SEPERTI BELLA SAPHIRA, ADORA MASUK ISLAM


SEPERTI BELLA SAPHIRA, ADORA MASUK ISLAM

 

Telepon berdering.

“Mas di mana?” tanya suara di sebelah sana.

“Di tiit…tiit…tiiit,” bunyi sensor sebuah merek toko buku.

“Bisa cepetan balik kantor gak Mas, ada teman yang mau masuk Islam?”

“Ok dah.”

***

Jumat kemarin, saya bereskan semua pekerjaan sebelum meninggalkan kantor lama ini menuju Tapak Tuan. Pemberkasan telah saya rampungkan. Barang-barang pribadi telah saya bawa pulang ke rumah. Meja telah bersih dan rapi. Setelahnya saya mau keluar sebentar mengurus internet banking dan melihat-lihat tas gede dan buku di bilangan Semanggi.

    Baru saja datang dan mengecek di komputer melihat ketersediaan buku itu, telepon tadi berdering. Saya bergegas kembali ke kantor menjumpai teman yang tadi menelpon. Jadi intinya saya diminta menjadi salah satu saksi masuk Islam temannya. Pengikraran kalimat syahadatnya akan dilakukan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru. Kami akan ke sana setelah sholat Jumat di Masjid Shalahuddin.

    Usai jumatan kami berempat bergegas ke Masjid Al-Azhar. Seorang perempuan yang wajahnya familiar telah menunggu di pelataran masjid. Kami pun menuju ruang takmir masjid. Saya menyerahkan KTP kepada petugas pembuat sertifikat. Identitas dua orang saksi akan dicantumkan di sertifikat itu.

Masjid Bersejarah buat Adora

    Tak lama kami diminta masuk ke ruangan ber-AC yang berukuran delapan meter persegi. Kami menghadap seorang ustadz yang telah duduk di depan meja. Sebuah pigura besar tertempel di dinding berisi kalimat syahadat dalam bahasa dan tulisan Arab, bahasa Indonesia, dan Inggris.

    Setelah memberikan iftitah (pembukaan) ustadz muda itu bertanya kepada Adora—sebut saja demikian—apa alasannya masuk ke dalam Islam. Karena Islam itu adalah agama yang tidak boleh memaksa orang untuk masuk ke dalamnya.

    “Ini kejadiannya sudah lima tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang mengalami kekalutan hidup dan permasalahan keluarga. Suatu hari ketika saya baru tiba di kantor ada teman yang menyetel pengajian (baca murottal-ed). Saya mendengarnya. Dan saya merasakan ketenteraman dan kedamaian yang luar biasa. Damaiiii sekali…” tuturnya sambil terisak dan terbata-bata. Tak terasa, mata saya sudah basah mendengar penuturannya. Teman-teman juga sudah mulai main tangan mengusap matanya masing-masing.

    Sejak saat itu Adora rindu mendengar suara adzan dan browsing tentang Islam diam-diam. Ia pun tahu risiko yang biasa dihadapi para mualaf. Pengusiran dari rumah adalah salah satunya. Seperti yang dialami artis Bella Saphira misalnya. Ketakutan itulah yang menghalanginya selama ini untuk segera masuk Islam. Tetapi ia tidak bisa menampik kerinduan terhadap Islam. Keputusan bersejarah harus dibuat. Jumat itu menjadi awal hidup barunya.

     Sang Ustadz meminta Adora mengikuti apa yang diucapkannya. Adora cukup lancar mengucapkan dua kalimat syahadat. Tapi ustadz masih memintanya mengulangi sekali lagi. Adora mengulang syahadatnya. Adora menangis ketika mengucapkan persaksian tentang Muhammad adalah utusan Allah.

    “Alhamdulillah,” ucap kami serempak mendengar persaksian Adora. Ustadz muda itu memberikan nasehat panjang lebar tentang iman dan Islam, tentang pembebanan kewajiban yang sudah mulai ia harus tanggung sebagai konsekuensi dari syahadatnya.

    Acara itu diakhiri dengan doa yang dipimpin Sang Ustadz yang juga membuat kami terisak. Benar-benar sebuah prosesi yang sangat mengharukan. Adora bilang: “Saya sangat tidak enak hingga membuat teman-teman repot.” Sang Ustadz malah bilangnya tak perlu tak enak-tak enak segala. Karena memang sudah kewajiban teman-temannya menemani Adora ke Al-azhar.

    Kami meninggalkan tempat itu setelah Adora mendapatkan sertifikat dan goody bag berisi kitab Alqur’an dan sejumlah buku. Tak ada sepeser pun yang dipungut pengurus Masjid Al-Azhar dalam prosesi itu. Kalau pun mau memberikan dana, kami diminta untuk mengisi kotak infak yang tersedia.

    Adora akan mulai melaksanakan sholat dan belajar mengaji. Teman kami pula yang akan membimbingnya. Adora masih meminta kepada kami untuk merahasiakan keislamannya. Untuk saat ini ia masih belum siap. Tapi ia akan pelan-pelan mengondisikan keluarganya. Kami cukup memahami kekhawatirannya itu.

    Siang itu saya merasakan bahagia yang sangat luar biasa. Menjadi saksi dari sebuah sejarah Adora. Pun karena bisa menangis lagi setelah gersang sekian lama. Kata ustadz mah katanya orang yang bisa menangis itu tanda ada iman di dalam hatinya. Saya harap demikian karena terkadang malu memikirkan iman di dalam dada.

    Selamat Adora. Barakallahufik. Semoga Allah tetap menjaga hidayah ini sampai ajal menjemput. Hidayahmu, hidayah saya, hidayah kami semua.

Suatu saat kelak kalian akan mengetahui siapa Adora—yang bukan artis ini—adanya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15 Oktober 2013

    Gambar diambil dari sini.

Advertisements

2 thoughts on “SEPERTI BELLA SAPHIRA, ADORA MASUK ISLAM

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s