Menoreh di Kacanya


20.06.2005 – menoreh di kacanya, rie…(2)

saat kenangan kembali merasuk sukma
tak ada yang dapat menghalangiku mengenangmu
tentang jalanan yang menghiba
tentang pepohonan yang mengayun tiada henti
tentang derit ban yang tiada pernah menyerah
sepanjang sore
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jangan kau ragukan tentang kata yang telah kurangkai
kata demi kata
paragraf demi paragraf
di sepanjang perjalananmu itu
jangan kau hapus bekas hembusan nafasmu di kaca
biarkan ia menjadi saksi perenunganmu
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jadikan apa yang telah kutulis tentang
“menoreh di kacanya, rie…”
sebagai sebuah hikayat dari negeri antah berantah
yang tak dapat kau temukan di segala macam referensi
sedangkan aku masih teringat akhir perjalananmu
dengan kayuhan abang becak yang terhenti di depan rumahmu
setelah itu kau jalani begitu saja akhir pekanmu
dan gundah yang menggunung hilang di sepanjang curahan hati
pada yang mencintaimu sepanjang hidup
aku merasakan apa yang kau rasakan
tapi itu dulu, bertahun sudah
walaupun terkadang tiba-tiba ingatan itu
menyengat labirin memoriku…
dan segera kuhapus
karena kau telah berbeda…
yah, kau telah berbeda.
dedaunan, di sepanjang ranting cemara, 20 Juni 2005

Trial by The Press


Putusan bebas Nurdin Halid dalam kasus dugaan korupsi dana Bulog oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, disikapi Kompas, (Jumat, 17 Juni 2005)—yang menurut saya—berlebihan dan tidak fair, terlepas dari bobroknya sistem peradilan kita.
Bagaimana tidak, media massa sebagai salah satu pilar dari bangunan demokrasi tidak mempercayai jalannya pengadilan . Padahal pilar lain dari demokrasi adalah tegaknya hukum. Disini terjadi suatu ambivalen dari sikap penegakan demokrasi itu sendiri. Di mana mereka berkeinginan tegaknnya demokrasi namun di sisi lain meruntuhkannya dengan jalan tidak memerikan kepercayaan penuh pada pengadilan tiu sendiri.
Maka yang terjadi adalah pengadilan oleh media massa, yakni penghakiman oleh pers bahwa seseorang itu telah bersalah. Terjadi penanaman stigma, mau menang dan benar sendiri di sini. Padahal tentu Majelis Hakim yang terhormat telah mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi keputusan mereka.
Tentu bagi kita, sangat mengharapkan negeri ini bebas dari koruptor, namun hendaknya kita pun wajib menghormati putusan pengadilan tersebut, Kita masih punya jalan lain di mana, Jaksa masih berkempatan mengajukan kasasi ke tingkat peradilan yang lebih tinggi lagi.
Masalah bahwa system peradilan kita yang buruk, itu yang harus sama-sama kita perbaiki. Usaha pemerintah dengan pembetukan Komisi Judisial adalah alangkah yang patut di hargai. Sehingga ke depan dunia kehakiman mempunyai pengawas yang melihat apa-apap yang diperbuat oleh para hakim.
Terpenting di sini adalah tidak terjadi lagi trial by the press, yang benar dan salah adalah menurut media. Apabila ini dibiarkan maka yang terjadi adalah tirani minoritas.
Jika pers mau bersikap adil, maka selauknya pers juga bersikap sama kepada nasib Abu Bakar Ba’asyir. Karena seharusnya ia sudah harus dibebaskan dari tahanan ketika masa tahanan tersebut sudah habis. Namun apa yang terjadi, pers hanya bungkam, tak ada pembelaan sama sekali, Kalapun ada beritanya, itu pn tidak sebagai berita utama. Juga tak ada pemberian stigma kepada sisitem peradilan kita bahwa telah terjadi ketidakadilan terhadap seorang kakek tua yang tak berdaya itu.
Maka dapat dilihat, ada apa dengan pers kita, seharusnya pula apa pun yang mengusik rasa keadilan, pers pun mengangkatnya dan menyorotnya, tidak memandang siapa orangnya.
Akhirnya, kembali sikap dewasa kita dalam berdemokrasi perlu dipupuk. Sikap penghormatan kita terhadap peradilan perlu kita tegakkan. Fungsi kontrol dari pers memang wajib dijalnakn namun tentu dibarengi dengan upaya penegakkan kode etik jurnalistik.
Saya harap ini bukan upaya balas dendam terhadap PN Jakarta Selatan yang telah banyak menjebloskan para pemimpin redaksi ke terali besi dalam berbagai kasus pencemara nama baik oleh pers.
Allohua’lam.

