
Langit gelap di atas Kalibata. Saat itu hujan hampir reda. Ikamah Asar berkumandang dari pelantang Masjid Salahuddin. Saya bergegas ke masjid dan mengambil air wudu.
Ada satu orang yang tidak salat. Anak belasan tahun dengan baju basah sedang memegang payung lebar. Sepertinya ia ojek payung yang sedang menunggu para jemaah menyelesaikan salat. Anak itu menunggu di luar halaman masjid. Hujan menyisakan gerimis.
Ketika imam salat mengucapkan salam. Sang anak memasuki halaman masjid. “Payung, Pak. Payung, Pak,” teriaknya. Satu-dua orang keluar dari sisi masjid itu. Ada yang membawa payung. Kebanyakan tidak. Mereka menerobos rintik yang tak seberapa dan insyaallah tak membuat sakit.
Ketika sebagian jemaah meninggalkan masjid, tak ada satu pun yang menyewa jasanya. Saya sedang berdoa pada saat itu. Dari sudut mata, saya melihat anak itu menutup payungnya dan keluar dari halaman masjid.
Duh, kok saya seperti merasakan perih, yah. Saya seperti melihat diri saya sendiri waktu SMP, sewaktu menjajakan payung atau mengasong rokok, permen, tisu, dan minuman di bioskop. Puluhan tahun lalu. Merasakan betul nelangsanya kalau jualan tidak laku. Orang banyak berseliweran keluar masuk bioskop, tetapi tak ada satu pun yang membeli jualan kita.
Saya menyelesaikan doa dan segera keluar masjid, berniat menyewa payungnya. Saya tak melihatnya. Jalannya cepat juga bocah itu, saya membatin. Ya sudah. Ketika saya membelok di ujung jalan. Barulah terlihat ia di kejauhan. Saya bertepuk tangan dengan kencang beberapa kali. Ia menengok. Saya melambaikan tangan. Ia pun berlari menghampiri saya.
Lihat Daftar isi buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
Baca Sinopsis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
Sang anak menyerahkan payungnya kepada saya. Saya menerima payung itu dan berjalan. Sekitar 10 meter kemudian saya menyerahkan payung itu. Saya sudah tiba di depan kantor. “Tunggu di sini, yah. Saya ke dalam dulu,” ujar saya. Saya tidak membawa dompet pada saat itu.
Saya mengambil uang dan kembali ke teras kantor. Saya melihatnya sedang duduk di undakan. Sang anak menyerahkan kembali payung itu kepada saya. Ia menyangka saya mau melanjutkan jalan lagi. “Saya sampai di sini saja, Dek,” kata saya sambil menyerahkan uang kepadanya.
Seberkas cahaya terlintas di wajahnya. Membentuk sebuah senyum. “Terima kasih, Pak,” katanya. Semoga yang sedikit itu memupus kecewanya. Terpenting lagi membuat ia bisa menjaga salatnya. Pesan yang lupa saya sampaikan kepadanya.
Saya jadi mengingat nasihat seorang ustaz. Ia bilang begini. Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, jangan pernah merasa bahwa kebaikan itu untuk orang lain. Ini karena kalau kita berpikiran seperti itu, punya peluang ujub (kagum pada diri sendiri). Punya peluang kita terjerumus untuk menuntut orang lain yang menerima kebaikan itu untuk mengucapkan terima kasih. Jadinya seperti enggak ikhlas.
Ustaz itu meneruskan, sesungguhnya ketika kita berbuat baik, ya untuk diri kita sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” demikian Allah berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 7. Nasihat itu saya camkan dalam-dalam.
Sore itu, hujan menurunkan banyak hal: air, keberkahan, dan nasihat. Dari anak penjaja jasa ojek payung.
Baca satu bab gratis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
Baca Kata Pengantar buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
***
Riza Almanfaluthi
21 November 2024
Pemesanan buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi
