Doa Keselamatan Buat Bush dan Blair


16.01.2006 – Doa Keselamatan Buat Bush dan Blair

Dalam sebuah diskusi tentang perang teluk kedua, seorang peserta pada akhirnya berkesimpulan dan menyeru untuk bersama-sama mendoakan kebaikan dan keselamatan dunia akhirat buat dua pentolan penggagas perang teluk pertama dan kedua itu. Diskusi berakhir geger dan membuat kemarahan sebagian yang lain, karena ini menyangkut kezaliman dua rahwana tersebut terhadap dunia Islam.
Dari diskusi tersebut saya mencoba untuk merunut kembali pada sejarah masa lalu, Rosululloh SAW dirundung kesedihan saat paman yang sangat dicintainya, Abu Thalib (penyembah berhala) meninggal dunia. Di tengah suasana duka beliau memohon kepada Alloh SWT agar mengampuni segala dosa dan kesalahannya. Tapi Alloh SWT menegurnya, bahwa dalam persoalan agama ada batasan-batasan toleransi yang tidak boleh dilampaui.

Melalui firman-Nya beliau diingatkan untuk tidak mendo’akan orang yang tidak seiman, “sama sekali tidak layak bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampun untuk orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu keluarga dekatnya setelah jelas kepada mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim” (Q.S. At-Taubah: 113)

Berbicara tentang masalah do’a mungkin ada orang yang mempersoalkan jika Nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin tidak boleh mendo’akan orang-orang musyrik, lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim As. Yang berdo’a untuk ayahandanya yang kafir, sebagaimana digambarkan dalam Qur’an: “Dan ampunilah bapakku karena sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. Asyu‘ara: 86).

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa do’a Nabi Ibrahim ini esensinya ialah meminta kepada Alloh SWT agar ayahandanya ini diberikan hidayah dan petunjuk supaya menjadi orang beriman. Bahkan menurut Imam Qatadah, setelah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahandanya adalah musuh Alloh, Ibrahim berlepas diri darinya.

Q.S. At-taubah, 114 berbunyi sbb: Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Alloh) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Alloh, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Jelasnya, berdo’a untuk orang-orang musyrik agar mereka diberi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kebaikan, dan sebagainya tidak diperbolehkan. Hal itu bukanlah bentuk dari toleransi. Mendo’akan mereka berarti mengakui dan membenarkan eksistensi kekafiran mereka.

Maka sungguh tidak pantas bagi mereka yang mengaku dirinya beriman mendo’akan Bush dan Tony Blair untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat setelah tampak jelas di hadapan kita dan masyarakat dunia lainnya permusuhannya terhadap Islam, kesombongan mereka yang layaknya Fir’aun dan Hamam, dan kebencian mereka. Serta aksi mereka yang telah mencabut ribuan nyawa dengan perang yang mereka lancarkan.

Tapi bagi para penganut teologi inklusif-nya Ulil Absar Abdilla, dalam hal mendoakan kebaikan terhadap mereka hal ini sah-sah saja, dengan anggapan bahwa tidak ada istilah kafir dan musyrik karena semua agama di dunia adalah benar. Jalan boleh beda-beda namun tetap satu tujuan yakni penyembahan kepada Tuhan Sang Maha Transenden. Jadi menurut mereka Bush dan Blair bukan orang musyrik, mereka juga penganut agama kebenaran. Sah-sah saja mendoakan kebaikan untuk mereka. Begitukah…? Sesungguhnya mereka telah dibutakan mata dan hatinya dalam melihat kebenaran. Allohua’lam.

Maraji’: 1. Alqur’anul Karim, 2. Sabili, 9/X/2003
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
dipublikasikan di tahun 2003
diedit kembali 13:59 14 Januari 2006

Kutunggu Bapak di Masjid


16.01.2006 – [TIPIKOR]-Kutunggu Bapak di Masjid

Siang itu begitu panas. Matahari dengan teriknya membakar Jakarta. Tak ada yang tersisa dari hujan yang turun dua hari sebelumnya. Dengan peluh yang membasahi wajah, saya menuntun motor menuju pelataran parkir Polda Metro Jaya. Citizen masih menunjukkan pukul satu lebih lima menit. Setelah menyampirkan jaket, saya bergegas menghampiri petugas parkir untuk menanyakan di mana letak kantor TIPIKOR.

Petugas tersebut langsung menunjuk ke arah menara tinggi di sebelah selatan, dan mengatakan bahwa kantor tersebut berada di bawah menara itu. Pfhh…kurang lebih seratus meter jaraknya dari tempat saya berdiri.
Kembali saya melangkahkan kaki dengan tergesa agar tidak kehilangan waktu. Soalnya, batas waktu untuk menjenguk hanya sampai jam dua siang. Setelah bertanya kesana kemari—sampai beberapa kali tersesat, dan di ping pong berulang kali—akhirnya saya sampai di depan pintu besi tebal yang terkunci dari dalam dan berjendela kecil seukuran muka saja.

Saya ketuk pintu besi, dan jendela kecil itu terkuak. Muncul sebuah wajah dan langsung menanyakan apa keperluan saya. Saya katakan saja bahwa saya ingin menjenguk tetangga saya yang sedang berada dalam sel itu sambil menyebut namanya.
Petugas tersebut dengan muka masam hanya meminta saya untuk menunggu, kemudian dia menutup kembali jendela itu. Dan saya masih berdiri di depan pintu itu sambil terbengong-bengong, tidak ada penjelasan sampai kapan saya harus menunggu. Saya melihat ke sekeliling, tidak ada tempat untuk berteduh yang nyaman, yang ada hanyalah bedeng tempat para pekerja sedang menyelesaikan renovasi gedung TIPIKOR.

Saya menghampiri bedeng itu untuk sekadar menghindari terik matahari yang sepertinya semakin menyengat penduduk bumi. Di sana sudah menunggu sambil berdiri seorang ibu dengan dua orang anaknya. Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya saya mengetahui bahwa kunjungannya pun sama yakni untuk menjenguk. Dia akan menjenguk suaminya yang terlibat dalam suatu aksi perampokan yang gagal. Ibu itu mengatakan bahwa suaminya hanya diajak oleh temannya. Sambil tersenyum kecut dia bilang, “sudah enggak ada hasilnya, ketangkep lagi”.

Dia pun menanyakan siapa yang akan dijenguk oleh saya. Saya hanya bilang, ”seorang tetangga”. Ibu itu kaget setengah tidak percaya. “Tetangga saja kok dijenguk segala”, tukasnya. Ya, memang saya hanya menjenguk seorang tetangga. Walaupun tidak satu RT dengan saya, sudah kewajiban seorang muslim untuk dapat menghibur saudaranya.

Saya tidak kenal dekat dengan tetangga saya itu, sebut saja Pak Anton (bukan nama sebenarnya). Dia adalah anggota legislatif periode 1999-2004 dari partai pemenang pemilu tahun 1999. Dia termasuk orang yang disegani di komplek saya. Semua orang tahu, dialah yang rajin menyumbang dana untuk menyokong kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di komplek kami. Mulai dari acara agustusan, kegiatan besar di masjid, pelopor pemasangan lampu penerangan jalan ber-watt besar, kegiatan senam pernafasan, sampai betonisasi jalan di RT-nya. Hingga akhirnya diangkatlah ia menjadi Ketua RT. Namun sayangnya dia jarang pergi ke Masjid.

Sampai suatu ketika, di penghujung masa akhir jabatannya—Pak Anton dipastikan tidak terpilih lagi karena dia membelot dan menjadi caleg dari partai baru pimpinan salah seorang putri proklamator. Sayang suara pendukungnya tidak memungkinkan kembali untuk mengantarkannya menduduki kursi empuk anggota dewan.
Bahkan surat kabar nasional memberitakan adanya aduan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat kepada Polda Metro Jaya tentang telah terjadinya tindak pidana korupsi di DPRD Kota X, yang pula menyebutkan namanya sebagai salah satu calon tersangka.

Akhirnya beberapa minggu kemudian dijemputlah Pak Anton dari rumahnya menuju Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan, sampai kemudian ditetapkan bahwa dia resmi menjadi tersangka bersama ketujuh belas anggota lainnya yang termasuk dalam kepanitiaan anggaran di dewan.

Tidak ada kegegeran di komplek saya, semua diam, sampai-sampai pula nyaris tidak ada orang yang menjenguknya. Sepengetahuan saya, kecuali istrinya, baru ada dua orang yang menjenguknya. Itu pun tidak satu RT dengannya.
Berita itu sampai ke telinga pengurus masjid Al-Ikhwan, yang dulu sempat berseberangan tentang suatu masalah. Keluhan Pak Anton tentang tidak ada yang menjenguknya dari para pendukung yang dulu selalu menempelnya menjadi bahan pemikiran Dewan Keluarga Masjid untuk mengutus saya menemui dan bersilaturahim dengannya. Untuk itulah siang itu saya berdiri lama menanti pintu besi ini terbuka.

Akhirnya setelah menunggu lima belas menit lamanya, keluar rombongan yang ada di dalam dan pengunjung yang berada di luar saling berebutan untuk masuk. Ruangan itu berukuran kurang lebih seratus meter persegi. Di sinilah tempat menjenguk itu. Antara ruangan utama dengan deretan sel-sel di sepanjang lorong hanya dibatasi jeruji. Di samping kanan ada jendela berjeruji, tempat tersangka kasus narkoba bertemu dengan penjenguknya, dan tidak ada kursi sehingga harus berdiri untuk berkomunikasi.
Setelah menyerahkan KTP ke petugas jaga, sambil menunggu Pak Anton dipanggil saya diminta untuk duduk dulu di bangku panjang seperti bangku tunggu di puskesmas. Beberapa saat kemudian, Pak Anton yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek, keluar sambil mencari-cari siapa yang menjenguknya. Saya berdiri dan menghampirinya, tampak sekali ia terkejut melihat kedatangan saya. Di mulai dari salam, jabat tangan erat, dan menanyakan kabar kesehatannya, akhirnya kami mengobrol panjang.

Tentang bagaimana bermulanya kasus ini, pertentangan antara Undang-undang Otonomi Daerah dan Peraturan Pemerintah yang sudah diperintahkan oleh Mahkamah Agung untuk dibatalkan, character assassination, aspek politik yang amat kental dalam penangkapannya, kaitannya dengan pilkada langsung, dan usahanya untuk keluar sesegera mungkin dari sini.

Satu yang terucap darinya, “sesungguhnya ada hikmah di balik semua ini, saya lebih memahami tentang roda kehidupan, bahwa orang tidak selamanya selalu berada di atas, tentu ada masanya ia untuk di bawah, entah pelan-pelan atau sengaja dijatuhkan, dan didorong secara tiba-tiba dengan menyakitkan”.

“Kini saatnya kembali merenungi perjalanan hidup saya dan lebih mendekati pada Yang Di Atas, apalagi ramadhan sebentar lagi kan jelang, sedih saya tidak berkumpul dengan keluarga”, lanjutnya. Sesaat saya terpaku, sungguh ini menjadi nasehat mulia.
Tak terasa, hampir satu jam lamanya saya berbincang-bincang dengannya. Waktu besuk ternyata masih lama, tidak sampai jam dua tapi sampai jam tiga siang. Di akhir perbincangan, istrinya yang bekerja sebagai PNS di Pemerintah Kota X datang sambil membawa bungkusan makanan.
Saya mempersilahkan kepadanya untuk melepas kerinduan pada istrinya. Ini pula kesempatan saya pamit berpisah dengannya. Matanya berkaca, sungguh dia merasa tersanjung dan bahagia dikunjungi utusan DKM Al-Ikhwan. Saya peluk erat dirinya, dan membisikkan di telinganya, “kami tunggu bapak di masjid”.
***
Kembali saya arungi Jakarta dengan motor plat merah butut ini. Saya bersyukur motor ini masih bisa membawa saya melakukan sedikit kebaikan selain tugas utamanya mengantarkan saya menagih utang dari bule ke bule, dari India ke India, dari cina ke cina, dari makian ke makian, dari hibaan ke hibaan, dari panas dan dinginnya hujan.

Seperti rasa syukurnya saya dengan nikmat kebebasan yang ada pada saya. Kadang kita sadari, manusia memahami rasa syukur ketika kenikmatan yang dulu ia punyai sudah tiada di sisinya. Manusia sadar perlunya bersyukur tentang nikmat kebebasan dan kemerdekaan ketika ia sudah berada di dalam sel.
Pula tentang nikmat sehat baru ia sadari ketika sudah jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Tetapi sungguh terlambat orang yang mengetahui perlunya bersyukur tentang nikmat kehidupan ketika ia sudah mati. Sebagaimana digambarkan AlQur’an tentang manusia yang menghiba-hiba kepada Rabb-Nya untuk dihidupkan sekejap saja ke dunia agar banyak berbuat kebaikan yang tidak pernah ia lakukan di muka bumi. Tapi sungguh ia terlambat.

Kadang sebagai manusia, kita memang perlu untuk bersilaturahim dan menjenguk orang sakit, mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan, atau ta’ziah ke pekuburan, selain sebagai perwujudan pemenuhan hak-hak saudara-saudara kita, juga sekadar mengingatkan tentang banyaknya nikmat yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh yang dikunjungi. (Tapi saya rasa bukanlah tempatnya seorang lajang yang berkunjung dalam suatu walimatul ‘urus,y mensyukuri nikmatnya sebagai lajang yang tidak lagi dipunyai oleh sepasang mempelai.) Saya teringat Arrahman. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

Sehari menjelang ramadhan, Pak Anton diberikan status sebagai tahanan kota. Malam kedua, ia ikut tarawih bersama kami. Setelahnya pun ia ikut tadarusan. Membaca ayat demi ayat bersama kami. Shubuh tadi pun ketika saya sedang menulis ini, azan mengalun darinya. Sungguh ini hadiah ramadhan bagi kami. Semoga ini adalah buah dari silaturahim dan selamanya tetap bergabung dengan kami.

Aid bin Abdullah Al-Qarny dalam bukunya “Don’t be sad”—yang menjadi buku terlaris di abad modern di dunia Arab—pernah mengatakan: maka berilah perhatian kepada orang lain dan berterimakasihlah atas kebajikan yang telah dilakukannya.

Allohua’lam.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Edited 11.00 14 Januari 2005

Menikah Tanpa Cinta


13.01.2006 – Menikah Tanpa Cinta, Why Not?