Ghanimah


16.6.2005 – ruqyah kemarin, ghanimah, akhirat itu kekal.

hmm…alhamdulillah pagi ini saya nggak kehujanan, setelah sebelumnya sempat waswas karena ada rintik-rintik hujan.
Oh ya kemarin ruqyahnya seru juga. Waktu ruqyah masal ada satu laki-laki kena, sedangkan di bagian akhwatnya banyak teriakan lagi.
Nah pas waktu dipersilahkan untuk maju ke depan oleh ustadznya bagi yang merasa kesemutan atau merasa ada hal yang aneh ketika di ruqyah masal. Saat itu ustadz langsung mengumandangkan adzan dan doa-doa syar’i di telinga pasien, ternyata banyak juga yang kena.
Alhamdulillah, Insya Allah bisa diusir tuh yang namanya jin.
Berat juga bantuin teman-teman panitia, soalnya kuat banget berontaknya pasien waktu di ruqyah.
Saya sempat gemetar juga sih dengerin bacaan ayat-ayat syar’i para ustadz itu, merinding gitu loh. Bikin mata jadi berkaca. Sudah lama tidak merasakan getaran dan nuansa seperti itu.
Satu lagi: kayaknya berat banget supaya jadi orang ikhlas. Ada aja godaannya Makanya Allah kasih penghargaan khusus terhadap mukhlisin kelak. Yah, tapi saya berusaha ajalah supaya ikhlas dalam setiap perbuatan. Jadi ingat cerita tentang para sahabat nabi yang awal dari kalangan muhajirin dan anshar. Saat selesai berperang dan tiba waktu pembagian ghanimah. ternyata yang mendapatkan banyak ghanimah adalah orang-orang yang dulunya memusuhi Rosulullah dan baru-baru saja masuk Islam. Sedangkan para sahabatnya banyak yang tidak kebagian apa-apa. Sampai-sampai terdengar oleh Rosululloh keluhan dari para sahabat.
Akhirnya Rosululloh mengingatkan kepada para sahabatnya, yang intinya cukuplah Allah dan Rosululloh bagi mereka. Mendengar ucapan itu para sahabat langsung tersadar dan menangis.
Sadari ternyata kehidupan dunia tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di akhirat kelak ketika mereka mengikuti Allah dan Rosululloh.
Allohua’lam.
Semoga kita menajdi orang-orang yang cepat menyadari kekeliruan kita dan tak akan mengulangi lagi setiap kesalahan itu. Itulah sebaik-baiknya manusia.

Ustadz Rahmat Abdullah dan Ruqyah


15.6.2005 – seminggu lebih…nb: Ust. Rahmat Abdullah, dan Ruqyah

Akhirnya aku bisa kembali mengisi lembaran-lembaran di blog ini setelah sekian lama disibuki dengan ebgitu banyak laporan. Sebenarnya 28 laporan PKP jatahku itu sudah selesai aku buat, namun musibah menimpa salah seorang temanku. So, aku ditunjuk jadi pjs-nya, apa boleh buat 28 laporan harus saya buat segera sebelum jatuh tempo kamis besok. Dengan dibantu teman saya akhirnya 18 laporan selesai dibuat hari ini. Bertepatan dengan teman saya masuk kembali, sehingga dia cuma menyelesaikan sisanya kurang lebih 10 laporan lagi.
Ba’da isya kemarin, saya dapat kabar bahwa masyaikh al-ustadz. Rahmat Abdullah wafat. Innalillahiroji’un, semoga Allah memberika tempat terbaik kepada sang perintis dakwah ini. Sang awal di masanya.Niatnya pagi ini aku ingin melayat, namun kondisiku kecapean setelah pagi ini menempuh 40 km-an di atas mega pro. Akhirnya aku tidak jadi ikut temen yang naik motor ke Pondok Gede sana. Kalau naik mobil, mungkin aku akan ikut, supaya bisa tidur untuk menghilagnkan rasa lelah ini.
Semoga Allah, menjadikannya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Ohya siang nanti di masjid Sholahuddin, kalibata ini ada ruqyah oleh tim jakarta ruqyah centre (majalah ghoib), aku mau lihat, sekalian disuruh bantuin teman-teman panitia di sana. Entahlah aku ada jinnya enggak yah, ;-). Bukannya ngebantuin malah ngerepotin nantinya…
Allohua’lam.
Aku mau makan siang dulu sebelum pergi ke masjid.
Ayo siapa yang mau ikutan….

Melatiku di Sabtu Malam


30.5.2005 – Melatiku di Sabtu Malam

Hai…bertemu kembali denganku, dalam keceriaan Sabtu Malam. Dengarkan Melati di Jayagiri dan Aryati di sepanjang ku menulisnya. Teringat suasana alam perjuangan para pendahulu kita melawan para penjajah dulu. Dengan setelan baju dan celana pendek warna coklat toska kumuh, topi miring dengan senapan ala kadarnya atau paling canggih senapan mesin penembak pesawat udara.
Bergerilya susuri lembah dan gunung, sampai berjalan mengendap-endap di jalanan Kota Cirebon. Lewati rumah-rumah Cina bergaya tempo doeloe. Wuih, melankolis nian daku tinggalkan sebongkah hati di belakang dengan senapan di pundak. Mula Bekasi, Tanjung Pura, Cilamaya, Cikampek, Pamanukan, Subang, Bandung, Sumedang, Cirebon, sampai ke Yogya.
Ah, sudahlah lupakan memori tentang perang kemerdekaan dulu, lupakan bertempur dengan Kolonel “Jantje” Meijer di Sekitar Gunung Slamet. Lupakan semuanya dulu hingga kau kembali teringat akan Aryati, kembali lagi kau bisa susuri ingatan dulu.
Sudah berapa tahun sih kita Merdeka Ternyata kita jelang 60 tahun usia republik ini. Tapi mengapa kalau aku berbicara dengan teman seperjalanan selalu berisi keprihatinan-keprihatinan dengan nasib bangsa ini Keprihatinan tentang nasib anak-anak jalanan, orang miskin, pengangguran, sistem pendidikan, mutu sumber daya manusia, sistem peradilan, para penegak hukum, nasib pulau-pulau di perbatasan, nelayan-nelayan miskin, para petani, sistem keuangan dan moneter, ketidakberdayaan bangsa ini di dunia internasional sungguh tiada izzah, korupsi yang berurat dan berakar, dan masih banyak ribuan permasalahan lainnya yang tak dapat ditulis satu persatu dan tak bisa di bahas dengan ribuan seminar pun.
Sedangkan di negeri ini sungguh banyak orang pintar, konon kata dosenku Indonesia ini mempunyai doktor terbanyak di dunia. Tapi kok yah..jadi begini nasib bangsa ini. So, ternyata kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa tidak berbanding lurus dengan banyaknya orang pintar an-sich. Dibutuhkan juga mereka yang memiliki moral hazard, dan nilai-nilai kebaikan.
By the way, tiba-tiba aku jadi malas nerusin tulisan ini, mood saya kembali hilfil (hilang feeling ). Ya sudah, cukuplah di sini saya pikirkan bangsa ini. Berarti kemampuan saya cuma segininya. Urusan itu biarlah para petinggi kita yang memikirkannya. Terpenting, bagaimana sih kemajuan bangsa ini dimulai dari tindakan kebaikan kecil yang kita lakukan untuk kemaslahatan bangsa ini Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil.
Terakhir, jangan terlena dengan Melati di Jayagiri yah…coz, it was…

KENAPA HARUS FPI?


27.5.2005 – kenapa harus FPI gitcu loh…

wahai para pejuang
siapkan kuda-kudamu
dengarkan derunya
pekat debunya
teriakkan asma-Nya
sesungguhnya surga itu ada
di bawah kilatan pedang
………………………………….
Pagi ini, saya dapat email tentang pro kontra Miss Universe, bagi saya sudah jelas tidak ada pro kontra di sini. Sudah jelas, sudah terang seperti terangnya matahari yang menyinari kita di Jum’at pagi yang cerah ini. Sekali haram yah haram…
Tapi itulah negeri kita yang mengakunya bahwa Umat Islam mayoritas di negeri ini. Namun pemikiran sekuler melekat erat dan menyusup di saraf-saraf otak sehingga outputnya yah tetap sekuler juga. Apakah ini hasil dari pemikiran liberal dari orang-orang Utan Kayu Di mana mereka mengharapkan sekulerisme jadi patokan hidup kita. Yang mengharapkan ada energi kebaikan dan kemaksiatan berkumpul ada di negara ini. Ck…ck..ck…
Yah kita tahu siapa sih mereka.
Kembali ke Masalah Miss Universe…hari-hari kemarin kan FPI demo. Dan dengan itu banyak yang kebakaran jenggot.
Kenapa yah…kalau ada FPI beraksi banyak yang meradang…
Ditambah alasan: kenapa FPI gak demo artis-artis porno, gak demo TV, gak bakar Hailai dll
Harusnya yang mempertanyakan itu mikir juga…bahwa kalau dia muslim, maka kewajiban amar ma’ruf nahi munkar jadi kewajiban setiap individu muslim, tidak hanya FPI doang.
Punya kekuatan apa sih FPI, kalau harus ngurusin semua kemaksiatan di republik ini. Yang punya kekuatan itulah yang ‘sewajib-wajibnya’ untuk memberantas kemaksiatan. Berarti pemerintahlah, yang setidaknya punya kekuatan besar sekali untuk menumpas semua itu. Lah, gimana mau menumpas sedangkan ada sebagian dari mereka menjadi ‘backing’ kemaksiatan. FPI disini setidaknya ‘trigger’ untuk action yang lebih besar lagi bagi yang punya power..
Kata Ustadz Wahfiudin tadi malam: sungguh tidak seimbang ketika kita mengajak orang untuk berbuat kebaikan sedangkan ia tidak melakukan nahi munkar, sedangkan ia tidak mengikis kemungkaran itu.
Oleh karena itu kalau kita tidak mampu untuk nahi munkar, yah setidaknya diam sajalah, jaga mulut dan omongan, ketika ada saudara-saudara kita yang melakukan pemberantasan kemunkaran itu. Sungguh tidak ada keberkahan di negeri ini kalau kemaksiatan jalan terus dan tidak ada upaya untuk melawannya. Maka bersyukurlah masih ada orang-orang seperti mereka, masih ada orang-orang yang melakukan nahi munkar dan orang-orang yang mengingat Allah. Bisa jadi tiadanya azab bagi kita adalah karena orang-orang seperti mereka. Allohuakbar…
Allohua’lam.
Catatan:
tulisan di atas hanya sekadar uneg-uneg saya, hasil tangkapan sekelebatan ide di kepala saya. So jangan harapkan ada analisis panjang, dalam, menukik (apaan tuh he…he..he..) di tulisan ini. Lain kali lah, ketika tidak ada pekerjaan yang menumpuk di sini.

A Comme Amour


25.5.2005 – A Comme Amour

Tanggal merah memang menyenangkan. Di sana adalah saat untuk melepas penat setelah hari-hari melelahkan. Di sana pula lah saatnya merasakan kembali hangatnya selimut dan empuknya ranjang orang-orang metropolis sebagai pengganti kasur dulu.
Namun bagi sebagian orang, tanggal itu adalah kesempatan untuk merenda hari-harinya dengan mengajak orang-orang dan tetangga-tetangganya menuju kebaikan. Dengan mengisi majelis-majelis dan pertemuan-pertemuan yang membuat para malaikat merubung di atasnya. Namun ada pula tanggal merah adalah saatnya melanjutkan kerusakan-kerusakan di muka bumi-Nya, na’udzubillah.
Bagi saya, hari libur kemarin adalah saatnya untuk meneruskan kembali pekerjaan rumah yang terbengkalai kemarin. Mengecat pagar rumah. Yah…, pagar rumah saya yang sudah lama termakan karat, akhirnya bisa juga dicat kembali. Dengan mengecatnya maka terasa seperti baru. Ada yang indah di depan mata. Walaupun masih amatiran.
Ohya bentuk pagar saya tanpa ada mata pisaunya di atasnya loh. Menurut saya, pagar bermata tombak seperti itu, menandakan penghuninya merasa “paranoya gitju loh…”. Seperti terpenjara, sehingga perlu diamankan oleh benda semacam itu. Bahkan menurut saya, sepertinya mata tombak itu berteriak dengan nada mengancam kepada setiap orang luar. Iya sih, dulu ada rasa trauma juga dengan adanya mata tombak di setiap ujung pagar. Pernah di kampung saya ada pencuri buah Jambu Merah jatuh terpeleset dari atas pohon dan langsung tertancap di pagar itu. Tubuhnya tertusuk mata tombak. Jadi bagi saya, nggak usahlah pakai pagar dengan motif seperti itu.
Hari libur, juga saatnya untuk memperbaiki speaker masjid, yang bunyinya kurang kencang. Kini setelah diperbaiki, suaranya menggelegar tak kalah dengan speaker mushola kampung sebelah. Kini tidak ada alasan bagi saya dan tetangga-tetangga sekitar Masjid Al-Ikhwan untuk tidak sholat berjama’ah terutama sholat shubuh di Masjid.
Kumandang adzan ashar begitu syahdu kudengar. Saya lihat sebuah keluarga kecil dengan dua anak mengendarai sepeda motor berhenti di depan masjid ketika adzan terdengar. Dan mereka berlalu ketika usai. Setidaknya saya terharu kepada mereka, saya saja terkadang masih cuek beybeh, sedangkan mereka masih sempat menghentikan perjalanan mereka untuk mendengarkan adzan, walaupun mereka tidak ikut sholat berjama’ah. Tapi menurut saya, perbuatan itu tergolong langka, yang sering kita dengar adalah orang berhenti melakukan aktivitas dan melakukan penghormatan ketika Bendera Merah Putih dikibarkan. Yah, setidaknya perbuatan mereka menjadi ibroh kesekian kalinya bagi saya.
Saat kutulis ini, bulan purnama menghias malam tapi tanpa bintang terlihat mata. Itu pun terangnya tak seterang malam kemarin. Namun cukuplah itu sebagai pelezat pandangan, untuk menjadi bekal yang indah terbawa mimpi. A Comme Amour…
Jadi ingat sebuah puisi yang saya tulis lama sekali… ketika dihadapan saya tergeletak kertas putih kosong dengan pena hitam di atasnya.
entah,
kan kutulis apa
hamparan hati yang tak berbatas ini
yang adanya hanya denyut
itu – itu saja
entah,
kan kutulis apa
lembaran waktu yang tak berujung ini
yang adanya hanya detak
itu – itu saja
sedangkan,
hati itu akan berkarat
dan…
waktu itu akan habis
malunya diri
tak membuat segera berbenah
entahlah…
kan kutulis apa lagi
putihnya kertas
untukmu ini…
………………………
………………………
Lalu tiba-tiba saya kembali mengulang memori dulu tentang sebuah malam:
malam taburkan bintang
di atas sekat-sekat bilik saung
tunggu…!
terdengar hanya
suara jangkerik, katak
sesekali tingkah burung hantu
tak lupa gemericik air
meramaikan sepinya malam
jatuh dari bilah bambu tertancap di tebing
dan aku hanyalah
desiran angin
senantiasa lewat
menjadi saksi
menyelinap disela-selanya,
tapi malam tetaplah malam
yang aku kan kembali setiap saat
lewati saung itu
lewati sela-selanya…
………………………………………………………….
Pffh…sudah saatnya saya akhiri saja tulisan ini. Saatnya kembali kubuat rencana untuk esok pagi. Hingga tiada yang tak bermakna. Karena shubuh nanti saya kembali segar untuk merengkuh hari-hari yang akan menjadi milikku. Dengan penuh mimpi…dengan mengenang segala kebaikan sahabat-sahabat tercinta.
Allohua’lam.
dedicated to:
1. Ibu Kunto Wulandari, jadi ingat waktu di pantai dulu;
2. Mbak Titi disepanjang ingatan antara Kelapa Dua dan Kalibata;
3. Pak Mubari, jazzy banget gitu loh…
4. Boss Binanto, kreditur pc saya;
5. Kang Asep, semoga tak mengingat lagi down payment lalu;
6. Pak Uha Indiba, kapan jadi kakap Jakartanya pak…
7. Ananda di antara rajah cintanya…
8. Ibu Nina, kapan yah saya bisa berkunjung ke tempat Ibu
9. Littlebee dan Asa, kita disini menantikan kalian berkumpul menjadi satu, tak ada yang dapat memisahkan, entah jarak atau waktu;
10. dan semua teman-teman tercinta yang tak sempat lagi kuingat ribuan kebaikannya kepada saya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik lagi.

The Black Heroes


THE BLACK HEROES: Malam sabtu kemarin, saya kembali menemukan suatu—menurut saya—tayangan bagus di salah satu stasiun swasta. Yakni tentang sebuah film yang menceritakan tentang kepahlawanan orang Afro Amerika. Film itu dibintangi oleh Denzel Washington.
Film berkisah nyata ini mengisahkan tentang seorang petinju terkenal saat itu di tahun 60’an—saat Amerika penuh hawa rasialisme, dituduh dan difitnah seorang polisi kulit putih rasialis, telah membunuh tiga orang. Dan dengan tuduhan tanpa bukti itu ia harus mendekam selama 20 tahun untuk suatu perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Dalam penjara ia menulis sebuah buku otobiografinya dengan judul: The 16th Round: From No. 1 to No. 45472.
Kemudian buku tersebut menginspirasikan suatu keluarga untuk membantunya. Dan pada akhirnya dengan upaya keras luar biasa dari keluarga tersebut, Rubin “Hurricane” Carter dapat menghirup kebebasan yang selalu diimpi-impikannya.
Terus terang saja film itu sedikit banyak memberikan suatu paradigma lain tentang kepahlawanan kulit hitam. Seorang Spike Lee (sutradara hitam) sampai mengatakan bahwa untuk membuat tentang kepahlawanan orang hitam harus dibuat oleh orang hitam. Ia berkata demikian ketika Norman Jewinson seorang kulit putih ingin menyutradarai Denzel Washington dalam film Malcom X (1992). Di sini Washington mendapat nominasi Oscar Aktor Terbaik Namun tujuh tahun kemudian Jewinson mendapat kesempatan untuk menyutradarai Washington dalam film pahlawan kulit hitam: Rubin “Hurricane” Carter. Dengan peran ini Washington memperoleh Golden Globe.
Seringkali bagi saya, kalau melihat tontonan Hollywood, selalu yang saya cari adalah bintang utama yang diperankan oleh seorang kulit hitam. Sepertinya itu memuaskan hasrat saya tentang ketidakadilan yang menimpa mereka selama berabad-abad melalui jalur perbudakan di Afrika Barat seperti Mali, Senegal, sampai ke Sungai Mississippi Alabama.
Seperti juga dalam film yang dibintangi oleh Samuel Jackson, yang diadaptasi dari sebuah novel terkenal (judul film dan buku tersebut saya lupa). Ia memerankan seorang ayah yang harus berhadapan dengan hukuman mati karena telah membunuh ketiga orang kulit putih yang dibebaskan dari pengadilan, dimana tiga orang itu telah memperkosa dan menyiksa anaknya yang masih kecil. Kalau tidak salah Jackson juga memperoleh nominasi Oscar.
Ada lagi film televisi dan ini pun kisah nyata, tentang serombongan kulit hitam dari Afrika yang menumpang secara gelap sebuah kapal kargo Eropa, pada akhirnya mereka ditemukan, dibantai habis dan mayat-mayat mereka dibuang ke laut. Satu dari mereka lolos dan dikejar di dalam kapal tersebut. Dengan segala upaya untuk mempertahankan hidup ia berjuang dengan keras sampai polisi pelabuhan Perancis menemukannya. Sayangnya lagi-lagi saya lupa judul filmnya. Sampai saat ini orangnya masih hidup.
Ada lagi tentang pahlawan hitam berlatar belakang pembantaian di Rwanda judulnya HOTEL RWANDA. Film yang dibintangi oleh Don Cheadle dan Sophie Okonedo mulanya saya anggap biasa saja namun dengan segumpal pertanyaan tentang hebatnya film ini—karena sempat menjadi nominator pemeran terbaik dalam Academy Award 2005. Sebuah kisah aksi heroik yang berbuah seabreg penghargaan, termasuk menjadi nomine Academy Awards 2005.
Don Cheadle, pemeran Resesabagina dinominasikan untuk menjadi aktor terbaik. Ia harus bersaing dengan Jamie Foxx (dalam film Ray), Johnny Depp (Finding Neverland), Leonardo DiCaprio (The Aviator), dan Clint Eastwood (Million Dollar Baby). Sementara itu, lawan mainnya, Sophie Okonedo, diunggulkan untuk kategori aktris pemeran pembantu terbaik.
Tak hanya itu, Terry George dan Keir Pearson dinominasikan untuk meraih penghargaan sebagai penulis naskah orisinal terbaik. Sayang, George tak lolos untuk kategori sutradara terbaik.
Setelah usai, akhirnya saya mengakui tentang kehebatan cerita dari film itu. Sampai saya masih tak percaya film ini sudah usai dan tak segera beranjak untuk meninggalkan televisi karena hanya ingin membaca subtitle di akhir film, sambil menikmati iringan musiknya.
Dan kepenasaran saya dengan film ini membuat saya segera meraih ensiklopedia dan surfing internet untuk mengetahui tentang Rwanda dan apa yang telah terjadi disana persis 11 tahun lampau pada tanggal 6 April 1994.
Di situs Kompas yakni Kompas Cyber Media (22 Februari 2005) diulas tentang film ini. Berikut Kisah sosok heroik yang selalu saja menarik untuk disimak. Inilah cerita yang diangkat berdasarkan kisah hidup Paul Resesabagina, seorang manajer hotel yang berhasil melindungi ratusan pengungsi dari ancaman pembantaian.
Upaya Resesabagina menyelamatkan para pengungsi kelompok etnis Tutsi mendapat perhatian luas. Dalam film itu dikisahkan pada sebuah siang yang cerah, suasana normal di Kota Rwanda berubah jadi penuh ketegangan, ketika kelompok etnis Hutu melakukan aksi turun ke jalan. Mereka meneriakkan yel-yel kebencian terhadap kelompok etnis Tutsi, yang mereka nilai telah menjadi antek kaum penjajah.
Sebagai seorang Hutu, Paul taklah terlalu risau. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi sang istri, Tatiana (Sophie Okonedo), yang seorang Tutsi. Pun halnya dengan keluarga istrinya, yang kebanyakan adalah orang-orang Tutsi.
Siang berganti malam, aksi kaum Hutu semakin menjadi. Sikap anti-Tutsi pun kian hari kian bergolak, terlebih ketika ajakan kebencian itu disuarakan lewat radio-radio prorasisme.
Pada sebuah malam, suara gaduh di depan rumah mengundang keingintahuan Paul. Ternyata, perang terhadap kaum Tutsi telah dikobarkan. Razia terhadap mereka yang dituding sebagai orang-orang Tutsi mulai dilakukan. Mereka dikumpulkan. Jika ada yang ketahuan, orang itu akan dihajar bahkan, tak tanggung-tanggung, diculik lalu dihabisi.
Pemandangan tersebut benar-benar membuat Paul tak berdaya. Desakan Tatiana agar berbuat sesuatu tak digubrisnya. Maklum, para pembantai itu datang bergerombol dan menenteng senjata. Paul malah meminta istrinya untuk masuk ke dalam agar tak jadi sasaran aksi pembersihan.
Gerakan razia terhadap orang-orang Tutsi menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Ratusan orang mencari perlindungan di kawasan yang dianggap aman.
Pembersihan kelompok etnis tertentu, yang dipicu oleh rasa kecemburuan sosial, tersebut kian menggila. Pemandangan itulah yang dilihat oleh Paul selepas meninggalkan tempat kerjanya sebagai manajer di sebuah hotel.
Awalnya, tak pernah ia berniat menyelamatkan orang-orang lain. Yang terpikir dalam benaknya, bagaimana istrinya bisa selamat dari incaran kaum milisi Hutu. Tapi, pikiran itu berubah ketika, setibanya ia di rumah, ia mendapati banyak tetangganya yang berasal dari kelompok etnis Tutsi menjadikan kediamannya tempat persembunyian yang aman.
Apa yang ditakutinya akhirnya datang. Sekelompok pasukan bersenjata merazia rumahnya. Paul mula-mula tak bisa berbuat banyak, ketika di rumahnya didapati banyak orang Tutsi.
Paul akhirnya putar otak. Uang sogokan menjadi jalan keluar. Keluarga dan tetangganya berhasil diselamatkannya. Mereka berhasil diungsikan ke lokasi aman, yaitu hotel tempat Paul bekerja. Hotel itu aman karena di sana menginap sejumlah turis asing yang dilindungi oleh pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kepahlawanan Paul mulai disodorkan di bagian ini. Ia datang bak superhero, meski ia bukan Superman atau Spider-Man. Apa yang dilakukannya tak kalah hebat dengan tokoh-tokoh penyelamat rekaan itu. Namun, hal tersebut tentunya tidak selalu berjalan mulus. Ia nyaris putus asa ketika pasukan PBB malah meninggalkannya bersama orang-orang Tutsi tanpa perlindungan.
Ini sebuah kisah yang mengharu biru. Karena itulah, film bertajuk Hotel Rwanda, garapan sutradara kelahiran Belfast, Irlandia Utara, ini berhasil meraih simpati penonton, termasuk menyabet penghargaan favorit penonton di Festival Film Toronto beberapa waktu lalu.
Cerita ini memang menghadirkan simpati yang luar biasa. Resesabagina disebut-sebut telah menyelamatkan sekitar 1.000 orang penduduk Rwanda dari aksi pembantaian etnis di wilayah tersebut. Resesabagina perlu ditiru. Tak harus menunggu kejaiban menjadi Superman atau Spider-Man terlebih dahulu.

Itulah para pahlawan hitam yang berjuang dari segala bentuk rasialisme, sisa dari abad-abad lampau. Yang masih belum juga terhapuskan pada saat ini. Namun sekarang rasialisme berubah bentuk yang semula pada kulit namun juga pada ideologi yang dianut. Seorang Muslim menjadi terdakwa dengan cap terorismenya oleh negara yang mengaku penjunjung tinggi hak asasi manusia.
Inilah dunia saat ini. Namun semua itu bisa dilawan dengan hanya persatuan (ukhuwah) di antara umat ini. Akankah muncul “the back heroes’ yang tidak hanya membela warna kulit mereka tapi ideologi mereka. Layaknya Bilal-Bilal masa lalu. Sang Mu’adzin. Allohua’lam.

semboerat tempo doeloe


20.5.2005 – semboerat tempo doeloe:

tiba-tiba terbersit kilatan petir di kepalaku, mencoba mengurai kata demi kata yang lama terpendam, dalam, dalam sekali di palung hatiku. Mencoba menyapa jiwa di bumi Swarnadwipa dan di muara-muara pertempuran reptil dan ikan raksasa di timur Jawadwipa. wahai pemilik hati…. sudah lama tak kudengar kicauan ’merayu’ dari sukma-sukma kesepian perindu alam sudah lama tak kusapa tembok-tembok berlumut dari penyangga ampera dan jembatan merah penyusur waktu kini harapan membuncah dengan segumpal tanda tanya kapan lagi kicauan itu terdengar merasuk denyut-denyutku kapan lagi tembok-tembok itu bisa meratap mengajakku sambil berteriak: injak aku…injak aku, bersihkan lumut-lumut ini dariku ajak dia…ajak dia, bersamamu melihat senja turun indah dengan semburatnya ………….. ………….. Batavia, 20 Mei 2005

Kingdom of Heaven


Membaca ulasan Film Kingdom of Heaven di halaman 151-152 kolom 6 paragraf 2 edisi 16-22 Mei 2005, yang baru saja saya baca dengan judul tulisan “Yang ‘Kudus’ ..yang Berdarah”.
Saya kiranya dapat memberikan koreksi pada tulisan berikut ini:
“….dan seperti Abu Bakar yang menakhlukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengijinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai…”.
Dapat saya ungkapkan di sini adalah bahwa yang menahlukkan Yerusalem pada era awal pemerintahan Islam Pasca kematian Rosululloh Muhammad SAW adalah sahabat Umar bin Khaththab ra bukan sahabat Abu Bakar (Ashshidiq) ra. Itupun terjadi pada tahun 638 M bukan di tahun 637 M.
Hal ini bisa di baca dan dicari referensinya pada buku-buku sejarah Islam. Salah satu contohnya bisa dilihat pada buku Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 penerbit: PT Ichtiar baru Van Hoeve di halaman 48 kolom 2 paragraf 3:
“Persetujuan ini disampaikan kepada Khalifah di Madinah, yang disertai permohonan agar Umar bersedia datang untuk menerima penyerahan Yerusalem. Pemimpin ini menyetujui perjanjian itu dan segera berangkat ke Palestina. Pada tahun 638 M, penyerahan kota suci itu dilakukan dari Patriach Sophorius kepada Khalifah Umar bin Khaththab.”
Sedangkan pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar belum sampai pada penguasaan Yerusalem, bisa di baca pada halaman 47 buku yang sama pada kolom 2 paragraf 3:
“Pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar berlangsung dari 12-13 H. Pada akhir pemerintahannya, pasukan Islam telah dapat menguasai daerah yang cukup luas. Selain Jazirah Arabia, yang dapat disatukannya kembali setelah munculnya gerakan pembangkang, beberapa daerah di luarnya dapat ditaklukan dan dimasukkan ke dalam kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukannya pada masa khalifah pertama ini antara lain Ubullah (terletak di pantai Teluk Persia), Lembah Mesopotamia, Hirah, Dumat al Jandal (kota benteng yang terletak di perbatasan Suriah), sebagian daerah yang berbatasan dengan Palestina, perbatasan Suriah dan sekitarnya.”
Demikian koreksi ini saya sampaikan, karena bagi yang sudah terbiasa membaca tentang sejarah Islam akan mengalami “keterperanjatan” yang mengganjal ternyata terjadi pada sebuah majalah sekaliber Tempo.
Kurang lebihnya mohon maaf. Billaahittaufiq wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.