ISRAGHANI


ISRAGHANI
by: dedaunan
(Sekadar lara yang tak kunjung sembuh untuk Ibunda Sami Al-Sharif kerana anaknya meregang nyawa dihantam rudal Israel, kemarin)

Dukungan saya terhadap tim-tim piala dunia sudah jelas dan terang seterang matahari di siang bolong. Pertama saya mendukung kesebelasan yang punya ikatan ideologis yang sama dengan saya. Anda pasti tahu. Ya, Arab Saudi, Tunisia, dan negara-negara Afrika yang masih mempunyai jejak-jejak ekspedisi Islam masa lalu.
Kedua, dukungan saya berikan kepada tim dari Afrika secara umumnya. Ketiga, prioritas dukungan kepada tim dari Amerika Tengah dan Latin minus Argentina dan Brazil. Keempat, baru saya mendukung tim dari negara-negara Asia khususnya Asia Timur. Setelah itu, bila tidak ada dari tim-tim yang saya sebutkan di atas masuk dalam babak-babak final maka saya akan mendukung tim Argentina. Dan dalam urutan terakhir adalah Brazil. Cuma ini.
Jelas sudah tidak ada lagi yang bisa saya dukung kepada tim dari negara-negara yang tidak memenuhi kriteria di atas. Bila terpaksa harus memilih dan memberikan dukungan kepada tim-tim selain di atas maka saya harus memilih tim yang mempunyai pemain kulit berwarna terbanyak dalam squadnya. Tapi tidak sama sekali dengan tim dari Amerika Serikat. Dengan jejak militernya yang berlumuran darah di setiap jengkal bumi saya sama sekali tidak respek dengan tim ini.
Pertanyaannya adalah mengapa dalam event sekaliber Piala Dunia 2006 ini pilihan secara politik dan ideologis selalu mengemuka dalam pikiran saya. Ini cuma kekesalan saya saja melihat ketidakadilan yang menimpa banyak negara miskin, terbelakang, terbanyak berada di bagian selatan dunia yang dilakukan oleh negara kaya, besar, dan dzalim. Apalagi ditambah stereotip bahwa negara itu bependuduk mayoritas muslim.
Alhasil, saya melihat bahwa sepakbola adalah olahraga yang tepat dijadikan ajang pembuktian diri eksistensi sebuah negara yang minus harga diri. Pembuktian bahwa mereka sanggup mengalahkan tim dari negara superpower, maju, penjajah, dan mantan tuan tanahnya. Walaupun cuma dalam kompetisi olahraga, tidak pada kemiliteran dan perekonomian.
Namun, kali ini dukungan saya terkoyak habis melihat tingkah laku pemain salah tim yang masuk prioritas untuk didukung oleh saya. Pemain dari Ghana. Ya, walaupun pertandingan itu tidak saya tonton—katanya seru habis dan benar-benar mengasyikkan—saya mendapatkan berita tidak mengenakkan ini pada hari Senin (19/6) pagi kemarin di kantor.
Teman saya menceritakan tingkah laku salah satu pemain tim Afrika tersebut saat mencetak gol ke gawang Cheska, Sabtu (17/6). Ulah yang dilakukan pemain bernama John Paintsil itu adalah dengan mengeluarkan dari kaos kakinya bendera lalu mengibarkannya. Tidak masalah kalau yang dikibarkan itu adalah bendera negaranya sendiri. Namun ini adalah bendera Israel. Bendera dari negara yang sampai detik ini masih menerapkan taktik pembantaian dan genosida terhadap rakyat Palestina.
Sayangnya berita sebesar dan sesensitif itu tidak nampak di harian Republika Senin—atau karena saya tidak membaca koran tersebut pada hari ahadnya. Saya mendapatkan foto Paintsil yang sedang mengibarkan bendera itu malah dari koran harian khusus olahraga, TOPSKOR.
Namun pada keesokan harinya, Selasa (20/6), Republika pada halaman pertamanya menampilkan berita tersebut dengan judul yang sangat mencolok: Ulah Bodoh John Paintsil.
Dari sanalah saya mendapatkan bahwa masalah ini tidak hanya melukai saya secara pribadi. Tapi juga menginternasional. Masyarakat Mesir dan negara Arab lainnya yang semula mendukung Ghana, marah dan bersuara keras. Bahkan menjuluki John Paintsil—yang bermain di Hapoel Tel Aviv, klub di Liga Israel—ini sebagai orang dungu, bodoh, dibayar Israel, Agen Mossad, dan Israghani (Israel Ghanaian).
Dari berita itu saya mendapatkan alasan masuk akal tentang tingkah laku Paintsil. “Alasan sesungguhnya adalah banyak pemain Ghana dibesarkan di kamp latihan yang dibangun Israel,”tulis analis politik Hassan el-Mestekawi. “Pelatih Israel melihat bakat-bakat sepakbola Afrika sebagai lahan bisnis paling cerah. Mereka membangun tempat-tempat latihan, mendidik anak-anak miskin dan menjualnya ke klub-klub Eropa.”
Setiap pagi , sebelum berlatih, anak-anak Ghana mengikuti upacara di lapangan terbuka. ”Mereka menghormat ke bendera Israel,” ujar Mestekawi. (Republika, 20/6)
Dengan demikian jelas sudah bagaimana keberpihakan Paintsil dan kesuksesan Yahudi Israel dalam mencetak kader-kader untuk mendukung eksistensi negara penjajah tersebut.
Paintsil dan Israel kali ini juga sukses mengampanyekan perlawanannya kepada Iran. Pada piala dunia kali ini—dalam situasi dunia di antara perang kata antara Iran dan Israel—ada rencana bahwa Presiden Iran Ahmadinejad akan pergi ke Jerman untuk melihat tim kebanggaannya bertanding bila masuk ke babak kedua. Tentunya peristiwa ini bermakna luas.
Tindakan Paintsil sepertinya pula untuk mengejek Iran. Karena pada partai sebelumnya pada hari yang sama, Iran dikalahkan oleh Portugal dengan skor 0-2. Partai ini menjadi penentu bahwa Iran harus angkat kopor dari Jerman setelah dikalahkan oleh Meksiko 1-3 di pertandingan pertamanya.
Berhasil sudah kampanye tersebut dengan pesan sangat jelas yang menyuarakan: “Hei, Iran! Anda pergi, Kami (Israel) tetap di sini.” Tapi ejekan ini jelas tidak hanya untuk Iran tapi keseluruhan bangsa Arab yang sangat menentang pendudukan Israel atas Palestina.
Walaupun Asosiasi Sepakbola Ghana (GFA) telah mengajukan permintaan maaf dengan menegaskan bahwa Ghana tidak punya orientasi politik apapun terkait konflik di Timur Tengah dan berjanji tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, tapi ini tidak mencegah mutungnya publik Mesir dan negara Arab lainnya dengan adanya rencana stasiun televisi mereka untuk tidak menayangkan lagi pertandingan sisa negara tersebut.
Tidak hanya mereka di sana, saya sudah pastinya akan merasakan hal yang sama. Sepertinya saya pun harus benar-benar dingin dan membuang ekspresi kegembiraan seandainya mereka dapat mencetak gol ke gawang Amerika Serikat di Stadion Nuremberg hari ini (22/6).
Saat itulah saya dapat melihat apakah Paintsil akan mengulangi perbuatan bodohnya itu dan menganggap remeh komitmen GFA, hanya untuk memenuhi janjinya kepada rakyat Israel untuk mengibarkan Bintang David dengan Garis Biru jika Ghana dapat mencetak gol ke gawang lawan. Jika ya, betul sekali bahwa aksi kemarin adalah kado khusus dan “cantik” buat Iran. Tapi cukup menyakitkan. Tidak hanya bagi saya, tapi bagi mereka yang sudah muak dengan penindasan Israel.
Kita lihat saja nanti malam.

Fakta Angka:
Grup E
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
9 13-Jun-06 Hanover ITA:GHA 2:0 (1:0)
10 13-Jun-06 Gelsenkirchen USA:CZE 0:3 (0:2)
25 18-Jun-06 Kaiserslautern ITA:USA 1:1 (1:1)
26 18-Jun-06 Cologne CZE:GHA 0:2 (0:1)

Yang Belum Menjadi Fakta:
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
41 22-Jun-06 Hamburg CZE:ITA ????
42 22-Jun-06 Nuremberg GHA:USA ????

Fakta Lain:
1. Luas Wilayah Ghana: 238.540 km persegi hampir dua kali luas pulau Jawa.
2. Dulu bernama Pasir Emas; nama Ghana berasal dari ”Kekaisaran Ghana”.
3. Ibukota Accra;
4. Bahasa Resmi: Inggris;
5. Berbatasan di utara dengan Burkina Faso; dan selatan Teluk Guinea;
6. Bertetangga dengan Pantai Gading (di barat) dan Togo (di timur). Bersama dua tetangga tersebut Ghana sama-sama dapat mengikuti ajang Piala Dunia 2006 di Jerman;
7. Penghasil coklat terbesar di dunia dan penghasil alumunium terbesar di Afrika;
8. Pernah dijajah Portugis pada akhir abad ke-15. Pernah di bangun benteng pantai di sana oleh Inggris, Belanda, dan Denmark pada abad ke-17 dan ke-18;
9. Pada tahun 1874 dijajah Inggris dan memperoleh kemerdekaan pada tanggal 06 Maret 1957;
10. Penduduk bagian utara beragama Islam, sedangkan penduduk di bagian selatan memeluk agama Katolik.

