Siapakah Engkau Kiranya?


Duh,
kiranya tiada kegembiraan
selain melihat seorang sahabat bercahaya
dengan kata-kata mengalun bak buluh perindu.
Wahai saudaraku, wahai akhi…
Semoga Allah merahmati kami dengan satu Qaulan Sadiidan dan dua prajurit-Nya yang kudamba menjadi pejuang-pejuang Islam kelak dewasa nanti.
Sang mutaakhir, kuidamkan menjadi sosok-sosok cerdas dari kader Islam yang senantiasa detik demi detiknya berjuang untuk agamanya yang lurus.
Sang muhandis Yahya ‘Ayyasy kuidamkan menjadi seorang hafidz dan ‘ulama yang faqih dalam ilmunya, merendahkan diri, tidak suka berjidal namun tinggi didepan musuh-musuh Allah.
Wahai saudaraku,
kiranya nama-nama yang engkau sebutkan membuatku semakin bertambah keyakinan bahwa ukhuwah ini telah membuatku merindukan masa-masa lalu
faisal,wisnu,amran,maman,lukman,abas,anwar,agus,totok.. .
atun,yetty,titi,murdiana,sobiroh,ita,…….
tak kusebut nama yang ditebalkan karena ia tak layak dibandingkan dengan nama-nama di sisinya.
Wahai akhi, wahai saudaraku
siapa gerangan engkau yang telah membuat bambu hatiku terusik dengan suara berisik oleh angin perkataan syahdumu
ah…kiranya engkau sudi memperlihatkan wajah rembulanmu…
sekarang atau nanti?

— Previous Private Message —
Sent by : bercahaya
Sent : 16 March 2006 at 11:12am
wa ‘alaikum salaam
duh senangnya kau baca tulisanku
ingin rasanya ku belajar menulis darimu
dimanakah kau belajar?
gimana kabar keluargamu? sehat-sehat sajakah?
diriku mengenal dirimu
riza,faisal,wisnu,amran,maman,lukman,abas,anwar,agus,totok.. .
atun,yetty,ria,titi,murdiana,sobiroh,ita,…….
bukankah mereka sahabat fikrohmu
rasanya baru kemarin…
juniormupun akan sekolah dasar
ngomong-ngomong dah berapa ya putramu?
ah…

BENTENG TAKESI


BENTENG TAKESI

Maaf kali ini Anda salah duga, Benteng Takesi ini bukanlah benteng yang akan diperebutkan oleh para peserta dalam suatu acara permainan televisi asal negeri sakura yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.
Tapi Benteng Takesi ini adalah hanya salah satu Pokja dalam suatu tim sukses pemilihan kepala desa di suatu wilayah di Kabupaten Bogor. Ya, bulan Juli mendatang hajat besar pemilihan umum lokal akan diselenggarakan di sana.
Kali ini, sebut saja Pak Ade, alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-Program Diploma Tiga Perpajakan Departemen Keuangan angkatan tahun 1992 mencoba peruntungannya untuk menjadi kepala desa. Beliau yang telah keluar dari instansi Direktorat Jenderal Pajak dan kini masih bekerja sebagai pegawai salah satu asuransi syariah terkemuka di Indonesia diberikan amanah dakwah untuk mencalonkan diri dan berpartisipasi dalam suatu pesta lima tahunan yang aromanya sengit dengan politik uang.
Untuk itu dibentuklah tim sukses untuk mendukung beliau yang kebanyakan berasal dari kader-kader Partai Keadilan Sejahtera. Mungkin tim ini adalah salah satu tim yang benar-benar menyusun dirinya dengan manajemen yang paling rapih. Di sana ada Ketua Tim, sekretaris dan bendahara, serta Pokja-pokja yakni Pokja Mas Parto, Pokja Pusdok Dai, dan Pokja Benteng Takesi.
Pokja Mas Parto adalah Pokja silaturahim ormas, parpol, dan tokoh masyarakat, yang tugasnya antara lain melakukan silaturahim dengan segala macam elemen masyarakat yang ada di Desa Ragajaya.
Sedangkan Pokja Pusdok Dai adalah Pokja Pusat Dokumentasi Data dan Informasi yang tugasnya antara lain melakukan pendataan dan pemetaan wilayah kantong-kantong pendukung.
Dan Pokja Benteng Takesi adalah Pokja Bentuk Centeng Atasi Keamanan dan Situasi yang anggotanya bertugas antara lain untuk melakukan antisipasi dan koordinasi pengamanan dan situasi gawat darurat. Dibentuknya pokja ini krusial karena semua sudah mafhum bahwa pemilihan kepala desa rawan sekali bentrokan antarpendukung.
Oleh karena itu untuk memimpin pokja ini telah ditunjuk al-akh yang mempunyai Qawiyul Jismi yang mumpuni dan biasa menangani hal ini. Kebetulan sekali profesinya pun tidak jauh-jauh dari unsur kekerasan yakni tukang jagal hewan. Maka melihat darah bercucuran dari tenggorokan hal yang sudah biasa bagi beliau. (Untuk kepanitiaan ini beliau telah diwanti-wanti untuk tidak melihat tenggorokan orang, maaf ini cuma joke belaka).
Tapi sayangnya tim sukses ini baru dibentuk pekan-pekan ini saja. Sedangkan tim sukses dari kandidat lain—preman, mantan kepala desa periode lalu, dan kepala desa yang masih menjabat saat ini—sejak enam bulan yang lalu sudah melakukan banyak manuver. Contohnya yang dilakukan oleh salah satu kandidat–yang benar-benar berpofesi sebagai preman di sana—memberikan tiga ekor kambing pada salah satu komplek perumahan terbesar di sana untuk pesta tahun baruan.
Atau kepala desa saat ini yang akan mengakhiri jabatannya itu sedang melobi Anggota DPRD Pemerintah Kabupaten untuk mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur tentang syarat pendidikan minimal SMU bagi calon kepala desa. Bila benar-benar aturan ini dikeluarkan sudah pasti dua kandidat lain yakni preman dan mantan kepala desa akan tersingkir. Tapi tanpa diketahui—mungkin salah satu atau sedikit keuntungan dengan sosialisasi yang terlambat, adalah sebenarnya masih ada calon kuat bagi sang kepala desa, yakni Pak Ade ini. Karena dari segi intelektualitas beliau mengungguli dan telah dikenal sebagai ustadz.
Tim sukses ini juga mempunyai tugas berat berupa sosialisasi bakal calon kepada masyarakat desa. Walaupun sudah dikenal di dua komplek perumahan—40% suara ada di sini—ditambah banyak kader Partai Keadilan Sejahtera yang berada di dalamnya, tapi sosialisasi intens tetap diperlukan terutama kepada masyarakat kampung.
Tak kalah pentingnya adalah bagaimana tim sukses dengan dana terbatas memberikan pemahaman dan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Karena sekali lagi Pak Ade ini di dukung secara All Out (karena beliau juga adalah kader inti) oleh Partai Keadilan Sejahtera yang mengusung slogan Bersih dan Peduli pada masa kampanye pemilu lalu, maka sudah tentu politik uang menjadi sesuatu yang diharamkan.
Dan ini adalah suatu hal yang paradoksal dari pakem yang sudah terlanjur melekat di benak seluruh masyarakat desa di republik ini. Bahwa slogan Anda Jual Saya beli atau Anda Tawar Saya Kasih sudah mendarah daging dalam pesta besar itu. Maka sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, masyarakat pun berbondong-bondong pergi ke setiap calon kepala desa untuk meminta barang sepuluh atau dua puluh ribu untuk setiap suara yang akan diberi.
Calo-calo suara mengatasnamakan kelompok besar masyarakat pun bermunculan bak cendawan di musim hujan. Serangan fajar yang dilakukan banyak calon kepala desa pula menjadi harapan bagi sebagian masyarakat agar setidaknya ada tambahan untuk uang dapur.
Tidak lupa, banyak juga orang yang menawarkan diri untuk ikut bergabung dalam barisan tim sukses calon kepala desa. Karena sudah tentu banyak fasilitas yang akan didapat oleh anggota tim berupa minimal telepon genggam baru, sepeda motor, bahkan gaji dan mobil untuk keperluan sosialisasi.
Tokoh-tokoh pendekar dari gudang jawara seperti Banten, Betawi, dan Cirebon pun didatangkan sekadar untuk melakukan penjagaan di rumah-rumah dan di setiap aktivitas calon kepala desa. Maka sudah barang tentu ikutannya pun tidak mau ketinggalan, seperti perang bermacam-macam ilmu sihir: santet, teluh, dan pagar ghaib.
Pemenuhan semuanya itu membutuhkan uang yang tidak sedikit dan sang calon kepala desa pun tidak keberatan untuk mengeluarkannya. Jika hal demikian yang terjadi maka apa yang akan dipikirkan pertama kali oleh sang kepala desa terpilih adalah bagaimana dapat balik modal. Kembali masyarakat pula yang akan menjadi korban dan sudah banyak fakta yang membuktikannya.
Semua itu tidak bisa diatur dan disamakan dengan aturan pemilihan umum anggota dewan ataupun presiden, karena entah aturannya yang belum ada atau pun kalau ada tidak ketat dan jauh dari penegakkannya, hal seperti ini selalu tampak nyata dan berulang dalam setiap pemilihan kepala desa.
Semuanya itu menjadi tugas berat bagi tim sukses Pak Ade, selain tidak dibayar dan minim fasilitas, maka semua sumber daya yang ada dari para kader seperti kendaraan bermotor siap-siap untuk dipinjamkan demi kesuksesan dakwah yang dipantau dengan seksama oleh Dewan Pimpinan Daerah.
Walaupun sudah mempunyai modal berupa kemenangan Partai Keadilan Sejahtera di pemilu tahun 2004 kemarin, namun sedikit banyak ketokohan sang calon tetap perlu ditonjolkan. Melihat keberlangsungan pilkada di berbagai daerah tidak menjamin partai pemenang pemilu dapat memenangkan calon kepala daerah yang didukungnya.
Sungguh tugas berat bagi Pak Ade dan tim suksesnya untuk mendobrak tembok berupa politik uang dan pemahaman pragmatis dari masyarakat desa ini. Bisakah Pak Ade memenangkannya dengan mengandalkan intelektualitas dan ketokohan yang baik?
Dengan hanya mengandalkan dana-dana yang dikumpulkan dari para kader yang tak seberapa? Dengan hanya mengandalkan hubungan baik dan silaturahim intens? Tanpa ada iming-iming hepeng? Bisakah ia menjelaskan dengan penjelasan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat yang meminta uang darinya? Dan seribu pertanyaan lainnya. Cuma waktu yang bisa menjawabnya.
Dan Insya Allah pasti bisa, jika semuanya itu disandarkan pada Pemilik sandaran yang mahakokoh, pada Sang Pemilik hati yang dapat membolak-balikkan hati. Pada kedekatan tanpa hijab dengan-Nya di setiap malam. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21:53 12 Maret 2006

