapan. Tidak dengan lambang unta di atas dua pedang tersebut, suatu lambang bagi kaum Badui yang pasukan sucinya telah sangat membantu menegakkan kerajaan dan pula yang hampir saja membuat kerajaannya hancur.

***
Demikian sejarah singkat dari keberadaan Al-Ikhwan, yang pada awalnya bahu-membahu dan seide dalam pemahaman keberagamaan dengan pemimpinnya, Abdul Aziz, namun pada akhirnya dengan pemahamannya tersebut serta kesederhanaan alami mereka yang menyebabkan mereka melakukan pemberontakan terhadap pemimpinnya sendiri.
Maka pantas saja—seperti disebutkan di bagian pertama tulisan ini—sang Amir harus bersikeras dengan panitia masjid untuk mengubah nama masjid dalam proposal itu dengan nama yang lain asal tidak dengan nama Al-Ikhwan, karena Al-Ikhwan identik dengan Osama bin Laden. Dua-duanya—menurut mereka—adalah pemberontak.

Alhaqqu min rabbika.
Allohu’alamu bishshowab.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]
[tulisan ketiga]

Setelah dalam dua tulisan sebelumnya diuraikan latar belakang berdirinya Al-Ikhwan dan mesranya hubungan mereka dengan pemimpinnya Abdul Aziz maka pada tulisan yang ketiga ini akan diuraikan bagaimana benih-benih perpecahan yang sudah mulai tumbuh kian membesar. Sampai diperlukan bai’at kembali kepada Abdul Aziz.

”Mereka adalah anak-anakku”
Ketika kaum Ikhwan di tahun 1925 memasuki Jeddah, mereka langsung memutuskan kabel-kabel telepon, temasuk saluran yang menuju rumah Abdul Aziz. Menurut mereka telepon adalah penemuan baru—seperti mobil dan radio—yang tak bisa dimengerti cara kerjanya.
Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Abdul Aziz mereka memberikan peringatan, ”Dengan direbutnya tanah Suci, Muslim yang baik haruslah menjaga diri jangan sampai terbujuh oleh pengaruh asing,” kata Faisal al-Dawisy. Semua harus waspada, jangan sampai ke luar dari jalur murni ajaran Islam. Mereka harus siap untuk menghukum siapapun yang melakukan hal itu.
Adik Abdul Aziz, Abdullah bin Abdul Rahman yang telah ditunjuk sebagai panglima pasukan Saudi di Hijaz merasakan bahwa sikap Al-Ikhwan ini begitu menantang. Tiap hari ia harus berhadapan dengan sikap menyakitkan hati dari kaum Ikhwan di bawahnya. Ia harus selalu menghibur mereka, membujuk mereka agar mau mengikuti perintah. Dan ia merasa bahwa sikap menantang ini kalau dibiarkan terus akan berbahaya. Mereka harus ditindak tegas sebelum tak bisa dikendalikan lagi.
Tetapi Abdul Aziz hanya menertawakan kekhawatiran adiknya itu. ”Kaum Ikhwan adalah anak-anakku,” katanya. Maka jika salah satu Ikhwan itu mengatakan bahwa kumisnya terlalu panjang, Abdul Aziz segera memanggil tukang cukur untuk memotongnya di depan umum dan menganggapnya sebagai suatu gurauan belaka.

Mahmal
Keangkuhan Al-Ikhwan menjadi-jadi di musim pertama haji di tahun 1926 setelah Jeddah jatuh. Masalahnya dimulai dari kain hitam berhias emas yang menutupi Ka’bah. Secara tradisional kain ini dijahit oleh ahli-ahli Mesir dan sebagai hadiah tahunan Mesir kepada Hijaz. Setiap tahun pemberangkatannya dari Emsir dilakukan dengan upacara besar-besaran, dinaikkan ke sebuah tandu kehormatan yang diberi Mahmal.
Setiap tahun mereka membuat barisan panjang, ribuan banyaknya, diatur dan dilindungi oleh sepasukan kecil pengawal yang bersenjata. Dan ini merupakan tantangan bagi Al-Ikhwan. Bagi mereka, tandu yang berhias indah, penghormatan yang begitu berlebihan kepada Mahmal, setara penyembahan tehadap berhala. Apalagi pasukan pengawal bersenjatanya yang sepertinya melukai rasa kebanggaan mereka. Ditambah suara terompet mereka yang mencemari kesucian Mekah. Ini tak berampun lagi. Al-Ikhwan melempari mereka dengan batu. Orang Mesir bertahan. Terjadilah pertempuran sengit. Abdul Aziz muncul dan menyerukan agar Al-Ikhwan mundur. Sektiar 40 orang jama’ah tewas dan sejak saat itu mahmal tidak lagi diarak megah di jalan-jalan Mekah.
Kaum Ikhwan menganggap ini sebagai kemenangan kecil. Sebab menurut ukuran mereka, penakhlukan Hijaz ternyata jauh di bawah harapan mereka. Hanya beberapa jam setelah membantai mereka yang sesat di Taif, setelah itu Abdul Aziz mengekang harapan mereka melakukan ’penyucian’ terhadap Hijaz, tak boleh merampas, bahkan tak ada kebanggaan jika menang. Abdul Aziz telah bersekongkol dengan penduduk Madinah untuk mencegah Al-Ikhwan merusak kuil-kuil mereka, ia bahkan melarang Al-Ikhwan menyerang Badui-badui Hijaz. Ini mengecewakan mereka.

Insiden Perbatasan
Al-Ikhwan gagal di segala bidang. Abdul Aziz telah berdamai dengan para pemuka Hijaz serta ingin memberikan gambaran yang baik tentang dirinya pada para perwakilan negara asing sehingga ia bertindak seolah-olah pasukannya sendirilah musuhnya. Karenanya setelah luntang lantung di Hijaz selama setahun, Al-Ikhwan pulang ke Nejd dengan membawa sedikit sekali rampasan, kemegahan kemenangan, cuma rasa kecewa yang besar dan kekhawatiran tak akan ada lagi tugas untuk mereka.
Jantung persoalannya adalah dengan Al-Ikhwan Abdul Aziz bisa menguasai Nejd dan Hijaz. Dan jika Abdul Aziz ingin mengembangkan lagi wilayahnya di luar dua daerah itu maka ia harus berhadapan dengan Inggris, sama sekali tak mungkin. Inggris tak mau kehilangan lagi sekutu Hasyimiyahnya jatuh.
Karena kecewa dan haus akan kemegahan menjadi pemenang serta kenikmatan merampas yang tak mereka peroleh di Hijaz, Al-Ikhwan mengarahkan pandangan ke arah Timur Laut, daerah yang secara tradisional menjadi sasaran kemarahan Wahabi, daerah perbatasan kaum Syiah yang mereka anggap menduakan Allah. Maka awal 1927, serangan ke daerah perbatasan Irak semakin menjadi dan hebat.
Korban mereka, kelompok pengembara biri-biri dan pekerja di Pos Polisi di Busaiya. Faisal al-Dawisy secara pribadi meimpin beberapa penyerangan untuk menunjukkan hak kaumnya untuk pergi ke mana pun mereka suka. Pesawat Inggris membalas dengan mengebom para penyerang dan kemudian mengejar mereka sampai masuk ke wilayah Nejd.
Inggris pun mengajukan protes. Mulanya Abdul Aziz membela rakyatnya karena pembangunan pos-pos polisi itu memang melanggar adat kebiasaan suku-suku Badui. Abdul Aziz menghadapi persoalan rumit untuk menjelaskan terhadap Al-Ikhwan tentang adab-adab dunia Internasional pada saat itu. Mereka tak mengerti dan tak peduli bagaimana pemimpin mereka harus menyesuaikan diri dengan batasan-batasan dunia yang lebih luas dari mereka. Mereka bahkan siap untuk menggulingkan sang pemimpin bila ia tidak mau memimpin mereka menghancurkan pos-pos kaum kafir itu.
Abdul Aziz berusaha menerangkan kepada delegasi Inggris di Perundingan Jeddah Mei 1928 bahwa perbuatan mereka di luar sepengetahuannya. Tapi Inggris tak mudah percaya karena ia sepertinya menarik keuntungan dari gerakan Al-Ikhwan itu. Dan tetap saja di tahun tersebut penyerangan dan pertumpahan darah terjadi.

Pembaharuan Ba’iat
Perundingan Jeddah gagal. Abdul Aziz harus kembali ke Nejd dan menerangkan kegagalannya kepada Al-Ikhwan tentang tak mampunya ia membongkar pos polisi di Busaiya. Mungkin mendengar ini mereka akan melakukan perang suci dengannya atau tanpanya.
Ia yang telah menanamkan dan mengembangkan kefanatikan di orang-orang berpikiran sederhana itu. Ia yang telah membuat mereka menganggap semua yang bukan Wahabi sebagai penjelmaan Iblis. Ia yang mendapatkan keuntungan dari kefanatikan mereka itu penakhlukan Rasyid, menjatuhkan Hijaz, mendamaikan dunia luas dan kini menghadapi kekeraskepalaan Al-Ikhwan. Pun kini ia harus menerangkan dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tak mungkin melawan Inggris, karena sia-sia saja.
Dengan penuh persoalan pelik dihadapannya ditambah kepergian sang Ayah, Abdurrahman, di bulan Juni 1928, ia merasa putus asa. Kalau saja ayahnya tidak meninggal, mungkin kehadirannya bisa membantu untuk menghadapi pertentangan yang semakin tajam antara Al-Ikhwan dan dirinya. Maka ia mengambil suatu tindakan drastis yang mungkin akan dapat membantunya mengatasi semuanya.
Ia mengundang seluruh tokoh dan ulama Nejd di Riyadh di Nopember 1928 untuk merundingkan sistem perbentengan Irak serta keluhan lain dari Kaum Ikhwan. Sekitar 800 orang yang hadir kecuali tiga tokoh utama Al-Ikhwan: Faisal Al-Dawisy, Suktan bin Bijad, dan Dhadhan bin Hithlain.
Tapi ada satu hal lagi yang perlu diungkap kepada mereka. Abdul Aziz berdiri tegak di hadapan musyawarah tersebut dan menawarkan secara resmi untuk turun tahta, dan berkata, ”pilihlah salah seorang anggota keluargaku.”
Semua terpaku dan tercengang. Seketika semua berteriak ramai menolak usulnya. ”Kami hanya menginginmu sebagai pemimpin kami!” para delegasi itu berteriak. Seluruhnya berdiri di belakangnya. Memperbaharui ba’iatnya. Abdul Aziz tahu sepeninggal ayahnya tak ada satu tokoh di keluarganya yang bisa menampung kesetiaan dari seluruh golongan—kecuali dirinya. Dan ia menawarkan untuk mengundurkan diri karena yakin bahwa hal itu akan ditolak oleh semua orang. Tapi setidaknya dengan ini memberikan pandangan kepada dunia bahwa pada dirinya puncak keabsahan kekuasaan Saudi terletak.
Setelah menutup persidangan itu, ia minta kepada para ulama memberi pesan tentang telepon dan radio, dan mereka menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak ada keterangan bahwa kedua benda itu diharamkan. Para wakil Al-Ikhwan kecuali tiga orang di atas telah memperbaharui janji setianya pula dan akan memihak kepada Abdul Aziz bila terjadi pertentangan dengan tiga tokoh Al-Ikhwan itu asal dengan syarat Abdul Aziz dapat menghancurkan pos polisi tersebut dalam jangka waktu dua bulan. Abdul Aziz menyanggupi sesuatu yang rasanya takkan mungkin terjadi.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [2]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [2]
[tulisan kedua]

Gelar Khalifah dan Taif
Di tahun 1924 salah satu keturunan dari Bani Hasyim yakni Syarif Husain bin Ali masih sebagai Penguasa Hijaz. Anaknya Abdullah adalah penguasa Amman. Anaknya yang lain Faisal menjadi penguasa Irak. Rival dari keluarga mereka penerus keluarga Saud yakni Abdul Aziz, penguasa Nejd.
Di antara dua keluarga itu saling timbul kebencian apalagi bila Inggris memberikan Pounds yang lebih besar kepada salah satu dari mereka. Tentu uang-uang itu salah satunya dipergunakan membeli kesetiaan Suku Badui untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan merebut kekeuasaan saingan mereka.
Dan bagi Syarif Husain uang itu tak cukup. Ia mencoba mengumpulkan uang dengan jalan memasang pajak untuk apa saja, termasuk pajak dari jama’ah haji. Ini menyebabkan ia tak populer, apalagi ditambah sikapnya yang kian hari tidak bersikap layaknya sikap seorang raja.
Terakhir adalah sikapnya pada tanggal 5 Maret 1924 yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah, Keturunan dan Pangganti Nabi, Wali Islam, Pemimpin Kaum Muslimin Dunia—gelar sanjungan yang diperkirakan akan membuat kagum warganya di Hijaz. Ia berani karena dua hari sebelumnya tanggal 3 Maret 1924, Kamal Ataturk resmi membuang gelar Khalifah, berarti menurutnya ini adalah sebuah kekosongan kepemimpinan umat Islam yang selama 400 tahun dipegang oleh Daulah Utsmani.
Ini tak mendapat sambutan. Seorang pemuda Suriah yang mengakhiri pidatonya dengan seruan ”Hidup Khalifah Husain” disambut dengan diam, tanpa suara sama sekali oleh hadirin. Di dunia Islam, berita itu mendapat sambutan dingin. Kaum muslimin di Jawa meramalkan bahwa Syarif Husain akan menerima kutukan Allah karena kelancangannya. Di India kaum Nasionalis Islam merasa bahwa Inggris ada di belakang dari keberaniannya ini walaupun dibantah oleh Inggris. Di Nejd yang muncul adalah kutukan dan kemarahan yang tak bisa dipadamkan.
Tanggal 5 Juni 1924 diadakan persidangan tokoh-tokoh Riyadh. Lima tahun sebelumnya Abdul Aziz mengadakan persidangan yang sama tapi yang dibahas adalah tentang sikap Al-Ikhwan yang menyebarkan paham mereka secara kekerasan dan ia ingin agar ulama mendisiplinkan persaudaraan tersebut. Kini yang dibahas adalah sikap terhadap Syarif Husain tersebut.
Dan ini ditanggapi oleh para pemimpin Al-Ikhwan yang membeberkan segala dosa Syarif tua tersebut, yakni pelarangannya terhadap warga Nejd—terutama kaum Ikhwan untuk melakukan ibadah haji. Abdul Aziz berpikir inilah saatnya untuk bisa menguasai Hijaz apalagi ia merasa dunia Islam saat itu gerah dengan tindakan Syarif yang sembrono.
Saatnya untuk melakukan tindakan yang tertunda lima tahun sebelumnya, karena pada saat itu ia membawa Al-Ikhwan, dan bila membawa pasukan tersebut ia seperti mengingat kenangan yang tak menyenangkan saat kaum Wahabi memasuki Mekah dan Medinah, seratus tahun lalu.
Salah satu dukungan kepadanya adalah datang dari Komite Khilafah India. Karena komite selalu menganggap bahwa tindakan Syarif adalah siasat Inggris yang cerdik, siasat Inggris yang selalu ingin campur terhadap kepentingan Arabia dan umat Islam.
Di bulan Agustus 1924 Abdul Aziz memerintahkan Khalid bin Lu’ay untuk memimpin 3000 pasukan Al-Ikhwan menuju Taif yang pada saat itu dijaga oleh Ali bin Syarif Husain. Tetapi melihat kekuatan Al-Ikhwan, pada tanggal 04 September 1924 dalam kegelapan Ali beserta pasukannya meninggalkan Taif dan penduduknya.
Apa yang terjadi kemudian adalah pembantaian yang terjadi sungguh tanpa ampun. Qady dan para syaikh kota mencoba berlindung di masjid. Tetapi mereka diseret ke luar dan dicincang. Rumah-rumah dihancurkan. Toko dan pasar diserbu. Mayat-mayat dilemparkan ke sumur-sumur terbuka. Dan dalam beberapa jam saja sekitar 300 orang tewas. Hijaz panik. Husain minta bantuan Inggris. Inggris diam saja melihat perkembangan yang terjadi. Mereka menganggap bahwa Syarif Husain lemah dan Abdul Aziz kuat serta memang pantas untuk memimpin seluruh Nejd dan Hijaz. Abdul Aziz tahu pada saat itu bahwa Inggris telah meninggalkan sekutunya.
Para penghuni Jeddah terutama para saudagarnya yang kaya raya mengirimkan salah seorang utusannya untuk meminta Ali agar ayahnya turun tahta saja. 3 Oktober 1924, di ruang utamanya yang gelap dan sunyi, Syarif Husain menandatangani persetujuan untuk turun tahta. Sungguh tanpa pertarungan sedikitpun. Pada tanggal 16 Oktober 1924 Syarif Husain berangkat menuju Aqaba dan langsung ke Siprus untuk mengasingkan diri.

