Guru Kehidupan


28.6.2005 – Guru Kehidupan Dan Sebuah Kenangan

Kepada sahabat istriku:
azimah rahayu
Tadi malam saya sempat membaca emailmu, tentang seorang guru ‘kehidupan’. Saya sempat tanyakan pada Istriku, sebagai salah satu mantan muridnya, “apa istimewanya seseorang sepertinya…” Dia menjawab, “ia adalah orang yang bisa menjaga hatinya.” Deg….jawaban itu menohok jantung pemikiranku. Sampai aku terdiam sesaat.
Hingga aku berpikir, hati adalah kemudi dari sebuah kapal besar bernama kehidupan kita masing-masing. Bila kita salah membelokkannya maka yang kita dapat adalah orientasi yang hilang arah. Maka terpujilah orang yang bisa menjaganya. Yang bisa menjaga hati dari segala apa yang akan membuatnya kelabu bahkan hitam mengelam, layaklah ia adalah orang yang berusaha untuk meraih cinta pada Sang Maha Pemilik Cinta.
Wuih…ironi sekali dengan apa yang kumiliki di hati ini. Bahkan aku tak sanggup menengok dan mengira seberapa kelamkah hati ini terkotori bayang-bayang semu duniawi. HIngga bait-bait doa di lima waktunya pun malu-malu aku haturkan:
Ya muqollibal qulub, tsabit qolbi ‘ala tho’aatik, tsabit qolbi ‘ala syari’atik, tsabit qolbi ‘ala da’watik.
Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada ketaatan kepadamu, tetapkanlah hatiku pada syari’atmu, tetapkanlah hatiku pada dakwahmu.
Sungguh, ceritamu membawaku kembali kepada penyadaran.
Emailmu lagi, tentang sebuah ‘kenangan’, pun merayuku untuk merajut ulang memori. Bahkan apa yang aku akan ceritakan untukmu selama sepekan dalam pengelanaan ke Jurangmangu, sudah semuanya kau tulis. Dari hamparan dhuha, melihat sosok-sosok mengalunkan ayat-Nya, sampai pada kata deja vu itu, sudah kau tulis di sana. Ya sudah, itu cukup untuk mengobati rasa rinduku.
Namun ternyata pagi ini rindu itu belum tuntas sampai aku angkat telepon menanyakan kabar pada ‘guru kehidupanku’ di Makasar sana. Empat tahun sudah ia keluar dari BPKP, dan bergabung di sebuah grup perusahaan besar milik putera daerah.
“Guru dan Kenangan”-mu cukup indah kubaca dan menjadi file yang akan disimpan di rak-rak memoriku. Tenang saja kapasitas sejuta gigabyte-ku masih dapat menampung file-file itu. Insya Allah, takkan terlupa.
‘abdurrahman (sebaik-baik nama)
dedaunan di ranting cemara, 28 Juni 2005, 11.05 WIB

Sehelai Nasehat Untuk Kalian


27.6.2005 – sehelai nasehat dalam sepucuk surat untuk kalian

Kepada dua saudaraku,
di
selatan dan di ujung timur jauh kota ini.
Rentangan waktu tak cukup mampu untuk kita membalas apa yang telah Allah berikan kepada kita sejak lahir hingga helaan nafas terakhir sekarang ini. Maka pujilah Ia Yang Maha Pemurah atas segalanya.
Berjuta lembaran pun tak cukup mampu menampung kemurahan dan keagungan akhlak Sang Terkasih Muhammad Rasulullah SAW, nabi akhir zaman. Maka bershalawatlah, Sesungguhnya Allah dan para malaikat pun bershalawat padanya.
Saudaraku, pada suatu saat, tiba-tiba aku ingat tentang kalian. Sudah lama saya tidak mendengar kabar kalian. Dan kebetulan pula ingatan itu tiba saat kalian sudah menyelami bahtera rumah tangga setahun lamanya.
Saudaraku, setahun bukanlah waktu yang pendek untuk dapat saling mencintai karena-Nya. Namun setahun pun bukanlah waktu yang lama untuk dapat saling memahami.
Saudaraku, masihkah terekam kuat dalam ingatan peristiwa yang mengguncang ‘arsy setahun yang lalu. Tentang perasaan yang membuncah dan kebahagiaan yang meledak-ledak. Hidup terasa menjadi mawar harum semerbak.
Izzatul Jannah dalam bulan setengah (2004) sampai mengatakan: tidak ada yang seindah pernikahan sebab ia memberi kelegaan, ruang yang luas untuk memanjakan jiwa, rasa keindahan, dan rasa kasih. Sungguh ia adalah tempat menyejajarkan kaki yang lelah sebab benturan antara manusia, tempat meluruhkan jerih sebab ujian dan masalah. Maka Sang Nabi menyebutnya sebagai setengah diin. Tetapi, tahukah engkau bahwa pernikahan tidak selamanya mawar
Saudaraku, kututup buku itu sambil merenung, mengambil kaca metafora untuk menghitung diri seberapa salah tangan ini mengayuh biduk itu. Seberapa salah tangan ini menunjuk arah yang benar, agar tak lewati riak–riak kecil hingga gelombang tinggi menggulung. Enam tahun kami kayuh dan ternyata menyadari bahwa kami harus banyak saling belajar untuk menjadikan bahtera itu tenang. Sungguh pertolongan Allah-lah yang membuatnya tetap tenang, dan itu yang kami harapkan hingga akhirnya nanti di suatu saat aku dapat selamatkan diriku dan mereka dari panasnya api neraka. Ya Allah jauhkanlah panasnya api neraka-Mu dari kami.
Saudaraku, sari dari kita menaiki biduk itu adalah sudahkah setengah diin yang lain itu kita peroleh Mampukah kita menyelamatkan diri kita dan mereka dari kengerian abadi itu Maka yang terpenting dari semua itu adalah kita berusaha untuk tetap mengayuh biduk ini dalam ketenangan syariat-Nya.
Saudaraku, adakah biduk itu telah dapat menjadi ruang untuk memanjakan jiwa dan meluruhkan jerih Sedangkan jarak dan waktu menjadi sekat pekat yang tak gampang dilewati dengan mudah. Perlu pengorbanan.
Saudaraku, ternyata aku tak bisa membayangkan hidup seperti kalian. Aku bertanya pada diriku sendiri, bisakah aku hidup seperti kalian Suatu saat aku menyadari ternyata aku adalah orang rumahan. Aku tak bisa bepergian sebentar tanpa mengingat orang-orang yang aku cinta, melupakannya begitu saja dan menjadi sosok angkuh berstatus freeman susuri kota-kota indah di sepanjang selatan Jawa. Maka dapatkah aku menjadi sosok-sosok kuat seperti kalian yang dengan sabarnya menempuh semua itu.
Saudaraku, yang hanya dapat aku berikan kepada kalian adalah dua ayat indah bagi jiwa-jiwa yang lelah tempuhi kesabaran:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah:4-5).
Saudaraku, ternyata Alam Nasyrah adalah pelipur bagi jiwa-jiwa sarat beban.
Saudaraku, saling panggillah kalian dengan panggilan yang terindah, selayaknya Sang Nabi memanggil belahannya: Khumaira.
Saudaraku, janganlah pernah bilang ‘seandainya’ karena Rasulullah SAW melarang mengatakan itu sebab ia adalah pintu syaitan—itu yang kembali aku temukan dari Izzatul Jannah.
Saudaraku, pupuklah cinta hingga sarat dan memenuhi kamar-kamar hati kalian. Di saat pertemuannya kalian akan temukan dahsyat keindahannya.
Saudaraku, ingatlah tentang hari akhir yang sungguh abadi. Yang indahnya tak bisa terbayangkan dan terlintas dalam pikiran manusia. Yang kengeriannya pun begitu pula.
Saudaraku, jadikan momentum ini awal untuk menasehatiku pula. Untuk saling berbagi. Aku butuh itu. Aku butuh itu untuk tidak menjadi jiwa-jiwa dengan ruhani yang ringkih. Pun dengan kalian.
Saudaraku, jangan biarkan biduk itu kosong dari mawar-mawar indah semerbak mewangi. Tentang tak selamanya mawar, itu takkan pernah terjadi jika kalian menyadari cinta kalian adalah cinta karena-Nya.
Saudaraku, semoga sehelai nasehat ini—tidak hanya buat kalian juga terpenting adalah buatku juga—adalah menjadi pelipur. Pelipur dari segala keresahan, karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Penyembuh. Bukan dariku, manusia dhoif dan faqir ini.
Saudaraku, dalam setiap tangan yang menengadah ke atas di setiap malamnya, aku berharap tak melupakan kalian. Dan sudikah kiranya kalian melesatkan panah-panah harap itu kepada-Nya dengan menyelipkan namaku di setiap tangkainya. Bisa jadi dari kalian, semua harapku didengar-Nya.
Saudaraku, siang Ahad ini semakin terasa pijar-pijar panasnya. Sudah saatnya aku akhiri ini. Aku akan menekuni yang lain:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Alam Nasyrah:7-8).
NB:
Seperti apa yang diminta oleh dedek-mu,
Kutulis ini untukmu, dan ku-cc-kan untuknya.
Alfaqir ilallah
dedaunan di ranting cemara

Never Too Old Too Learn


Malam Ahad, 25 Juni 2005

Citizen-ku masih menunjukkan kurang dari jam dua belas malam. Hasratku untuk terlelap di kasur empuk masih menggantang di atap. Belum dapat menelanku menuju mimpi-mimpi indah atau bahkan sebaliknya?
Hari ini cukup melelahkan. Masih sempat kuikuti seminar tentang debt, foreign exchange, and international financial stability oleh Peter Dirou—Lead Advisor to DG Treasury, Ministry of Finance—dengan terkantuk-kantuk. Menarik namun segera terhapus dengan kecemasan bahwa aku perlu belajar untuk ujian metodologi penelitian, senin besok.
Malam ini, setelah beberapa lembaran catatan kuliah kubuka, aku coba untuk surfing di internet. Secara tak sengaja (atau sengaja?) aku kembali temukan catatannya. Catatan seorang Azimah Rahayu tentang we are never too old to learn, tentang we are never too late to start. Sempat terpana dengan apa yang ia tulis. Lancar, mengalir, dan tentu enak dibaca.
Semuanya diawali tentang keterpanaannya pada sosok-sosok yang ia kenal sejak di Jurangmangu. Yang kini—menurutnya—telah membuatnya iri. Mereka pada usia matang-matangnya menuju kedewasaan, telah menjadi visioner dan mempunyai orientasi hidup terang sekali seterang matahari. Mereka merajut hidup dengan meniti karir dan mengayuh biduk rumah tangga, sejak dini. Sedangkan dirinya stagnan di suatu titik. Masih mencari identitas diri. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkecamuk di benaknya.
Hai, ke mana saja kamu selama ini? Apa saja yang telah kamu lakukan dalam hidupmu? Bisa apa kamu saat seusia mereka? Apa saja yang kamu mengerti dan telah kamu jalani saat berusia belasan dan dua puluhan? Prinsip apa yang telah kamu pegang dengan kokoh saat usia awal dua puluhan?
Sampai suatu ketika, di saat ia nyaris putus asa di awal dua puluh limanya, seorang teman memberikan kalimat yang menghunjam dan dalam padanya: we are never too old to learn, we are never too late to start.
Sejak saat itu, ia terpacu untuk berubah. Tidak ada kata tua untuk belajar, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Ia ikuti kursus-kursus yang akan membuatnya berubah. Ia melatih dirinya untuk dapat berpindah kuadran kehidupan. Dari sosok yang masih mencari jati diri hingga sampai suatu titik keniscayaan bahwa ia telah berubah.
Lima tahun sudah dari pergolakan batin itu adalah kini ia sudah menjadi sosok terkenal di dunia sastra Indonesia. Ia kini tergabung di komunitas penulis muda Islam: Forum Lingkar Pena.
Jelang usianya yang ketigapuluh, masih dalam kesendiriannya, yang kukenal darinya adalah tidak ada lagi cerpennya yang tidak mengalir seperti di kampus dulu. Funky tapi masih syar’i coy…Supervisor di berbagai kegiatan kerelawanan. Dan masih menjadi salah satu masinis untuk menarik gerbong besar panjang bernama dakwah.
Ia berubah. Kita pun bisa berubah. Perubahan terkadang perlu cara revolusioner tetapi measurable. Kedisiplinan adalah salah satu kuncinya pula. Itu yang pernah aku rasakan dulu, lama sekali. Satu-satunya pengalaman berharga yang membuatku memahami bahwa tiada yang sulit di dunia ini jika kita berpikir positif dan mempunyai azzam (tekad) kuat.
Bagaimana tidak, ketika aku baru memasuki SMU, aku adalah termasuk orang yang anti dengan matematika. Namun apa yang terjadi, ketika memasuki kelas dua, aku tertinggal dengan teman-teman yang lain.
Akhirnya timbul suatu niat untuk memulai perubahan. Siang-malam kuhabiskan dengan matematika, matematika, dan matematika. Disiplin dan latihan terus menerus. Apa yang bisa kupetik adalah saat pembagian nilai matematikadi ujian akhir: aku mendapat nilai excellent.
So, kita semua bisa berubah. Sekali lagi dengan revolusioner dan measurable. Napoleon saat mendaki sebuah tebing yang sulit di Pegunungan Alpen bersama pasukannya, pernah berkata: tidak mungkin adalah kata-kata yang hanya ada dalam kamus orang-orang bodoh.
Tapi mungkin anda punya cara lain untuk berubah. Berubah apa saja. Tentu ke arah yang membuat diri kita bernilai di hadapan manusia, utamanya adalah di hadapan-Nya. Sekali lagi ke arah yang lebih baik.
Saat kita tak punya rasa cinta pada sesama maka berubahlah.
Saat kita tak punya rasa takut dengan dunia maka berubahlah.
Saat kita tak punya rasa percaya diri maka berubahlah.
Saat kita merasa sendiri maka berubahlah.
Dan masih jutaan saat-saat lainnya yang membuat kita mandeg dalam menghitung sisa-sisa hari kita. Maka berubahlah, pindahlah saya dan Anda ke kuadran kehidupan yang lebih baik. Insya Allah kita bisa.
Ups…tiba-tiba hasrat memeluk mimpi-mimpi itu menekanku pada titik yang aku tak sanggup untuk menahannya beberapa menit lagi. Tak dapat memberikan kesempatan pada jemariku menari di atas tuts sesaat saja. Untuk akhiri fragmen kehidupan pada hari ini.
Terimakasih Azimah, malam ini Anda adalah sosok yang kesekian, selain mereka—Ayyasy, Haqi, Ria (adek kelasmu)—yang membantuku untuk berubah. Aku tak sabar menunggu esok, untuk mengirimmu SMS. Sekadar ucapkan: terimakasih. Itu saja.

**********************************************************************01.15, 26 Juli 2005

Tercerabut dari Akarnya


24.6.2005 – tercerabut dari akarnya

Aku masih menyempatkan diri untuk menulis di sini. Walaupun timbunan pekerjaan menumpuk di meja dan membauiku. Sudah hampir sembilan bulan lamanya, aku tak pernah lagi melihat dan mengeksplor ditrikpa dan DSH Net.
Waktu itu dua minggu menjelang ramadhan, seluruh komputer di kantor ini tak bisa mengakses dua situs itu.
Aku yang biasanya mendownload banyak file dari rikpa files, saling berkirim email dengan rikpa mail, dan berdiskusi di DSH Net, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi itu langsung down dan hilfil.
Berhari-hari saya mencari solusinya mengapa ini terjadi dan akhirnya aku memahami bahwa semua ini yah memang harus terjadi. Pada saat itu aku seperti pepohonan yang tinggi menjulang dengan akar yang menghunjam jauh ke dalam tanah, dan tiba-tiba tercerabut dari akar-akarnya.
Baru kemudian di bulan Desember tahun lalu, semua pegawai di kantorku mendapat fasilitas email dari pajak.go.id. Dan aku ikuti beberapa milis yang sangat informatif. Sehingga aku dapat melupakan rikpa dan dsh net. Aku pun ber asyik masyuk dengannya.
Namun tiba-tiba, setelah dunia mendapat serangan virus mematikan di bulan April kemarin, kembali aku dapat musibah sejak bulan Mei 2005, aku tidak dapat mengikuti milis, walaupun aku masih dapat ber-imel ria di sana.
Kembali aku merasa tercerabut dari akarnya. Aku merasa terputus dari dunia luar. Aku merasa eksistensiku hilang begitu saja di tiup angin di setiap waktunya.Tiada lagi dunia interaktif bagiku.
Tapi Mungkin di sini aku kembali menemukannya. Aku harap demikian. Semoga.
Wah, bau pekerjaan yang menumpuk kembali menyengatku. Saatnya aku kembali ke duniaku, supaya jangan jadi orang-orang yang tertinggal.
Allohua’lam.

Menoreh di Kacanya


20.06.2005 – menoreh di kacanya, rie…(2)

saat kenangan kembali merasuk sukma
tak ada yang dapat menghalangiku mengenangmu
tentang jalanan yang menghiba
tentang pepohonan yang mengayun tiada henti
tentang derit ban yang tiada pernah menyerah
sepanjang sore
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jangan kau ragukan tentang kata yang telah kurangkai
kata demi kata
paragraf demi paragraf
di sepanjang perjalananmu itu
jangan kau hapus bekas hembusan nafasmu di kaca
biarkan ia menjadi saksi perenunganmu
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jadikan apa yang telah kutulis tentang
“menoreh di kacanya, rie…”
sebagai sebuah hikayat dari negeri antah berantah
yang tak dapat kau temukan di segala macam referensi
sedangkan aku masih teringat akhir perjalananmu
dengan kayuhan abang becak yang terhenti di depan rumahmu
setelah itu kau jalani begitu saja akhir pekanmu
dan gundah yang menggunung hilang di sepanjang curahan hati
pada yang mencintaimu sepanjang hidup
aku merasakan apa yang kau rasakan
tapi itu dulu, bertahun sudah
walaupun terkadang tiba-tiba ingatan itu
menyengat labirin memoriku…
dan segera kuhapus
karena kau telah berbeda…
yah, kau telah berbeda.
dedaunan, di sepanjang ranting cemara, 20 Juni 2005

Trial by The Press


Putusan bebas Nurdin Halid dalam kasus dugaan korupsi dana Bulog oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, disikapi Kompas, (Jumat, 17 Juni 2005)—yang menurut saya—berlebihan dan tidak fair, terlepas dari bobroknya sistem peradilan kita.
Bagaimana tidak, media massa sebagai salah satu pilar dari bangunan demokrasi tidak mempercayai jalannya pengadilan . Padahal pilar lain dari demokrasi adalah tegaknya hukum. Disini terjadi suatu ambivalen dari sikap penegakan demokrasi itu sendiri. Di mana mereka berkeinginan tegaknnya demokrasi namun di sisi lain meruntuhkannya dengan jalan tidak memerikan kepercayaan penuh pada pengadilan tiu sendiri.
Maka yang terjadi adalah pengadilan oleh media massa, yakni penghakiman oleh pers bahwa seseorang itu telah bersalah. Terjadi penanaman stigma, mau menang dan benar sendiri di sini. Padahal tentu Majelis Hakim yang terhormat telah mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi keputusan mereka.
Tentu bagi kita, sangat mengharapkan negeri ini bebas dari koruptor, namun hendaknya kita pun wajib menghormati putusan pengadilan tersebut, Kita masih punya jalan lain di mana, Jaksa masih berkempatan mengajukan kasasi ke tingkat peradilan yang lebih tinggi lagi.
Masalah bahwa system peradilan kita yang buruk, itu yang harus sama-sama kita perbaiki. Usaha pemerintah dengan pembetukan Komisi Judisial adalah alangkah yang patut di hargai. Sehingga ke depan dunia kehakiman mempunyai pengawas yang melihat apa-apap yang diperbuat oleh para hakim.
Terpenting di sini adalah tidak terjadi lagi trial by the press, yang benar dan salah adalah menurut media. Apabila ini dibiarkan maka yang terjadi adalah tirani minoritas.
Jika pers mau bersikap adil, maka selauknya pers juga bersikap sama kepada nasib Abu Bakar Ba’asyir. Karena seharusnya ia sudah harus dibebaskan dari tahanan ketika masa tahanan tersebut sudah habis. Namun apa yang terjadi, pers hanya bungkam, tak ada pembelaan sama sekali, Kalapun ada beritanya, itu pn tidak sebagai berita utama. Juga tak ada pemberian stigma kepada sisitem peradilan kita bahwa telah terjadi ketidakadilan terhadap seorang kakek tua yang tak berdaya itu.
Maka dapat dilihat, ada apa dengan pers kita, seharusnya pula apa pun yang mengusik rasa keadilan, pers pun mengangkatnya dan menyorotnya, tidak memandang siapa orangnya.
Akhirnya, kembali sikap dewasa kita dalam berdemokrasi perlu dipupuk. Sikap penghormatan kita terhadap peradilan perlu kita tegakkan. Fungsi kontrol dari pers memang wajib dijalnakn namun tentu dibarengi dengan upaya penegakkan kode etik jurnalistik.
Saya harap ini bukan upaya balas dendam terhadap PN Jakarta Selatan yang telah banyak menjebloskan para pemimpin redaksi ke terali besi dalam berbagai kasus pencemara nama baik oleh pers.
Allohua’lam.

Ghanimah


16.6.2005 – ruqyah kemarin, ghanimah, akhirat itu kekal.

hmm…alhamdulillah pagi ini saya nggak kehujanan, setelah sebelumnya sempat waswas karena ada rintik-rintik hujan.
Oh ya kemarin ruqyahnya seru juga. Waktu ruqyah masal ada satu laki-laki kena, sedangkan di bagian akhwatnya banyak teriakan lagi.
Nah pas waktu dipersilahkan untuk maju ke depan oleh ustadznya bagi yang merasa kesemutan atau merasa ada hal yang aneh ketika di ruqyah masal. Saat itu ustadz langsung mengumandangkan adzan dan doa-doa syar’i di telinga pasien, ternyata banyak juga yang kena.
Alhamdulillah, Insya Allah bisa diusir tuh yang namanya jin.
Berat juga bantuin teman-teman panitia, soalnya kuat banget berontaknya pasien waktu di ruqyah.
Saya sempat gemetar juga sih dengerin bacaan ayat-ayat syar’i para ustadz itu, merinding gitu loh. Bikin mata jadi berkaca. Sudah lama tidak merasakan getaran dan nuansa seperti itu.
Satu lagi: kayaknya berat banget supaya jadi orang ikhlas. Ada aja godaannya Makanya Allah kasih penghargaan khusus terhadap mukhlisin kelak. Yah, tapi saya berusaha ajalah supaya ikhlas dalam setiap perbuatan. Jadi ingat cerita tentang para sahabat nabi yang awal dari kalangan muhajirin dan anshar. Saat selesai berperang dan tiba waktu pembagian ghanimah. ternyata yang mendapatkan banyak ghanimah adalah orang-orang yang dulunya memusuhi Rosulullah dan baru-baru saja masuk Islam. Sedangkan para sahabatnya banyak yang tidak kebagian apa-apa. Sampai-sampai terdengar oleh Rosululloh keluhan dari para sahabat.
Akhirnya Rosululloh mengingatkan kepada para sahabatnya, yang intinya cukuplah Allah dan Rosululloh bagi mereka. Mendengar ucapan itu para sahabat langsung tersadar dan menangis.
Sadari ternyata kehidupan dunia tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di akhirat kelak ketika mereka mengikuti Allah dan Rosululloh.
Allohua’lam.
Semoga kita menajdi orang-orang yang cepat menyadari kekeliruan kita dan tak akan mengulangi lagi setiap kesalahan itu. Itulah sebaik-baiknya manusia.

Ustadz Rahmat Abdullah dan Ruqyah


15.6.2005 – seminggu lebih…nb: Ust. Rahmat Abdullah, dan Ruqyah

Akhirnya aku bisa kembali mengisi lembaran-lembaran di blog ini setelah sekian lama disibuki dengan ebgitu banyak laporan. Sebenarnya 28 laporan PKP jatahku itu sudah selesai aku buat, namun musibah menimpa salah seorang temanku. So, aku ditunjuk jadi pjs-nya, apa boleh buat 28 laporan harus saya buat segera sebelum jatuh tempo kamis besok. Dengan dibantu teman saya akhirnya 18 laporan selesai dibuat hari ini. Bertepatan dengan teman saya masuk kembali, sehingga dia cuma menyelesaikan sisanya kurang lebih 10 laporan lagi.
Ba’da isya kemarin, saya dapat kabar bahwa masyaikh al-ustadz. Rahmat Abdullah wafat. Innalillahiroji’un, semoga Allah memberika tempat terbaik kepada sang perintis dakwah ini. Sang awal di masanya.Niatnya pagi ini aku ingin melayat, namun kondisiku kecapean setelah pagi ini menempuh 40 km-an di atas mega pro. Akhirnya aku tidak jadi ikut temen yang naik motor ke Pondok Gede sana. Kalau naik mobil, mungkin aku akan ikut, supaya bisa tidur untuk menghilagnkan rasa lelah ini.
Semoga Allah, menjadikannya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Ohya siang nanti di masjid Sholahuddin, kalibata ini ada ruqyah oleh tim jakarta ruqyah centre (majalah ghoib), aku mau lihat, sekalian disuruh bantuin teman-teman panitia di sana. Entahlah aku ada jinnya enggak yah, ;-). Bukannya ngebantuin malah ngerepotin nantinya…
Allohua’lam.
Aku mau makan siang dulu sebelum pergi ke masjid.
Ayo siapa yang mau ikutan….

Melatiku di Sabtu Malam


30.5.2005 – Melatiku di Sabtu Malam

Hai…bertemu kembali denganku, dalam keceriaan Sabtu Malam. Dengarkan Melati di Jayagiri dan Aryati di sepanjang ku menulisnya. Teringat suasana alam perjuangan para pendahulu kita melawan para penjajah dulu. Dengan setelan baju dan celana pendek warna coklat toska kumuh, topi miring dengan senapan ala kadarnya atau paling canggih senapan mesin penembak pesawat udara.
Bergerilya susuri lembah dan gunung, sampai berjalan mengendap-endap di jalanan Kota Cirebon. Lewati rumah-rumah Cina bergaya tempo doeloe. Wuih, melankolis nian daku tinggalkan sebongkah hati di belakang dengan senapan di pundak. Mula Bekasi, Tanjung Pura, Cilamaya, Cikampek, Pamanukan, Subang, Bandung, Sumedang, Cirebon, sampai ke Yogya.
Ah, sudahlah lupakan memori tentang perang kemerdekaan dulu, lupakan bertempur dengan Kolonel “Jantje” Meijer di Sekitar Gunung Slamet. Lupakan semuanya dulu hingga kau kembali teringat akan Aryati, kembali lagi kau bisa susuri ingatan dulu.
Sudah berapa tahun sih kita Merdeka Ternyata kita jelang 60 tahun usia republik ini. Tapi mengapa kalau aku berbicara dengan teman seperjalanan selalu berisi keprihatinan-keprihatinan dengan nasib bangsa ini Keprihatinan tentang nasib anak-anak jalanan, orang miskin, pengangguran, sistem pendidikan, mutu sumber daya manusia, sistem peradilan, para penegak hukum, nasib pulau-pulau di perbatasan, nelayan-nelayan miskin, para petani, sistem keuangan dan moneter, ketidakberdayaan bangsa ini di dunia internasional sungguh tiada izzah, korupsi yang berurat dan berakar, dan masih banyak ribuan permasalahan lainnya yang tak dapat ditulis satu persatu dan tak bisa di bahas dengan ribuan seminar pun.
Sedangkan di negeri ini sungguh banyak orang pintar, konon kata dosenku Indonesia ini mempunyai doktor terbanyak di dunia. Tapi kok yah..jadi begini nasib bangsa ini. So, ternyata kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa tidak berbanding lurus dengan banyaknya orang pintar an-sich. Dibutuhkan juga mereka yang memiliki moral hazard, dan nilai-nilai kebaikan.
By the way, tiba-tiba aku jadi malas nerusin tulisan ini, mood saya kembali hilfil (hilang feeling ). Ya sudah, cukuplah di sini saya pikirkan bangsa ini. Berarti kemampuan saya cuma segininya. Urusan itu biarlah para petinggi kita yang memikirkannya. Terpenting, bagaimana sih kemajuan bangsa ini dimulai dari tindakan kebaikan kecil yang kita lakukan untuk kemaslahatan bangsa ini Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil.
Terakhir, jangan terlena dengan Melati di Jayagiri yah…coz, it was…

KENAPA HARUS FPI?


27.5.2005 – kenapa harus FPI gitcu loh…

wahai para pejuang
siapkan kuda-kudamu
dengarkan derunya
pekat debunya
teriakkan asma-Nya
sesungguhnya surga itu ada
di bawah kilatan pedang
………………………………….
Pagi ini, saya dapat email tentang pro kontra Miss Universe, bagi saya sudah jelas tidak ada pro kontra di sini. Sudah jelas, sudah terang seperti terangnya matahari yang menyinari kita di Jum’at pagi yang cerah ini. Sekali haram yah haram…
Tapi itulah negeri kita yang mengakunya bahwa Umat Islam mayoritas di negeri ini. Namun pemikiran sekuler melekat erat dan menyusup di saraf-saraf otak sehingga outputnya yah tetap sekuler juga. Apakah ini hasil dari pemikiran liberal dari orang-orang Utan Kayu Di mana mereka mengharapkan sekulerisme jadi patokan hidup kita. Yang mengharapkan ada energi kebaikan dan kemaksiatan berkumpul ada di negara ini. Ck…ck..ck…
Yah kita tahu siapa sih mereka.
Kembali ke Masalah Miss Universe…hari-hari kemarin kan FPI demo. Dan dengan itu banyak yang kebakaran jenggot.
Kenapa yah…kalau ada FPI beraksi banyak yang meradang…
Ditambah alasan: kenapa FPI gak demo artis-artis porno, gak demo TV, gak bakar Hailai dll
Harusnya yang mempertanyakan itu mikir juga…bahwa kalau dia muslim, maka kewajiban amar ma’ruf nahi munkar jadi kewajiban setiap individu muslim, tidak hanya FPI doang.
Punya kekuatan apa sih FPI, kalau harus ngurusin semua kemaksiatan di republik ini. Yang punya kekuatan itulah yang ‘sewajib-wajibnya’ untuk memberantas kemaksiatan. Berarti pemerintahlah, yang setidaknya punya kekuatan besar sekali untuk menumpas semua itu. Lah, gimana mau menumpas sedangkan ada sebagian dari mereka menjadi ‘backing’ kemaksiatan. FPI disini setidaknya ‘trigger’ untuk action yang lebih besar lagi bagi yang punya power..
Kata Ustadz Wahfiudin tadi malam: sungguh tidak seimbang ketika kita mengajak orang untuk berbuat kebaikan sedangkan ia tidak melakukan nahi munkar, sedangkan ia tidak mengikis kemungkaran itu.
Oleh karena itu kalau kita tidak mampu untuk nahi munkar, yah setidaknya diam sajalah, jaga mulut dan omongan, ketika ada saudara-saudara kita yang melakukan pemberantasan kemunkaran itu. Sungguh tidak ada keberkahan di negeri ini kalau kemaksiatan jalan terus dan tidak ada upaya untuk melawannya. Maka bersyukurlah masih ada orang-orang seperti mereka, masih ada orang-orang yang melakukan nahi munkar dan orang-orang yang mengingat Allah. Bisa jadi tiadanya azab bagi kita adalah karena orang-orang seperti mereka. Allohuakbar…
Allohua’lam.
Catatan:
tulisan di atas hanya sekadar uneg-uneg saya, hasil tangkapan sekelebatan ide di kepala saya. So jangan harapkan ada analisis panjang, dalam, menukik (apaan tuh he…he..he..) di tulisan ini. Lain kali lah, ketika tidak ada pekerjaan yang menumpuk di sini.