Selembar Daun


selembar daun
hijau mulai menguning
layu
terjepit lembaran kertas
di halaman dua
menyucikan jiwa
said hawwa

masih terasa di ujungnya
anyir getah putih
baru terpetik tadi siang
di pinggiran jalan penuh debu

dan malamnya
lalu kau lihat,

aku sudah berasyik masyuk
me-rodi mataku pada
‘segenggam gumam’
bahkan dengan
‘aceh dalam puisi’

saat itu kau ingat tentang selembar daun

***
kukutip budi arianto untuk :
maaf tak sempat menjamu pada persinggahanmu tadi siang

dedaunan di ranting cemara, 01 Juli 2005
di antara kerumunan orang menyemut
di book fair

Aku Takut Mati


Beberapa menit hanya memandangi layar kosong di depan mata. Tak tahu memulai dari mana untuk mengurai kejadian-kejadian tragis di depan mata selama sepekan ini. Bagaimana tidak, saya melihat dua kecelakaan membawa maut pada sore hari menjelang berbuka. Membuat saya tercenung cukup lama. Bergeming memikirkan sebuah awal mula episode kehidupan lain yakni kematian.
Selasa sore, seperti biasanya jalanan dari arah Pasar Minggu menuju Depok begitu padat, sampai menjelang flyover Tanjung Barat. Selepas itu barulah saya bisa menggeber kendaraan di atas enam puluh kilometer per jam. Tapi ada yang aneh di sore itu, sejak Stasiun Tanjung Barat kendaraan mulai memadat dan semakin lama semakin macet. Tapi dengan motor yang anti kemacetan ini, saya bisa terus melaju bersama motor-motor yang lain. Ini tidak seperti biasanya.
Terbukti, antrian panjang disebabkan para pengguna jalan melambatkan kendaraannya untuk melihat apa yang telah terjadi, ditambah dengan sepeda motor yang diparkir sembarangan dan ditinggal di pinggir jalan oleh pemiliknya untuk melihat peristiwa kecelakaan di pinggir rel. Saya pun ikut-ikutan berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Sosok muda itu terbaring kaku dengan darah segar yang keluar dari lubang hidung dan telinganya, membasahi rambutnya, kental, hampir mengering dan mulai dikerubuti lalat. Sebagian tubuhnya ditutupi beberapa helai koran. Wajahnya yang sudah ditutupi pun seringkali dibuka kembali oleh orang-orang yang ingin melihat siapa yang menjadi korban, untuk memastikan apakah korban adalah orang yang dikenalnya atau bukan. Dari saksi mata diketahui korban dipastikan terjatuh dari KRL Jakarta-Bogor karena terbentur tiang listrik besi yang amat dekat sekali dengan rel.
Dadaku berdegup kencang.
Jum’at sore, kejadian yang hampir sama, di waktu yang sama terjadi lagi. Namun kali ini tempatnya berbeda. Kalau anda termasuk pelaju KRL Bogor-Jakarta atau sebaliknya atau pemakai kendaraan bermotor, pasti tahu pintu lintasan kereta api antara Stasiun Universitas Pancasila dan Universitas Indonesia. Kembali yang menjadi korban adalah anak muda dan kali ini berseragam SMU. Di tasnya ditemukan clurit dan sebotol bensin. Bisa ditebak, pelajar ini termasuk yang doyan tawuran.
Dari keterangan saksi mata diketahui, pelajar itu ditendang dari atas KRL Nambo yang melaju dengan kecepatan tinggi. Bagian kepala yang jatuh terlebih dahulu, membentur bebatuan dan aspal jalanan. Bagian belakang kepala bocor, darah kental mengalir dari lubang telinga dan hidung. Setelah sekarat beberapa detik langsung tewas di tempat. Sangat kebetulan sekali, pelajar itu tewas tidak jauh dari rumahnya.
Setahun yang lalu, persis di bulan ramadhan, di tempat yang sama pernah terjadi kecelakaan. Kepalanya tidak berbentuk lagi karena dihantam KRL. Kata orang sekitar, perlintasan itu sering kali memakan korban, dan sayangnya disikapi oleh sebagian warga dengan mengaitkan hal-hal klenik, makanya setiap tahun ada yang berani momotong kambing di bawah pohon dekat rel hanya untuk dijadikan tumbal. Sayang…
Tidak biasanya, sepanjang sisa perjalanan pulang saya hanya fokus terhadap dua peristiwa itu. Saya pikir, saya banyak disadarkan tentang satu hal yang seringkali manusia lupa dan merasa akan hidup selamanya yakni kematian. Batas antara hidup dan mati sungguh amat tipis. Karena kematian bisa menjemput kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Entah dengan kesakitan yang luar biasa atau tidak. Di atas tempat tidur atau di medan laga. Ketika subuh kan menjelang atau saat mentari tenggelam di ufuk barat. Entah dengan utuh harum mewangi atau tiada berbekas, bahkan busuk.
Setelah melewati pintu kematian, maka terbentanglah di hadapan kita dunia lain. Dunia dengan segala keekstrimannya. Diawali dengan kegelapan kubur yang amat dan sangat pekat ataukah terang benderangnya cahaya. Penjaga dengan kelemahlembutannya atau sebaliknya penjaga berwajah sangar dengan alat pemukul yang luar biasa besarnya.
Lalu padang yang amat luasnya. Tentang mahkamah yang amat adilnya menghitung satu dzarrah setiap perbuatan. Tentang manusia dalam karakter dan perwujudan yang disesuaikan dengan perbuatannya di muka bumi. Tentang wadah pembalasan segala kemungkaran yang amat panasnya dan kejam siksanya. Atau tentang wahana keindahan yang tak bisa terbayangkan oleh manusia.
Saya bergidik. Tiba-tiba saya tersadar, saya jadi takut mati. Saya belum siap untuk mati. Dan saya sadar yang menentukan baik tidaknya pembalasan yang akan diterima adalah amal atau semata-mata karena rahmat Allah Yang Maha Luas. Yaa Rabb, betapa amat sedikitnya amal saya. Jangan-jangan ketakutan saya pada kematian ini adalah karena saya sudah kena penyakit wahn. Cinta dunia dan takut mati. Semuanya berbanding terbalik dengan timbangan keimanan.
Saya teringat perkataan Abu Darda’: “Sesungguhnya aku mencintai kematian karena tidak ada yang mencintainya kecuali orang yang mukmin sedangkan kematian akan dapat melepaskan seorang mukmin dari penjara. Juga aku mencintai harta dan anak yang sedikit karena yang demikian akan dapat menimbulkan satu bencana dan yang dapat menyebabkan condong pada keduniaan. Padahal nantinya satu keharusan untuk berpisah dengan dengan penuh kedukaan. Dan segala sesuatu yang diluar ingatan pada Allah adalah satu keharusan untuk ditinggalkannya nanti ketika telah tiba ajalnya.”
Duh Gusti, ampuni hamba.

dedaunan di ranting cemara
di sekitar LA
dengan sedikit revisi di 25 Juli 2005

Kersem dan Monyet


Satu-satunya pohon yang berhasil saya tanam di depan rumah adalah Pohon Kersem —orang Indramayu atau Cirebon menyebutnya demikian, tapi entah mengapa Orang Citayam atau bahkan Jakarta menyebutnya Pohon Ceri (keren amat). Buahnya kecil-kecil, berwarna merah, dan rasanya manis.
Bibit pohon itu memang asli saya bawa dari Indramayu di tahun 2002, saat berkunjung ke rumah orang tua yang memaksa saya untuk membawanya. Saya enggan membawanya karena selain repot diperjalanan juga tidak sekeren pohon mangga kalau di tanam. Di daerah saya, pohon itu cocok untuk tempat bermain monyet dan sudah tentu buahnya adalah makanan favorit mereka. Akhirnya dengan membawa tiga bibit yang diambil dari selokan sebelah rumah saya kembali ke Jakarta dengan diiringi tatapan menelisik para penumpang kereta Cirebon Express kearah bawaan saya yang memang menonjol dan menarik perhatian banyak orang.
Pohon itu saya tanam di bantaran kali depan rumah. Depan rumah adalah Kali Pesanggrahan—kalau terlihat deras dan tinggi permukaannya, maka Cipulir sudah pasti kebanjiran. Jalan selebar empat meter adalah sebagai pembatas rumah dengan bantaran kali.
Dengan pupuk organik pemberian tetangga sebelah, saya menanamnya. Menemani pohon pisang raja, kelapa, rambutan, jambu, dan mangga. Satu bibit lainnya saya tanam persis di halaman rumah. Sedangkan satu lagi ditanam di belakang rumah. Pagi dan sore menjadi waktu untuk memberikan air sebagai penerus kehidupannya. Tidak sampai enam bulan, pohon yang berada di bantaran kali itu telah menjulang, menganopi, dan berbuah. Meninggalkan yang lainnya, yang masih tidak juga berbuah bahkan mati, entah kenapa.
Sejak saat itu depan rumah menjadi tempat bermain baru bagi anak-anak RT. Mereka berebutan untuk naik sampai puncaknya, tinggal saya yang tak henti-hentinya meneriaki mereka untuk turun. Bukan karena tidak mau buahnya diambil, tapi takut mereka jatuh.
Pula tempat itu kini menjadi persinggahan bagi banyak orang yang setelah berjalan di bawah panas terik matahari, seperti tukang bakso, pemulung, penjual barang kelontongan, bahkan pengendara motor yang kelelahan karena tak bisa menghidupkan mesinnya.
Satu lagi, kini setiap paginya ada yang terasa indah didengar. Senandung merdu burung-burung kecil. Ya, kesegaran pagi semakin bertambah diiringi tingkah polah mereka dalam mencari makan. Apalagi ketika matahari mulai menyinari semesta, hangatnya mulai terasa dan bertambah ramai pulalah fragmen kehidupan di sekitar pohon itu.
Dari semut–semut hitam yang menggantikan kelelawar malam, lebah-lebah yang mencari sari bunga, hingga kupu-kupu, atau kucing jantan yang menandai daerah kekuasaannya dengan air seninya di bawah pohon. Oh…satu kebaikan yang kita tanam ternyata banyak membawa manfaat bagi makhluk lain. Jadi ingat kata-kata bijak itu: tanamlah pohon kebaikan walaupun esok akan kiamat. Karena sesungguhnya kebaikan—seberapapun kecilnya, pasti akan membawa manfaat untuk siapapun. Pertanyaannya adalah akankah kita menjadi pohon-pohon itu? Yang berbuah dan meneduhi. Bahkan kita takkan pernah terlambat untuk menjadi pohon kebaikan itu, selama ruh belum sampai ke tenggorokan, pun andai besok akan kiamat. Pagi ini saya mendapat banyak pelajaran.
“Bang, ke depan bang!” seruan dari seorang ibu tua membawa sarat beban menyadarkan lamunan saya yang sedang duduk di atas motor.
“Eh, iya…iya bu,” tanpa basa-basi saya antar ia ke depan komplek.
“Terima kasih ya bang,” sambil menyodorkan tiga lembar ribuan kumal.
“Maaf bu, saya bukan tukang ojek,” sambil tersenyum dan segera memacu gas meninggalkan dia yang masih terpana.
Sekali lagi pagi ini saya mendapat satu pelajaran di bawah pohon Kersem. Jangan duduk melamun di atas motor di bawah pohon kersem, apalagi kalau Anda belum mandi, karena orang akan menyangka engkau adalah tukang ojek.Hmmm, tak mengapa.

dedaunan di ranting cemara
di pagi yang berselimut tebal kesegaran
citayam,11:17, 23 Juli 2005.

yang Muda Yang Naif


puisi yang muda yang naif
*********

Bisa saja kau bersuara lantang
bertanya
dimana adanya Tuhan
sampai suara habis
dengungkan posmo
sebagai ritual harian layaknya kitab suci

bisa saja kau bersuara lantang
kita sholat man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka satu
dalam satu tuts keyboard sekali saja)
tapi pikiran khusuk penuh wanita-wanita telanjang

bisa saja kau bersuara lantang
aku orang beriman man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka
satu dalam satu tuts keyboard sebanyak 999 kali)
tapi itu perlu diuji dan bukti
namun bagaimana bisa lulus
kalau masih bermimpi seksi
tebarkan seruan pada semua orang:
hei lihat, aku dekat dengan Zina
lihat aku sedang berzina,
nikmati saja kawan

bisa saja kau bersuara lantang
teriakkan kebebasan layaknya elang penguasa langit
tapi silakan kau hidup dimana hukum Tuhan tidak berlaku untukmu (emang
ada?)
naif
(bang naip, preman kampung depan komplek mati lehernya digorok setelah
pulang dari Bongkaran–Poskota)

atau silakan kau nikmati istidraj-Nya
sampai akhir itu tiba
dan hanya penyesalan menjadi kulitmu

dedaunan di ranting cemara
hanya di CITAYAM saja, 01.07 , 23 Juli 2005
menjura dengan pinta maaf yang tiada terkira pada semua
ampuni aku Ya Allah.

ps.
telah datang malaikat Jibril kepada Rosululloh dan berkata:
Ya Muhammad, hiduplah engkau sesukamu tapi ingatlah
sekali waktu engkau akan menjadi mayit;
cintailah orang yang kau cintai tapi ingatlah engkau akan berpisah
dengannya;
berbuatlah sesuka hatimu tapi sekali masa kau akan diminta
pertanggungjawabanmu dihadapan Allah.
(HR Imam Baihaqi)

Kamar-kamar Hatimu


kamar-kamar hatimu

Suatu malam ba’da tarawih yang hangat, saat aku merasa butuh banyak informasi maka tersambunglah aku segera dengan dunia maya. Ada yang terbersit cepat di benak tentang azimah rahayu, jadi kusapa paman google dan kutanya padanya, hasilnya sungguh mengejutkan, mungkin beratus halaman web tentang dirinya (tak sempat kuhitung, hemat pulsa).
Sampai kutertarik pada sebuah halaman website pribadi Unisah Raniyah. Kuklik saja. Oh… ia membicarakan tentang sebuah kamar hati. Ia teringat tulisan azimah rahayu, begini ceritanya:
…terhadap mereka , saya buatkan kamar-kamar di dalam hati saya. Masing-masing memiliki kamarnya sendiri, masing-masing memiliki kedudukannya sendiri. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang kami lalui bersama, hingga jika suatu saat mereka kembali saya tinggal membuka pintu kamar hati ini dan membiarkan mereka masuk.
Sedang Uni punya pendapat sendiri tentang kamar hatinya:
Bukan kamu yang memutuskan untuk meninggalkan kita yang dulu, bukan pula aku. Ternyata masing-masing kamar di hati kita mempunyai pintu yang cuma kita yang tahu kombinasi angkanya. Dan di dalam ruangan itu ternyata masih tersimpan rapat lukisan-lukisan kenangan berpigura emosi , perasaan hati, dan curahan jiwa yang cuma kita paham tinggi nilainya. Cieee…..
Ada lagi tentang kamar hati dari seorang sahabat yang mengirimku via email tentang renjana hatinya. Kali ini ia menyekat hatinya menjadi sebuah ruang. Mau tahu apa yang ia ungkapkan, ini dia:
Maha Suci Allah yang telah Menciptakan HATI, meskipun hanya sekeping tetapi dia adalah raja. Dalam hati Fahima terdapat ruang-ruang. Salah satu ruang itu adalah ruang yang istimewa. Tapi bukan yang teristimewa. Tapi Fahima senang dengan ruang itu. Ruang itu dipenuhinya dengan bunga-bunga yang diharapkan dapat memperindah dan menyejukkan jika Fahima lagi masuk kesana. Fahima mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak. Ruang itu dibuka awalnya kurang lebih dua tahun yang lalu. Penghuni pertamanya adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Penghuni keduanya adalah seorang laki-laki.
Pada awal tahun ini, ruangan itu ternyata bertambah penghuninya. Seorang laki-laki dan keluarganya. Sebenarnya Fahima sudah menyiapkan ruangan khusus untuk sang laki-laki itu. Meskipun ruangan itu belum dibuka, sekadar dipersiapkan. Tapi ternyata dia telah menjadi penghuni hati-hati yang lain yang tentu juga menyayanginya. Yah ruangan khusus itu gak jadi dibuka deh. Tapi insya Alloh akan terbuka dan Wallohu A’lam siapa nanti yang akan menghuninya.
Subhanalloh, aku terkagum-kagum pada metafora mereka tentang sebuah hati yang mereka miliki dan kenali lebih dalam seluk beluknya, serambinya, atau selasarnya. Ketika aku membaca pertama kali kamar hatinya azimah rahayu, terasa lebih familiar, terasa aku pernah mengenal kamar itu. Akhirnya kuteringat tentang kamar hati Fahima. (sekarang ia sudah memastikan penghuni hatinya, insya Allah untuk yang terakhir katanya).
Dan aku hampir memastikan bahwa kamar-kamar hati mereka penuh dengan bunga-bunga cinta. Betul tidak…..?
Kata Unisah: “cinta bisa menjadi api saat kau kedinginan, menjadi sepoi saat kau kegerahan, menjadi penegak disaat kau kelelahan, menjadi penuntun disaat kau kebutaan.” Sedang Fahima bilang: “Jika kamu mencintai, maka sembunyikan, jaga, dan pelihara cinta itu”.
Kalau azimah sendiri bilang apa? Waduh, sampai saat ini saya belum banyak membaca karyanya, jadi belum kutemukan definisinya. Tapi aku kira apa yang ia tulis semua karena cinta. Itulah definisinya. Dalam kesendirian kadang mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan karya cinta luar biasa.
Satu keyakinan utuh tentang kamar-kamar hati mereka tak semata-mata berisi cinta pure tanpa mengerti hakekatnya itu sendiri. Karena mereka pasti tahu siapa sih yang memberikan mereka cinta. Tentu Sang Maha Pemberi Cinta. Jadi semua cinta mereka itu adalah dalam rangka menaiki tahapan-tahapan cinta menuju puncak ketinggian dari cinta yakni tatayyum. Semata-mata karena-Nya. Semua untuk-Nya. Betul tidak…?(lagi-lagi AA Gym bertanya). Hingga Fahima pun mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak.Coba setinggi itukah harapan kita?
Oh ya dari tadi aku melihat kamar-kamar hati mereka dari perspektif gender. Aku jadi lupa untuk memperkenalkan isi kamar hatiku, yang kutahu hatiku ber-evolusi hanya sampai menjadi sebuah relung pada sebuah rajah cinta yang kutulis untuknya (lady semarang):

masih ada tepi pantai
yang tergores indah di pasirnya
suatu kata tentang cinta
antara nyala hatiku dengannya

namun sapuan ombak sore
selalu bergegas untuk menghapusnya
hingga tak ada sedikitpun tersisa
menjadi serpihan mimpi penghias malam

sungguh tak tahukah engkau?
sedang aku masih terduduk di sini
memandang cakrawala di ufuk barat
dengan percikan air laut yang meratap
di ujung jemari kakiku
dengan tangan yang menggenggam takdir adanya ia

tersadar engkau masih di sana
bersama sekelebat warna yang lain
atau memang kau belum temukan pula
hati penuh rajah cinta yang terlahir
hanya untukmu?

yang pasti
di sini aku masih termangu
dengan angin malam yang menjilati
relung-relung kalbuku
sedang engkau, entahlah…
(13 Mei 2003).

Coba, hanya sampai di situ saja, hanya beberapa bait, sedang Unisah sambil mengutip Sakti Wibowo sampai bilang: Lukislah Cinta.
Ah, cukuplah sampai di sini aku menerawang kamar-kamar hati. Aku bukan Pecinta (ah, masa?), maksudku aku belum bisa menggali kedalaman cinta hingga batas tertentu selayaknya mereka (azimah, unisah, fahima) gali. Tak apalah aku jadi kenek, ajun, asisten, atau apanya mereka. Tapi maaf, aku bukan pengemis cinta (maaf kang Johny, aku kutip lagi nih…).
So, two thumbs for them, for their chambers of heart.
Allohua’lam.

Istriku: Aku Minta Izin Berpoligami


21.7.2005 – Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)

Poligami, salah satu perbendaharaan kata yang jauh dari pencapaian pemikiranku. Indah tak tergapai. Suci namun tak ringan. Pahala jika adil. Mengutip perkataanku sendiri di era kampus dulu: “tak terlihat tak tersentuh”.
Diskusi poligami pun selalu mentok dengan “andai itu terjadi, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku”. Lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
Lalu dengan ini: “Walaupun kau tidak rela, jangan sekali pun keluar dari bibirmu yang manis, bahwa kau menentangnya. Karena sesungguhnya ia adalah suatu hukum yang niscaya adanya, qoth’i. Ia pun adalah salah satu fragmen indah kehidupan Teladan Agung Rosululloh SAW.”
Tapi Sayangku…., itu bukan pembenaran untukku. Karena ia butuh syarat berat untuk memenuhinya. Pikirmu aku sudah punya akhlaq sekapasitas para sahabat nabi yang mereka semuanya berpoligami? Ah, tidak…aku tidak pernah membayangkan dapat dibandingkan dengan mereka. Namun aku pun punya cita-cita tertinggi meniru segala akhlaq mereka.
Tiba-tiba aku berpikir, kelak, saat kau mengizinkanku. “Akankah aku siap…? Entahlah…, lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
******
“Hei…pagi ini apa yang sedang kau lamunkan?”sisi lainku berkata. “Kenapa kau memikirkan ini…?”
” Ah tidak, soalnya tadi pagi aku menerima email lucu sebuah puisi dari seorang kawan di milis. Tentang poligami. Jadi merangsang syaraf kecil di sebelah kananku untuk sedikti menulis ini.”
“Bisa kau perdengarkan puisi itu…?” pinta sisi lainku.
“Oh tentu…buatmu tiada yang bisa aku tolak”.
Puisi suami yg minta ijin poligami :

Istriku,
jika engkau bumi, akulah matahari
aku menyinari kamu
kamu mengharapkan aku
ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
lantas aku ingat satu hal
bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…

Balasan Puisi sang istri …

Suamiku,
bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
TAPIIIIIIII..
bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi
menyinari planet lain!!!
karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? Plis deh gitu lho …
——Yuandi Oktarinda——
aku pikir aku bukan lah MENTARI, aku hanya sejengkal lilin 5 watt belaka (bahkan dalam krisis BBM ini aku terasa makin padam)
duh Rabb…
dedaunan di ranting cemara
dengan terburu-buru
di antara waktu yang memburuku untuk menyelesaikan SPMKP
08:08, 21 Juli 2005

Alhambra: Kenangan Sebuah Peradaban


20.7.2005 – ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Merahnya Alhambra, nama yang menggelitik. Tergerak dengan nama itu saya coba membuka berbagai rujukan antara lain Ensiklopedi Islam Jilid I terbitan PT Ichtiar Baru Van Houve (1999:107).
Ternyata diketahui bahwa Alhambra adalah sebuah istana dan benteng yang merupakan bangunan monumental paling indah dari peninggalan arsitektur Islam di kota Granada, Spanyol Selatan, dan salah satu bukti historis dari ketinggian peradaban dan kesenian Islam.
Dalam buku itu disebutkan bahwa nama Alhambra berasal dari kata Arab hamra, bentuk jamak dari ahmar (merah). Menurut suatu pendapat, istana itu disebut Alhambra karena tanah tempat berdirinya berwarna merah. Adapula yang berpendapat, istana itu dinamai demikian karena dindingnya terbuat dari batu merah. Pendapat lain lagi menyatakan, nama itu diambil dari al-Ahmar, nama pendirinya.
Saya buka kembali rujukan lain yakni buku yang berjudul Sejarah Kesenian Islam Jilid I terbitan PT Bulan Bintang (1978:226) yang ditulis oleh C. Israr ternyata isinya hampir sama dengan yang ada di ensiklopedi tersebut. “Jangan-jangan rujukan ensiklopedi tersebut adalah buku ini”, pikir saya.
Saya buka Ensiklopedi Islam jilid V yang ada halaman bibliografinya, ternyata benar rujukan ensiklopedi ini ternyata buku tulisan C Israr dengan tahun terbitan yang sama dengan buku yang saya punyai. Akhirnya saya berpikir lagi, “ensiklopedi yang gagah dan mahal itu ternyata dibangun oleh berpuluh-puluh literature yang mungkin saja kecil, sudah kumal, dan lapuk—saya membeli buku tersebut dalam sebuah perburuan buku-buku bekas di Senen, hanya dengan harga Rp7.500,00 saja di tahun 2001.
Saking luas dan indahnya Alhambra dibangun secara bertahap selama lebih dari 100 tahun pada abad ke-14 dan ke-15. Konstruksi pertama dibangun oleh Sultan Muhammad bin Al Ahmar I (1257-1323), keluarga Bani al-Ahmar atau Bani NAsr yang masih keturunan Sa’id bin Ubadah salah seorang sahabat Rosululloh SAW dari suku Khajraj di Madinah. Kemudian bangunan itu diperluas oleh sultan-sultan sesudahnya. (Ensiklopedi Islam I, 1999:107).
Saya beralih ke ensiklopedi lain yakni Ensiklopedi Keluarga terbitan PT Cipta Mitra Sanadi tahun 1991 di halaman 24 disebutkan tentang pendirian Alhambra yang berbeda dari ensikolepedi pertama tadi. Kalu disini disebutkan Alhambra didirikan penguasa-penguasa Islam Granada pada abad ke-13 dan ke-14.
Alhambra dilukiskan sebagai perbentengan yang megah, tetapi didalamnya seperti istana bidadari yang luas, dengan halaman yang indah, pancuran dan tiang-tiang yang ramping-ramping, hiasan halus pada dinding dan langit-langit, pepeohonan dan bunga-bungaan. Banyak bagian istana asli yang sudah lenyap kini, tetapi beberapa bangunan yang paling terkenal seperti Istana Singa, tidak berubah banyak dari rancangan asli arsitek Islam dahulu.
Di buku lain yang ditulis oleh A. Hasjmy yaitu Sejarah Kebudayaan Islam terbitan PT Bulan BIntang tahun 1995 pada halaman 205 disebutkan Alhambra adalah “kota” yang termasyhur di kota Granada yang sampai sekarang masih ada dan menjadi objeknya kaum turis. Kota ini dibangun oleh Ibnu Ahmad pada pertengahan abad ke-8 Hijriah di atas tanah seluas 35 hektar. Di sini terlihat perbedaan luasnya, kalau dilihat di Ensiklopedi Islam maka istana atau benteng ini hanya dibangun pada tanah yang seluas 14 hektar saja. Allohua’lam.
Sedangkan pada buku yang ditulis oleh Joesoef Sou’yb berjudul Sejarah Daulat Umayyah di Cordova Jilid II terbitan PT Bulan Bintang tahun 1977 di halaman 14 ditulis:
“bahwa Emir Abdurrahman I di Andalusia membangun istana yang megah dan masjid agung yang terkenal di Cordova itu, yaitu Masjid Alhambra. IA mengeluarkan pembiayaan yang sedemikian besarnya bagi pembangunan masjid agung itu, yang belum sempat selesai pada saat dia wafat, tetapi diselesaikan kemudian oleh puteranya Emir Hisyam I (788-796M).
Kesalahan kecil di awal buku ini adalah menjelaskan bahwa Alhambra terletak di Cordova, sedangkan pada halaman 64 buku itu di bawah foto yang melukiskan keindahan salah satu bangunan Alhambra dijelaskan Alhambra adalah bangunan termasyhur di Granada. Jadi memang Alhambra terlerak di Granada bukan di Cordova walaupun sama-sama terletak di selatan Andalusia.
Inilah ruangan-ruangan yang ada di Alhambra:
1. Sala De Los Reyes : Ruangan Al-Hukmy;
2. Rouda : Taman Bunga;
3. Sala De Los Abencerrayes : Ruangan Abi Siraj;
4. Patio De Los Leones : Taman Singa;
5. Sala De Los Dos Hermanas : Ruangan Ukhtain (Ruangan Dua Perempuan Bersaudara);
6. Mirador De Lindaraja : Ruangan Bas-Sufra’;
7. Jardin De Lindaraja : Taman As-Sufra’;
8. Torre : Menara;
9. Sala De Las Camas : Ruangan Istirahat;
10. Patio De Los Cireeses : Taman;
11. Sala De Los Banos : Ruangan Bersinar;
12. Patia De La Alberca : Kolom AlBirkah;
13. Sala De Barca : Ruangan Berkah (ingat tentang kesebelasan Barcelona…?)
14. Sala De Comares : Ruangan Duta;
15. Oratorio : Mesjid;
16. Torre : Menara.
Itulah Alhambra yang indahnya tiada tara, sampai oleh Victor Hugo—pujangga barat yang terbesar itu membayangkan keindahannya dalam sebuah sajak (Israr,1978: 226):
Alhambra oo Alhambra
Hanya mungkin dalam mimpi
Atau istana mambang dan peri
Yang telah menjelma
Bila purnama raya
Memandikanmu dengan cahaya
Gemerlapan berkejaran
Riak air berdesiran
Bisik hati akan bergema
Oo alangkah indahnya
Pangeran India menulis Alhambra dengan hanya sebuah kalimat pendek:
Andaikata firdaus ada di dunia
Maka firdaus itu ialah Alhambra
Sesungguhnya kalau diceritakan satu persatu mengenai keindahan dan kemewahan Alhambra, sudah tentu akan memerlukan halaman yang banyak karena masing-masing bangunan yang ada di sana mempunyai keindahan, kemewahan, dan sejarah yang berlain-lainan.
Itulah Alhambra, yang pada tahun 1492 jatuh ke tangan umat Kristen dan menjadi istana Kristen, pada saat Ferdinan dan Isabella memaksakan kepada setiap pemeluk agama Islam di sana, baik pun Muslim pribumi maupun Muslim non pribumi, supaya memeluk agama Kristen atau angkat kaki dengan pakaian di tubuh saja. Begitupun juga terhadap seluruh orang Yahudi.
Ingat tentang inkuisisi? Peristiwa pembakaran ribuan muslim yang tetap bertahan dengan akidahnya.
Biasanya pada bagian terrakhir tentang Alhambra, tentang Andalusia ini, saya pertama-tama harus menguatkan hati ini karena tidak tega untuk membaca keruntuhan sebuah peradaban. Karena di setiap keruntuhan itu selalu ada darah ribuan muslim terbantai, di aniaya, diperkosa dan lain sebagainya. PAhit dan memilukan bagi seorang muslim Tetapi dari “guru yang bengis tapi baik” itu yakni pengalaman sejarah itu, banyak butir pelajaran bisa dipungut.
Oh…ya saya teringat sebuah artikel yang saya sudah lupa dapatkan darimana. Ketika salah seorang wisatawan di Indonesia datang mengunjungi Alhambra, petugas di sana langsung berterus terang bahwa dirinya masih tetap muslim dan sudah turun temurun. Dia langsung bercerita karena percaya bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Dan ia sampai saat ini, untuk melakukan sholat di Alhambra masih tetap harus sembunyi-sembunyi. Ia pun masih menyembunyikan identitas keislamannya.
Subhanalloh….di setitik debu peninggalan peradaban, ada mutiara yang selalu menyinarkan kilaunya.
Itulah Alhambra, sekelumit….
Jadi apakah Alhambra yang sudah merah haruskah dijelaskan merahnya yang sudah merah. Merahnya Alhambra ….merahnya merah…..(sebuah buku sastra yang pernah saya baca waktu SMP dulu).
Allohuta’ala a’lamu bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
dalam waktu yang mulai menusuk
20 Juli 2005

Selaksa Harap Sekeping haru


19.7.2005 – SELAKSA HARAP SEKEPING HARU
Pagi itu di sebuah pantai di kawasan Anyer, angin masih menyisakan dinginnya malam sedangkan sinar matahari sesekali menghangatkan suasana karena awan hitam masih sering menutupinya. Debur ombak menjadi pelengkap kesegaran pagi itu dengan pasir pantai yang putih dan lembut. Tapi akung tak ada kicau burung camar disini.
Terlihat di ujung utara pantai ini sekelompok wisatawan berkumpul melihat sebuah kerja keras yang dipertontonkan para nelayan dalam menarik jala yang terpasang sore kemarinnya.
Jalan tersebut panjangnya hampir mencapai 300 meter. Dimulai dari ujung selatan dengan sebuah tonggak bambu jala dipasang mengelilingi area sekitar pantai. Sebuah jukung (perahu kecil) nelayan membawa jala dan memasangnya hingga radius 100 meter dari tepian pantai kemudian ke arah utara sekitar 100 meter pula, lalu ditarik kembali kurang lebih 100 meter ke tepi pantai membentuk sebuah bujur jangkar perangkap ikan.
Nah, pagi ini adalah ritual keseharian para nelayan, sekitar 10 orang menarik tali jala yang ada di ujung utara, sedang satu orang nelayan lainnya naik jukung dan mencabuti patok bambu dengan mengitari area tangkapan. Upaya menarik jala sambil berjalan dari ujung utara ke ujung selatan inilah yang ditonton para wisatawan.
Yang paling seru dan menegangkan adalah ketika para penarik jala sudah sampai di ujung selatan, karena di titik inilah akan terlihat seberapa banyak tangkapan yang akan diperoleh. Dengan usaha yang sangat keras, bergotong royong, tarikan kuat, sesekali pula sorakan, mereka tetap bersemangat menarik jala. Para penonton bertambah banyak dengan rasa keingintahuan yang tinggi melihat suatu peristiwa yang jarang mereka lihat. Semua berharap akan melihat tangkapan yang melimpah dan besar-besar, apalagi kalau ikan hiu yang tertangkap.
Ujung jala mulai terlihat, semeter demi semeter jala ditarik. Penonton masih harus menunggu sekitar lima menit lagi untuk dapat melihat ujung jala yang lainnya. Akhirnya sampailah di ujungnya. Penonton segera merubungi. Tapi apa yang terlihat dari hasil tangkapan itu, tidak ada ikan kakap, tuna apalagi ikan hiu, udang pun tak ada. Yang ada hanya ikan teri dan ikan lain yang besarnya hanya sebesar telapak tangan. Hasilnya kalau ditimbang hanya sekitar dua kilogram.
Melihat sedikitnya tangkapan itu, penonton merasa kecewa dan terdengar gumaman tidak jelas dari mereka. Namun para nelayan menanggapinya dengan dingin-dingin saja, tak tergurat di wajah mereka kesedihan atau kekecewaan, sepertinya semua itu adalah hal yang biasa saja, dan mereka pun langsung membubarkan diri.
Ada banyak hikmah yang dapat digenggam dari peristiwa itu. Aku tersadar bahwa setiap usaha yang kita lakukan dalam mencapai sesuatu mungkin saja hasilnya tidak sepadan dengan kerja keras kita, atau tidak seperti yang kita harapkan di awal. Kemudian aku sadari pula sesungguhnya Allah tidak melihat hasil, tetapi Allah selalu melihat usaha yang kita lakukan, apakah usaha itu ditempuh dengan niat yang ikhlas, niat yang benar, dan jalan yang benar?
Hikmah lainnya adalah adanya teguran terhadap kesombongan orang-orang kota, bahwa tak selamanya suatu usaha dapat dihitung berdasarkan materialisme belaka namun juga pada semangat kegotongroyongan yang masih melekat di sebagian lapisan masyarakat Indonesia. Buktinya para nelayan itu langsung membubarkan diri tanpa meminta hasil kerja keras mereka kepada pemilik jala itu.
Ada hikmah lainnya yakni adanya semangat untuk selalu melihat ke bawah tentang kehidupan para nelayan kita, yang notabene mereka adalah saudara-saudara kita juga. Sangat ironis sekali ketika republik ini mengklaim sebagai negara maritim, Negara yang nenek moyang mereka adalah seorang pelaut dengan pedang panjang (eh salah yah…J ), negara yang luas lautnya meliputi hampir 2/3 total wilayahnya, namun kehidupan para nelayannya masih berkutat dengan kemiskinan absolut dan sangat-sangat memprihatinkan.
Di saat nelayan-nelayan negara lain sudah memakai GPS untuk mengetahui posisi ikan, memburu paus, melanglang buana dengan kapal canggihnya, nelayan kita masih berkutat dengan perahu mesin tunggalnya dan masih tradisional (sekitar 80% dari total perahu dan kapal yang dimiliki para nelayan). Dan nelayan kita masih berkutat dengan persoalan bagaimana perahu mereka bisa berlayar di tengah harga BBM yang semakin naik. Itulah nelayan kita.
Sorenya, dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Gambaran para nelayan kita masih berjalan di ingatanku. Kadang memang selaksa harap hanya akan menjadi sekeping haru (atau tangis malah…) kalau kita tidak ingat bahwa yang menentukan segalanya adalah ALLAH KARIIM.
Allohua’lambishshowab.
dedaunan di ranting cemara
di pantai yang adanya membuatku melayang
Medio 2004

Mengemis


18.7.2005 – mengemis

i. mengemis
pada malam yang sudah mengeping
aku lantang berteriak
tanpa suara
menadahkan jiwa
memungut remah-remah
:rahmat-Mu
dedaunan di ranting cemara
02.33 17 Juli 2005

ii. sudikah kau?
bila bintang-bintang masih sudi mengintip
bulan sudi menengokkan wajahnya
awan sudi menyingkirkan tubuh gelapnya
angin sudi berhenti meniup
sudikah kau rasakan indahnya malam?
lalu kau susun puzzle kerinduanmu
di atas rintihan-rintihan
hingga terdengar sampai ke ‘Arsy
dedaunan di ranting cemara
02.45 17 Juli 2005

iii. bila aku merinduimu
hai, kawan…
detik ini aku merinduimu
tapi tak cuma sesaat
sampai kapan?
lalu
apa yang harus aku lakukan?
entah…

dedaunan di ranting cemara
02.51 17 Juli 2005

5 Dasawarsa 12 Purnama


untuk bapak:
(dalam perjalanan menempuh 51 usia)

aku tak peduli
pada waktu yang terus berputar
bahkan aku tak mau tahu
pada waktu yang terus menancapkan seringainya
agar aku ingat masa kanak-kanakku
agar aku ingat masa-masa remajaku
agar aku ingat masa-masa kedewasaanku
tapi aku tetap tak mau tahu

ohhhh….
naifnya aku
karena aku tak mau tahu
sementara banyak kawan dan cerita
punya selaksa cinta bahkan berjuta
sedang aku hanya sebutir adanya
ohhhh….
sementara waktu terus menerus menyeringai padaku
tak mau berbelas kasihan

sampai…..
pada suatu titik kesadaran
bahwa aku adalah
lima dasawarsa dan dua belas purnama

wahai sang waktu…
maka saksikanlah hari ini
aku lima dasawarsa dan dua belas purnama
kuluruhkan semua energiku
atas nama cinta
cinta pada kawan bahkan pada cerita
bukan selaksa dan sejuta
tapi sedepa, sehasta, bahkan seisi mayapada
hari ini,
ada sebuah rasa yang mendesak untuk kuungkap
bahwa..
aku mencintaimu kawan…
atas nama-Nya

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kepingan tahun ke-51