Respons Cepat dalam 1 Nanodetik



Sore itu, saya membuka koran digital langganan di laptop.  Saya tertarik pada sebuah berita yang berjudul “Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS”. Nvidia merupakan perusahaan teknologi Amerika Serikat yang terkenal sebagai produsen Graphics Processing Unit (GPU) terbesar dan paling maju di dunia. Bos Nvidia yang dimaksud dalam berita itu adalah pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang.

Di dalam persaingan pembuatan cip, China dianggap tertinggal. Pada saat perang dagang antara Amerika Serikat dan China, China kelimpungan karena ada penerapan boikot Amerika Serikat pada pasokan cip ke China. Sebenarnya China dari beberapa tahun lampau sudah membaca ketergantungan ini. Supaya mandiri, mereka berjuang keras untuk bisa memproduksi mesin litografi—mesin pembuat cip. Di sini dunia masih menganggap China masih tertinggal jauh.

Huang mengatakan sebaliknya: “Mereka (China) hanya beberapa nanodetik di belakang AS. Karena itu kita harus bersaing,” kata Huang dalam siniar BG2 yang dipandu oleh investor teknologi Brad Gerstner dan Bill Gurley. Pernyataan Huang tidak sembarangan. Huang menilai China sebagai lawan tangguh, gesit, adaptif, dan inovatif. Ini dikaitkan dengan budaya kerjanya yang menganut 9-9-6. Artinya pekerja China bekerja 12 jam dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam selama enam hari dalam sepekan.

Koran digital itu menulis lagi. Mantan CEO Google Eric Schmidt memiliki pikiran sama dengan Huang. Kalau Amerika Serikat ingin bersaing dan tidak tertinggal dengan China, pekerja Amerika Serikat jangan menerapkan budaya kerja dari rumah (WFH)—budaya kerja yang masih diterapkan Google sampai sekarang. Schmidt mengatakan, pekerja Amerika Serikat harus mengorbankan budaya kerja keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi atau dengan kata lain work-life balance.

WFH, menurut Schmidt, sangat merugikan anak muda bahkan mereka yang berpendidikan tinggi. Schmidt membandingkan saat ia masih muda dan bekerja di Sun Microsystems (1983—1997). Dia banyak belajar dan berdiskusi dengan seniornya di kantor. Bagaimana bisa belajar dan berdiskusi kalau WFH masih diterapkan, ungkap Schmidt. Inilah yang menurut Schmidt menjadi penyebab mengapa Google kalah dari OpenAI dan Anthropic. “Google memutuskan bahwa work-life balance, pulang lebih awal dan bekerja dari rumah, lebih penting ketimbang menang,” tegas Schmidt (Kompas, 22 November 2025).

Sebenarnya apa yang dikemukakan Huang dan Schmidt tentang jam kerja 9-9-6 itu sudah dianggap ilegal di China. Menurut undang-undang ketenagakerjaan China, jam kerja pegawai maksimal 8 jam per hari, atau rata-rata 44 jam sepekan. Perusahaan harus mematuhi itu. Namun, tidak sepenuhnya hilang, terutama untuk perusahaan teknologi China. Ini yang kemudian menjadi hal yang dikhawatirkan oleh Huang dan Schmidt. Perusahaan teknologi China masih menerapkan jam kerja agresif.

Di sinilah yang menurut saya, masing-masing kutub sedang mencari titik temu atau titik keseimbangannya. Jangan sampai WFH kemudian menihilkan ruang koordinasi dan metode kerja 9-9-6 mengorbankan keseimbangan hidup. Jepang saja mencoba menghilangkan budaya karoshi (kematian akibat kerja berlebihan) dan sejak 2017 mengampanyekan pulang lebih awal pada Jumat terakhir setiap bulan. Bekerja melebihi batas waktu membuat pegawainya burnout—kondisi yang menyebabkan pegawai lelah fisik, emosional, dan mental. Ujung-ujungnya bunuh diri.  Sampai sekarang Jepang terus  berjuang melawan karoshi. Data 2024 masih menunjukkan 1.304 kasus kematian karena kerja berlebihan.

Dunia sedang serempak bergerak ke tengah: WFH yang tidak kebablasan dan jam kerja yang lebih manusiawi. WFH tidak otomatis membuat kita unggul karena kinerja tinggi atau rendah tergantung budaya kerja di dalam organisasi. Juga kita tidak perlu meniru persis seperti di China dengan 9-9-6 yang diam-diam masih dilakukan oleh perusahaan teknologi di sana.

Yang masih terus-menerus berusaha kita jalankan adalah kecepatan respons dalam menangani pekerjaan. Ukuran waktunya dalam nanodetik, tidak lagi dalam hitungan detik. Ini yang semakin familier di dunia digital. Nanodetik itu 1 dibagi 1 miliar detik, waktu yang dibutuhkan sinyal komputer untuk menempuh beberapa sentimeter kabel. Barangkali dalam bentuk senda guraunya seperti ini: kita sudah menuliskan kata “siap” pada saat atasan masih “typing” di aplikasi percakapan WhatsApp.

Selain kecepatan respons, kita memerlukan kolaborasi antarseksi, antarbidang, antarbagian, dan antarkantor.  Ini yang kita sebut sebagai kolaborasi efektif. Semua unsur di dalam organisasi saling membutuhkan, bagian teknis ataupun pendukung, tidak ada yang merasa paling unggul, ataupun paling berjasa dalam pencapaian target organisasi.

Terakhir, kuncinya ada pada profesionalitas. Dalam kondisi apa pun, kita sebagai pegawai DJP mampu menunjukkan performa terbaiknya: bertanggung jawab, disiplin, jujur, kompeten, berkomunikasi yang baik, dan berorientasi hasil. Profesionalitas itu berarti sikap dan kualitas kerja kita yang menentukan, tak tergantung pada tempat kita bekerja, di rumah atau di kantor.

Huang punya penilaian tersendiri kalau kemajuan perusahaan teknologi China tidak terlepas dari budaya kerja 9-9-6 itu, tetapi di dalam Nvidia sendiri, fleksibilitas WFH tetap ada sampai sekarang. Bedanya Huang tetap menuntut kinerja tinggi.

Kalau Huang jadi orang nomor satu DJP, apa yang akan ia lakukan? Siapkah kita?

**

Riza Almanfaluthi
Desember 2025
Ditulis pertama kali untuk dan telah dipublikasikan di Kayu Baimbai, majalah internal Kantor Wilayah DJP Kalimantan Selatan dan Tengah, volume 1

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.