Tak bisa dibayangkan pada zaman sekarang menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Dengan bersusah payah meniti dari waktu ke waktu—di samping pula banyaknya biaya yang dikeluarkan—untuk dapat mengetahui lebih dalam kepribadian masing-masing. Hingga saatnya pun tiada kata-kata yang terucap dari bibir mereka kecuali: I Love You.
Dengan semaian kalimat itu cinta semakin tumbuh, tumbuh, dan tumbuh sampai mereka terikat benar dalam suatu tali yang bernama pernikahan. Namun sebagiannya malah terjerumus dalam buaian dunia hingga batasan, aturan, dan kesucian pun ternoda. Bila perlu—entah karena tidak tahu atau disengaja—ada ruh yang terbentuk sebagai penghuni baru sang rahim layaknya inden sebuah mobil.
Malah yang lebih ekstrim, mereka memproklamirkan diri untuk tidak menikah, karena buat apa menikah kalau mereka sudah sama-sama cinta dan sudah sama-sama tahu tentang diri masing-masing, itu alasan utamanya.
Lalu tak bisa dibayangkan pula pada zaman sekarang menikah dengan gaya Siti Nurbaya yang tidak perlu ketemu dengan pasangannya, dijodohkan, ditanya mau atau tidak, lalu jadilah mereka mengucapkan perkataan yang berat hingga mengguncang ‘arsy.
Tak bisa dibayangkan lagi pada zaman sekarang yang semua ukurannya adalah kebendaan dan kedudukan, menikah tanpa cinta, tanpa rasa kasih sayang yang muncul tiba-tiba saat mendengar lagu-lagu melankolis, saat hujan rintik-rintik hingga menderas, saat berjalan di rel panjang lurus hingga ke ujung cakrawala, saat ombak menjilat jejak-jejak tapak kaki di tepian pantai pasir putih.
Lalu tak bisa dibayangkan lagi pada zaman sekarang yang hampir semua penghuninya memuja kemewahan, sebagian penghuninya yang lain menikah dengan bermodalkan azzam dan pencarian remah-remah rahmah Sang Kuasa.
Betulkah? Faktanya adalah sebaliknya. Saat ini semuanya tidak hanya bisa sekadar dibayangkan tapi bahkan bisa disaksikan, betapa banyak jiwa-jiwa memilih pasangannya dengan perjodohan bergaya Siti Nurbaya, tanpa pacaran, tanpa cinta, dan hanya bermodalkan kedekatannya pada Sang Pemilik Jiwa, tidak dengan bertumpuk-tumpuk hepeng dan emas permata.
Lalu setelahnya, bisakah tumbuh tunas-tunas cinta, menjadi pepohonan kasih sayang, berbuah kata-kata manis yang memerah, dengan dedaunan lebat penyejuk hati? Bisakah?
Lalu bisakah cinta itu tumbuh di saat belahan jiwanya tidak mempunyai kecantikan dan kegagahan dengan parameter barat? Tidak sekaya para emir pemilik ladang minyak? Ataupun tidak mempunyai catatan darah biru bangsawan Jawa, trah habaib, ataupun klan ternama? Bisakah?
Bisa. Karena para jiwa itu menyadari parameter mereka bukan duniawi. Parameter mereka adalah ukhrawi, yang tak bisa dinilai dengan segala isi bumi dan langit. Parameter mereka adalah keridhoanNya. Parameter mereka adalah addiin yang suci dan putih. Parameter mereka adalah kelangsungan penerus di jalan terjal, berliku, sepi, penuh onak dan duri, thoriqudda’wah.
Bisa, Karena para jiwa itu menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemilik segala cinta di alam semesta ini, yang membolak-balikkan hati, pemilik segala jiwa, pemilik segala rindu, mahakaya, mahamurni. Lalu mengapa ia tidak mengetuk-ngetuk pintu langit, meminta kepadaNya saat ia membutuhkan cinta itu tanpa menodai kesucian agama ini, kesucian diri, dan kesucian calon belahan jiwanya.
Bisa, jawab Anis Matta. Sudikah mendengar sedikit ceritanya pada kitab ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”? (Pustaka Ummi, 2000) Inilah kisah indah itu.
Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”
Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.
Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.
Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.
Dan kesetiaan itu adalah bintang di langit kebesaran jiwa. (p26-27).
Wahai saudaraku, jika tiba-tiba kesadaran itu muncul setelah membaca dan merenung, lalu mengapa takut untuk menikah? Mengapa takut tiada hari esok yang cerah tanpa “bondo”? Mengapa takut tiada martabat tertinggi sedangkan martabat itu bisa engkau rengkuh saat menjadi orang yang paling bertaqwa, bukan sekadar martabat dunia yang remeh temeh itu? Mengapa takut tidak ada cinta di antara kalian, wahai saudaraku?
Aku katakan saja untuk terakhir kalinya: ”Menikah tanpa cinta, why not?”

Ps. Untuk kawan-kawan di timur dan utara.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
kali banjir, Citayam 05:52 12 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

The Hobbit


12.01.2006 – The Hobbit
Kemarin, baru saja saya menyelesaikan membaca yang kedua kalinya buku karangan JRR Tolkien ini. Walaupun Anda sudah membaca novel lainnya yang sudah difilmkan oleh Peter Jackson, trilogi The Lord of The Ring mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, hingga The Return of The King, maka itu belumlah lengkap sebelum Anda baca buku yang berjudul The Hobbit.
Karena peristiwa besar di trilogi itu berawal dari seratus tahun sebelumnya yang diceritakan dalam buku ini. Dengan ditemukannya cincin setan oleh tokoh utamanya Bilbo Baggins, kakek Frodo Baggins, dalam sebuah dasar gua gelap di pegunungan berkabut.
Buku yang saya temukan di rak toko buku di bilangan Kalibata Maret 2004 lalu itu memberikan gambaran utuh dari kisah-kisah yang dibuat oleh Tolkien ini. Membaca bukunya tidak membuat kening berkerut karena selain tampilan font-nya lebih besar dari buku trilogi juga penuh dengan petualangan yang menegangkan dari para tokoh-tokohnya yang terdiri Gandalf sang penyihir putih, satu hobbit dan tiga belas kurcaci.
Sekadar menambah informasi saja, buku Tolkien ini dijadikan oleh bangsa barat sebagai rujukan dalam penamaan dan penggambaran makhluk-makhluk aneh selain manusia, seperti Orc, Goblin, Warg, Troll, Elf, Hobbit, dan Dwarf. Empat nama pertama selalu menjadi pihak kejam, sadis, dan selalu berlawanan dengan tiga yang terakhir kawan manusia.
Saking menariknya hingga saya membacanya berulang-ulang kali dan menambah penasaran saya pada buku-buku Tolkien lainnya. Sampai saat ini saya belum menemukannya, dengan mencarinya di toko buku ataupun searching di internet. Mungkin kalaupun ada, itu pun masih dalam bahasa aslinya. Entah di suatu hari nanti.
So, baca ini baru itu…
dedaunan di ranting cemara
hujan lebat
17:48 10 Januari 2006

AVG Penghapus Brontok


11.01.2006 – AVG Penghapus Brontok

Dengan menggunakan instalasi AVG Anti-Virus Free Edition edisi Oktober 2005 ditambah update terbarunya per tanggal 10 Januari 2006, Brontok di Personal Computer saya langsung terdeteksi. Sebelumnya dengan update per tanggal 06 Januari 2006, anti virus gratisan ini masih belum bisa mendeteksi adanya Brontok tangguh ini.
AVG memang program ringan dan sudah menjadi alternatif bagi para penggunanya selain anti virus branded yang beratnya minta ampun, selain dari ukurannya serta waktu yang dijalankan saat scanning.
Yang saya salut juga dengannya adalah kita bisa langsung mengupdatenya dengan update terbaru tanpa terlebih dahulu menginstall update versi sebelumnya. Berbeda dengan Norton Anti Virus (NAV) yang pernah saya install, kita tak bisa mengupdate versi terbarunya sebelum update versi lamanya terinstall terlebih dahulu.
So, bagi Anda yang sampai saat ini komputernya belum sehat juga maka saya sarankan untuk memakai AVG Anti Virus dan tentu jangan lupa untuk meng-update-nya. Insya Allah, sepertinya Oythea konsisten untuk meng-upload-nya di fordis pada tema komputer.
Tambahan saja, secara manual saya juga telah coba menghapus brontok dengan tiga cara dari tiga guru yang berbeda hasilnya nihil. Entah pakai shampoo, brontok cleaner, ataupun enabreg. Tapi ini bisa juga untuk penjagaan atau alat finishing touch setelah kita jalankan AVGnya.
Sebagai referensi lainnya antivirus yang sudah terbukti sanggup menghilangkan brontok adalah Kaspersky, tapi itu sebatas katanya karena program itu belum saya coba. Itu saja dari saya.
ps. thanks berat sama Oythea, sudah kasih update terbaru dan sarannya.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:55 11 Januari 2006

Rindu Arafah


09.01.2006 – Rindu Arafah

linanganku Ya Allah
menjadi saksi betapa aku merinduiMu
menjadi pengisi dari telinga yang mencari panggilanMu
akankah hati dan kaki ini menujuMu
bilakah hati dan kaki ini menujuMu
aku rindu arafahMu
aku rindu jabalrahmahMu
aku rindu rumahMu
jangan biarkan aku meratap ya Allah
kerana Engkau tak memanggilku segera
jangan biarkan tetesan bening ini melaut menjadi samudera
kerana Engkau tak memanggilku segera
jangan biarkan buliran cinta ini mengering menjadi sahara
kerana Engkau tak memanggilku segera
bilakah aku berpeluh di arafahMu
hingga aku berteriak labbaik Allohuma Labbaik
sungguh aku takut berpeluh di mahsyarMu
hingga aku berteriak:
jadikan saja aku domba
yang tak akan dimintakan
pertanggungjawaban olehMu ya Allah
bilakah aku ke arafahMu?

