
Setelah sekian lama mengikuti kegiatan lari virtual selama pandemi, akhirnya saya bisa ikut “race” betulan. Kali ini saya ikut Jakarta Half Marathon (JHM) 2023 pada Ahad, 20 Agustus 2023. Itu pun dalam kategori 5 km saja.
Ini berarti saya kali keduanya berlari dengan garis startnya berada di Monas. Dulu saya pernah ikut Mandiri Jakarta Marathon 2017 dalam kategori Half Marathon pada 29 Oktober 2017.
Mengambil Race Pack
Sebelumnya, para pelari yang ikut JHM 2023 diberikan kesempatan untuk mengambil race pack di Poins Mall, Lebak Bulus dari Kamis—Sabtu, 17—19 Agustus 2023. Saya baru sempat mengambil race pack itu sepulang kerja pada Jumat bakda Magrib.
Kalau dari kantor, bisa saja saya naik kendaraan langsung ke sana. Namun, ada yang ingin saya coba di hari itu: naik kereta bawah tanah MRT (Mass Rapid Transit) untuk pertama kalinya. Kereta rel listrik (KRL) itu biasa disebut Ratangga. Kata ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti kendaraan beroda, kereta, atau kereta perang.
Baca: Sinopsis Buku Sindrom Kursi Belakang
Untuk menaiki Ratangga, saya harus jalan kaki dulu menuju Stasiun Istora Mandiri kurang lebih 1,5 km dari kantor. Stasiun itu letaknya di bawah tanah. Sebelum masuk ke stasiun, tas harus diperika dengan mesin X-Ray seperti di bandara. Saya membayar tiket kereta dengan e-Money. Keretanya juga tidak penuh padahal di jam pulang kantor. Kalau KRL Jabodetabek pasti penuh banget di jam itu. Saya dapat tempat duduk di Ratangga. Ratangga ini di sebagian rutenya berada di bawah tanah, sebagiannya lagi memakai jalan layang.
Bangku kereta Ratangga berbeda dengan bangku KRL. Bangkunya terbuat dari plastik polikarbonat. Interiornya memang seperti interior kereta MRT yang berada di luar negeri. Coba lihat dan bandingkan sekilas interior MRT dalam film John Wick Chapter 4. Waktu itu John Wick memasuki MRT seusai bertempur di Hotel Osaka Intercontinental dan bertemu dengan Akira Shimazu yang sedang terluka. Interiornya mirip.
Saya tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Stasiun Lebak Bulus. Saya tidak mencatatnya. Pokoknya cepat. Harga yang harus saya bayar Rp11.000,00. Harga tiketnya tentu jauh lebih mahal daripada KRL Jabodetabek. Kalau pakai KRL dari Citayam sampai Manggarai dengan jarak lebih dari 30 km itu saya hanya membayar Rp4.000,00.
Sesampainya di Stasiun Lebak Bulus, saya harus jalan kaki di jembatan yang menghubungkan antara Stasiun Lebak Bulus dan Poins Mall. Saya cukup jalan sebentar untuk tiba di tempat pengambilan jersei lari JHM 2023.
Sesampainya di sana, terlihat banyak loket yang terbagi dalam beberapa kategori lari. Dan suasana semuanya sama, tidak ramai dan tidak ada antrean. Saya menunjukkan surel pendaftaran lari yang pernah saya dapatkan beberapa bulan sebelumnya dan langsung diurus oleh mbak-mbak yang menjaga loket. Saya mencatat identitas diri saya secara manual dalam daftar kunjungan yang disediakan panitia dan mendapatkan satu goodie bag yang isinya macam-macam. Ada kaos, BIB, air minum, dan pernak-pernik kudapan anak-anak yang sering kita jumpai di kios kelontongan tetangga.
Sebelum pulang, saya mencari kios kopi. Saya melihat kios Janji Jiwa. Saya memesan es amerikano tanpa gula. Dalam satu seruputan, saya sudah bisa meletakkan amerikano ini dalam daftar ensikopledia perkopian virtual saya. Amerikanonya masih di bawah Point Coffee dan Kopi Tuku. Jauh. Jauh sekali.
Baca: Daftar Isi Buku Sindrom Kursi Belakang
Mulai Lari
Sabtu malam itu, tepatnya pada pukul 21.00, saya menuju Stasiun Citayam. Saya akan menginap di tempat adik di Utan Kayu, Jakarta. Tujuannya satu, supaya saya bisa tepat waktu tiba di Monas besok paginya. Kalau berangkat dari Citayam dengan kereta pertama pun, sepertinya tidak terkejar. Race 5k harus dimulai tepat pukul 05.45.
KRL jurusan Jakarta yang tiba di Stasiun Citayam kosong penumpang. Butuh waktu 45 menit untuk sampai tiba di Stasiun Manggarai yang sudah sepi. Dari stasiun itu saya naik ojek daring. Tiba di tempat adik pukul 22.30 dan langsung tidur.
Besoknya, tepat sebelum azan Subuh berkumandang saya segera bersiap. Setelah mandi dan salat Subuh, saya menuju Monas diantar adik. Hanya butuh waktu kurang dari 15 menit untuk sampai di taman dekat Stasiun Gambir. Karena macet, saya minta diturunkan di taman itu untuk kemudian jalan kaki menuju kompleks Monas. Banyak para pelari yang jalan kaki menuju garis start.
Saya hampir tiba di tempat para pelari 5k berkumpul pada saat peluit Half Marathon dibunyikan tepat pukul 05.15. Para pelari 21 km sudah mulai lari. Nanti 15 menit kemudian menyusul para pelari yang ikut kategori 10k. Para pelari 5K setengah jam kemudian baru start.
Saya tidak menitipkan bawaan saya ke tempat penitipan barang. Saya membawa tas kecil PPDDP yang biasa saya pakai untuk lari pagi menuju kantor pada saat hari kerja. Rencananya saya memang langsung pulang ke Citayam dan tidak mampir lagi ke Utan Kayu. Oleh karena itu, bawaan saya pun seminimal mungkin. Enggak repot tuh sepanjang pelarian bawa tas begitu? Sudah biasa dan jaraknya hanya 5K. Kalau buat HM atau FM lebih baik ditinggal saja.
Baca: Kata Pengantar Buku Sindrom Kursi Belakang, Buah dari Surga Kecil
Sepuluh menit menjelang waktu start, pelari 5K sudah mulai berbaris rapi. Ada panitia yang mengatur. Saya merasakan hawa lari yang luar biasa di garis start. Suasana dan hawa yang pernah rasakan dulu, saat mengikuti race sebelum wabah itu tiba. Saya bersemangat. Dan, terotet terotet tet!!! Terompet start berbunyi. Bismillah ….
Saya berlari cukup kencang. Barangkali ini karena terbawa suasana para pelari di depan. Satu kilometer pertama di Jalan Medan Merdeka Selatan dilalui dengan pace 5:51. Wow, kalau lari sendirian mana bisa saya secepat ini. Sebuah pace pemuncak yang terjadi di awal-awal saja.
Di KM2, kami berbelok ke Jalan M.H. Thamrin. Saya mulai disusul banyak pelari. Pace saya merosot di 6:31. Ini saya tetap luar biasa buat saya. Di sepanjang jalan banyak sekali saya temukan tukang poto, baik resmi dari penyelenggara ataupun tidak resmi yang hasilnya bisa ditemukan di Instagram.
Di perempatan Sarinah, para pelari 5K diarahkan berputar arah. Saya sudah masuk KM 3. Alhamdulillaah, masih kuat. Namun, pace juga semakin terjun jadi 6:50. Ayo, tinggal sedikit lagi. Tidak usah jalan kaki. Lari saja walaupun pelan.
Di KM 4, kami tiba di Jalan Medan Merdeka Barat. Pelari sudah banyak yang mendahului saya. Kalau saya perhatikan, mayoritas pelari memakai jersei resmi yang sudah dibagikan pada saat pengambilan race pack. Tak banyak pelari yang memakai kaos lari komunitas. Saya sendiri pakai kaos DJP Runners yang warna merah itu. Oh ya, pace saya di KM ini 6:54. Saya sudah menebak sepertinya jarak lari dalam race ini tidak genap 5K, pasti lebih. Sebuah dugaan yang sepertinya benar adanya.
Bertemu Potential Winner
Nah, di KM terakhir itulah kemudian saya disusul pelari yang familier. Saya disusul pelari veteran dengan panggilan Nenek Yuli. Para pelari yang sudah lama berkecimpung dalam olahraga lari ini pasti tahu nenek ini. Ia aktif lari dan sering ikutan race di mana saja. Saya pernah menjumpainya pada saat mengikuti Borobudur Marathon dalam kategori Full Marathon pada 17 November 2019.
Di JHM 2023 ini, beliau sudah berumur 64 tahun. Larinya tidak cepat, tetapi stabil. Dan saya yakin, pace-nya terjaga dari awal. Saya saja sampai ketinggalan, tercecer, dan tak bisa menyusulnya. Garmin di lengan kiri saya bergetar menandakan satu kilometer terlewati. Ini sudah 5 km. Di KM itu pace saya 7:12. Ya, benar, walaupun sudah sampai 5K, ini belum sampai di garis finis. Gerbang finis masih ratusan meter di depan.
Saya tambah kecepatan lari walaupun hanya puluhan meter saja. Dan alhamdulillah, saya memencet tombol selesai di Garmin pada saat kaki saya melewati garis finis. Catatan pelarian kali ini menempuh waktu 34 menit 37 detik dengan jarak lari sejauh 5210 meter. Dari catatan yang tersimpan di jam lari, di KM 6 itu, pace saya naik jadi 6:30. Alhamdulillaah, masih bisa finis dengan kuat.
Bersamaan saya finis, ada pelari HM dari Afrika yang juga finis. Masyaallah, dia hanya butuh waktu 1 jam 6 menit untuk menyelesaikan 21 km.
Saya langsung menuju refreshment area dan menjumpai Nenek Yuli yang menuju tempat yang sama. Kami bertegur sapa. “Wah hebat Nek. Selamat yah,” kata saya.
“Saya dapat kalung potential winner nih. Enggak tahu juara apa tidak,” katanya. Wah, mantap. Nenek Yuli bisa jadi juara di kategori Master Wanita.
Setelah saya mengambil air mineral dan mendapatkan medali di refreshment area, saya duduk-duduk di dekat pagar besi pembatas yang entah keberadaannya untuk membatasi apa dengan apa. Suasana masih belumlah ramai. Mayoritas para pelari 10K masih berjuang menuntaskan pelarian, apalagi para pelari 21K.
Saya harus menunggu kurang lebih satu jam untuk bertemu dengan teman-teman pelari dari Direktorat P2Humas, DJP yang mengikuti ajang ini dalam kategori 10K. Seperti Mas Rozaq yang mendapatkan medali 10K pertamanya. Ada juga Mas Hasib dan Mas Panca. Pun, saya bertemu dengan beberapa pelari DJP Runners.
Baca: Memesan Buku Sindrom Kursi Belakang di Sini
Saya sempat antre panjang namun cepat terurai untuk mengambil segelas Milo kecil. Para pelari pun mendapatkan kudapan ringan dalam kotak yang dibagikan gratis. Setelah itu saya pulang dengan jalan kaki sejauh 1,5 km menuju Stasiun Juanda.
Secara keseluruhan race ini bagus. Walaupun memang lajunya para pelari tetap terhalang oleh lalu-lalang kendaraan yang memotong Jalan M.H. Thamrin. Rombongan kami sempat terhenti di perempatan sebelum Sarinah karena harus memberikan kesempatan kendaraan supaya bisa lewat. Ini masih mending. Pada tahun 2017, kami harus lari-lari bersebelahan dengan busway. CFD waktu itu padat dan kumuh karena bersamaan dengan pembangunan jalur bawah tanah MRT.
JHM 2024 bisa jadi ajang pelarian yang dinanti di tahun depan. Apalagi kalau ditambah dengan refreshment dalam bentuk karung yang isinya macam-macam dengan berat 19 kg itu. Seperti race sebelah di hari yang sama.



***
Riza Almanfaluthi
21 Agustus 2023
Pemesanan Buku Sindrom Kursi Belakang silakan klik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi