Doa Keselamatan Buat Bush dan Blair


16.01.2006 – Doa Keselamatan Buat Bush dan Blair

Dalam sebuah diskusi tentang perang teluk kedua, seorang peserta pada akhirnya berkesimpulan dan menyeru untuk bersama-sama mendoakan kebaikan dan keselamatan dunia akhirat buat dua pentolan penggagas perang teluk pertama dan kedua itu. Diskusi berakhir geger dan membuat kemarahan sebagian yang lain, karena ini menyangkut kezaliman dua rahwana tersebut terhadap dunia Islam.
Dari diskusi tersebut saya mencoba untuk merunut kembali pada sejarah masa lalu, Rosululloh SAW dirundung kesedihan saat paman yang sangat dicintainya, Abu Thalib (penyembah berhala) meninggal dunia. Di tengah suasana duka beliau memohon kepada Alloh SWT agar mengampuni segala dosa dan kesalahannya. Tapi Alloh SWT menegurnya, bahwa dalam persoalan agama ada batasan-batasan toleransi yang tidak boleh dilampaui.

Melalui firman-Nya beliau diingatkan untuk tidak mendo’akan orang yang tidak seiman, “sama sekali tidak layak bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampun untuk orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu keluarga dekatnya setelah jelas kepada mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim” (Q.S. At-Taubah: 113)

Berbicara tentang masalah do’a mungkin ada orang yang mempersoalkan jika Nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin tidak boleh mendo’akan orang-orang musyrik, lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim As. Yang berdo’a untuk ayahandanya yang kafir, sebagaimana digambarkan dalam Qur’an: “Dan ampunilah bapakku karena sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. Asyu‘ara: 86).

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa do’a Nabi Ibrahim ini esensinya ialah meminta kepada Alloh SWT agar ayahandanya ini diberikan hidayah dan petunjuk supaya menjadi orang beriman. Bahkan menurut Imam Qatadah, setelah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahandanya adalah musuh Alloh, Ibrahim berlepas diri darinya.

Q.S. At-taubah, 114 berbunyi sbb: Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Alloh) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Alloh, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Jelasnya, berdo’a untuk orang-orang musyrik agar mereka diberi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kebaikan, dan sebagainya tidak diperbolehkan. Hal itu bukanlah bentuk dari toleransi. Mendo’akan mereka berarti mengakui dan membenarkan eksistensi kekafiran mereka.

Maka sungguh tidak pantas bagi mereka yang mengaku dirinya beriman mendo’akan Bush dan Tony Blair untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat setelah tampak jelas di hadapan kita dan masyarakat dunia lainnya permusuhannya terhadap Islam, kesombongan mereka yang layaknya Fir’aun dan Hamam, dan kebencian mereka. Serta aksi mereka yang telah mencabut ribuan nyawa dengan perang yang mereka lancarkan.

Tapi bagi para penganut teologi inklusif-nya Ulil Absar Abdilla, dalam hal mendoakan kebaikan terhadap mereka hal ini sah-sah saja, dengan anggapan bahwa tidak ada istilah kafir dan musyrik karena semua agama di dunia adalah benar. Jalan boleh beda-beda namun tetap satu tujuan yakni penyembahan kepada Tuhan Sang Maha Transenden. Jadi menurut mereka Bush dan Blair bukan orang musyrik, mereka juga penganut agama kebenaran. Sah-sah saja mendoakan kebaikan untuk mereka. Begitukah…? Sesungguhnya mereka telah dibutakan mata dan hatinya dalam melihat kebenaran. Allohua’lam.

Maraji’: 1. Alqur’anul Karim, 2. Sabili, 9/X/2003
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
dipublikasikan di tahun 2003
diedit kembali 13:59 14 Januari 2006

Cuma Kisah Sederhana (3)


Cuma Kisah Sederhana (3)