Fakta Jejak Israel di Ghana:

In April 1959, Israel, with help from India, supervised the establishment of the Ghanaian Air Force. A small Israeli team also trained aircraft maintenance personnel and radio technicians at the Accra-based Air Force Trade Training School. Although the British persuaded Nkrumah to withdraw Israeli advisers from Ghana in 1960, Ghanaian pilots continued to receive some training at aviation schools in Israel. After Nkrumah’s overthrow, Israeli military activities in Ghana ended. (http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html)

Maraji:
1. TopSkor, Senin 19 Juni 2006;
2. Republika, Selasa 20 Juni 2006;
3. Republika, Kamis 22 Juni 2006;
4. http://www.eramuslim.com/news/int/44974db2.htm;
5. Jadwal dan Hasil Pertandingan Piala Dunia 2006 di http://10.254.28.92/sites/pialadunia/grup/jadwalhasil.aspx;
6. http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html;
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Ghana;
8. Ensiklopedi Keluarga A-Z.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:36 22 Juni 2006
caci maki silakan dialamatkan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

DUEL BEKAS KOLONI SPANYOL


Setelah golnya dianulir oleh wasit di babak kedua karena terperangkap dalam jebakan offside yang dibuat para pemain belakang Kosta Rika, I. Kaviedes melalui umpan matang Mendez akhirnya menciptakan gol indah buat Ekuador. Dan jangan lupa bahwa gol ini dibuat di menit ke-92 di babak perpanjangan waktu yang hanya empat menit lamanya.
Tentu saja stadion sepakbola di kota Hamburg kembali bergemuruh dengan sorak sorai bergembira dari para suporter Ekuador. Skor bertambah menjadi 3-0. Angka yang membuat tim dari Amerika Selatan ini dipastikan lolos ke babak kedua. Bersama Jerman tentunya yang mengalahkan Kosta Rika 4-2 dan Polandia 1-0. Sisa pertandingan terakhir tidak berpengaruh terhadap kedua tim ini.
Dan kali ini Ekuador mempertontonkon pada para penggemar sepakbola di dunia permainan menawan, kerjasama yang baik, dan gol-gol cantiknya. Dua gol indah sebelumnya dibuat dengan tandukan oleh C. Tenorio di menit ke-8 dan tendangan di sisi yang sulit oleh Delgado—sempat menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana melawan Polandia—di menit ke-54.
Tentunya kemenangan ini menghapus julukan yang melekat sebelumnya pada tim Ekuador. Yaitu julukan sebagai jago kandang. Sebagaimana diketahui bahwa Ekuador selalu menang dalam setiap pertandingan yang dilakukan di Ibukotanya, Quito yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Seperti pula Bolivia yang mendapat julukan yang sama karena letak La Paz yang tinggi pula.
Ini membuktikan bahwa para pemain Ekuador pun sanggup untuk bermain di mana saja, atau di ketinggian yang sama dengan permukaan laut seperti di Hamburg misalnya.
Kemenangan ini pun memupuskan kekhawatiran saya setelah melihat pertandingan pertamanya melawan Polandia beberapa hari yang lalu. Pertandingan di dini hari yang saya tonton dengan terkantuk-kantuk ini meninggalkan kesan pada diri saya bahwa Ekuador kalau mempertahankan permainannya seperti itu tidak akan bisa untuk melaju ke babak kedua. Apalagi menjadi juara dunia. Impossible!!!
Tapi harapan nonrealistis saya bahwa Piala Dunia akan dimenangkan oleh tim underdog, tim kuda hitam, tim selain dari Eropa, Argentina, dan Brasil kembali membuncah setelah melihat kemenangan Ekuador pada malam ini.
Ya, malam ini saya temukan tim unggulan saya. Tim yang membuat saya bisa pula larut dalam demam piala dunia. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya nanti, tapi yang pasti piala dunia bagi saya tidak akan membosankan lagi karena melihat tim-tim dari negara bola itu-itu saja. Hal yang sama ketika saya mendukung Nigeria di saat Piala Dunia 2002.
Sebenarnya tidak hanya Ekuador yang menjadi harapan, tapi ada pula Iran, Togo, Tunisia atau Arab Saudi. Namun keempat negara tersebut sampai saat ini belum ada yang membukukan kemenangan. Jikalau memang ditakdirkan bahwa tim favorit saya tidak ada yang melaju ke babak seperempat final misalnya, saya akan dukung Argentina.
Mengapa Argentina? Karena ada kenangan tersendiri buat tim ini di waktu saya masih duduk di bangku SD. Ya, sampai saat ini kemeriahan piala dunia tahun 1986 masih terbayang-bayang di mata. Teringat kelincahan Maradona pada waktu itu. Itu saja sih. Pokoke Argentina!!! 
Kembali kepada pertandingan Ekuador dan Kosta Rika malam tadi, kemenangan ini membuktikan bahwa Ekuador memang kekuatan ketiga sepakbola Amerika Latin setelah Argentina dan Brasil. Perlu pembuktian lebih lanjut di saat memainkan partai ketiga melawan Jerman.
Bisakah Ekuador dengan benteng kuartet pemain belakangnya yang kuat mampu menahan gempuran dari Tim Panser asuhan Jurgen Klinsman itu. Atau bahkan mampu balik menyerang dan mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui aksi lincah dari Mendez, Delgado, C. Tenario, De La Cruz, I. Kaviedes dan kawan-kawan.
Jika menang, Ekuador akan menjadi tim yang ditakuti di depan mistar gawang oleh tim-tim lain. Sebaliknya, maka tetap menjadi perhatian lebih dari yang lain. Kita lihat saja nanti.

Fakta Angka:
Hasil pertandingan Grup A Piala Dunia 2006 di Jerman sampai 23:43 WIB 15 Juni 2007:

Jerman 4-2 Kosta Rika
Polandia 0-2 Ekuador
Jerman 1-0 Polandia
Ekuador 3-0 Kosta Rika

Yang Belum Menjadi Fakta di Grup A:
Ekuador ?-? Jerman
Kosta Rika ?-? Polandia

Fakta-fakta lain di balik pertarungan Ekuador dan Kosta Rika.
Fakta ini di dapat dari ensiklopedi yang saya baca sambil menonton pertandingan semalam. Perlu membacanya agar didapat gambaran yang lebih utuh. Tentunya hal yang sedikit ini adalah profil selain profil sepakbola—karena hal ini banyak didapat dari koran dan majalah. Selamat menikmati.
1. Ekuador dan Kosta Rika sama-sama bekas koloni Spanyol;
2. Ekuador merdeka tahun 1822 dari Spanyol dan Kosta Rica melepaskan diri dari Federasi Amerika Tengah di tahun 1848;
3. Ekuador adalah republik yang berada di Amerika Selatan, berbatasan dengan Peru di sebelah selatan dan Kolumbia di utara. Ibukotanya Quito.
4. Kosta Rica berada di Amerika Tengah bertetanggaan dengan Panama dan Nikaragua. Ibukotanya San Jose.
5. Luas Wilayah Ekuador 270.679 km persegi. Sedangkan Kosta Rika 51 ribu km persegi;
6. Penduduk kedua negara itu lazimnya keturunan Spanyol, Indian, serta Afrika (dari bekas budak).
7. Christophorus Columbus pernah singgah di Kosta Rika di tahun 1502
8. Kota Pontianak di Kalimantan Barat sejajar pada garis khatulistiwa dengan Ibukota Ekuador, Quito.

Sumber:
1. Pertandingan Bola Langsung dengan segala komentarnya di SCTV Pukul 20.00 WIB 15 Juni 2006;
2. Peta Dunia: National Geographic Maret 2005 (Peta ini tidak mencantumkan Negara Palestina. Disana cuma ada ISRAEL, maklum saja National Geographic Society berada di Washington DC, USA);
3. Ensiklopedi Keluarga A-Z, 1991;
4. http://www.bbc.co.uk/indonesian/sports/story/2006/06/060610_hasil.shtml

riza almanfaluthi
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan di ranting cemara
23:52 15 Juni 2006

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS


Thursday, June 15, 2006 – ABB: IKON PERLAWANAN HEGEMONI AS

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS

Kemarin (Rabu, 14/06), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang setelah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan potong remisi 4 bulan dalam tuduhan terkait dengan peledakan Bom Bali I dan Bom Marriot.
Tuduhan yang menjadi dakwaan itu pun masih saja disematkan oleh banyak media nasional kepadanya pada saat ini ketika memberitakan pembebasannya. Padahal kalau mereka tidak lupa—atau memang disengaja dilupakan oleh mereka—bahwa dakwaan yang menjadi dakwaan primer yakni terkait dengan peledakan bom bali itu tidak terbukti di persidangan.
Yang membuatnya ditahan adalah karena dakwaan subsidernya yaitu pembuatan Kartu Tanda Penduduk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar Undang-undang Keimigrasian. Dakwaan yang bisa saja menimpa banyak orang di Indonesia karena bukan rahasia umum lagi kalau penduduk Indonesia masih banyak yang memiliki KTP ganda dan tidak melalui prosedur yang sebenarnya.
Jelas sudah bahwa penahanannya adalah benar-benar pesanan dan di bawah tekanan dari negara-negara yang mengaku paling demokrasi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terutama Australia sebagai kaki tangan setianya. Walaupun hal ini dibantah dengan keras oleh pemimpin pada dua masa pemerintahan terakhir republik ini.
Tekanan yang pada akhirnya berhasil membuat sebuah detasemen kepolisian antiterorisme dengan nama Detasemen 88—Angka 88 ini diambil dari jumlah korban warga Australia pada saat Bom Bali I. Yang juga bisa dituntut oleh semua pihak dengan pertanyaan: “memang yang menjadi korbannya warga Australia saja?”
Pu ini adalah tekanan yang membuat sebagian mata buta dengan kondisi yang diderita oleh ABB pada saat ia akan ditahan. Walaupun ia masih benar-benar sakit dan dalam perawatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo, ia tetap diangkut dengan paksa seperti pesakitan atau hewan buas yang akan membuat kerusakan. Dalam perjalanan ke Jakarta pun ia tidak diperbolehkan untuk buang air kecil. Sungguh ini adalah suatu kezaliman.
Padahal banyak sekali para koruptor di negeri ini hanya bermodalkan secarik surat keterangan dokter atau vonis kesehatan seperti kerusakan otak permanen masih dapat berleha-leha menikmati udara bebas. Dan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh ABB. Lagi-lagi hukum ditegakkan kepada orang-orang yang tidak berduit dan tidak berdaya.
Namun kini pembebasannya disambut dengan gembira, tidak hanya oleh santrinya tapi juga oleh banyak tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Kepulangannya dikawal dan disambut oleh ratusan santri di Ngruki, Solo.
Saat tiba di sana ia memberikan tausyiah pertamanya di pesantren AlMukmin. Ia menegaskan kembali bahwa garis perjuangan yang ditempuh oleh Nurdin M Top adalah salah atau keluar dari jalur yang sebenarnya. Yang benar adalah dengan dakwah yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar kepada masyarakat. Dan ia tegaskan bahwa inilah yang dibenci oleh Amerika dan musuh-musuh Islam.
Pernyataan yang tegas dan membuktikan dirinya masih sebagai ikon perlawanan terhadap hegemoni AS sebagai negara superpower dan superzalim. Di dalam tubuhnya yang ringkih masih ada api perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dunia Islam. Dan masih ada semangat membara dalam upaya penegakan syari’at islam di muka bumi Indonesia ini.
Kini ia akan kembali mengajar di pesantrennya. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan dari para wartawan saat ditanya apa yang akan ia lakukan setelah pulang dari penjara. Ya, mengajar dan mendidik kader-kader yang terus dan selamanya akan memperjuangkan umat Islam terlepas dari setiap kezaliman yang menimpanya. Dan dalam penegakan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin di tanah air ini. Semoga.

*****
Adzan shubuh bergema, saya matikan liputan 6 pagi itu. Ada bening-bening di mata, seperti bening-bening dulu kala saat beliau di tarik dan dibawa paksa dari rumah sakit. Sungguh bencana apa lagi yang akan menimpa negeri ini ketika banyak ulama yang dihina dan dicaci maki. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara
saat ada uneg-uneg yang membuncah
07.30 s.d. 08:28
15 Juni 2006

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA


Monday, May 8, 2006 – SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA

Bismillaahirrohmaanirrohiim

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA…!

Setelah saya cukup mengakui keberanian Kuba menghadapi dan mengejek dominasi Amerika Serikat (AS) dengan menawarkan kekuatan medisnya yang terkenal di jagat raya untuk melakukan operasi mata terhadap rakyat miskin AS. Juga memutuskan ketergantungannya terhadap sektor pariwisata—suatu sektor yang rawan dan sensitif dengan isu keamanan dunia, juga sektor yang antikemandirian.
Pun setelah saya cukup mengangkat jempol terhadap Iran atas kemandiriannya dengan memajukan sektor perindustriannya berupa produksi besar-besaran mobil nasionalnya. Keberaniannya menentang barat dan PBB yang menolak Iran untuk mempunyai program nuklirnya sendiri. Dan juga gebrakan ekonominya yang mampu untuk mengurangi tingkat kemiskinan absolut di negara itu sehingga pemukiman kumuh dan peminta-minta sulitlah dijumpai di jalanan Teheran.
Kini, kembali saya mengakui keberanian untuk mandiri dari salah satu negara di Amerika Selatan ini, BOLIVIA. Negara yang berbatasan dengan Paraguay dan Argentina di sebelah selatan, Brazil di timur dan utara, serta Peru dan Chili di barat ini melalui presidennya mengeluarkan aturan baru untuk menasionalisasi sumber daya minyak dan gas (migas) yang kini banyak dikelola perusahaan asing.
Jelas aturan baru ini sangat-sangat tidak berpihak dan mengancam investor asing yang telah banyak menanamkan modal di negara yang memiliki cadangan gas terbesar kedua di Amerika Latin setelah Venezuela. Tapi Evo Morales—sang presiden terpilih—menyatakan dengan tegas bahwa upaya ini dilakukan demi mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi negaranya, demi kemakmuran agar Bolivia terlepas dari julukan sebagai negara termiskin di Amerika Selatan.
Morales—sebagaimana diberitakan Republika (03/05) mengatakan: ”Kami memulainya dengan nasionalisasi migas. Besok kami akan menambahnya dengan pertambangan, kehutanan dan semua sumber alam yang telah diperjuangkan nenek moyang kami.”
Dan Presiden dari negara yang 70% penduduknya miskin ini memberikan waktu sekitar 180 hari sejak tanggal 01 Mei 2006 kepada para investor asing untuk membuat kontrak bisnis baru dengan pemerintah Bolivia.
Jika tidak, sebagaimana ancamannya yang ia katakan kepada para investor asing—di antaranya Repsol Spanyol, Petrobras Brazil, BP Inggris, British Gas, ExxonMobil, Total Prancis: ”Silakan tinggalkan Bolivia.” (Republika, 05/05).
Untuk suksesnya menasionalisasi itu Morales memerintahkan Tentara Bolivia mengambil alih 56 ladang migas yang ada di negaranya dan meminta kepada rakyatnya bersama-sama membantu pemerintah mewaspadai sabotase yang akan menggagalkan upaya nasionalistik ini.
Morales belajar dari pengalaman dan keberhasilan dua negara latin lainnya yakni Ekuador dan Venezuela yang berani memperbaharui kontrak bisnis dengan negara asing. Bahkan, Venezuela menerapkan pajak yang tinggi untuk para eksportir minyaknya.
Langkah itu diharapkan bagi negara yang berpenduduk 8,8 juta jiwa ini (perkiraan 2005) adalah akan mendorong ekonomi dan menciptakan pekerjaan baru. Otomatis pengurangan keuntungan yang diperoleh negara asing akan meningkatkan pendapatan negara itu. Pendapatan tahun 2007 dari produksi gas diharapkan sebesar 780 juta dolar AS, sangat tinggi dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 460 juta dolar AS.
Luar biasa. Negara yang luasnya hanya sepersepuluh luas Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya cuma 1.098.580 km persegi saja dan dengan sumber kekayaan alam yang masih kalah jauh di bandingkan Indonesia, berani melakukan sesuatu yang anti ”pasar” (baca kapitalisme) atau antitrend menarik investor yang biasa dilakukan dari negara miskin identitas dan harga diri.
Sungguh lain sekali dengan apa yang dilakukan Indonesia yang tak berani merevisi sedikitpun ’kitab suci kapitalis’ berupa kontrak karya. Atau lemahnya Indonesia dalam kasus Freeport, Blok Cepu, BUMN, dan dalam berbagai kasus pertambangan emas, perak, dan batubara yang berada di kawasan hutan lindung.
Yang paling anyar adalah pada kasus rencana revisi undang-undang ketenagakerjaan sebagai salah satu paket ekonomi terbaru untuk menarik investor asing. Lagi-lagi di saat nasionalisme dan harga diri bangsa tidak dijadikan prioritas, masyarakat pun menjadi korban. Hatta dibungkus dengan janji-janji pemberian kepastian hukum dan kesejahteraan buruh.
Mampukah pemerintah melakukan negosiasi ulang dengan Freeport atau buyback saham-saham Indosat yang ternyata diketahui tidak ada pasal yang memudahkan pemerintah untuk melakukan itu dalam perjanjian kontrak?
Atau mampukah pemerintah untuk tidak takut dengan ancaman yang selalu dilontarkan asing dengan arbitrase internasionalnya atau forum WTC-nya. Bahkan dengan ancaman tidak akan diberikan paket pinjaman lanjutan oleh World Bank
Saya jawab: ”pesimis.” Di kala banyak dari kita yang selalu mengatakan ”Makan saja nasionalisme itu?”. Di kala banyak dari kita para alumni sekolah-sekolah barat itu masih saja mengagung-agungkan gelar MBA., MSc., PhD. atau gelar akademis lainnya tanpa kerja nyata, dan masih memikirkan enaknya untuk duduk di kursi empuk jabatan.
Saya masih tetap pesimis di kala masih banyak dari kita memandang dengan sebelah mata kepada sekelompok orang yang menyeru memboikot produk-produk kapitalisme dan imperalisme. Bahkan mencibir mereka sebagai sekelompok orang yang terlalu emosional, pencinta heroisme masa lalu, tak bernalar, kolot, dan anti pasar.
Jika masih banyak sebagian dari kita gemetar ketakutan dengan tindakan balasan negara-negara besar yang akan memboikot Indonesia di segala bidang dan takut untuk berkurang makannya sebanyak tiga kali sehari, padahal masih banyak di antara saudara-saudara mereka yang tetap bersyukur dengan makan dua kali, sekali sehari atau tidak makan apa-apa dalam seharinya.
Saya masih tetap pesimis entah sampai kapan. Jika Bolivia saja bisa, kenapa Indonesia tidak. Jika Iran saja bisa kenapa Indonesia tidak. Jika Kuba saja bisa kenapa Indonesia tidak.
Tapi, sungguh saya masih percaya bahwa Indonesia dengan segudang kekayaannya melebih tiga negara tersebut sebenarnya mampu untuk berbuat seperti mereka yang melepaskan diri dari ketergantungan asing dan tidak menjadikan dirinya budak-budak kapitalisme dan imperialisme moderen.
Kalaulah kita kembali membaca sejarah masa lalu, sungguh Indonesia dengan beraninya sanggup menantang dunia dengan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), International
Bank for Reconstruction and Development (IBRD) di tahun 1966. Yang menurut Soekarno badan-badan itu hanya diperalat oleh manipulasi politik
negara-negara imperialis.
Soekarno meyakini bahwa negara dan bangsa Indonesia dengan
bersenjatakan Panca Sila, Manipol dan Tri Sakti Tavip akan dapat
menjalankan politik Berdikari dengan konsekuen dan dengan itu akan
mencapai dunia baru yang penuh dengan keadilan, kemakmuran dan
kesentausaan. (Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1966).
Tentunya kita lebih yakin daripada Soekarno bahwa Indonesia bersenjatakan iman yang menghunjam di dada, berbeliung amal nyata untuk masyarakat mampu untuk menjalankan politik kemandirian itu.
Apalagi ditambah dengan keyakinan pada ayat Allah:
27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. [AlFathiir 35]
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [AlFathiir 35]
Maka sudah selayaknya bangsa Indonesia ini memiliki pemimpin yang benar-benar takut hanya pada Allah SWT. Tidak takut pada para thaghut besar ataupun thaghut kecil. Tidak takut pada negara asing. Yang berani berdiri gagah penuh izzah (kemuliaan) diri sebagai bangsa sederajat dan tidak seperti kerbau yang dicocok hidungnya menuruti perintah sang majikan pemberi dana.
Bangsa Indonesia perlu pemimpin yang tidak takut akan hinaan dan cercaan. Tidak takut untuk tidak terpilih lagi pada periode pemilihan mendatang, karena memandang jabatan adalah amanah bukan kebanggaan sehingga waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemakmuran bangsa.
Bangsa ini perlu pemimpin yang tidak takut kelaparan dan berani berkata lantang selantang seruan pemimpin Palestina kepada para penjajah dan pemboikotnya:
”Rakyat Palestina tak akan meninggalkan pemerintahnya meskipun ditekan dan diblokade. Kami akan tetap bertahan meskipun hanya dengan memakan garam dan buah zaitun. Keteguhan kami tak akan goyah karena kami setia terhadap prinsip-prinsip rakyat.” (Kompas, 16/04)
Dan saya yakin sebenarnya pemimpin kita adalah para pemberani yang akan berteriak lantang penuh jumawa kepada asing bila ada rakyat yang berdiri berbaris mendukung di belakang para pemimpin kita.
Namun rakyat yang dipimpin pun sudah sepantasnya menuntut keteladanan dari para pemimpin sehingga diharapkan dengan keteladanan itu rakyat akan bersama-sama membantu pemimpinnya dengan ikhlas dan dengan pengorbanan yang tak akan dapat dihargai oleh siapapun, sebagaimana rakyat Iran, Kuba, Venezuela, dan Bolivia mendukung para pemimpinnya.
Subhanallah…sungguh kita merindukan pemimpin bangsa ini selayaknya kita merindukan kepemimpinan dua Umar: Umar bin Khaththab atau Umar bin Abdulaziz. Entah kapan…?

Maraji’:
– Republika 03/05/2006
– Republika 05/05/2006
– Kompas 16/04/2006
– Wikipedia: Bolivia
– Ensiklopedi Keluarga A-Z
– Peta Dunia: National Geographic

dedaunan di ranting cemara
Ba’da Kedubes Panas Menyengat
20:32 07 Mei 2006

CERAIKAN SAJA AKU…!!!


CERAIKAN SAJA AKU…!!!

Ada hal yang sangat menggembirakan bagi saya hari-hari ini, yakni kegembiraan mendengar dan membaca berita tentang adanya pemberlakuan secara efektif larangan merokok di tempat yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Dilarang Merokok (KDM) pada hari Kamis kemarin (06/04).
Dari berita yang saya dapat bahwa menurut pasal 13 Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PPU), ada lima areal publik yang dikategorikan bebas asap rokok. Artinya, tidak ada seorang pun boleh kebal-kebul di kawasan itu, baik di ruangannya atau pun di tempat terbukanya, misalnya di halaman atau lahan parkir. Tidak ada smoking area di lima tempat ini. (detik.com/06/04)
Salah satunya adalah tempat publik berupa tempat kerja atau kantor swasta dan pemerintah, di mana pengelola tempat publik tersebut harus menyediakan suatu tempat khusus bagi perokok.
Pelarangan merokok di tempat publik berupa tempat kerja atau kantor pemerintah inilah yang membuat saya bergembira. Tanya kenapa? Soalnya walaupun baru berlaku efektif kemarin—dengan adanya penindakan tegas terhadap yang melanggarnya—namun di tempat saya sudah berlaku efektif jauh-jauh hari sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Raya bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI mensyahkan perda tersebut. Tentunya karena mendengar adanya sanksi berat berupa denda maksimal Rp50 juta.
Di tempat saya bekerja terutama di seksi di mana saya berada, dari sepuluh orang pegawai—dimana di dalamnya ada dua wanita—ada 40% pegawainya yang merokok. Maka bisa dibayangkan bukan jika mereka bersama-sama merokok apalagi pada jam-jam istirahat, asapnya berhamburan kemana. Dan dikarenakan ruangannya berpendingin maka jelas ruangan tersebut tertutup rapat sehingga asapnya pun tidak kemana-mana. Belum lagi kalau ada teman-teman sesama perokok yang ikut nimbrung mengobrol.
Yang dirugikan otomatis adalah perokok pasif seperti saya ini. Perlu diketahui perokok pasif adalah orang yang tidak merokok namun menghirup gas buangan dari rokok yang dihisap oleh si perokok. Bahkan berdasarkan penelitian lama disebutkan resiko terburuk dan terbesar diderita oleh perokok pasif bukan perokok aktif tersebut. Mulai dari kanker paru-paru, kelainan jantung, dan impotensinya itu loh…
Saya jelas tidak bisa menegur, pertama karena tidak enak saja. Tapi ada kok teman wanita yang keras kalau dalam masalah ini, ia langsung menegur pada orang yang merokok di dalam ruangan. Hebat euy…
Yang kedua karena ketika sudah saya tegur, eh malah saya yang kena damprat. Kalau sudah begitu, saya bisanya cuma diam saja. Sambil kadang menggerutu dan berkata dalam hati: “Awas loh entar di akhirat nanti, saya minta pertanggungjawaban ente-ente pade.” Sadis nian…
Dengan berjalannya waktu dan dengan pernafasan yang tercemar dengan asap rokok, serta kesabaran yang tiada habis-habisnya, akhirnya keluar juga peraturan yang melarang merokok di tempat umum tersebut. Saya menyambut gembira peraturan ini.
Efeknya memang tidak langsung dapat dirasakan. Karena kebanyakan ketika teman-teman di sini ditakut-takuti dengan ancaman hukuman itu, mereka malah ngelunjak dan malah balik bertanya: “memang kantor sudah menyediakan tempat untuk kami. Inikan hak asasi kami juga?” Wah…wah…
Tapi lama-kelamaan, sepertinya mereka merasa tidak enak juga karena setiap hari diberitakan dengan gencarnya di media massa ataupun media elektronik tentang sosialisasi yang dilakukan pemprov terhadap para perokok di tempat publik. Akhirnya dengan kesadaran sendiri mereka mengalah dan mencari tempat merokok yang aman dari gangguan—minimal cemberutan—teman-teman yang tidak merokok.
Tempatnya sekarang adalah ruangan dapur berukuran 2 x 1,5 meter, yang dipintunya ditempel secarik kertas bertuliskan:

SMOKING AREA
Kapasitas Terbatas: 3 Orang
Antri……….Bozzzzzzz
—No Drugs—

Tapi kapasitas maksimal itu tidak bisa ditaati oleh mereka, karena sudah kebelet dan mulut sudah terasa asamnya, lima orang dalam ruangan sempit seperti itu sepertinya tidak jadi masalah. Biarlah, yang rugikan mereka sendiri…
Sebenarnya secara tidak langsung adanya peraturan ini untuk mengurangi masyarakat akan ketergantungan terhadap rokok. Karena dengan tidak bebas lagi merokok dan mencari tempat untuk merokok pun susah, masyarakat lama kelamaan akan mengurangi jatah merokok dalam seharinya.
Karena hal ini pernah dirasakan oleh saya, maka saya menyadari susah memang untuk berhenti merokok kecuali dengan adanya tekad yang kuat dan adanya teman-teman yang mendukung usaha itu.
Tapi sudah hampir dua belas tahun saya enjoy dan menikmati sekali hidup tanpa rokok di mulut, menikmati sekali bangun pagi tanpa merasakan tenggorokan sakit, mulut asam sehabis makan, hidup sumpek dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan yang lain. (Untuk lebih jelasnya tentang proses kreatif saya berhenti dari merokok, baca: Berhenti Merokok itu Gampang di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/13743 ).
Kerinduan itu pasti ada, tapi sewaktu di awal memulai perjuangan untuk tidak merokok. Sekarang kerinduan itu tidak ada lagi, bahkan hawa kebencian saja adanya. Tapi sering kugoda Qaulan Sadiida, “Ummu Maulvi, bagaimanakah jikalau jiwa merana ini kembali untuk merasakan kenikmatan semu duniawi. Berenang di lautan api dan pelangi asap yang melangit ke angkasa dengan indahnya?”
Apa coba jawabnya: “Ya Abu Muhammad, jikalau jiwa merana yang engkau miliki berhasrat untuk menikmati debu api neraka seperti itu lagi, maka ceraikan saja aku…”sambil cemberut dan melengos. Weks….Kagak kuat…Mantap nian ketegasan untuk tidak kembali kepada keburukan. Itulah ia.
By the way, saya perlu mengucapkan terimakasih kepada Anggota DPRD DKI Jaya dan Pemprov DKI yang telah mengeluarkan peraturan daerah yang sangat bermanfaat sekali bagi kesehatan masyarakat banyak dan juga sebagai modal pembentukan bangsa yang sehat dan kuat ke depan.
Sekarang, Alhamdulillah ruangan saya bersih dari asap rokok. Pagi terasa nikmatnya dengan udara segar, siangnya pun tidak terasa semakin panas dan pengap. Di saat kerja pun tiada lagi gangguan asap dari teman-teman yang merokok yang mampir di meja saya.. Semoga saya bisa merasakan nikmatnya udara segar ini selamanya.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di saat pagi indah dengan cerahnya sinar mentari pagi
09:29 07 April 2006

DEINDIVIDUASI BIKERS MOGE


DEINDIVIDUASI BIKERS MOGE

Dua pekan terakhir dunia milis dan media elektronik tanah air diwarnai dengan berita seputar tingkah laku menyebalkan dari para pengendara motor gede )Moge) berkelir Harley Davidson (HD). Ini diawali dari imel yang dikirim oleh Sarie Fabriane yang disebar melalui milis dan mengungkapkan kejengkelannya sebagai korban tingkah laku urakan gerombolan tersebut.
Seperti yang diungkap oleh tabloid Otomotif (edisi 43:XV), sebagian isi imel itu adalah sebagai berikut: “…masih sulit akal saya untuk menolerir aksi gagahan mereka yang mentang-mentang itu. Pikiran kotor saya hanya sempat mengira, mereka hanyalah kumpulan begundal-begundal impoten yang mencari kompensasi dengan mengangkangi moge. Sehingga tercapailah ilusi kegagahan diri!!…”
Dari situlah Otomotif berusaha menjawab pertanyaan apakah benar bahwa perilaku kasar yang ditunjukkan itu adalah kompensasi untuk menutupi kekurangan dan kelemahan diri?
Seorang pengajar Psikologi Sosial Universitas Indonesia bernama Cicilia Yeti Prawasti MSi, berhasil dimintai pendapat tentang ini oleh tabloid mingguan ini. Beberapa pendapatnya tentang kelakuan bikers moger tersebut adalah dapat dirangkum sebagai berikut:
Bahwa Tidak semua kompensasi itu bernilai negatif, tetap ada kompensasi bernilai positif. Kompensasi negatif bisa saja terjadi namun dengan prosentase kecil berupa aktualisasi diri yakni keinginan untuk mengatasi inferioritas atau perasaan diri seseorang.
Sedangkan perilaku arogan dalam kasus ini hendaknya ditinjau dari sisi psikologi social bukan ditinjau dari sisi kompensasi. Secara psikologi sosial, dalam kelompok telah terjadi deindividuasi. Yakni indentitas diri seseorang berkurang, melebur, dan digantikan dengan identitas kelompok.
Cicilia melanjutkan: ”Di dalam kelompok seseorang cenderung tidak ada yang memperhatikan secara individual. Sehingga ia berani melakukan hal-hal yang belum tentu dia berani lakukan saat sendiri. Apalagi dengan menggunakan pakaian dan motor gede, perasaannya menjadi berubah.” Kesimpulannya adalah perilaku kasar tidak semata-mata berarti kompensasi seseorang untuk menutupi kelemahannya. Demikian Otomotif.
Nah, itulah sedikit pandangan psikologis terhadap para pengendara moge. Namun demikian jika kita melihat adanya deindividuasi maka perubahan perangai (kalau bisa disebut demikian) itu tidak hanya dimonopoli oleh pengendara moge seperti HD belaka.
Perangai itu pun bisa dilakukan pula oleh pengendara motor lainnya walaupun tidak tergabung dalam suatu kelompok atau klub berdasarkan kesamaan merek. Apalagi di Jakarta ini yang jumlah motornya setiap hari bisa mencapai jutaan unit mengarungi jalanan di pagi atau sore harinya.
Contoh deindividuasi ini seringkali terjadi dengan perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan secara berjama’ah berupa dengan berhenti melewati tanda batas zebra cross, melawan arus, menyelonong pintu perlintasan kereta api, melewati trotoar, selap-selip, dan lain sebagainya.
Perlu ditekankan di sini sekali lagi adalah perilaku itu dilakukan dengan berjama’ah, bersama-sama, berkelompok, bareng-bareng. Sama dengan yang dilakukan oleh para pengendara moge. Namun ada perbedaan yang mencolok di sini.
Deindividuasi yang dilakukan oleh masing-masing individu dari bikers moge ini dilandasi dari semangat eksklusivitas yang tinggi. Merasa bahwa motor yang mereka naiki tidak sembarang orang bisa memilikinya, mahal, barang impor, dan berkelas. Walaupun disadari atau tidak banyak dari motor tersebut adalah barang-barang gelap yang sengaja diselundupkan tanpa membayar PPnBM dan Bea Masuk ke kas Negara dan surat-suratnya bodong hanya mengandalkan surat sakti dari klub.
Ditambah dengan banyaknya pejabat (contoh salah satunya Fahmi Idris) dan artis (Indro Warkop) yang karena hobi atau sengaja direkrut menjadi petinggi dan pengurus klub, dan dijadikan sebagai pelindung atau humas bahkan pelegitimasi (untuk tidak disebut sebagai bemper) atas segala aktivitas mereka.
Apalagi privilege yang mereka dapatkan sangat-sangat terkesan eksklusif seperti pengawalan yang dilakukan oleh voreijder, melenggang kangkung di jalan tol, dan menyetop seenaknya pengguna jalan lain yang dirasa mengganggu perjalanan. Maka lengkap sudah kesombongan itu, dan pada akhirnya dari semua itu mudah saja terjadi deindividuasi pada kelompok itu. Poinnya adalah bahwa ada ego berjama’ah yang timbul akibat keserbaadaan yang mereka miliki.
Sedangkan untuk deindividuasi yang dilakukan oleh para pengendara motor lainnya dengan tingkah laku berlalu lintas yang kacau dan berantakan itu ada banyak penyebabnya, ini dilihat dari kacamata saya yang tentunya juga adalah pelaju minimal 50km lebih setiap harinya dengan motor kecil (mocil MegaPro)—kalau dibandingkan dengan HD, dan ini yang menyebabkan perbedaan mencolok.
Bahwa yang pasti mocil ini (dalam kasus Jakarta) bukan karena mereka tergabung dalam satu klub. Mereka membawa motor yang kebanyakan dibeli secara kredit di showroom-showroom atau tenda-tenda. Ada rasa senasib sepenanggungan yang disadari atau tidak seringkali muncul tiba-tiba. Bahwa mereka kepanasan, kehujanan, dan dengan resiko besar mengalami kecelakaan yang berakibat fatal bila motor itu jatuh.
Ditambah pula dengan seringkali mandi asap knalpot dari kendaraan lain. Sungguh kontras sekali dengan kenyamanan yang diperoleh dari mereka yang mengendarai mobil pribadi. Dengan kesenjangan kenyamanan dan yang paling penting adalah adanya kesenjangan keselamatan yang begitu mencolok maka wajar pula rasa senasib dan sepenanggungan itu muncul.
Dari rasa itu seringkali kita melihat bagaimana solidaritas muncul di saat salah satu dari mereka mengalami kecelakaan, apalagi kalau kecelakaan itu disebabkan karena ditabrak oleh kendaraan pribadi. Maka selain memberikan pertolongan pertama kepada korban juga ada tindakan deindividuasi yang dilakukan dengan sama-sama menonton, mengerumuni, atau yang lebih buruk adalah mengeroyok supirnya.
Seringkali pula mereka berhenti tanpa bersalah di bawah jembatan layang di saat hujan turun dengan derasnya. Maka terjadilah kemacetan panjang yang disebabkan oleh itu. Gerutuan dari para pemilik mobil pun berhamburan, tanpa mereka sadari bahwa kalau motor itu punya kap seperti mobil tentu tidak akan berhenti di tempat itu. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Jadi, walaupun kita sama-sama sepakat bahwa tingkah laku buruk dari akibat deindividuasi pada kelompok moge HD dengan kelompok pengendara mocil tidak bisa dibiarkan begitu saja, tapi tentu ada perbedaan yang mencolok di antaranya. Yakni untuk yang pertama bahwa deindividuasi terjadi karena ada semangat ekslusivitas yang tinggi dan berakhir pada kesombongan. Sedangkan pada yang kedua deindividuasi terjadi karena adanya rasa senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan ketertindasan.
Pertanyaan yang tak perlu dijawab sekarang adalah: adakah deindividuasi yang terjadi pada para fordiser DSHNet?