Mekkah, Madinah, dan Jeddah
Di bulan Oktober 1924, Mekah jatuh. Dan Abdul Aziz melarang pasukan Al-Ikhwan untuk masuk ke kota. Tetapi ada beberapa yang lolos dan menghancurkan beberapa rumah minum, membakar semua rokok, dan pipa yang mereka temui. Beberapa kuburan berkubah juga dihancurkan atau dirusak. Tetapi tak ada korban satu pun seperti di Taif, Ibnu Lu’ay benar-benar menjaga keamanan di kota tersebut.
Tiga bulan kemudian, Abdul Aziz datang ke Mekah. Ia bergerak sangat hati-hati. Ia tak pernah melupakan bagaimana dahulu keluarganya runtuh setelah mencoba mengasai Mekah—kekuatan asing (Turki) langsung ikut campur tangan dan menjatuhkan Dar’iyyah. Dan pembantaian di Taif adalah awal yang buruk di pandangan dunia. Oleh karena itu ia tidak menampilkan citra seorang penakluk.
Dan ia benar-benar menjaga Mekah dengan sebaik-baiknya. Hingga ia berhasil mengatur perjalanan haji di musim panas 1925. Keberhasilannya disebarkan dari mulut ke mulut para jama’ah haji. Sehingga menegaskan bahwa generasi baru wahabi tidak seganas yang dikira oleh dunia Islam.
Robert Lacey menulis pada tanggal 05 Desember 1925 Madinah menyerah. Kota tersebut hanya bisa mempertahankan diri pada minggu-minggu terakhir dari kepuangan kaum Ikhwan karena Abdul Aziz sendiri menyelundupkan makanan untuk para penghuni kota tersebut. Yang mengepung kota itu adalah kaum Ikhwan di bawah pimpinan Faisal al Dawis. Abdul Aziz tidak mau Kota Suci kedua ini jatuh di tangan Al-Ikhwan.
Madinah adalah tempat makam nabi dan tempat-tempat peringatan bagi para pahlawan Islam lainnya. Al-Ikhwan sudah lama mencurigai kota ini. Madinah merupakan pangkalan khusus kaum muslimin Syiah yang mereka anggap suka memuja berhala. Harta benda mereka juga pastilah akan merupakan daya tarik bagi keliaran Al-Ikhwan. Maka secara rahasia Abdul Aziz mengatur agar bahan makanan diselundupkan ke dalam kota agar kota itu masih bisa bertahan.
Dan ia segera memerintahkan anaknya Muhammad untuk segera memimpin pasukannya ke kota tersebut. Pada tanggal 6 Desember 1925, ia memasuki kota Madinah dan kemudian berjalan ke masjid nabi yang berkubah hijau untuk sembahyang. Al-Saud kini telah menguasai semua kota suci.
Berita itu membuat Jeddah kacau. Kota itu masih dikuasai keturunan Hasyimiah, yaitu Syarif Ali bin Husain.Pasukannya tak mau bertempur karena selama gaji setahun belum dibayarkan. Ia turun tahta dan meninggalkan Jedadh pada hari Minggu tanggal 20 Desember 1925 naik kapal Inggris, HMS Cornflower. Sejak saat itu Abdul Aziz memperoleh gelar baru: Raja Hijaz.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]
[tulisan kesatu]

Pendahuluan

Dulu saya pernah bercerita, masjid kami yang belum jadi kedatangan satu keluarga dari Arab Saudi. Mereka berniat untuk menyalurkan dana yang mereka miliki untuk kelanjutan pembangunan masjid komplek yang sudah lama belum rampung.
Ketika disodorkan proposal yang sudah kami siapkan, salah seorang dari mereka menolak saat melihat sampul proposal tersebut. Lalu mengusulkan agar nama masjid yang tertera di proposal tersebut diganti saja. Dengan nama apa pun boleh asal jangan nama itu. Di sana tertulis dengan huruf besar nama masjid kami Masjid Al-Ikhwan.
Saat ditanya mengapa demikian? “Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, takutnya nanti orang tidak mau pada menyumbang.
Dulu saya berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Setelah pertemuan tersebut saya sempat menyimpulkan bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama?

Al-Ikhwan
Tetapi saya barulah mengerti banyak mengapa nama Al-Ikhwan menjadi momok di Arab Saudi. Dan kaitan terdekat dari semua itu adalah masalah politik bukan pemikiran agama. Buku yang menjadi rujukan saya adalah buku lawas [1981] yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul The Kingdom yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia.
Sebanyak 102 halaman di bagian kedua buku tersebut dengan judul Al-Ikhwan diungkap manis pahitnya hubungan antara Abdul Aziz bin Saud dengan Al-Ikhwan sebagai kesatuan tempur yang tekstualis dalam tafsir agama, penerus gerakan wahabi, militan, tangguh, dan ganas.
Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini.
Kelompok ini di tahun 1912 datang dan menempati daerah penggembalaan yang disebut Al-Artawiyah. Di sana terdapat beberapa sumur tempat kafilah-kafilah dari Nejd dan Qasim bertemu. Kalau sekarang Al-Artawiyah ini berada di jalur perjalanan antara Riyadh dengan Kuwait.
Gerakan Al-Ikhwan ini sesungguhnya adalah pembaharuan dari gerakan kemurnian beragama yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdulwahhab. Seperti diketahui bersama di tahun 1744 terbentuklah persekutuan antara Muhammad bin Abdulwahab dengan Muhammad bin Saud sebagai penerus dinasti Saud penguasa Dar’iyah.
Kelompok Al-Ikhwan selalu berpegang teguh akan arti harfiah yang tersurat di Qur’an, sementara Hadits mereka anggap sebagai buku petunjuk dan perintah yang harus mereka laksanakan setepat-tepatnya. Mereka tak mau memakai aghal—tali ikat kepala, hitam, karena menurut mereka nabi tak pernah memakainya. Mereka juga memotong jubah mereka setinggi lutut. Mencukur kumis dan memanjangkan jenggot.
Lacey menulis bahwa penampilan mereka selalu menunjukkan betapa mereka menjauhi keduniawian, menolak tembakau, dan pula menolak radio dan telepon, karena Nabi tak pernah memakainya. Tapi anehnya tidak menolak kehadiran senapan dan penggunaannya. Di Al-Artawiyah menyanyi, menari, dan bahkan permainan anak-anak dilarang. Mereka menganggap bahwa mereka prajurit Allah yang tugas utamanya adalah membersihkan dan memurnikan agama.
Ada satu perbedaan penting antara gerakan Al-Ikhwan di awal abad dua puluh dengan kaum Wahabi. Bahwa Muhammad bin Abdulwahhab adalah seorang yang tinggal di kota dan pesan yang disampaikan khusus diperuntukkan bagi penghuni kota sedangkan kelompok ini adalah dari kaum Badui dan tugas merekalah untuk menyebarkan pemahaman mereka di tengah masyarakat badui yang pada saat itu masih saja percaya dengan takhayul. Cuma itu saja. Dan pada saat itu mereka belum menjadi kekuatan tempur. Karena Abdul Aziz belum datang kepada mereka.

Kekuatan Tempur
Yang jelas gerakan ini tak akan mungkin berkembang tanpa campur tangan Abdul Aziz. Ia memberi mereka tanah, mengirimkan penyuluh ke padang pasir untuk mengumpulkan lebih banyak anggota baru untuk pemukiman mereka.
Di tahun 1912 ia menempatkan dirinya secara kukuh di pucuk pimpinan gerakan ini. Dengan memberikan sebuah bentuk keterikatan kepada kelompok ini dengan menghancurkan benda kesayangannya di depan umum berupa gramopon putar tangan yang dibawanya dari Kuwait dan sering dimainkannya di dalam tendanya. Kaum Ikhwan mengangguk setuju dengan perbuatannya.
Di tahun 1917 dengan biaya pribadinya memesan dari India sejumlah besar buku cetakan karangan Ibnu Abdulwahab, pendidikan dasar tentang iman, agar pemikirannya bisa tersebar luas di tengah padang pasir.
Bagi Abdul Aziz pengorbanan benda kesayangannya ini tak seberapa dengan hasil yang ia dapatkan dengan menggenggam kekuasaan kelompok ini. Dengan kekuatan tempur dari gerakan ini—perlu diketahui bahwa sebelumnya Abdul Aziz mempunyai kekuatan tempur lain dari suku-suku Badui liar yang hanya bisa dibeli dengan emas untuk bertempur dengan Kaum Rasyid, tetapi tidak untuk loyalitas kepadanya—sebanyak 60.000 sejak tahun 1912 ia dapat menjinakkan suku-suku Badui liar dan menunjukkan kekuatannya pada rival utamanya yaitu Penguasa Hijaz Syarif Husain bin Ali.
Di tahun 1916 mereka dapat menguasai Khurmah—suatu daerah yang disepakati oleh Abdul Aziz dengan Inggris sebagai daerah perbatasan daerahnya Nejd dengan daerah Syarif yaitu Hijaz. Bahkan mereka sanggup menguasai Turabah suatu daerah yang jaraknya ’hanya’ 150 km dari Mekah. Walaupun sempat dikuasai kembali oleh Syarif dengan pasukan dibawah kepemimpinan Abdullah bin Husain, namun tanggal 26 Mei 1919 Turabah direbut kembali.
Penuturan salah seorang yang lolos dari sergapan Al-Ikhwan ini adalah ”aku melihat darah mengalir di Turabah bagaikan anak sungai di antara batang-batang kurma. Aku melihat mayat-mayat ditumpuk di benteng sebelum aku melompat ke jendela.”
Taif geger mendengar berita tersebut. Dengan hancurnya pasukan Abdullah maka Hijaz sama sekali tak punya kekuatan lagi. Dengan mudahnya kaum Ikhwan bisa maju dan meruntuhkan Mekah. Tapi Abdul Aziz merasa belum saatnya untuk menakhlukkan Mekah karena ia ingin agar kota tersebut tidak direbut dengan kekerasan, cara itu takkan menjamin ia berkuasa lama di sana.
Terlalu dini bagi Saudi untuk bisa merebut Hijaz tanpa mendapat tentangan dari Inggris atau dunia Islam lainnya. Maka ia berusaha membujuk Al-Ikhwan untuk kembali ke pangkalan dengan alasan ia memerlukan mereka untuk menghadapi tantangan kaum Rasyid. Ini benih perpecahan Abdul Aziz dengan Al-Ikhwan. Mengapa hanya berhenti sampai di sini? Menurut kelompok ini, inilah saatnya membersihkan Mekah, Madinah, dan semua daerah di pantai Laut Merah dari segala macam khurafat.
Dan benar kekuatan mereka digunakan oleh Abdul Aziz untuk mengalahkan saingan utamanya di Nejd yaitu kaum Rasyid. Setelah menakhlukkan Jabal Syammar di musim panas 1920, di awal Nopember 1921, Hail, sebagai pusat kekuasaan kaum Rasyid ditakhlukkan. Para saudagar Hail agaknya sudah bosan dengan keluarga Bani Rasyid yang memerintah mereka dan tak mau mengundang kemarahan kaum ikhwan hingga para saudagar tersebut memutuskan untuk membukakan pintu gerbang Hail. Kini Abdul Aziz adalah penguasa Nejd sejati dengan mengganti gelar untuknya semula adalah Amir Riyadh menjadi Sultan Nejd.
Di tahun 1922, tanpa sepengetahuan Abdul Aziz sekitar 1500 prajurit Al-Ikhwan memasuki Transyordania (kini Yordania) yang saat itu dikuasai oleh Keluarga Hasyim dan sampai berada 15 km dari Amman. Setelah hampir banyak menguasai perkampungan di sekitar daerah tersebut mereka terhalang oleh patroli pesawat terbang Inggris, mereka mundur. Apalagi ditambah dengan dukungan pasukan kendaraan berlapis baja Inggris yang memang tak dapat dibandingkan dengan kuda-kuda mereka.
Abdul Aziz mendengar berita itu langsung menjebloskan pimpinan tentara Al-Ikhwan yang tersisa. Dan ia minta maaf kepada para penguasa Inggris. Tetapi sesungguhnya Abdul Aziz memaklumi keinginan dari Kaum Al-Ikhwan untuk pergi ke mana pun mereka inginkan, menjarah rayah daerah manapun yang mereka kehendaki. Ke daerah-daerah kosong yang ditinggalkan oleh Turki sejak Perang Dunia Pertama selesai.
Maka energi mereka disalurkan untuk merebut daerah Asir, sudut barat daya Arabia, daerah subur yang terjepit antara Hijaz dan Yaman. Daerah seluas 4000 mil itu pun dapat dikuasai oleh Abdul Aziz. Setelah itu mereka berniat untuk menguasai Kuwait, sekutu Abdul Aziz awalnya saat Kuwait diperintah oleh Mubarak dari keluarga Sabah. Namun saat Mubarak meninggal dan digantikan oleh anaknya, Salim, Abdul Aziz memutuskan untuk merebut daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa yang tak kunjung padam. Menjadi sengketa karena bagi masyarakat Badui batas daerah pada saat itu cuma ada di hati manusia.
Tapi Inggris tak mau ini terjadi. Menurut Inggris, Asir bolehlah direbut, tapi Kuwait dan Irak lain ceritanya. Maka di tahun 1921 beberapa kapal perang dikirim untuk melindungi Kuwait. Pasukan Al-Ikhwan yang dipimpin oleh Faisal al-Dawisy pun harus berhadapan dengan polisi padang pasir plus dukungan Angkatan udara Inggris saat merambah Irak. Kali itu, Al-Ikhwan bertindak rasional memutuskan untuk mundur, dan ini lebih menguntungkan daripada keberanian semata. Sekarang, batas hati yang ada di manusia kadang harus mengalah pada penentuan dari Pemerintah Kerajaan Inggris.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