dedaunan di ranting cemara
saat aku merindui Arafah
17:31 09 Januari 2005

Institut Dayakologi Hingga Brontok Lagi


09.01.2006 – Institut Dayakologi Hingga Brontok Lagi

Lembur, Institut Dayakologi, hingga Brontok
Sabtu, 07 Januari 2006 10.00 – 15.00 WIB
Dalam setahun pelaksanaan system administrasi modern, baru kali ini saja ada nota dinas kepala kantor kepada para pegawainya untuk datang pada hari sabtu kemarin. Lembur nih ceritanya. Karena ada perubahan sistem, jadi kita-kita pegawai diharuskan untuk datang supaya tahu apa saja perubahannya langsung dari pegawai DIP kantor pusat.
Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh pagi, jadwal lembur dimulai jam sepuluh, tapi motor masih juga belum selesai di cuci. Nih, orang dari jam delapan motor sudah dititipin belum juga dikerjain dari tadi. Setengah memaksa saya meminta supaya motornya jangan terlalu bersih dicuci (soale nanti kelamaan). Akhirnya lima menit kemudian selesai juga, walaupun masih basah karena belum dilap. Nggak apa-apa nanti juga kering sendiri.
Berkutat di jalanan Jakarta di hari sabtu, ternyata sama saja dengan hari biasa. Macet juga tuh. Mengingat kejadian rabu kemarin, saya masih trauma untuk ngebut. Tapi kadang ngebut juga sih, kalau jalanan sedikit sepi.
Sampai di kantor satu jam kemudian, saya kira saya yang paling telat, eh ternyata banyak juga yang datangnya bareng sama saya. Malah ada yang datangnya lebih lambat dari saya. Yang lebih kacaunya, ternyata DIP datang jam sebelas siang lagi. Dan coba bayangin kita cuma disuruh nyalain komputer doang, lalu boleh pulang.
Yaaaa, kalau cuma ngerjain kayak ginian, gak perlu ada nota dinas-nota dinasan, lembur-lemburan, datang-datangan, kebut-kebutan (emang elo ngebut, za?). Sudah menempuh puluhan kilometer, BBM jadi tak bisa dihemat (untung saya pakai motor), acara perlu diskedule ulang, tidak bisa berkumpul sama keluarga yang memang sudah waktunya berkumpul dengan mereka, dan satu yang lain: tidak dibayar lagi. Kita kan professional, harusnya pada waktu lembur perlu juga tuh dihargai. Tapi kemarin dihargai juga tuh walaupun dengan sekotak nasi. (Btw, emang tahu upah lembur PNS , berapa sih?)
Tapi setidaknya, sambil menunggu badan ini segar kembali, saya coba ngenet dengan IP address milik Kasi. Asyik juga, cepat banget man. Nggak kayak hari kerja, yang leletnya minta ampun. Ibaratnya kalau kita buka satu halaman saja, kita bisa ngeteh (nggak ngopi, coz saya tidak suka kopi) duluan sampai habis.
Di Google, saya cari berita tentang tragedi sampit 2001, setelah di Jumat kemarin melihat di Fordis ada kepala berserakan. Apa sih yang melatarbelakangi peristiwa itu? Pertanyaan itu membuat saya mencoba untuk berimbang dengan mencari berita selain dari BBC yang tendensius sekali, juga dari Institut Dayakologi dan dari pihak Dayak lainnya. Cukup memberikan kepada saya banyak wawasan tentang Sampit 2001. Tapi tidak usah saya ceritakan di sini, panjang dan mengerikan juga.
Apalagi membaca berita tentang 80 orang etnis pendatang yang digiring oleh salah satu kelompok etnis lainnya ke sebuah hotel yang bernama Hotel Rama Sampit, dan setelah itu tidak ada kabar tentang nasib mereka. Saya langsung mengaitkan berita itu dengan berita lainnya yang disampaikan oleh teman saya, waktu berkunjung ke Palangkaraya. Di Hotel Rama tersebut, ada satu kamar penuh yang isinya cuma kepala doang. Allohua’alam tentang kebenaran berita ini.
Selain ngenet tentang Sampit, saya juga coba mencari anti brontok yang sampai detik ini komputer saya masih terinfeksi oleh virus yang terus mengembangkan variannya.
Saya download antibrontok, saya coba seek and destroy, saya coba buka registry, saya hapus folder exe, dan tralalala…. berhasil booo. Folder option-nya berhasil terlihat. Sekarang sudah bersih komputer nih.
Saya coba memasukkan UFD (USB Flash Disk), search, waow, banyak juga folder exe-nya. Saya coba tekan Del untuk menghapusnya. Tapi apa mau dikata, yang saya tekan enter, virusnya jadi aktif lagi. Saya coba seek and destroy lagi. Sampai jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, komputer masih saja restart, buka, restart lagi. Saya menyerah juga akhirnya, apalagi orang DIP sudah menunggu di belakang saya untuk coba upgrade sistem administrasi baru. Yah sudah saya lepas, kali aja dia coba benerin problem saya.
Bay de wey, sabtu kemarin masih sabtu yang—gimana yah—tidak ngenakin kayaknya. Tapi ada juga enaknya dikit, makan nasi kotak sama nambah wawasan tentang konflik yang pernah dialami anak bangsa Indonesia ini.
Thanks Allah.
Engkaulah yang mahamengetahui.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
05.45 08 Januari 2006 (Harpot launching hari ini)

Behind the Scene: Bojo Loro


06.01.2006 – Behind the Scene: Bojo Loro
Email itu bertubi-tubi masuk ke inbox saya. Telepon genggam Qaulan Sadiida pun tiada berhenti deringnya menerima short message services. Jikalau saya punya alat komunikasi sepertinya (hare gene, masih juga nggak punya?) , mungkin saya akan mengalami hal yang sama dengan Qaulan Sadiida.
Beragam komentar pun datang untuk membuat ending yang lebih bernas bahkan mengusulkan untuk membuat sequel—yang saya pikir nantinya akan tersia-sia seperti judul sinetron Tersanjung dengan tujuh episodenya.
Pula dengan membawa misi terselubung anti poligami dan dendam gendernya dengan menjerumuskan ke lembah kesengsaraan yang paling dasar untuk si Bima. Hingga ada yang sengaja datang ke meja kerja saya hanya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di balik Bojo Loro.
Saya cuma bisa menjawab kepada mereka, ”That is a fiction, Bro…” Tidak lebih. Jawaban itu tentu tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah memberikan komentar tentang pilihan pada happy, bad, or thrust ending , serta pada setiap bulir bening yang jatuh saat membacanya—satu email dan satu silaturahim langsung menyatakan itu.
Brother, jangan malu untuk menangis, jika menangis itu membuat jiwa kita lebih tercerahkan menyadari kekhilafan diri. Bahkan saya tak bisa membendung bulir-bulir bening ini jatuh saat membaca buku ”Bukan di Negeri Dongeng: Kisah Nyata para Pejuang Keadilan”, salah satu ceritanya ditulis oleh seorang wanita—Mbak HTR—yang sering engkau katakan: ”cewek ini berkali-kali membuatku menangis”.
Pula saat saya membaca buku ”Memoar Cinta di Medan Dakwah: Catatan Harian Seorang Aktivis” yang ditulis oleh ustadz Cahyadi Takariawan—seringkali dianggap sebagai Ketua MPR karena mirip dengan ustadz Hidayat Nurwahid apalagi beliau sering pakai baju batik.
Tentunya ini semua tak bisa dilepaskan oleh pasangan tandem saya, Qaulan Sadiida, yang dengan segenap hatinya pula berusaha untuk menyelesaikan apa yang telah menjadi bagiannya. Terus terang saja, cita rasa bahasanya tak bisa terlampaui oleh saya. Maka hasil akhirnya pun membuat saya tak lelah untuk berulangkali membaca draft Bojo Loro. Pesan singkat darinya cuma satu saat telah menyelesaikan itu: ”Semuanya dari sini,” sambil tangannya menunjuk ke arah dadanya. Hati. Segala puji hanya untuk Allah.
Maka siapa yang tak akan tergetar mendengar senandung ayat-ayat Allah yang dikeluarkan dari hati-hati guru, ustadz, dan orang-orang yang ikhlas. Maka siapa yang dapat menghalangi keindahan dari cerita yang dibuat dengan tangisan usai salat malam oleh Mbak kita yang satu ini dengan cerpen: ”Ketika Mas Gagah Pergi”.
Maka siapa pula yang menyangkal keromantisan padang pasir saat Habiburrahman menulis ”Ayat-ayat Cinta”-nya dengan menangis juga. Maka siapa yang mengingkari keikutdukaan kita saat membaca tulisan Abu Aufa di kala ia ditinggalkan anak perempuannya yang berumur sehari bernama: Hikari.
Sebagaimana seorang teman menggambarkan kesedihan itu layaknya kesedihan Muhammad Sang Musthofa ditinggalkan Ibrahim tercinta. Layaknya kesedihan bangsa ini saat dipertontonkan tsunami 12 purnama yang lalu atau banjir bandang baru-baru saja.
Hingga dari mula itu, seorang guru menulis saya sampai berkata: ”itulah kedahsyatan hati, itulah kedahsyatan fiksi, hingga orang sampai tidak bisa membedakan realitas kehidupan kita itu fakta atau fiktif.”
”Brother, that is a fiction,” ulang saya. Dengan sedikit imajinasi liar tentunya—saya tak bisa membayangkan pula keliaran imajinasi yang dimiliki JK Rowling dengan Harry Porternya, JRR Tolkien dengan The Lord of The Ring-nya, atau Afifah Afra Amatullah dengan Genderuwo Terpasung-nya.
“Brother, That is a fiction…” ulang saya. Tapi tak menyangkal pula bahwa fenomena itu memang benar-benar terjadi pada sebagian dari kita hanya karena diawali dengan chating, sms, dan email iseng sehingga pada akhirnya melonggarkan ikatan dan batasan yang dulu dipegang erat saat di kampus.
“Brother, that is a fiction…” ulang saya sembari menyerahkan selembar tissue wangi kepada teman yang meneteskan air mata. Bukan karena meratapi nasib Kinanti, bukan karena Bojo Loro, tapi karena di atas mejanya ada semangkuk irisan bawang merah. (Maaf paragraf ini benar-benar fiksi karena melihat Squidward yang menangis bukan karena melihat adegan Spongebob meratap tak rela melepaskan kuda laut liarnya, tapi karena ada semangkuk bawang bombay di dekatnya;-)
”Brother, that is a fiction….” ulang saya. Arahkan telunjukmu ke hati, rasakan dan dengarkan denyutnya. Hingga kau rasakan rasa setara memiliki bojo loro.
riza.almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00.15 06 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Mega Pro Terjungkal


04.01.2006 – Mega Pro Terjungkal, Tangan Kaki Lecet, Celana Bolong,

Tiba-tiba motor yang berada persis di depan saya mengerem mendadak. Jarak yang cukup dekat membuat insting saya berjalan. Tangan kanan sontak menggenggam rem depan. Dan kejadian itu begitu cepat. Saya jatuh ke depan dengan kaki terjepit di bawah putaran roda belakang. Tanpa bantuan orang lain mungkin saya tidak segera bisa bangun karena jepitan dan beban yang cukup berat dari motor itu.
Sepatu kiri yang terlepas segera saya pakai kembali sembari melangkah tertatih-tatih ke pinggir jalan. Mega Pro tidak sempat saya pikirkan, namun terlihat orang sudah menuntunnya ke tempat yang lebih aman.
Adrenalin yang bergolak di tubuh membuat saya lemas dan pucat pasi (katanya). Segera saya lihat luka apa yang diderita. Tangan lecet. Lutut jebol (lecet juga maksudnya), lebih parah daripada yang di tangan. Celana hitam yang biasanya saya pakai di hari senin sebagai pasangan favorit kemeja putih berlubang cukup besar di bagian lutut. Perlahan-lahan terasa nyeri juga di sekitar pergelangan tangan, sepertinya terkilir.
Motor 150 cc itu saya lihat pula. Lecet di lampu depan sebelah kiri . Kayaknya pas sebagai penghias karena sebelah kanannya pun sudah lecet waktu terjatuh di depan Depok Town Square karena banyak tumpahan oli dan tanah liat bekas galian yang berceceran. Selain itu pijakan kaki sebelah kiri lumayan bengkok juga. Air aki banyak juga yang tumpah.
Setelah beberapa lama beristirahat, menenangkan diri, serta meminta air putih pada mbak Warung tegal yang baru saja buka. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kalibata. Di sepanjang perjalanan, saya menganalisis mengapa saya sudah dua kali ini jatuh dari tumpangan ini.
Yang pertama mungkin karena ceceran oli itu membuat ban goyah dan tidak bisa stabil. Syukurnya waktu itu saya pakai sarung tangan sehingga tidak ada luka yang diderita. Namun sudah dua hari ini saya malas memakai sarung tangan, padahal benda itu selalu ada di kantong jaket ini. Dengan tidak memakai safety tool tadi akibatnya memang parah.
Nah, untuk accident yang kedua ini, saya menganalisis mungkin dudukan stang tidak dalam posisi lurus sehingga saat di rem depan langsung membuat kejutan, dan ini tidak diimbangi dengan penggunaan rem belakang ataupun rem belakang juga sudah aus, saya belum cek itu.
By the way, sejak itu saya tak lagi berani menggeber kecepatan di atas 60km /jam. Tapi entah di esok harinya, soalnya biasanya saat sudah lupa rasa sakit kumat lagi untuk menggeber di atas kecepatan normal.
The points are:
1. pakai sarung tangan setiap kita mengendarai motor, (kalau pakai helm sih sudah wajib dari sononya);
2. jangan ngebut;
3. jaga jarak.
Itu saja kali. Tapi terlintas juga, dosa apa yang telah saya perbuat sehingga Allah menegur saya dengan hal yang demikian. Astaghfirullah. Aku mohon ampun ya Allah.
riza.almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:50 04 Desember 2005