Dalam sebuah halaqoh (pertemuan) di sebuah masjid di bilangan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang Syekh berasal dari Timur Tengah yang juga veteran perang Afghanistan sedang memberikan taushiyah kepada sekelompok anak muda yang dengan tekun menyimak semua perkataannya dengan bantuan seorang penerjemah.
Pada saat mereka asyik mendengarkan, tiba-tiba Sang Syekh terdiam saat melihat kedatangan seorang tua yang memasuki masjid tersebut. Ini membuat yang lainnya terheran-heran. Ditambah pula Sang Syekh tidak lagi melanjutkan taushiyahnya. Bahkan beliau meminta semua hadirin yang ada dalam halaqoh tersebut untuk diam sejenak.
Sang Syekh tampaknya tertegun dan terus memandangi orang tua yang saat itu sedang melakukan shalat. Beberapa saat, orang tua itu sudah menyelesaikan shalatnya. Setelah berdzikir dan berdoa, ia pun melangkahkan kakinya keluar masjid sambil tak lupa mengucapkan salam kepada peserta halaqoh.
”Subhanallah,” seru Sang Syekh.
”Ada apa Ustadz?” seorang hadirin bertanya keheranan.
”Masya Allah,” ucap Sang Syekh tidak menjawab.
”Memang ada apa Ustadz?” tanya hadirin yang lain.
Terlihat Sang Syekh masih melantunkan dzikirnya lagi nyaris tanpa terdengar. Hening sejenak.
”Tahukah kalian apa yang sedang aku rasakan,” tanya Sang Syekh dibantu oleh penerjemah.
”Tidak Ustadz!,” jawab hadirin hampir serentak.
”Saat aku melihat orang tua yang memasuki masjid tadi, hatiku langsung tergetar. Aku merasakan keteduhan yang sungguh luar biasa saat melihatnya. Aku merasakan seperti ada cahaya yang memancar darinya. Cahaya ketenangan. Cahaya yang hanya dimiliki oleh para orang sholih. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bangun di sepertiga malam terakhir. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Mahasuci Allah dan Segala Puji hanya untuk Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang tua sepertinya,” tutur Sang Syekh panjang.
”Oleh karena itu aku meminta kalian untuk diam sejenak sampai orang tua itu selesai melaksanakan hajatnya. Sambil aku menikmati apa yang Allah berikan kepadaku. Nikmat merasakan ketenangan, kekhusyu’an, dan keteduhan dari orang tua itu. Sungguh, sungguh, sungguh luar biasa orang tua itu,” lanjutnya lagi. “Aku harus belajar banyak kepada dirinya, kepada kalian aku sarankan pula untuk menggali ilmu padanya.”
”Tahukah kalian siapakah dia?” tanya Sang Syekh kepada para hadirin.
”Ia adalah pemilik yayasan pendidikan Islam di sebelah Masjid ini Ustadz, ”jawab salah satu hadirin. ”Masjid ini pun dikelola oleh yayasan tersebut.”
”Ustadz Hasib namanya.”
***
Natijah (buah) dari keimanan seseorang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya, yang tentunya pula memiliki kadar keimanan yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan dalam tataran orang biasa pun natijah itu dapat dirasakan. Dengan tutur katanya yang halus, keteduhan yang terpancar dari wajahnya, sikapnya yang lemah lembut, pancaran mata yang menyejukkan, tiada yang keluar dari mulutnya kecuali kebaikan dan hujjah yang kuat.
Dengan keteguhan, kesabaran, dan kesalihan yang ia miliki maka siapa yang tidak mengenal Ustadz Hasib, seorang yang menjadi ’awwalun’ dalam pergerakan dakwah kontemporer di bumi Indonesia ini. Yang kemudian pergerakan tersebut memasuki dan menempuh salah satu dari sekian banyak wasilah (sarana) dalam berdakwah, menjadi sebuah partai Islam berlambang dua bulan sabit yang mengapit padi menguning.
Saatnya semua itu tidak hanya dirasakan oleh Sang Syekh, tapi seluruh umat di penjuru tanah air ini, bahkan kepada semua golongan. Karena sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil’alamiin.
Allohua’lam bishshowab.

dedaunan di ranting cemara
masih mencari kisah-kisah pencerahan lainnya
22:42 12 Desember 2005

Bermoral atau Tidak?


09.09. 2005 – kita ini bermoral atau tidak sih…?

Peradaban Islam yang disokong oleh kekuatan Ummat pernah mencapai puncak kegemilangannya. Kekuatan ummat terbentuk karena adanya enam unsur pembentuknya yakni:
1. Quwwatul ‘Aqidah;
2. Quwwatul ‘Ilmu;
3. Quwwatul Akhlak;
4. Quwwatul Ukhuwah;
5. Quwwatul Jama’ah;
6. Quwwatul Maal.
Kekuatan Akhlak yang menjadi pilar dari pembentuk peradaban itu menjadi inspirasi dari para generasi penerus untuk tetap mencontoh akhlak Rosululloh Muhammad SAW.
Suatu peradaban tidak akan mungkin terbentuk jika tidak ada kekuatan ummat yang menjadi tenaganya. Kekuatan ummat tidak akan terbentuk jika tidak ada pilar itu. Misalnya kekuatan Maal (harta). Kekuatan Harta tidak akan terbentuk jika tidak ada dari kaum muslimim yang ikhlas merelakan hartanya. Dan bagaimana mungkin akan rela kaum muslimin menyerahkan hartanya sedangkan para pengumpul infaq dan zakat itu bertindak tidak amanah dan jujur.
Maka sesungguhnya bukan sebuah utopia untuk mewujudkan citra aparat pajak yang bersih, jujur, berakhlak, dan bermoral. Yakni dengan mengimplementasikan akhlakul karimah dalam kehidupan kita sehari-hari, dan itu jelas harus dimulai dari diri kita sendiri. Karena sesungguhnya terbentuknya sebuah peradaban itu dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, lingkungan terdekat, lingkungan masyarakat, bangsa, dan Negara. Dan mulai bertekad pada saat ini untuk memulai yang kita mampu terlebih dahulu.
Hadits Riwayat Attarmidzi:
“Sesungguhnya muslimin yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya”
“Tidak ada sesuatu yang lebih berharga yang dimiliki orang mukminin dihari kiamat kecuali akhlak yang baik.
dedaunan di ranting cemara
di balik arsip lama (tapi bukan kutu yang ada di buku) 2004
16:28 09 September 2005