PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL


Monday, July 31, 2006 – PORNOGRAFI ITU MASALAH KECIL

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL

“Saat ini ideologi Pancasila menjadi semakin jauh dari Bangsa Indonesia. Banyak tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan nilai Pancasila. Bahkan sering kali, hal-hal kecil diributkan dan melupakan hal besar yang justru hilang dari kita. Misalnya saja sumber daya alam yang menipis karena dijual ke perusahaan asing.” (Kompas, 28/7)

Hal ini terungkap—seperti diberitakan Kompas—pada dialog publik yang diadakan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan pada hari Kamis yang lalu (27/7) bertema: ”Penegasan Sikap Kebangsaan Kita”. Sebagai pembicara pada acara ini adalah mantan Ketua MPR Amin Rais, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, serta pengamat ekonomi Hartojo Wignyowijoto. Hadir dalam acara itu pula adalah Gubernur Sutiyoso dan tokoh-tokoh partai politik lainnya.

Tidak ada yang mengganjal di hati saya saat membaca berita tersebut sebelum dua paragraf terakhir yang berisi penegasan dari Amin Rais bahwa yang dimaksud hal-hal kecil yang diributkan itu adalah masalah RUU Pornografi.

Kita simak apa yang dikutip oleh Kompas:

Sebenarnya, menurut Amin, di situlah persoalan bangsa, yaitu dijualnya sumber daya alam kepada asing, bukan lalu banyak hal-hal kecil yang diributkan.

”Saya sudah lama mencari sebab mengapa bangsa ini mundur, ditinggal negara lain, bahkan oleh negara yang lebih muda. Kemudian banyak perdebatan, misalnya tentang RUU Antipornografi dan Pornoaksi, padahal bukan di situ masalahnya,” ujar dia.

Saya memang pernah mendengar sebelumnya bahwa Amin Rais pernah mengatakan hal yang demikian. Tapi saya anggap perkataannya adalah perkataan dari seseorang yang mengalami Post Power Syndrom. Jadi saya menganggapnya biasa-biasa saja dan cuma angin lalu. Nanti juga hilang dengan sendirinya.

Tapi dengan statement-nya pada acara itu, membuat saya berpikir lagi, bahwa Amin Rais memang konsisten dan serius dengan masalah keremehan dari pornografi dan pornoaksi tersebut. Dan ini jelas sungguh mengecewakan sebagian umat yang bekerja keras menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran.

Bagaimana tidak, hal itu dikatakan oleh seorang mantan ketua organisasi masyarakat Islam terbesar kedua di Indonesia dan pula yang pernah menjadi ikon perlawanan umat terhadap orde baru.

Dengan pernyataannya itu ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:

Ia jelas menegasikan bahwa pornografi dan pornoaksi sebagai penyebab kehancuran bangsa ini. Dan ia konsisten sejak tahun 1997 bahwa semuanya karena perampasan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tidak ada yang salah jika ia tetap berkomitmen dengan perlawanannya itu namun seharusnya jika ia lebih bijak dan bisa menahan diri, tak perlu untuk membuat perbandingan atau peremehan terhadap tema besar perlawanan dari sebagian umat lainnya pada saat ini.

Pun dengan demikian ini jelas menimbulkan friksi dan prasangka berkepanjangan terhadap komponen umat lainnya yang seharusnya tidak ada. Bagi umat apa yang ia lakukan adalah seperti menggunting dalam lipatan.

Bahkan menurut saya dengan pernyataannya yang menganggap bahwa masalah bangsa ini bukan pada masalah pornografi dan pornoaksi, sebagai suatu penantangan terhadap ayat-ayat Allah yang begitu banyaknya membahas masalah kemunkaran ini. Dan seperti menafikan berbagai musibah yang datang ini karena ulah manusia akibat dari nafsu syahwat yang diumbar begitu saja.

Umat memang perlu disadari bahwa betapa kekayaan alam bangsa Indonesia ini dikuras habis dan hanya menguntungkan asing saja, sehingga dengan demikian timbul kesadaran bahwa umat perlu menjaga kekayaan ini dan menjaganya, mengelolanya untuk kepentingan umat juga.

Namun demikian umat pun tidak ketinggalan pula harus disadarkan bahwa pronografi dan pornoaksi sudah terang-terangan di depan mata dan akan menjadi bom waktu bagi generasi muda. Dan umat tidak menginginkan bahwa generasi ini menjadi generasi tanpa moral yang tidak menghormati nilai-nilai agama.

Sebenarnya dengan data statistik yang dikeluarkan oleh para pendukung RUU APP, menunjukkan bahwa betapa korban-korban dari ketidaktegasan pemerintah dalam memerangi kemaksyiatan itu senyatanya ada dan mengkhawatirkan bagi para aktivis dan pemerhati masalah moral. Karena korbannya kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sendi-sendi kemajuan suatu peradaban yang kuat yaitu keluarga akan menjadi lemah dan rusak karena pornografi. Kita tidak menginginkan peradaban materialis ala Amerika Serikat yang ditopang oleh masyarakat yang sakit dan tanpa ikatan keluarga—karena ini pula banyak para ahli memprediksikan bahwa kehancuran Amerika Serikat tidak akan lama lagi.

Hamil di luar nikah, kawin cerai, single parent, anak tanpa ibu dan bapak, anak-anak jalanan, gank-gank hitam, lesbian, homoseks, narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, phedophilia menjadi penyakit masyarakat akut dalam keseharian di negara adidaya itu. Dan ini jelas semuanya adalah hal-hal yang sangat dihindari oleh umat Islam yang menginginkan kejayaannya kembali kepangkuannya.

Hal yang dilupakan oleh Amin Rais bahwa sesungguhnya peradaban suatu bangsa tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja dengan melupakan aspek yang lainnya. Sayyid Sabiq tidak melupakan kekuatan akhlak dan maal (harta) dalam enam prasyarat membangun suatu peradaban. Sehingga tidak bisa satu dengan yang lainnya saling menafikan. Tidak bisa untuk saling dikecilkan. Semuanya harus ada.

Akidah yang bersih, ilmu yang mumpuni, akhlak yang tinggi, ukhuwah yang erat, jama’ah yang kuat, dan maal yang banyak menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun peradaban, untuk membangun Indonesia. Dengan sinergi dari berbagai komponen umat tentunya.

Sinergi dari Amin Rais yang berkomitmen tinggi untuk pengembalian harta umat kepada umat. Muhammadiyah dan Nahdhatul ’Ulama dengan pengembangan ilmunya. Ma’had-ma’had Ahlussunah Waljama’ah yang mengajarkan akidah yang bersih dari kemusyrikan. Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam masing-masing sebagai penjaga ukhuwah dan moral. AA Gym dengan pesantren Darut Tauhid-nya dalam penggemblengan pejuang Islam ber-akhlakul karimah. Dan masih banyak lagi peran-peran dari ormas atau komponen umat Islam lainnya yang saling mengisi dan bersinergi.

Maka bila ini terwujud, bangsa ini tidak mundur, dan persoalan yang dikhawatirkan Amin Rais akan cepat terselesaikan. Dan tidak akan ada lagi kegundahan seorang Amin Rais yang mengatakan pornografi dan pornoaksi itu cuma masalah kecil. Kegundahan yang malah melukai perjuangan umat.

Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

cuma resah belaka

22.11 30 Juli 2006

INULISASI


25.01.2006 – INULISASI

INUL, GUS MUS, GUS DUR
Masyarakat Indonesia kini digemparkan kedua kalinya oleh Inul dengan adanya pengharaman Bang Haji Rhoma Irama atas lagu-lagunya yang dinyanyikan oleh Inul, Annisa, Uut dan kawan-kawan. Alasannya mereka telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun.
Terelepas dari hukum syar’i mengenai musik, maka kita dapat melihat betapa pada masa sekarang, seseorang yang benar-benar dan jelas-jelas mengumbar aurat dan erotisme seksuil dihadapan ribuan bahkan jutaan pasang mata, telah dibela habis-habisan oleh para penggemarnya mulai dari kalangan artis sendiri, para wartawan, pakar hukum, feminis, pembela HAM, para “kyai”, bahkan DSH Netters pun turut turun tangan.
Secara kasarnya jelas sekali terdapat dua kubu disini. Kubu pertama “FPI” (Front Pembela Inul) yang dibelakangnya banyak juga terdapat para kyai Jawa Timur, dan kubu kedua kubu anti Inul yang dibelakangnya ada MUI (Majelis Ulama Indonesia bukan Majelis Urusan Inul), Front Anti Pornografi dan Pornoaksi, serta Bang Haji Rhoma Irama dengan PAMMI-nya.
Di sini tidak perlu saya ungkapkan argumen dari kubu kedua, yang diungkapkan disini adalah argumen kubu pertama antara lain sebagai berikut:
1. Konsultan Hukum menyatakan bahwa ia akan mengumpulkan sejuta tanda-tangan untuk terus mendukung kreatifitas Inul (yang menurut kalangan dari Kubu Kedua kreatifitas Inul hanya sebatas kreatifitas pantat belaka, maaf);
2. Feminis menyatakan bahwa telah terjadi ketidakadilan gender;
3. Salah satu Artis Sinetron penggerak demo mendukung Inul menanggapi seruan Bang Haji dengan menyatakan bahwa Tuhan yang mana yang diserukan Bang Haji? Dan umat yang mana dibelakang Bang Haji? Tak perlu bawa-bawa agama dong dalam urusan beginian?;
4. Pembela HAM menyatakan bahwa telah terjadi pemasungan terhadap seseorang untuk berkreatifitas;
5. Gus Mus (Mertuanya Ulil Absar Abdilla) menyatakan bahwa goyangannya Inul merupakan goyangan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci;
6. Gus Dur menyatakan bahwa tidak ada yang berhak melarang seseorang tampil di TV kecuali Mahkamah Agung.
Ada tambahan beberapa komentar lagi dari DSH Netters, salah satunya pernah berujar bahwa ada hikmah yang dapat diambil dari “ngebornya” Inul. Bahkan ada yang sampai menyatakan bahwa “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya”.
Komentar dari konsultan hukum, feminis, artis sinetron, pembela HAM sepertinya tak perlu ditanggapi pula karena kita tahu siapa mereka. Tentunya mereka memandang dari satu sisi saja yakni sisi “berkesenian”nya Inul.
Komentar dari salah satu DSHNetters tentang ada hikmah yang dapat diambil sudah ditanggapi oleh Saudara kita Al-Itsar yang pada intinya kita harus melihat terlebih dahulu seberapa besar mudharat atau manfaat yang timbul dari “sesuatunya” Inul itu dan kita tahu dengan jelas mudharatnya ternyata sangat jauh lebih besar dari manfaatnya.
Yang perlu “sedikit” (tidak perlu banyak-banyak soalnya kalau terlalu banyak buang-buang energi saja) kita cermati adalah komentar-komentar dari dua kyai kita ini, yang dua-duanya adalah juga satu daerah dengan Inul, sama-sama orang Jawa Timur.
Saya tidak tahu apakah pembelaan mereka terhadap Inul karena sama-sama satu daerah atau karena Inul adalah salah satu ikon yang akan menjadi maskot PKB kelak di 2004? Semoga saja tidak. Semoga pembelaan mereka semata-mata karena membela Muslim yang “teraniaya” (menurut mereka), tapi anehnya pembelaan mereka sepertinya tidak terlihat ketika benar-benar terjadi penganiayaan bahkan sampai terjadi pengusiran dan penghilangan nyawa atas ribuan saudara-saudara Muslim yang ada di Ambon dulu? Allohua’lam.
Kalau berargumen bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan lalu mengapa kita diperintahkan Allah bahwa untuk selalu memusuhi musuh yang nyata yakni Iblis dan para syaitan yang jelas-jelas mereka adalah juga ciptaan Tuhan juga.
Harusnya kalau Gus Mus tetap ngotot bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan, kiranya perlu ditambahkan dibelakangnya dengan kalimat “yang wajib kita perangi” karena asal muasalnya dari syaitan yang berusaha menggoda manusia dengan bangkitnya syahwat dan bukan dari Allah langsung, karena Allah adalah Maha Suci dan Maha Sumber Kebajikan. Lagi-lagi di sini kita memakai logika ‘aqidah, logika Asmaul Husna.
Bahkan argumen “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya” terbukti keliru besar karena ternyata goyangan itu dilakukan Inul tidak hanya di dihadapan suaminya saja namun di depan jutaan pasang mata yang bukan muhrimnya. Jadi jelas sekali itu bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci.
Kalaupun subjek pelakunya bukanlah Inul tapi para istri yang berusaha menyenangkan hati para suaminya, bisa-bisa yang timbul dalam benak para suami yang tak kuat iman adalah fantasi seks dengan citra Inul (maaf) yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam.
Tentang komentar Gus Dur, kita pun tahu beliau hanya tahu dari bisikan orang-orang di samping beliau. Semoga dengan silaturahim Bung Haji dengan beliau, membuka “mata” dan “mata hati” kita tentang perlunya mengedepankan etika moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah satnya kita perlu mengusahakan adanya televisi Islam yang berasal dari umat, oleh umat, dan untuk umat.
Ada satu keresahan dalam hati saat mula terjadi Inulisasi ini, yakni saat MUI yang beranjur kepada umatnya. Tak ada sambutan hangat bahkan pertanyaan, hujatan, cacian kepada sebagian ulama kita.
Contohnya pembelaan sebagian teman-teman saya di kantor, dan anehnya sebelum melakukan pembelaan terhadap Inul mereka akan memulainya dengan kalimat berikut ini: “saya tahu Islam telah melarang hal yang demikian, tapi bla…bla…bla…” Sebelum pernyataan itu berubah menjadi perdebatan panjang. Saya hanya berbicara demikian: “stop…stop…stop…itu saja, pakai yang di awal kalimat itu”. Saya tak tahu hukum mana lagi yang begitu sempurna mengatur kehidupan kecuali Al-Islam.
Adalagi teman saya yang lain bertanya, “mengapa harus Inul bukan yang lainnya yang lebih erotis dan lebih gila lagi?” Menurut saya itu karena Inul yang ini begitu di Blow up dan dibesar-besarkan oleh media. Kalau kita membiarkan yang satu ini muncul dengan adem ayem saja maka Inul lainnya akan senantiasa menghiasi layar televisi kita dengan santainya dan tanpa rasa bersalah. “ Satu-satu Bung…..!”
Teman saya yang satu lagi bertanya, “kenapa tidak memberantas terlebih dahulu VCD porno yang jelas-jelas meresahkan masyarakat? Lagi-lagi saya bilang “satu-satu Bung…” dan MUI pun sudah tak perlu memfatwakan haramnya VCD Porno karena Islam sudah dengan jelas dan terangnya menjelaskan tentang keharamannya.
Di sini pun karena pemerintah dan kaum feminis di satu sisi dan masyarakat anti pornografi di sisi lain masih berdebat dalam hal definisi pornografi. Menurut saya mengingkari kewajiban menutup aurat itu sudah merupakan aksi porno itu sendiri.
Yang lebih miris lagi, banyak orang berbondong-bondong untuk segera berdiri di belakang kemaksiatan, melihat semua ini bagaimana Allah akan segera menghilangkan segala azab dan bencana yang menimpa bangsa dan Negara ini. Sungguh dunia ini terbalik.
Akhirnya bersyukurlah kepada Allah atas “penglihatan” yang diberikan-Nya kepada kita, sehingga kita langsung jelas melihat mana yang sesungguhnya haq dan mana yang sesungguhnya bathil. Sehingga kita tak perlu tersesat terlebih dahulu untuk menuju yang haq itu. Untuk itu, tak lupa pada setiap akhir sholat selalu kita lafalkan” Ya Alloh tunjukilah yang haq itu haq sehingga kami bersegera untuk selalu menujunya, dan tunjukilah yang bathil itu bathil sehingga kami pun bersegera untuk selalu menjauhinya.”
Semoga tulisan ini bukan juga untuk membuat Inul semakin di Blow Up.
“Teu aya dei ugi abdi ucapkeun, mung salam ukhuwah, kahormatan, hapunten ka sadayana ti abdi, saudara seiman. Allohua’lam bishowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2004
Diedit 12:38 24 Januari 2006

Anti Pornografi = Munafik?


d24.01.2006 – Anti Pornografi = Munafik?

Judul di atas adalah judul sebuah tulisan yang dibuat oleh Jonru. Si pemilik nama asli Jonriah Ukur ini mengumpulkan dan menulis tentang argumen-argumen yang selalu disampaikan para penyuka pornografi. Tentunya ada pula jawaban untuk setiap argumen itu.
Saya kira ini bermanfaat sekali untuk menambah wawasan dan meneguhkan keyakinan kita terhadap bahayanya pornografi. Dan sesungguhnya beribu cara Iblis dan jutaan tentaranya untuk mempersiapkan segala tipu dayanya di balik argumen-argumen cantik, indah, dan humanis, tapi sesungguhnya tipu daya mereka adalah lemah:
76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Annisa 4:76)
Seperti permintaan si penulis sendiri bahwa tentu apa yang diungkap di sini adalah sedikit dari banyak argumen. Oleh karena itu, kalau Pembaca mempunyai argumen lain yang biasa diungkap para penikmat pornografi, mohon untuk di tulis dan diberikan bantahan logis, sederhana, telak, dan menohok. Sehingga mereka tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, terdiam seribu bahasa, ibarat kata tenggorokan mereka tersedak tidak hanya oleh buah Kedondong tapi juga dengan buah Durian lengkap dengan kulit-kulitnya. (Emang enak…?)
Tulisan ini sedikit saya edit (siap-siap untuk menjadi editor) agar gaya bahasa ngeblognya dan penulisannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa mengurangi sedikitpun inti dari apa yang dia ungkap.
Kalau Anda terhubung dengan internet, sila untuk melihatnya langsung di blog Jonru, tepatnya di http://jonru.multiply.com/journal/item/143. Selamat menikmati.
***
Salah satu tudingan yang paling menggelikan dari orang-orang yang propornografi terhadap orang-orang yang anti pornografi adalah: ”MUNAFIK LU!”.
Selain itu, masih banyak argumen-argumen lain yang tak kalah lucunya.
Berikut saya sarikan beserta bantahannya. Jika ada teman-teman yang mau
menambahkan, dipersilahkan ya….
Argumen #01:
Orang yang anti pornografi adalah orang munafik, di satu sisi mereka menentang, tapi di belakang diam-diam menikmatinya
Jawaban:
Para penentang pornografi melakukan aksi kontra seperti itu, bukan
karena mereka tidak suka hal-hal yang berbau seks. Sebagai manusia
normal, tentu saja mereka suka.
Dan justru karena suka itulah mereka menentang pornografi.
Mereka telah tahu dampak buruk pornografi. Mereka tidak mau dampak buruk
itu menimpa orang lain. Karena itulah mereka menentang pornografi.
Info selengkapnya bisa dibaca pada tulisan saya: Saya suka pornografi (http://jonru.multiply.com/journal/item/138 ) Lagipula, sepertinya istilah “munafik” yang Anda gunakan itu tidak tepat.
Mari kita lihat apa pengertian munafik yang sebenarnya: Berdasarkan ajaran Islam, munafik adalah ciri manusia yang tidak taat beragama, tapi dari luar ia mencoba memunculkan kesan bahwa ia sangat alim dan ahli ibadah. Ia juga diam-diam memusuhi Islam dari dalam. Inilah pengertian munafik yang sebenarnya.
Argumen #02:
Majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur
Jawaban:
Alasan ini biasanya dilontarkan oleh sebagian orang yang anti pornografi. Walau saya sama antinya dengan mereka, saya tidak setuju dengan alasan ini. Budaya adalah ciptaan manusia yang akan terus berubah.
Mungkin saat ini majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur. Tapi bagaimana kondisi lima tahun lagi? Siapa tahu, majalah yang lebih vulgar dari Playboy pun sudah dianggap sangat biasa. Tahun 1940-an, orang pacaran tak berani bergandengan tangan di tempat umum. Tabu. Tapi kini? Berciuman di depan umum pun sudah biasa.