Brontok Memang Top Markotop


04.01.2006 – Brontok Memang Top Markotop

Jum’at 30 Desember 2005 kemarin menjadi jumat yang berdarah-darah buat Personal Computer (PC) saya. Virus lokal yang mencengangkan jagad teknologi informasi Indonesia bahkan dunia ini benar-benar mengobrak-abrik isi perut PC. Mulai dari aksi penggandaan folder sampai restart terus menerus saat mulai menjalankan antibodinya.
Norton Anti Virus (NAV) yang sudah lama tak pernah diupdate menjadi tak berdaya sehingga saya perlu meng-uninstall-nya. Namun karena tidak sesuai prosedur dalam merejectnya maka bekas-bekasnya masih saja ada dan kerap mengganggu dengan memunculkan pop-up windows installernya. Saya coba install ulang NAV tetap tak bisa juga.
Lalu saya coba untuk install McAfee versi 8. Malah jadi konflik dengan NAV sehingga PC semakin lambat tidak karuan. Tidak betah dengan situasi yang terus menerus begini terpaksa prosedur install ulang menjadi pilihan. Apalagi Brontok semakin menjadi-jadi dalam penggandaan dirinya.
Saya install ulang Windows XP SP2, cukup berhasil. Tapi gagal dalam install Office 2003, hang. Terpaksa reinstall ini saya tunda sampai senin karena jum’at sudah semakin gelap.
Senin pagi-pagi, saya datang untuk segera melakukan upaya yang gagal di hari sebelumnya. Saya memakai Office 2003 yang lain. Berhasil. Tapi apa lacur PC tidak bisa mendeteksi driver ethernet dan VGA. Saya lupa satu hal, karena PC ini adalah PC branded maka ia punya driver bawaan atau cd restore yang harus terlebih dahulu di install sebelum install Windows XP. Pyuhhhh….saya harus mengulangnya dari awal. Alamak…
Coba dengan CD Restore, sukses. Lalu dengan Windows XP SP2, sukses juga. Lalu install Office 2003, cukup singkat dan sukses juga. Baru setelahnya saya lihat PC saya bersih dari kotoran seperti bayi yang baru dilahirkan. Kecepatan maksimal benar-benar saya dapatkan.
Kemudian setelah install tool-tool yang dalam kesehariannya memang saya butuhkan, saya melanjutkan dengan install McAfee 8. Sukses. Setelahnya saya pindahkan file-file yang saya titipkan di sharedoc teman. Saya men-scannya, waow…brontok ada dimana-mana. Dengan removal dan sedikit trik dari teman OC, brontok benar-benar rontok.
Esok harinya, setelah memasukkan flashdisk yang saya anggap sudah bersih ke dalam colokannya. Saya lagi-lagi kaget. Brontok tidak terdeteksi oleh McAfee, tapi benar-benar ada dengan ciri folder option di explorer hilang, dan saat di search ada banyak folder exe dengan size sebesar 45kb. Kemungkinan besar yang menyebabkan McAfee tidak dapat mendeteksinya adalah variannya yang sudah berbeda dengan setting update McAfee yang hanya dapat melacak folder dengan ukuran 42 kb saja.
Terpaksa saya meminta bantuan teman OC lagi untuk mengusirnya. Segala upaya dikerahkan dan bersih juga. Tapi beberapa saat kemudian menyerang kembali entah darimana. Brontok benar-benar menguasai lagi dan amat bandel.
Akhirnya saya coba sendiri dengan upaya pertama yang saya lakukan adalah mencari removal yang benar-benar manjur. Rikpafile jadi tempat favorit untuk mencari. Berhasil saya dapatkan shampoonya. Saya coba dengan membuat notepad anti restart terlebih dahulu agar brontok tidak mengutak-atik removal saat mulai bekerja.
Melalui save mode command prompt, saya coba mengikuti petunjuk itu perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Dijalankan removal, dan benar-benar top markotop si bandel ini. Brontok GAGAL TOTAL untuk diusir. Restart jadi makanan utama saat menjalankan semua program antibodinya.
Sinar matahari sudah hampir tiada sore kemarin, dan saya putus asa mencoba mengusir virus aneh ini. Keinginan menghabisinya ditunda untuk hari itu. Tapi saya bertekad untuk mencoba membasminya keesokan harinya. Saya pikir masih ada hari esok untuk berjuang. Entahlah, ada yang mencoba untuk membantu?
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Memoar cinta di medan dakwah