THE KINGDOM


THE KINGDOM
by: Riza Almanfaluthi

Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah.
Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin.
Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
***
Tiga paragraf di atas adalah sebuah kutipan pembuka dari sebuah buku lawas yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul KERAJAAN PETRODOLAR SAUDI ARABIA. Buku yang diterbitkan tahun 1986 oleh Dunia Pustaka Jaya dengan jumlah halaman sebanyak 663 ini tanpa sengaja saya temukan di pedagang buku Stasiun Kalibata saat menunggu kereta rel listrik.
Kondisinya masih sangat bagus, tidak terlihat seperti buku lama. Walaupun sudah berwarna kekuningan. Ini mungkin buku baru yang tidak laku atau belum sempat terjual. Yang menarik saya cuma membelinya dengan harga Rp12.000,00 saja setelah sang pedagang menawarkan dengan harga Rp15.000,00 sebelumnya.
Buku yang berjudul asli The Kingdom ini merupakan hasil riset yang dimulai pada Agustus 1977 yang dilakukan oleh penulis selama ia diizinkan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Ia melakukan banyak wawancara dengan para petinggi seperti raja Saudi Arabia pada saat itu King Khalid ibn Abdul Aziz, dan para pangeran serta bangsawan-bangsawan dari dinasti Saud, plus dukungan dari Pusat Riset Raja Abdul Aziz.
Tak pelak buku ini menceritakan dari awal bagaimana dinasti ini didirikan. Dari semula hanya orang-orang badui yang hidup di padang pasir yang membakar dan menyiksa keluarga mereka dengan kekeringan, kemiskinan, kelaparan, pun anggapan sebagai suku yang terlalu mengikuti naluri, tak punya rasa keindahan, keingintahuan, selera halus, filsafat, kesenian tulis, seni rupa, bahkan tak punya dongeng-dongeng yang pelik sampai kepada perubahan drastis di mana mereka menjadi penguasa karunia Allah di muka bumi, penguasa jaringan sisa-sisa berlemak di bawah permukaan bumi, penguasa genangan hitam yang menggelegak: minyak bumi.
Mereka menjadi yang paling dihormati di seluruh dunia, penguasa yang bisa menentukan damai dan tenteramnya kehidupan perpolitikan dunia. ”Dan jikalau saja bukan karena adanya suatu keanehan yang terjadi pada lapisan bumi tempatnya berpijak, maka dunia barat pastilah tak akan peduli apa yang terjadi dengan raja Khalid. Kalau saja buminya itu tak mengadung apa-apa, maka penghuni kerajaan Saudi Arabia akan bebas menikmati padang pasir mereka, sajak-sajak mereka atau kenehan apa saja yang ada dalam kehidupan mereka. Paling-paling mereka akan menarik perhatian bila sekali-sekali majalah ilmiah seperti National Geographic memuat artikel bergambar tentang mereka,” ungkap Lacey.
Tetapi Syaikh Ahmad Zaki Yamani—Menteri Minyak Saudi Arabia saat itu—mengatakan:
”Negara barat melihat kami hanya sebagai sebuah negara yang ada hanya untuk mengisi tangki mobil. Tetapi pandangan itu terlalu moderen untuk Arabia. Dan itu bukanlah pandangan kami dan juga bukan pandangan jutaan orang di seluruh dunia yang sama-sama menganut agama kami.”
”Kalau Anda ingin mengerti tentang Saudi Arabia, Anda harus mengerti bahwa 1400 tahun yang lalu Allah telah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad di kota-kota suci Mekah dan Madinah. Kedua kota tersebut begitu jauh terpisah dari padang-padang minyak kami, tetapi masih tetap merupakan bagian dari Arabia kami. Dan bagi kami, keduanya jauh lebih penting dari apapun juga.”
”Itulah sebabnya orang-orang di negara Muslim yang miskin menyapa aku. Karena aku datang dari Mekah! Inilah yang paling berarti. Tentang Mekah dan Islam-lah orang-orang itu mengajakku berbicara. Jadi kalau aku ditanya, apa yang menjadi tulang punggung Kerajaan kami ini, maka akan kujawab, di atas segala-segalanya adalah Islam. Bukan minyak. Suatu hari kami akan kehabisan minyak. Tetapi kami takkan pernah kehilangan Mekah dan Madinah.”
Subhanallah, pernyataan yang keluar dari hasil wawancara yang dilakukan penulis di bulan November 1980 dan Mei 1981 itu, terasa gaungnya hingga saat ini, saat waktu telah berputar 26 tahunan. Adanya semangat persaudaraan yang memang dibutuhkan sekali untuk dunia Islam saat ini menghadapi kezaliman-kezaliman penguasa dunia yang menyetir dengan boneka-boneka untuk memuaskan nafsu kolonialismenya. Tapi sayangnya gaungnya yang terasa adalah gaung yang semakin melemah.
Dalam buku tersebut diceritakan pula tentang bagaimana Abdul Aziz merebut Riyadh sampai ia menakhlukkan Nejd daerah pedalaman Saudi Arabia dengan dukungan dari Kaum Muwahiddun (Salafy) dan tentunya mengusir keturunan Nabi Muhammad yaitu Ibnu Rasyid sebagai penguasa Mekah dan Madinah pada saat itu.
Pengusirannya terhadap Ibnu Rasyid mengakibatkan ia harus berhadap-hadapan dengan dengan Kekhilafahan Turki, menyebabkan ia harus menerima gencatan senjata karena sampai saat itu pertempuran yang terjadi tak menyebabkan salah satu dari mereka kalah atau menang.
Bulan Pebruari 1905 Turki mengakui kekuasaan Saudi di Nejd, sebaliknya Abdul Aziz menerima pengangkatan dirinya sebagai qaimaqam (komisaris distrik). Ini berarti Abdul Aziz menerima kenyataan akan adanya kekuasaan Turki di atasnya, sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan sikap antiTurki-nya sebelum itu.
Suatu sikap yang nantinya pun akan selalu ia terangkan kepada setiap tamunya, bahwa dahulu ia mau mengaku tunduk pada Sultan Turki hanya karena terpaksa oleh keadaan. Sebagai seorang Wahabi, kata Abdul Aziz, ia takkan pernah bisa menerima tuntutan Sultan yang mengaku bergelar khalifah, sebab cara orang Turki menjalankan ajaran Islam sungguh sangat menyimpang dari garis yang benar. Oleh karena itulah pendahulunya dulu—Muhammad Ibn Saud—pernah melarang para peziarah yang dilindungi oleh Khalifah untuk berziarah menuju Mekah dan Medinah, dan hal inilah yang membuat marah besar Khalifah yang menganggap dirinya sebagai pelindung dua tempat suci.
Masih banyak hal yang menarik diungkap di buku ini, misalnya tentang bagaimana penyikapan suku badui ini di kala mereka menjadi orang kaya baru, intrik sesama saudara, pembunuhan, perebutan kekuasaan, pemborosan, dan korupsi, November gelap di tahun 1979, penyikapan terhadap Syiah dan Al-Ikhwan, kegemasan Onassis terhadap pembentukan OPEC, permusuhan terhadap Biarawan Zion*)dan penerimaan kerajaan terhadap investasi Pepsi daripada Coca-Cola.
Saya merasa beruntung sekali mendapatkan buku bagus seperti ini.Walaupun belum seluruhnya terbaca, tapi saya merasa yakin sedari awal, buku ini akan membuat saya mengetahui secara detil masa lalu Saudi Arabia hingga masa awal 80-an. Setidaknya ini akan memberikan gambaran utuh dari Saudi Arabia masa kini. Muhammad Abduh mengatakan masa lalu adalah bagian dari masa kini sehingga tidak mungkin dilupakan begitu saja. Sehingga bisa memahami apa dan kenapanya pewaris kerajaan petrodolar saat ini bertindak, yang menguntungkan saudara-saudaranya seiman di seluruh dunia atau hanya memuaskan dahaga keduniawaian semata.
Sejarah yang sedikit dibahas waktu smu dulu kini terbentang dengan detilnya dalam satu buku yang merupakan ramuan—seperti diakui penulisnya—dari peristiwa sejarah, hasil pengamatan pribadi, desas-desus di pasar, ramalan masa depan, ditambah dengan kenangan orang-orang tua yang masih ingat tentang keadaan dunia mereka, dunia yang bagi kita bagaikan tertinggal berabad-abad yang lalu.
***
Kita bukannya sekadar pembuat slogan belaka. Apa yang kita katakan akan kita kerjakan. Jika mereka memandangmu dengan sebelah mata, katakan bahwa Allah memberkati rasul-Nya dan bangsa negara ini. Kalian adalah keturunan para pahlawan jaman bahari, kalian anak cucu mereka yang berjuang di samping nabi. Jadilah madu bagi mereka yang bersahabat dengan mu, jadilah racun bagi musuh-musuhmu. (Raja Faisal bin Abdul Aziz, 1973)
***

*) Suatu kebetulan semata bahwa persis sebelum membaca buku ini, saya membaca buku Rizki Ridyasmara yang membahas tentang Biarawan Zion ini secara detil di Knight Templar Knight of Christ (2006).

Maraji: Robert Lacey, Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia, Cet-I, 1986, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta;

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
Citayam Siang
15.00 01 Pebruari 2007

AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?


AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?

Masjid di komplek perumahan kami ini bernama Al-Ikhwan. Bangunannya sejak tahun tahun 2001 belum pernah utuh menjadi sebuah masjid. Setelah bergonta-ganti panitia dan telah menghabiskan dana swadaya masyarakat lebih dari 100 juta rupiah, masjid ini pun masih belum beratap. Yang ada cuma reng baja.
Untuk melanjutkan pembangunan ke tahap pengatapan memerlukan dana tunai yang tidak sedikit kurang lebih 75 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya pemasangan lantai, pemelesteran dan pengecatan dinding, pengadaan kusen dan kamar mandi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sudah banyak usaha yang dilakukan pengurusnya dalam hal penggalangan dana, mulai dari pengumpulan infak dan zakat penghasilan dari donatur, penitipan kotak infak di tiga SPBU, atau penyebaran banyak proposal. Tapi sampai jelang ramadhan 1427 ini pemasangan atap sebagai target utama selanjutnya tidak kunjung terealisir.
Akhirnya agar sholat tarawih bisa terlaksana di bangunan utama masjid—selama ini memakai bangunan kecil yang sudah ada di bagian bawah meskipun tidak layak untuk menampung banyak orang karena kurangnya ventilasi—maka pengurus pun berinisiatif untuk membeli terpal sebagai pengganti atap metal sambil menunggu terkumpulnya dana tersebut.
Maka terpasanglah sudah atap terpal plastik berwarna biru di masjid kami ini. Dan sudah tiga hari tiga malam ini kami melaksanakan sholat berjamaah di bawah atap itu. Jumlah jamaah pun meningkat—tidak sama saat masih di bawah. Ini dimungkinkan karena luasnya masjid dapat menampung mereka semua. Yang kami tidak bisa bayangkan adalah bagaimana kalau hujan deras benar-benar turun. Kuatkah terpal itu untuk menahan derasnya hujan? Allohua’alam. Kami berharap selama ramadhan ini tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas ibadah kami mengisi ramadhan.
Nah, di Sabtu Sore kemarin jelang 1 ramadhan 1427, di saat takmir masjid sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan shalat tarawih, datanglah tetangga saya—yang diikuti dengan sepasang suami istri bertampang arab. Yang laki-laki berpostur khas timur tengah, hitam, tinggi besar. Berbaju putih lengan panjang tanpa krah dan celana jin warna hitam. Sedangkan yang wanitanya berabaya hitam dengan cadar menutupi sebagian mukanya—walaupun ia tidak menutupi dengan rapat telapak kakinya yang sempat tersembul.
Yang laki-laki tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga saat dia berbicara diterjemahkan oleh istri tetangga kami—sebut saja Ibu Ning—yang sempat bermukim di Riyadh selama beberapa tahun. Yang perempuan sanggup berbicara lokal walaupun dengan logat yang aneh. Mungkin karena sudah kelamaan tinggal di bumi Nejed.
Ibu Ning memperkenalkan dua orang tamu tersebut sebagai keponakannya. Suami keponakannya itu—katanya masih keturunan kerajaan, entah menjabat sebagai apa, yang pasti sebutannya adalah Amir—ingin melihat langsung masjid di sini dan berdialog dengan para pengurusnya.
Memang beberapa tahun lalu kami pernah menyampaikan proposal kepada Ibu Ning untuk disampaikan kepada keponakannya. Tapi sampai detik ini tidak ada dana yang cair dari Arab. Ini mungkin dikarenakan suami keponakannya ini belum sempat untuk berkunjung ke tempat kami. Ia dikenal berhati-hati dengan permintaan proposal pembangunan masjid dari Indonesia, soalnya pernah kejadian ternyata masjid yang dibangun tidak sesuai dengan dana yang diberikan. Dana yang diminta tinggi tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang di proposal atau yang dibangun cuma musholla kecil. Istilahnya ada markup dana masjid bodong.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan kami, sang Amir ini pun langsung saja ambil gambar dengan telepon genggam berkameranya. Atap terpal, dinding yang tidak berplester, lantai semen, dan banyak lagi gambar yang diambil olehnya. Setelah itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan olehnya. Satu yang menggelitik adalah: ”masjid ini masjid ahlul bid’ah bukan?” Yang ia maksud adalah sering diadakan acara-acara bid’ah di sini. Soalnya kalau benar demikian, ia tidak akan menyumbang. Kalau menyumbang ia merasa berdosa. Sang ketua takmir, menjawabnya dengan mantap: ”Insya Allah tidak”. Dalam hati saya berkata: ”Ya…Amir, kalau ente bilang bid’ah, belum tentu bid’ah bagi kami”.
Pertanyaan yang lain adalah ”apakah pengurusnya amanah?. Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Ibu Ning dengan nada penuh percaya diri, ”Insya Allah amanah.”
Namun saat sang Amir ini melihat halaman judul proposal di mana nama Masjid Al-Ikhwan ditulis dengan huruf besar-besar, sang Amir protes dan mengusulkan untuk diganti saja. Maksudnya biarlah nama masjid yang ditulis di proposal yang diubah. Dengan nama apa pun boleh asal jangan Al-Ikhwan.
Ketika ditanya mengapa demikian? ”Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, orang nanti takutnya tidak mau pada menyumbang.
Wow…mantap sekali. Kami berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Bila yang benar adalah yang pertama, maka pertanyaan saya adalah sampai sejauh itukah kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin terjadi? Sampai ke akar rumput. Atau cuma di akar rumput. Soalnya dari apa yang saya lihat terdapat buku-buku hasil dari tesis dan disertasi di sana yang membahas tema Ikhwanul Muslimin ini dan ini tidak menjadi masalah. Atau ini karena kedewasaan berpikir dan keilmiahan yang menjadi tradisi dari kalangan akademis sana. Allohua’lam, karena saya tidak pernah hidup di tanah arab.
Setelah kami mengganti kaver depan proposal pembangunan masjid dengan nama yang lain, Masjid Citayam —istrinya sempat mengusulkan diganti menjadi Jannatul Khuld—kami pun dijanjikan bahwa Insya Allah ramadhan akan menjadi bulan barokah buat masjid kami ini. Maksudnya ia bertekad akan menuntaskan tahap pengatapannya. Karena banyak kawannya yang rajin berinfak dan sangat senang membangun masjid—sebagai bekal rumah di surga—di saat bulan ramadhan. Kami cuma bisa bersyukur saja. Namun tidak harap-harap cemas karena sudah banyak kami diberi janji tapi nihil realisasi.
***
Setelah mereka pergi, sore itu saya mendapatkan pelajaran ’penting’ bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Padahal belum pernah saya menemukan dalilnya bahwa memberikan infak itu harus melihat nama mustahiqnya terlebih dahulu. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? Allohuta’ala a’lamu bishshowab.

Kader Masjid Al Ikhwan 
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:46 26 September 2006

DUEL BEKAS KOLONI SPANYOL


Setelah golnya dianulir oleh wasit di babak kedua karena terperangkap dalam jebakan offside yang dibuat para pemain belakang Kosta Rika, I. Kaviedes melalui umpan matang Mendez akhirnya menciptakan gol indah buat Ekuador. Dan jangan lupa bahwa gol ini dibuat di menit ke-92 di babak perpanjangan waktu yang hanya empat menit lamanya.
Tentu saja stadion sepakbola di kota Hamburg kembali bergemuruh dengan sorak sorai bergembira dari para suporter Ekuador. Skor bertambah menjadi 3-0. Angka yang membuat tim dari Amerika Selatan ini dipastikan lolos ke babak kedua. Bersama Jerman tentunya yang mengalahkan Kosta Rika 4-2 dan Polandia 1-0. Sisa pertandingan terakhir tidak berpengaruh terhadap kedua tim ini.
Dan kali ini Ekuador mempertontonkon pada para penggemar sepakbola di dunia permainan menawan, kerjasama yang baik, dan gol-gol cantiknya. Dua gol indah sebelumnya dibuat dengan tandukan oleh C. Tenorio di menit ke-8 dan tendangan di sisi yang sulit oleh Delgado—sempat menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana melawan Polandia—di menit ke-54.
Tentunya kemenangan ini menghapus julukan yang melekat sebelumnya pada tim Ekuador. Yaitu julukan sebagai jago kandang. Sebagaimana diketahui bahwa Ekuador selalu menang dalam setiap pertandingan yang dilakukan di Ibukotanya, Quito yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Seperti pula Bolivia yang mendapat julukan yang sama karena letak La Paz yang tinggi pula.
Ini membuktikan bahwa para pemain Ekuador pun sanggup untuk bermain di mana saja, atau di ketinggian yang sama dengan permukaan laut seperti di Hamburg misalnya.
Kemenangan ini pun memupuskan kekhawatiran saya setelah melihat pertandingan pertamanya melawan Polandia beberapa hari yang lalu. Pertandingan di dini hari yang saya tonton dengan terkantuk-kantuk ini meninggalkan kesan pada diri saya bahwa Ekuador kalau mempertahankan permainannya seperti itu tidak akan bisa untuk melaju ke babak kedua. Apalagi menjadi juara dunia. Impossible!!!
Tapi harapan nonrealistis saya bahwa Piala Dunia akan dimenangkan oleh tim underdog, tim kuda hitam, tim selain dari Eropa, Argentina, dan Brasil kembali membuncah setelah melihat kemenangan Ekuador pada malam ini.
Ya, malam ini saya temukan tim unggulan saya. Tim yang membuat saya bisa pula larut dalam demam piala dunia. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya nanti, tapi yang pasti piala dunia bagi saya tidak akan membosankan lagi karena melihat tim-tim dari negara bola itu-itu saja. Hal yang sama ketika saya mendukung Nigeria di saat Piala Dunia 2002.
Sebenarnya tidak hanya Ekuador yang menjadi harapan, tapi ada pula Iran, Togo, Tunisia atau Arab Saudi. Namun keempat negara tersebut sampai saat ini belum ada yang membukukan kemenangan. Jikalau memang ditakdirkan bahwa tim favorit saya tidak ada yang melaju ke babak seperempat final misalnya, saya akan dukung Argentina.
Mengapa Argentina? Karena ada kenangan tersendiri buat tim ini di waktu saya masih duduk di bangku SD. Ya, sampai saat ini kemeriahan piala dunia tahun 1986 masih terbayang-bayang di mata. Teringat kelincahan Maradona pada waktu itu. Itu saja sih. Pokoke Argentina!!! 
Kembali kepada pertandingan Ekuador dan Kosta Rika malam tadi, kemenangan ini membuktikan bahwa Ekuador memang kekuatan ketiga sepakbola Amerika Latin setelah Argentina dan Brasil. Perlu pembuktian lebih lanjut di saat memainkan partai ketiga melawan Jerman.
Bisakah Ekuador dengan benteng kuartet pemain belakangnya yang kuat mampu menahan gempuran dari Tim Panser asuhan Jurgen Klinsman itu. Atau bahkan mampu balik menyerang dan mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui aksi lincah dari Mendez, Delgado, C. Tenario, De La Cruz, I. Kaviedes dan kawan-kawan.
Jika menang, Ekuador akan menjadi tim yang ditakuti di depan mistar gawang oleh tim-tim lain. Sebaliknya, maka tetap menjadi perhatian lebih dari yang lain. Kita lihat saja nanti.

Fakta Angka:
Hasil pertandingan Grup A Piala Dunia 2006 di Jerman sampai 23:43 WIB 15 Juni 2007:

Jerman 4-2 Kosta Rika
Polandia 0-2 Ekuador
Jerman 1-0 Polandia
Ekuador 3-0 Kosta Rika

Yang Belum Menjadi Fakta di Grup A:
Ekuador ?-? Jerman
Kosta Rika ?-? Polandia

Fakta-fakta lain di balik pertarungan Ekuador dan Kosta Rika.
Fakta ini di dapat dari ensiklopedi yang saya baca sambil menonton pertandingan semalam. Perlu membacanya agar didapat gambaran yang lebih utuh. Tentunya hal yang sedikit ini adalah profil selain profil sepakbola—karena hal ini banyak didapat dari koran dan majalah. Selamat menikmati.
1. Ekuador dan Kosta Rika sama-sama bekas koloni Spanyol;
2. Ekuador merdeka tahun 1822 dari Spanyol dan Kosta Rica melepaskan diri dari Federasi Amerika Tengah di tahun 1848;
3. Ekuador adalah republik yang berada di Amerika Selatan, berbatasan dengan Peru di sebelah selatan dan Kolumbia di utara. Ibukotanya Quito.
4. Kosta Rica berada di Amerika Tengah bertetanggaan dengan Panama dan Nikaragua. Ibukotanya San Jose.
5. Luas Wilayah Ekuador 270.679 km persegi. Sedangkan Kosta Rika 51 ribu km persegi;
6. Penduduk kedua negara itu lazimnya keturunan Spanyol, Indian, serta Afrika (dari bekas budak).
7. Christophorus Columbus pernah singgah di Kosta Rika di tahun 1502
8. Kota Pontianak di Kalimantan Barat sejajar pada garis khatulistiwa dengan Ibukota Ekuador, Quito.

Sumber:
1. Pertandingan Bola Langsung dengan segala komentarnya di SCTV Pukul 20.00 WIB 15 Juni 2006;
2. Peta Dunia: National Geographic Maret 2005 (Peta ini tidak mencantumkan Negara Palestina. Disana cuma ada ISRAEL, maklum saja National Geographic Society berada di Washington DC, USA);
3. Ensiklopedi Keluarga A-Z, 1991;
4. http://www.bbc.co.uk/indonesian/sports/story/2006/06/060610_hasil.shtml

riza almanfaluthi
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan di ranting cemara
23:52 15 Juni 2006

ANGKA DAJJAL


ANGKA DAJJAL

Ahad senja, seperti biasanya sambil menunggu adzan maghrib memenuhi semesta dengan kumandang indahnya, saya menyempatkan diri untuk membaca buku barang beberapa halaman saja.
Kali ini di depan lemari buku, mata saya terantuk pada judul sebuah buku yang saya miliki sejak tujuh tahun silam. Buku lama yang saya pikir cukup bagus dan masih relevan sampai saat ini, berjudul: Dajal & Simbol Setan. Buku ini ditulis oleh Ustadz Toto Tasmara dan diterbitkan oleh salah satu penerbit buku Islam terkemuka.
Buku yang sudah lama saya baca ini, secara rinci membahas penafsiran tentang ”binatang melata besar yang keluar dari dalam bumi”—seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Naml—adalah suatu gerakan bawah tanah yang disebut zionisme, suatu gerakan kolaborasi rahasia yang ditata dengan rapi dan profesional, yang dimotori, disponsori, dan diaktorintelektuali oleh Dajal dan setan.
Target mereka khususnya adalah menjauhkan umat Islam menjadi kafi—yang merupakan umat mayoritas di dunia—juga umat agama lainnya pada umumnya. Dengan gerakan zionismenya, Dajal menyusupi tatanan nilai-nilaui kehidupan norma dengan ”baju” globalisasi, keterbukaan, demokarasi, HAM, dan sebagainya. Demikian sekilas Dajal seperti diterangkan pada bagian belakang kaver buku tersebut.
Dulu, setelah membaca buku ini dan buku tipis sebelumnya yang ditulis oleh Ridwan Saidi yang berjudul: Fakta dan Data Yahudi di Indonesia, saya meyakini bahwa Yahudi sebagai suatu bangsa senang terhadap simbol-simbol yang entah berbentuk gambar, angka-angka, ataupun kalimat.
Contoh paling mudah adalah penggunaan lambang yang tertera pada uang satu dollar Amerika Serikat. Di sana ada lambang piramida, satu mata, burung Phoniex, atau kalimat: Annuit Coeptis, In God We Trust ONE.
Sebagian dari penggunaan simbol-simbol di uang kertas satu dollar Amerika Serikat ini banyak digunakan sebagai lambang kebanggaan oleh salah satu grup musik ternama di Indonesia—yang salah satu pentolannya juga mengaku sangat berbangga mempunyai darah keturunan yahudi—di setiap jejak album yang dikeluarkannya.
Sedangkan penggunaan simbol yang tampak nyata sekali di depan mata kita adalah penggunaan lambang bintang segi enam pada sebuah perusahaan telekomunikasi milik pemerintah (Badan Usaha Milik Negara) yang sebagian besar sahamnya dikuasai perusahaan Singapura.
Yang terbaru—dan ini sudah beredar dari milis ke milis—adalah simbol baru dari sebuah perusahaan minyak milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak. Ditengarai bahwa logo itu tidak jauh-jauh sekali dari pengembangan bintang segi enam tersebut.
Nah, yang akan saya tekankan di sini dan juga berkaitan dengan cerita yang akan saya kemukakan adalah penggunaan angka 666 sebagai angka keramat bagi Gerakan freemason [1] dan Iluminasi [2] (sebagai pengejawantah gerakan zionisme). Tentunya selain itu ada lagi angka keramat dan mistis lainnya seperti angka 15, angka 33, dan angka 13 yang menurut mereka mempunyai kekuatan magis.
Angka 666 ini adalah angka yang tertulis pada sebuah lambang gerakan zionis di bidang agama (Jahbulon [3]). Lambang itu terdiri dari lingkaran; piramida; heksagram [4]; angka 33; angka 13; angka 666; dan matahari.
Angka 666 ini mempunyai arti sebagai angka yang mempresentasikan universal hexagram, dewa atau tuhan. (p 31).
Pengertian 666 juga terkait dengan nama lain setan sebagai malaikat sejati—kekuatan langit, penguasa bumi (the son of Baphomet, the child of Beast 666), sebagaimana David Cherubim [5] mengatakan:
”Lucifer akan menyeru umat manusia yang akan menjadikan umat manusia di muka bumi menyembah binatang yang mempunyai lambang ’666’ dan mengguncangkan agama Kristen, serta agama lainnya untuk menuju millenium baru yang bebas dari ajaran Kristen yang palsu.” (p 32)
Dalam Perjanjian Baru; Wahyu 13:18, disebutkan:
”yang penting di sini ialah hikmat barangsiapa yang bijaksana baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya adalah enam ratus enam puluh enam.”
Ayat tersebut tidak luput dari penafsiran Gerakan Iluminasi dan Freemasonry sebagai upaya mewujudkan impian Kerajaan Namrud (Nimrod) dan Menara Babil. Di mana menurut meraka upaya itu bukan hanya bersifat pasif menunggu nasib, melainkan harus diusahakan melalui pemikiran yang cerdas, terencana, dan merasionalkan seluruh lambang-lambang atau ayat-ayat mistik yang berada dalam kitab suci yang bersifat multiinterprestasi dan fleksibel. (p 40).
Angka 666 juga mempunyai kaitan dengan tanggal 01 Mei 1776, tanggal perayaan lahirnya komunis. Terbukti bahwa komponen bilangan dari tanggal, bulan dan tahun tersebut mengandung the Beast 666. Keterangan bukti yang digambarkan catatan kaki pada buku Ustadz Toto Tasmara ini adalah sebagai berikut:
1 Mei 1976 = 1 Mei (bulan ke-5) berati 1+5= 6; 177=1+7+7=15=1+5=6; dan 1776. (p 41).
Dan masih banyak lagi penjelasan tentang angka 666 sebagai representasi dari angka setan atau angka Dajjal ini yang intinya adalah sebagai angka kebijakan, kekuatan, dan ketangguhan atau tidak terkalahkannya setan.
Kemudian, saya beranjak ke halaman 109 di buku tersebut, di mana disana digambarkan tentang keyakinan kaum Freemason terhadap pendirian beberapa monumen dan gedung di Amerika Serikat sebagai simbo, dari kekuatan kerajaan mereka. Setiap titik antara satu gedung ke gedung yang lain membentuk simbol-simbol magis yang memberikan kekuatan keyakinan kepada para anggota mason bahwa Amerika adalah ”kerajaan” bagi kaum mason.
Bila ditarik sebuah garis dari Gedung Putih, Jefferson Memorial, Washington Monumen, dan House of the Temple [6], maka garis tersebut akan membentuk segi tiga, pentagram, dan lambang lainnya (Penggaris Siku dan Jangka Pengukur) yang diyakini mereka mempunyai kekuatan magis.
***
Tiba-tiba adzan maghrib berkumandang, sudah saatnya saya mengakhiri membaca buku ini dan pergi ke masjid yang baru seperempat jadi itu dan tidak jauh dari rumah ini.
Lalu iqomat mulai terdengar, seperti biasanya saya mengatur barisan anak-anak kecil dan remaja agar segera bangkit dari duduk, menyuruh mereka diam, mengatur dan merapatkan barisan dengan rapih, sehingga otomatis saya kebagian di barisan paling belakang.
Di saat itulah–kebetulan sekali–saya melihat tulisan besar-besar putih di bagian belakang kaos berwarna hitam pekat yang dipakai anak belasan tahun. Coba tebak apa tulisannya?