Allohua’alm bishshowab.

Ps. Pada tahun 2000 (kalau saya tidak lupa), saya sempat bertemu dengan Fahmi Idris di lift salah satu hotel di Yogyakarta. Bersamanya banyak anggota kelompok HD yang sedang touring.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:31 01 Maret 2006

INULISASI


25.01.2006 – INULISASI

INUL, GUS MUS, GUS DUR
Masyarakat Indonesia kini digemparkan kedua kalinya oleh Inul dengan adanya pengharaman Bang Haji Rhoma Irama atas lagu-lagunya yang dinyanyikan oleh Inul, Annisa, Uut dan kawan-kawan. Alasannya mereka telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun.
Terelepas dari hukum syar’i mengenai musik, maka kita dapat melihat betapa pada masa sekarang, seseorang yang benar-benar dan jelas-jelas mengumbar aurat dan erotisme seksuil dihadapan ribuan bahkan jutaan pasang mata, telah dibela habis-habisan oleh para penggemarnya mulai dari kalangan artis sendiri, para wartawan, pakar hukum, feminis, pembela HAM, para “kyai”, bahkan DSH Netters pun turut turun tangan.
Secara kasarnya jelas sekali terdapat dua kubu disini. Kubu pertama “FPI” (Front Pembela Inul) yang dibelakangnya banyak juga terdapat para kyai Jawa Timur, dan kubu kedua kubu anti Inul yang dibelakangnya ada MUI (Majelis Ulama Indonesia bukan Majelis Urusan Inul), Front Anti Pornografi dan Pornoaksi, serta Bang Haji Rhoma Irama dengan PAMMI-nya.
Di sini tidak perlu saya ungkapkan argumen dari kubu kedua, yang diungkapkan disini adalah argumen kubu pertama antara lain sebagai berikut:
1. Konsultan Hukum menyatakan bahwa ia akan mengumpulkan sejuta tanda-tangan untuk terus mendukung kreatifitas Inul (yang menurut kalangan dari Kubu Kedua kreatifitas Inul hanya sebatas kreatifitas pantat belaka, maaf);
2. Feminis menyatakan bahwa telah terjadi ketidakadilan gender;
3. Salah satu Artis Sinetron penggerak demo mendukung Inul menanggapi seruan Bang Haji dengan menyatakan bahwa Tuhan yang mana yang diserukan Bang Haji? Dan umat yang mana dibelakang Bang Haji? Tak perlu bawa-bawa agama dong dalam urusan beginian?;
4. Pembela HAM menyatakan bahwa telah terjadi pemasungan terhadap seseorang untuk berkreatifitas;
5. Gus Mus (Mertuanya Ulil Absar Abdilla) menyatakan bahwa goyangannya Inul merupakan goyangan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci;
6. Gus Dur menyatakan bahwa tidak ada yang berhak melarang seseorang tampil di TV kecuali Mahkamah Agung.
Ada tambahan beberapa komentar lagi dari DSH Netters, salah satunya pernah berujar bahwa ada hikmah yang dapat diambil dari “ngebornya” Inul. Bahkan ada yang sampai menyatakan bahwa “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya”.
Komentar dari konsultan hukum, feminis, artis sinetron, pembela HAM sepertinya tak perlu ditanggapi pula karena kita tahu siapa mereka. Tentunya mereka memandang dari satu sisi saja yakni sisi “berkesenian”nya Inul.
Komentar dari salah satu DSHNetters tentang ada hikmah yang dapat diambil sudah ditanggapi oleh Saudara kita Al-Itsar yang pada intinya kita harus melihat terlebih dahulu seberapa besar mudharat atau manfaat yang timbul dari “sesuatunya” Inul itu dan kita tahu dengan jelas mudharatnya ternyata sangat jauh lebih besar dari manfaatnya.
Yang perlu “sedikit” (tidak perlu banyak-banyak soalnya kalau terlalu banyak buang-buang energi saja) kita cermati adalah komentar-komentar dari dua kyai kita ini, yang dua-duanya adalah juga satu daerah dengan Inul, sama-sama orang Jawa Timur.
Saya tidak tahu apakah pembelaan mereka terhadap Inul karena sama-sama satu daerah atau karena Inul adalah salah satu ikon yang akan menjadi maskot PKB kelak di 2004? Semoga saja tidak. Semoga pembelaan mereka semata-mata karena membela Muslim yang “teraniaya” (menurut mereka), tapi anehnya pembelaan mereka sepertinya tidak terlihat ketika benar-benar terjadi penganiayaan bahkan sampai terjadi pengusiran dan penghilangan nyawa atas ribuan saudara-saudara Muslim yang ada di Ambon dulu? Allohua’lam.
Kalau berargumen bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan lalu mengapa kita diperintahkan Allah bahwa untuk selalu memusuhi musuh yang nyata yakni Iblis dan para syaitan yang jelas-jelas mereka adalah juga ciptaan Tuhan juga.
Harusnya kalau Gus Mus tetap ngotot bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan, kiranya perlu ditambahkan dibelakangnya dengan kalimat “yang wajib kita perangi” karena asal muasalnya dari syaitan yang berusaha menggoda manusia dengan bangkitnya syahwat dan bukan dari Allah langsung, karena Allah adalah Maha Suci dan Maha Sumber Kebajikan. Lagi-lagi di sini kita memakai logika ‘aqidah, logika Asmaul Husna.
Bahkan argumen “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya” terbukti keliru besar karena ternyata goyangan itu dilakukan Inul tidak hanya di dihadapan suaminya saja namun di depan jutaan pasang mata yang bukan muhrimnya. Jadi jelas sekali itu bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci.
Kalaupun subjek pelakunya bukanlah Inul tapi para istri yang berusaha menyenangkan hati para suaminya, bisa-bisa yang timbul dalam benak para suami yang tak kuat iman adalah fantasi seks dengan citra Inul (maaf) yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam.
Tentang komentar Gus Dur, kita pun tahu beliau hanya tahu dari bisikan orang-orang di samping beliau. Semoga dengan silaturahim Bung Haji dengan beliau, membuka “mata” dan “mata hati” kita tentang perlunya mengedepankan etika moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah satnya kita perlu mengusahakan adanya televisi Islam yang berasal dari umat, oleh umat, dan untuk umat.
Ada satu keresahan dalam hati saat mula terjadi Inulisasi ini, yakni saat MUI yang beranjur kepada umatnya. Tak ada sambutan hangat bahkan pertanyaan, hujatan, cacian kepada sebagian ulama kita.
Contohnya pembelaan sebagian teman-teman saya di kantor, dan anehnya sebelum melakukan pembelaan terhadap Inul mereka akan memulainya dengan kalimat berikut ini: “saya tahu Islam telah melarang hal yang demikian, tapi bla…bla…bla…” Sebelum pernyataan itu berubah menjadi perdebatan panjang. Saya hanya berbicara demikian: “stop…stop…stop…itu saja, pakai yang di awal kalimat itu”. Saya tak tahu hukum mana lagi yang begitu sempurna mengatur kehidupan kecuali Al-Islam.
Adalagi teman saya yang lain bertanya, “mengapa harus Inul bukan yang lainnya yang lebih erotis dan lebih gila lagi?” Menurut saya itu karena Inul yang ini begitu di Blow up dan dibesar-besarkan oleh media. Kalau kita membiarkan yang satu ini muncul dengan adem ayem saja maka Inul lainnya akan senantiasa menghiasi layar televisi kita dengan santainya dan tanpa rasa bersalah. “ Satu-satu Bung…..!”
Teman saya yang satu lagi bertanya, “kenapa tidak memberantas terlebih dahulu VCD porno yang jelas-jelas meresahkan masyarakat? Lagi-lagi saya bilang “satu-satu Bung…” dan MUI pun sudah tak perlu memfatwakan haramnya VCD Porno karena Islam sudah dengan jelas dan terangnya menjelaskan tentang keharamannya.
Di sini pun karena pemerintah dan kaum feminis di satu sisi dan masyarakat anti pornografi di sisi lain masih berdebat dalam hal definisi pornografi. Menurut saya mengingkari kewajiban menutup aurat itu sudah merupakan aksi porno itu sendiri.
Yang lebih miris lagi, banyak orang berbondong-bondong untuk segera berdiri di belakang kemaksiatan, melihat semua ini bagaimana Allah akan segera menghilangkan segala azab dan bencana yang menimpa bangsa dan Negara ini. Sungguh dunia ini terbalik.
Akhirnya bersyukurlah kepada Allah atas “penglihatan” yang diberikan-Nya kepada kita, sehingga kita langsung jelas melihat mana yang sesungguhnya haq dan mana yang sesungguhnya bathil. Sehingga kita tak perlu tersesat terlebih dahulu untuk menuju yang haq itu. Untuk itu, tak lupa pada setiap akhir sholat selalu kita lafalkan” Ya Alloh tunjukilah yang haq itu haq sehingga kami bersegera untuk selalu menujunya, dan tunjukilah yang bathil itu bathil sehingga kami pun bersegera untuk selalu menjauhinya.”
Semoga tulisan ini bukan juga untuk membuat Inul semakin di Blow Up.
“Teu aya dei ugi abdi ucapkeun, mung salam ukhuwah, kahormatan, hapunten ka sadayana ti abdi, saudara seiman. Allohua’lam bishowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2004
Diedit 12:38 24 Januari 2006

Melihat Ketua BIN dari Jauh


25.01.2006 – Melihat Ketua BIN dari Jauh

Suatu sore, ketika hendak mengambil KTP saya di gerbang komplek BIN, saya dikejutkan oleh teriakan dari anggota TNI yang bertugas di pos tersebut kepada teman-temannya yang sedang duduk santai di samping pos. Mereka yang berpakaian preman langsung bersembunyi masuk ke dalam pos, sedangkan mereka yang berpakaian dinas “sekuriti” langsung mengambil segala atribut yang harus dikenakannya.
Saya yang segera pergi dari pos itu sambil menengok ke belakang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Ternyata, dari kejauhan ada sosok tegap, berkulit bersih, berpakaian sport menunggang kuda tinggi berwarna coklat. Di belakangnya terdapat beberapa pengawal dengan berjalan kaki dan ada juga yang menaiki kendaraan seperti mobil golf—hanya yang ini lebih besar lagi.
Langsung semua pemakai jalan di suruh minggir oleh pengawal, pos penjagaan yang berada di depan komplek langsung di tutup, sehingga ada beberapa kendaraan yang hendak memasuki komplek terpaksa berada di luar untuk beberapa saat. Sampai sosok berkuda itu menjauh dan di saat saya meninggalkan komplek itu, pintu gerbang masih di tutup.
Pembaca tahu siapa dia? Ya betul, dia adalah orang nomor satu dalam penanganan intelejen di negara republik ini. Hendropriyono. Sosok yang menjadi momok bagi umat Islam di era orde baru berkuasa dan sedang jaya-jayanya. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa Warsidi Lampung yang berdarah-darah itu.
Sekarang, ia menjadi Ketua Badan Intelejen Indonesia, suatu jabatan setingkat menteri, dan bertanggung jawab langsung terhadap presiden. Kalau pembaca adalah orang-orang yang sering melewati jalan antara Kalibata dan Volvo Pasar Minggu, maka pasti Anda akan melihat suatu renovasi besar-besaran di lingkungan komplek. Apalagi kalau Anda adalah orang yang juga sering masuk ke dalam komplek tersebut—karena komplek tersebut juga berbaur dengan komplek perumahan pegawai BIN—maka Anda pasti akan merasakan banyak perubahan tersebut.
Sepengetahuan saya yang kadang-kadang (kalau tidak dikatakan sering) mampir bersilaturahim ke rumah saudara, maka perubahan itu akan dirasakan ketika berada di pos pertama pintu gerbang. Sosok yang menyambut kita selain para anggota TNI juga adalah para petugas ( ini bukan anggota TNI, mereka direkrut utamanya dari para anak-anak pegawai BIN sendiri) yang berseragam hijau dengan bersepatu bot dan bertopi koboi. Sangat amat nyentrik.
Pintu keluar masuk pun di alihkan menjadi satu di sebelah selatan dengan pos yang cukup megah—yang mungkin biaya pembuatannya juga lebih mahal dari perumahan PNS tipe 21. Semua kendaraan beroda empat diperiksa dengan teliti menggunakan piranti anti logam dan kaca penglihatan untuk melihat bagian bawah mobil.
Semua yang masuk—kecuali tukang ojek yang telah dikenal, diwajibkan untuk menyerahkan ID card untuk ditukar dengan tanda pengenal tamu. Ini sebenarnya sudah sejak lama sebelum Hendropriyono menjabat sebagai ketua BIN, namun sekarang lebih ketat lagi (prosedural inilah yang menyebabkan saya kadang malas untuk bersilaturahim dengan saudara saya di komplek BIN). Semua itu terjadi di pos pertama untuk masuk komplek perumahan dan komplek perkantoran BIN. Saya tidak tahu bagaimana pula prosedural di pos perkantorannya yang di kelilingi pagar kawat tinggi itu. Jadi ada pagar tinggi di dalam pagar luar komplek.
Kemudian perubahan lainnya adalah, jalan sisi selatan yang biasanya juga bisa dilalui oleh para pengunjung umum, sekarang diblokir dan di setiap ujung jalannya berdiri pos penjagaan dengan para penjaga yang juga dibekali alat komunikasi primer yakni handy talky. Sekarang jalan itu menjadi jalan khusus karena di situlah Hendropriyono bertempat tinggal di rumah dinasnya. Semua jalan diberikan tanda-tanda lalu lintas standar, yang dulunya tidak ada sama sekali, dan jalan sekunder dijadikan satu arah.
Sekitar beberapa bulan yang lalu saya pernah melihat beberapa atau belasan ekor menjangan Bogor berada di bagian belakang komplek perkantoran di balik pagar kawat tinggi itu. Semua bisa di lihat dengan jelas. Namun sekarang entah kemana menjangan itu, mungkin sudah dipindahkan ke Monas. Dan sekarang di ganti menjadi istal (kandang kuda) yang amat bagus sekali.
Pada saat saya melintas masuk menuju rumah saudara saya sore itu, saya melihat kuda tegap yang sedang dimandikan oleh beberapa orang, dan awalnya saya berpikir bahwa kuda itu diperuntukkan bagi para petugas berseragam koboi itu. “Asyik juga jadi petugas disini”, pikir saya. Namun perkiraan saya salah besar, ternyata kuda itulah yang dipakai Hendropriyono untuk jalan-jalan di sekitar komplek.
Pembaca juga melihat bukan, sekarang telah berdiri kokoh sebuah tugu besar di depan komplek perkantoran BIN. Itulah BIN saat ini, mengalami perombakan luar biasa mungkin juga luar dalam. Entah bermaksud menjadikan BIN sebagai suatu lembaga yang harus dipandang oleh dunia internasional sebagai lembaga bonafid atau lainnya saya tidak tahu.
Tapi yang pasti, sepengetahuan saya (itu pun kalau saya tidak lupa) perombakan itu tidak dilakukannya waktu ia menjabat sebagai menteri transmigrasi di era Gus Dur. Saya juga berpikir, wah sepertinya Hendropriyono jadi anak emasnya Ibu Presiden apalagi dalam masalah pemberantasan terorisme ini. Tentu bukan dengan anggaran yang kecil ia dapat melakukan semua itu. Apalagi setelah ia sukses menangkap Umar Al-Faruq dan mereka yang dianggap olehnya sebagai teroris.
Tapi apa yang saya lihat di sore itu, seperti saya melihat suatu peristiwa di era majapahit atau era mataram dulu, di mana pemimpin feodal begitu dimuliakan, semua warga yang berada di pinggir jalan harus menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan. Dan para orang tua berharap kalau-kalau pejabat kerajaan itu melirik anak gadisnya, setidaknya dapat mengangkat harkat dan martabat orangtua.
Saya juga sempat berpikir, enak juga jadi menteri. Apalagi dengan menunggang kuda sepertinya ia bagaikan Mahapatih yang sedang inspeksi warganya tapi sayang hanya warga di tanah perdikannya (kira-kira rumah di komplek itu sudah bayar PBB belum yah…?:)). Bagaikan Adipati yang berusaha menyusun kekuatannya sendiri.
Saya pun sempat berpikir, “ah itu kan, fasilitas yang pantas ia dapatkan sebagai seorang menteri”. Apa iya…? Sedangkan banyak yang menjadi korban tak bersalah dari penerapan UU anti terorisme, lho apa hubungannya? Entahlah…Anda semua yang bisa menilainya.
Dan sepertinya, saya cukupkan di sini dulu tulisan ini. Terus terang saja, ketika saya menulis ini dan akan mempublikasikannya saya merasa khawatir. Terus terang pula saya merasakan sekali bahwa orde (untuk tidak dikatakan rezim) saat ini, menjadikan saya was was untuk mengungkapkan pendapat saya. Tidak ada bedanya pada waktu era orde baru.
Apalagi dengan adanya Undang-Undang anti terorisme. Dengan undang-undang itu intelejen kita bisa berbuat apa saja. Bahkan bisa juga ada intelejen cyber yang melacak siapa yang membuat tulisan ini. (wah paranoya bgt). Tak mengapalah….walaupun saya PNS dan masih satu almamater dengan Hendropriyono (mantan Ketua Ikatan Alumni STIA LAN), bukan berarti tidak harus dikritik, betul tidak…(gaya AA Gym)?
Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah dari diri saya pribadi, subjektifitas sangat berperan sekali dalam penulisan ini, makanya saya memberi judul Melihat Hendropriyono dari Jauh, tidak dari dekat, karena hanya sebatas informasi terbatas yang saya peroleh, kemudian saya kelola, dan jadilah tulisan ini.
Wassalaam.
: Senin, 21 Juni 2004.
: dedaunan sepanjang isya yang terlalu pendek untuk dilewatkan hanya dengan
menonton tv.
di edit 09:43 24 Januari 2006

Hanya Seorang FIDEL CASTRO


25.01.2006 – Hanya Seorang FIDEL CASTRO

Siapa yang tidak tahu dengan Fidel Castro pada saat ini? Sosok atheis yang telah memimpin Kuba selama 47 tahun ini bahkan kembali membuat merah telinga para petinggi Gedung Putih dengan tawarannya yang seperti mengejek itu.
Sebagaimana diberitakan oleh Republika kemarin (24/1), Castro menawarkan kepada penduduk miskin Amerika Serikat—negara moderen, makmur, dan superpower—bantuan berupa operasi mata sebanyak 150 ribu operasi. Termasuk di dalamnya berupa bantuan jemputan, akomodasi, dan perawatan yang dibutuhkan secara gratis.
Tawaran ini bagi Amerika mungkin merupakan upaya mempermalukan mereka, namun bagi Castro tentu bukan sekadar iseng belaka atau rutinitas pemberian kutukan kepada Amerika sebagaimana biasanya, tapi karena Castro meyakini kemampuan negaranya yang memang perlu dibanggakan. Yakni kemampuannya dalam menyediakan rumah sakit yang canggih, peralatan medis yang lengkap, dan didukung dengan sumber daya manusia yang unggul.
Dan ini semua bermula dari ambisinya menjadikan Kuba sebagai kekuatan medis global. Sejak tahun 1980, Kuba mulai menanamkan investasi pada sektor bioteknologi. Hasilnya adalah pada tahun 1990 Kuba menjadi negara pertama yang mengembangkan dan menjual vaksin Meningitis B disusul dengan Hepatitis B.
Tidak berhenti disitu, bersama Venezuela sejak 10 tahun yang lalu menggelar operasi mata gratis bagi warga warga miskin di Amerika Latin. Tidak tanggung-tanggung enam juta orang telah menerima manfaat dari program ini.
Dan pada akhirnya dunia pun mengakui keunggulan Kuba di bidang kesehatan ini. Bahkan prestasinya mengalahkan Amerika Serikat dalam masalah ketersediaan tenaga medis, yakni satu dokter untuk 177 penduduk. Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan satu dokter untuk 188 penduduk.
Tentunya keunggulan itu menjadikan Kuba sebagai daya tarik yang memesona bagi ribuan dokter dari berbagai dunia. Seperti yang ditulis Republika lagi, bahwa tahun lalu saja 1800 dokter dari 47 negara menyelesaikan studinya di Kuba. Pada saat yang sama 25 ribuan tenaga medis Kuba melanglang buana dengan menjelajahi sedikitnya 68 negara, termasuk Indonesia.
Maka dengan semua keunggulan itu pula wajar bagi Castro untuk meyakini bahwa Kuba dapat terselamatkan dari kebangkrutan finansial dan memutuskan ketergantungan pada sektor pariwisata. Wajar bagi Castro untuk membantu warga miskin Amerika Serikat yang sering menggerakkan sisi-sisi kemanusiaan negaranya karena banyak dari mereka terganggu penglihatannya.
Dus, dengan semua keunggulan itu wajar pula bagi Castro untuk menunjukkan izzah (kemuliaan) dirinya dan bangsanya. Wajar bagi Castro untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya dan bangsanya masih tetap eksis di tengah embargo tiada berkesudahan dari negara besar yang selama enam kepemimpinan presidennya tidak sanggup menggulingkan dirinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah mengapa ia sanggup tidak bertekuk lutut di bawah kaki Amerika Serikat? Mengapa ia mampu bertahan dari embargo ekonomi itu dengan hanya mengandalkan produksi gula, industri perikanan, dan cerutu Havana-nya yang terkenal itu? Mengapa ia sanggup menunjukkan kemuliaan dirinya hatta ia hanya seorang komunis, atheis pula? Yang seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh seorang muslim. Mengapa?
Seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh para emir negara Arab yang dengan kebijakan cadangan minyaknya bisa mengobrak-abrik tatanan perekonomian global, bukan ditunjukkan oleh Ajami seperti Iran. Ditambah dengan kemampuan salah satu negaranya yang dapat mengumpulkan lebih dari tiga juta manusia dalam satu waktu.
Dengan dua kekuatan itu, dipastikan mereka dapat menggentarkan hati para musuh Islam dan dunia. Namun apa yang terjadi? mereka bahkan menjadi budak-budak setia dari tuannya yang bernama Amerika Serikat.
Bahkan mereka bersorak sorai di saat tuan besarnya menebarkan angkara murka dengan melakukan invasi kepada negara Arab lainnya. Sehingga satu pertanyaan muncul: ”Dimana logika , dimana akal sehat? Saya semakin tidak paham saja membaca kelakuan politik beberapa negara Arab ini. Apa yang mereka cari sebenarnya?” (Syafii Maarif,17/1).
Tidak hanya itu, persoalan Israel pun tidak kunjung selesai sampai saat ini. Walaupun dari hari kehari sejak tahun 1948 nasib dan harga diri Palestina yang nota bene adalah bangsanya sendiri sudah semakin tiada artinya di mata durjana Israel.
Sosok-sosok yang mempunyai izzah itulah yang tidak dapat diberikan negara-negara Arab pada saat ini. Walaupun dulu pernah tercetak satu orang yang dapat melawan dengan gagahnya kesombongan Amerika Serikat dengan upaya yang dilakukan oleh King Faisal bin Abdul Aziz dengan embargo minyaknya pada tahun 1973.
Namun selalu saja di saat tunas kejayaan Islam mulai tumbuh, maka hama kekuatan kotor tak terlihat mulai bermain dengan segala daya dan upayanya. Di tahun 1975 Faisal pun dibunuh oleh keponakannya sendiri. Dunia Islam pun berduka tapi membawa sebuah pengakuan dalam hati yang paling dalam tentang kemuliaan diri seorang Faisal.
Bagaimana dengan Indonesia? Sanggupkah negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini dapat menunjukkan izzahnya di hadapan Amerika Serikat? Sanggupkah ia menandingi sikap yang ditunjukkan oleh Kuba yang luas daratannya hanya 88% dari pulau Jawa itu?
Hanya segunung keraguan untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Karena pada saat yang sama Indonesia pun dipertanyakan keunggulan apa yang dipunyainya, selain dari tingkat korupsinya yang sudah terkenal di dunia internasional.
Lagi dengan tekad kemandirian yang nyaris nihil pada diri para pemimpinnya. Semisal adanya ajakan untuk memboikot produk-produk Amerika Serikat dibalas dengan segudang argumen yang bersembunyi di balik kepentingan rakyat: ”Bahwa kita sendiri yang akan rugi kalau kita melakukan aksi boikot itu.” Lalu dengan alasan: ”berapa pengangguran akan tercipta dengan aksi itu?”, kekanak-kanakan, picik dan lain sebagainya.
Padahal di sisi lain, mereka membungkuk-bungkuk menuruti apa kata IMF dan para kapitalis liberalis dalam menelurkan kebijakan pembangunannya, tanpa melihat apa rakyat masih mampu untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasarnya?
Lalu jikalau tekad kemandirian itu saja nihil akankah mampu untuk menghadapi embargo dan tekanan dari negara-negara yang berusaha menginjak-injak kedaulatan dan harga diri bangsa ini? Tidak, tidak akan mampu.
Maka kita banyak menyaksikan anak-anak bangsa kita di siksa, dianiaya, diusir oleh para majikannya, pemerintah republik ini boro-boro untuk menegur negara pengimpor Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu, bahkan untuk memberikan bantuan hukum saja pun tak mampu.
Bahkan dengan negara tetangga yang bekas salah satu provinsinya saja tidak bisa bersikap tegas dalam menyikapi tiga rakyatnya yang tewas tertembak oleh ulah prajurit perbatasan negara itu. Apatah lagi dengan menghadapi negara Kangguru yang sudah terlalu banyak mengintervensi dan telah lama tidak bisa bersikap sebagai tetangga yang baik bagi Indonesia?
Maka tanpa kemuliaan diri itu, dengan mudahnya bangsa ini ikut turut pula memerangi anak bangsanya sendiri baik individu maupun kelembagaan dengan tuduhan terorisme yang dibuat-buat dan stigma yang amat buruk.
Maka tanpa kemuliaan diri itu kita pun akan melihat pula bangsa ini begitu rendahnya merengek-rengek kepada bangsa lain untuk mendapatkan pinjaman dan investasi baru yang menggiurkan bagi keberlangsungan jalannya pembangunan. Dan merengek-rengek pula untuk dapat menangguhkan pembayaran utang di saat jatuh tempo tak sanggup membayar bunganya saja yang benar-benar mencekik leher.
Maka tanpa kemuliaan itu kehinaan apalagi yang akan menimpa bangsa ini? Padahal tanpa mereka sadari—atau pura-pura tidak tahu—bahwa 85 % bangsa ini punya modal unggul untuk meninggikan izzahnya, yakni Islam.
Karena sungai sejarah peradaban Islam walaupun selalu dialiri dengan airmata, darah, dan pengorbanan, tidak akan jemu-jemunya menyuburkan tanah-tanah sekitarnya untuk senantiasa menumbuhkan dan mencetak generasi-generasi rabbani, para pahlawan, orang-orang besar, dan mempersembahkan tokoh-tokoh agung kepada dunia.
Maka kemuliaan manalagi yang didapat selain dari Islam? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menegakkan panji-panji dan obornya yang terang gemilang itu? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menguatkan geraham untuk senantiasa berpegang teguh pada dua pusaka yang ditinggalkan utusan terakhir-Nya?
Jika itu didapat, tidak hanya seorang Castro yang atheis itu yang akan tunduk dan menghinakan diri pada kemuliaan Islam, beribu-ribu Castro bahkan berjuta-juta nasionalis yankee hawkees pun akan terpaku, tunduk, dan bertekuk lutut di bawah bangsa yang hanya menakutkan dirinya pada satu Tuhan: Allah Sami’il ’Aliim .
Cuma: kapan saat itu akan tiba?
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08.29 25 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Anti Pornografi = Munafik?


d24.01.2006 – Anti Pornografi = Munafik?

Judul di atas adalah judul sebuah tulisan yang dibuat oleh Jonru. Si pemilik nama asli Jonriah Ukur ini mengumpulkan dan menulis tentang argumen-argumen yang selalu disampaikan para penyuka pornografi. Tentunya ada pula jawaban untuk setiap argumen itu.
Saya kira ini bermanfaat sekali untuk menambah wawasan dan meneguhkan keyakinan kita terhadap bahayanya pornografi. Dan sesungguhnya beribu cara Iblis dan jutaan tentaranya untuk mempersiapkan segala tipu dayanya di balik argumen-argumen cantik, indah, dan humanis, tapi sesungguhnya tipu daya mereka adalah lemah:
76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Annisa 4:76)
Seperti permintaan si penulis sendiri bahwa tentu apa yang diungkap di sini adalah sedikit dari banyak argumen. Oleh karena itu, kalau Pembaca mempunyai argumen lain yang biasa diungkap para penikmat pornografi, mohon untuk di tulis dan diberikan bantahan logis, sederhana, telak, dan menohok. Sehingga mereka tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, terdiam seribu bahasa, ibarat kata tenggorokan mereka tersedak tidak hanya oleh buah Kedondong tapi juga dengan buah Durian lengkap dengan kulit-kulitnya. (Emang enak…?)
Tulisan ini sedikit saya edit (siap-siap untuk menjadi editor) agar gaya bahasa ngeblognya dan penulisannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa mengurangi sedikitpun inti dari apa yang dia ungkap.
Kalau Anda terhubung dengan internet, sila untuk melihatnya langsung di blog Jonru, tepatnya di http://jonru.multiply.com/journal/item/143. Selamat menikmati.
***
Salah satu tudingan yang paling menggelikan dari orang-orang yang propornografi terhadap orang-orang yang anti pornografi adalah: ”MUNAFIK LU!”.
Selain itu, masih banyak argumen-argumen lain yang tak kalah lucunya.
Berikut saya sarikan beserta bantahannya. Jika ada teman-teman yang mau
menambahkan, dipersilahkan ya….
Argumen #01:
Orang yang anti pornografi adalah orang munafik, di satu sisi mereka menentang, tapi di belakang diam-diam menikmatinya
Jawaban:
Para penentang pornografi melakukan aksi kontra seperti itu, bukan
karena mereka tidak suka hal-hal yang berbau seks. Sebagai manusia
normal, tentu saja mereka suka.
Dan justru karena suka itulah mereka menentang pornografi.
Mereka telah tahu dampak buruk pornografi. Mereka tidak mau dampak buruk
itu menimpa orang lain. Karena itulah mereka menentang pornografi.
Info selengkapnya bisa dibaca pada tulisan saya: Saya suka pornografi (http://jonru.multiply.com/journal/item/138 ) Lagipula, sepertinya istilah “munafik” yang Anda gunakan itu tidak tepat.
Mari kita lihat apa pengertian munafik yang sebenarnya: Berdasarkan ajaran Islam, munafik adalah ciri manusia yang tidak taat beragama, tapi dari luar ia mencoba memunculkan kesan bahwa ia sangat alim dan ahli ibadah. Ia juga diam-diam memusuhi Islam dari dalam. Inilah pengertian munafik yang sebenarnya.
Argumen #02:
Majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur
Jawaban:
Alasan ini biasanya dilontarkan oleh sebagian orang yang anti pornografi. Walau saya sama antinya dengan mereka, saya tidak setuju dengan alasan ini. Budaya adalah ciptaan manusia yang akan terus berubah.
Mungkin saat ini majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur. Tapi bagaimana kondisi lima tahun lagi? Siapa tahu, majalah yang lebih vulgar dari Playboy pun sudah dianggap sangat biasa. Tahun 1940-an, orang pacaran tak berani bergandengan tangan di tempat umum. Tabu. Tapi kini? Berciuman di depan umum pun sudah biasa.
Budaya, norma masyarakat, dan seterusnya, tidak bisa dijadikan patokan dalam hal ini. Kalau mau menentang pornografi, pakailah ajaran agama (Islam) sebagai patokannya. Ajaran Islam sangat tegas mengenai hal ini, dan tidak berubah sejak dulu hingga kiamat nanti.
Argumen #03:
Majalahnya belum terbit, tapi kok sudah ribut duluan?
Jawaban:
Memang pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya tak
ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat bagaimana
medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti. Mungkin ia akan
dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin pula tidak terlalu
vulgar.
Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan
meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya
tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti majalah Gatra
atau Sabili.
Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat
pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang
mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana.
Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya
belum terbit?
Argumen #04:
Kenapa hanya Playboy yang diributkan? Toh, selama ini sudah banyak media
sejenis yang bertebaran di mana-mana?
Jawaban:
Anda sepertinya jarang membaca koran atau menonton televisi, ya?
Sudah begitu sering para aktivis anti pornografi melakukan aksi demo.
Mereka menentang hal-hal porno seperti itu. Tapi berhubung sekarang
majalah Playboy sedang naik daun, maka kita mempergunakan kesempatan ini
untuk menentang Playboy. Ini hanya masalah momentum. Bukan berarti kami
tidak peduli pada media porno lainnya.
Argumen #05:
Ini tidak porno, kok. Ini karya seni. Tampilannya elegan dan intelek.
Jawaban:
Saya mau jawaban jujur dari Anda, para pria sekalian. Ada foto seorang wanita yang sangat seksi dan tanpa busana, dikemas dengan selera seni yang amat tinggi, bahkan terkesan amat elegan dan berkelas. Apakah kemasan seperti ini berhasil menghilangkan nafsu birahi Anda ketika melihat tubuh si wanita?
Kalau jawaban Anda Ya, okelah. Argumen Anda saya terima
Kalau jawaban Anda Tidak, maka argumen Anda akan saya tertawakan!
Ketahuilai, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi “perasaan bersalah” yang muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media pornografi.
Argumen #06:
Kalau mau menentang Playboy, berantas dulu majalah-majalah porno yang sudah banyak beredar di Indoensia. Juga VCD porno dan sebagainya.
Jawaban:
Inilah strategi mengelak yang amat menggelikan. kalau kita berteriak: “Kami anti Playboy,” maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang VCD porno yang duluan ada?
Kalau kita berteiak “basmi VCD porno”, maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang majalah Popular yang telah dulu ada?” Kalau kita berteriak “breidel majalah Popular”, maka mereka berkata,”kenapa Anda tidak melarang bla bla bla…” Demikian seterusnya. Ini benar-benar argumen yang tidak mutu!
Lagipula, argumen seperti ini seolah-olah menuding para anti pornografi sebagai pihak yang memberikan iklim yang kondusif terhadap maraknya pornografi. Kalimat “berantas dulu VCD porno” dan sebagainya, sepertinya memperlihatkan bahwa mereka sedang lupa satu hal: Yang seharusnya memberantas hal-hal seperti itu adalah pihak kepolisian, dan pemerintah.
Nanti kalau ada kelompok anti yang melakukannya secara sepihak, misalnya FPI, Anda langsung mencibir lagi. Hehehehehe… Serba salah deh, Anda ini!
Argumen #07:
Anda bilang, pornografi itu meresahkan masyarakat. Masyarakat yang mana?
Toh faktanya, orang yang suka pada majalah porno jumlahnya jauh lebih besar.

Jawaban:
Jika ada 10 orang yang berkumpul, dari 9 di antara mereka mengatakan 1 + 1 = 3, sedangkan yang satu orang mengatakan 1+1 = 2, siapakah yang benar?
Kalau Anda mengatakan “jumlah orang yang doyan majalah porno jauh lebih besar”, maka Anda termasuk orang yang setuju bahwa 1 + 1 = 3. Anda hanya melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak. Padahal suara terbanyak belum tentu benar.

Argumen #08:
Itu semua tergantung moral orangnya, kok. Kalau otaknya sudah ngeres,
lihat kambing aja bisa langsung birahi. Apalagi lihat majalah porno.

Jawaban:
Sepertinya kita terbiasa untuk melihat masalah secara tidak
proporsional. Ada wanita yang berpakaian seksi dan mencoba menggoda pria
lewat penampilannya yang merangsang itu. Dan ketika ada pria yang
mengusilinya, kita semua menyalahkan si pria. Sedangkan si wanita kita
sebut sebagai orang modern karena penampilannya mengikuti perkembangan
jaman.
Kita hanya terbiasa menyalahkan orang yang terjebak melakukan kesalahan.
Ini benar-benar tidak adil. Seharusnya, kedua pihak harus disalahkan. Si
penggoda salah, di tergoda juga salah.
Jadi ketika ada orang yang berpikiran mesum setelah membaca Playboy,
apakah kita hanya menyalahkan orang tersebut dan tidak menyalahkan Playboy? Hihihi.. betapa tidak adilnya dunia ini!
Argumen #09:
Di negara-negara yang sangat permisif terhadap pornografi, kehidupan
mereka normal-normal saja kok.
Jawaban:
Negara mana yang anda maksud? Amerika? Coba tengoklah lebih dekat. Budaya kumpul kebo di sana telah membuat tatanan kehidupan mereka hancur lebur. Banyak anak yang tidak tahu siapa orang tuanya. Banyak orang yang kesepian karena tidak punya pasangan hidup yang setia. Mereka sepertinya baik-baik saja. Tapi coba Anda simak
kehidupan mereka lebih dekat. Janganlah Anda terbuai oleh indahnya film2
hollywood.
Argumen #10:
Playboy dan majalah porno lainnya hanya untuk konsumsi 21 tahun ke atas.

Jawaban:
Oh, apakah ini berarti: hanya orang yang berusia di bawah 21 tahun yang
akan dikenai dosa jika membaca media porno? Apakah orang yang berusia 21
tahun ke atas bebas dari dosa-dosa seperti itu?
Argumen #11:
Masalah dosa dan agama, itu urusan pribadi masing-masing. Jangan
bawa-bawa agama dalam hal ini. Lagipula, yang menentukan dosa itu kan
Tuhan, bukan kamu.
Jawaban:
Kalau agama adalah urusan pribadi masing-masing, kenapa harus ada ulama
atau ustadz? Apakah salah jika kita menasehati orang lain untuk berbuat baik dan
meninggalkan hal-hal yang tidak baik?
Kalau Anda berkata itu tidak baik, maka Alebih baik kembali ke masa
SD dan memarahi para guru Anda yang telah memberikan Anda pelajaran budi
pekerti dan sebagainya.
Dalam konteks tertentu, agama memang urusan pribadi. Tapi setiap
penganut agama juga berkewajiban untuk saling mengingatkan dengan
saudara-saudaranya yang lain.
Soal dosa, memang itu ditentukan oleh Tuhan. Tapi Tuhan juga telah
memberikan penjelasan lewat kitab suci bahwa pornografi itu dosa. Apakah
ini belum jelas bagi anda?
Argumen #12
Batasan porno itu kan relatif!
Jawaban:
Kalau Anda seorang muslim, coba Anda baca Al Quran. Di sana sudah
dijelaskan dengan amat tegas mengenai aurat dan sebagainya.
Argumen #13
Sudahlah, biarkan saja pornografi beredar. Yang penting kita bisa
mengendalikan diri, tidak ikutan menikmati!
Jawaban:
Dari segi pribadi, Anda benar. Tapi apakah Anda tidak peduli pada
masyarakat umum yang tidak bisa mengendalikan diri?
Atau jika Anda tidak peduli pada mereka, apakah Anda tidak peduli pada
anak, ponakan, dan saudara-saudara anda lainnya? Apakah Anda yakin,
mereka juga bisa mengendalikan diri seperti Anda?
Terimakasih dan wassalam, JONRU.
***
Jadi itulah sedikit dari berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh mereka yang mengaku (atau tidak) sebagai penikmat pornografi. Kalau memang pembaca adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada niat untuk menyelamatkan kita sendiri, anak-anak kita dan keluarga dari bahaya pornografi ini, maka sudah selayaknya untuk menyebarkan pesan-pesan ini kepada teman-teman kita.
Untuk teman-teman yang seide, diharapkan dengan adanya ini semakin menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Tentunya juga ini berguna buat teman-teman yang secara alami memang tidak atau belum bisa berbicara di depan umum dan tidak mampu untuk berdebat ataupun sekadar berbicara atau menjawab argumen sedikit kepada lawan bicara.
Dan untuk teman-teman yang pro pornografi, maka diharapkan pula dengan adanya jawaban-jawaban yang ada di sini, tidak sekadar terdiam seribu bahasa karena tercekik kulit buah durian mendapatkan jawaban yang telak itu, namun pencerahan dan kesadaran itulah yang kita harapkan dari mereka. Tentunya bila Allah berkehendak, yang penting kita telah berupaya semaksimal mungkin.

Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:41 21 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan