RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG


RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG

Ada tradisi yang dipegang begitu kuat oleh masyarakat Aceh, salah satunya adalah tradisi meugang atau makmeugang. Tradisi meugang adalah tradisi berkumpul dengan keluarga sembari makan-makan di hari terakhir bulan Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadhan. Enggak afdal kalau tidak berkumpul. Oleh karenanya, seminggu atau beberapa hari sebelum hari meugang tersebut banyak para perantau kembali pulang kampung.

Selain makan-makan dengan menu khusus maka yang muda berkunjung kepada yang lebih tua dengan menyerahkan bawaan berisi lauk-pauk—termasuk di dalamnya daging kerbau atau sapi yang diolah ke dalam berbagai macam masakan. Tidak heran di berbagai daerah di Aceh banyak bermunculan lapak-lapak baru di pinggir jalan yang khusus berjualan daging kerbau atau sapi.

Dalam masyarakat Aceh tradisi ini dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu menjelang bulan Ramadhan, menjelang hari raya Idul Fitri, dan menjelang hari raya Idul Adha. Tradisi ini berlangsung ratusan tahun dan sudah turun temurun dilaksanakan.

Menurut Acehpedia, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya. Setelah Aceh dikalahkan Belanda, kerajaan bangkrut. Lalu, rakyat berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan meugang.

Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang. Tradisi ini malah bisa membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yaitu daging yang diawetkan. Dengan daging awetan, tulis Acehpedia, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.

Penjual daging di salah satu pasar di Aceh (gambar dari acehmail.com)

Di Tapaktuan, tradisi ini berimbas buat saya. Warung nasi tidak ada yang buka. Sebenarnya pemilik warung memahami urgensi keberadaan mereka buat para pekerja rantauan seperti saya ini. Apalagi buat yang menjomblo. Karena kepraktisan membeli makanan daripada memasak sendiri lebih jadi pilihan.

Tapi apa mau dikata, tradisi ini harus dipegang. Harus dihormati. Sebelas bulan mencari nafkah masak satu atau beberapa hari saja saja tutup tidak mau. Ada saja gunjingan ini kepada para pemilik warung yang masih buka.

Daripada saya kelaparan maka pada hari kedua sebelum Ramadhan saya pun membeli sembako sebagai persiapan antara lain lima butir telor, satu kilogram beras, dua ekor ikan, mi dan bumbu-bumbu instan. Sayang sekali tidak ada yang namanya sayur instan. Sedangkan kalau beli ikan tentu di pajak (baca pasar). Saya titip sama teman saya yang sering pergi belanja ke sana, J. Simorangkir, teman saya yang hobi banget makan ikan dan jalan-jalan pagi.

Tapaktuan ini terkenal dengan ikan segarnya. Seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal Aceh, Nasir Jamil, saat dia tahu bahwa saya bekerja di Tapaktuan, langsung menyatakan kesukaannya dengan ikan-ikan di Tapaktuan yang segar, putih, dan empuk dagingnya itu. Dalam kunjungan kerjanya, ia pernah mampir di Tapaktuan.

Ya, saya sudah terbayang mau diapakan ikan ini. Dibakar dan digoreng. Ilmu cara bakar ikan dari teman satu mes saya yang jago masak: Tulus Mulyono Situmeang. Cukup dengan memberi garam dan perasan air jeruk nipis. Katanya enak. Kalau menggoreng ikan sepertinya tak perlu repot, bumbunya sudah ada, tinggal beli saja.

    Sahur pertama kali di negeri orang, sendirian, hanya dengan nasi berteman ikan bakar rasa seadanya tanpa sayur. Saya terima semuanya dengan berusaha lapang dada. Sebotol air putih sebagai penutup sahur untuk memulai hari pertama Ramadhan. Seraya memohon kepada Yang Maha Kuat agar Ia menguatkan fisik saya. Tidak hanya itu, saya meminta semua hajat pada-Nya. Bukankah waktu sahur adalah waktu teristimewa untuk kita berdoa?

    Sayyid Quthb ketika menafsirkan QS Alimran ayat 17 menggambarkan “as haar” yakni “pada waktu sahur” sebagai waktu malam menjelang fajar. Saat yang hening, menimbulkan nuansa lembut dan tenang, dan tercurahlah semua perasaan serta getaran yang tertahan dalam hati. Mereka yang sabar, jujur, taat kepada Allah, suka berinfak, dan memohon ampunan kepada Allah pada waktu sahur, akan mendapatkan “keridaan Allah”. Merekalah—yang menurut Penulis Kitab Fii Dzilaalil Qur’an ini—layak mendapatkan keridaan dengan naungannya yang segar dan maknanya yang penuh kasih sayang. Ibnu Hajar mengatakan doa dan istighfar di waktu sahur adalah diijabahi (dikabulkan).

    Alhamdulillah, hari pertama dilalui dengan mudah. Sirine tanda berbuka puasa berbunyi nyaring dari masjid yang berada di salah satu sudut kota Tapaktuan. Selain pada waktu berbuka puasa, sirine ini berbunyi pada jam tiga dan empat pagi, serta pada waktu imsak. Saya meminum segelas air teh hangat. Sepiring nasi dan dua potong ikan goreng yang setengah jam sebelumnya saya masak. Itu saja. Tidak ada yang lain. Tapi benar-benar nikmatnya luar biasa. Benar apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Muhammad saw, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-Nya.” Semuanya jadi nikmat karena diterima dengan gembira.

    Pun, foto yang dikirimkan oleh istri saya melalui aplikasi whatsapp di waktu duha sebelumnya meneguhkan kembali kesadaran saya tentang arti banyak-banyak bersyukur terhadap hidangan berbuka puasa. Foto yang bertuliskan dengan huruf besar “Renungan Ramadhan” dan terdapat gambar seorang laki-laki berpakaian tradisional Arab sedang mengusap air matanya dengan sapu tangan. Tulisan di bawah gambar menjelaskan lebih lanjut.

Seorang mufti besar Arab Saudi menangis terisak-isak setelah menerima soalan melalui telefon dalam sebuah rancangan TV live. Panggilan tersebut datang daripada seorang saudara Islam dari Somalia dengan pertanyaan: “Adakah puasa saya (dan kami) sah dan diterima Allah SWT sedangkan saya (kami) tidak dapat bersahur atau berbuka?” Saudara kita di Somalia tiada apa-apa untuk bersahur dan berbuka sedang kita enak menjamu selera dan aman damai.

    Di Citayam, buka puasa sudah satu jam sebelumnya. Ada yang membuat haru ketika saya mendapatkan foto lain yang terkirim dari Umi Haqi. Foto yang menggambarkan Mas Haqi, Mas Ayyasy, dan Kinan duduk bersama di atas meja makan sambil menyantap dengan lahap hidangan buka puasa. Subhanallah. Insya Allah tetap afdal keberadaan kita walau dipisahkan oleh jarak dan waktu di hari meugang dan pertama ramadhan ini. Yang terpenting adalah keberadaan Allah tetap di hati kita masing-masing. Insya Allah.

    Bagaimana hari pertama Ramadhan Anda?

070614_1223_MAKMEUGANG2.jpg

Mas Ayyasy dan Mas Haqi sedang menyantap hidangan berbuka puasa.

070614_1223_MAKMEUGANG3.jpg

Kinan lagi buka puasa sebedug dan semaghrib.

070614_1223_MAKMEUGANG4.jpg

Kinan lagi salat. Plirak-plirik.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

03 Juli 2014

SEKALIBER TRIBUNNEWS PAKAI FOTO EDITAN


SEKALIBER TRIBUNNEWS PAKAI FOTO EDITAN

    

    Pada tanggal 3 Juli 2014, media online tribunnews.com menampilkan berita yang berjudul “Nasi Kotak yang Dibagi-bagikan Prabowo di Dalamnya Ada Duit Rp 50 Ribu!”. Tak lupa sebagai peneguh atas judul tersebut sekaligus sebagai dramatisasi maka Tribunnews menampilkan foto nasi kotak dengan gambar uang lima puluh ribuan tertempel di tutup nasi kotak. Caption yang tertulis di bawah foto sebagai berikut: “Nasi kotak yang dibagi-bagikan Prabowo saat kampanye di Lapangan Lumintang Bali, Selasa 1 Juli 2014. Tampak terselip uang Rp 50 ribu.”

    Dengan caption seperti itu maka dinyatakan dengan tegas bahwa foto nasi kotak itulah yang dibagi-bagikan pada saat kampanye Prabowo di Lumintang, Bali (1/7). Di era penuh dusta seperti saat ini maka sebagai pembaca yang cerdas tentu tidak mudah untuk percaya. Sebaiknya pun menggunakan dengan baik dan benar anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita yaitu otak.

    Benarkah nasi kotak itu yang diberikan pada saat kampanye Prabowo? Ternyata itu foto tertanggal 11 Juli 2007. Pengguna facebook menunjukkan tautan bahwa foto yang ditampilkan oleh tribunnews.com adalah foto hasil editan. Tautan tersebut berasal dari sini: http://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Nasi_gudeg_nasi_kotak.JPG . Dari situs wikimedia.org tersebut maka dapat diketahui pula oleh kita metadata dari foto yang berjudul Nasi Gudeg Nasi Kotak.jpg.

    Terlihat dari foto asli nasi kotak tersebut tidak ada gambar uang lima puluh ribuan. Gambar nasi kotak isi nasi gudeg, ayam goreng, dan rendang telur pun lebih tajam dan menggugah selera daripada yang ditampilkan oleh Tribunnews. Selain itu Tribunnews menampilkan tautan sumber dari foto tersebut yaitu: http://www.matammasa.org. Namun ketika diklik tautan tersebut tidak dapat dibuka.

    Suasana pilpres 2014 membuat para pekerja media terbelah. Profesionalisme, cek dan ricek, hanya menjadi barang mewah. Jumlah hits sekarang menjadi tujuan utama. Kini para pembaca harus lebih cerdas dalam membaca. Karena banyak media yang melacurkan idealismenya. Mudah melakukan kedustaan. [Riza Almanfaluthi]

**

http://www.suaranews.com/2014/07/sekaliber-tribunnews-pakai-foto-editan.html?m=1

 

 

 

TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari ini membuktikan kalau para pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak hanya mementingkan dirinya sendiri melainkan juga tahu tentang tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik. Ilmu pajak ini harus dapat dipahami dan disebarkan kepada yang lain. Contohnya kepada orang tua masing-masing. “Tanya kepada mereka, sudah bayar pajak atau belum?”

Hal ini dinyatakan oleh Eli Darmi, Kepala SMA Negeri 1 Tapaktuan, dalam sambutannya di acara Tax Goes To School yang diselenggarakan di aula SMA Negeri 1 Tapaktuan, Rabu (4/6). Tak kurang dari 63 pelajar mengikuti acara itu. Acara yang digagas oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bekerjasama dengan SMA Negeri 1 Tapaktuan ini merupakan salah satu agenda sosialisasi tahunan ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Aceh Selatan.

“Sosialisasi ini merupakan road show investasi pemahaman pentingnya pajak buat pembangunan negeri. Karena merekalah calon pembayar pajak di masa depan,” ujar Kepala KPP Pratama Tapaktuan, Jailani, saat dimintakan keterangannya. Dalam sambutannya ia berpesan agar pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak menyia-nyiakan waktu mudanya dengan cara belajar yang baik di sekolah ini. “Sekolah ini dibiayai dengan pajak yang dibayarkan Wajib Pajak dan dikumpulkan oleh negara,” tegasnya.

Kepala Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Tapaktuan, Suardjono, sebagai Ketua Panitia acara ini menambahkan, materi penting yang disampaikan kepada pemula ini antara lain materi dasar tentang manfaat pajak, peranan pajak, dan cara pembayaran pajak. Yang terakhir ini wajib disampaikan karena masih rancunya pemahaman di masyarakat bahwa bayar pajak itu di kantor pajak. “Padahal tidak demikian. Bayar pajak ya ke bank,” jelasnya.

Sekolah yang didirikan pada tahun 1959 di kota pala ini merupakan salah satu sekolah terbaik di Aceh Selatan. Sudah banyak prestasi yang ditorehkannya. Di antaranya sekolah ini mampu mengirimkan seorang siswanya menjadi duta Aceh dalam Olimpiade Siswa Nasional tingkat nasional. Tak heran dalam acara Tax Goes To School ditampilkan pula siswa-siswi berbakat di bidang seni seperti tarik suara dan pembacaan puisi.

Direncanakan dalam bulan yang sama, KPP Pratama Tapaktuan melanjutkan road shownya ke SMA Negeri Unggul Aceh Selatan. [RizaA]

*

Riza Almanfaluthi

Diunggah pertama kali di situs intranet Sumber Daya Manusia DJP