666
B-Bontang
U-Underground
S-Satanic
C-Community

Astaghfirullah, kok ya sholat pakai kaos itu. Jangan-jangan anak ini benar-benar tidak tahu arti dari tulisan itu dan tanpa merasa bersalah memakainya sebagai penutup aurat untuk beribadah kepada Allah. ”Ini harus diluruskan,” pikir saya.
Singkat cerita, setelah salam sebagaimana kebiasaan anak-anak dan remaja, tanpa berdzikir mereka langsung kabur keluar ke pintu masjid. Kali ini saya langsung tanggap dan bergegas untuk menyusul dan memanggilnya.
Anak itu menurut ketika saya ajak dia untuk mengobrol sebentar di pelataran masjid. Baru saat itulah saya mengetahui ada lambang lain di bagian depan kaos itu yakni lambang lingkaran bertuliskan singkatan BUSC dalam huruf yang lebih kecil dengan ada di tengah lingkaran tersebut lambang bintang pentagram, tanda salib, dan mahkota.
Waow, ini lebih parah lagi, tanda salib dan mahkota. Tanda ini adalah lambang The Knight Templar [7] yang tidak bisa dipisahkan dari Freemason sebagai organisasi rahasia, agama, sekaligus ideologi. Di atas kuburan anggota Freemason didirikan piramida dengan lambang tersebut.
”De, kamu tahu arti tulisan di kaosmu itu…?”
”Tidak, Pak…” jawabnya.
”Kamu beli atau dapat darimana?”
”Dibeliin sama ibu.”
”Masak, calon orang sholeh pakai kaos itu. Kalau kamu pakai itu berarti kamu termasuk dalam ’Kelompok Setan’. Apalagi ada angka 666 yang merupakan angka setan, ditambah di kaosmu itu ada lambang Tne Knight Templar. Jadi nanti-nanti tidak usah pakai kaos ini lagi kan, bila perlu jadiin keset aja yah.” tutur saya panjang. Anak yang baru duduk di bangku SMP itu tertawa sambil manggut-manggut.
Sejenak setelah anak itu pergi menghilang dari tatapan dan membawa pemikiran baru baginya, saya berpikir bahwa sungguh sangat luar biasa hasil perang pemikiran yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam ini.
Tanpa disadari dan dirasakan oleh para pemuda sebagai harapan bangsa dan agama, pemikiran-pemikiran baru itu merasuk dengan mudah dalam alam bawah sadar mereka melalui suatu gerakan yang disebut oleh Toto Tasmara ini sebagai ”gerakan 7F”.
Yaitu gerakan penghancuran kekuatan keuangan (finansial) umat Islam, merusak pola makan (food), menciptakan perpecahan di antara umat Islam (friction), menyebarkan cara berpikir bebas (freethought), menebarkan ideologi baru berupa membebaskan manusia dari agama (freedom of religion), menguasai film, tv, dan media massa (film), menumbuhkan dan menggoda masyarakat agar berbudaya dan bersikap mengikuti millah mereka (fashion of life style), membuat beberapa aliran mistik untuk menghancurkan agama (faith, sect, occultism), menumbuhkan rasa kecewa (frustasion), dan lain-lain.
Tentunya anak ini cuma ikut-ikutan dan tanpa disadari telah menjadi korban dari upaya fashion of life style. Bagaimana tidak semua ini tercermin pada sebuah komunitas anak muda yang berpakaian serba hitam, bersepatu boot, bertindik di sekujur tubuhnya, berhias rantai, serta bergaya rambut yang nyeleneh dan sudah menjadi trend di kota-kota besar Indonesia ini.
Kelompok ini pun rawan dengan kerusakan moral, pergaulan bebas, penyalahgunaan obat-obatan yang akan menghancurkan mentalitas dan menghilangkan nyawanya sendiri.
Tentunya tidak hanya pada komunitas ini tudingan juga harus terarah, tentunya pada setiap komunitas—entah kaya, ekskusif, atau profesional—yang menjadikan kebebasan hidup, ekspresi, dan syahwatnya sebagai tuhan barunya.
Toto Tasmara mengakhiri bukunya itu menyatakan bahwa sudah menjadi suatu kemutlakan untuk menyelamatkan generasi penerus dari ancaman halus ini adalah dengan memberikan suatu pola pendidikan moral agama sejak dini.
Saya setuju sekali dengan ini, karena diharapkan dengan pendidikan moral agama itu akan terbentuk suatu benteng iman yang tebal dan kokoh pada diri generasi baru sehingga mampu menahan segala godaan yang akan membelokkannya dari jalan yang lurus dan menjadikannya mujahid-mujahid muda yang akan mampu menegakkan dan mengibarkan panji-panji dinnullah di muka bumi ini dan mampu mengalahkan musuh utama manusia yakni syaitan yang terkutuk.
Ingat: sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi manusia. Sembilan kali Allah mengingatkan hal demikian dalam AlQur’an yang Agung.
Allohua’lam bishhsowab.

[1] Gerakan Freemasonry seringkali dikelompokkan sebagai sekte bid’ah yang menyempal dari ajaran Roma Katolik.
[2] Iluminasi: Pendirinya adalah Adam Weishaupt, seorang jesuit, profesor di bidang hukum, dan pendiri Lucifer Conspiracy dan The Synagogue of Satan. Penyusun buku doktrin The Novus Ordo Seclorum yang selesai pada tanggal 1 Mei 1776, sehingga sebagai penghormatan pada dirinya setiap tanggal 1 Mei dijadikan sebagai hari perayaan Komunis di seluruh dunia. Menurutnya setan adalah kekuatan yang melambangkan kejujuran, keberanian, dan kebebasan, serta satanisme adalah bentuk evolusi kemanusiaan.
[3] Jahbulon = Jah-Bu-Lon menurut mereka adalah bentuk lain dari tuhan dengan fungsinya seperti juga ”Trinitas”.
[4] Heksagram: hexa ’enam, gramma ’tulisan atau gambar’ yang merupakan dua piramida terbalik sebagai simbol Kerajaan Sulaiman dan Bintang david dan simbol pemerintahan dunia baru.
[5] David Cherubim seorang pendeta dari ordo anti-Kristus.
[6] House of The Temple yang merupakan “kantor pusat” Freemason di mana di dalam gedung tersebut berkumpul semua anggota dari pelosok dunia untuk menerima pengukuhan atau wisuda anggota mason yang memasuki tingkat 33.
[7] The Knight Templar: legiun pasukan perang, intelejen, pengawal kepercayaan raja yang ikut serta secara aktif menjadi pasukan salib, terutama mendampingi panglima Aliansi Kerajaan Kristen Eropa melawan para mujahiddin Salahudin. Beragama mistik dan salah satu sesembahannya adalah Baphomet.
Setelah usai perang salib mereka pulang kembali ke Eropa dan menjadi rentenir, bahkan memegang kunci keuangan kerajaan. Dan pusat dari pengembangan berbagai gagasan pemikiran baru dan ilmu pengetahuan baru. Dengan banyaknya kekuasaan di tangan mereka, membuat Paus dan raja mulai merasa terganggu. Pada akhirnya seluruh veteran perang tentara salib itu ditangkap, disiksa, dibunuh, dibakar hidup-hidup. Sejak saat itulah dimulailah gerakan rahasia yang berlangsung secara turun temurun dan menjadi awal dari munculnya gerakan Freemason.
Sumber catatan kaki adalah dari bukuDajal & Simbol Setan.

Maroji’: – Dajal & Simbol Setan, TotoTasmara;1999; GIP
– Fakta & Data Yahudi di Indonesia Jilid II; Ridwan Saidi; 1994; LSIP

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
semoga tidak sekadar menjadi cerita yang terungkap kemudian sirna (rda)
23:18 23 April 2006