SANG MUTAAKHIR


SANG MUTAAKHIR
Oleh: Riza Almanfaluthi

Anak itu memandang dengan tatapan kosong ke dalam kelas dari balik pintu. Dari wajahnya tergurat kesedihan dan bekas airmata yang tertahan di pipinya. Ya, sedih karena ia terlambat dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti tes masuk Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Hikmah, padahal terlihat bahwa Ibu Penguji baru saja membagi-bagikan kertas soal ujian dan belum memulai memberikan waktu kepada anak-anak untuk mengerjakan soalnya.
Sang ayah menghampiri sang anak, “Sudahlah mas, nanti tunggu saja dulu yah. Mas boleh kok ikut ujian masuk, tapi nanti yah setelah semuanya selesai. Sesudah ujian tertulis ini nanti ada permainan yang akan dinilai, Mas bisa ikut gabung, dan sesudah permainan itu, baru Mas ikutan ujian susulan.”
Sang ayah dan ibu dari anak itu memang terlambat datang dari jadwal yang sudah ditentukan, yakni pukul delapan tepat. Dikarenakan ketidakjelasan informasi dari pihak pengelola, sampai pada hari H ada saja yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut, mulai dari si Dedek yang rewel, mengatur belanjaan yang harus dimasak untuk para tukang di rumahnya, hingga urusan bahan bangunan yang harus segera diperoleh. Jadilah pukul 08.30 pagi sang ayah berangkat dengan mobil butut tahun 91-an yang ia pun harus berjalan berlambat-lambat ria karena ia belum mahir mengendarai roda empat.
Pukul setengah sepuluh tiba di SDIT cabang Cipayung yang pusatnya di Bangka Mampang itu. Tatapan banyak orang tua atau wali calon murid mengiringi rombongan kecil memasuki tempat ujian. Celetukan dan sedikit perkataan bernada candaan terlontar dari mulut mereka yang sebenarnya adalah teman-teman sang ayah dan ibu. “Wah…akhi ente muta-akhir.”
Celetukan yang sebenarnya adalah sekadar nasehat itu bagi sang ayah bukanlah menjadi pelipur kegundahan dirinya karena telah datang terlambat, bahkan menjadi sesuatu yang telah menggores dan melukai hatinya. Bagi sang ayah nasehat yang diberikan bukan pada tempat dan waktunya bahkan menjadi sesuatu yang kontraproduktif dan sia-sia.
Tanpa memedulikan semua celetukan tersebut, sang ayah pun pergi ke ruang sekretariat panitia, itu pun tanpa ada teman yang membantu tanpa diminta untuk menunjukkan ruangan ataupun prosedur yang harus dijalani.
Sang ibu bersegera naik kelantai dua—setelah bertanya di mana tempat ujian berada. Ketergesaannya ternyata sia-sia, sang anak tidak diperbolehkan masuk walapun soal ujian baru saja dibagikan.
“Nanti saja, di gelombang berikutnya, kalau tidak hari ini berarti ya besok pagi,” kata sang penguji tegas tapi sedikit ketus. Sang ibu cuma bisa tertegun dan berpikir bahwa kemungkinan besar sang anak tidak akan bisa diterima di sekolah ini. Dus, pernyataan ini telah meluluhlantakan benteng keteguhan sang anak yang sempat mendengar semuanya. Isaknya mulai terdengar.
Dengan berjalannya waktu, ternyata tidak hanya satu anak saja yang terlambat, masih ada sekitar empat teman sebayanya yang mengalami hal yang sama, salah satunya adalah anak dari ustadz ternama. Dengan jumlah yang sedemikian maka peluang masih terbuka untuk mengadakan ujian susulan pada hari itu juga.
Setelah beberapa waktu lamanya, ujian calistung (baca tulis menghitung) itu pun selesai. Saatnya sang anak untuk bergabung dengan permainan keaktifan yang dinilai. Cuma setengah jam saja kiranya. Setelah itu bagi yang sudah selesai ujian permainan ini mereka diperbolehkan untuk mengukur baju seragam yang kelak akan dipakai nanti setelah pengumuman penerimaan.
Sedangkan sang anak kini saatnya untuk masuk kembali ke dalam kelas mengikuti ujian susulan yang akan menentukan ia dapat sekolah di sana atau tidak. Sang ayah dan ibu masih berdiskusi dan memikirkan untuk mengambil formulir pendaftaran di sekolah lain untuk antisipasi ketidaklulusan.
Tiba-tiba panggilan dari pengeras suara mengusik diskusi mereka. Sang ayah dan ibu memasuki ruang kelas di bawah untuk diwawancarai tentang perkembangan sang anak dari maslah kesehatan dan aktivitas kesehariannya. Tidak lupa mengisi formulir kontribusi yang dapat diberikan kepada sekolah ini. “Semoga lulus ya Pak,” kata pewawancara mengakhiri.
***
Matahari sudah meninggi dan mulai tergelincir ke bawah. Siang terasa terik tapi itu tidak lama karena sesaat kemudian mega mendung dari utara begitu cepatnya menutupi langit di atas. Bahkan tiada terasa rintik-rintik mulai turun satu-satu. Tidak deras, cuma rintik belaka.
Dalam perjalan pulang, sang ibu bertanya kepada sang anak, “bagaimana ujiannya sayang? bisakan?” Sang anak Cuma tertawa-tawa saja seperti melupakan apa yang baru saja ia tangisi dan kerjakan itu.
Sang ibu masih tetap bertanya sembari mendiamkan sang dedek yang mulai kambuh rewelnya, “Mas, tadi menuliskan nama di kertas soal, nama yang mana?”
“Nama panggilan,” jawabnya dengan enteng. Lengkap sudah jawaban itu melengkapi kegundahan mereka terhadap kelulusan sang anak. Karena nama panggilan tersebut jauh berbeda dengan nama lengkap yang ia punyai.
Sang ayah dan ibu saling berpandangan.

***
Empat hari kemudian, pesan pendek dari teman sang ibu yang sekaligus juga adalah panitia penerimaan mampir. Isinya konfirmasi tentang soal ujian dari sang anak, karena ternyata nama sang tidak ada dalam daftar induk nama-nama calon siswa.
Siangnya telepon genggam sang ibu berdering. Melihat sepintas pada layar dan langsung menempelkan di telinganya.
“Ya, Bu…ada kabar buat saya?” tanya sang ibu.
“Iya tuh, bagaimana yah dengan anak ibu…” jawab di seberang sambil menghela nafas, memperlambat bahkan menghentikan suaranya.
Dengan adanya suasana itu membuat sang ibu sudah memasrahkan segalanya pada Sang Kuasa. “Ya, sudahlah, nggak apa-apa kok nggak lulus,” kata sang Ibu pelan.
“Ya sudahlah, yang sabar ya Bu. Tapi ngomong-ngomong kata siapa anak Ibu tidak lulus?”
“Ya Ibu tadi bukan…”
“Ah, saya tidak berkata demikian, malah saya mau mengabarkan kepada Ibu bahwa anak ibu itu lulus dan rangking satu di kelas Mangga. Nilainya mendapat 9,75 poin.”
“Masak…? Alhamdulillah…” puji sang ibu.
Ternyata semua itu cuma godaan dan candaan dari sang teman ibu.
Sang ibu segera membagi kebahagiaannya pada sang ayah. Sujud syukur dan dhuha menjadi penghias pagi dengan matahari yang sudah sepenggalah.

***
Nama sang anak itu memang berada di urutan pertama saat dilihat pada malam harinya oleh sang ayah sepulang dari tempat kerjanya. Ada deg-degan juga. Ini mengingatkan sang ayah dan sang ibu pada kenangan masa lampaunya saat setiap kali pengumuman semesteran di kampus dulu. Kenangan di kampus yang sering men-DO-kan mahasiswa yang indeks prestasinya di bawah standar yang ditetapkan.
Ah, ya nama sang anak itu berada di urutan pertama. Subhanallah, padahal mereka sering underestimate pada sang anak. Walaupun prestasi di taman kanak-kanak juga telah membuktikan kesalahan penilaian mereka pada sang anak, tapi itu belumlah cukup. Kini yakinlah mereka pada sang anak.
“Jangan pernah berpikir itu lagi,” tekad mereka. Dan jangan pula meremehkan dia. Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir, karena Abu Dzar pun mutaakhir, tapi ia tetap menyusul rombongan Rasulullah yang telah lama pergi untuk berjihad.
Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir. Perkataan yang juga layak ditujukan kepada teman sang ayah dan ibu.
Ah, ya nama anak itu cuma: Maulvi Izhharulhaq A.

*******


BIODATA

Nama : Riza Almanfaluthi, S.Sos. MM
Tempat/tanggal lahir : Jatibarang, 24 Juli 1976
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah dengan satu istri dua anak
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
NIP : 060089098
Pangkat/Gol. Ruang : Penata Muda/IIIa
Jabatan : Account Representative
Alamat Kantor : Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat
Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
12750
Alamat Rumah : Komplek Puri Bojong Lestari Blok HH No.23 RT. 11 RW.17
Pabuaran, Bojonggede, Bogor
Alamat email : almanfaluthi@gmail.com
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
URL : http://dirantingcemara.blogspot.com
Nomor Rekening : 0060005113679
Bank Mandiri Cabang Dewi Sartika
a.n. Riza Almanfaluthi

Riwayat Pendidikan:
– Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (lulus tahun 1988);
– Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (lulus tahun 1991);
– Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (lulus tahun 1994);
– Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan
Keuangan, Departemen Keuangan (lulus tahun 1997);
– Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik
Indonesia (STIA LAN RI) Jurusan Administrasi Bisnis (lulus tahun 2002);
– Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
(lulus tahun 2007).

ISTANBUL: TAHTA ISLAM


ISTANBUL: TAHTA ISLAM

Istanbul [Konstatinopel], 1922
Jabatan sultan pada Kekhalifahan Utsmani dihapus oleh Majelis Agung dibawah kepemimpinan Mustafa Kamal.

Istanbul [Konstantinopel], 29 Oktober 1923
Mustafa Kamal memproklamasikan Republik Turki dan menetapkan jabatan khalifah hanya sebagai pimpinan keagamaan.

Istanbul [Konstantinopel], 03 Maret 1924
Jabatan khalifah dihapus. Abdul Majid II, khalifah terakhir dinasti Utsmani diusir dari istananya dan diperintahkan untuk meninggalkan Turki.

***
Sudah 82 tahun lamanya umat Islam tidak merasakan manis dan pahitnya kekhalifahan. Semua telunjuk diarahkan pada khalifah yang ke-37 (dari dinasti Utsmani ini yakni: Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Kekhalifahan Turki sejak 1876 sampai 1909.
Para sejarawan sepakat bahwa dialah Sultan Turki yang terkenal, paling lama berkuasa, dan masa pemerintahannya berada dipersimpangan jalan. (Syalabi.:1988) Dialah yang berusaha untuk mengadakan perbaikan Turki yang sudah dijuluki sebagai The Sick Man of Europe (orang sakit dari Eropa) namun usahanya ituberakhir sia-sia.
Telunjuk yang diarahkan kepadanya adalah pada masalah kediktatorannya, pemerintahannya yang bersifat absolut dan penuh kekerasan. Sehingga dengan tipe kepemimpinannya yang demikian membuat banyak rakyat sipil dan militer yang tidak suka padanya dan menimbulkan gerakan oposisi yang menggoyahkan sendi-sendi kekuasaannya.
Namun keberimbangan pandangan kepada seseorang juga perlu dikemukakan di sini agar tidak ada pula sikap berlebihan hingga membuang kebaikan-kebaikan yang dipunyainya dan tidak bisa untuk dilupakan begitu saja.
Satu jasa dari Sultan Abdul Hamid II ini yang dicatat oleh sejarah adalah penolakan Sultan Abdul Hamid II terhadap permintaan Zionist Yahudi untuk menetap di Palestina.
Dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmad Syatibi diceritakan kisah penolakan ini: Dikisahkan bahwa sesudah dilaksanakan konferensi Belfore (1897) yang memutuskan bangsa Yahudi kembali ke Palestina, salah seorang pemimpin Zionist yang bernama Kurah So datang menghadap Sultan Abdul Hamid II menyampaikan permohonan kepada Sultan agar beliau mengizinkan bangsa Yahudi menetap di Palestina dan sebagai imbalannya gerakan Zionis bersedia meminjamkan uang sebesar 50 juta Junaih kepada pemerintah Turki Utsmani dan bersedia memberi hadiah sebesar itu kepada Sultan.
Mendengar pernyataan pemimpin Zionis tersebut bukan main tersinggungnya baliau, lantas dengan suara keras kepada pendampingnya beliau bertanya: ”Siapa yang telah mengizinkan babi tengik ini masuk menghadap kepadaku?”
Melihat Sultan begitu Murka kemudian pertugas mengusir dia dari wilayah Turki dan segera dikeluarkan undang-undang larangan bangsa Yahudi memasuki wilayah Palestina. (Hal. 98)
Kemudian jasa lainnya adalah upayanya untuk mendirikan Pan Islamisme (kebersatuan Islam) untuk mengimbangi gerakan kristenisasi dan zionis. Walaupun usahanya tersebut gagal karena tipu daya musuh-musuh Sultan yang mengampanyekan bahwa usaha tersebut adalah upayanya untuk menutupi kebobrokan dan niat yang sebenarnya, yakni untuk melanggengkan kekuasaannya.
Dua jasa Sultan Abdul Hamid II yang dapat dicatat tersebut adalah jasa yang kesekian kalinya dari jasa-jasa yang diberikan Kekhalifahan Utsmani terhadap peradaban Islam.
Jasa yang sangat menonjol dari Kekhalifahan Utsmani ini adalah direbutnya Konstatinopel oleh Muhammad II yang berjuluk al Fatih. Dan menjadikannya sebagai ibukota baru serta menggantikan nama kota kuno tersebut menjadi Istanbul (Tahta Islam).
Kejatuhan ini telah melengkapi ramalan Rasulullah terhadap hancurnya dua tahta imperium besar yakni Persia dan Romawi. Dan tidak bisa disangkal lagi bahwa kejatuhan kota ini pula menjadi pelipur lara dan obat bagi umat Islam saat itu karena luka akibat keruntuhan dan jatuhnya kekuasaan Islam di Andalusia.
Jasa lainnya—seperti yang diungkap lagi oleh Syatib—berhasilnya Turki Utsmani menghambat kolonial barat atas dunia Arab untuk beberapa lamanya hingga menjelang akhir kekuasaannya. Karena sejak kejatuhan Andalusia, bangsa-bangsa Eropa selalu mengincar wilayah Afrika Utara dan jazirah Arab.
Demikianlah jasa-jasa kekhalifahan Bani Utsmani bagi umat, sebagaimana banyak dicatat pula jasa-jasa kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah bagi tegaknya pondasi peradaban umat. Juga dengan demikian kita tidak bisa hanya ambil peduli terhadap salah satu kekhalifahan dan menafikan kebaikan-kebaikan yang muncul dari yang lainnya hanya karena misalnya Bani Umayyah fanatik dengan orang-orang Arab, atau Bani ’Abbasiyyah yang banyak didukung oleh orang-orang Syi’ah, ataupun Bani Utsmani yang selalu menoleh ke barat dan mengerdilkan peran bangsa Arab.
Keberimbangan ini diperlukan agar kita bisa mengambil pelajaran tentang bangkit dan jatuhnya suatu peradaban umat. Sikap pertengahan ini diperlukan agar kita bisa memberikan proporsi yang adil terhadap suatu peradaban sehingga kita tidak akan ditertawakan karena kejumudan dan pendapat kita yang tanpa dasar dan ilmu atau karena kita dianggap tidak pernah membaca buku-buku sejarah.
Allohua’lam.

Maraji’:
1. Prof. Dr. Ahmad Syalabi, [Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Utsmani], 1988
2. Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil, [Wajah Dunia Islam: Dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern] 1998;
3. Ensiklopedi Islam Jilid 4

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:21 05 Maret 2006

DEINDIVIDUASI BIKERS MOGE


DEINDIVIDUASI BIKERS MOGE

Dua pekan terakhir dunia milis dan media elektronik tanah air diwarnai dengan berita seputar tingkah laku menyebalkan dari para pengendara motor gede )Moge) berkelir Harley Davidson (HD). Ini diawali dari imel yang dikirim oleh Sarie Fabriane yang disebar melalui milis dan mengungkapkan kejengkelannya sebagai korban tingkah laku urakan gerombolan tersebut.
Seperti yang diungkap oleh tabloid Otomotif (edisi 43:XV), sebagian isi imel itu adalah sebagai berikut: “…masih sulit akal saya untuk menolerir aksi gagahan mereka yang mentang-mentang itu. Pikiran kotor saya hanya sempat mengira, mereka hanyalah kumpulan begundal-begundal impoten yang mencari kompensasi dengan mengangkangi moge. Sehingga tercapailah ilusi kegagahan diri!!…”
Dari situlah Otomotif berusaha menjawab pertanyaan apakah benar bahwa perilaku kasar yang ditunjukkan itu adalah kompensasi untuk menutupi kekurangan dan kelemahan diri?
Seorang pengajar Psikologi Sosial Universitas Indonesia bernama Cicilia Yeti Prawasti MSi, berhasil dimintai pendapat tentang ini oleh tabloid mingguan ini. Beberapa pendapatnya tentang kelakuan bikers moger tersebut adalah dapat dirangkum sebagai berikut:
Bahwa Tidak semua kompensasi itu bernilai negatif, tetap ada kompensasi bernilai positif. Kompensasi negatif bisa saja terjadi namun dengan prosentase kecil berupa aktualisasi diri yakni keinginan untuk mengatasi inferioritas atau perasaan diri seseorang.
Sedangkan perilaku arogan dalam kasus ini hendaknya ditinjau dari sisi psikologi social bukan ditinjau dari sisi kompensasi. Secara psikologi sosial, dalam kelompok telah terjadi deindividuasi. Yakni indentitas diri seseorang berkurang, melebur, dan digantikan dengan identitas kelompok.
Cicilia melanjutkan: ”Di dalam kelompok seseorang cenderung tidak ada yang memperhatikan secara individual. Sehingga ia berani melakukan hal-hal yang belum tentu dia berani lakukan saat sendiri. Apalagi dengan menggunakan pakaian dan motor gede, perasaannya menjadi berubah.” Kesimpulannya adalah perilaku kasar tidak semata-mata berarti kompensasi seseorang untuk menutupi kelemahannya. Demikian Otomotif.
Nah, itulah sedikit pandangan psikologis terhadap para pengendara moge. Namun demikian jika kita melihat adanya deindividuasi maka perubahan perangai (kalau bisa disebut demikian) itu tidak hanya dimonopoli oleh pengendara moge seperti HD belaka.
Perangai itu pun bisa dilakukan pula oleh pengendara motor lainnya walaupun tidak tergabung dalam suatu kelompok atau klub berdasarkan kesamaan merek. Apalagi di Jakarta ini yang jumlah motornya setiap hari bisa mencapai jutaan unit mengarungi jalanan di pagi atau sore harinya.
Contoh deindividuasi ini seringkali terjadi dengan perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan secara berjama’ah berupa dengan berhenti melewati tanda batas zebra cross, melawan arus, menyelonong pintu perlintasan kereta api, melewati trotoar, selap-selip, dan lain sebagainya.
Perlu ditekankan di sini sekali lagi adalah perilaku itu dilakukan dengan berjama’ah, bersama-sama, berkelompok, bareng-bareng. Sama dengan yang dilakukan oleh para pengendara moge. Namun ada perbedaan yang mencolok di sini.
Deindividuasi yang dilakukan oleh masing-masing individu dari bikers moge ini dilandasi dari semangat eksklusivitas yang tinggi. Merasa bahwa motor yang mereka naiki tidak sembarang orang bisa memilikinya, mahal, barang impor, dan berkelas. Walaupun disadari atau tidak banyak dari motor tersebut adalah barang-barang gelap yang sengaja diselundupkan tanpa membayar PPnBM dan Bea Masuk ke kas Negara dan surat-suratnya bodong hanya mengandalkan surat sakti dari klub.
Ditambah dengan banyaknya pejabat (contoh salah satunya Fahmi Idris) dan artis (Indro Warkop) yang karena hobi atau sengaja direkrut menjadi petinggi dan pengurus klub, dan dijadikan sebagai pelindung atau humas bahkan pelegitimasi (untuk tidak disebut sebagai bemper) atas segala aktivitas mereka.
Apalagi privilege yang mereka dapatkan sangat-sangat terkesan eksklusif seperti pengawalan yang dilakukan oleh voreijder, melenggang kangkung di jalan tol, dan menyetop seenaknya pengguna jalan lain yang dirasa mengganggu perjalanan. Maka lengkap sudah kesombongan itu, dan pada akhirnya dari semua itu mudah saja terjadi deindividuasi pada kelompok itu. Poinnya adalah bahwa ada ego berjama’ah yang timbul akibat keserbaadaan yang mereka miliki.
Sedangkan untuk deindividuasi yang dilakukan oleh para pengendara motor lainnya dengan tingkah laku berlalu lintas yang kacau dan berantakan itu ada banyak penyebabnya, ini dilihat dari kacamata saya yang tentunya juga adalah pelaju minimal 50km lebih setiap harinya dengan motor kecil (mocil MegaPro)—kalau dibandingkan dengan HD, dan ini yang menyebabkan perbedaan mencolok.
Bahwa yang pasti mocil ini (dalam kasus Jakarta) bukan karena mereka tergabung dalam satu klub. Mereka membawa motor yang kebanyakan dibeli secara kredit di showroom-showroom atau tenda-tenda. Ada rasa senasib sepenanggungan yang disadari atau tidak seringkali muncul tiba-tiba. Bahwa mereka kepanasan, kehujanan, dan dengan resiko besar mengalami kecelakaan yang berakibat fatal bila motor itu jatuh.
Ditambah pula dengan seringkali mandi asap knalpot dari kendaraan lain. Sungguh kontras sekali dengan kenyamanan yang diperoleh dari mereka yang mengendarai mobil pribadi. Dengan kesenjangan kenyamanan dan yang paling penting adalah adanya kesenjangan keselamatan yang begitu mencolok maka wajar pula rasa senasib dan sepenanggungan itu muncul.
Dari rasa itu seringkali kita melihat bagaimana solidaritas muncul di saat salah satu dari mereka mengalami kecelakaan, apalagi kalau kecelakaan itu disebabkan karena ditabrak oleh kendaraan pribadi. Maka selain memberikan pertolongan pertama kepada korban juga ada tindakan deindividuasi yang dilakukan dengan sama-sama menonton, mengerumuni, atau yang lebih buruk adalah mengeroyok supirnya.
Seringkali pula mereka berhenti tanpa bersalah di bawah jembatan layang di saat hujan turun dengan derasnya. Maka terjadilah kemacetan panjang yang disebabkan oleh itu. Gerutuan dari para pemilik mobil pun berhamburan, tanpa mereka sadari bahwa kalau motor itu punya kap seperti mobil tentu tidak akan berhenti di tempat itu. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Jadi, walaupun kita sama-sama sepakat bahwa tingkah laku buruk dari akibat deindividuasi pada kelompok moge HD dengan kelompok pengendara mocil tidak bisa dibiarkan begitu saja, tapi tentu ada perbedaan yang mencolok di antaranya. Yakni untuk yang pertama bahwa deindividuasi terjadi karena ada semangat ekslusivitas yang tinggi dan berakhir pada kesombongan. Sedangkan pada yang kedua deindividuasi terjadi karena adanya rasa senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan ketertindasan.
Pertanyaan yang tak perlu dijawab sekarang adalah: adakah deindividuasi yang terjadi pada para fordiser DSHNet?

Allohua’alm bishshowab.

Ps. Pada tahun 2000 (kalau saya tidak lupa), saya sempat bertemu dengan Fahmi Idris di lift salah satu hotel di Yogyakarta. Bersamanya banyak anggota kelompok HD yang sedang touring.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:31 01 Maret 2006

Saat Kau Tolak Cintaku


27.02.2006 – Saat Kau Tolak Cintaku

matamu itu nduk…
:bening
gigimu itu nduk…
:putih
kulitmu itu nduk…
:kuning
wajahmu itu nduk…
:pesona indo
sentuhanmu itu nduk…
:lembut
panggilanmu itu nduk…
:syahdu
gurauanmu itu nduk…
:manja
jalanmu itu nduk…
:indah
belaianmu itu nduk…
:gak nahan
wah, wah, wah,
tak ada ruginya membawamu nduk
tapi saat kukatakan cinta padamu
kenapa kau melukaiku
dan kau menjerit berteriak
sorry: aku menginjak buntutmu
cepat sembunyikan cakarmu
cepat tutup mulutmu,
malu atuh, masa secantikmu ada taring
nduk, nduk…
ah,
kau cuma bisa berkata:
meong…
meong…

dedaunan di ranting cemara
10:08 27 Pebruari 2006

Cintanya Tak Semurni Bensinku


20.02.2006 – Cintanya Tak Semurni Bensinku (Kado buat Hizbiyoon)

Berbeda dengan debat yang dilakukan di alam nyata, debat di dunia maya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan suatu tema diskusi. Karena di sana komunikasi yang terjadi antara penyampai dan penerima informasi tergantung dari kualitas jejaring masing-masing peserta diskusi juga perlu digarisbawahi bahwa dalam komunikasi tersebut tidak disertai dengan bahasa tubuh.

Maka terbentanglah jurang di antara mereka, sehingga dengan adanya gap itu kesalahpahaman seringkali terjadi bahkan berujung dengan caci maki, walaupun sudah dibantu dengan visualisasi bahasa tubuh (wajah) melalui ikon Smiley, yang terkadang ternyata digunakan untuk menutupi maksud hati yang sebenarnya.

Maka saya yang merasa jago debat, pandai bersilat tangan (maaf di sini saya tidak memakai lidah karena sama sekali tidak digunakan) dan tidak memakai hati memanfaatkan benar untuk bisa menjatuhkan lawan diskusi, apalagi didukung dengan teman seperjuangan yang satu ide.

Bila perlu celaan dan hinaan harus disampaikan agar benar-benar lawan diskusi dibuat tidak berkutik. Dengan alasan pembenaran bahwa Rasulullah pun seringkali mencela orang-orang jahil. Bahkan tidak hanya lawan diskusi yang perlu dicela, hatta ulama lokal, ulama asal Mesir yang kini tinggal di Doha Qatar dan berkaliber dunia serta telah diakui kapasitas ilmu dan amalnya pun tak luput dari celaan saya hingga sampai pada penyetaraannya sebagai ulama Syaitan. Tak lupa bukunya pun wajib dibakar.

Tanpa disadari (atau memang sadar dengan sesadar-sadarnya) dengan pelabelan itu telah melanggar batasan yang dipegang oleh saya sendiri (tentu juga oleh lawan diskusi saya) untuk tidak mengafirkan sesama muslim. Karena tidak dapat disangsikan lagi dan semua tahu manalagi selain makhluk durhaka bernama syaitan yang berjuluk sebagai penghulu kekafiran. Namun batasan itu tak perlu jika memang saya menganggap ulama tersebut telah keluar dari Islam. Dan saya tak perlu minta maaf.

Selain itu di suatu waktu jika saya telah kehabisan kata-kata yang harus disampaikan kepada lawan diskusi yang menurut anggapan saya mereka masih ngeyel terhadap puluhan hujjah, maka tak dapat disangsikan segala cara dan upaya ditempuh untuk mengambil puluhan sumber hujjah sebagai penguat.

Bahkan jika tidak ada hujjah dalam bentuk softcopy, kalau perlu semalaman saya tidak tidur untuk menyalinnya ke dalam program pengolah kata. Yah, biasanya sholat malam terlewatkan, bahkan shubuh pun kesiangan, tapi ’Alhamdulillah’ di kantor belum ada finger print sehingga kesiangan pun tidak apa-apa, dan yang penting tak ada potongan gaji.

Setelah sampai di kantor, kiranya saya tak perlu memikirkan kerja dululah. Kan ada yang lebih penting lagi yakni menyampaikan kebenaran, amar ma’ruf nahy munkar, sampaikanlah satu ayat walaupun pahit, apalagi untuk melawan para ahlul bid’ah dan hizby yang setiap harinya mereka menulis dan menyebarkan pemikirannya di ” partisipasi”, dan tak pernah memberikan kesempatan kepada saya untuk membanting hujjah mereka yang ringkih seperti sarang laba-laba. Apa karena ada penyensoran?

Tapi tak apalah, saya masih punya kesempatan untuk melawan pemikiran mereka di forum diskusi. Perlu diketahui lawan saya banyak sekali, selain hizby, ada juga dari tahriry, tablighy, dan surury.

Untunglah suasana kantor mendukung sekali karena saya ada di seksi nonteknis jadi lumayan tidak banyak pekerjaan. Bahkan kalaupun berada di seksi teknis pun saya harus berjuang untuk menyisihkan waktu agar perjuangan ini tetap berlanjut.

Andaikan tak ada waktu pun maka saya tetap harus mementingkan perjuangan memberantas kemungkaran yang disebarkan para hizbiyun dan jahiliyun itu. Iya sih, kadang-kadang saya seharian tak pernah menyentuh pekerjaan karena asyik banget melihat mereka kabakaran jenggot dan jilbabnya.

Ada satu tuh akhwat dari mereka kalau kebakaran jilbabnya, nesu-nesu tak karuan. Bahkan menantang untuk datang ke daerahnya. Emang saya cowok apaan. Cowok panggilan? Saya tak peduli. Cintanya tak semurni bensinku. Loh kok nggak nyambung…

Ohya, sebenarnya gampang sekali mematahkan argumen mereka, karena mereka sama sekali tidak mempunyai dalil dan hujjahnya. Jika mereka nyerocos tanpa referensi gampang saja tanyakan kepada mereka: ”mana dalilnya?”. Biasanya mereka langsung terdiam begitu rupa.

Atau dengan menampilkan copy paste-an saya yang bisa berlembar-lembar halaman, mereka langsung keok. Padahal copy paste-an saya ini juga terkadang tidak sempat saya baca seluruhnya tapi saya sih sangat, sangat, sangat tsiqoh sekali kepada ustadz-ustadz dan ulama-ulama saya karena mereka adalah para ahli hadits dan anti hizbiyun. Ohya, saya juga heran mereka kok tak pernah menghujat ulama saya, ”ah pasti karena mereka tidak mempunyai celah untuk menghujat atau karena mereka takut hujjah mereka dibanting atau takut karena Allah? Ah sabodolah.

Tapi ada juga dari mereka yang seringkali mempunyai argumentasi yang kuat bahkan mantap, dan tidak bisa dijawab oleh saya ataupun teman-teman pendukung saya.. Menghadapi hizby seperti ini gampang bilang saja mereka jahil, dasar khawarij, tutup mulutmu, atau sedikit-dikit dengan makian mantap seperti ”embahmu…”.

Walaupun demikian mereka tetap bergeming, ini yang membuatku marah, dongkol, serta sakit hati. Bahkan setiap saat saya selalu memikirkan perkataan mereka. Lagi istirahat, lagi sholat, mau tidur, mau makan, ataupun dalam perjalanan pulang. Dan memikirkan balasan apa yang setimpal untuk mereka. Saya tak peduli mereka sakit hati atau tidak. Jadi memang sakit hati harus dibayar dengan sakit hati pula.

Tapi ada yang bilang dari para hizbiyun itu, ”awas loh penyakit hati.” Ah, saya bilang saja kepada mereka: ”sok menjaga hati lu”. Eh, ngomong-ngomong masalah hati kemarin saya mendapat tugas dari kantor pusat untuk mengikuti diklat manajemen qolbu di pesantren Daruttauhid pimpinan Aa Gym itu. Padahal Aa Gym itu kan sudah diberi raport merah oleh ustadz kami.

Ikut tidak yah…? Ah, ikut sajalah, inikan tugas kantor, nanti kalau tidak ikut saya akan di black list untuk tidak mengikuti diklat apapun. Yang rugi saya juga dong. Ohya, raport merahnya perlu saya sampaikan enggak yah kepada Aa Gym. Ini juga untuk kebaikan dia sendiri agar tidak terjerumus terlalu lama dalam kebid’ahan. Kalau dia tidak terima, ya sudah tugas saya selesai.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Kalau mereka tak puas dengan hujjah saya, saya siap menerima tantangan mereka, ini nih nomor telepon genggam saya 0817-6969-xxx.

Telepon itu saya buka 24 jam setiap harinya, tujuh hari dalam seminggu. Kalau perlu kopi darat juga boleh, ingat saya juga pandai bersilat lidah. Saya pun akan bawa kitab-kitab rujukan, tidak hanya terjemahan, asli Arab gundul juga akan saya bawa. Ini pasti akan membuat mereka gentar dan berkeringat dingin. Tenang saja saya akan membawa termomoter untuk mengukur suhu keringatnya benar-benar telah mencapai titik terendah.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Apa? Saya anti ukhuwah? Heii, hizby. Lebih baik saya menjadi pendosa daripada menjadi ahlul bid’ah seperti kalian.

Ah, sudah. Pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati.

****

Teettttttttttt…tettt…!!! Suara rentetan klakson kendaraan di belakang mengagetkan saya yang kiranya sedang berada di dekat pintu lintasan kereta api. Pintu itu sudah terbuka setelah hampir tiada mau membuka karena memberikan kesempatan lewat terlebih dahulu kepada enam kereta rel listrik Jakarta Bogor.

Melihat forum diskusi di ANTAHBERANTAHnet seharian tadi membuat saya melamun begitu panjangnya. Memikirkan si jago dan ahli debat yang menganggap saya ahlul bid’ah dan hizbiyyun yang tak pantas untuk mencium wanginya surga.

Memikirkan mereka dan apa yang dilakukannya malah menguras energi saya untuk beramal. Menguras energi saya untuk memikirkan para tetangga yang setiap malamnya masih bertanya-tanya makan apa besok harinya. Menguras energi saya untuk menghidupkan sholat berjamaah di masjid yang sudah lima tahun lamanya tak kunjung selesai dibangun.

Memikirkan mereka menguras energi saya untuk mendidik dan mempersiapkan generasi rabbani dengan tali ukhuwah yang kuat, yang di malamnya bagaikan rahib dan di siangnya bagaikan singa mengaum membela Islam dari segala rongrongan. Yang dari mulut mereka tak terluncur celaan dan hinaan melainkan penggugah dan penyejuk hati, penyegar pemikiran dan pecerahan menuju ridhonya Allah.

Memikirkan mereka menghalangi diri saya untuk selalu bermuhasabah menghitung dosa-dosa yang menggunung. Malah membuat hati saya yang sudah kotor semakin kotor memikirkan membalas cacian mereka.

Memikirkan mereka menambah penyakit hati dengan adanya kesombongan jikalau sukses menjatuhkan mereka para ahli debat itu. Membuat kebenaran yang sudah tampak di depan mata semakin buram karena tak mau mengalah dan kesombongan.

Alhamdulillah ternyata saya tidak jago debat. Saya tidak pandai mengolah kata. Saya tidak lincah mencela. Saya gagap untuk menyakiti banyak hati. Saya tak bisa membandingkan ilmu dan amalku dengan milik para ulama yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk perjuangan Islam, bahkan untuk menyamakan mereka dengan para syetan.

Biarkan saya akhiri jenak-jenak kata dengan nasehat yang diucapkan Ibnu Taimiyah kepada muridnya, Ibnul Qayyim:

Akhi Da’iyah:

Jangan jadikan hatimu mudah dihanyutkan syubhat, seperti bunga karang di tepi laut yang kian ternoda manakala diterpa gelombang air. Jadilah bak cermin yang tetap kokoh. Berbagai isu dan tuduhan hanya lewat di hadapannya, dan tidak menetap padanya. Cermin menolak semua itu dengan kekokohannya. Bila tidak demikian, bila hatimu mengharap semua syubhat yang melewatinya, niscaya ia akan menjadi sarang segala tuduhan dan isu yang tak jelas.

Ketahuilah, di antara kaidah syari’at dan hikmah menyebutkan, bahwa siapa yang banyak dan besar kebaikannya, dan telah menanam pengaruh nyata dalam Islam, mungkin saja melakukan kekeliruan yang bisa jadi tidak dilakukan orang selainnya. Orang seperti itu dapat dimaafkan. Maaf yang tidak diberikan pada selainnya. Sesungguhnya kema’syiatan itu adalah kotoran, dan air bila mencapai dua kulah, tidak membawa kekotoran.

(Jasim Muhalhil, 1418 H)

Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ba’da maghrib dingin

19:03 19 Pebruari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

riza.almanfaluthi@pajak.go.id

Antara Umar dan Khalid


20.02.2006 – Antara Umar dan Khalid

Saya tertarik dengan apa yang diungkapkan Saudari saya ini pada tulisannya yang berjudul ”Ketika Saya Berkuasa”. Tepatnya pada paragraf sebagai berikut:

Khalid ketika menjadi gubernur Armenia terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya. Yang akhirnya membuat Umar bin Khattab gregetan sehingga menarik kembali Khalid ke Madinah.

Tapi..itu bukan berarti Umar menghinakan Khalid..tapi beliau menyelamatkan Khalid dari ketergelinciran godaan dunia. Buktinya ketika Khalid meninggal..Umar menangis dan mengatakan penyesalannya tidak sempat mengembalikan kedudukan Khalid di tempat yang semestinya.

Kalimat ”terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya” mengguncang kotak memori saya. Dan betulkah pada saat itu beliau sudah menjadi gubernur Armenia? Dari buku yang pernah saya baca sahabat yang berjuluk Pedang Allah ini tidak demikian kiranya. Sehingga dengan kepenasaran ini kembali saya bongkar-bongkar buku sejarah lama.

Dari beberapa referensi tersebut, hanya satu yang benar-benar detil menceritakan tentang pemecatan panglima Khalid bin Walid oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra yakni di buku yang ditulis oleh Muhammad Husin Haekal yang berjudul Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu (penerbit Litera AntarNusa, 2002).

Sebelumnya saya tidak akan menceritakan siapa sahabat Khalid bin Walid ini karena sudah banyak kitab dan tulisan yang menulis biografi beliau. Dan saya pun tidak akan menyalin tulisan pada buku di atas karena akan membutuhkan banyak halaman untuk hanya menginformasikan tentang peristiwa pemecatan ini.

Setelah saya membacanya perlahan-perlahan, saya sedikit banyak kembali mendapatkan gambarannya yang sempat terlupa. Berikut gambarannya secara ringkas:

Pada saat Baitulmukaddas atau Yerusalem telah ditakhlukkan, para panglima perang kembali menuju tugasnya masing-masing untuk mengatur adminsitrasi pemerintahan wilayahnya masing-masing. Abu Ubaidah menuju Hims, Yazid bin Abi Sufyan tinggal di Damsyik, dan Khalid bin Walid menuju Kinnasrin (Bukan Armenia).

Namun kembali ada pemberontakan di utara Syams, pasukan muslimin pun kembali dikirim dan berhasil meredakannya. Tidak berhenti di situ mereka kembali bergerak terus ke arah utara menuju Armenia. Dan Khalid bin Walid dikirim ke Armenia untuk menanamkan rasa gentar dalam hati musuh. Dalam ekspedisi itulah Khalid bin Walid membebaskan banyak tempat dan memperoleh rampasan perang yang sangat banyak.

Sesudah itu ia kembali ke Kinnasrin dengan membawa ghanimah. Dan mendengar kedatangannya yang membawa harta benda itu banyak sekali orang dari sana- sini meminta bantuan berupa hadiah dan Khalid pun cukup bermurah hati kepada mereka. Salah satunya kepada Al-Asy’as bin Qais sebesar sepuluh ribu dirham. Inilah pokok permasalahannya.

Berita itu didengarnya oleh Umar Ra, dan ia marah besar karena sebelumnya ia mendengar sebelumnya tentang kabar Khalid yang menggosok badannya dengan khamar saat di Armenia. Khalid menjawab bahwa pada saat itu tidak ada bahan pembersih selain khamar.

Dalam masalah harta yang diberikan kepada Ibnu Qais ini, Umar ra menulis surat kepada Abu Ubdaidah supaya memanggil Khalid dan mengikatkannya dengan serban serta melepaskan topi kebesarannya sampai terungkap pemberiannya kepada Ibnu Qais: dari hartanya sendiri atau dari harta rampasan perang yang seharusnya disimpan untuk kaum dhuafa Muhajirin.

Sebenarnya kekhawatiran umar selain itu adalah pesona Khalid yang terlalu kuat di hampir sebagian besar prajurit sehingga dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam puncak kesombongan dan kezaliman serta timbulnya pengkultusan diri Khalid.

Khalid pun datang, kemudian kurir yang diutus Khalifah bertanya kepadanya sampai tiga kali yang tidak dijawab oleh Khalid. Bilal pun mengambil topi dan merangkul kedua tangan Khalid ke belakang punggungnya dan mengikat dengan serbannya sambil bertanya: “Bagaimana? Dari harta Anda atau dari harta perolehan perang?”

Khalid terdiam dan Bilal pun mendesaknya, pada akhirnya Khalid berbicara bahwa harta yang diberikan kepada Ibnu Qais itu adalah harta pribadinya. Khalid bertanya-tanya kenapa Umar memperlakukannya seperti ini. Sehingga Khalid memutuskan untuk pergi menemui Umar di Madinah. Padahal tanpa sepengetahuan Khalid bahwa dirinya telah dipecat oleh Umar namun belum diberitahukan Abu Ubaidah karena kehalusan budi pekertinya yang tidak mau menyakiti hati sang Pedang Allah ini.

Sebelum maksudnya pergi ke madinah terlaksana, telah tiba terlebih dahulu surat dari Khalifah tentang pemanggilannya, baru saat itulah ia tahu bahwa dirinya dipecat oleh Khalifah. Ia kemudian memberitahukan kepada pasukannya tentang hal ini dan berpidato tanpa menjelek-jelekkan sedikitpun tentang Umar.

Setelah tiba di Madinah, di depan Umar ia menjelaskan darimana kekayaan itu. “Dari barang rampasan perang dan dari saham-saham. Yang selebihnya dari enam puluh ribu itu untuk Anda.” Umar menaksir barang-barang Khalid senilai delapan puluh ribu dirham, disisakan buat dia enam puluh ribu dan yang dua puluh selebihnya diambilnya dan dimasukkan ke dalam baitulmal.

Setelah itu Khalifah mengumumkan ke seluruh kota tentang pemecatan Khalid: “Saya tidak memecat Khalid karena benci atau karena pengkhiatan. Tetapi karena orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya akan percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuk dia. Maka saya ingin mereka tahu bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah.”

Demikianlah kisah Khalid yang digambarkan melalui tiga puluh halaman di buku tersebut, alangkah lebih fahamnya jikalau pembaca membacanya langsung daripada membaca ringkasan saya ini yang bisa saja menjadi bias terhadap sikap Umar dan Khalid, karena pada senyatanya banyak juga yang berbeda penyikapan terhadap peristiwa itu berdasarkan kefanatikan mereka terhadap Umar atau Khalid.

Namun seperti yang diungkap oleh Haekal semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid dan Umar, karena keduanya merupakan dua kekuatan yang paling tangguh. Semenanjung Arab terbuka luas bagi kedua kekuatan yang tadinya terpencil.

Dapat ditarik kesimpulan di sini bahwa Khalid pada saat itu bukanlah dalam keadaan menjabat sebagai Gubernur di Armenia melainkan Administrator di Kinnasrin (sebuah distrik di Damsyik—sekarang Damaskus). Namun benar Khalid mempunyai kaitan dengan Armenia karena pernah melakukan ekspedisi ke sana.

Terhadap masalah penggunaan hartanya Khalid telah menjelaskan terhadap Umar seperti telah disebutkan di atas yakni dengan menggunakan uang dari bagian rampasan perangnya (ghanimah) dan memberikannya kepada Asy’as bin Qais adalah dalam rangka memberikan penghargaan kepada seorang amir—pemimpin Kindah dan orang yang telah menghadapi cobaan berat dalam hal membebaskan Irak dan Syam. Berapa seringnya orang seperti Asy’as dan orang semacam dia terjun dalam beberapa peristiwa dan berjuang mati-matian menghadapi bahaya (h338).

Demikian sedikit apa yang saya temukan di buku tersebut. Mungkin ada referensi lain yang lebih baik lagi dan dapat dipertanggungjawabkan. Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah semata. Dan Allahlah Mahatahu segalanya.

Maraji’ cuma satu (terjemahan lagi):

Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu; Muhammad Husin Haekal, Litera AntarNusa, 2002

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20:21 17 Pebruari 2006

Merekalah Penggoda Syahwatku


14.02.2006 – Merekalah Penggoda Syahwatku (no risk no gain)

Tidak terasa sudah hampir enam bulan lamanya saya hidup tanpa handphone (HP) di tangan, tanpa deringnya yang mengganggu sepanjang perjalanan pulang, tanpa rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, tanpa debar jantung saat ada panggilan dari kantor dan Wajib Pajak, dan tanpa-tanpa lainnya. Saya merasa nyaman, itu saja.

Walaupun kadangkala ada saja saat di mana saya benar-benar membutuhkannya. Untuk hal yang demikian terpaksa HP Qaulan Sadiida saya pinjam barang satu sampai tiga hari, itu pun cuma sekali saja waktu saya pergi melancong ke Palangkaraya. Selebihnya saya benar-benar belum (untuk tidak mengatakan TIDAK) membutuhkannya.

Nah, kenyamanan yang saya rasakan itu sepertinya mulai terusik sejak sepekan ini. Pertama, saya teringat bahwa salah satu alasan kenapa saya tidak memakai HP adalah nomor HP lama yang telah saya cabut masih bisa saya pakai kembali sebelum enam bulan lewat sejak dilaporkan hilang. Jadi karena belum genap enam bulan itulah yang memperlama keinginan saya untuk tidak memakai HP.

Satu pekan ke depan adalah batas waktu bagi saya untuk kembali mengaktifkan nomor itu. Jika tidak maka nomor itu bisa dipakai kembali dengan mengeluarkan ongkos cukup besar dibandingkan dengan mendaftar sebagai user baru, karena dianggap sebagai nomor pesanan.

Wah, inilah godaan pertamanya, tetap pada nomor itu atau ganti dengan nomor baru, atau bahkan ganti dengan operator lain yang lebih murah dan banyak menawarkan fitur menarik dengan ditambah handset–nya lagi.

Kenyamanan saya juga terusik dengan yang kedua ini yaitu adanya tawaran bisnis penjualan pulsa elektronik berbagai macam operator dari teman saya. Saya cukup menyediakan uang 300 ribu rupiah sebagai jaminan dan bisa dikembalikan ketika saya memutuskan untuk tidak berjualan lagi.

Praktis modal saya cuma dengan satu buah HP dan lima jari untuk mengirimkan sms (gratis) kepada agen besar itu agar mengirimkan pulsa kepada pelanggan saya. Itu saja. Menarik bukan? Sekalian belajar mengasah kepekaan berwirausaha. Inilah godaan keduanya.

Lagi-lagi kenyamanan saya terusik dengan adanya yang ketiga ini yakni teman saya yang satu lagi tiba-tiba menawarkan HP miliknya kepada saya, berhubung dia telah memiliki HP baru. Tentunya tawaran itu tidak gratis. Jikalau saya mau saya cukup membayarnya di bawah harga pasaran.

Inilah godaan ketiga itu, walaupun secara fisik HP seken itu jauh dibandingkan HP saya yang hilang. Tidak ada kameranya, tidak ada fitur-fitur menarik layaknya HP berbasis symbian lainnya. Apalagi bentuknya yang sudah ketinggalan zaman karena belum mungil seperti kebanyakan wujud HP saat ini.

Tapi saya tidak peduli dengan semua itu. Karena saat ini saya menyadari bahwa secanggih-canggihnya fitur dan semahal-mahalnya HP yang saya miliki dulu ternyata kebanyakan tidak berguna. Yang biasa saya pakai cuma fasilitas calling dan sms-nya saja. Dan dengan HP seken ini kebutuhan dasar saya sudah cukup terpenuhi. Jadi mau apalagi? Mau gaya-gayaan? Tidak lah yau…Dan kini HP seken itu telah menjadi penggoda ketiga bagi saya.

Sekarang HP itu masih di tangan saya untuk sekadar dilihat-lihat dan dipertimbangkan sematang-matangnya, walaupun proses negosiasi masih terus berlangsung karena belum ada titik temu masalah harga di antara kami.

Yah, jika Allah berkehendak dalam waktu dekat tiga godaan itu sepertinya cukup kuat untuk mendobrak benteng kekukuhan dan kenyamanan saya. Tentunya dengan paradigma berbeda bahwa HP saya nanti bukanlah untuk memenuhi syahwat gaya saya tapi penuh muatan dan niat untuk menambah penghasilan halal. Itu saja.

Tidak lupa mental kembali harus dipersiapkan, karena akan ada lagi deringnya yang mengganggu di sepanjang perjalanan pulang, akan ada pula rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, dan juga debar di jantung saat ada panggilan dari kantor ataupun Wajib Pajak. Tapi inilah resiko bisnisnya. No risk no gain.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 11 Pebruari 2006

Prajurit di atas Kuda Trengginas


14.02.2006 – Prajurit di atas Kuda Trengginas

Peluang menyebarkan kebaikan selalu ada kapan saja, di mana saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan dirinya menjadi prajurit-prajurit kebenaran demi tegaknya panji-panji Islam dimuka bumi ini. Mereka hanya meyakini bahwa Allah lah tujuannya, Muhammad teladannya, Alqur’an hukumnya, Jihad jalannya, syahid cita-cita tertingginya.

Mereka rela berpeluh debu, berkeringat darah, berhias sayatan pedang. Mereka berbaris rapih dengan kuda-kuda trengginas yang siap berlari kencang dengan terengah-engah di padang pertempuran melawan para perintang sejatinya. Karena hakikinya pertempuran itu adalah pertempuran abadi dengan akhir berupa kibaran kebenaran.

Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”. Dengan shalat hanya sekadar penunai kewajiban. Dengan dzikir hanya pemanis mulut. Dengan doa kering tanpa ruh. Dengan malam-malam tetap berselimut tebal. Dengan subuh yang telah menjadi peneman mentari.

Dengan harta dan kemewahan tanpa pembersih. Dengan senyum yang sulit tersungging. Dengan mata penuh kerinduan birahi tak halal. Dengan amarah menjadi desahan nafas. Dengan lisan penuh tuba menoreh luka. Dengan dengki pewarna hati. Dengan haji hanya sebagai pelengkap nama. Dengan kekuasaan penuh tangan-tangan terzalimi meminta ampun. Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”.

Jika tidak, akan menjadi apa diri ini sedangkan engkau kelak akan berkeluh kesah: ”Oh nikmatnya menjadi binatang kerana tak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di mahkamah yang paling agung di mahsyar sana.”

Tiada kata terlambat jika sadari bahwa nafasmu belumlah satu-satu. Kakimu masih kuat untuk dilangkahkan. Tanganmu ringan selalu di atas. Mulut masih bisa digerakkan seimbang. Dan mata lengkap tiada tara nikmatnya.

Maka sekecil kebaikan yang engkau lakukan adalah mulanya kuncup yang akan bermekaran. Mulanya tetesan air untuk menjadi gelombang. Mulanya pisau tumpul untuk menjadi pedang tajam mengilat. Mulanya prajurit kecil tak bernama untuk menjadi jenderal gagah tawadlu’.

Maka tekadkan diri mulai desah nafas yang engkau hembuskan saat ini untuk tetap menjadi penyebar kebaikan hatta sebesar dzarrah. Karena sekecil apapun kebaikan yang engkau berikan kepada yang lain ia akan memantulkan kembali kebaikan itu kepadamu.

”Siapa saja yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun….” (HR Muslim)

Maka peluang itu telah ada dihadapanmu, di halaman ini, di forum diskusi ini, engkau telah menjadi satu dari sekian para prajurit kebenaran. Yang selalu mengisinya dengan nasihat dan yang selalu memberi sesuatu yang berguna.

Maka tak masalah jika engkau sekadar berkomentar asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyapa asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menulis asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyalin asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar melampirkan asalkan ia adalah kebaikan.

Maka tak terhitungnya pahala yang engkau akan dapatkan dengan memberi AlQur’an Digital, Shollu pengingat waktu sholat, Alquran Ms Word, kumpulan fatwa ulama sholih, murattal merdu para ustadz, nasyid penyemangat ruh, ebook ilmu Islam, kabar gembira dari tanah jihad, artikel pencerahan, antivirus, dan lainnya.

Maka seberapa pahala yang engkau akan dapatkan jika engkau menjadi penyebar kebaikan. Pahala itu akan mengalir dari banyak orang yang telah engkau beri kebaikan. Bahkan dari orang lain yang telah diberikan kebaikan dari orang pertama yang engkau beri kebaikan itu, hingga seterusnya. Maka seberapa lama pahala itu akan mengalir kepadamu hatta engkau telah menjadi penunggu kubur kerana ilmu bermanfaat yang engkau sebarkan.

Sebaliknya…
”…Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun. (HR Muslim).

Cacian, makian, hasutan, kesia-siaan, pornografi, dan penentanganmu pada alHaq yang engkau sebarkan kepada orang lain, sudah sepantasnya gunungan dosa menjadi pemberat pada timbangan sebelah kirimu, tak ada yang bisa merubahnya kecuali dengan rahmat TuhanMu. Itupun kalau engkau pantas menerimanya.

Tak berpanjang lebar, akankah engkau menjadi salah satu prajurit kecil pengusung dan pembawa kemasalahatan pada yang lain atau sebaliknya? Terserah padamu neraca itu berat ke kanan atau sebaliknya? Atau terserah padamu, kitab itu diserahkan padamu dari sebelah kanan atau dari arah belakangmu sembari dilempar?

Kalau engkau pilih yang pertama, sebaik-baiknya tempat adalah untukmu. Jika yang engkau pilih adalah yang terakhir maka tak perlu engkau hidup saat ini juga (aku berlindung pada Mu ya Allah dari semua ini).
Kini peluang itu ada dihadapanmu. Kini pilihan itu ada ditanganmu…

###dialog antara aku dan aku
sebuah introspeksi diri

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
teh manis terhidang di meja
21:52 13 Pebruari 2006