Budaya, norma masyarakat, dan seterusnya, tidak bisa dijadikan patokan dalam hal ini. Kalau mau menentang pornografi, pakailah ajaran agama (Islam) sebagai patokannya. Ajaran Islam sangat tegas mengenai hal ini, dan tidak berubah sejak dulu hingga kiamat nanti.
Argumen #03:
Majalahnya belum terbit, tapi kok sudah ribut duluan?
Jawaban:
Memang pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya tak
ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat bagaimana
medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti. Mungkin ia akan
dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin pula tidak terlalu
vulgar.
Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan
meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya
tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti majalah Gatra
atau Sabili.
Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat
pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang
mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana.
Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya
belum terbit?
Argumen #04:
Kenapa hanya Playboy yang diributkan? Toh, selama ini sudah banyak media
sejenis yang bertebaran di mana-mana?
Jawaban:
Anda sepertinya jarang membaca koran atau menonton televisi, ya?
Sudah begitu sering para aktivis anti pornografi melakukan aksi demo.
Mereka menentang hal-hal porno seperti itu. Tapi berhubung sekarang
majalah Playboy sedang naik daun, maka kita mempergunakan kesempatan ini
untuk menentang Playboy. Ini hanya masalah momentum. Bukan berarti kami
tidak peduli pada media porno lainnya.
Argumen #05:
Ini tidak porno, kok. Ini karya seni. Tampilannya elegan dan intelek.
Jawaban:
Saya mau jawaban jujur dari Anda, para pria sekalian. Ada foto seorang wanita yang sangat seksi dan tanpa busana, dikemas dengan selera seni yang amat tinggi, bahkan terkesan amat elegan dan berkelas. Apakah kemasan seperti ini berhasil menghilangkan nafsu birahi Anda ketika melihat tubuh si wanita?
Kalau jawaban Anda Ya, okelah. Argumen Anda saya terima
Kalau jawaban Anda Tidak, maka argumen Anda akan saya tertawakan!
Ketahuilai, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi “perasaan bersalah” yang muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media pornografi.
Argumen #06:
Kalau mau menentang Playboy, berantas dulu majalah-majalah porno yang sudah banyak beredar di Indoensia. Juga VCD porno dan sebagainya.
Jawaban:
Inilah strategi mengelak yang amat menggelikan. kalau kita berteriak: “Kami anti Playboy,” maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang VCD porno yang duluan ada?
Kalau kita berteiak “basmi VCD porno”, maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang majalah Popular yang telah dulu ada?” Kalau kita berteriak “breidel majalah Popular”, maka mereka berkata,”kenapa Anda tidak melarang bla bla bla…” Demikian seterusnya. Ini benar-benar argumen yang tidak mutu!
Lagipula, argumen seperti ini seolah-olah menuding para anti pornografi sebagai pihak yang memberikan iklim yang kondusif terhadap maraknya pornografi. Kalimat “berantas dulu VCD porno” dan sebagainya, sepertinya memperlihatkan bahwa mereka sedang lupa satu hal: Yang seharusnya memberantas hal-hal seperti itu adalah pihak kepolisian, dan pemerintah.
Nanti kalau ada kelompok anti yang melakukannya secara sepihak, misalnya FPI, Anda langsung mencibir lagi. Hehehehehe… Serba salah deh, Anda ini!
Argumen #07:
Anda bilang, pornografi itu meresahkan masyarakat. Masyarakat yang mana?
Toh faktanya, orang yang suka pada majalah porno jumlahnya jauh lebih besar.

Jawaban:
Jika ada 10 orang yang berkumpul, dari 9 di antara mereka mengatakan 1 + 1 = 3, sedangkan yang satu orang mengatakan 1+1 = 2, siapakah yang benar?
Kalau Anda mengatakan “jumlah orang yang doyan majalah porno jauh lebih besar”, maka Anda termasuk orang yang setuju bahwa 1 + 1 = 3. Anda hanya melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak. Padahal suara terbanyak belum tentu benar.

Argumen #08:
Itu semua tergantung moral orangnya, kok. Kalau otaknya sudah ngeres,
lihat kambing aja bisa langsung birahi. Apalagi lihat majalah porno.

Jawaban:
Sepertinya kita terbiasa untuk melihat masalah secara tidak
proporsional. Ada wanita yang berpakaian seksi dan mencoba menggoda pria
lewat penampilannya yang merangsang itu. Dan ketika ada pria yang
mengusilinya, kita semua menyalahkan si pria. Sedangkan si wanita kita
sebut sebagai orang modern karena penampilannya mengikuti perkembangan
jaman.
Kita hanya terbiasa menyalahkan orang yang terjebak melakukan kesalahan.
Ini benar-benar tidak adil. Seharusnya, kedua pihak harus disalahkan. Si
penggoda salah, di tergoda juga salah.
Jadi ketika ada orang yang berpikiran mesum setelah membaca Playboy,
apakah kita hanya menyalahkan orang tersebut dan tidak menyalahkan Playboy? Hihihi.. betapa tidak adilnya dunia ini!
Argumen #09:
Di negara-negara yang sangat permisif terhadap pornografi, kehidupan
mereka normal-normal saja kok.
Jawaban:
Negara mana yang anda maksud? Amerika? Coba tengoklah lebih dekat. Budaya kumpul kebo di sana telah membuat tatanan kehidupan mereka hancur lebur. Banyak anak yang tidak tahu siapa orang tuanya. Banyak orang yang kesepian karena tidak punya pasangan hidup yang setia. Mereka sepertinya baik-baik saja. Tapi coba Anda simak
kehidupan mereka lebih dekat. Janganlah Anda terbuai oleh indahnya film2
hollywood.
Argumen #10:
Playboy dan majalah porno lainnya hanya untuk konsumsi 21 tahun ke atas.

Jawaban:
Oh, apakah ini berarti: hanya orang yang berusia di bawah 21 tahun yang
akan dikenai dosa jika membaca media porno? Apakah orang yang berusia 21
tahun ke atas bebas dari dosa-dosa seperti itu?
Argumen #11:
Masalah dosa dan agama, itu urusan pribadi masing-masing. Jangan
bawa-bawa agama dalam hal ini. Lagipula, yang menentukan dosa itu kan
Tuhan, bukan kamu.
Jawaban:
Kalau agama adalah urusan pribadi masing-masing, kenapa harus ada ulama
atau ustadz? Apakah salah jika kita menasehati orang lain untuk berbuat baik dan
meninggalkan hal-hal yang tidak baik?
Kalau Anda berkata itu tidak baik, maka Alebih baik kembali ke masa
SD dan memarahi para guru Anda yang telah memberikan Anda pelajaran budi
pekerti dan sebagainya.
Dalam konteks tertentu, agama memang urusan pribadi. Tapi setiap
penganut agama juga berkewajiban untuk saling mengingatkan dengan
saudara-saudaranya yang lain.
Soal dosa, memang itu ditentukan oleh Tuhan. Tapi Tuhan juga telah
memberikan penjelasan lewat kitab suci bahwa pornografi itu dosa. Apakah
ini belum jelas bagi anda?
Argumen #12
Batasan porno itu kan relatif!
Jawaban:
Kalau Anda seorang muslim, coba Anda baca Al Quran. Di sana sudah
dijelaskan dengan amat tegas mengenai aurat dan sebagainya.
Argumen #13
Sudahlah, biarkan saja pornografi beredar. Yang penting kita bisa
mengendalikan diri, tidak ikutan menikmati!
Jawaban:
Dari segi pribadi, Anda benar. Tapi apakah Anda tidak peduli pada
masyarakat umum yang tidak bisa mengendalikan diri?
Atau jika Anda tidak peduli pada mereka, apakah Anda tidak peduli pada
anak, ponakan, dan saudara-saudara anda lainnya? Apakah Anda yakin,
mereka juga bisa mengendalikan diri seperti Anda?
Terimakasih dan wassalam, JONRU.
***
Jadi itulah sedikit dari berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh mereka yang mengaku (atau tidak) sebagai penikmat pornografi. Kalau memang pembaca adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada niat untuk menyelamatkan kita sendiri, anak-anak kita dan keluarga dari bahaya pornografi ini, maka sudah selayaknya untuk menyebarkan pesan-pesan ini kepada teman-teman kita.
Untuk teman-teman yang seide, diharapkan dengan adanya ini semakin menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Tentunya juga ini berguna buat teman-teman yang secara alami memang tidak atau belum bisa berbicara di depan umum dan tidak mampu untuk berdebat ataupun sekadar berbicara atau menjawab argumen sedikit kepada lawan bicara.
Dan untuk teman-teman yang pro pornografi, maka diharapkan pula dengan adanya jawaban-jawaban yang ada di sini, tidak sekadar terdiam seribu bahasa karena tercekik kulit buah durian mendapatkan jawaban yang telak itu, namun pencerahan dan kesadaran itulah yang kita harapkan dari mereka. Tentunya bila Allah berkehendak, yang penting kita telah berupaya semaksimal mungkin.

Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:41 21 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan