Novel Imperia


14.7.2005 – resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem

Tentang resensinya Bang Ekky terhadap Imperia-nya Bang Akmal, setidaknya saya sedikit banyak dapat memahami betapa ensiklopedisnya bang Akmal. Ini dapat dilihat dalam paragraph:
“Tetapi, semangat eksplorasi ensiklopedis ini ternyata juga menjadi
bumerang. Akibatnya, cerita menjadi tidak intens dan tidak fokus, di
beberapa tempat. Dan ini yang membedakannya dengan gaya Brown.”
Eksplorasi ensiklopedis ini juga pernah ditanggapi oleh Bang Herry Nurdi dalam resensinya:
“Cerita terakhir, tentang kesaktian Akmal Nasery Basral nampak ketika terjadi diskusi diruang maya milis Forum Lingkar Pena tentang film Kingdom of Heaven. Film yang berkisah tentang Sultan Saladin, King of Lepre, Balian of Ibelin, Tiberias dan berbagai tokoh lain dalam sejarah Perang Salib. Beberapa anggota milis berdebat tentang jalan cerita dan pemerannya. Tentang fiksi dan fakta, tentang eksis atau maya. Dan di antara perdebatan itu, Akmal muncul dengan postingan yang panjang menjelaskan sekian fakta tentang beberapa tokoh, lengkap dengan sejarahnya, asal kotanya, bahkan nama-nama kecil mereka dan nasib mereka setelah peristiwa yang digarap Ridley Scott dalam film itu.”
So, Bang Ekky dan Bang Herri Nurdi tahu persis mengenai Bang Akmal. Ini yang diharapkan bagi para pembaca (saya) dalam membaca resensi kedua abang ini, bahwa peresensi menulis dari kedalaman pengetahuannya dan memahami betul terhadap objek (imperia) juga subjeknya (bank Akmal).
Dalam membaca karya dua peresesensi ini setidaknya saya tidak alami sedikit gangguan. Beda ketika saya membaca sebuah ulasan Film Kingdom of Heaven di Majalah Tempo di halaman 151-152 kolom 6 paragraf 2 edisi 16-22 Mei 2005.
Entah ini sudah diulas (di sadari) oleh Bank Akmal (selaku wartawan Tempo) dalam membaca resensi film itu atau saya juga enggak tahu kalau sudah ada yang mengirim sedikit kritik atas ulasan tersebut dari pembaca Majalah Tempo yang lain—saya sudah mengirim email ke redaksi Majalah Tempo untuk sedikit bercerita tentang paragraph tersebut namun email saya balik lagi dengan “alert” yang berbunyi email undeliverable, mungkin email server di kantor kami yang sedang ngadat.
***
Senin itu Majalah Tempo baru milik teman sudah tergeletak dengan manisnya di meja saya. Setelah sedikit membaca berita utama saya tergerak untuk membaca ulasan film itu yang judul tulisannya adalah “Yang ‘Kudus’ ..yang Berdarah”.
Saya terbentur di halaman, kolom dan paragraph tersebut. Memori saya langsung bergerak memutar sedikit ruang ‘ensiklopedi’ kecil di kepala saya. Apa isi dari paragraph itu, setidaknya saya penggal pada bagian intinya:
“….dan seperti Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengijinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai…”.
Nah di sinilah letaknya yakni pada Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637.
Dapat saya ungkapkan di sini adalah bahwa yang menaklukkan Yerusalem pada era awal pemerintahan Islam Pasca kematian Rosululloh Muhammad SAW adalah sahabat Umar bin Khaththab ra bukan sahabat Abu Bakar (Ashshidiq) ra. Itupun terjadi pada tahun 638 M bukan di tahun 637 M.
Yang pertama ingin saya komentari adalah tahun terlebih dahulu, namun dalam masalah tahun hal ini masih bisa diperdebatkan karena menyangkut adanya konversi dari hijriah ke tahun masehi. Karena dalam berbagai referensi yang saya baca menunjukkan tahun-tahun yang berbeda, berkisar 636 dan 638 M.
Perbedaan tahun penaklukkan itu dapat diungkapkan di sinisebagai berikut:
1. Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 (ensiklopedi ini pas ada di samping Majalah Tempo); PT Ichtiar baru Van Hoeve: terjadinya pada tahun 638 M;
2. Ensiklopedi Islam jilid 5; PT Ichtiar baru Van Hoeve: tahun 636 M (penerbit yang sama memberikan tahun yang berbeda dalam amsalah ini);
3. 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah; Michael H Hart: Pustaka Jaya: Penakhlukkan Yerusalem terjadi dua tahun setelah Yarmuk (636 M) berarti terjadi pada tahun 638M;
4. Umar Bin Khattab; Muhammad Husin Haekal: Litera Antar Nusa: Penaklukan terjadi 15 Hijriah berarti tahun 622 M (tahun Rasululloh hijrah ke Madinah) ditambah 15 tahun jadi sekitar tahun 637 M, tapi yang fatal (ini entah kesalahan cetak atau bukan saya tidak tahu) ditulis dalam tanda kurung adalah pada tahun 535 M.
5. History of The Arabs; Philip K Hitti: Serambi Ilmu Semesta; tahun penaklukan berkisar tahun 638M.
Saya berusaha mencari di tiga buku lainnya tentang sejarah Daulat Islamiyah yang menyangkut pula Yerusalem ternyata tidak memuat tahun penaklukannya.Sekali lagi bahwa masalah tahun masih bisa diperdebatkan.
Namun yang paling fatal pula adalah bahwa penaklukan Yerusalem itu dilakukan oleh Abu Bakar—saya anggap nama ini adalah nama pendek dari Abu Bakar Assidiq, khalifaturasyidin pertama. Dari delapan buku yang saya baca semuanya jelas-jelas merujuk pada tokoh Umar bin Khattab bukan sahabat Abu Bakar Assidiq.
Salah satu contohnya bisa dilihat pada buku Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 di halaman 48 kolom 2 paragraf 3:
“Persetujuan ini disampaikan kepada Khalifah di Madinah, yang disertai permohonan agar Umar bersedia datang untuk menerima penyerahan Yerusalem. Pemimpin ini menyetujui perjanjian itu dan segera berangkat ke Palestina. Pada tahun 638 M, penyerahan kota suci itu dilakukan dari Patriach Sophorius kepada Khalifah Umar bin Khaththab.”
Sedangkan pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar belum sampai pada penguasaan Yerusalem, bisa di baca pada halaman 47 buku yang sama pada kolom 2 paragraf 3:
“Pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar berlangsung dari 12-13 H. Pada akhir pemerintahannya, pasukan Islam telah dapat menguasai daerah yang cukup luas. Selain Jazirah Arabia, yang dapat disatukannya kembali setelah munculnya gerakan pembangkang, beberapa daerah di luarnya dapat ditaklukan dan dimasukkan ke dalam kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukannya pada masa khalifah pertama ini antara lain Ubullah (terletak di pantai Teluk Persia), Lembah Mesopotamia, Hirah, Dumat al Jandal (kota benteng yang terletak di perbatasan Suriah), sebagian daerah yang berbatasan dengan Palestina, perbatasan Suriah dan sekitarnya.”
Kesimpulannya adalah Abu Bakar tidak sempat membebaskan Yerusalem pada masa keperintahannya karena beliau keburu wafat. Pada masa Umar bin Khattab itulah dilanjutkan ekspedisi tersebut hingga akhirnya Yerusalem dapat ditaklukkan.
Demikian koreksi ini saya sampaikan, karena bagi mereka yang terbiasa membaca tentang sejarah Islam akan mengalami “keterperanjatan” yang mengganjal.
Saya mohon maaf kalau hal (ulasan Kingdom of Heaven) ini sudah basi, atau sudah dibahas oleh Bang Akmal dalam postingan yang terdahulu, karena saat itu saya belum mengikuti milis ini.
Kurang lebihnya mohon maaf. Billaahittaufiq wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di antara malam yang smakin menggigit
citayam, 02.15, 15 Juli 2005

1000 dan 1 Malam


1000 dan 1 Malam
(Alfu Lailah Wa Lailah)

Ada yang menarik dalam tema perbincangan di milis ini, yakni tentang menulis fantasi dalam Islam, hingga menghubungkannya dengan Kisah Seribu Satu Malam yang dianggap berasal dari sastra Islam, benarkah? Tulisan ini tidak membahas tentang penulisan fantasi dalam Islam namun berpokok pada apa dibalik Kisah Seribu Satu Malam.
Siapa yang tidak kenal dengan cerita Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dengan Empat Puluh Penyamun, dan Sindbad si Pelaut. Apalagi sejak ditayangkan secara visual di layar kaca ataupun layar perak produksi Holywood. Semuanya pasti setuju bahwa kisah itu diambil dari Kisah Seribu Satu Malam. Kisah yang amat terkenal dari abad-abad lampau hingga saat ini. Tapi tahukah Anda bahwa kisah itu adalah cuma terjemahan saja dan bukan buatan sastrawan-sastrawan ternama pada puncak kejayaan Baghdad?
Saat itu Kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak tangga tamadun. Politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan di segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian—ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik pusi maupun prosa. Dari yang ahli sebagai penyair (seperti Abu Nuwas), pembuat novel dan riwayat (asli maupun terjemahan), hingga pemain drama.
A Hasymy dalam bukunya berjudul Sejarah Kebudayaan Islam mengungkapkan perkembangan salah satu seni sastra itu yakni tentang novel terjemahan. Di sana disebutkan bahwa kebanyakan novel diterjemahkan dari bahasa Persia dan Hindi. Ada yang sesuai dengan aslinya atau diterjemahkan dengan ditambahkan perubahan-perubahan bahkan disadur.
Salah satu novel terjemahan yang termasyhur itu adalah Alfu Lailah Wa Lailah. Novel ini berupa hikayat yang disadur dari bahasa Persia sebelum abad IV Hijriyah. Walaupun bentuknya saduran namun menceritakan tentang kehidupan mewah masyarakat Islam pada masa itu.
Dalam Ensiklopedi Islam Jilid I (EI1) disebutkan pula tentang hikayat ini bahwa ia berasal dari kumpulan cerita berbahasa Persia yang berjudul Hazar Afsanak (Seribu Cerita) yang ditulis ulang oleh Abdullah bin Abdus al-Jasyyari (942 M).
Ada yang berpendapat bahwa hikayat ini ditulis oleh lebih dari satu orang pada periode yang berbeda, berikut periode tersebut (EI1 hal.106):
– Bentuk pertama adalah terjemahan harfiah dari Hazar Afsanak, diperkirakan berjudul Alf Khurafat (Seribu Cerita yang Dibuat-buat);
– Bentuk kedua Hazar Afsanak dengan versi Islam berjudul (Seribu Malam), pada abad 8;
– Bentuk ketiga berupa cerita Arab dan Persia dibuat pada abad 9;
– Bentuk keempat adalah susunan al-Jasyyari pada abad ke-10 yang mencakup Alf lailah dan cerita-cerita lain;
– Bentuk Kelima kumpulan yang diperluas dari susunan al-Jasyyari dengan tambahan cerita-cerita Asia dan dan Mesir, abad ke-12, pada periode ini judul itu berubah menjadi Alfu Lailah Wa Lailah
– Bentuk Keenam adalah Alfu Lailah Wa Lailah ditambah dengan cerita-cerita kepahlawanan dinasti Mamluk sampai awal abad ke-16.
****

Kisah atau hikayat yang diceritakan itu ada yang mengenai jin, kisah percintaan, legenda, cerita pendidikan, cerita humor, dan anekdot. Kebanyakan berlatar belakang kehidupan istana di Baghdad, Syam, dan Mesir (EI1 hal. 107).
Secara garis besar kisahnya adalah sebagai berikut:
Kisah ini dituturkan dngan gaya bercerita oleh Syahrizad, istri Raja Syahriyar, yang bercerita atas permintaan adiknya, Dunyazad, dan didengarkan oleh sang raja. Syahrizad bercerita agar sang raja tidak melakukan pembunuhan terhadap istrinya.
Disebutkan bahwa Raja Syahriyar dan adiknya, Raja Syahzaman, pada mulanya adalah raja yang adil selama 20 tahun pemerintahannya, namun kemudian berubah menjadi raja yang kejam yang membunuh setiap wanita yang dikawininya pada malam pertama pernikahan. Perubahan sifat raja berawal dari penyelewengan istrinya dan penyelewengan istri adiknya yang melakukan perzinahan dengan budak berkulit hitam sewaktu raja pergi berburu. Perbuatan itu dilihatnya sendiri karena ia tiba-tiba pulang untuk mengambil sesuatu yang terlupa. Istrinya yang berkhianat dan budak itu dibunuhnya. Ketika ia berada di negeri adiknya, Syahzaman, ia juga melihat perbuatan seorang istri adiknya dengan budak berkulit hitam sewaktu adiknya tidak berada di rumah.
Syahriyar menjadi orang yang tidak percaya pada setiap wanita. Dendamnya pada wanita dilampiaskannya pada gadis-gadis yang dinikahinya. Setelah beberapa lama, di negeri itu sudah tidak didapatkan lagi gadis yang akan dipersembahakan kepada raja, kecuali puteri wazir, yaitu Syahrizad.
Syahrizad bersedia dinikahkan dengan raja untuk menyelamatkan nyawa wanita-wanita yang lain. Syahrizad digambarkan sebagai wanita cerdas yang banyak membaca cerita, hikayat, dan kisah lama. Sejak malam pertama sampai malam ke 1001, ia bercerita berbagai cerita secara bersambung sampai subuh dan bila siang hari ia tidak bercerita. Dengan cerita-cerita ini akhirnya raja sadar dan insaf, dan puteri Syahrizad selamat dari pembunuhan. (EI1 hal. 107)
****
Penyebaran Alfu Lailah Wa Lailah ke Eropa dalam bahasa Perancis dilakukan pertama kali oleh sarjana Perancis, Jean Anthoni Galland. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dikenal dengan judul The Arabian Nights.
Singkatnya baru pada tahun 1896 buku yang diterbitkan oleh percetakan negara Bulaq—dekat Kairo, diberi gambar oleh Husyain Biykar. Edisi Bulaq inilah yang di kemudian hari menjadi patokan dalam penterjemahan ke dalam bahasa-bahasa terkenal dunia. (EI1 hal 106).
Namun sayangnya penggambaran-penggambaran itu membuat 1001 Malam lebih berubah. Dulu sekali, dalam sebuah film barat yang judulnya saya lupa, di salah satu adegannya diceritakan tentang seseorang yang sedang membaca buku 1001 Malam yang dipenuhi dengan gambar-gambar vulgar dari orang bersurban (sultan?) sedang berhubungan intim dengan lawan jenis.
Jadi pada saat ini kisah 1001 malam (versi barat) tidak bedanya dengan kisah-kisah porno. Tapi entahlah, saya belum pernah memegang buku itu sekalipun, baik dalam versi asli maupun terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Saya hanya tahu kisah itu dari dongeng-dongeng yang bertebaran di majalah Ananda dan Bobo, dulu. Namun dari film-film kartun produksi Holywood, setidaknya kita bisa berpikir dan bertanya dalam hati sudah Islamikah? Tentu tidak.
Betul 1001 Malam muncul pada saat kejayaan umat Islam mencapai puncaknya di Baghdad sehingga stereotip yang ada adalah bahwa 1001 Malam adalah sastra Islam, namun dengan melihat kenyataan yang ada, patutkah ini disebut sastra Islam atau sastra bersumberkan Islam?*) Sedangkan sastra bisa dikategorikan sebagai ‘sastra bersumberkan Islam’ bila ianya mengusung nilai-nilai universal yang tak bertentangan (atau malah sesuai) dengan ajaran Islam.(Helvi: 2003).
Allohua’lam.

*)Pada saat masa puncak itulah terjadi pertentangan antara ulama-ulama terpercaya dengan para seniman yang mulai beraninya (dengan dukungan para pejabat istana tentunya) mengembangkan seni yang dilarang pada masa-masa awal atau masa sebelumnya (dinasti Umayyah) yakni bermain musik, bermain drama dengan peran wanita dipertontonkan di hadapan penonton pria, kubah-kubah istana dan kaligrafi-kaligrafi bergambar makhluk hidup, dan patung-patung manusia.

Sumber Rujukan:
1. C Israr; Sejarah Kesenian Islam; Bulan Bintang; 1978;
2. A Hasymy; Sejarah Kebudayaan Islam; Bulan Bintang; 1995;
3. Ensiklopedia Islam Jilid 1; PT Ikhtiar Baru Van Hoeve; 1999;
4. Helvy Tiana Rosa; Segenggam Gumam; PT Syaamil Cipta Media; 2003;
5. Philip K. Hitti; History of The Arabs; PT Serambi Ilmu Semesta; 2005

yahya ayyasy
dedaunan di ranting cemara
citayam, 22.10 WIB, 11 Juli 2005

ps.
Bila terdapat kesalahan mohon dikoreksi.

Akankah Mereka Akan menjadi Pahlawan?


Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?

Tak terasa, liburan akhir telah datang. Saya sebagai “Kepala Sekolah” kudu mempersiapkan acara liburan bagi anak-anak TPA Al-Ikhwan—tempat bagi anak-anak di RT. 011 belajar Islam dan mengaji setiap Senin, Rabu dan Kamis. Tahun kemarin kami berlibur di sebuah kolam renang khusus milik perorangan di Jalan Dahlia I, Depok.
Ternyata setelah diadakan pemungutan suara—ada pembelajaran demokrasi sejak dini—dari berbagai pilihan lainnya seperti di Kebon Raya Bogor, Kebun Binatang Ragunan, mayoritas anak-anak sepakat untuk kembali liburan ke kolam renang. Kata mereka Bogor macet, soalnya ada anak presiden kawinan (loh kok mereka tahu), sedangkan kalau ke Ragunan mereka takut wajahnya disamakan dengan para monkey. “Emang kita saudara mereka…?” cetus salah satu dari mereka. “Nehi….tum mereke jenehe” sahut yang lain. Apaan tuh artinya? Ada-ada saja.
Akhirnya jadi acara tersebut Sabtu 09 Juli 2005. Setiap anak dipungut Rp2.500,00 untuk tiket masuknya. Itu adalah limaperenam harga tiket sebenarnya. Sisanya kami yang subsidi. Kali ini tidak ada subsidi tiket total dari kami. Soalnya acara ini dadakan dan belum mempersiapkan proposal permintaan dana kepada donator utama kami yang ada di KPP PMA Lima. Biaya lainnya kami yang tanggung.
Berangkatlah kami pada pukul 08.00 WIBC (Waktu Inondesia Bagian Citayam) dengan Angkutan Kota (angkot) yang kami carter, dengan membawa 16 anak-anak dan tiga dewasa. Saya dengan megapro keluaran Februari 2005 menjadi penunjuk arah. Pengantar lainnya dipersilahkan untuk membawa kendaraannya masing-masing. Soalnya nggak muat angkotnya boo…
Setelah mengarungi kemacetan di mana-mana, pukul 09.15 WIB kami sampai. “Lama juga,” pikirku, padahal jaraknya tidak lebih dari sepuluh kilo. Akhirnya mereka pun bersenang-senang. Suara tawa dan jerit mereka menambah semarak acara. Apalagi pada saat dilangsungkannya berbagai permainan, tambah seru. Hadiah pun diberikan tidak hanya kepada para pemenang namun semuanya sehingga kebersamaan itu tampak sekali.
*****
Saat anak-anak adalah saat-saat yang indah. Saat dimana mereka belum menemukan dan menyadari eksistensi mereka. Mereka hanya mengenal tiga kata yakni main, main, dan main. Maka yang kami ajarkan di TPA adalah tidak semata-mata Iqra namun juga berbagai macam permainan yang setidaknya menumbuhkan jiwa mandiri, semangat membaca dan menulis (untuk hal ini perlu upaya lama untuk memberikan pengertian kepada mereka bahwa menulis itu penting dan mudah), semangat juang dan pembelaan terhadap Islam. Hingga untuk itu kami bebaskan mereka bermain pada saat mereka ngaji asal tidak mengganggu teman-teman mereka yang sedang kami telaah bacaan Iqra-nya.
Agar mereka tidak jenuh dengan suasana klasikal di rumah maka dari itulah diadakan acara berenang bersama di liburan ini, diharapkan dengan ini mereka menjadi tetap bersemangat untuk selalu belajar dan belajar sampai akhir hayat mereka. Satu yang lain yang diharapkan adalah munculnya salah satu atau lebih dari mereka menjadi “pahlawan-pahlawan Islam”. Semoga Allah mengabulkan do’a ini. Amin.

dedaunan di ranting cemara
di antara sakit sebagai teman yang tak kunjung pergi
kalibata, 11 Juli 2005

Almari Penuh Buku


Seorang pemburu harta karun terperangah, takjub, memandang tumpukan harta benda yang menggunung di dalam sebuah gua bawah tanah. Menyilaukan mata. Pun naluri awal manusia yakni keserakahan muncul seketika. Raup sana dan sini. Tidak puas dengan yang ini maka ia melempar benda yang sudah di tangannya dan mengambil yang lainnya yang lebih indah, lebih berharga, lebih mahal. Akhirnya ia pun tak sanggup mengambil apa pun, karena menganggap semuanya indah di mata.
Begitulah apa yang saya alami saat memasuki ruangan ber-AC di arena Bookfair. Benar-benar saya seperti pemburu harta karun tadi. Yang begitu takjub melihat apa yang ada di dalam. Yang saya takjub bukan pada harta benda seperti yang ditulis di awal, namun begitu banyaknya buku bagus. Yang saya takjub adalah tebaran buku di setiap stand yang memaksa pikiran saya untuk bisa memiliki semuanya.
Ambil sana, ambil sini. Akhirnya yang terbeli adalah tetap yang diskonnya besar dan yang termurah lagi. Soalnya saat itu tanggal 01 Juli 2005. Kita belum gajian coy…Sampai fordis pun ramai membahasnya.
Akhirnya saya mendapatkan buku menyucikan jiwa Said Hawwa terbitan Robbani Press. Buku ini bukan untuk saya miliki, tapi niatnya untuk seseorang teman. Setelah mengambil beberapa buku dan menyelesaikan transaksi, saya pun bergegas untuk pulang, karena saat itu jam kantor, bukan hari libur. Jadi tidak semua stand saya kunjungi.
Sebelum pulang saya mampir terlebih dahulu di stand komunitas—adanya di luar gedung istora—stand Forum Lingkar Pena. Saya titipkan pada penjaga stand itu untuk memberikannya pada teman, pengurus FLP.
“Ini buku dari siapa?” tanyanya.
“Ia pasti tahu, kok…” jawab saya sambil menyelipkan selembar daun mahoni pada halaman dua buku itu.
Ya, selembar daun sebagai tanda dari saya.

********
Pulang kantor, kebingungan melanda. Saya harus taruh dimana tumpukan buku baru ini? Sambil berkacak pinggang di hadapan lemari kaca tempat ratusan buku yang saya miliki.
Lemari itu sudah penuh. Sisi dalam maupun sisi luarnya. Akhirnya banyak buku yang bertebaran di seantero rumah. Di atas kulkas, di atas meja belajar, diatas computer, di atas televisi, di dapur, dan di macam-macam tempat lainnya.
Para tetangga sampai bilang, “harta berharganya Pak Riza cuma buku, buku, dan buku,” sambil melirik ruang tamuku yang kosong melompong dari satu set sofa ataupun yang namanya kursi.
Memang sih, saya benar-benar terkenang dengan luasnya ruang tamu kost-kost-an milik teman-teman masjid di kampus dulu. Tiada meja tiada kursi. Mereka bilang dengan ruang tamu yang luas ini, maka bisa dimanfaatkan untuk pengajian, anak-anak TPA, dan rapat-rapat kampus. So, sampai saat ini, walaupun sang kekasih telah sedikit mendesak untuk memiliki sofa dan kursi tamu, saya tetap bergeming. Alasan saya: “anak-anak tetangga kita yang ngaji di sini mau di taruh dimana?”
Akhirnya malam itu, saya tetap membiarkan buku-buku baru tergeletak di atas ranjang empuk, bukan sebagai bantal, tapi sebagai pengantar tidur saat saya membaca Segenggam Gumam milik Helvy Tiana Rosa.
Sebelum tidur, saya bilang pada Haqi, sambil memeluknya dan menghadapkan dirinya dan diriku di depan almari besar penuh buku itu, “hanya ini yang bisa Abi wariskan padamu, anakku. Baca dan baca.”
Haqi baru saja bisa membaca. Umurnya pun baru 5 tahun.
Ya, kuwariskan ini sejak dini.
Sejak memori itu masih punya daya lekat, kuat, erat, takkan pernah terlepas. Insya Allah.
Wallohua’lam.

Hari Ini Aku Berburu Buku


Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ba’da takbir, tahmid, dan salam.

Wahai ukhti fillah….
(istilah ini saya pakai lagi setelah 8 tahun sudah tertinggal di kampus)
Semoga Allah memberikan kita yang terbaik.
Dua minggu tidak menulis “sesuatu”?
Ah masak….
Bukankah setiap perbuatan-perbuatan kebaikan itu adalah upaya menulis juga, menulis hati kita, agar senantiasa ter-relief indahnya sinaran kebaikan. Bukan selalu kelamnya keburukan-keburukan saja yang ada pada segumpal darah itu.
So, bukankah setiap email yang engkau kirim kepada sahabat-sahabat tercinta adalah suatu upaya menulis juga, upaya menuangkan gagasan dari pikiran kita? Bagi kami hal-hal kecil semacam ini adalah upaya melatih kepekaan kita dalam mengolah gagasan-gagasan tersebut ke dalam kata-kata yang tertulis.
Atau bagi Antiitu bukan suatu maha karya? Sesungguhnya adikarya berawal dari satu huruf, satu karya kecil, atau satu langkah ke depan. Ingat bukan, tentang seorang tukang batu yang berhasil memecahkan batunya di pukulan yang keseratus, tetapi ia sadar semuanya terjadi karena ia memulai pukulannya di pukulan yang pertama.
Ayo, tetap semangat, sesungguhnya ketika Anti tidak menulis secara lahir tapi Antitetap sedang menulis perjalanan hidup di benak anti. Suatu saat semua yang Antilihat, dengar, dan rasakan akan muncul dengan mudahnya, dengan begitu saja, tanpa ada aral yang melintang. Maka Anti tinggal menunggu pemantiknya, kunci pembukanya, yang akan mengeluarkan semuanya itu dengan indahnya seindah purnama di lima belas.
Pun dengan tiga hari Anti membaca begitu banyak buku, itu bukan suatu “cuma”, tapi itupun adalah dalam rangka memperkaya dan mengisi khazanah ke dalam jutaan ruang rasa dan makna. Tidak banyak orang yang dapat menyelesaikan banyak buku untuk dibaca. Tidak banyak orang yang dapat mengambil sari pati dari banyak buku yang ia baca. Dan tidak banyak pula orang yang dapat menjadikan banyak buku yang ia baca sebagai pemicu supaya ia dapat mencintai sahabatnya dengan cinta karena Allah yang lebih tulus lagi. Sebagai pemicu supaya ia berbuat sejuta kebaikan di setiap harinya. Sebagai pemicu supaya ia menjadi penerang bagi orang lain. Antipasti ingat tentang “hanya dengan shalat dan sabar, Allah akan membuka semua itu”.
So, saya yakin Antiadalah orang yang mampu untuk menjadi ketiganya itu. Semoga.
Allahua’lam.
 Tetap dengan senyum terindah.
****
Wahai ukhti fillah,
tentang banyak hal yang aku lakukan?
Baru saja hari ini saya membeli banyak buku di tempat sekelas kaki lima, di kramat sana, bukan tempat ber-ac laiknya di bookfair. Namun harganya itu loh…murah banget booo. Di tempat yang saya biasa beli sejak 10 tahun yang lampau.

(bajakan bukan yah…?, maaf kalau ini sangat menyinggung, soalnya biasanya penulis sering Antipati pada yang namanya kramat, semoga tidak)
Mau tahu buku-buku itu:
1. Mushaf terbitan Syamil;
2. History of The Arabs, Philip K Hitti (ini yang saya “ngebet banget” waktu di Bookfair, tunggu saja akan saya lahap dikau di akhir pekan ini);
3. Mensucikan Jiwa, Said Hawwa, terbitan Robbani Press;
4. Agenda Tarbiyah: Mencetak Generasi Rabbani;
5. Biarkan Bidadari Cemburu Padamu;
6. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Suad Husnan (orang Bapepam harusnya punya buku ini, punyakan…?;
7. Ada satu lagi namun segera dibawa sang kekasih, sebuah novel: judulnya lupa (kok bisa, yah inilah manusia).
Yang jadi pikiran saya saat ini, mau ditaruh di mana buku-buku itu, sedang almari pun sudah tak muat. Makanya tebaran buku dimana-mana sudah menjadi penghias rumah saat ini.
Itu saja sih…semoga engkau menjadi yang lebih cepat lagi, semoga engkau selalu menjadi manusia yang senantiasa “iri” dengan kebaikan-kebaikan orang hingga memicu engkau untuk selalu berbuat kebaikan, dan semoga engkau selalu menjadi orang yang mampu menggebrak ketika menyajikan soto (loh kok Jaka Sembung sih, emang soto gebrak…..?). 
Maaf tak sempat mampir di persinggahanmu….lagi kukutip ia.
Maafkan saya.
Allohua’lam.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

dedaunan di ranting cemara
di antara tumpukan buku
kalibata, 14 Juli 2005

ps.
Sudah sebagian besar tulisan Anti saya baca. Karena harus bergantian dengan sang kekasih. Komentar awal: bagi siapa saja yang mau mengenal sosok azimah rahayu lebih mendalam, lebih detil, ruang berpikirnya, sejuta makna yang ia miliki, maka baca buku pagi ini aku cantik sekali dan hari ini aku makin cantik. Itu lebih dari cukup dibanding dua lembar berisi biodata untuk ta’aruf. 
Komentar kedua: Saya membacanya sambil terduduk, terpekur di pojok ruangan yang paling sudut, khusyu’….

ATM Tertelan


6.7.2005 – pelajaran hari ini: ATM saya tertelan

Hari ini banyak pelajaran penting yang saya dapat. Di tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung, di tengah tekanan tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan, di tengah ancaman sanksi denda 50% bila tidak membayar tuition fee hingga tanggal 10 Juli 2005 ini, ternyata tetap dibutuhkan akal sehat agar saya bisa lolos dari tekanan-tekanan itu.
Maka apa yang terjadi pada saya saat akal sehat tidak digunakan maka timbul aksi terburu-buru yang pada akhirnya membawa saya kepada kesulitan lainnya. Contohnya adalah saya yang biasanya hapal nomor pin ATM Bank Muamalat tiba-tiba kehilangan memori untuk mengingat empat digit yang harus saya masukkan ke layar. Dan bodohnya saya memaksakan diri. Sutttt…..bunyi suara ATM menelan kartu begitu menyesakkan dada.
Telepon ke sana-kemari untuk memastikan simpanan saya aman-aman saja adalah jalan akhir yang harus saya lakukan. Besoknya pula saya harus mengurus ke kantor bank di mana saya membuka rekening. Jauh lagi. Pekerjaan kantor pun terbengkalai jadinya.
Duh Gusti….Maka biasanya setelah itu saya sering merenung: kesalahan apa yang telah saya perbuat pada-Nya. Dan ketika kuhitung Masya Allah….tiada berkesudahan diri ini membuat hati semakin gelap tiada bening lagi, sebening air gletser di kutub utara sana.
Karena saya meyakini bahwa musibah atau kesulitan yang saya alami adalah salah satu bentuk dari dua, yakni ujian atau memang hukuman. Jikalau ujian maka bersyukurlah bila saya dapat melewatinya dengan berhasil dan naiklah derajat keimanan kita–tapi ingat nanti akan berbanding lurus dengan ujian yang lebih berat lagi. Jikalau musibah maka bersabarlah karena sesungguhnya Allah tak akan memberikan beban yang sungguh tak sanggup untuk kita memikulnya.
Entahlah, hari ini saya menerima ujian atau musibah. Tapi setidaknya saya dapat pelajaran penting hari ini, yakni ketahuilah: jangan terburu-buru, karena terburu-buru adalah perbuatan syaitan.
Allahua’lam.
******Ya Allah ampuni aku
dedaunan di ranting cemara
di antara angka-angka
kalibata, 06 Juli 2005

Biarkan Aku Menulis Hari Ini


biarkan aku menulis hari ini

Banyak sekali yang ingn saya tulis pada hari ini. Sampai suatu titik dimana gejolak hati tak mampu menahannya dan mendesakku untuk segera meraih secarik kertas dan menggoreskan pena biru padanya. Menulis tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kenangan, keluarga, cinta, dan senyuman terindah milik seseorang.
Apalagi pagi ini saya mendapat hadiah istimewa dari ukhti kita: azimah rahayu, sebuah sequel dari buku pagi ini aku cantik sekali. Buku yang ditandatangani langsung olehnya dengan catatan kecil: sekadar pengikat tali persaudaraan. Judul buku itu adalah hari ini aku makin cantik. Membacanya membuatku bersegera menulis di halaman ini. Tentang obsesi saya padanya. Tentang tema-tema cantik dan indah pada buku itu, dan lain-lain. Tapi itu pun kalau aku sempat menulis di tengah kesibukanku ini.
Maka biarkanlah aku menulis hari ini, tentang apa saja. Agar ringan terasa hati ini. Agar tiada beban hidup ini. Namun ada pertanyaan yang menggelitiki sisi–sisi kepalaku, wahai kawan….? Bagaimana aku bisa menulis sedangkan tak ada yang akan aku tulis….? Pertanyaan itu menjatuhkanku dan menghalangiku mencapai suatu titik pencapaian dari menulis.
Maka aku berontak…Sisi lain dariku berkata: “Tulislah apa yang kau bisa. Jangan pedulikan apapun yang bisa membatasi gelora menulismu. Entah ejaan, pikiran orang lain, atau anggapan buruk orang ketika membaca tulisanmu. Menulislah sekarang.”
Maka biarkanlah aku menulis hari ini, tentang apa saja. Agar ringan terasa hati ini. Agar tiada beban hidup ini. Sisi lain dariku berkata kembali, “Jadilah dirimu sendiri, dan jangan pernah meniru orang lain. Agar engkau tahu sampai sebatas mana kau mampu menulis dunia ini. Agar kau tahu hal-hal kecil di sekitarmu. Agar kau tahu segalanya di sekitarmu.”
Maka biarkanlah aku menulis hari ini, tentang apa saja. Agar ringan terasa hati ini. Agar tiada beban hidup ini. Itu saja…

dedaunan di ranting cemara
di antara tebaran kertas
05 Juli 2005

Dua Kertas dan Satu Kamboja


4.7.2005 – dua kertas dan satu kamboja

cerpen buat kalian seorang ummi dan abi yang berkarier
ditulis di atas tumpukan buku:
dua kertas dan satu kamboja

“Qi, ummi titip ini untukmu…” suara berat menyadarkanku dari lamunan. Memaksaku memalingkan wajah pada sosok tua yang tengah menyodorkan amplop putih.
Aku terdiam
“Buka saja,” sambil membereskan letak duduknya di samping gundukan bermawar merah masih basah. Dengan papan tertera nama Sabrina Hanifa. Ummiku.
Ada dua lembar kertas usang di dalamnya. Dengan sisi-sisinya tampak bekas terbakar.
“Hanya dua itu yang bisa ummimu selamatkan waktu rumah kita terbakar,” suara berat itu kembali mengguncang kesunyian.
Aku pun memeras memori mengenang dengan jelas peristiwa 20 tahun lampau. Rumah kami setengah hancur saat terjadi kebakaran besar menimpa komplek perumahan kami. Namun kami sempat menyelamatkan diri dengan membawa barang sebisanya. Ummi kulihat masih sempat membawa buku diarinya yang setengah terbakar.
“Jangan kau baca, Qi!” seru ummi menegurku, saat aku intip isinya. “Kelak ini akan ummi berikan padamu,”tambahnya. Aku masih mengokang tanda tanya yang siap kuberondongkan padanya.
“Cukup sayang…, ayo bereskan lagi rumah kita ini,” sambil ada jari lembut menempel di bibirku.
Hari ini ia meninggalkan dua lembar itu padaku. Tapi tanpa ia yang siap menerima serangan pertanyaanku. Sudah terpejam abadi adanya. Tulisannya indah sekali. Ya, Ummiku selalu dapat nilai paling bagus untuk pelajaran menulis halus di sekolah dasar dulu.
14 Mei 2005
Mengingat tatapanmu, Haqi, ada yang membuat perasaan ummi tidak enak pagi ini. Entah karena apa. Mungkin karena ummi melihatmu duduk sendiri saat kami meninggalkanmu.
Qi, maafkan ummi yang telah membiarkan hampir sepanjang usiamu tanpa kehadiran ummi. Membiarkanmu menikmati sepanjang hari-harimu, sendiri, selama dua tahun ini.
Qi, mata polosmu tadi pagi mungkin mengandung sejuta tanya. Kenapa ummi selalu pergi dan hanya mampu menemanimu saat hari mulai gelap. Itu pun dengan kondisi ummi yang tidak lagi segar dan ceria.
Sekali lagi, maafkan ummi, nak. Jauh di lubuk hati ummi pun tidak menginginkan ini. Sungguh ummi ingin berperan penuh sebagai ummi-mu sebagaimana ibu layaknya.
Menyambutmu dengan senyum saat matamu terbuka, memandikanmu, mengajakmu jalan-jalan sambil makan, menemanimu bermain, hingga mengantarmu menjelang mimpi.
Sedih Qi, hati ummi. Saat melihatmu susah makan, saat orang-orang yang mengasuhmu kurang telaten menghadapimu. Tapi ummi tak akan dan tak boleh marah. Karena sesungguhnya kamu memang bukan anak mereka. Kamu anak ummi. Jadi sudah semestinya ummilah yang harus bertanggung jawab atasmu. Atas segala perkembanganmu.
Qi, ummi rindu menjadi ibu seutuhnya, Bagimu dan bagi calon adekmu yang baru lima bulan ini. Doakan ummi ya, Qi. Agar Allah segera menunjukkan dan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Sehingga ummi dapat mewujudkan cita-cita ummi tanpa beban rasa bersalah. Baik terhadapmu maupun terhadap janji saat ummi hendak bekerja.
Satu bulir air disusul lainnya menurun deras dari pipiku yang sudah menganak sungai. Yang mata airnya sebenarnya sudah kering sejak meninggalkan Vyborg, dekat St. Petersburg, kota nelayan di Teluk Finlandia.
“Ummi…, Haqi sayang ummi,” desisku berusaha mengalahkan gelegak tak tertahankan lagi.
Kalau saja aku tak menerima tawaran itu, aku masih menemani ummi dalam kesendiriannya melawan kanker hati. Tawaran yang menggodaku. Melakukan ekspedisi Kelautan di Laut Baltik, dengan menyusuri tepi pantai Arhus, Denmark, terus ke pantai barat St. Petersburg, hingga berakhir di Malmo, Swedia.
Kompensasi yang didapat bila aku ikut selama tiga bulan perjalanan itu adalah beasiswa program doktoral di Universitas Rhode Island.
“Siapa yang akan menemani ummi di sini, Qi…”tanyanya getir, “Baru saja setahun yang lalu kau temani Ummi, kau mau pergi lagi.”
“Mr. Jan Brinkhuis mendesakku,” membayangkan mantan profesorku di Universitas Stockholm. “Ini kesempatan langka buat mahasiswa Asia seperti saya, Mi…”
“Sudah kau beritahukan hal ini pada abimu….”
“Tak perlu!” sahutku cepat. Buat apa memberitahukan pada orang yang telah menyia-nyiakan kasih sayang ummi selama 10 tahun ini. Tapi mengapa Qinan ikut dengannya, saat perpisahan itu terjadi. Walaupun dapat ditebak Qinan pasti ikut abi, mereka dekat sekali.
“Mi, nanti Bulik Indah yang menemani Ummi,” rajukku sambil bersimpuh, meraih tangannya, dan kucium. Kuletakkan kepalaku di pangkuannya.
“Ridhoi aku Mi, sesungguhnya ridho Allah ada pada ridho Ummi”. Biarkan aku berlama-lama di pangkuan ini, Mi. Biarkan aku menjadi penadah airmatamu.
Kukuatkan untuk membaca lembar kedua ini. Lembaran yang ditulis dengan sepenuh hatinya.
04 Juni 2005
Hari ini hati ummi kembali tidak enak, Qi. Entahlah rasanya badan ummi lelah sekali. Mungkin karena pengaruh adekmu, ya Qi.
Haqi sayang, lagi-lagi ummi diliputi rasa bersalah saat mengingat kejadian tadi pagi, saat ummi mau berangkat ke kantor. Maafkan ummi ya Qi, yang sering menghadapi ulahmu dengan kesabaran yang terbatas.
Entah kenapa tiba-tiba kamu menjadi anak yang susah di atur di mata ummi. Padahal jika mengingat usiamu yang baru menapak dua tahun, bukanlah kamu yang susah di atur, melainkan ummi saja yang kurang bekal kesabaran sebagai seorang ibu menghadapimu.
Iya Qi, Anak seusiamu memang sedang giat-giatnya bereksplorasi dengan lingkunganmu. Dan seharusnya ummi menyadari itu, sehingga ummi tidak perlu marah menghadapi ulahmu. Sekali lagi maafkan ummi, Nak. Janji, ummi akan berusaha memperbaiki semuanya. Walau dengan kelelahan, ummi akan menghadapimu dengan senyum kesabaran, Karena itu memang hakmu. Insya Allah.
(Air mata menjadi saksi ummi).
Sedanku masih lirih terdengar.
Kalau saja ekspedisi itu bisa tepat waktu, aku mungkin dapat pulang cepat. Ekspedisi ini terlalu lama berkutat di daerah sekitar Turku, Finlandia, yang seharusnya kalau menurut jadwal kami sudah berada di Malmo. Apalagi kami kehilangan sampel berharga berupa fosil purba plankton itu. Terpaksa kami kembali ke pos di Vyborg, untuk memulai penyelaman lagi.
Baru sehari di sana, aku mendapat email dari Bulik Endah, mengabarkan ummi kembali masuk rumah sakit karena kanker itu. Katanya, ummi selalu memanggil-manggil namaku ketika mengigau.
Kondisi penyelaman akan mengalami masa kritis tanpa aku supervisi kegiatan itu. Sebagai bentuk tanggung jawabku, aku percepat pekerjaan yang menjadi bagianku. Tapi dengan kecemasan yang luar biasa, dan kadang air mata ini turun begitu saja.
“It’s done,” hari ini aku selesaikan semuanya dengan sempurna untuk mendapatkan sampel itu.
Aku pamit barang satu dua minggu pada timku. Malam ini perjalanan darat menuju St. Petersburg terasa lama. Paginya perjalanan udara dimulai menuju Moskow, ganti pesawat di Abu Dhabi. Esok sorenya aku tiba di Cengkareng.
Saat di dalam taksi, hpku tiada henti-hentinya menerima sms dari Bulik. Memang selama di dalam pesawat kumatikan hpnya. Menanyakan keberadaanku, sampai dimana, dan memberitahukan perkembangan ummi setiap setengah jamnya.
Ringtone Brother kembali menyalak mengusik kesibukanku membaca sms.
“Assalaamu’alaikum, Bulik, gimana kabar ummi sekarang” tanyaku cepat.
“Nggak usah ke rumah sakit, langsung aja pulang ke Cibinong,” jawabnya dibalik sedu sedannya itu.
Lemas sudah badan ini. Lemas sudah batin ini. Angin yang menerobos kencang dari jendela taksi menusuk-nusuk wajahku tak peduli dengan lipatan kesedihanku. Bahkan mentari senja yang sinarannya jatuh di pelipisku lewat sela gedung-gedung pencakar langit, tak mampu mengetuk-ngetuk nurani buat menikmati keindahannya.
Dering ringtone kuabaikan untuk kembali memeras kantong air mata ini dengan segunduk penyesalan yang mulai menggunung. Hingga kutinggalkan maghrib dibelakangku.
Sepucuk kamboja jatuh di pundakku, dan langsung turun di atas kertas yang masih kupegang. Harum mewangi saat kucium ia. Kulipat lembaran itu dan kumasukkan kembali ke tempatnya. Kamboja putih kutaruh pada papan nisan yang hanya dapat diam membisu.
“Pff..sudah saatnya aku kembali,” pikirku. Sudah cukup aku berada di sini, melantunkan doa-doa pembuka pintu langit, melantunkan sejuta harap pada-Nya agar Munkar dan Nakiir yang wajahnya sejuk membawa suluh penerang. Penerang tempat abadinya.
“Assalaamu’alaikum,” hanya itu yang kuucapkan sambil bergegas menjauh pada sosok tua yang masih duduk bersimpuh.
“Mau meninggalkan kami lagi ,Qi ….” suara itu menghentikan langkahku yang sudah ke tujuh. Aku terdiam tanpa membalikkan badan.
“Percayalah…, abi mencintai ummimu,” tambah suara itu. Aku masih diam saja. Sesaat tanpa suara, kuputuskan untuk beranjak lagi.
“Satu lagi Qi, Ummu Qinan nanti adalah bulikmu,” sesaat pula langkah ini terhenti. Tapi hanya sesaat. Cuma sesaat. Seperti bunga kamboja yang cuma sesaat menemani papan nisan, terbang ditiup angin siang yang tiba-tiba bertiup kencang.
Pintu gerbang telah kutinggalkan untuk mencari taksi yang membawaku ke bandara.
“Ang Haqi….,” suara lembut yang menyebut panggilan masa kecil memaksaku untuk menoleh.
“Qinan…!” Jilbabnya masih seperti dulu, lebar dan rapih.
“Aang mau pergi lagi Kapan kembali…” berondongnya.
“Entahlah, biarkan Aang pergi dulu, untuk melupakan kesedihan ini.” Jawabku lirih.
“Aang belum mau memaafkan Abi”
Aku terdiam. Kurengkuh ia dalam pelukanku.
“Bilang padanya, Aang mencintai Abi, seperti Aang mencintaimu,” bisikku ditelinganya.
“Qinan mau melihat Aang menjadi orang yang dimurkai Allah Sudah cukup ego ini menguasai Aang. Aang tak mau lagi kehilangan kalian. Tapi beri kesempatan pada Aang untuk bisa menghilangkan sakit hati ini,” ujarku lancar.
Isak tangisnya menyadarkanku untuk melepas peluk erat ini.
“Jangan lupakan ini, Ang…” katanya sambil menyodorkan mushaf kecil.
Aku meninggalkan siang yang semakin kuning.
Sebulan kemudian.
Bandara Kopenhagen masih sepi pagi ini. Mushaf ini masih menjadi teman setia. Satu juz terlampaui. Kini aku sedang menunggu penerbangan ke New York. Dari sana aku menuju Providence, Rhode Island.
Tim kami sukses dengan ekspedisi yang memuaskan dan menggegerkan dunia. Fosil spora Azola berusia 40 juta tahun yang lampau ditemukan. Aku berhak mendapatkan beasiswa itu.
Namun seminggu setelah pengumuman itu, Mr. Henk Ovelgonne ahli paleontologi Universitas Utrecht, mengajakku melakukan ekspedisi dengan timnya mencari bukti fosil ganggang yang lebih tua lagi di samudra purba Kutub Utara. Tawaran yang menantang . Tapi ajakan itu aku tolak. Aku ingin istirahat.
Apalagi dengan adanya sesuatu dalam kotak kecil disampingku. Bunga kamboja putih. Masih mewangi. Kotak itu bertulis nama pengirimnya: Abiku.
Bandara mulai menggeliat, diramaikan langkah-langkah sibuk. Sedangkan pagi sudah beranjak ke kuning yang semakin kuning.
dedaunan & rda, 03 Juli 2005, di antara tebaran buku.

Sakury


1.7.2005 – Sakury dan PT Newmont Minahasa Raya, 13th Salary

Aktivitas pagi selalu di awali dengan sarapan, cek inbox dan milis Keadilan4all serta FLP (Forum Lingkar Pena). Tak lupa pula untuk cek tulisan-tulisan indah, penuh makna di ciblog ini.
Seperti pagi ini, rutinitas itu terlaksana dengan mantapnya. Sampai aku melihat blognya Sakury. That’s Great….sederhana dan menghijau. Tampaknya kata-kata itu yang pantas untuk disandingkan pada blognya. Apalagi tampilan fotonya itu loh. Beda dari yang lain. Sehati dengan teks disampingnya. Apalagi Ayat-ayat pengingat: Arrahman, menghantam ingatan kita supaya jangan melalaikan nikmat yang Ia berikan pada kita.
Hijau banget gitu loh…tanda tanya kemudian menghiasi ruang di kepala ini…sebegitu religiuskah anda … Aku tak tahu jawabannya, karena belum lama mengenalnya, bukan begitu Sakury…
The Point is …..cuek, dingin, menghamba, friendly, so what gitu loh…:-)
Nama Anda pun kembali mengingatkanku pada nama hikari.
Two thumbs up buat Anda. Jaga dan tetap istiqomah…
Dari situlah timbul keinginan untuk meng-update blogku yang telah lama menjemukan dan tak sempat kuutak-atik (karena ujian akhir mandiri, sibuk merekam SPT PPN yang belum e-SPT, dan masih banyak lainnya). Apalagi foto Jakcy Chan-nya itu loh, kayaknya dia sudah bosan terpampang di situ. Tenang Jacky, saya akan ganti segera.
Aku buka Frontpage, dan sedikit sedikit mulai menyusun amagram script. Namun di tengah asyiknya, tiba-tiba Ibu Kepala Seksi yang sangat saya hormati memanggilku. Dan menyodorkanku sembilan Putusan Pengadilan Pajak atas Banding Newmont Minahasa Raya, yang jatuh temponya tiga minggu sejak hari ini. Alamak…makhluk yang namanya PT NMR ini selalu tak bisa memberikan kesempatan kepadaku bernafas sedetik pun. Yah sudahlah, runtuh segera azam untuk memperbagus tampilan ‘aku punya blog’.
Ya, tak apa-apa sih, namun aku harus me-reschedul kegiatanku siang ini: rekaman; pergi ke Book Fair (azimah menjanjikan untuk memberiku buku terbarunya: Hari ini Aku Makin Cantik, sekuel Pagi Ini Aku Makin Cantik–apabila aku bertemu dengannya di sana), de el el.
Sudah saatnya aku bekerja kembali.
So, tak ada kaitannya Sakury dengan PT Newmont Minahasa Raya. Mungkin satu saja kesamaannya: mereka sama-sama memiliki emas. Sakury dengan emas yang ada di jiwanya (bener nih…:-) dan yang lainnya emasnya sudah ada di Bank Central of America, buat cadangan devisa katanya. Buat yang di sini, cukuplah merkury gantinya :-(.
Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara, setelah melihat bangkai kereta semalam di Pasar Minggu, 01 Juli 2005.
NB: gaji ke tiga belas katanya sudah masuk, tuh.

Senyum Sore


29.6.2005 – senyum sore

Semua bersiap untuk melaksanakan satu ritual wajib. Yakni menggosokkan salah satu jemarinya di atas scanner, pertanda sebuah tradisi terlaksana. Pada akhirnya terjawab dengan tiada potongan apapun pada take home pay.
Setelah itu semua sibuk dengan urusan masing-masing, langsung pulang ke rumah, ke kampus, atau tempat tongkrongan lainnya. Atau bagi mereka yang masih mencintai kantor ini, maka ia pun akan pulang saat malam mulai menyalak sengit pada setiap orang. Ingat…tanpa ada bayaran tambahan.
Oke…, selamat tinggal hari ini. Sudah cukuplah saya mengisi hidup ini. Sudah saatnya aku segera melakukan ritual itu. Sudah saatnya aku memeluk suasana lain. Dan mengharap ada sesuatu yang membuatku berbeda, dengan nilai tambah di hadapan-Nya.
Selamat tinggal, kawan….
Selamat tinggal, sore……
Semoga kita bertemu di esok hari, dengan senyummu yang menawan mengombak dihadapanku.
………………………………………..