Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama


Hujan begitu deras siang itu. Diiringi angin kencang dan suara jendela yang menutup dengan keras. Brak!!

Saya melihatnya dari ruang kelas yang sudah sepi. Di lantai 2 Gedung N PKN STAN. Beberapa menit lalu saya menutup kelas. Seperti kebiasaan saya selama ini, saya paling terakhir meninggalkan ruangan. Membereskan administrasi perkuliahan, menaruh materi ke dalam folder, dan menutup kelas secara daring. Semuanya serba tanpa kertas.

Berbeda sekali dengan tiga dekade lalu ketika saya masih mahasiswa STAN, waktu itu masih ada buku tulis, masih ada buku rekap pengajaran, dan masih ada buku teks. Saat ini semuanya telah berubah.  Diganti dengan laptop dan tablet yang dibawa ke mana-mana.

Sudah tidak ada lagi overhead proyektor (OHP) dengan lembaran plastik sebagai media bahan ajar yang biasa disampaikan oleh para dosen. Kalau pindah halaman berarti mengganti lembar plastik. Teknologinya memang masih seperti itu. Jadul sekali.

Sekarang semua ruang kelas sudah dilengkapi proyektor yang terhubung dengan komputer. Materi pun ditaruh di awan (cloud). Tidak perlu membawa harddisk atau kepingan cakram berisi bahan ajar. Dulu keadaannya jauh berbeda. OHP harus dipakai bergantian dan digotong dari satu kelas ke kelas lain.

Namun, dari semua itu masih ada yang tidak berubah. Wajah anak-anak muda yang sedang berusaha memahami sesuatu yang baru. Kadang terlihat dahi mereka berkerut, kadang ada yang saling menoleh kepada temannya, kadang saling berbisik, atau barangkali mereka terdistrak dengan tayangan dari sesuatu yang ada di layar laptop, tablet, dan ponsel mereka.

Di sini tidak ada larangan menggunakan perangkat elektronik semacam itu. Semuanya malah menjadi pendukung belajar mengajar. Risiko mereka teralihkan oleh hal lain tentu ada, tetapi itu adalah risiko yang terukur. Oleh karena itu, di kelas saya, jangan pernah mereka merasa aman tidak ditanya. Saya akan bertanya satu per satu. Yang tidak fokus akan terlihat gelagapan.

Ketika Socrates mengajar murid-muridnya, termasuk Plato, Socrates hampir selalu mengajar dengan bertanya, bukan memberi ceramah panjang. Berabad-abad lalu, seorang pemikir Arab bernama Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menulis, ilmu tidak tumbuh dari hafalan yang dipaksakan, tetapi dari proses memahami yang bertahap dan diskusi yang hidup antara guru dan murid. Barangkali karena itulah saya lebih sering bertanya daripada berbicara panjang di kelas.

Untuk itu, dalam kelas saya, saya ingin para mahasiswa tidak cuma mengerti, tetapi mengajak mereka berpikir. Ketika saya terus bertanya, saya sebenarnya sedang memaksa mereka melakukan tiga hal: berpikir, menyusun argumen, dan berani menyatakan pendapat.

Contohnya adalah soal kegantengan. Ketika misalnya pemerintah sedang mencari sumber penerimaan negara dan mendapatkan peluang bertambahnya penerimaan dari “kegantengan” masyarakat Indonesia kira-kira desain kebijakan pajaknya bagaimana? Apakah itu dikelola pemerintah pusat atau pemerintah daerah? Atau jangan-jangan malah cukai yang diterapkan kepada kegantengan karena memiliki eksternalitas negatif? Pertanyaan semacam ini tentu membuat kelas sedikit riuh. Dari situlah biasanya diskusi mulai hidup.

Oh ya, saya mengajar mata kuliah Analisis Potensi Penerimaan Negara untuk mahasiswa alih program dengan jurusan Akuntansi Sektor Publik. Sabtu ini sudah pertemuan ke-12. Tinggal dua pertemuan lagi tersisa.

Pendekatan yang saya pakai dalam mengajar menurut saya sangat relevan karena nanti mereka akan menghadapi kasus nyata, kelak mereka akan mengambil keputusan, dan harus memahami alasan di balik suatu aturan.

Di luar hujan masih turun, tetapi tidak sederas sebelumnya, yang deras adalah harapan saya kepada mereka, para mahasiswa itu. Kelak ketika mereka menjadi pejabat, mereka adalah pejabat yang memiliki empati kepada masyarakat karena masyarakat sejatinya pemegang saham republik ini.

**
Riza Almanfaluthi
7 Maret 2026
Foto sekadar ilustrasi buatan akal imitasi.

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
👉 https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

One thought on “Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama

Leave a reply to Blogombal Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.