Tadi Malam


tadi malam
senandung hujan sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tertidur
tuk memilih mimpinya sendiri
anggap saja ia adalah calon bidadari surgamu
(itupun kalau kau tak rasakan pedihnya neraka)

tadi malam
ritmis gerimis sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tersungkur dalam sujud panjangnya
tuk memilin untaian do’anya sendiri menjadi selendang pembuka pintu langit
anggap saja ia adalah satu paragraf dalam satu bab di buku kehidupanmu

tadi malam
harum tanah sempat berbisik padaku
: persiapkan saja bekalmu
tuk menuju terminal terakhir itu
raih cita-cita tertinggimu
rengkuh syahid tanpa cintanya
biarkan mewangi misik menjadi tanda persaksian itu

tadi malam
guruh guntur menggemparkan mega mendung
dengan kilat putihnya pula
sadarkan aku bahwa aku masih menjejakkan kaki
di tanah ini
jauh dari detik-detik pertaruhan nyawa
sempatkah aku ke sana?
sedang aku masih di sini
aku berteriak
aku tak mau jadi Ka’ab bin Malik (sang tertinggal)

tadi malam
semua yang berbisik serempak berteriak
: pergi sana…!!!!!
lupakan saja ia……..!!!!!!

………….aku terbangun.

Tanggal 12 Desember 2003
kepada kawan yang memesan untaian kata ‘tuk dibacakan pada sang-nya

Kau adalah Ia


1. suatu saat aku sempat menggombal padamu:

kau adalah ia
yang menggores putihnya kertas
menjadi bait-bait terindah di ujung lidah

kau adalah ia
yang memahat kerasnya karang
menjadi relief-relief magis di setiap rabaan

kau adalah ia
yang melukis birunya langit
menjadi mozaik awan di setiap pandangan

kau adalah ia
yang mengukir liatnya jati
menjadi kepingan-kepingan terhalus di ujung jari

lalu…
di setiap goresan
di setiap pahatan
di setiap lukisan
di setiap ukiran itu,
aku siapanya ia

2. tapi dua tahun enam bulan tujuh hari sudah, baru sempat kau jawab gombalku itu:

kau adalah ia
yang padanya kucoba labuhkan cinta

kau adalah ia
yang dengannya lahir dua pasang mata

tapi kau memang bukan IA
yang memiliki labuhan cinta sejati
yang tak pernah melukai

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kelindan para putera Jayengrana: Subrangti dan Menak Subrangta
5:51 30 Juli 2005

Buat yang mau Selingkuh: Jangan Pernah


jangan pernah

jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu…
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun
jangan pernah
jangan

bahkan sebelumnya

jangan
jangan pernah
jangan pernah sekalipun
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun engkau berbuat
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan…

karena
suatu saat
semuanya akan
mencium kebusukan itu

dedaunan di ranting cemara
di saat kebusukan itu tercium sudah
sesaat setelah membaca puisi penulis novel IMPERIA: Akmal N Basral
20:10 29 Juli 2005

Selembar Daun


selembar daun
hijau mulai menguning
layu
terjepit lembaran kertas
di halaman dua
menyucikan jiwa
said hawwa

masih terasa di ujungnya
anyir getah putih
baru terpetik tadi siang
di pinggiran jalan penuh debu

dan malamnya
lalu kau lihat,

aku sudah berasyik masyuk
me-rodi mataku pada
‘segenggam gumam’
bahkan dengan
‘aceh dalam puisi’

saat itu kau ingat tentang selembar daun

***
kukutip budi arianto untuk :
maaf tak sempat menjamu pada persinggahanmu tadi siang

dedaunan di ranting cemara, 01 Juli 2005
di antara kerumunan orang menyemut
di book fair

yang Muda Yang Naif


puisi yang muda yang naif
*********

Bisa saja kau bersuara lantang
bertanya
dimana adanya Tuhan
sampai suara habis
dengungkan posmo
sebagai ritual harian layaknya kitab suci

bisa saja kau bersuara lantang
kita sholat man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka satu
dalam satu tuts keyboard sekali saja)
tapi pikiran khusuk penuh wanita-wanita telanjang

bisa saja kau bersuara lantang
aku orang beriman man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka
satu dalam satu tuts keyboard sebanyak 999 kali)
tapi itu perlu diuji dan bukti
namun bagaimana bisa lulus
kalau masih bermimpi seksi
tebarkan seruan pada semua orang:
hei lihat, aku dekat dengan Zina
lihat aku sedang berzina,
nikmati saja kawan

bisa saja kau bersuara lantang
teriakkan kebebasan layaknya elang penguasa langit
tapi silakan kau hidup dimana hukum Tuhan tidak berlaku untukmu (emang
ada?)
naif
(bang naip, preman kampung depan komplek mati lehernya digorok setelah
pulang dari Bongkaran–Poskota)

atau silakan kau nikmati istidraj-Nya
sampai akhir itu tiba
dan hanya penyesalan menjadi kulitmu

dedaunan di ranting cemara
hanya di CITAYAM saja, 01.07 , 23 Juli 2005
menjura dengan pinta maaf yang tiada terkira pada semua
ampuni aku Ya Allah.

ps.
telah datang malaikat Jibril kepada Rosululloh dan berkata:
Ya Muhammad, hiduplah engkau sesukamu tapi ingatlah
sekali waktu engkau akan menjadi mayit;
cintailah orang yang kau cintai tapi ingatlah engkau akan berpisah
dengannya;
berbuatlah sesuka hatimu tapi sekali masa kau akan diminta
pertanggungjawabanmu dihadapan Allah.
(HR Imam Baihaqi)

Mengemis


18.7.2005 – mengemis

i. mengemis
pada malam yang sudah mengeping
aku lantang berteriak
tanpa suara
menadahkan jiwa
memungut remah-remah
:rahmat-Mu
dedaunan di ranting cemara
02.33 17 Juli 2005

ii. sudikah kau?
bila bintang-bintang masih sudi mengintip
bulan sudi menengokkan wajahnya
awan sudi menyingkirkan tubuh gelapnya
angin sudi berhenti meniup
sudikah kau rasakan indahnya malam?
lalu kau susun puzzle kerinduanmu
di atas rintihan-rintihan
hingga terdengar sampai ke ‘Arsy
dedaunan di ranting cemara
02.45 17 Juli 2005

iii. bila aku merinduimu
hai, kawan…
detik ini aku merinduimu
tapi tak cuma sesaat
sampai kapan?
lalu
apa yang harus aku lakukan?
entah…

dedaunan di ranting cemara
02.51 17 Juli 2005

5 Dasawarsa 12 Purnama


untuk bapak:
(dalam perjalanan menempuh 51 usia)

aku tak peduli
pada waktu yang terus berputar
bahkan aku tak mau tahu
pada waktu yang terus menancapkan seringainya
agar aku ingat masa kanak-kanakku
agar aku ingat masa-masa remajaku
agar aku ingat masa-masa kedewasaanku
tapi aku tetap tak mau tahu

ohhhh….
naifnya aku
karena aku tak mau tahu
sementara banyak kawan dan cerita
punya selaksa cinta bahkan berjuta
sedang aku hanya sebutir adanya
ohhhh….
sementara waktu terus menerus menyeringai padaku
tak mau berbelas kasihan

sampai…..
pada suatu titik kesadaran
bahwa aku adalah
lima dasawarsa dan dua belas purnama

wahai sang waktu…
maka saksikanlah hari ini
aku lima dasawarsa dan dua belas purnama
kuluruhkan semua energiku
atas nama cinta
cinta pada kawan bahkan pada cerita
bukan selaksa dan sejuta
tapi sedepa, sehasta, bahkan seisi mayapada
hari ini,
ada sebuah rasa yang mendesak untuk kuungkap
bahwa..
aku mencintaimu kawan…
atas nama-Nya

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kepingan tahun ke-51

Menoreh di Kacanya


20.06.2005 – menoreh di kacanya, rie…(2)

saat kenangan kembali merasuk sukma
tak ada yang dapat menghalangiku mengenangmu
tentang jalanan yang menghiba
tentang pepohonan yang mengayun tiada henti
tentang derit ban yang tiada pernah menyerah
sepanjang sore
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jangan kau ragukan tentang kata yang telah kurangkai
kata demi kata
paragraf demi paragraf
di sepanjang perjalananmu itu
jangan kau hapus bekas hembusan nafasmu di kaca
biarkan ia menjadi saksi perenunganmu
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jadikan apa yang telah kutulis tentang
“menoreh di kacanya, rie…”
sebagai sebuah hikayat dari negeri antah berantah
yang tak dapat kau temukan di segala macam referensi
sedangkan aku masih teringat akhir perjalananmu
dengan kayuhan abang becak yang terhenti di depan rumahmu
setelah itu kau jalani begitu saja akhir pekanmu
dan gundah yang menggunung hilang di sepanjang curahan hati
pada yang mencintaimu sepanjang hidup
aku merasakan apa yang kau rasakan
tapi itu dulu, bertahun sudah
walaupun terkadang tiba-tiba ingatan itu
menyengat labirin memoriku…
dan segera kuhapus
karena kau telah berbeda…
yah, kau telah berbeda.
dedaunan, di sepanjang ranting cemara, 20 Juni 2005

A Comme Amour


25.5.2005 – A Comme Amour

Tanggal merah memang menyenangkan. Di sana adalah saat untuk melepas penat setelah hari-hari melelahkan. Di sana pula lah saatnya merasakan kembali hangatnya selimut dan empuknya ranjang orang-orang metropolis sebagai pengganti kasur dulu.
Namun bagi sebagian orang, tanggal itu adalah kesempatan untuk merenda hari-harinya dengan mengajak orang-orang dan tetangga-tetangganya menuju kebaikan. Dengan mengisi majelis-majelis dan pertemuan-pertemuan yang membuat para malaikat merubung di atasnya. Namun ada pula tanggal merah adalah saatnya melanjutkan kerusakan-kerusakan di muka bumi-Nya, na’udzubillah.
Bagi saya, hari libur kemarin adalah saatnya untuk meneruskan kembali pekerjaan rumah yang terbengkalai kemarin. Mengecat pagar rumah. Yah…, pagar rumah saya yang sudah lama termakan karat, akhirnya bisa juga dicat kembali. Dengan mengecatnya maka terasa seperti baru. Ada yang indah di depan mata. Walaupun masih amatiran.
Ohya bentuk pagar saya tanpa ada mata pisaunya di atasnya loh. Menurut saya, pagar bermata tombak seperti itu, menandakan penghuninya merasa “paranoya gitju loh…”. Seperti terpenjara, sehingga perlu diamankan oleh benda semacam itu. Bahkan menurut saya, sepertinya mata tombak itu berteriak dengan nada mengancam kepada setiap orang luar. Iya sih, dulu ada rasa trauma juga dengan adanya mata tombak di setiap ujung pagar. Pernah di kampung saya ada pencuri buah Jambu Merah jatuh terpeleset dari atas pohon dan langsung tertancap di pagar itu. Tubuhnya tertusuk mata tombak. Jadi bagi saya, nggak usahlah pakai pagar dengan motif seperti itu.
Hari libur, juga saatnya untuk memperbaiki speaker masjid, yang bunyinya kurang kencang. Kini setelah diperbaiki, suaranya menggelegar tak kalah dengan speaker mushola kampung sebelah. Kini tidak ada alasan bagi saya dan tetangga-tetangga sekitar Masjid Al-Ikhwan untuk tidak sholat berjama’ah terutama sholat shubuh di Masjid.
Kumandang adzan ashar begitu syahdu kudengar. Saya lihat sebuah keluarga kecil dengan dua anak mengendarai sepeda motor berhenti di depan masjid ketika adzan terdengar. Dan mereka berlalu ketika usai. Setidaknya saya terharu kepada mereka, saya saja terkadang masih cuek beybeh, sedangkan mereka masih sempat menghentikan perjalanan mereka untuk mendengarkan adzan, walaupun mereka tidak ikut sholat berjama’ah. Tapi menurut saya, perbuatan itu tergolong langka, yang sering kita dengar adalah orang berhenti melakukan aktivitas dan melakukan penghormatan ketika Bendera Merah Putih dikibarkan. Yah, setidaknya perbuatan mereka menjadi ibroh kesekian kalinya bagi saya.
Saat kutulis ini, bulan purnama menghias malam tapi tanpa bintang terlihat mata. Itu pun terangnya tak seterang malam kemarin. Namun cukuplah itu sebagai pelezat pandangan, untuk menjadi bekal yang indah terbawa mimpi. A Comme Amour…
Jadi ingat sebuah puisi yang saya tulis lama sekali… ketika dihadapan saya tergeletak kertas putih kosong dengan pena hitam di atasnya.
entah,
kan kutulis apa
hamparan hati yang tak berbatas ini
yang adanya hanya denyut
itu – itu saja
entah,
kan kutulis apa
lembaran waktu yang tak berujung ini
yang adanya hanya detak
itu – itu saja
sedangkan,
hati itu akan berkarat
dan…
waktu itu akan habis
malunya diri
tak membuat segera berbenah
entahlah…
kan kutulis apa lagi
putihnya kertas
untukmu ini…
………………………
………………………
Lalu tiba-tiba saya kembali mengulang memori dulu tentang sebuah malam:
malam taburkan bintang
di atas sekat-sekat bilik saung
tunggu…!
terdengar hanya
suara jangkerik, katak
sesekali tingkah burung hantu
tak lupa gemericik air
meramaikan sepinya malam
jatuh dari bilah bambu tertancap di tebing
dan aku hanyalah
desiran angin
senantiasa lewat
menjadi saksi
menyelinap disela-selanya,
tapi malam tetaplah malam
yang aku kan kembali setiap saat
lewati saung itu
lewati sela-selanya…
………………………………………………………….
Pffh…sudah saatnya saya akhiri saja tulisan ini. Saatnya kembali kubuat rencana untuk esok pagi. Hingga tiada yang tak bermakna. Karena shubuh nanti saya kembali segar untuk merengkuh hari-hari yang akan menjadi milikku. Dengan penuh mimpi…dengan mengenang segala kebaikan sahabat-sahabat tercinta.
Allohua’lam.
dedicated to:
1. Ibu Kunto Wulandari, jadi ingat waktu di pantai dulu;
2. Mbak Titi disepanjang ingatan antara Kelapa Dua dan Kalibata;
3. Pak Mubari, jazzy banget gitu loh…
4. Boss Binanto, kreditur pc saya;
5. Kang Asep, semoga tak mengingat lagi down payment lalu;
6. Pak Uha Indiba, kapan jadi kakap Jakartanya pak…
7. Ananda di antara rajah cintanya…
8. Ibu Nina, kapan yah saya bisa berkunjung ke tempat Ibu
9. Littlebee dan Asa, kita disini menantikan kalian berkumpul menjadi satu, tak ada yang dapat memisahkan, entah jarak atau waktu;
10. dan semua teman-teman tercinta yang tak sempat lagi kuingat ribuan kebaikannya kepada saya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik lagi.

semboerat tempo doeloe


20.5.2005 – semboerat tempo doeloe:

tiba-tiba terbersit kilatan petir di kepalaku, mencoba mengurai kata demi kata yang lama terpendam, dalam, dalam sekali di palung hatiku. Mencoba menyapa jiwa di bumi Swarnadwipa dan di muara-muara pertempuran reptil dan ikan raksasa di timur Jawadwipa. wahai pemilik hati…. sudah lama tak kudengar kicauan ’merayu’ dari sukma-sukma kesepian perindu alam sudah lama tak kusapa tembok-tembok berlumut dari penyangga ampera dan jembatan merah penyusur waktu kini harapan membuncah dengan segumpal tanda tanya kapan lagi kicauan itu terdengar merasuk denyut-denyutku kapan lagi tembok-tembok itu bisa meratap mengajakku sambil berteriak: injak aku…injak aku, bersihkan lumut-lumut ini dariku ajak dia…ajak dia, bersamamu melihat senja turun indah dengan semburatnya ………….. ………….. Batavia, 20 Mei 2005